Belajar Parenting › Forums › Menyiapkan Pembelajar Mandiri › Podcast Tips Pembelajar Mandiri
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 25, 2021 at 11:57 am #4432
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
November 1, 2023 at 6:00 am #4973Dhiyan Fathiya
MemberSalam Mas Aar, terimakasih untuk materi2nya yang luar biasa membuka wawasan saya tentang belajar.
Saya ingin bertanya tentang mindset belajar. Anak saya yang berusia 4 tahun setengah, masih dipertimbangkan untuk memasukkan dia ke TK tahun depan atau tidak, sementara itu saya berencana tetap menyekolahkan dia untuk SD nanti. Salah satu kekhawatiran saya adalah mindset anak saya yang melihat belajar itu kurang menarik, dibandingkan bermain. Saya lihat kalau sambil lalu saja, dia bisa paham konsep matematika dasar, bisa menghapal surat2 pendek, mau diajarkan nilai normatif yang baik, dan lain2. Tapi itu semua sambil lalu saja, diselang kegiatan bermain dia, pokoknya di saat yang tidak bisa khusus seperti formal dan terjadwal. Saya siapkan waktu belajar ngaji setelah solat misalnya, dia ga bisa saya ajak fokus belajar mengaji dulu hanya untuk 30 menit saja. Saya khawatir perkembangan kognitif dia terlambat dan tidak akan suka lingkungan belajar di kelas, sehingga tidak akan senang saat sekolah SD nanti. Saya mohon pandangan Mas Aar terkait hal ini. Terimakasih.
November 1, 2023 at 9:20 am #4970Aar
KeymasterHalo kak @dhiyan-fathiya,
Proses belajar anak perlu dilakukan menyesuaikan dengan pertumbuhan fisiologis anak. Dalam pendidikan anak usia dini (di bawah 7 tahun), kegiatan utama dan proses utama memang bermain. Sebab, anak belum bisa duduk diam dan belum bisa melakukan pembelajaran formal.
Secara pertumbuhan fisik & mental, baru di usia 6-7 tahun anak mulai bisa duduk lebih tenang dan menerima pengajaran formal.
Bahkan, ada tokoh-tokoh yang mengadvokasi untuk menunda proses belajar formal hingga usia 9-10 tahun. Prinsip yang digunakan adalah “Better Late than Early”. Terlambat belajar formal tidak akan membuat anak bodoh. Anak tetap belajar banyak hal walaupun tidak dengan cara duduk diam mendengarkan.
Problemnya terletak di mindset orangtua.
Orangtua mengharapkan anak duduk diam dan mendengarkan ceramah. Orangtua mengharapkan anak mengerjakan worksheet berjam-jam. Orangtua menganggap itulah yang disebut belajar.
Orangtua tidak melihat melihat bahwa ketika anak bertanya dan mengobrol itu belajar. Ketika anak bermain bersama teman-temannya tak dianggap sebagai belajar keterampilan sosial. Ketika anak naik sepeda keliling kompleks tak dianggap sebagai stimulasi motorik halus.
Belajar direduksi hanya menambah hafalan dan pengetahuan yang dianggap penting oleh orangtua.
Padahal, belajar adalah pengalaman-pengalaman yang diperoleh anak: keingintahuan yang terpelihara, eksplorasi dunia sekitar, mencoba aneka pengalaman baru. Semua itu adalah bentuk2 belajar.
Sekali lagi, prinsip belajar anak usia dini adalah bermain dan bersenang-senang, kak. PR besarnya orangtua adalah memperluas makna belajar dan mengintegrasikan belajar dengan kehidupan sehari-hari. Belajar bisa terjadi kapan pun dan dimanapun, dan tentang apapun.
Untuk lebih jelas, kakak bisa lihat lagi Parameter Tumbuh Kembang Anak. Silakan cek sesuai usia anak. Itulah yang menjadi tujuan2 utama dalam stimulasi anak.
Demikian kak, semoga membantu. 🙏
November 2, 2023 at 7:08 am #4968Dhiyan Fathiya
MemberIya ya. Saya mulai menyadari dan menerima fase anak saya, itu lah juga yang membuat saya ada keinginin untuk menunda waktu sekolahnya dan tidak dimasukkan TK, yaitu karena saya merasa kondisinya akan membuat dia tidak bisa menikmati masa bermainnya yang sangat mungkin justru di situlah proses belajarnya diterima. Masalahnya adalah saya perlu bekerja…
Jadi pertanyaan saya selanjutnya, saya ingin tahu pandangan Mas Aar lagi tentang tips memilih sekolah TK. Saya harap mas Aar bisa sedikit mengarahkan saya, meskipun Anda sepertinya tidak memasukkan anak2 anda sendiri ke TK ya?
Terimakasih Mas Aar
November 4, 2023 at 9:50 am #4963Aar
KeymasterHalo kak @dhiyan-fathiya
Keluarga kami menjalani homeschooling. Semua anak kami tidak pernah preschool, TK, SD, SMP dan SMA. Semuanya menjalani pendidikan mandiri bersama kami.
Pemilihan sekolah sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dipegang keluarga. Ada keluarga yang menginginkan anak banyak dibekali pelajaran agama sejak dini.
Ada orangtua yang ingin anaknya banyak kegiatan main dan fisik di luar saat TK.
Ada orangtua yang ingin anaknya banyak eksplorasi aspek seni dan kreativitas.
Jadi, tergantung preferensi kakak.
Basicnya, kegiatan TK itu pusatnya bukan kegiatan akademis dan kognitif (pengetahuan), tapi belajar melalui kegiatan bermain.
🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.