Belajar Parenting › Forums › 10 Keterampilan Dasar Anak › Mindset & Framework Pengembangan Keterampilan Dasar
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
April 17, 2020 at 4:15 pm #7287
Aar
KeymasterBagus kak Anggie. Berarti anak sudah mendapatkan proses belajar dari pengalamannya.
Bagaimana feedback-nya?
Tergantung pada nilai-nilai apa yang ingin Anda bagikan/ajarkan pada anak.
Misalnya:
a. Empati
“Nah, berarti kalian harus lebih sayang sama Ibu, ya? Ibu setiap hari capek, tapi Ibu tidak apa-apa dan bahagia. Apalagi kalau kalian makannya banyak dan habis, hehehe…”b. Kerja Keras
“Iya kak, banyak hal memang butuh kerja keras. Tapi Ibu nggak apa-apa dan bahagia. Oleh karena itu, kita perlu belajar berlatih sedikit demi sedikit. Kalau sering berlatih, otot kita akan jadi semakin kuat. Beban yang berat jadi biasa saja karena kita sudah sering berlatih. Seperti perenang/pelari yang latihan setiap hari, lama-lama mereka terbiasa dan tidak kelelahan walaupun berenang/berlari jauh.”c. Motivasi
“Nggak secapek yang kelihatannya kok, kak. Ini karena kakak belum terbiasa saja. Nanti kalau kakak makin besar dan makin terampil, semua itu jadi terasa lebih ringan. Apalagi kalau nanti ada teknologi baru yang tinggal tekan tombol ya kak.. mau masak nasi, tekan tombol. Mau bikin sayur, tekan tombol. Mau cuci piring, tekan tombol. hehehe (anak diajak bercanda dan berkhayal)dll
April 17, 2020 at 4:15 pm #7286Aar
KeymasterAgak susah menilai apakah yang kita lakukan benar atau salah. Salah satu tips untuk mengetahui dan tidak menduga-duga adalah dengan mengajukan pertanyaan langsung pada anak.
“Apa yang kakak pikirkan?”
“Apa yang kakak rasakan?”Kemudian, jawab dan jelaskan kondisi yang akan dihadapi anak dengan santai dan bercanda. Dibikin santai dan bercanda saja kak.
“Coba bayangkan nanti kakak kuliah di luar negeri. Atau kakak jalan-jalan bersama teman-teman saat besar. Pasti seru, kan? Kalau begitu, apakah Bunda harus ikut kakak terus? hehehe…”
April 17, 2020 at 4:16 pm #7285Aar
KeymasterKak Theresia,
Keterampilan membaca mengandung banyak aspek, kak. Isinya bukan hanya keterampilan bisa membaca.
Pada anak usia dini, fokus utama dalam literasi adalah kesukaan membaca (bukan keterampilan membaca). Itu adalah pondasi penting yang akan terbawa terus sampai remaja dan dewasa.
Caranya bagaimana untuk membangun kecintaan membaca?
Dengan menghadirkan budaya membaca di rumah.
Biasakan membaca buku cerita dan dongeng sebelum tidur. Jika dilakukan setiap hari, itu akan menjadi budaya dan pondasi luar biasa untuk membangun kecintaan anak pada dunia literasi. Anak nanti tiba-tiba akan bertanya ini bacanya bagaimana, ini apa, itu apa, dst.
Selain membacakan buku (read aloud), minta anak untuk bercerita atau menceritakan ulang buku yang sering dibacakan dengan keras oleh Bunda. Atau kakak meneruskan kalimat yang ada di buku… “Sang Kodok melompat ke ….” Melompat ke mana?
Itu juga bagian dari proses belajar literasi.
Jadi santai saja dulu untuk belajar membacanya. Tapi yang diperkuat kecintaan pada buku dan keingintahuan anak.
Semoga membantu ya, kak.
April 17, 2020 at 4:27 pm #7284Anonymous
GuestSala Mas Aar dan mba lala,
Anak sy usia 7,5 th,saat ini msh bersekolah,belum sy kasih uang saku,snack dan cemilan jg sdh sy sediakan di rmh,jd memang tdk sy biasakan jajan.Yg ingin sy tanyakan haruskah sy memberikan uang saku utk mengenalkan/mengajarkan tentang ketrampilan memgatur keuangan?
Kemudian Anak ke 2 usia 4,5 th sedang berada di episode suka memukul,sudah diberi pengertian kalau memukul tdk baik,yg dipukul sakit,mau ga ade dipukul,ttp krn si kaka jg sdg berada di episode suka meledek atau provokasi,bgmn caranya mengajarkan keterampilan mengelola emosi,marah,rasa kesal kpd anak2 ya . Terimakasih pa Aar dan mba lalaApril 18, 2020 at 4:30 pm #7283Aar
KeymasterBetul sekali kak Nurul. Proses dari dalam itu lebih lambat dan berat di awal, tapi dampaknya banyak dari sisi psikologis anak. Ini seperti meletakkan pondasi yang benar untuk sikap hidup yang kuat berdasarkan nilai-nilai pribadi, tidak mudah tergoda oleh iming-iming dan ancaman dari luar diri.
Langkahnya:
1. Jelaskan dengan bahasa sederhana
2. Minta anak mengulangi dengan bahasanya sendiri (untuk memastikan dia memang betul-betul paham)
3. Praktikkan
4. Nah, yang menantang memang di praktik. Jika ada masalah, ajukan pertanyaan seperti yang Anda tuliskan:~ Mengapa tidak melakukan?
~ Apakah kakak mengerti?
~ Apakah mengalami kesulitan untuk melakukan? Kalau iya, kesulitannya apa? Apa yang bisa dilakukan untuk memudahkan?April 18, 2020 at 4:31 pm #7282Aar
KeymasterKak Dewi,
1. Uang saku
Tentang uang saku, tidak harus diberikan. Itu adalah pilihan dari orangtua. Yang penting adalah Anda mengenali tujuan Anda. Kalau memberikan uang saku untuk mengajari anak penggunaan uang, boleh. Tidak memberikan uang saku karena semua sudah disediakan juga boleh. Untuk latihan tentang uang bisa menggunakan cara lain, selain uang saku.Misalnya: saat menerima hadiah ulang tahun, angpao lebaran, dll. Atau, memang sengaja diberi uang untuk ditabung.
2. Anak suka memukul
Perilaku anak yang sudah mengekspresikan perasaan dengan memukul cukup lumrah terjadi saat balita. Hal ini terjadi karena anak masih memiliki kapasitas terbatas untuk mengekspresikan dirinya.Ditambah kakak yang iseng, ini memang menjadi tantangan tersendiri.
Ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan:
a. Menjelaskan pada adik & kakak
Proses rasional dengan menjelaskan menjadi solusi jangka panjang yang perlu dilakukan. Mungkin tidak terlalu manjur, tapi tetap perlu dilakukan karena seiring pertambahan usia anak, dia akan semakin memahami pesan itu. Tapi, keisengan kakak memang bukan hanya bersifat rasional, tapi lebih bersifat psikologis. Keluarga kami juga pernah mengalami itu saat Tata selalu iseng pada Duta (adiknya).Ketika kami tanyakan pada Tata mengapa dia selalu iseng, jawaban Tata agak di luar dugaan. “Because… Duta’s crying is like the music to my ears” – “Tangisan Duta seperti musik buat telingaku”. Kami pun tertawa bersama, termasuk Duta. Duta tahu bahwa alasan kakaknya iseng adalah membuat dia menangis. Jadi Duta perlu belajar untuk tidak menangis. Kedua pihak diingatkan. Tapi apakah berhenti? Tidak juga, hehehe… tapi suasananya menjadi lebih cair ketika dibawa ke rasional. Kakaknya berusaha mengurangi keisengan, adiknya berusaha bertahan tidak menangis.
b. Membantu menyalurkan perilaku
Karena sumber perilaku memukul berasal dari kelakukan kakak, mungkin bisa dicoba dengan membantu anak untuk menyalurkannya. Caranya bisa macam-macam, misalnya:
~ bikin kesepakatan bersama, kalau kakak iseng, adik tidak boleh pukul tapi lapor ke Bunda dan Bunda akan gelitik kakak
~ kalau kakak iseng, adik boleh pakai mainan kakak lebih lama
~ dllSemoga membantu
April 19, 2020 at 8:08 am #7280Anonymous
GuestSaya merasa susah sekali menumbuhkan rasa empati pada anak2 saya terutama yg sudah besar usia 15 th dan 11 th, sehingga seringkali mereka banyak menuntut pada orang tua. Saya kadang merasa telah gagal menjadi orang tua. Akhirnya saya sudah kehilangan cara seringkali menggambarkan anak2 yg lain agar dicontoh. Mas aar bagaimana untuk memulai semuanya kepada meraka agar mereka tumbuh menjadi pribadi yg bisa kami harapkan?
April 20, 2020 at 12:57 pm #7277Anonymous
GuestMas Aar, melanjutkan pertanyaan saya di kelas WhatsApp:
Saya sudah terlanjur menerapkan bahwa pekerjaan rumah akan diberi reward uang saku/gadget time. Tujuan awalnya adalah ingin mengajarkan bahwa ada usaha yang harus dilakukan sebelum mendapatkan hasil. Sementara, sebaiknya pekerjaan rumah sehari-hari sebaiknya tidak diberi reward karena merupakan bagian dari pengembangan diri dan tanggung jawab/kontribusi sebagai anggota keluarga.
Pertanyaan saya:
Bagaimana cara terbaik untuk break the habit? Cara penyampaian seperti apa yang kira-kira dapat membuat anak mengerti dan berubah sehingga sukarela membantu (again, dia sudah terbiasa “dibayar” untuk melakukan sebuah pekerjaan rumah)?Jika saya ingin mengajarkan harus ada effort untuk dapat hasil/sesuatu yang diinginakn, sebaiknya caranya bagaimana/aktivitasnya seperti apa/melalui media apa?
Terima kasih banyak.
April 21, 2020 at 4:48 pm #7268Aar
KeymasterTerimakasih untuk pertanyaan kak Pratiwi,
Hal yang bisa dilakukan oleh orangtua adalah mendiskusikan bersama anak tentang kesepakatan baru.
~ Cari momentum untuk untuk evaluasi dan kesepakatan, misalnya sudah berjalan xx bulan atau menjelang Ramadhan (momen Ramadhan bisa dijadikan momen membuat kesepakatan baru)
~ Dalam proses refleksi dan evaluasi, tanyakan pendapat anak:
o Bagaimana perasaannya selama ini?
o Apa yang sudah lancar dan perlu diperbaiki?
o Apa yang membuatnya happy/sedih?
~ Setelah anak mencurahkan pendapatnya, gantian Anda menyampaikan pada anak:
o Kita terus berproses mencari yang terbaik untuk kakak
o Kakak sudah bagus dan rajin, maka saatnya sekarang “naik kelas”
o Bunda ingin kakak belajar tentang ikhlas: membantu Bunda dan tidak mengharap balasan karena Allah pasti akan membalas kebaikan yang dilakukan kakak
o Nah, kita bikin kesepakatan baru yaa… (mulailah Anda bikin kesepakatan baru tentang pekerjaan rumah yang tidak dibayar)
~ Tapi itu bukan berarti kakak tidak bisa mendapatkan uang
o Selama 1 bulan ke depan, Bunda akan memberikan hadiah kakak uang xxx… Uang itu digunakan untuk xxx ditabung, xxx jajan, dan xxx sedekah. Nah, tugas kakak adalah mencatat uang masuk dan uang keluarItu contoh proses negosiasi. Anak berganti kesepakatan tentang pekerjaan, anak tidak kehilangan kesempatan mendapatkan uang, anak belajar hal baru tentang keterampilan mengelola uang. Win-win solution.
Semoga bermanfaat.
April 21, 2020 at 4:53 pm #7266Aar
KeymasterSemakin besar usia anak, memang prosesnya akan semakin sulit. Itu disebabkan pola-pola dasar pengasuhan yang mungkin kurang tepat kita lakukan pada saat mereka masih kecil.
Tapi kita tak bisa hanya menyesali proses yang sudah terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah maju ke depan agar bisa menjadi lebih baik
Caranya tidak mudah, tapi perlu dan bisa diakukan:
- Proses ini butuh kepemimpinan Anda sebagai orangtua dan komunikasi yang baik bersama anak.
- Cari momentum untuk membicarakannya. Masa karantina dan Ramadhan adalah saat yang paling tepat untuk mendiskusikan dan memulai kesepakatan baru
- Prosesnya tidak bisa berubah semuanya dan pasti bertahap. Anak belajar untuk memahami konsekuensi dari perbuatannya
- Proses awalnya adalah melibatkan anak dalam urusan pekerjaan rumah dan hal-hal yang mereka terima. Jelaskan kepada mereka rasionalitasnya: kita adalah satu tim, kita perlu saling mendukung, tidak ada hal yang diterima gratis karena pasti ada orang lain yang perlu mengusahakannya
- Buat kesepakatan2 baru yang melibatkan anak dan ajari konsekuensi dari kesepakatan itu. Misalnya: anak bertugas menanak nasi. Jika anak tak melakukan, maka proses makan tertunda dan semua anggota keluarga kelaparan. Atau anak mencuci baju. Jika tak melakukannya, maka baju bersihnya habis.
- Anda perlu tega untuk tidak mengambil alih pekerjaan anak agar anak belajar merasakan konsekuensi atas kesalahannya
- Proses ini tidak mudah dan kemungkinan besar akan terjadi drama emosi di awal. Tapi kalau Anda konsisten untuk melibatkan dan mendidik anak, maka proses ini bisa dilalui. Tapi kalau merasa tak tega, selalu menolong dan mengambil alih, memilih tak ingin ribut, maka anak akan tahu bahwa mereka tak perlu berubah.
April 22, 2020 at 1:53 am #7264Anonymous
GuestMas Aar, saya baru baca ebook pertama, ttg 5 tahap pengembangan keterampilan, pada poin 3. Saat stamina anak belum cukup utk selesaikan pekerjaan. Maka ortu yang selesaikan, lalu katakan pada anggota keluarga lain bahwa anak tadi terlibat prosesnya, apakah begitu yang dimaksud Mas?
April 22, 2020 at 4:51 pm #7256Aar
KeymasterBetul kak Nurul.
Salah satu proses penting yang perlu diciptakan dan dibangun di keluarga adalah “keberhasilan”. Anak merasa berhasil dan ingin melakukan proses belajar lagi di waktu yang lain.
Pada anak kecil, biasanya masalah muncul karena mereka belum bisa mengukur antara harapan dan kemampuan. Harapannya besar, tapi sebenarnya kemampuannya masih sangat terbatas, termasuk stamina kerja.
Nah, tugas kita ketika menemani proses anak dimulai dari menentukan resep/jenis masakan yang “masuk akal” dan bisa diselesaikan. Dalam kondisi terburuk, orangtua yang turun tangan menyelesaikan hingga akhir.
Ketika sudah selesai, anak tetap mendapatkan kredit/apresiasi bahwa dia yang memasak. Itu akan membuat anak happy dan ingin bikin2 lagi.
Ketika kegiatan memasak sering dilakukan dan anak semakin bertambah usia, staminanya akan semakin meningkat dan skills-nya akan bertambah. Ini yang menjadi tujuan penting dari proses ini.
January 13, 2021 at 2:56 pm #7050Anonymous
GuestAlhamdulillah, bisa menyimak kembali materinya.
Dari pembahasan video tentang mindset & famework, (walaupun bukan bagian dari inti pembahasan) tapi sedikit menggelitik saya.
Terkait Aspek spiritual yang berkaitan dg setiap orang memiliki misi kehidupan dari keberadaanya di dunia ini.
Sebelum saya menjelaskan hal ini kepada anak-anak, tentunya saya harus mengenal dan menemukan, sebenarnya apa yang jadi misi kehidupan saya di dunia ini?
Bagaimana saya bisa yakin bahwa “ya, ini adalah misi kehidupan saya?”
Bagaimana mungkin saya akan menjelaskan kepada anak-anak saya tentang misi kehidupan, sementara saya masih ragu apa misi dari kehidupan saya?January 14, 2021 at 4:49 pm #7047Aar
KeymasterKak Nely,
Pertanyaan yang berat ini, kak Nely, hehehe..
Bagaimana kita benar-benar tahu misi kehidupan kita?
Setahu saya memang tak ada hal yang benar-benar kita yakini dengan pasti. Biasaya ini paduan antara kelapangan hati dan kebahagiaan saat menjalani peran kita.
Apakah kita menunggu, mencari, atau menciptakannya?
Saya pribadi tidak pernah menunggu. Saya berusaha menjalani keseharian yang dihadirkan Tuhan sebaik-baiknya sambil berusaha mengambil keputusan terbaik. Satu keputusan biasanya membawa kita pada keputusan lain, begitulah akhirnya peran2 kita semakin terihat benang merahnya dan semakin mengkristal. Terkadang keputusan kita berbasis pada keputusan sebelumnya, terkadang merupakan lompatan. Apapun, ketika dijalani dengan sungguh-sungguh pasti akan membawa kita kembali “ke tengah” yang menjadi titik kenyamanan kita.
Lalu, bagaimana kita membimbing anak?
Anak-anak butuh yang nyata, sederhana, dan dekat dengan hidupnya. Mulailah dengan terus berpraktik dan bertumbuh, menjalani hidup bersama secara baik.
Kita tak pernah tahu apa yang menjadi misi hidup anak. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan ruang dan melatih anak untuk bertumbuh dengan nilai-nilai “menjadi manusia bermanfaat” sebagai koridornya.
Semoga membantu.
May 7, 2021 at 5:08 pm #6911Anonymous
GuestSaya ingin membantu salah satu kakak bernama Juni Handayani di atas yang pertanyaannya belum di jawab:
Di bagian Mindfulness ada penjelasan hadir sepenuh hati (tidak disambi), sayangnya selama mendampingi anak belajar dirumah mau tdk mau saya menyambi namun saya membuat kesepakatan saat dia mengerjakan tugasnya saya pun bertugas, apakah saya tdk melakukan kesadaran penuh dlm melakukan pendampingan?
Dan bagaimana cara melibatkan semua anggota keluarga dlm sebuah aturan yg disepakati ketika penggunaannya berbeda tiap usia (misal gawai/laptop) shg ada yg berkeberatan?
Terima kasihh kak.
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.