Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 31 through 45 (of 51 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Podcast Keterampilan Kesehatan #5533

    terimakasih Mas Aar. Baik, saya akan lakukan ini. Fokus dengan energi positifnya. Agar gelombang kecemasan saya tidak menarik pemicu hal buruk terjadi.

    in reply to: Podcast Keterampilan Kesehatan #5537

    Terimakasih Mas Aar. Sudah berbagi panduan dari Kemendikbud atas pertanyaan saya.

    Bentuk lain sebagai cara kami menjaga anak2 dari isu tsb adalah membiasakan anak berpakaian di dalam kamar dan ditutup pintunya setelah selesai mandi, jika keluar rumah diusahakan tidak berpakaian terbuka. Meski mereka masih usia dini. Dan kepada kakaknya, saya sudah berbagi untuk tdk boleh ada yang memegang bagian sensitif kakak selain ibu. Jika pun ibu sedang tidak bisa memandikan kakak, kakak hanya boleh dimandikan oleh neneknya. Misalnya begitu. Karena pernah kejadian saat saya melahirkan adiknya, maka tugas yang memandikan kakak adalah neneknya. Dan saya suka sampaikan kalo keluar rumah meski itu di teras rumah tetap harus berpakaian lengkap. Karena malu jika tidak berpakaian lengkap dan biar badan kita tidak kotor lagi, tidak digigit binatang seperti nyamuk, semut. Tidak mengambil foto/video saat sedang tidak berpakaian.

    Sampai saat ini beberapa cara agar anak terhindar dari isu tsb. Hal2 di atas yg bisa kami lakukan.

    in reply to: Podcast Contoh Pengembangan Keterampilan #5545

    Terimakasih Mas @Aar atas sarannya. Saya akan coba pahami dan praktekan.

    in reply to: Podcast Keterampilan Kesehatan #5546

    Selamat malam mas @Aar dan Mba @lala.<div>

    Saya ada perasaan khawatir ketika mendengar berita banyaknya kasus pelecehan pada anak yang dilakukan orang terdekat.

    Lalu bagaimana sikap orang tua harus menyikapinya agar tetap menstimulasi anak agar bisa mandiri dan tumbuh rasa percaya dirinya saat berkegiatan di luar rumah. Sepertinya akan ada masa anak sudah tidak diantar2 lagi oleh orang tuanya. Misalnya anak ikut les renang.

    terimakasih

    Salam

    </div>

    in reply to: Podcast Contoh Pengembangan Keterampilan #5550

    Terimakasih Mas @Aar untuk penjelasannya.

    Lalu, apakah anak2 usia dini sudah bisa ditentukan jika dia introvert atau extrovert?mengingat jika melihat karakter kami orang tuanya adalah introvert. Tepatnya sosial introvert. Saya saat sekolah pernah jadi ketua osis, ketua pramuka. Ketua organisasi saat kuliah untuk ayahnya. Tapi saya sendiri tidak punya sahabat /teman yang aktif berkomunikasi sampai saat ini. Jadi teman TK, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman kerja. Dan semua aktif berkomunikasi hanya pada zamannya. Setelah masanya berubah, maka tidak ada komunikasi lagi. Tidak ada konflik. Tapi rasanya setelah berubah tangga malah sudah cukup dengan suami dan anak2. Apakah ini juga mempengaruhi ke karakter anak?lalu bagaimana stimulasi yang bisa mendekati ke karakter anak jika dia memang kecendrungannya introvert.

    Salam

    in reply to: Podcast Contoh Pengembangan Keterampilan #5552

    Selamat malam mas @Aar dan mba @Lala.

    Di bagian webinar 10 keterampilan dasar, ada penjelasan tentang tipe introvert dan extrovert. Apakah tipe tersebut sudah terbangun saat anak lahir atau dipengaruhi oleh lingkungan?dan mungkin jika seorang anak bahkan saya sebagai orang dewasa memiliki 2 tipe tersebut ?

    Terimakasih ๐Ÿ™

    in reply to: eBook Pola Kegiatan Homeschooling Usia Dini #5623

    Terimakasih Mas @Aar sudah memberikan respon yang membangun bagi saya.

    Salam

    in reply to: eBook Pola Kegiatan Homeschooling Usia Dini #5631

    Selamat malam Mas @Aar dan Mba @Lala,

    Tentang prinsip belajar dan bermain di lingkungan sekitar.

    #Kasus ke 1.

    Jika kakak dan adik sedang bermain kemudian mereka rebutan mainan atau kakak (perempuan, usia 4th 7bln) becandain adiknya (perempuan usia 1thn 10 bln) sampai menangis. Bagaimana sikap orang tua hadir menanggapi konflik tersebut?apakah membiarkannya, agar mereka belajar menyelesaikan konflik atau ada cara lain yang lebih bijaksana sehingga tidak melukai perasaan kedua anak2 tsb. Apalagi jika kondisinya konflik tersebut terjadi ketika orang tua tidak melihat langsung kejadiannya. Misalnya saat ibu sedang memasak, anak2 bermain kemudian rebutan mainan.

    #Kasus ke 2.

    Jika anak bermain bersama teman atau sepupu (laki2, usia 4th 2bln) kemudian rebutan mainan. Misalnya mainan tersebut bukan milik mereka. Tetapi mainan yang disediakan oleh neneknya untuk dipakai oleh mereka ketika cucu2nya sedang berkunjung ke rumah neneknya. Rebutan tersebut dibumbui dengan memukul duluan oleh sepupu. Lalu bagaimana saya harus menanggapi kejadian tersebut?

    Saat pertama kejadian tsb anak saya saat dipukul langsung diam tidak membalas. Tetapi saat kejadian berulang anak saya bisa membalas memukul. Apakah tepat jika saya bicara ke anak saya. “Ketika ada yang memukul balas saja apalagi jika kita tidak bersalah. Memukul itu tidak boleh tetapi jika ada yang berbuat tidak baik ke kita (sebagai usaha pertahanan diri) boleh kita memukul. Misalnya ada orang asing mau memegang area intim kita. Kita boleh berteriak dan memukul orang tersebut. Terus kasusnya ketika rebutan mainan, jika ada yang memukul duluan boleh balas memukul. Asal sebelum bermain kita buat kesepakatan. Mainan bergantian diberi waktu. Semisal ada yang melanggar terus ternyata malah memukul. Kamu boleh balas memukul. Sebaliknya jika terjadi pada anak saya yang duluan memukul dan melanggar. Saya bilang kepada anak saya harus mau meminta maaf.”

    Tujuannya :

    1. Bermain ada kesepakatan

    2. Jika tidak bersalah kemudian dipukul, boleh mempertahankan diri

    3. Jika bersalah harus berani meminta maaf

    Selain itu, sebagai bentuk menyediakan lingkungan yang kondusif bagi anak2. Kami menarik diri/mengurangi waktu berkunjung ke keluarga besar yang memiliki anak yang suka memukul dan berbicara kasar. Mengingat anak saya masih mudah terpengaruh dengan lingkungan luar jika terpapar terlalu lama. Maka kami perkuat bonding dahulu dengan anak dan contoh sikap2 baik di rumah. Agar saat mereka berada di luar rumah, karakter mereka sudah kuat.

    Jika ada sikap saya yang keliru dan itu tidak baik untuk psikologis anak terhadap kedua kasus di atas. Mohon sarannya Mas Aar dan Mba Lala.

    Salam dan terimakasih.

    in reply to: Podcast Pendekatan Tanpa Kurikulum #5633

    Amin terimakasih atas ilmunya Mas @Aar dan Mba @Lala

    in reply to: Podcast Pendekatan Tanpa Kurikulum #5639

    Terimakasih sarannya mas @Aar.

    Alhamdulillah anak2 saya tertarik untuk buka2 buku. Karena mereka belum bisa membaca jadi bisa ibu atau ayahnya yang membacakan bukunya. Waktunya bisa kapan saja mereka minta untuk dibacakan buku. Selain buku, anak tertarik melihat kalender, brosur, katalog dan meminta dibacakan.

    Sekitar 2 minggu lalu kami pergi ke toko buku. Dan anak ke dua (usia 1thn 9 bln) ternyata bisa ingat dengan buku (the ultimate guide tubuh manusia) yang sering dia buka . Pas di toko buku ketemu buku yang sama, kemudian dia tunjuk bukunya. Buku itu sering dibuka karena ada gambar kucingnya. Anak ini suka banget dengan kucing.๐Ÿ˜Š

    Kakaknya yang masih usia 4 tahun 6 bln, hapal beberapa kalimat di buku ‘kumpulan cerita sains untuk anak’ dan kemudian diceritakan sambil buka bukunya ke adiknya. Seolah dia sedang membaca. Gemes banget pemandangan melihat mereka seperti itu๐Ÿ˜

    Kemudian tepat tadi siang. Untuk pertama kalinya anak2 membuka diri mau mempersilakan anak tetangga main ke rumah. Komunikasinya dengan buku. Kakak bersemangat mengeluarkan buku2 yang sering dia buka untuk ditunjukkan ke teman barunya.

    Dan saya happy sekali ada kemajuan anak2 untuk mau bersosialisasi dengan teman barunya.

     

    Anak2 saya biasanya bermain dengan anak sebaya mereka saat berkunjung ke rumah neneknya pada waktu tertentu/tidak sering. Kali ini mereka bermain dengan anak perempuan berusia 9 tahun kelas 3SD.

    Ternyata mereka bisa berteman meski tidak sebaya. Saya bersyukur dengan perkembangannya.

     

    Mohon doanya agar kami sekeluarga bisa tumbuh dan berkembang bersama.๐Ÿ™

    in reply to: Podcast Pendekatan Tanpa Kurikulum #5642

    Selamat pagi mas @Aar dan Mba @Lala. Semoga selalu diberikan kesehatan oleh Tuhan.

    Izin bertanya dan berbagi kisah. Karena anak2 kami masih usia dini. Kami memanfaatkan keseharian untuk stimulasi tumbuh kembang anak2. Dan tidak ada jadwal secara tertulis. Hanya rencana yang saya pikirkan dan saya utarakan ke anak2 dan suami. Saat saya mengikuti kelas coaching ini. Saya jadi menambahkan dan memperbaiki rutinitas bersama anak2.

    Hal yang diperbaiki adalah,

    1. Tidak membatasi kegiatan anak2 di rumah. Contoh: sebelumnya ketika saya akan memasak, saya temani anak2 main pada pagi hari. Kemudian siangnya saya meminta anak2 untuk main sendiri. Agar saya bisa tenang memasak. Hal ini kadang tidak berjalan mulus. Anak2 masih suka ingin bersama saya ikut memasak. Tapi sekarang saya lebih terbuka ketika anak2 ingin mengikuti kegiatan saya di rumah. Ketika saya amati anak2 jadi tidak banyak drama dan rasanya saya jd lebih produktif tanpa stres.

    2. Saya dengan sadar membuat kegiatan yang bisa mencakup stimulasi untuk mengembangkan kemampuan dasar anak2 seperti literasi, numerasi ,kemampuan personal,dan kemampuan sosial dengan aktifitas harian di rumah, bermain di luar rumah, pergi ke tukang sayur, tambahan untuk melatih kemampuan bahasa inggrisnya saya perkenalkan game dam video2 offline berbahasa inggris (dengan jadwal yang disepakati dengan anak).

    Poin no 2 itu saya praktekan setelah mengikuti kelas kulwap RI Selasa kemarin.

    Hal yang ditambahkan:

    1. Kerika sore dan tidak hujan, saya mengajak anak2 main di luar rumah. Karena pada sore hari anak2 bisa bertemu dengan anak2 tetangga. Jika saya ajak mereka untuk bergabung dengan anak2 tetangga yang sedang bermain, tapi anak2 saya belum mau. Melihat kondisi tsb saya tidak memaksakan agar anak2 bisa bergabung main dengan anak2 tetangga. Tetapi saya terus mengajak mereka tetap bermain di luar dengan harapan anak2 bisa mencoba berbaur dengan tetangganya.

    2. Membuat target untuk 6 bulan kedepan melalui kegiatan harian, seperti:

    A. Stimulasi anak dengan kegiatan berdasarkan parameter tumbuh kembang yang dibagikan oleh Rumah Inspirasi

    B. Membacakan surat2 pendek setiap harinya minimal 3 surat per hari

    C. Ada momen setiap harinya untuk mengajak mereka berbicara bahasa Inggris dan bermain game khan kids (2 x permainan / jadwal).

    D. Mengikuti kegiatan atas ide anak2. Misalnya anak ingin bersepeda.

    Dari curhatan saya di atas, apakah kegiatan di atas sudah bisa dibilang unschooling?

    Terimakasih atas kesempatannya

    in reply to: Podcast Mindset Homeschooling Usia Dini #5662

    Baik mas @Aar terimakasih atas sarannya.

    Akan saya praktekan.

    Ilmu tentang menahan diri tarik nafas sampai 10 sedang saya praktekan terus. Meski belum sempurna.

    in reply to: Podcast Mindset Homeschooling Usia Dini #5668

    Baik mas @Aar terimakasih atas sarannya๐Ÿ™

    Saya setuju, bisa jadi karena respon saya yang tidak tepat atas kejujuran anak pada waktu2 sebelumnya sehingga anak menjadi tidak berbicara apa adanya. Selain itu saya suka banyak bicara saat menanggapi ‘tingkah anak’ yang di mata saya suka memicu emosi. Sehingga anak tidak mau ketika dinasehatin. Malah memberikan respon nangis uring-uringan sampai bilang ‘kakak tidak mau dibilang begitu, atau kakak tidak mau ditunjukan videonya’.

    Karena ketika anak melakukan sesuatu yang dianggap orang tua bahaya bisa melukai mereka atau membuat mereka bisa sakit. Misalnya saya mengusulkan jika tidak hati2 memakai kompor maka potensi kebakaran. Kemudian saya ajukan untuk melibatkan contoh video kasus tsb di youtube. Tapi dia menolaknya dengan menangis.

    Rasanya kalo tidak diungkapkan k anak. Greget bgt pgn dibicarakan. Tp ternyata anak tdk suka.

    Selain itu ,

    Mengenai kejujuran, saya suka bercerita dan menanyakan langsung k anak. Jika anak berbohong apakah hal ini karena pernah melihat saya berbohong?maka disitu saya langsung meminta maaf kpd anak.

    Begitu mas @Aar contoh respon saya menanggapi tingkah anak. Dan ini masih sering terjadi.

    Jika hal tsb memengaruhi kejujuran anak. Maka saya akan perbaiki diri.

    Terimakasih atas kesempatan berbagi kisah saya dan mohon sarannya.

    in reply to: Podcast Mindset Homeschooling Usia Dini #5674

    Selamat malam mas @Aar dan mba @Lala ๐Ÿ™

    Izin bertanya,

    #Mengenai kejujuran

    Saat saya sedang menyalakan rice cooker. Kemudian kk bilang ‘ibu, bau gas’. Saya langsung pergi ke dapur. Benar bau gas, tapi tidak ada api yang menyala. Di rumah hanya ada saya, Kk (4th) dan ade (1th). Kemudian saya bertanya kpd Kk . Apakah Kk yang menyalakan kompor? Dan Kk jawab ‘iya’.

    Kk memang suka tertarik dengan kegiatan memasak, mencoba menyakan kompor. Dan pernah meniup api kompor yang sedang menyala.

    Respon saya atas kejadian di atas adalah marah dan kaget.

    Marahnya ketika saya bertanya bagaimana cara Kk menyalakan kompornya. Kemudian kk menjawab dengan pantat. Saya bilang k kk masa menyalakan dengan pantat coba tunjukkan caranya kpd ibu. Kemudian kk langsung nangis dgn emosi yang meluap2. Mungkin respon kk melihat saya yg marah juga.

    Dari kejadian itu saya sampaikan ke suami. Kt suami mungkin jawaban kk dalam pemikirannya dia menganggap ini adalah sebuah cara bermain dengan ibunya atau becanda kpd ibunya. Tapi ibunya selalu berpikiran hal yang logis.

    Yang membuat saya marah adalah menanggapi jawaban kk yg menurut saya tdk ‘jujur’. Tp saya pun menyadari sepertinya saya memberikan respon yang berlebihan kpd Kk. Saya pun menjelaskan k kk kenapa saya marah karena anggapan ibu kk bicara tidak jujur. Apakah ini terkesan menghakimi anak cara seperti ini.

    Mohon sarannya agar saya bisa mengevaluasi diri.

    Terimakasih mas Aar dan Mba Lala.

    in reply to: Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional #5691

    Baik mas @Aar ini sudah menjawab pertanyaan saya. Lalu, bagian mana yang akan direvisi?apakah revisi tersebut sifatnya bisa lebih mendukung pelaksanaan HS di Indonesia.

    Terimakasih, salam๐Ÿ™

Viewing 15 posts - 31 through 45 (of 51 total)
Scroll to Top