Belajar Parenting › Forums › Memulai Homeschooling Usia Dini › Podcast Sosialisasi Homeschooling Anak Usia Dini
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 21, 2019 at 11:37 am #4723
Mira Julia
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
February 13, 2020 at 1:48 pm #7345Anonymous
Guestsaya ingin bertanya, terkait kemampuan sosialisasi anak usia dini. Anak saya usia 4 tahun, apakah menurut pengetahuan parenting usia tersebut Sudah memadai untuk bersosialisasi dengan teman sebaya? bagaimana dampaknya pada proses pengembangan sosialisasi Anak, bila Anak sering mengalami perubahan lingkungan tempat tinggal ( disebabkan orang tua sering berpindah kota Karena pekerjaan)?
February 15, 2020 at 1:28 pm #7341Aar
KeymasterPondasi penting keterampilan sosialisasi adalah kenyamanan diri anak (yang akan berbuah pada kepercayaan dirinya) dan keterampilan berkomunikasi. Itu yang perlu dimantapkan di dalam keluarga.
Ketika keluarga sering berpindah tempat tinggal, anak pasti akan mengalami proses kebingungan dengan setting dan suasana baru yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, penting sekali untuk menjadikan keluarga menjadi tempat yang nyaman bagi anak sambil memberikan waktu (yang cukup) kepada anak untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Saat anak mulai bermain di luar, terutama di lingkungan baru yang asing baginya, berikan ruang dan waktu yang cukup longgar bagi anak untuk melakukan penyesuaian diri. Jangan paksa anak langsung berbaur. Cari sahabat keluarga dan berikan bantuan pada anak untuk mencari teman baru yang nyaman baginya.
Sekali lagi, fokuskan proses untuk menjadikan keluarga tempat yang nyaman bagi anak-anak. Bangun rasa aman & nyaman, kepercayaan diri, dan keterampilannya berkomunikasi.
April 7, 2020 at 1:30 pm #7318Aar
KeymasterKak Delvi,
1. Tidak pernah ada jaminana apapun untuk sebuah proses, kak.
Proses2 yang dibutuhkan oleh anak usia dini sebagian besar adalah memenuhi kebutuhan keamanan dan rasa nyaman secara psikologis. Kebutuhan ini tidak bisa dipenuhi secara eksternal, tetapi justru melalui proses bersama orangtua dan keluarga. Anak membutuhkan kelekatan (attachment) yang kuat bersama orangtua yang menjadi sumber rasa aman dan nyaman.Pada saat bersamaan, orangtua memang perlu belajar agar bisa menstimulasi anak sesuai kebutuhannya.
2. Betul kak. Langkah yang Anda lakukan sudah tepat. Berikan rasa aman dan nyaman pada anak, turunkan ekspektasi. Fokus pada proses stimulasi, bukan pada hasilnya. Itu jauh lebih baik dan lebih efektif untuk anak.
Sekali lagi, masa usia dini adalah untuk memberikan pondasi untuk pertumbuhan jangka panjang; bukan masa memetik.
Jadi, mari dinikmati prosesnya. Semakin dinikmati, orangtua dan anak semakin happy. Dan itu menjadi spiral positif yang sangat penting untuk tumbuh kembang anak.
June 17, 2020 at 4:31 am #7189Anonymous
GuestSaya mau bertanya, saya ibu 4 anak dan 3 diantaranya balita. Anak saya yang ke 2 dan 3 kembar. Masalah ada pada si kembar ini, karena mereka berbeda tingkat kemampuan. salah satunya delay motorik dan bicara. Satunya sangat pintar menurut saya tapi introvert dan pemalu. Dirumah dia bisa melakukan banyak hal seperti yang dilakukan kakaknya yang umur 7 tahun tapi begitu keluar rumah ketemu dengan guru les atau guru sekolah dia seperti bunga yang layu … langsung kempes tak bersuara.
Kalau saya flashback saat bayi, dia memang saya serahkan ke baby sitter karena saya fokus kesaudara kembarnya yang delay tadi. Setelah usia 4 tahun saya pegan semuanya sendiri.
Bagaimana ya cara menghadapi dan memperlakukan anak saya yang pemalu dan introvert ini?June 17, 2020 at 1:29 pm #7183Aar
KeymasterDear kak Ratri Indriani:
Ada 2 isu dalam hal ini:
1. Menangani anak introvert
2. Mengembangkan keterampilan sosialMari kita bahas satu persatu.
1. Menjadi introvert itu tak apa-apa
Sebagaimana ada orangtua yang ekstrovert dan introvert, demikian pun anak. Seorang introvert lebih suka menjadi pengamat dalam pergaulan sosial, menikmati kesendirian atau merasa nyaman dalam kelompok kecil, kehabisan energi saat bersama orang banyak, butuh waktu lebih lama untuk berkenalan, dst. Mereka ada dalam kehidupan orang dewasa dan itu bukan sebuah aib/kesalahan. Hanya sosok/karakter yang berbeda saja.Jadi, menjadi seorang anak introvert itu tak apa-apa. Apalagi jika ternyata ada orangtua yang juga memiliki karakter introvert.
2. Mengembangkan keterampilan sosial
Baik anak ekstrovert dan introvert perlu mengembangkan keterampilan sosial agar bisa memahami/mengungkapkan pikiran dan perasaan, serta berkomunikasi dengan orang lain.Jadi, ini fokus yang perlu dikembangkan pada anak introvert.
Dalam konteks sosial (interaksi dengan orang lain), penting untuk membangun kepercayaan diri pada anak introvert:
– anak tahu bahwa dia diterima apa-adanya dan tidak dianggap aneh oleh orangtuanya
– anak tidak dipaksa untuk berkenalan dan berinteraksi dengan orang lain
– anak diberikan waktu dan ruang untuk berproses
– anak diberikan contoh saat berinteraksi dengan orang lain
– bangun lingkaran yang aman/nyaman pada anak di luar keluarga (persahabatan keluarga/anak) melalui interaksi yang sering dan berulang. Dengan interaksi yang berulang, jika anak merasa nyaman dan tidak merasa ditekan, biasanya anak bisa membangun relasi dengan teman/orang lain
– Jadi, kuncinya adalah tetap mengembangkan keterampilan sosial anak sambil memberikan waktu/ruang lebih besar baginya untuk beradaptasi dalam lingkungan sosial baruSemoga membantu
April 6, 2021 at 2:21 pm #6922Anonymous
GuestSelamat siang mas aar dan mbak mira,
1. Sekarang ini banyak sekali ortu yg berbondong2 mau nyekolahin anaknya di sekolah yang bagus, bahkan sampe dibuka kelas utk bayi dan balita. Yg ingin saya tanyakan misalkan anaknya 3 tahunan mau disekolah kan, apakah dgn sekolah dini bisa menjamin anak itu nanti kalo sdh besar bisa bergaul dan kemampuan berinteraksi sosialnya bagus?
2. Jujur saya semenjak ikut kelas onlinenya rumah inspirasi, pengasuhan anak2 sy dirumah lebih fleksibel dibanding sebelumnya. Tidak berekspektasi ke anak ini itu. Sekarang fokusnya lebih bikin mereka aman, nyaman, dan senang. Dan skrg ini utk kegiatannya per harinya, sy tuliskan di buku refleksi yg isinya ttg bagaimana, respon ia dgn bermain, kebiasaan baik ap yg sdh dilaksanakan hr itu.
Apakah langkah yg spt bisa membantu sy dlm pengasuhan kak?Terimakasih..
May 3, 2021 at 12:36 am #6916Anonymous
GuestSelamat malam, Mas Aar dan Mbak Mira,
Saya ingin tahu, kebetulan anak saya yang no 1 (3 th), dia memiliki kepribadian introvert tidak seperti adiknya (1,5 th) yang extrovert. Sering kali kalau kami main di taman apabila kondisi taman bermain sepi, dia tampak bahagia sekali bermain, tetapi apabila tiba2 ada sekelompok anak yang ikut berada di taman walaupun jaraknya tidak dekat, dia bermain tetapi tidak tertawa2 bahagia, sambil mengamati orang-orang yang sedang bermain. Saya mengerti apa yang dirasakannya karena kebetulan saya dan suami juga tipe introvert. Yang jadi masalah adalah ketika mudik dan berkumpul dengan keluarga besar anak saya ini nanti akan dilabeli dan dibanding- bandingkan dengan adiknya oleh kakek dan nenek mereka. Kira-kira apa yang harus saya lakukan agar anak saya tetap merasa nyaman dengan kondisinya?
Terimakasih.
Best Regards,
Rahmawati DKMay 3, 2021 at 1:32 pm #6915Aar
KeymasterDear kak Rahmawati,
Terima kasih sharingnya.
Anda memiliki pondasi yang bagus untuk menangani kondisi ini karena menyadari bahwa anak memiliki introvert. Kesadaran bahwa Anda dan pasangan juga introvert memberikan empati yang besar untuk anak.
Sayangnya, banyak anggota masyarakat yang belum memahami perbedaan anak introvert dan ekstrovert dalam cara berkomunikasi dengan orang lain. Anak introvert walaupun lebih lambat berinteraksi dengan orang baru dan memilih jadi pengamat, mereka tetap bisa memiliki keterampilan sosial yang baik. Jika dibutuhkan, anak introvert bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Tentu saja, anak introvert juga membutuhkan stimulasi untuk meningkatkan keterampilan sosialnya.
Apa yang bisa dilakukan orangtua?
1. Kepada anak
~ Terima keunikan anak dalam berinteraksi. Katakan kepada anak secara verbal bahwa Anda memahaminya.
“Bunda mengerti kok kakak ingin mengamati dulu dan tidak mau langsung ngobrol.”
“Bunda nggak apa-apa kalau kakak belum mau langsung nimbrung ngobrol. Tapi kakak tetap berlatih berteman dengan teman baru ya?”~ Berikan ruang dan waktu bagi anak untuk beradaptasi sesuai kecepatan dan caranya. Jangan memaksa anak.
~ Stimulasi keterampilan sosialnya dan ajak anak mengobrol tentang yang dirasakannya.2. Kepada orang lain
~ Kondisinya belum terjadi, jadi jangan terlalu dibawa khawatir. Fokus pada kekuatan Anda dan anak Anda, jangan mudah baper dengan komentar orang lain.~ Karena respon/komentar orang lain terhadap anak bisa terjadi kapan pun, yang penting bagi Anda adalah menguatkan anak. Penguatan dilakukan dengan cara meyakinkan anak bahwa Anda tidak apa-apa dan menerimanya sepenuh hati. Apapun yang dikatakan orang lain jangan dibawa sakit hati, tapi dibawa santai saja. Yang penting kakak tetap main dengan saudara-saudara yang lain.
~ Jika Anda ada di sekitar anak pada saat anak dilabeli/dibandingkan, jawab dan belalah.
“Oo.. santai saja, Pakde. Anaknya baik-baik saja, kok. Nanti kan dia akan main sama saudaranya.”
“Biarin saja, Om. Dia lagi beradaptasi. Nanti ada waktunya kok…”Sekali lagi, kuncinya adalah tidak mudah tersinggung supaya hubungan Anda dengan saudara lain tetap baik. Tapi tetap bersikap positif dan tegas. Fungsi orangtua dalam konteks ini adalah:
~ menerima dan menguatkan anak
~ melindungi anak
~ mengedukasi orang lain (jika memungkinkan)Semoga menjawab pertanyaan kakak.
June 30, 2021 at 11:40 am #6885Anonymous
GuestHalo mas Aar dan mbak Lala,
Dari podcast yang saya dengarkan ada poin penting yang saya tangkap untuk anak terampil bersosialisasi, rasa aman dan nyaman + terampil berkomunikasi. Ukurannya apa ya mas untuk kita bisa tahu anak sudah merasa aman dan nyaman di rumah? Dan untuk terampil berkomunikasi di rumah, inspirasi apakah dengan mereka suka berbicara atau cerita dengan mama atau papanya sudah menggambarkan terampil berkomunikasi?
Anak saya berusia 5 tahun dan kalau di rumah sering berbicara dengan kami orangtuanya. Akan tetapi jika bermain di luar atau bertemu orang yang baru , anak saya lebih sering diam ,bahkan ada dengan teman sebaya. Apakah ada standarnya untuk usia ini sudah terampil sosialisasinya seperti apa? Dan di kondisi pandemi seperti ini,apakah ada tips untuk melatih keterampilan sosialisasi anak ?
Terimakasih
RegardsJuly 17, 2021 at 2:06 am #6857Anonymous
GuestMb Lala dan mas Aar, anak saya 7 th saya perhatikan dia kurang memiliki teman. Karena mmg pandemi dan homeschooling. Apakah ada grup/aplikasi yang memungkinkan anak saya utk berkenalan dgn teman yg lain sehingga dia semangat? Terimakasih
July 17, 2021 at 1:34 pm #6856Aar
KeymasterHalo kak Febiyanti,
Terima kasih pertanyaannya.
Salah satu indikator sederhana rasa aman dan nyaman adalah anak berkegiatan dengan antusias di rumah. Anak berinisiatif, merespon stimulasi (misalnya pertanyaan atau perintah sederhana), dan menjalani kesehariannya dengan baik.
Keterampilan sosial & komunikasi anak usia dini antara lain berkaitan dengan:
~ diri sendiri: bisa mengungkapkan perasaan, bisa mengungkapkan pendapat, menceritakan hal berkaitan dengan inderanya (dilihat, didengar, dirasakan)
~ dengan orang lain: memahami perintah sederhana, menjawab pertanyaan, bertanya, bercakap-cakapJika anak bisa melakukan keterampilan tersebut dengan orang-orang di rumah, itu pertanda kapasitas komunikasi dan sosial anak sudah berkembang baik.
Bagaimana jika anak aktif berkomunikasi di rumah tetapi pemalu di luar?
Jangan terlalu khawatir. Itu fenomena yang wajar pada anak.
Jika anak diam dalam lingkungan sosial baru, mengambil jarak, mengamati; itu bukan karena anak bermasalah. Banyak kemungkinan penyebabnya: anak belum merasa nyaman, anak butuh adaptasi, anak belum banyak berinteraksi dengan anak lain.
Bisa juga terjadi anak adalah tipe introvert yang memang berbeda dengan anak ekstrovert. Pertanyaannya: apakah diantara orangtua ada yang introvert?
Orang introvert dan ekstrovert memiliki kecenderungan yang berbeda berkaitan dengan orientasi terhadap orang lain. Orang introvert merasa nyaman dengan orang yang sedikit sementara orang ekstrovert menikmati bertemu dengan banyak orang. Orang introvert merasa terkuras energinya saat dalam keramaian, sementara orang ekstrovert justru merasa mendapat energi. Orang introvert akan mengamati dan menjaga jarak dalam situasi baru sampai dia merasa nyaman, sementara orang ekstrovert langsung menikmati komunikasi dan interaksi dengan orang baru.
Menjadi seorang introvert itu tak apa-apa. Yang penting keterampilan sosialnya terus dikembangkan sehingga dia tetap terampil berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain saat dibutuhkan.
Nah, tantangan dalam masa pandemi ini adalah keterbatasan interaksi sosial, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak. Kondisi ini tidak menjadi masalah bagi orang introvert tetapi menjadi masalah besar bagi orang ekstrovert.
Yang bisa kita lakukan untuk anak-anak adalah mengoptimalkan interaksi kita bersama mereka melalui kegiatan:
~ banyak membangun percakapan dan kegiatan bersama
~ membacakan buku (read aloud) dan mendiskusikan isi buku yang dibacakan
~ menonton film dan mendiskusikan isi film; terutama interaksi para tokoh yang ada di dalamnyaNanti jika kondisi sudah lebih memungkinkan, libatkan anak secara bertahap untuk berkegiatan dengan teman-teman sebayanya.
Demikian kak, semoga membantu.
July 17, 2021 at 1:37 pm #6855Aar
KeymasterKak Mia,
Kondisi pandemi ini memang menjadi tantangan besar dalam proses perkembangan sosial anak. Masalah ini dialami oleh semua anak, baik anak sekolah maupun HS. Hubungan melalui Internet di dunia maya bukanlah penjawab kebutuhan sosialisasi karena anak-anak kecil membutuhkan interaksi yang melibatkan fisik dam non-verbal: bergerak, percakapan random, mengobrol, ekspresi, dan aneka bentuk ekspresi lainnya.
Interaksi anak kecil secara online dengan orang asing juga mengandung bahaya karena bisa jadi ada “predator” yang menyaru jadi anak kecil. Seandainya pun ada interaksi bersama anak lain, prosesnya harus dalam pengawasan dan pendampingan penuh orangtua.
Lalu bagaimana?
1. Orangtua sebagai penopang utama
Proses pengembangan utama tetap berlangsung di rumah bersama orangtua. Yang menjadi tantangan adalah Ibu dan Ayah perlu sehat dan bugar secara mental agar bisa menghadirkan suasana sukacita bersama anak di rumah. Ini bukan masalah sederhana karena kondisi pandemi ini sendiri sangat berat untuk Ayah dan Ibu. Tapi sebagai penanggung jawab anak, tak ada jalan lain selain kita perlu menjaga kejernihan mental kita agar anak juga ikut tenang.2. Lingkaran keluarga
Selain keluarga inti, yang bisa diandalkan untuk menjalin interaksi yang nyaman adalah keluarga besar. Jadwalkan pertemuan rutin dengan sepupu atau saudara yang memiliki anak usia sebaya. Lakukan kegiatan bersama mengobrol dan saling bercerita.3. Sahabat keluarga
Selain keluarga, Anda perlu meraih sahabat-sahabat Anda yang memiliki anak usia sebaya. Karena kondisinya tidak memungkinkan pertemuan offline, proses yang dilakukan adalah online. Anda bisa membuat janjian untuk bikin klub membaca buku, klub menggambar, dll bersama sahabat-sahabat Anda.4. Kelas Online
Saya belum menemukan kelompok khusus untuk mencari teman. Yang paling memungkinkan adalah mengikutkan anak dengan kelas online yang membuatnya berinteraksi dengan guru dan anak lain; misalnya kelas menggambar, cerita, bahasa, dll.Demikian kak, memang tidak ada solusi yang ideal di masa pandemi ini. Kita perlu sama-sama menguatkan diri dan mencari solusi-solusi sementara.
Semoga kita bisa melewati pandemi ini dengan selamat.
March 30, 2022 at 1:13 pm #6422Novie Safita
Memberhallo mas Aar dan mba Lala, sy lagi ngubek2 isi web terkait sosialisasi anak HS usia sekolah (SMP-SMA) apakah ada pembahasan khusus ttg topik ini? kalau ada, mohon arahan linknya ya kak, terimakasii😊
March 30, 2022 at 2:14 pm #6421Aar
KeymasterHalo kak @novie.safita
Semakin besar anak, variasi pola sosialisasi anak semakin beragam.
Anak memiliki karakter yang beragam (introvert, ekstrovert), pilihan jenis kegiatan berbeda-beda, kebutuhan pertemanannya tak sama, infrastruktur sosial yang ada di sekitar juga berbeda.
Kami punya 3 anak:
1, Senangnya main dan gaul, kebutuhan pertemanannya tinggi. Pada waktu SMP/SMA, dia senang jalan ikut kegiatan di komunitas macam2 dan juga aneka workshop.
Ini cerita tentang lingkaran pertemanannya: https://rumahinspirasi.com/contoh-sosialisasi-anak-homeschooling/
2. Anak kedua suka seni, punya beberapa teman dekat yang selama pandemi suka chat, main game, dan ngobrol online tengah malam. Dia merasa cukup dengan itu dan tak merasa butuh banyak yang banyak di luar.
3. Anak ketiga suka catur, kebutuhan pertemanannya lebih kecil lagi. Dia punya 3 sahabat sejak kecil dan sampai sekarang masih suka main Minecraft online bareng. Dia anak rumahan, tidak suka main. Yang kami pastikan adalah dia memiliki keberanian untuk berkegiatan jika dibutuhkan (melalui belanja dan travelling) dan bisa berkomunikasi dengan baik dengan siapapun.
Jika ada konteks kondisi khusus yang ingin ditanyakan, ditulis saja kak. Nanti saya usahakan untuk menjawab.
Mohon disertakan data usia anak, kota tempat tinggal, concern orangtua, dan kondisinya saat ini.
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.