Belajar Parenting › Forums › Memulai Homeschooling Usia Sekolah › Pondasi dan Arah Homeschooling Usia Remaja
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 23, 2019 at 10:03 am #4668
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
January 30, 2021 at 6:43 pm #7008Anonymous
GuestMas Aar, jika saat ini fokusnya lebih ke skill, berarti tidak perlu ambil jalur akademis ya? Pertanyaan selanjutnya, jika
1. Tidak mengambil kesetaraan Paket B, jika nantinya ingin ke universitas, apakah bisa ikut paket C tanpa memiliki paket B?
2. Jika tidak mengejar kesetaraan paket B, apakah mendaftar ke PKBM harus segera dilakukan setelah keluar dari SMP Umum?
January 31, 2021 at 9:28 am #7005Aar
KeymasterKak Sita,
1. Di sini masalahnya. Sistem di Indonesia ini sekuensial dan administratif. Untuk mendapatkan Ijazah Paket C, anak harus punya ijazah SMP atau Paket B. Juga, waktu ujian Paket B jaraknya harus 3 tahun dari ijazah Paket B tersebut.
Jadi, ini pilihan dilematis yang perlu ditimbang dengan hati-hati karena dampaknya panjang bagi anak.
2. Jika tidak mau mendaftar Paket B, maka tidak perlu mendaftar PKBM. Konsekuensinya, anak tidak punya ijazah SMP & SMA (Indonesia).
Karena kondisi ini cukup dilematis dan berisiko, banyak orangtua HS yang memilih jalan kompromi:
~ Anak tetap didaftarkan di PKBM dan mengikuti ujian kesetaraan (yang penting lulus, nilai tidak masalah). Cari PKBM yang fleksibel dan ringan.
~ Fokus HS tetap pada pengembangan diri anak, baik ditujukan untuk menekuni hobi, mengasah keahlian, atau persiapan kuliah ke luar negeri. Inilah yang menjadi fokus dalam proses HS anak!February 1, 2021 at 11:53 am #6995Anonymous
GuestTerima kasih penjelasannya. Berarti kalau aman, ambil saja kejar paketnya. Cukup jelas
August 18, 2021 at 8:08 pm #6824Anonymous
GuestSalaam mas Aar & mba Lala, mohon saran untuk mengasah keterampilan sosial anak remaja HS di masa pandemi sebaiknya bagaimana ya, apa yg perlu dilakukan orang tua? Apakah tetap mencari komunitas yg mengadakan pertemuan offline? Karena pandemi semua kegiatan dilakukan online, sementara anak saya lebih bersemangat berinteraksi dengan teman (lama/baru) jika bertemu langsung. Saya ikutkan di grup komunitas remaja HS pun dia tidak tertarik untuk berinteraksi. Apakah faktor penggunaan nomor HP yg sama jg mempengaruhi? karena saya belum memberikan anak saya nomor Hp sendiri (msh bergabung dng ortu)
March 5, 2022 at 9:50 am #6580Aar
KeymasterHalo kak Nia Rahman.
Pandemi ini memang menyulitkan, baik untuk orangtua maupun anak-anak. Keterbatasan kesempatan melalukan kegiatan fisik memang membuat proses interaksi sosial dan kegiatan bertemu fisik menjadi tidak dilakukan.
Lalu bagaimana?
Yang pertama, fokus kita saat ini adalah survival. Yang penting bisa melewati pandemi dalam kondisi hidup dan sehat. Ini menjadi prioritas tertinggi kita. Vaksin adalah salah satu upaya kita untuk meningkatkan probabilitas survive, ditambah dengan menjaga prokes.
Yang kedua, prioritas ketiga kita adalah kesehatan mental. Yang penting anak tidak depresi dan stress. Itu sangat penting. Apalagi kebutuhan anak muda adalah main dan bergaul, yang saat ini tidak memungkinkan untuk dilakukan. Orangtua perlu sering ngobrol dan memperkuat hubungan bersama anak. Orangtua perlu menurunkan ekspektasi terhadap prestasi. Anak dan keluarga perlu mencari kegiatan yang bisa menjadi sarana pelepasan tekanan emosi, seperti olahraga. Olahraga dan kegiatan fisik itu penting agar yang lelah bukan mental, tapi fisik kita.
Yang ketiga, baru kita cari cara mengoptimalkan keseharian.
Untuk kegiatan membangun keterampilan sosial memang sulit kak, terutama menemukan pertemanan-pertemanan baru yang intens. Cara yang paling memungkinkan saat ini adalah kegiatan online itu realitanya. Kegiatan offline hanya bisa dilakukan bersama keluarga.
Jadi yang bisa kita lakukan adalah mengoptimalkan 2 hal tersebut:
- offline bersama keluarga
- online bersama orang lain
Untuk kegiatan offline bersama keluarga, pastikan untuk membangun kegiatan yang sama-sama disukai, misalnya: memasak bersama, main boardgame, setiap hari ada momen doa bersama, olahraga bersama, dll.
Untuk kegiatan online, maksimalkan kegiatan dan pertemanan lama yang sudah dimiliki.
- Dalam pengalaman kami, yang membuat anak2 remaja kami survive secara mental saat ini adalah mereka punya lingkaran persahabatan lama yang sering video call bersama saat malam, main game online bersama, dll.
- Anak kami memanfaatkan kegiatan lama yang dilakukan secara online yaitu Agora Public Speaking. Di kelompok itu mereka mengasah keterampilannya dan sekaligus mengobrol bersama teman-temannya dalam bahasa Inggris. Nah, apakah anak punya kegiatan lama yang online bersama sahabat2nya?
- Anak juga bisa mengikuti kegiatan online untuk hal yang disukainya (bukan karena kewajiban). Dua remaja kami melakukan kegiatan berbeda: yang satu belajar bahasa baru (Mandarin), adiknya main catur dan mengikuti aneka turnamen catur online.
- Proses lain yang perlu dilakukan adalah melakukan kegiatan produktif yang membuat anak merasa berharga dan produktif. Menjadi produktif itu bikin happy. Tata merasa produktif karena merintis bisnis Kreasita.com dan membuat video2 untuk IG Kreasita. Duta merasa produktif karena terus belajar catur bersama pelatih, mengikuti turnamen, dan memantau perkembangan kekuatan caturnya.
Demikian kak. Memang yang diharapkan dan dilakukan tidak sempurna. Fokus utamanya memang masih menjaga kesehatan mental dan membuat anak2 tetap terhubung dengan teman2nya di luar. Kita perlu berlapang hati menerimanya sampai kondisi lebih memungkinkan untuk berkegiatan secara fisik.
Semoga membantu.
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.