Belajar Parenting › Forums › Manajemen Keseharian Homeschooling › Webinar Manajemen Keseharian Homeschooling
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
May 15, 2022 at 9:38 am #4206
Mira Julia
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
May 17, 2022 at 7:51 am #6305C. Desiere
MemberTerima kasih buat kelasnyaa Mas @Aar
Saya desy, usia anak 3th laki2.
Saya ingin bertanya, bgmn caranya, menjelaskan ke anak sy, bhw kita sedang menerapkan metode home schooling ?
Krn anak saya klo habis mandi, sering mengenakan tas lalu blg βmau pergi skolahβ..
Sy juga ingin sekalian melakukan pengakuan nih mas Aar dan mba Lala, setelah menonton ulang kelas ini. Sy benar2 tertampar, terima kasih u/ selalu mengingatkan.
Sy akui, bhw mgkn dlm menjalankan home schooling terkadang sy tdk menikmatinya, mgkn krn sy blum bisa menerapkan mindfull parenting, krn sy seorang single prent, yg juga harus bekerja. Walopun pekerjaan saya fleksible krn berbisnis, namun biasa pikiran sy terbagi antara mau membersamai anak dengan megurus usaha saya. Apalagi sy benar2 cuma berdua. Dan sumber pemasukan itu mmg hanya dari saya saja u/ memenuhi kebutuhan hidup.
Mendengarkan kelas ini. Sy benar2 ingin berniat utk mengubah pola saya, sy ingin bisa lebih menikmati saat bersama anak, sy harus bisa menerima kondisinya tanpa mengutamakan kesempurnaan. Apalagi anak saya masi usia 3 thn.
Saya ingin sekali bisa melakukan home schooling ini dan ingin membuat anak saya nyaman dengan metode ini.
namun saya kadang sedih karena sy belum bisa melakukannya dg maksimal. Saya harus lebih bisa memanage emosi, perasaan saya lagi.
Mohon supportnyaa ya Mas Aar dan Mba @Lala
May 17, 2022 at 7:46 pm #6302Aar
KeymasterTerima kasih sharing dan pertanyaannya kak @Desy
Saya sangat memahami tantangan kondisi Anda yang sangat tidak mudah sebagai single parent, sedang merintis bisnis, penopang satu-satunya keuangan keluarga, dan pada saat bersamaan menjalani HS untuk anak usia dini (3 tahun).
Kesadaran dan komitmen Anda adalah modal yang sangat besar untuk terus meningkatkan kapasitas personal sekaligus meningkatkan kualitas pengasuhan bersama anak.
Kak Desy sudah membuat satu pengakuan yang sangat tepat untuk melonggarkan harapan terhadap kesempurnaan dan lebih fokus untuk membangun rasa nyaman/bonding bersama anak.
Ini langkah yang sangat tepat, kak.
Lupakan sementara kekusutan memikirkan jenis konten. Kapan pun ada kesempatan saat bersama anak, pastikan kakak selalu berusaha menjalin hubungan yang berkualitas. Diantara kesibukan bisnis dan keseharian, ciptakan (secara aktif) momen2 bersama anak seperti makan es krim bersama, main tebak2an, dll yang sederhana, butuh waktu/energi sedikit, pada saat bersamaan membangun kedekatan/intimasi bersama anak.
Jika kondisi keuangan sudah memungkinkan, semoga nanti bisa ada asisten yang bisa jadi teman sementara anak saat kakak perlu berkonsentrasi urusan bisnis. Atau sebaliknya, ada asisten/tim bisnis yang membuat sebagian pekerjaan bisa didelegasikan sehingga kakak punya waktu lebih fleksibel bersama anak.
Semoga dengan kedekatan yang kuat, anak merasa puas dan tenang secara psikologis yang membuatnya bisa bertumbuh semakin baik.
Semangat ya kak.. πβ
May 17, 2022 at 9:55 pm #6301C. Desiere
MemberTerima kasih atas support dan doanya Mas @Aar Lalu, bgmn cara menjelaskan kepada anak saya bhw dia sedang menjalankan home schooling?
Karena biasa dia melihat anak tetangga yg dijemput menggunakan bus sekolah, dan dia juga segera mengambil tas nya lalu mengatakan βAzka mau ke skolahβ πππ»
May 18, 2022 at 10:37 am #6299Aar
KeymasterHalo kak @Desy
Kunci utamanya adalah anak mengalami kegiatan asyik bersama orangtua. Ini sebenarnya yang paling menantang. Sebab, jika anak merasa asyik berkegiatan bersama orangtua, penjelasan orangtua biasanya menjadi lebih mudah diterima. Trust kepada orangtua sudah terbangun.
Sebaliknya jika anak merasa ada pengalaman yang dirasakannya kurang bersama orangtua, maka mereka akan lebih mudah “tergoda” dengan kegiatan lain di luar.
Penjelasan sederhana untuk anak usia 3 tahun kurang lebih adalah: “Belajar itu macem-macem. Ada yang pergi ke sekolah, ada yang di rumah bersama papa & mama. Nah, kalau kita caranya adalah belajar di rumah. Yang kakak lakukan bersama Mama itu sama dengan yang dilakukan anak-anak di sekolah.”
Standar komunikasinya seperti itu. Komunikasi itu sebenarnya hanya penjelas terhadap keseharian yang kita jalani bersama mereka.
Tapi saya kebayang komunikasi seperti itu mungkin bukanlah sebuah hal yang mudah untuk kak Desy yang sedang merintis bisnis dan menjadi orangtua tunggal. Waktu untuk berkegiatan bersama anak mungkin relatif terbatas karena ada bisnis yang baru dibangun.
Secara rasional, menurut saya kakak perlu mempertimbangkan sebaik-baiknya solusi yang paling sesuai dengan kondisi.
Anak bersekolah di TK bukanlah pilihan yang buruk. Itu juga pilihan yang baik dan tetap bisa ditambahkan kegiatan bersama anak saat kondisinya memungkinkan. Menguatkan bonding saat anak pulang sekolah sangat penting dan bisa dilakukan, pada saat bersamaan kakak punya waktu luang untuk fokus pada bisnis saat anak sedang di sekolah.
Demikian kak,
Diantara pilihan-pilihan kondisi yang ada di hadapan kita, kita perlu memilih cara menjalaninya yang paling memungkinkan.
Semoga kak Desy bisa menemukan jalan terbaik yang sesuai kondisi. Jalan terbaik adalah jalan optimal yang bisa dijalani, bukan jalan ideal yang tak mungkin kita lakukan.
May 18, 2022 at 11:03 pm #6293C. Desiere
MemberTerima kasih banyak Mas @Aar atas respon dan doanyaa.
Amiin amiin ππ»ππ»ππ»
February 24, 2023 at 4:35 pm #5624Indah
Memberpenjelasannya begitu jelas tinggal peraktekny…hehe bisakah,,,pernahkah kak aar dan mba lala mengalami kehabisan ide atau anak-anaknya jenuh dengan HS, kalu pernah bagai mana penanggulangannya?
bagai mana dengan tipe anak yang kelihatannya memang tidak membutuhkan teman kalau dengan di HSkan apakah semakin tidak akan berteman?
terimakasih
February 27, 2023 at 10:03 am #5622Aar
KeymasterTerima kasih pertanyaannya:
1. Kehabisan ide
Kita kehabisan ide karena merasa pendidikan anak-anak adalah tanggung jawab kita sepenuhnya. Kita harus memikirkan aneka ide kegiatan untuk anak.
Kami tak memandangnya seperti itu.
Kami adalah pemimpin proses, bukan mengambil alih semua tugas. Tugas pemimpin adalah memberdayakan anak yang memiliki pendidikan.
Jadi, tugas kami adalah memfasilitasi anak untuk bertumbuh. Jika ada masalah, kami melibatkan anak untuk mencari solusi bersama.
Ide kegiatan tak harus dari kami. Justru, kami mendorong ide kegiatan berasal dari anak karena pendidikan itu milik mereka.
2. Anak-anak jenuh
Apakah anak-anak pernah jenuh? Iya, pernah.
Kalau jenuh bagaimana? Istirahat. Libur. Berhenti sejenak.
Ibarat melakukan perjalanan panjang, kita mampir dan istirahat sejenak di sepanjang perjalanan. Kalau sudah sehat dan segar, kemudian jalan lagi melanjutkan perjalanan.
Begitu prinsipnya.
Jangan takut dan jangan merasa bersalah untuk istirahat. Istirahat itu dibutuhkan.
Yang penting tidak lupa untuk jalan lagi, hehehe
3, Anak tak butuh teman
Ada 2 aspek terkait kapasitas sosial anak: keterampilan sosial dan kecenderungan cara berinteraksi sosial.
Keterampilan sosial perlu dipelajari dan tugas orangtua mengasah keterampilan sosial anak-anak: berbicara, bertanya, bercakap2 dua arah, berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Momen untuk berlatih perlu dicari dan disediakan. Ini PR orangtua HS.
Kecenderungan cara berinteraksi ada 2 jenis: ekstrovert (anak menikmati main dg orang banyak) dan introvert (anak menikmati main dengan kelompok kecil).
Dua-duanya ok dan tidak ada masalah. Kuncinya adalah mengasah keterampilan sosial agar bsia berkomunikasi dengan siapapun saat dibutuhkan.
Semoga membantu. π
February 28, 2023 at 11:08 am #5620Indah
MemberTerima kasih
April 4, 2023 at 1:32 pm #5541Astri
MemberTerimakasih kak materinya<div>Ada hal yang mau saya tanyakan Untuk PKBM sendiri apakah wajib ikut kak untuk semua anak HS dari aturan pemerintah nya wlw misal goals nya tidak akan melanjutkan kuliah, hehehe makasih atas jawabannya kak</div>
April 4, 2023 at 2:22 pm #5540Aar
KeymasterHalo kak @astri-mayasari
Terima kasih pertanyaannya.
Saat ini, untuk anak bisa mengikuti Ujian Paket, proses yang dilakukan harus diawali dengan mendaftar di PKBM. Agar bisa ikut ujian, nanti ada syarat lagi yang lain seperti sudah menyelesaikan materi belajar. Jika ujian paket C, syaratnya harus punya ijazah2 di jenjang di bawahnya (Paket A/SD dan Paket B/SMP).
Anak kak Astri saat ini usia berapa?
Jika sudah SMA dan memastikan tidak mau kuliah, tidak apa-apa tidak mendaftar di PKBM. Berarti dia sudah punya ijazah SMP dan memang mau bisnis, ya?
Jika anak masih kecil, apakah kakak yakin anak betul2 nanti tidak mau kuliah? Bagaimana jika saat usia 16 tahun anak mau kuliah padahal syarat kuliah adalah harus punya ijazah Paket C? Sementara jika mau ujian Paket C harus punya ijazah Paket B? Sementara jika mau ujian Paket B harus punya ijazah Paket A?
Saran kami, untuk memastikan aspek legalitas dan berjaga2, sebaiknya anak didaftarkan di PKBM. Carilah PKBM yang persyaratannya ringan dan fleksibel sehingga kakak bisa tetap melakukan kegiatan HS bersama anak sesuai dengan rencana keluarga.
Demikian, semoga membantu. π
April 4, 2023 at 2:58 pm #5539Astri
MemberMasih pd kecil heheheh usia 7 th, 4th, 2 th, kmrn2 sempet stress dalam pencarian PKBM kak, sampe sekarang pun belum nemu PKBM yang cocok dan pas dengan keluarga kami mas,
Terimakasih atas jawabannya dan saranya mas aar, sangat membantu sekali saya yang sedang bingung mencari PKBM heheheh
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.