Belajar Parenting › Forums › Program › QnA Mindful Parenting
Tagged: fokus
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
May 12, 2023 at 2:11 pm #5497
Mira Julia
KeymasterBetul sekali kak, kalimatnya memang sengaja dibuat acak antara kalimat positif dan negatif. Ini bagian dari melatih peserta membaca dengan lebih sadar (mindful) 😘
May 13, 2023 at 10:21 am #5496Sheila Sheila
MemberHalo mas aar & mba lala,
Saya mau tanya perihal ‘Nafas Sadar’ yg menurut saya prakteknya jaaaaaaauuuhhh lebih sulit dari judulnya wkwk.
Apakah utk nafas sadar kita perlu menyediakan waktu khusus? Atau random aja ketika ingat langsung dilakukan?
Jujur buat saya ini cukup challenging krn bernafas itu kan sesuatu yg tidak pernah kita rencanakan ya hahahaha
Ada tips ga ya buat kaum pelupa macam saya ini buat selalu menyempatkan diri utk bernafas secara sadar, terutama untuk latihan membiasakan hal tsb?
Saya mau pasang alarm tp kok ngerasa lucu gt ya mosok napas aja dialaremin? 🤣
May 13, 2023 at 3:20 pm #5495Okky Pratiwi
MemberMas Aar&Mbak Lala, izin bertanya.
Setelah melihat rekap data hasil kuisioner mindfulness, apakah nanti ada sesi utk membahas bersama2 ttg hasil tsb? Karena dilihat dr hasil rekap ada 2 aspek terendah: Fokus&Menerima, barangkali ada feedback dr Mas Aar, Mbak Lala & teman2 lain (yg nilai aspek Fokus&Menerima nya lbh baik). Bisa jg sebaliknya, saling memberi feedback utk aspek Awareness&Terhubung bagi teman2 yg mgkn msh butuh bantuan di bagian itu.
May 13, 2023 at 3:38 pm #5494Okky Pratiwi
MemberMas Aar Mbak Lala, kan sdh ada WA dr admin ttg Mengenali Emosi. Utk Roda Emosi Plutchik mmg blm ada pembahasan/pengantarnya?
May 13, 2023 at 8:18 pm #5493Vera Marsella
MemberSelamat malam mas @Aar dan mba @Lala.
Setelah mendengarkan podcast mengelola emosi. Mengutip kalimat yang disampaikan mas Aar yaitu “itu emosi saya, bukan saya.”
Apakah itu artinya, ketika kita melihat contoh bentuk emosi diri sendiri atau orang lain seperti marah yang cukup intensitasnya tinggi dan frekuensinya cukup sering. Maka kita tidak boleh melabeli diri kita atau orang lain sebagai ‘si pemarah’. Karena marah tsb emosi yang dipicu oleh kondisi tertentu bisa jadi setelah bisa dikenali jenis emosinya, kemudian dikelola emosinya. Maka emosi yang muncul akan kembali normal. Bukan suatu yang melekat menjadi jati diri. Mohon dikoreksi jika pemahaman saya tidak tepat.
Terimakasih.
May 13, 2023 at 8:31 pm #5492Aar
KeymasterKak @sheila-sheila,
Untuk yang baru pertama kali berlatih, Nafas Sadar ini mungkin akan terasa tidak semudah yang kelihatannya. Itulah sebabnya butuh berlatih, bukan hanya sekadar merasa tahu saja.
Dari sisi pengetahuan Nafas Sadar itu sangat sederhana, tapi praktiknya ternyata tak sederhana, hehehe..
Proses Nafas Sadar ini dilakukan seingatnya. Semakin sering ingat semakin baik.
Untuk alat bantu, kakak bisa menggunakan penanda, misalnya: sebelum melakukan kegiatan tertentu (misalnya: sebelum mandi, sebelum masak, sebelum keluar rumah, dll) atau sesudah melakukan kegiatan tertentu. Atau, tempelkan dengan kegiatan yang biasa kakak lakukan, misalnya: sebelum/sesudah makan, mandi, sholat, dll.
Demikian, semoga membantu.
Semangat berlatih kak! 🙏
May 13, 2023 at 8:34 pm #5490Aar
KeymasterKak @okky-pratiwi,
Program ini adalah proses berlatih mandiri, tidak ada feedback satu-persatu untuk setiap peserta.
Jika ada pertanyaan terkait kondisi yang kakak alami, kakak bisa tanyakan di forum ini.
Silakan memperjelas kondisi yang kakak alami, saya pasti akan menjawab dan memberikan feedback terhadap pertanyaan yang masuk.
Semakin lengkap informasi yang diberikan, itu akan membantu saya memahami kondisi yang kakak alami sehingga bisa semakin tajam memberikan masukan.
Demikian, semoga membantu. 🙏
May 13, 2023 at 8:38 pm #5489Aar
KeymasterHalo kak @okky-pratiwi,
Memang tidak ada pembahasan tentang roda emosi Plutchik. Itu hanya contoh dari keragaman jenis emosi.
Yang penting untuk diketahui adalah kakak belajar mengenali jenis-jenis emosi/perasaan. Coba kakak tuliskan jenis emosi/perasaan sepengetahuan kakak. Abaikan benar/salah, yang penting kakak bisa mengidentifikasi beragam jenis kosakata emosi. Semakin banyak kosakata emosi semakin baik.
Itu poin yang penting dalam latihan ini.
Dengan perbendaharaan kosakata emosi yang banyak, itu berarti kakak semakin mengenali beragam emosi, bukan hanya gembira, sedih, marah, dan kecewa saja.
Nah, perbendaharaan kosakata emosi itu akan Anda gunakan untuk mengenali: emosi apa yang Anda rasakan saat pagi? Saat siang? Saat sore? Saat malam?
Latihannya sesederhana mengenali jenis emosi.
Sesederhana itu, kak.
Semoga membantu. 🙏
May 13, 2023 at 8:43 pm #5488Aar
KeymasterBetul kak @vera-marsella,
Agar bisa mengelola emosi, maka kita perlu memisahkan emosi dengan kedirian kita. Emosi adalah ekspresi yang terlontar sebagai respon sebuah peristiwa. Emosi datang dan pergi.
Emosi ada di luar diri kita. Dia mungkin cukup melekat karena kita sering mengekspresikan emosi tersebut, tapi dia bukan diri kita.
Jika emosi dianggap diri kita, maka itu akan susah dikelola karena ego kita akan menolak untuk dicabut. Atau, kita sendiri menganggapnya identitas diri kita.
Tapi jika emosi dianggap fitur sementara, maka kita bisa melonggarkan dari diri kita dan bisa mengelolanya dengan lebih baik. Kita bisa menetapkan kapan kita mengizinkan emosi itu muncul, seberapa tingkat intensitasnya, dll.
Demikian, semoga membantu. 🙏
May 13, 2023 at 9:01 pm #5487Vera Marsella
MemberSemoga apa yang sudah saya pahami dari penjelasan Mas Aar bisa memperbaiki pola pikir saya mengenai emosi.😇 terimakasih
May 15, 2023 at 10:41 am #5484Julia Sukma
MemberAlhamdulillah..
Walau saya perlu ketemu tracker ya kak untuk melatih fokus fokus yang bernilai 1😁 tapi aku senang lo, ikut program ini, ngelihat kekurangan diri justru biasa aja, seperti sesuatu yang bisa dirubah dan ga permanen.. Do’akan yaa.. 🥰🥰
May 17, 2023 at 10:44 am #5482Vera Marsella
MemberSelamat pagi mas @Aar dan Mba @Lala. Bagaimana respon yang tepat dilakukan oleh orang tua kpd anak saat melakukan latihan mengamati tanpa menghakimi?
Contoh kegiatan yang dilakukan anak misalnya 1. bermain balok sudah jadi produknya tapi sisa balok yang tidak dipakai masih berserakan di lantai dan anak langsung melakukan main yang lain, atau 2. saat anak ingin menyapu. Biasanya yang saya lakukan adalah mengapresiasi produk yang mereka buat dan mereka pun suka menunjukan produknya kepada saya “ibu,ini kakak membuat xx.”. Kemudian saya ajak mereka bereskan mainan sebelum mereka main yg lain atau saya sendiri langsung beresin mainan mereka atas ijin anak2. Karena kadang mainan2 itu belum boleh dibereskan.
Kasus ke 2. Saya langsung puji anak. Terimakasih sudah bantu ibu menyapu.
Batasan sikap yang harus saya lakukan dalam aksi ini apa saja?jika tidak boleh menilai baik/buruk,mengapresiasi,komentar. Lalu jika ucapan terimakasih sudah membatu. Apakah itu boleh dilakukan?
Setelah aksi ini dilakukan ,lalu momen apa yang bisa ortu lakukan untuk mengapresiasi atas kegiatan anak, mengomentari kegiatan anak?agar masih on track.
May 17, 2023 at 7:10 pm #5481Anonymous
GuestSrlamat malam Mas Aar dan Mba Lala, izin bertanya,kalau hasil observasi atas kegiatan anak saya tuliskan berupa fakta dan evaluasi untuk diri saya pribadi merencanakan aktivitas selanjutnya apakah termasuk berlatih bagian kedua tadi? Saya cukup ucapkan “Terimakasih banyak, Kakak. Hari ini Kakak sudah belajar menulis nama panjang dengan hudruf kapital.”
di satu sisi saya menulis di lembar observasi rahasia saya tanpa diketahui anak:
- Naila menulis huruf depan tiap kata dengan huruf kapital
- Naila menulis huruf r,f,k,l yang bukan huruf awal kata dengan huruf kapital
- Naila menulis huruf h menurun
demikian apakah boleh?
May 18, 2023 at 9:18 am #5480Aar
KeymasterHalo kak @vera-marsella,
Latihan mengamati tanpa menilai mungkin terasa membingungkan karena dalam interaksi bersama anak-anak kita biasanya memberikan respon: mengapresiasi, memberikan masukan, dan komentar lainnya.
Latihan ini bukan berarti larangan mengapresiasi anak dan memberikan feedback.
Latihan ini fungsinya adalah: memisahkan antara data/fakta dengan penilaian.
Yang terjadi biasanya adalah: orangtua terlalu fokus pada penilaian.
Dalam sebuah peristiwa, bisa terjadi 20% mengamati data dan 80% adalah penilaian yang memicu emosi senang/sedih/khawatir/dll.
Latihan ini untuk memperbesar aspek pengamatan terhadap fakta anak-anak dan mengurangi penilaian yang sering menjadi pemicu emosi kita. Jika yang terjadi adalah hal baik, itu tak masalah. Yang sering bermasalah adalah ketika yang dialami anak tidak sesuai dengan harapan kita sehingga kita terpantik emosinya (kesal, marah, khawatir). Emosi itu terus melekat dan menjadi dasar sikap kita pada anak-anak.
Dengan melakukan pengamatan yang fokus pada fakta dan memperbanyak porsi fakta, semoga emosi-emosi kita menjadi lebih tenang menyikapi dinamika keberhasilan dan kegagalan anak dalam kesehariannya.
Poin teknisnya:
1. Boleh mengapresiasi dan memberikan masukan, tapi perbanyak pengamatan terhadap fakta yang dilakukan anak.
2. Banyak hal yang dilakukan anak dalam keseharian cukup diamati, tidak selalu perlu dinilai dan diberikan komentar.
Demikian kak, semoga menjawab. 🙏
May 18, 2023 at 9:20 am #5479Aar
KeymasterBagus kak @asri-maharrani,
Proses yang kakak lakukan ok dan sudah tepat.
Terus berlatih fokus pada data dan mengurangi kelekatan emosi (penilaian) ya kak..
Dengan cara seperti itu, kita akan menjadi lebih mudah merancang anak tangga proses pertumbuhan anak.
Jika terlalu fokus pada penilaian, biasanya kita akan menjadi mudah emosi dan khawatir; atau memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi pada anak.
Semoga membantu 🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.