Belajar Parenting › Forums › 10 Keterampilan Dasar Anak › Podcast Strategi dan Prinsip Belajar Keterampilan
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 24, 2019 at 2:19 pm #4645
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
April 14, 2020 at 1:52 pm #7307Anonymous
GuestSelamat malam, terimakasih sblmnya atas pemaparan materinya yg baik. Sy irt dgn 2 org anak laki2 berusia 7th dan 4th. Sy mulai tertarik bertanya setelah tau goal dr belajar ktrampilan.
Pertanyaannya bgmn menumbuhkan ketertarikan anak2 utk dpt meningkatkan kualitas usaha mereka?
Krn saat mereka merasa “bisa” maka cukup sudah mereka utk mencoba ulang kembali.April 15, 2020 at 3:00 pm #7302Aar
KeymasterKak Fitri,
Ada beberapa tips yang bisa dilakukan orangtua untuk menumbuhkan kesadaran anak pada kualitas proses/karya mereka.
1. Ceritakan keseharian yang Anda jalani dan usaha keras Anda untuk meningkatkan kualitas. Pengalaman keseharian yang mereka lihat dan kedekatan emosional dengan Ibu bisa menjadi pintu membuka kesadaran anak.
2. Jika kualitas proses/hasil pekerjaan anak belum bagus, kurangi omelan, perbanyak petunjuk teknis tentang cara melakukan yang lebih. Berikan instant feedback dan dengan intonasi suara data/netral. Misalnya, anak tidak bersih saat mencuci piring, langsung berikan petunjuk dan praktek tentang apa yang perlu diperhatikan saat mencuci agar piring bisa bersih dan tidak berminyak.
3. Apresiasi inisiatif anak, apalagi ketika mereka melakukan kerja keras dan “extra work”
4. Bacakan buku cerita inspiratif tentang para tokoh yang bekerja keras dan berjuang untuk memberikan yang terbaik
5. Tonton film/video tentang proses latihan/kerja para tokoh: atlet, seniman, dll. Kalau ada yang dekat dengan dunia yang disukai anak atau idola anak. Berikan pesan kepada anak bahwa semua prestasi pasti membutuhkan kerja keras dan perjuangan untuk menghasilkan yang terbaik.
Semoga membantu.
April 16, 2020 at 12:06 pm #7297Anonymous
GuestSelamat malam Pak Aar, Bagaimana mngajarkan keterampilan dasar pada anak yg gaya belajarnya cenderung auditori dan kinestetik, semntra untuk video belajar melalui gadget masih kami batasi karena anak masih 2 tahun 6 bulan?
April 17, 2020 at 3:02 pm #7288Aar
KeymasterBagus kak Yunita, kalau ada kebijakan untuk membatasi dan mengelola penggunaan gadget saat anak usia dini. Gadget bisa menjadi alat belajar. Tapi untuk anak usia dini gadget seringkali menjadi sumber distraksi dan gangguan anak untuk berfokus. Bagi orangtua yang memiliki masalah fokus pada anak usia dini, salah satu tipsnya adalah mengurangi penggunaan gadget. Jadi, aktivitasnya sebagian besar diganti aktivitas yang sifatnya fisik.
Bagaimana mengajarkan keterampilan dasar pada anak usia 2.5 tahun tanpa menggunakan video?
Banyak aspek keterampilan dasar dan kita akan mempelajari 10 jenis keterampilan. Setiap keterampilan berbeda jenisnya, ada yang sangat bagus kalau dimulai sejak untuk usia dini, ada yang bisa dimulai ketika usia sekolah dan remaja.
Salah satu yang bisa ditunda adalah keterampilan penggunaan teknologi (gadget). Jadi, tak ada masalah jika anak 2.5 tahun tak belajar menggunakan gadget. Bahkan itu hal yang bagus.
Untuk anak 2.5 tahun, banyak keterampilan dasar yang bisa dipelajari. Misalnya: keterampilan berkomunikasi. Sering-seringlah mengobrol bersama anak, perbanyak bertanya dan mendengarkan cerita mereka. Goalnya adalah anak bisa mengartikulasikan (mengucapkan) kata-kata dengan jelas, bisa mengekspresikan perasaan dan pendapatnya, memperbanyak kosa kata.
Keterampilan dasar literasi juga bisa dibangun dengan sering membacakan cerita atau mendongeng saat menjelang tidur. Itu adalah pintu pertama dan pondasi penting untuk membangun kecintaan membaca.
Atau keterampilan melayani. Ketika anak mau bantu-bantu, berikan kesempatan dan bahkan dorong. Minta tolong anak mengambilkan barang. Minta tolong anak membawakan sesuatu. Jangan lupa untuk mengapresiasi jika anak berinisiatif menawarkan bantuan atau telah melakukan hal baik.
Semua itu tidak ada yang memakai video dan gadget, kan?
April 20, 2020 at 12:52 pm #7278Anonymous
GuestMas Aar, saya mau tanya. Anak sulung saya (8,5 tahun) alhamdulillah memiliki self-esteem yang tinggi. Ia memiliki kepercayaan diri, tapi kadang ketika diberi feedback atas sebuah pekerjaan, dia kurang bisa menerima saran karena dia merasa cara dia sudah benar, tidak perlu saran lain. Misalnya ketika diberi feedback atas hasil kerja dia mengepel lantai (kurang merata/kurang bersih) lalu ditunjukkan kembali cara mengepel dan hasil yang diharapkan, dia kadang suka bilang “that’s what I did/It looks good for me/That’s good enough for me”, atau semacamnya. Pola komunikasi/pilihan bahasa seperti apa ya yang bisa disampaikan ke anak ketika memberi feedback, namun tanpa membuat dia resisten? Terima kasih.
April 21, 2020 at 1:49 am #7276Anonymous
GuestMas Aar dan Mbak Lala…
Bagaimana mengatasi kondisi anak yang kecenderungannya sekarang ini lebih senang main game online di handphone. Tertutama sejak diliburkan. Saya ibunya tetap harus ngantor. Anak saya kesehariannya dg neneknya yg cenderung keras dan skrng jadi membangkang terhadap neneknya. Ayahnya selama ini menggunakan pendekatan bermain dengan anaknya sehingga anaknya juga memiliki kecenderungan untuk bermain dg ayahnya dan kurang mengindahkan apabila diingatkan ayahnya untuk berhenti bermain gadget.
Tq mas Aar dan Mba LalaApril 21, 2020 at 3:03 pm #7274Aar
KeymasterKak Pratiwi,
Salah satu pendekatan yang sering kami lakukan saat menghadapi perilaku khusus anak adalah berdiskusi dengan pasangan. “Sikap (anak) ini lebih mirip sifat kamu (pasangan) atau aku?”
Yang memiliki sifat mirip kemudian diminta merefleksikan, “Dalam kondisi seperti ini, respon eksternal apa yang efektif? Kamu ingin diperlakukan seperti apa?”
Pendekatan itu sering membantu kami dalam menangani problem anak-anak sehari-hari.
Karena saya tidak tahu konteks yang terjadi di lapangan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan proses memberikan feedback:
1. Apresiasi dulu
Apresiasi harus dilakukan pertama dan disampaikan dengan tulus. Buang jauh-jauh kata hubung “tetapi” untuk melanjutkan kalimat karena itu bisa dipersepsi sebagai ketidaktulusan dalam apresiasi.Apresiasi, titik.
2. Dorong evaluasi dari anak
Ajukan pertanyaan kepada anak, “Menurut kakak sudah bersih belum? Sudah kering, belum?”
Fokus pada hasil, bukan mengomentari proses. Standar kualitas hasilnya harus disepakati tentang yang dimaksud “good”.Kalau kakak merasa sudah, tunjukkan pada bagian yang dirasa belum bersih atau terlalu basah. Lalu, biarkan dia menyelesaikan proses perbaikan.
3. Instant feedback
Proses evaluasi terhadap hasil dilakukan langsung setelah bekerja, tidak berjeda. Hal ini untuk menghindari proses mengelak “tadi sudah bersih, aku nggak tahu kenapa sekarang kotor lagi.” dll4. Masukan tentang proses dikaitkan dengan hasil
Berikan ruang lebih luas berkaitan dengan “cara”. Selama hasilnya seperti yang diharapkan dan sesuai standar, biarkan anak dengan caranya sendiri. Tapi jika hasilnya tak sesuai, kita bisa memberikan masukan tentang cara kerja. Kuncinya ada pada poin sebelumnya: dilakukan seketika, hasilnya terlihat di bawah standar.5. Frekuensi datar
Dalam obrolan, pastikan nada suara kita tidak meninggi. Pastikan datar, fokus pada hal teknis dan tidak menyinggung ego (tidak ada orang yang suka dianggap gagal). Setelah pesan disampaikan, lupakan. Obrolan lain harus bersifat netral sehingga anak tidak perlu merasa defensif dan merasa dipersalahkan.Ini hanya urusan teknis saja kok…
Semoga membantu
April 21, 2020 at 3:04 pm #7273Aar
KeymasterKak Inge, ada beberapa hal yang bisa saya sampaikan:
1. Semua orang berjuang
Kondisi karantina Corona ini membuat masalah bagi semua orang, baik orang dewasa maupun anak. Semua orang berjuang agar bisa sehat (secara mental) sekaligus produktif. Yang berjuang dan sedang mengalami kesulitan bukan hanya anak orangtua, tapi juga anak.Nah, kesehatan mental adalah concern penting yang perlu kita tangani pada saat ini. Kemungkinan yang terjadi, penggunaan gadget yang berlebihan terjadi sebagai bentuk pelarian anak terhadap masalahnya. Anak main game, menonton video, dan chatting bersama teman untuk mengisi waktunya. Dunianya ada di tangan dan dia merasa insecure jika dunia itu direnggut darinya. Itu yang meningkatkan sensitivitas anak pada saat ini.
2. Pendekatan keras tak akan berjalan
Pendekatan keras pada anak dalam kondisi seperti karantina Corona biasanya tidak efektif, bahkan akan menimbulkan konflik dengan anak.Anak sebenarnya tahu bahwa yang dilakukannya adalah salah. Tapi dia bingung dan kesulitan melakukan hal lain di luar gadgetnya.
Dalamm kondisi normal, mungkn dia bisa menyalurkan dengan main dan nongkrong bersama teman-temannya. Tapi kondisi itu tak memungkinkan dilakukan pada saat ini. Problem besarnya di sini.
3. Mencari pola baru
Jika dia cocok dengan ayahnya dan bisa berkomunikasi dengan baik melalui game, maka ayah bisa menjadi pintuk masuk untuk diskusi bersama anak. Ayah dan Ibu perlu mencari cara produktif untuk mengisi kegiatan dalam kondisi ini. Jika sudah berhasil, itu bisa menjadi modal besar untuk mengobrol bersama anak.4. Cari solusi bersama
Berempati dengan kondisi anak bukan berarti membenarkan kelekatannya dengan gadget. Kita tetap prihatin dan ingin mendorong anak untuk lebih produktif.Ajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif pada anak:
~ Jika kondisi ini berjalan terus hingga 3 bulan ke depan, apa yang akan kamu lakukan?
~ Bagaimana jika ini akan terus hingga akhir tahun? Bagaimana jika kondisi ini menjadi normal baru (new normal)?
~ Bagaimana caranya kita berdaya dan tidak hanya merasa sebagai korban?
~ Keterampilan baru apa yang bisa kita pelajari dengan kondisi saat ini?
~ Karya produktif apa yang bisa kita hasilkan dalam kondisi saat ini?Itu pertanyaan yang bisa memantik diskusi bersama anak-anak.
Mohon maaf jika saya tak punya saran dan solusi instan.
Semoga empati dan diskusi bersama anak bisa membuka pintu-pintu besar transformasi di keluarga Anda.
April 22, 2020 at 11:23 am #7260Anonymous
GuestTerima kasih atas jawabannya. Sangat membantu dan akan saya coba.
February 5, 2021 at 5:33 pm #6976Anonymous
GuestAslmkm…
Saya mau tanya ini malu sebenarnya, tp disini sepertinya tempat yang pas untuk saya “jujur” tentang apa yang saya alami dalam proses belajar dan berharap ada pencerahan.
Saya mau tanya pak, apakah bisa maksimal ketika kita mencari tau kelebihan dan kelemahan anak, dan memanfaatkan kelebihan itu untuk mengembangkan ketrampilan anak, sedangkan saya sebagai orang tua nya sendiri masih bingung dengan apa kelebihan atau kekuatan saya sebagai orang tua? Apa yang harus saya lakukan?Terimakasih …
February 6, 2021 at 3:07 pm #6974Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Kak Nofi,
Terima kasih banyak atas kejujurannya, kak. Ini sikap yang sangat bagus sekali. Dengan sikap seperti ini, kakak bisa bertumbuh dengan baik sebagai pribadi maupun sebagai orangtua.
Dalam proses menjalani kehidupan dan menjadi orangtua, yang bisa kita lakukan adalah mengoptimalkan yang ada. Jangan mencari yang tidak ada, jangan menyesali masa lalu, jangan berfokus pada kekurangan/kelemahan, jangan berandai-andai dan berpikir “aku baru akan melakukan xxx jika yyy.”. Jangan.
Selalu mulai dengan mensyukuri yang ada dan berusaha memulai dari yang ada. Jika kita bersungguh-sungguh dan terus berkembang, itu akan membukakan berbagai jalan-jalan baru untuk kita maupun keluarga kita.
Tentang pendampingan untuk mengenali kekuatan anak, lakukan secara bersamaan dengan proses pribadi Anda.
Untuk diri pribadi, kenali:
~ apa yang Anda lakukan dengan cepat dan hasilnya bagus
~ apa yang mudah Anda pelajari dan Anda bisa naik terusItulah pintu2 masuk kekuatan Anda. Kekuatan itu bisa dalam wujud beragam, misalnya:
~ bidang tertentu: olahraga, seni, kuliner, pertanian, peternakan, dll
~ sifat: pantang menyerah, rajin, berhati lembut, dll
~ keterampilan: berbicara, craft, berjualan, berbicara, dllSambil Anda berproses, temani anak-anak untuk mendapatkan beragam pengalaman:
~ pengalaman dengan seluruh indera: mendengar, memegang, menonton, mencicipi, dll
~ pengalaman berkarya: lisan, tulisan, foto, video, musik, vokal, dll
~ pengalaman dengan orang: kerja sendiri, kerja kelompok kecil, berkegiatan dengan banyak orang
~ area kegiatan: berkebun, beternak, fotografi, menggambar, menulis, presentasi, dllSemoga membantu
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.