Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Vera Marsella
Member1. Pelajaran : tidak berteriak saat meminta tolong.
Manfaat : bisa melatih anak ttg keterampilan komunikasi dengan baik dan agar anak bisa mengelola emosinya
Resiko : jika anak meminta dengan berteriak itu tidak sopan
2. Kegiatan : presentasi
Manfaat : agar anak bisa dengan mudah mengkomunikasikan apa yang sudah dipahaminya kepada orang lain
Resikonya: jika tidak dilatih kemampuan presentasinya, maka anak akan kesulitan saat berkomunikasi, menyampaikan gagasan kepada orang lain.
3. Kegiatan: mengunjungi nenek
Manfaat: agar anak bisa mengenal keluarga besar, budaya dari keluarga besar serta pengalaman baru melakukan kegiatan di rumah nenek. Misalnya berkenalan dengan keluarga yang tidak pernah ketemu sebelumnya.
Resikonya: tidak mengenal anggota keluarga besar.
Vera Marsella
MemberVera Marsella
MemberSelamat siang Mas Aar dan Mba Lala…
Mas , Mba saya minta izin untuk berbagi aksi tentang jendela pembelajaran. Setting lokasinya saya izin modifikasi karena sedang tidak di rumah. Kami sedang melakukan perjalanan menuju ke rumah nenek.
Pengamatan ke 1. Hal yang diamati Gunung Tampomas di jalan tol. Usia anak (5th).
1. Warna gunung jika dilihat dari jalan tol
2. Googling tinggi gunung di bandingkan dengan gunung Ciremai dan Papandayan.
3. Diurutkan gunung mana rendah ==>paling tinggi (sampelnya hanya 3 gunung di Jabar yang sudah diketahui anak).
4. Terakhir meminta kakak untuk merekam video gunung Tampomas dan gunung Ciremai menggunakan Hp dari dalam kendaraan.
Pengamatan ke 2. Di alun-alun kota-arena permainannya adalah tangga.
(Kakak 5th, adek 2th)
1. Menemani anak2 manjat dan bergelantungan
2. Menanyakan jumlah tangga dan bahan material yang dipakai untuk tangga permainan tsb kepada kakak
3. Menanyakan warna2 tangga kepada adek.
Pengamatan ke 3. Maket Masjid Agung.
1. Membaca legenda di Maket. Seperti ini huruf apa. Kemudian Kakak jawab. Dan ibu membantu membacakan keterangan dari legenda/simbolnya.
2. Kakak mendeskripsikan contoh bagian di masjid yang ada di maket dan dibandingkan dengan kondisi nyatanya.
4. Kakak menanyakan material2 yang dipakai untuk membuat maket itu apa saja.
5. Menanyakan arah mata angin yang ada di maket.
Terimakasih
Vera Marsella
MemberMaksudnya setting lokasinya saya rubah dari rumah ke perjalanan.
Vera Marsella
MemberTerimakasih Mas Aar untuk jawabannya.
Vera Marsella
MemberSelamat pagi mas @Aar
Mendengar penjelasan materi tentang portofolio . Jika bisa saya simpulkan portofolio ini hasil dari proses dokumentasi selama anak menjalankan HS dan bisa lebih dari satu portofolio yang dibuat untuk menginformasikan skill anak. Kemudian saya membaca balasan dari Mas Aar atas pertanyaan dari peserta lain di kolom ini. Bahwa portofolio bisa dibuat sesuai tujuan atau periode. Sepenangkapan saya, jika anak menekuni bidang tertentu misalnya programming saat usia sekolah. Kemudian anak bisa membuat sebuah aplikasi sederhana/program dari hasil belajarnya. Apakah itu bisa dikatakan portofolio atau baru sebatas dokumentasi?dimana program pertama yang sudah dibuat adalah bagian dari proses pencapaian yang kemudian akan dikurasi saat usia remaja nanti hingga akhirnya akan ada masterpiece sebagai portofolio ttg kemampuan pŕogramming .
Terimakasih
Vera Marsella
Memberterimakasih Mas Aar dan Mba Lala atas pemaparan energi positifnya yang bisa sampai kpd saya.melalui pelatihan ini saya merasakan tdk hanya hub saya dgn anak. Tapi saya cb praktekan kpd suami. Sambil sharing mengenai pelatihan ini kpd suami sekaligus praktek. Lumayan..hehehe.. Terimakasih Mas Aar sudah memberikan respon dr pertanyaan2 saya.
Vera Marsella
MemberTerimakasih Mas @Aar atas jawaban dari pertanyaan saya.
Mohon izin untuk berbagi hasil latihan 2 hari ini ttg mengamati tanpa menilai/menghakimi.
Kemarin saat saya menyiapkan makan siang. Adek (2th) ini tidak bisa ditinggal lama. Sebentar nangis minta ASI. Kemudian saya tinggal adek dan kakak untuk kembali memasak. Baru sebentar, ada rebutan lah atau kakak yang iseng gangguin adek. Sampai rasanya sebentar2 nangis. Minta ASI. Nangis lalu minta ASI. Saat saya memberikan ASI ke adek. Saya perhatikan adek sambil ajak becanda saya (physical touch), dan kakak pun ingin terus mengajak saya ngobrol. Dan saya mencoba nafas sadar. Untuk menetralkan emosi kesal karena merasa kegiatan masak tertunda trs karena drama2 ini. Dari kejadian tsb saya amati sepertinya mereka ingin bercengkrama dengan saya. Kemudian saya lanjutkan memasak lagi hingga selesai. Anak2 makan siang. Setelah itu saya ajak mereka main di teras, mereka main berdua. Tidak ada lagi drama2 seperti saat saya sedang masak😅 . Dari pengamatan tsb ada 2 hal yang jadi catatan saya. Mereka ingin main dgn saya pada saat dimana waktu saya sedang memasak dan mereka cari perhatiannya dgn kakak isengin adek, adek menangis minta ASi trs. Kemudian energi mereka ingin dipakai main di luar rumah. Karena pas pagi sepertinya belum cukup puas main di luar rumah. Saya coba tahan diri tidak mengucapkan kata ‘adek ko rewel/ogo’ atau ‘kakak ko nyebelin isengin adek trs’ pada saat kejadian ”drama2” itu terjadi.
Contoh lainnya adalah malam ini sebelum anak2 tdr. Mereka gosok gigi. Adek baru saja ganti pakaian karena pakaian sebelumnya kotor saat makan pisang coklat. Setelah itu kakak dan adek gosok gigi berdua tanpa saya temani. Tiba2 adek keluar dengan membawa sikat giginya dan pakain yang baru diganti tsb basah lagi. Karena disiram kakak (menurut cerita kakak, karena saat kejadian sy tdk dgn mereka). Kemudian kakak bilang bahwa adek gosok giginya dibantu kakak.
Dalam hati saya bilang tahan diri tidak komentar. Apresiasi kakak yang sudah mau membantu adiknya untuk gosok gigi meski pakaian adeknya basah dan jujur mengakui pakaian adeknya basah oleh kakak.
Maka saat mereka keluar kamar mandi. Saya ucapkan terimakasih kpd kakak krn sudah bantuin adek gosok gigi sambil usap kepalanya.
Jika benar2 diamati banyak kejadian yang dilakukan oleh anak2. Namun tdk semuanya bisa saya catat. Dan tidak semuanya mulus. Ada kalanya saya rasa saya masih melakukan penilaian thd apa yg anak2 lakukan.
Apakah contoh kejadian diatas. Bisa mewakili latihan mengamati tanpa menghakimi?
Terimakasih
Vera Marsella
MemberSelamat pagi mas @Aar dan Mba @Lala. Bagaimana respon yang tepat dilakukan oleh orang tua kpd anak saat melakukan latihan mengamati tanpa menghakimi?
Contoh kegiatan yang dilakukan anak misalnya 1. bermain balok sudah jadi produknya tapi sisa balok yang tidak dipakai masih berserakan di lantai dan anak langsung melakukan main yang lain, atau 2. saat anak ingin menyapu. Biasanya yang saya lakukan adalah mengapresiasi produk yang mereka buat dan mereka pun suka menunjukan produknya kepada saya “ibu,ini kakak membuat xx.”. Kemudian saya ajak mereka bereskan mainan sebelum mereka main yg lain atau saya sendiri langsung beresin mainan mereka atas ijin anak2. Karena kadang mainan2 itu belum boleh dibereskan.
Kasus ke 2. Saya langsung puji anak. Terimakasih sudah bantu ibu menyapu.
Batasan sikap yang harus saya lakukan dalam aksi ini apa saja?jika tidak boleh menilai baik/buruk,mengapresiasi,komentar. Lalu jika ucapan terimakasih sudah membatu. Apakah itu boleh dilakukan?
Setelah aksi ini dilakukan ,lalu momen apa yang bisa ortu lakukan untuk mengapresiasi atas kegiatan anak, mengomentari kegiatan anak?agar masih on track.
Vera Marsella
MemberSiap.terimakasih banyak Mas Aar.
Vera Marsella
MemberSemoga apa yang sudah saya pahami dari penjelasan Mas Aar bisa memperbaiki pola pikir saya mengenai emosi.😇 terimakasih
Vera Marsella
MemberTerimakasih Mas Aar atas semua saran dan ilmunya. Saya bersyukur mendapatkan ilmu baru lagi yang akan coba saya praktekan dan akan saya amati kepada anak2 mengenai rumus durasi fokus pada anak.
Ketika saya amati bisa jadi bosan datang karena beberapa faktor yaitu kegiatan yang sama seperti bersepeda. Mungkin akan saya coba tawarkan ke anak yaitu bersepeda dengan tujuan yang sama tapi rutenya berbeda.
Kemudian kegiatan spontan yang dilakukan anak misalnya lagi asyik main rumah2an dengan adiknya. Kemudian saya memotong kegiatan mereka dengan mengajak jalan2 keluar rumah dengan harapan biar anak2 bisa mendapatkan manfaat jalan pagi,berjemur sekalian saya pergi beli bahan2 buat dimasak. Berarti saya harus tunggu dulu saja mereka mengerjakan kegiatan spontanitasnya itu ya Mas ?atau ikut main dengan kegiatan mereka.
Vera Marsella
MemberSelamat malam mas @Aar dan mba @Lala.
Setelah mendengarkan podcast mengelola emosi. Mengutip kalimat yang disampaikan mas Aar yaitu “itu emosi saya, bukan saya.”
Apakah itu artinya, ketika kita melihat contoh bentuk emosi diri sendiri atau orang lain seperti marah yang cukup intensitasnya tinggi dan frekuensinya cukup sering. Maka kita tidak boleh melabeli diri kita atau orang lain sebagai ‘si pemarah’. Karena marah tsb emosi yang dipicu oleh kondisi tertentu bisa jadi setelah bisa dikenali jenis emosinya, kemudian dikelola emosinya. Maka emosi yang muncul akan kembali normal. Bukan suatu yang melekat menjadi jati diri. Mohon dikoreksi jika pemahaman saya tidak tepat.
Terimakasih.
Vera Marsella
MemberSelamat malam Mas @Aar dan Mba @Lala…<div>
Jika anak usia dini merasa bosan. Ingin melakukan aktifitas A. Setelah dilakukan ternyata kurang memuaskan hasrat mainnya. Kemudian ingin B. Apakah itu karena model Hs yang dijalankan harus ada yang dimodifikasi lagi atau kegiatan bersama anak kurang mindful?
karena saat ini memang saya belum secara khusus belajar secara dalam tentang model2 HS . Alasannya karena saya ingin fokus memperbaiki kualitas mindful parenting agar bonding dengan anak2 terjaga, tumbuh kembang yang optimal. Maka saya seperti menunda untuk belajar model2 HS tsb. Dalam pikiran saya ‘pengasuhan saya pun masih belum baik, untuk anak bisa main happy saya nya ikut happy juga kemudian bisa menjalankan aktifitas rumah tangga dengan ringan , ngobrol santai dengan pasangan pun perlu energi yang cukup banyak buat melakukannya. Maka sampai saat ini kami berkegiatan ada yang terpola urutannya misalnya bangun tidur-sarapan-mandi/main dan ada juga kegiatan yang dilakukan secara spontanitas misalnya traveling dadakan, main dengan aktifitas tanpa direncanakan sebelumnya misalnya ide dari anak mau main tanah padahal semalam ada rencana mau membuat roti.
Terimakasih
</div>
Vera Marsella
MemberSelamat malam Mas @Aar dan Mba @Lala.
Untuk kuisoner no.21 ‘sebagian besar waktu saya berjalan otomatis sejak pagi hingga malam’.
Jujur saya agak bingung ketika menjawab ini.
“Yang saya lakukan ini otomatis ga ya…”
Misalnya
Saya punya rutinitas pagi mengerjakan A,B,C,D ketika suami bekerja. Jika suami saya libur maka urusannya menjadi D,A,B,C. Contoh lain setelah pulang traveling, saat tiba di rumah saya tidak duduk santai. Tapi saya langsung ngurusin anak misalnya ganti pakaian anak, beres2. Semua itu seperti sudah terprogram di kepala. Sebelum saya tiba di rumah. Hanya urutan kegiatannya bisa berubah sesuai kondisi di lapangan. Misalnya saat saya mau beres2 tapi anak kebangun tidur minta ASI. Maka saya tunda dulu kegiatan yang sedang saya kerjakan. Apakah itu gambaran kegiatan saya tsb bisa dikatakan otomatis. Dan kegiatan sehari2 hampir dipastikan mirip2 ada polanya.
Terimakasih
-
AuthorPosts