Belajar Parenting › Forums › Menyiapkan Pembelajar Mandiri › Podcast Tips Pengembangan Pembelajar Mandiri
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 25, 2019 at 9:15 am #4625
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
November 21, 2020 at 4:46 pm #7080Anonymous
GuestSaya sebelumnya sudah mau bertanya tentang timeline kira2 kapan kita bisa melihat anak mulai menunjukan kemandirian, ternyata sudah terjawab di podcast materi disini ya. Semua nya tergantung stimulasi. Berarti semakin dini kita mulai memberikan anak ruanh untuk memilih dan berinisiatif berarti semakin baik juga ya perkembangan kemandirian mereka?
November 22, 2020 at 3:31 pm #7079Aar
KeymasterKak Juvanska,
Betul sekali kak. Kita tidak melihat kemandirian anak berbasis umur, tetapi berbasis pada kualitas stimulasi dan dampaknya pada anak. Apalagi ada banyak aspek kemandirian yang perlu disiapkan dan dikenali.
Untuk itu, proses pengembangan dan stimulasinya memang sebaiknya sejak dini. Apalagi proses pembentukan budaya memerlukan waktu panjang selama bertahun-tahun. Proses mengasah keterampilan juga membutuhkan proses stimulasi dan peneguhan yang berulang.
August 26, 2021 at 7:20 pm #6812Anonymous
GuestMalam Mas Aar
Anak saya Usia 10 thn, sudah beberapa kali saya memberikan arahan, contoh dan kesempatan untuk menyusun sendiri kegiatan hariannya. Tapi hingga saat ini dia selalu kebablesan sesuka hatinya hanya bermain saja. Ketika saya tanya ada saja alasan yg dia berikan, sehingga sat ini akhirnya saya masih terus menyusun jadwalnya, walaupun saya tetap bicarakan terlebih dahulu dengannya. Tapi ini juga belum bisa dia laksanakan.
Saya mohon saran dan ide dari Mas Aar.
Terima kasihAugust 27, 2021 at 3:32 pm #6811Aar
KeymasterHalo kak Martha,
Terima kasih pertanyaannya. Kondisi yang Anda alami itu cukup sering terjadi, terutama pada anak-anak yang sebelumnya bersekolah dan kemudian mulai menjalani homeschooling. Ini adalah bagian dari proses transisi yang biasa terjadi dalam homeschooling.
Proses ini tidak mudah bagi anak dan membutuhkan adaptasi. Sebab, selama bertahun-tahun dia tidak pernah ditanya mau melakukan kegiatan apa. Anak hanya disuruh menjalani apapun yang diperintahkan.
Nah, dalam proses transisi anak-anak agar menyadari bahwa dia memiliki hak untuk menentukan kegiatan belajarnya sendiri, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
1. Buat daftar dan jenis kegiatan
Buatlah jenis-jenis kegiatan yang bisa dilakukan anak. Tuliskan sebanyak-banyaknya, misalnya 20-30 jenis kegiatan yang bisa dipilih anak.2. Buat kesepakatan kegiatan
Jika anak belum bisa, orangtua memberikan contoh jadwal kegiatan yang bisa dilakukan anak. Tentukan 3-5 kegiatan dalam 1 hari. Ambil dari daftar kegiatan yang sudah dibuat sebelumnya. Diantara jadwal itu, masukkan 1 kegiatan yang berbeda dengan sekolah dan disukai anak (tujuannya agar anak tahu bahwa jadwal kegiatan bisa berbeda dengan jadwal sekolah dan dia bisa memilih kegitan yang disukainya).3. Tulis dan tempel jadwal di dinding yang mudah dilihat
Setiap pagi, tanyakan pada anak apa jadwal kegiatannya hari ini. Saat siang hari, tanyakan pada anak apa yang sudah dikerjakan dan bagaimana rencana sisanya. Saat sore, cek lagi agar semua jadwal terpenuhi.4. Lakukan ini sepanjang minggu
Ulangi langkah ke-3 setiap hari selama seminggu. Ini proses yang berat karena banyak orangtua berharap anak sudah bisa jalan sendiri. Pada kenyataannya, di lapangan anak belum bisa dan belum terbiasa sehingga tetap perlu diingatkan setiap hari.5. Diskusikan bersama di akhir minggu
Setelah berjalan seminggu, diskusikan bersama anak jadwal yang sudah dibuat. Buka lagi daftar ide kegiatan. Diskusikan bersama apa yang mau ditambahkan, diperbaiki, dikurangi. Ulangi lagi prosesnya dengan menulis jadwal dan mengawal pelaksanaannya setiap hari.Demikian proses awalnya, kak. Proses semacam ini membutuhkan waktu beberapa bulan (beda-beda setiap anak). Dari proses memberikan contoh dan diskusi, anak akan belajar secara bertahap cara membuat jadwal.
Demikian kak, semoga membantu.
March 9, 2022 at 3:47 pm #6574Sarah
MemberHalo mas Aar terima kasih atas penjelasan dan ilmunya. Saya ingin sharing. Saya ibu dari seorang anak berusia 4.5tahun. Anak sudah terbiasa tidur dan mandi sendiri tanpa bantuan. Sesekali inisiatif mengerjakan pekerjaan rumah tangga (menyapu kamarnya, membereskan mainannya)
Untuk kegiatan harian kami terbiasa diskusi ketika jelang tidur tentang kegiatan apa yg ingin anak lakukan esok hari? Jawabannya hampir selalu sama: besok mau baca buku, main boneka, belajar (belajar berhitung yg biasa ia pilih). Apakah pilihan kegiatan yg ia pilih itu2 saja termasuk langkah awal ia menjadi pembelajaran yg mandiri?
Bagaimana agar jawaban pilihan kegiatan yg ia pilih lebih variatif tanpa banyak saya yg mengintervensi?
March 9, 2022 at 6:23 pm #6573Aar
KeymasterHalo kak @sarah.fauziyyah
Kemampuan anak menyebutkan kegiatan yang diinginkan adalah hal yang baik. Ini adalah bagian dari stimulasi proses pengambilan keputusan.
Hal lain yang perlu dilakukan orangtua adalah memperkaya pengalaman dan menambahkan variasi jenis kegiatan anak.
Jadi tidak setiap saat Anda bertanya kepada anak, tapi Anda juga memperkenalkan kegiatan-kegiatan lain.
“Kakak, yuk main xxx sama Bunda..”
“Kakak, yuk bikin xxx bareng…”
DllYang sekarang sudah bagus, kak.
Variasi jenis kegiatan akan berkembang seiring bertambahnya usia dan pengalaman anak melakukan kegiatan lain.
Jika ada kegiatan tertentu yang menurut Anda perlu dilakukannya, Anda bisa menawarkan dan mengajak anak (tidak perlu menunggu inisiatifnya).
Demikian, semoga membantu.
November 17, 2023 at 1:03 am #4955Indah
MemberBAGAIMANA KALAU KITA SUDAH TERLANJUR MEMBENTUK BUDAYA YANG SALAH PADA ANAK,, BUDAYA ANAK HRS TUNDUK ORTUNYA BANYAK BERBICARA ATAU MENGATUR DAN TAMPAK HASILNYA ANAK MALES UNTUK BERTANYA, TIDAK MAU NGOBROL SAMA ORTUNYA MEREKA TIDAK NYAMAN NGOBROL SAMA ORTUNYA, MEREKA TENTU TIDAK MUNCUL INISIATIF,,,SEMENTARA USIA MEREKA SUDAH MULAI MENGIJAK DEWASA DI USAI 14-17 TAHUN BAGAI MANA CARA UNTUK NERUBAHNYA ? TERIMAKASIH
November 17, 2023 at 9:58 am #4952Aar
KeymasterKak @annisa–sidqia-nahdah,
Selamat ya kak untuk kesadarannya untuk berproses menjadi orangtua yang semakin baik dan terus bertumbuh.
Sebagaimana proses yang dijalani sudah berlangsung bertahun-tahun, perubahan juga membutuhkan waktu tidak cepat untuk berdampak.
Kesadaran Proses Berubah
Sebagai orangtua, penting untuk menerima bahwa saat remaja kita sedang menerima buah2 dari proses yang sudah kita jalani selama ini. Kita memang tidak sempurna dan tidak ada orangtua yang sempurna. Tapi jika kita mau dan bisa berubah, banyak hal baik yang bisa terjadi pada anak-anak.
Jika kita ingin mengubah, penting untuk tidak melakukan proses/kesalahan yang sama dengan sebelumnya. Ini yang menantang karena kita punya kecenderungan untuk mengulang hal-hal yang sudah kita lakukan bertahun-tahun.
Mindset paling penting adalah: fokus pada yg hal yang bisa kontrol. Kita tidak ingin mengubah anak, tetapi perlu mengubah pola2 kita sendiri saat bersama anak. Sikap anak (buah) adalah respon dari aksi-aksi yang kita lakukan.
Perubahan membutuhkan waktu
Untuk mendapatkan perubahan, akan ada interaksi dua arah yang dimulai dari inisiatif perubahan yang dilakukan orangtua:
- orangtua berubah dan lebih membuka diri untuk pola hubungan yang lebih horizontal serta mengurangi penggunaan otoritas/kepatuhan
- anak akan belajar mempercayai bahwa orangtua tulus mendengarkan pendapat/sikapnya
Bentuk perubahan
Bola utamanya ada di orangtua, melalui beberapa pola yang dilakukan secara bertahap. Intinya adalah:
1. Mengurangi perintah, memperbanyak minta tolong. Jika anak tidak mau, tidak marah.
2. Memperbanyak mengobrol tentang keseharian
3. Mengurangi penilaian terhadap anak. Apapun yang dilakukan anak diterima sebagai kenyataan. Jika tak terima, kita bertanya, bukan menaikkan nada suara dan menilai.
4. Memperbanyak bertanya dengan nada datar dan santai jika anak melakukan kesalahan atau ada hal yang menurut kita tidak tepat.
“Mas, mengapa kegiatan xxxx tidak dilakukan?” – menggali alasan secara objektif
“Mas, kamu lagi sibuk sekali ya sehingga tugas xxx terlewat?” – berprasangka baik pada anak
“Mas, tahu nggak dulu waktu Bunda seumuran kamu pernah melakukan hal konyol xxxx” -bercerita hal2 lucu & konyol tentang kehidupan masa muda kita utk menunjukkan bahwa kita menerima kenakalan2 wajar anak
Perubahan radikal
Perubahan juga bisa dilakukan dengan lebih radikal dimulai dengan minta maaf kepada anak atas kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan.
“Bunda baru menyadari bahwa banyak kesalahan2 parenting yang selama ini Bunda lakukan dan Bunda ingin berubah agar hubungan kita menjadi lebih baik.” (niatnya bukan mengubah anak)
“Bunda minta maaf sering marah, memaksa, mengomel, dll (berikan contoh2 peristiwa) yang teringat.”
“Bunda ingin memperbaiki semuanya. Menurutmu, perubahan apa yang penting untuk Bunda lakukan terkait hubungan kita?”
Ini poin besarnya dan siapkan mendengarkan dengan seluruh hati/telinga tanpa membantah apapun yang dikatakan anak. Kita sangat mungkin tidak terima atas kata-kata anak, tapi usahakan untuk tutup mulut rapat-rapat. Terima dan tenangkan hati, kemudian olah menjadi pupuk yang akan menjadi modal pertumbuhan berikutnya.
Catatan: jalan perubahan radikal itu sulit dan tidak semua orangtua sanggup melakukannya. Jika tidak bisa tidak apa2. Pilih jalan lebih memungkinkan untuk anak lakukan dan sesuai kondisi Anda.
Demikian kak, semoga membantu.
🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.