Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
R Fardhany
MemberTerima kasih Mas Aar & Mbak Lala atas masukkan berharganya. Sebenernya saya sudah mengabaikan masukan dari neneknya, karena tahu kondisi anak pertama yang pernah trauma pasca penculikan ayah kandungnya. Mungkin saya harus belajar lebih tegas lagi menolaknya.
Hanya dilematis aja, neneknya terlalu ikut campur dengan mempengaruhi anak kedua, agar sekolah TK formal. Apalagi saya dulu belum menikah lagi, pasca perceraian, kami dipaksa tinggal dengan orangtua.
Mengingat semua lingkungan di tempat kami tinggal saat itu, semuanya sekolah TK formal. Anak yang kedua jadi merengek terus menerus minta sekolah TK Formal. Walhasil saya turuti, tapi enggak berjalan lama. Anak-anak jadj tahu sendiri enggak enaknya sekolah TK formal dan kenapa saya sebagai ibu memilih HS sejak dini.
Sejak kejadian penculikan anak saya. Saya juga lebih privasi, tertutup, selektif sekali menceritakan kondisi anak-anak ke orang yang benar-benar saya percaya. Saya sampai tidak menceritakan kondisi anak ke guru ngajinya (ada ketakutan tersendiri untuk saya kalau-kalau guru ngajinya juga dihasut untuk memisahkan anak-anak dengan saya).
Meskipun hak asuh jatuh ke tangan saya. Namun, pihak mantan suami masih enggak terima dengan hasil sidang. Meskipun saya sudah memberikan hak-hak, pihak mantan suami dipersilahkan menjenguk anak-anak. Tapi tetap saja, ada pihak-pihak yang memfitnah saya dan tidak suka jika saya cerai dengan damai. Sebab itu saya, sangat selektif bercerita tentang keadaan saya.
Sekali lagi, masukan Mas Aar & Mbak Lala sangat berguna. Alhamdulillah saya terapkan sedikit demi sedikit dengan ayah sambungnya, ngobrol dari hati ke hati.
Kini kami tinggal ngontrak rumah berempat. Ayah sambung kini ada lebih banyak waktunya untuk bermain bersama anak-anak dan mau olahraga bersama, daripada fokus bekerja. Meskipun baru begitu saja saya sangat bersyukur anak-anak bahagia dan merasakan figur ayah. Ditambah lagi dari ayah sambung, saya sudah mulai hamil 14 minggu. Mungkin sifat kebapakan-annya mulai muncul.
Semoga saja. Harapan saya dengan kehadiran anak kandungnya, semoga ayah sambungnya tetap sayang sama anak-anak, meski bukan anak kandungnya.
R Fardhany
MemberAssalamualaikum Wr. Wb. Mas Aar & Mbak Lala salam kenal. Saya seorang ibu. Saya bersyukur sekali menemukan rumah inspirasi. Anak-anak saya laki-laki usia 5 tahun dan 6 tahun. Sebelumnya sebenarnya saya sudah melakukan homeschooling mandiri sejak anak-anak saya bayi. Hanya saja, saya melakukan jurnaling kegiatan anak-anak hanya melalui merekam video atau foto, tanpa jurnaling tertulis.
Anak-anak juga pernah masuk TK karena bujukan neneknya yang kurang yakin dengan homeschooling. Namun, hanya bertahan beberapa bulan saja mereka tidak betah di TK yang diharuskan masuk kelas, rambut dicukur pendek (karena anak saya suka rambut panjang, enggak mau dicukur rambutnya), lalu diancam gurunya “tidak boleh masuk sekolah kalau rambut enggak dicukur dan ancaman pelanggaran aturan lainnya”. Walhasil anak saya mogok sekolah selama sebulan. Anak-anak minta kembali ke homeschooling. Karena kasus anak-anak, akhirnya saya memutuskan untuk kembali homeschooling lagi, belajar lagi searching tentang homeschooling hingga menemukan rumah inspirasi.
Selain praktik HS bersama saya, anak-anak juga saya ajak mengaji di guru ngaji dekat rumah. Hanya saja anak-anak saya masih minta ditungguin. Saya tanya kakaknya yang usia 6 tahun, kenapa enggak mau ditinggal? Jawabannya karena takut. Takut apa? Takut kalau enggak ada mamah. Anak-anak oleh Pak Kyainya sudah diminta dan dibujuk untuk berangkat sendiri dan ditinggal saja, dikasih tahu juga anak-anak yang lain enggak ada yang diantar oleh orang tua ataupun ditunggu orangtuanya. Agar bisa main bersama.
Mengingat dulu saya pernah bercerai dan ada kejadian anak pertama saat usia 13 bulan pernah diculik ayah kandungnya dan dipisahkan dengan saya selama sebulan. Anak pertama saya juga diterapi psikologi, karena anak saya sempat trauma pasca penculikan. Belum lama ini saya menikah lagi. Sekarang anak-anak saya tinggal bersama saya dengan ayah sambung.
Yang ingin saya tanyakan:
– Anak saya yang kakaknya sudah usia 6 tahun tapi apakah wajar enggak mau ditinggal atau berangkat sendiri seperti anak-anak lainnya yang seusia dia atau bahkan lebih muda? Apakah itu efek dari kejadian penculikan? Jujur ini agak buat saya khawatir terkait kemandirian anak-anak.
– Bagaimanakah bonding dengan ayah sambungnya agar anak-anak tak merasakan kehilangan figur ayah? Mengingat ayah kandungnya hanya sekali menengok anak-anaknya setelah kami bercerai.
Terima kasih.
R Fardhany
MemberMembangun Makna
NAMA / USIA : Vero / 6
Pelajaran/kegiatan: Nyuci Baju
Pelajaran/kegiatan: Menaruh Piring
Pelajaran/kegiatan: Menolong
R Fardhany
Member -
AuthorPosts