Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 51 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Pengantar Homeschooling Usia Sekolah #4887

    Siap Mas. Catatan: review lagi pelaksanaan jadwal per periode. Terimakasih Mas Aar.

    Salam

    in reply to: Pengantar Homeschooling Usia Sekolah #4890

    Terimakasih Mas @Aar untuk jawabannya. Ketika saya mulai membuatkan jadwal tertulis untuk mendampingi anak-anak usia dini. Saya jadi belajar untuk komitmen menjalankan jadwal. Karena HS yang flexibel. Saya merasa begitu. Ada jadwal seperti pengingat untuk menyiapkan waktu berkegiatan dengan anak2. Bukan memberikan sisa waktu saya.

    Anak2 mulai dilibatkan untuk menentukan ide kegiatan yang sesuai dengan tema di jadwal dan waktu pelaksanaannya bisa diobrolkan.

    in reply to: Pengantar Homeschooling Usia Sekolah #4895

    Selamat pagi Mas @Aar dan Mba @Lala . Materi ini bisa merubah mindset saya tentang Hs. Saat awal mendengar materi ini tahun lalu. Hati rasanya lega. Ketika ada niatan memilih HS sebagai alat pendidikan keluarga kami. Ketika mendengarkan ulang. Perasaan tetap sama yaitu lega. Hanya ditambah beberapa pertanyaan baru. Mengingat usia anak semakin bertambah, praktik2 yang dilakukan melalui keseharian. Mengenai kegiatan anak2. Saat ini kami masih banyak kegiatan yang terintegrasi dengan keseharian. Karena usia kakak tahun ini akan masuk 6 tahun. Saya mencoba membuat jadwal. Jadwal datang dari saya berdasarkan apa yang ingin kami bangun dalam keluarga kami yang dirasa perlu sebagai bekal anak2, bersadarkan hasil pengamatan melihat ‘anaknya masih butuh kegiatan ini’ misalnya aktivitas sensori. Kemudian baru diobrolkan ke anak. ‘Ini lho kak, ibu sudah buatkan jadwal buat kakak.’ Respon anak saat ada jadwal tertulis suka bertanya ke saya “Bu, hari ini jadwal kakak apa?”. Di jadwal saya memasukan kegiatan literasi (bahasa inggris, huruf hijaiyah, numerasi/logic). Kemudian saya berencana menggunakan media belajar 1. aplikasi online, 2 kegiatan yang terintegrasi dengan rutinitas harian. Aplikasi online ini masih free. Karena tujuan saya ingin melihat apakah media ini cocok buat anak atau tidak. Saat trial menggunakan aplikasi (belum memasukam kegiatan tsb ke jadwal harian). Respon anak itu lebih tidak ingin terstruktur saat menggunakan aplikasi. Misalnya khan accademy. Saya pilihkan bagian logic. Untuk level paling rendah di aplikasi tsb. Kemudian anak memilih casenya dengan cara acak. Ada momen malah lebih pilih bagian drawing, read aloudnya, dibandingkan bermain ‘game’ tentang logic. Pada kesempatan lain dia menikmati saat bermain game tentang logic. Hehehe…saya hati2 sekali agar prosesnya tetap menyenangkan. Apakah ada tips dari Mas Aar dan Mba Lala tentang apa yang saya sampaikan di atas, terkait latihan membuat jadwal. Apakah proses yang kami lakukan sudah tepat?Boleh kah berbagi pengalaman Mas Aar dan Mba Lala, kapan mulai dikenalkannya anak2 mengenai aplikasi online sebagai media belajarnya?

    Terimakasih

    in reply to: Jurnal Pengamatan Minat #4980

    Selamat malam Mas @Aar dan Mba @Lala. Semoga Mas Aar dan Mba Lala senantiasa diberikan kesehatan oleh Allah SWT. Amin 🙏

    Mba @Lala, saya mau bertanya tentang penggunaan jurnal pengamatan minat.

    Saya sedang berlatih mengamati minat anak menggunakan jurnal dari ruang kelas ini. Tujuannya agar saya bisa mendapatkan bahan-bahan (stock) buat ide kegiatan anak-anak. Rencana pengamatan 1 minggu.

    Jika ada 2 anak balita. Misalnya adek berinisiatif meminta ibu untuk membacakan buku x dan halaman z (spesifik). Kemudian kakak mengikuti kegiatan kami. Dari pengamatan saya, kakak pun antusias dan menikmati kegiatan read aloud ini bisa dilihat dari kakak yang bisa menjawab pertanyaan saya tentang tokoh yang ada di ceritanya, bisa hafal beberapa kalimat yang ada di cerita tsb. Di tabel pengamatan minat ini ada 3 item yaitu frekuensi, inisiatif, dinikmati. Apakah pada bagian inisiatif milik kakak dikosongkan, karena kegiatan read aloud waktu itu atas inisiatif adek?di waktu lain pada hari yang sama misalnya, kegiatan sama (read aloud). Yang memiliki inisiatif kakak, dan adek mengikuti.

    Terimakasih

    in reply to: Podcast Membangun Adaptabilitas #4982

    Terimakasih Mas @Aar sudah berbagi pengetahuannya.

    Salam

    🙏

    in reply to: Podcast Membangun Adaptabilitas #4989

    selamat pagi Mas @Aar dan Mba @Lala,

    Untuk belajar keterampilan baru menurut Josh Kaufman butuh waktu 20 jam. Apakah ini bisa diterapkan jika ada jeda beberapa hari atau tidak dilakukan secara konsisten setiap hari. Misalnya karena kondisi lapar, tetapi ibu belum bisa masak karena harus memberikan ASI ke adek. Setelah selesai ibu menemani kakak yang ingin memasak telor orak-arik sebagai cemilan. Jika proses ini dilakukan beberapa kali. Misalnya 2 hari dilakukan setelah itu beberapa hari kemudian dilakukan lagi. Untuk mencapai 20 jam mungkin butuh waktu lebih lama lagi jika diakumulasikan dari kegiatan yang serupa. Apakah ini bisa dilakukan?atau hanya berlaku 20 jam dari kegiatan yang dilakukan secara konsisten setiap hari sehingga diakumulasikan mencapai waktu 20 jam?

    Terimakasih

    in reply to: Podcast Berorientasi Tujuan #5012

    baik Mas @Aar . Jadi catatan bagi saya. Terimakasih untuk pengingatnya🙏

    in reply to: Podcast Kepedulian pada Kualitas #5013

    Siap. Terimakasih Mas Aar🙏

    in reply to: Podcast Berorientasi Tujuan #5022

    terimakasih Mas @Aar untuk catatannya.

    Poin buat saya pegang adalah ‘kenali tujuan belajar yang ingin saya bangun pada suatu saat’

    Bisa pilih konsistensi atau membuka jendela belajar. Sepertinya kami butuh keduanya yang bisa dilakukan pada suatu saat.

    in reply to: Podcast Kepedulian pada Kualitas #5023

    Selamat malam Mas @Aar

    Terimakasih atas pencerahannya.

    Saya mau mencoba memberikan contoh dari pemahaman saya atas penjelasan Mas Aar. Apakah ini sudah tepat atau belum?

    Jadi orang tua bisa menetapkan suatu standar yang sesuai dengan budaya keluarga yah. Kemudian dikenalkan standar tsb kpd anak2 sjk usia dini. Misalnya pertama ,standar kebersihan diri sendiri. Mulai dari cuci tangan dan kaki pakai sabun sehabis main.

    Berarti standar ini pun bisa dinaikkan dan diturunkan sesuai kapasitas anak yah Mas?

    in reply to: Podcast Kepedulian pada Kualitas #5027

    Selamat Malam Mas @Aar

    Setelah menyimak 2 podcast terakhir di bagian ini bahwa untuk membangun ketekunan dibutuhkan orangtua yang bijaksana. Dimana 2 variabel menjadi orang tua bijaksana itu mendukung dan menuntut. Bagaimana kedua variabel tersebut itu bisa dibangun agar menjadi orangtua bijaksana saat mendampingi anak2 usia dini?khususnya pada variabel menuntut agar bisa melatih anak untuk peduli terhadap kualitas jika melakukan suatu kegiatan/membuat karya. Terbayang jika anak2 sudah masuk usia sekolah misalnya menekuni suatu skill tertentu maka ada standar yang bisa dikejar dan ada standar yang sudah ditentukan dalam suatu program/kegiatannya. Lalu bagaimana untuk anak usia dini, tuntutan seperti apa yang bisa dilakukan kepada anak2 usia dini?saya coba gambarkan berdasarkan pemahaman saya setelah menyimak kedua materi ini adalah saat anak belajar menggunakan tutorial membuat kupu2 dari kertas lipat. Maka standar yang bisa ortu tuntut kepada anak adalah pekerjaan harus diselesaikan, setelah selesai kegiatan kemudian beres2, dokumentasi+refleksi, hasilnya karyanya sama dengan apa yang ada di tutorialnya.

    Meski kegiatan tsb masih banyak peran ortu untuk menyelesaikannya. Atau apakah bisa ketika ortu melakukan kegiatan di rumah bisa menjadi standar yang bisa dicontoh oleh anak2 sejak usia dini. Misalnya kegiatan masak. Mulai dari persiapan->beres2 dapurnya.

    Mohon dikoreksi jika pemahaman saya mengenai konteks ini masih belum tepat.

    Terimakasih

    in reply to: Podcast Berorientasi Tujuan #5028

    Selamat pagi Mas @Aar

    Ketika berbicara membangun tujuan. Bagaimana jika anak mengubah tujuan yang sudah disepakati dalam suatu kegiatan?

    Misalnya kakak pada usianya 5 tahun ini, ketika saya amati sudah mulai terbangun kemampuan untuk beropini, menentukan pilihan dan teguh dalam mempertahankan pilihannya tsb. Meski sudah mulai berbeda pendapat dgn saya. Hehehe..misalnya urusan tempat tidur yang harus rapih banget katanya agar seperti kasur2 di hotel atau sprei yang menurut saya sudah waktunya di cuci tapi kakak tidak mau, karena sedang suka2nya dengan sprei tsb. Atau meja tempat dia berkreasi posisi barang2nya sudah kakak atur dan tidak boleh ada yang merubahnya. Jika ada yang merubahnya emosi kesalnya muncul. tp saya ingat pesan Mas Aar untuk membuka ruang untuk anak. Asal anak dalam kedaan aman dan sehat.

    Beberapa kali dalam kegiatan spontan. Kakak suka merubah tujuan kegiatan tapi spirit kreativitasnya masih ada. Contohnya,

    Pertama, kakak izin ingin dibelikan kertas kado awalnya ingin buat stiker. Tapi saat di rumah kakak bilang jadinya mau bikin kado. Dan ternyata selain kemandirian yang saya lihat. Karena selama berkegiatan kakak lakukan sendiri. Saat kado2 yang dia buat sudah selesai kemudian kakak presentasikan kepada saya apa yang sudah kakak buat. Ternyata jendela belajar malah terbuka lebih lebar di luar ekspektasi saya. Dimana kado2 yang kakak buat untuk ayah, ibu, adek, kakak ada tulisan inisial nama kami. Kakak bungkus mainan2 kecil miliknya pakai kertas kado.

    Kedua, kemarin anak2 main spidol. Kami sepakat saat beli spidol warna ini isinya tidak boleh dibuka2 supaya bisa lebih awet dipakai buat menulis2, menggambar. Ok..

    tapi saat spidol ini beberapa kali sudah dipakai untuk menulis, menggambar. Akhirnya setengah isi spidol warna (12 warna spidol) dibuka kemudian isi spidolnya direndam di dalam air. Dan anak2 bermain warna, saat diajak ngobrol adek (2th) jadi lebih tajam mengingat warna2. Kakak kemampuan mencampur warna x+y=z jadi lebih tahu. Mereka sangat antusias dimana tangan, kaki penuh warna spidol, coret2 di kertas, dinding. Sampai akhirnya main air.

    Jika direfleksikan jendela belajar malah terbuka makin lebar meski tujuan awalnya dirubah. Nah jika kebiasaan spt ini terus dilakukan apakah akan baik atau tdk untuk mengubah tujuan saat proses kegiatan berlangsung? Meski ada spidol yang jadi cepat habisnya tapi anak2 punya pengalaman yang menurut saya seru, meningkatkan kemampuan kognitif dalam mengingat warna, mencampur warna, inisiatif.

    Terimakasih

    in reply to: Memaknai Kegiatan #5052

    Nama anak: Inzi

    Usia: 2th

    Kegiatan: membuat surprise buat ayah

    Hari, tanggal: Jumat, 18 Agustus

    Deskripsikan kegiatan: ( kegiatan spontan)

    Adek melipat kertas lipat warna kuning ukuran 12×12 cm menjadi ukuran persegi panjang. Kemudian meminta solatip ke ibu. Ditempel2 solatip coklat ke kertas lipat tsb. Saat sudah selesai kemudian adek bilang ini surprise buat ayah.

    Hal yang bertumbuh: kemampuan kognitif tentang mengingat warna meningkat. Adek sudah mengenal beberapa warna seperti kuning, hijau, biru, pink, coklat.

    Kemudian inisiatif untuk menghasilkan karya dan memberikannya kepada orang yang disayangkan yaitu ayah. Selain itu kemampuan komunikasinya semakin berkembang. Dimana adek berikan langsung kepada ayah apa yang sudah adek buat.

    Catatan: stimulasi yang bisa diberikan lagi kepada adek adalah terus mengulangi penyebutan warna2 dalam kegiatan harian misalnya warna pakaian adek yang dipakai, warna daun kering. Berikan ruang kepada adek untuk mengasah inisiatif dan kreativitasnya untuk menghasilkan karya dan tidak lupa diapresiasi setiap proses yang sudah dilakukannya.

    Nama anak: Vrena

    Usia: 5th

    Kegiatan: membuat kado untuk keluarga inti ( ayah, ibu, adek, kakak)

    Hari, tanggal: Sabtu, 19 Agustus

    Deskripsi kegiatan:

    (Kegiatan spontan)

    Saat belanja ke warung, kakak meminta izin ingin dibelikan kertas kado. Ibu tanya kakak dulu tujuan membeli kertas kado untuk apa? Kemudian kakak menjawabnya akan membuat stiker dari kertas kado. Ibu belikan kertas kado. Kakak sejenak berfikir untuk memilih mana kertas kado yang akan dibeli.

    Saat di rumah kakak bicara lagi ke ibu.

    “Ibu kakak ga jadi bikin stikernya. Mau bikin kado aja. Nanti kadonya buat ayah, ibu, adek.”

    Tentu saya setuju. Meski bentuk karyanya dirubah tapi spirit kreativitasnya tetap ada. Tetap ‘bikin-bikinan’..tetap menghasilkan karya.

    Saya tinggal masak. Kakak anteng sendiri mengerjakan projeknya sendiri. Setelah itu kakak hampiri saya ke dapur dgn mata yang berbinar-binar. “Ibu..ibu ini kadonya. Kakak bikin ini.” Kakak ambilkan 4 kado. Yang ditempel kertas lipat di atasnya. Kakak jelaskan bahwa di kadonya tertulis inisial nama ayah, ibu, kakak, adek.

    Hal yang bertumbuh:

    1. Inisiatif untuk membuat karya

    2. Berani menyampaikan pilihan

    3. Komitmen menyelesaikan kegiatannya sampai selesai

    4. Memberikan hadiah kepada orang yang disayangnya

    5. Kemampuan menulis meningkat

    Catatan:

    1. Berikan ruang untuk anak memilih agar kreativitas, jendela belajar terbuka lebar

    2. Apresiasi setiap prosesnya, dengarkan pilihannya

    in reply to: Belajar Melalui Tutorial #5075

    #LS23PraktikOrtu

    Nama Kegiatan: Membuat 🦕 dari daun kering.

    Refleksi : ibu menikmati kegiatan mulai dari tahap persiapan sampai kegiatan ini selesai. Rencana awal akan dilakukan setelah jalan pagi sekitar jam 10. Tapi saat memperlihatkan kegiatan ini ke anak ternyata anak diajak main dengan teman. Akhirnya kegiatan ini dilakukan setelah makan siang.

    Kegiatan makin asik karena sambil ngemil. Durasi perkiraan 10 menit. Aktualnya menjadi 20 menit karena sambil ngobrol. Ambil daun kering lagi. Karena daun kering yang sudah disiapkan sebelumnya malah mudah sobek karena terlalu kering.

    Saat mencari tutorial, ibu coba pilih kegiatan yang durasi pendek di bawah 30 menit, bahan dan alat2 hampir tersedia di rumah, pilih gambar/bentuk yang sudah dikenal anak. Harapan agar saat anak ikut serta kegiatan ini di hari selanjutnya anak tertarik.

    Meski ini dilakukan ibu dalam praktiknya anak ikut melihat tutorial, kemudian ikut mencari bahan, olesin lemnya. Sampai hasilnya diperlihatkan ke ayahnya.

    Setelah itu ibu ajak anak besok untuk melakukan kegiatan yg sama tapi rencananya besok akan pakai bentuk/gambar yang beda. Yaitu gambar kucing. Dan sudah diobrolkan dengan anak.

    Begitu hasil refleksinya.

    Catatan: karena saya tdk punya IG/FB maka saya coba berbagi di forum ini.

    in reply to: Belajar Melalui Tutorial #5090

    Nama Kegiatan: Membuat 🦕 dari daun kering

    Perkiran durasi kegiatan: 10 menit

    Sumber Tutorial https://youtube.com/shorts/7NIZ7GG9Evc?feature=sharehttps://youtube.com/shorts/7NIZ7GG9Evc?feature=share

    Catatan persiapan:

    1. Mengecek bahan2 spt:

    A. Lem fox

    B. Daun kering dari pohon klengkeng

    C. Kertas HVS

    D. Daun hijau

    Mengecek alat:

    1.Gunting

    2.Spidol hitam

Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 51 total)
Scroll to Top