Belajar Parenting › Forums › 10 Keterampilan Dasar Anak › Mindset & Framework Pengembangan Keterampilan Dasar
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 24, 2019 at 2:12 pm #4647
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
April 14, 2020 at 4:27 am #7309Anonymous
GuestPagi Mas Aar dan Mbak Lala, dan semuanya …
Yang ada dalam benak saya mengenai Pengembangan Keterampilan Dasar adalah keterampilan dasar sebagai bekal anak-anak untuk bisa menghadapi dunia mereka nanti, beradaptasi dengan kondisi sekeliling mereka tanpa harus merasa menderita karena adanya perubahan kondisi. Saya merasa adanya kebutuhan anak2 untuk dapat beradaptasi dengan ikhlas dalam menghadapi kondisi kehidupan mereka nanti. untuk itu harapan saya dengan belajar keterampilan dasar ini dapat memberikan edukasi yang sesuai, yang mana dengan keterampilan dasar yang cukup akan mampu membantu anak2 kedepan.
Mohon di arahannya bagi yang lebih berpengalamanApril 14, 2020 at 6:33 am #7308Anonymous
GuestDalam e-book dipaparkan bahwa tidak membahas pengembangan aspek spiritualitas dan attitude. Dimana saya bisa mendapat pembahasan mengenai hal tersebut? Apakah sudah ada kelas tersendiri? Saya masih minim ilmu dan pengalaman sehingga adanya panduan-panduan akan sangat membantu mengarahkan. Terimakasih mas Aar dan mbak Mira.
April 14, 2020 at 4:12 pm #7306Aar
KeymasterBetul sekali mbak Inge. Adaptabilitas adalah kemampuan penting yang perlu dimiliki anak-anak kita di tengah zaman yang sedang berubah ini.
Kunci adaptabilitas adalah mindset yang terbuka (growth mindset) serta kapasitas untuk melenturkan diri. Alvin Toller menyebutnya dengan 3 keterampilan: learn, unlearn, dan relearn.
Dalam materi Keterampilan Dasar Anak ini saya juga akan berbagi perspektif tentang profesi-profesi baru yang tidak konvensional untuk melenturkan sudut pandang orangtua tentang masa depan.
April 14, 2020 at 4:12 pm #7305Aar
KeymasterKak Adianti,
Kelas ini memang membahas aspek lebih luar dan lebih teknis, yaitu tentang Keterampilan Anak.
Aspek spiritualitas diserahkan kembali pada keluarga karena menyangkut dogma/doktrin yang berkaitan pandangan tentang dunia (worldview) yang sangat beragam.
Tentang attitude kita akan bahas sebagian, terutama yang terkait proses membangun kebiasaan baik sebagai pondasi untuk mengembangkan keterampilan anak.
Jika Anda punya pertanyaan spesifik tentang attitude yang terkait pengembangan keterampilan anak, silakan disampaikan sebagai bahan diskusi yang bisa memperkaya tema materi ini
April 15, 2020 at 2:00 am #7304Anonymous
GuestUntuk anak usia 11th dan 14 th apakah bs dikatakan terlambat jk baru mau memulai pengembangan keterampilan dasarnya? Karena anak-anak saya masih harus disuruh untuk melakukan hal2 misalnya dalam pekerjaan rumah.
Mohon bs dshare beberapa tips dalam menghadapi kondisi ini.April 15, 2020 at 3:23 am #7303Anonymous
GuestSalam mas aar dan mbak lala yang baik,
Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan:
1. Hal. 7 terkait buah spiritualitas. Apakah ini sama dengan konsep fitrah keimanan di Fitrah Based Education (FBE)? Apakah berarti spiritualitas ini bersifat yang dipahami dan dilaksanakan bukan kognitif?
2. Hal. 9 terkait keterampilan personal. Sampai umur berapakah keterampilan personal ini maksimal dikembangkan? Apakah ada waktu maksimal (seperti tumbuh kembang) anak harus mencapai keterampilan ini? Prioritas saya di self management anak.
3. Hal 15 terkait suasana informalitas. Anak kami bersekolah di sekolah formal namun karena wabah covid19 maka pembelajaran saat ini berlangsung di rumah. Alhamdulillah proses berjalan namun saya tergelitik untuk menanyakan pertimbangan. Apakah baiknya kami bertindak sebagai guru (yang formal) ketika jam belajar dan mengerjakan tugas dari guru atau membuat suasana santai dan informal? Bagaimana dengan keterampilan lain selain tugas sekolah dan memaintain keseriusan anak dalam mengembangkan keterampilannya?
4. Dalam e-book dicontohkan kegiatan memasak, saya mengartikan bahwa pengajaran ini terkait keterampilan hidup karena anak terlibat dalam keseharian. Pertanyaan saya, bagaimana dengan keterampilan karena minat atau bakat seperti menari, menggambar atau desain, dan robotik. Apakah kita menyediakan waktu khusus untuk hal ini? Dan sebaiknya evaluasinya dalam berapa bulan?April 15, 2020 at 4:13 pm #7301Aar
KeymasterKak Siti,
Tidak ada kata terlambat. Idealnya tentu saja sejak anak usia dini. Tapi kita bisa memulainya kapan pun.
Kunci perubahan adalah kesediaan orangtua berbagi cerita mengapa sekarang dan ke depan berbeda dengan sebelumnya. Anda ceritakan pencerahan baru Anda dan manfaat yang diperoleh anak dengan proses-proses baru yang akan dijalani.
Pastikan anak bisa menerima logika Anda dan tak melihat proses baru itu hanya sebagai beban, tetapi sebagai proses belajar.
Dalam kondisi anak masih perlu sering diingatkan, itu sebenarnya kondisi yang umum. Sebagian besar keluarga mengalami tantangan ini dalam proses implementasi di lapangan.
Salah satu kunci pendekatannya adalah tidak mengomeli (dari luar ke anak), tetapi menggali anak dengan pertanyaan. Hindari asumsi, perbanyak mengajukan pertanyaan:
~ apakah kamu tahu bahwa hal itu perlu dilakukan?
~ mengapa kamu tidak melakukannya?
~ apa dampaknya kalau kamu tidak melakukan?
~ apa yang bisa Bunda lakukan untuk membantumu supaya kamu melakukan tugas itu?Dengan pertanyaan2, kita menggali kesadaran internal anak. Pada saat bersamaan, kita juga berusaha memahami kondisi anak dan memikirkan solusi2nya berdasarkan jawaban anak (bukan berdasarkan asumsi kita sendiri).
April 15, 2020 at 4:14 pm #7300Aar
KeymasterKak Rosa,
1. Betul mbak. Fitrah Based Education adalah kerangka yang bisa digunakan untuk membangun pondasi spiritualitas anak. Betul sekali, spiritualitas adalah hal yang dipraktekkan dan menjadi bagian dari diri, bukan hanya menjadi pengetahuan saja.
2. Karena kondisi anak berbeda-beda, tidak ada patokan usia untuk menetapkan perkembangannya. Ada ideal semuanya sudah selesai pada saat usia 15 tahun, tapi dalam prakteknya seringkali lebih dari itu. Bahkan sebenarnya orangtua pun masih terus belajar dan memantapkan keterampilan personal berkaitan self-management. Jadi, lebih baik fokus pada proses stimulasi, bukan target usia.
Expect less, stimulate more. Rendahkan ekspektasi hasil, perbanyak proses stimulasi. Jangan lupa untuk menikmati prosesnya
3. Kondisi di rumah bersifat informal. Walaupun kita berusaha menjadikannya formal, proses-proses yang terjadi akan cenderung informal. Secara pribadi, saya lebih menyukai untuk menerima sisi informalitas rumah sebagai kenyataan yang perlu kita peluk. Berkaitan dengan tugas sekolah di masa karantina, peran orangtua diusahakan tetap informal dan fokus pada proses menyediakan lingkungan yang kondusif bagi anak. Proses belajar dorong agar menjadi milik anak sendiri.
4. Ya, kita sedang membahas 10 keterampilan dasar anak, oleh karena itu contoh yang saya berikan juga terkait itu.
Untuk proses pengembangan minat dan bakat anak tentu saja terus dijalankan. Proses evaluasi dan refleksi dilakukan sesuai kebutuhan dengan tujuan utama untuk menjadi feedback/umpan balik meningkatkan kualitas proses yang sudah dijalani.Semoga membantu yaa..
April 16, 2020 at 5:20 am #7299Anonymous
GuestMasya Allah dapat insight dari mas Aar.. terima kasih banyak mas Aar
April 16, 2020 at 2:08 pm #7296Anonymous
GuestSaya berusaha beraktivitas bersama anak, misal memasak. Lalu si anak (umur hampir 7thn), berkata: jadi ibu capek ya, mbu. Gerah. Keringetan. Sambil terlihat dia capek atau tidak terlalu nayaman dgn aktivitas yg sedang dilakukan.
Feedback seperti apa yg sebaiknya saya berikan kpd anak?April 16, 2020 at 2:09 pm #7295Anonymous
GuestMalam mas Aar…sebelumnya terima kasih sudah transfer ilmu.
Ada yang mau saya tanyakan :
Di bagian Mindfulness ada penjelasan hadir sepenuh hati (tidak disambi), sayangnya selama mendampingi anak belajar dirumah mau tdk mau saya menyambi namun saya membuat kesepakatan saat dia mengerjakan tugasnya saya pun bertugas, apakah saya tdk melakukan kesadaran penuh dlm melakukan pendampingan?
Dan bagaimana cara melibatkan semua anggota keluarga dlm sebuah aturan yg disepakati ketika penggunaannya berbeda tiap usia (misal gawai/laptop) shg ada yg berkeberatan?
April 16, 2020 at 2:09 pm #7294Anonymous
GuestKadang saya memberikan alesan kenapa mesti melakukan hal sendiri (menjadi mandiri), karena sebagai orangtua tdk bisa selalu mendampingi anak.
Lalu anaknya menjadi sedih karena tdk ingin berpisah.
Apakah penjelasan yg saya beri salah? Karena berujung pada anak saya yg sedih lalu nangis.April 16, 2020 at 2:15 pm #7293Anonymous
GuestPada usia anak 1 tahun 3 bulan apakah mungkin bisa menerapkan keterampilan membaca? Apakah diusia nya yang masih dini memungkinkan untuk membuat dia kelak mempunyai ketertarikan membaca? Dan bagaimana tips agar dia bisa tertarik membaca?
April 17, 2020 at 11:15 am #7291Anonymous
GuestMenarik topiknya, menumbuhkan rasa cinta dan kesadaran hingga jadi motivasi internal ini yang memang usaha banget. Mas Aar boleh gak lebih teknis, anakku laki usia 4 tahun 8 bulan, beberapa keterampilan sederhana sudah dilewati, seperti masa toilet training, pakai baju sendiri. Nah, idealnya utk 1 keterampilan, seperti meletakkan handuk ke jemuran abis mandi, itu stepnya, pertanyaan tadi ya, kayak kenapa gak mau letakin handuk? Susah ya jemur nya? Gimana cara yg menyenangkan agar kamu senang letakin handuk? Lalu sebagai ortu utk menumbuhkan satu keterampilan anak, fokusnya berapa lama ya?
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.