Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Miva Aziza
MemberAssalammualaikum Mas Aar dan Ka Lala,
Saya baru beralih dari non-jadwal menuju ke jadwal karena anak saya tahun ini baru memasuki usia sekolah. Saya belum menetapkan durasi dan jam yang rigid, karena anak saya masih sangat fleksibel dalam menyelesaikan target belajarnya. setiap pagi kami mengobrol tentang jadwal hariannya, misalnya: hari ini kita baca buku siroh ya 2 sub cerita, mengerjakan worksheet berhitung dan latihan membaca. tapi prakteknya saya serahkan kepada anak saya dia mau mulai yg mana dan berapa lama.
apakah boleh seperti itu untuk permulaan?Terima kasih.
Miva Aziza
MemberAssalammualaikum, Mas Aar dan Ka Lala,
Saat ini anak saya berusia 5 tahun, mungkin sedikit terlambat untuk mengenal HS Usia Dini. Saya memutuskan resign dari tempat mengajar saat anak saya lahir dan hanya mengajar kelas privat maksimal 5 jam per pekan.
Awalnya saya merasa sepertinya saya akan ketinggalan jauh dalam menerapkan HS Usia Dini ini, tapi ternyata alhamdulillah, apa yg saya jalani selama ini bersama anak di rumah sudah termasuk HS Usia Dini.
Terima kasih inspirasinya. Saya pernah mengalami insecure ketika melihat anak-anak teman yg mengikuti pendidikan usia dini di lembaga tertentu. Mereka terlihat jauh lebih matang dan perkembangannya lebih cepat.
Anak saya menderita speech delay, dan saya baru menyadarinya saat usia dia 3 tahun, sehingga penanganannya sedikit terlambat. Saya berfokus pada mengejar ketertinggalan kemampuan berbicaranya. Apakah tidak apa-apa jika saya lebih mengutamakan satu aspek perkembangan daripada yg lain?
Salam hangat,
Miva
-
AuthorPosts