Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Mira Julia
Keymasterhai Zara… konon kalau warteg itu ada yang pakai pandan dikit. Makanya ada harum2 gimana gitu. Ada juga yang gulanya pakai gula batu. Tergantung wartegnya sih. huehehehehehe
Mira Julia
KeymasterUntuk bentuk jurnal sangat tergantung kebutuhan kita kak Prasasti,
Kami sendiri menggunakan beragam media dalam menjurnal
Misal,
Untuk kesehatan mental, manajemen diri & keseharian saya pakai buku jurnal
Untuk dokumentasi proses anak, saya dan mas Aar menggunakan media digital, menyimpannya di komputer dan membagikan sebagian di blog & media sosial.Lebih detil tentang proses journaling silakan disimak di kelas Jurnal Homeschooling kak.
Mira Julia
KeymasterHai kak Prasasti,
Kesan anak dalam sebuah kegiatan memang tidak akan selalu “wow”. Bahkan sangat mungkin anak terlihat tidak tertarik dengan kegiatan tersebut, tapi setelah kegiatannya berulang beberapa kali baru tertarik atau bahkan menjadi menyukai.Apakah semua proses kegiatan perlu dijurnal? Itu sudah pilihan sebenarnya kak.
Pertanyaannya, mana yang lebih mungkin kakak lakukan? Karena yang paling penting adalah kontinuitas dalam proses menjurnal. Sesederhana apapun. Lebih baik sederhana, tapi bisa kakak lakukan terus. Dibandingkan lengkap tapi hanya sekali-sekali.
Misal jurnal membuat kolase bersama anak bisa ditulis sesederhana:
Hari ini aku mengajak XX membuat kolase daun kering. Ternyata dia hanya tahan 5 menit, setelah itu langsung lari dan mencari kegiatan lain. Sorenya waktu aku bertanya bagaimana pendapatnya tentang kegiatan tadi, XX menjawab “Aku tidak suka kalau hanya daun. Aku maunya ada bunga juga”. Sepertinya kegiatan berikutnya perlu lebih bervariasi materi yang dikolasenya. SemangatSemoga lebih kebayang ya kak
Mira Julia
KeymasterReadingAtoZ alat belajar zaman Yudhis kecil dulu kak Lulu – ketika zaman Tata alatnya sudah berbeda lagi.
Kalau dulu caranya saya print semua bukunya, lalu setiap hari minta Yudhis untuk membacanya secara lantang sambil menemani saya masak atau beres2.
Mira Julia
KeymasterKak Sumayyah,
Jika Anda dan anak sudah membuat kesepakatan, jangan lupa untuk menuliskannya dan menempelkannya di dinding yang mudah dilihat oleh semuanya.
Saat pagi hari, mulai dengan bertanya pada anak:
~ apa rencana kegiatan kamu pagi ini?Saat siang & sore hari, tanyakan pada anak:
~ sampai di mana rencana kegiatan pagi ini?Untuk membantu anak, kegiatan paling pagi yang harus dilakukan anak adalah menulis ulang di buku jurnal tentang rencana kegiatan hari ini. Sediakan buku dan alat tulis, minta anak menuliskannya di pagi hari sebelum memulai kegiatannya.
Jadi, pendampingan orangtua tetap perlu dilakukan dalam proses membangun komitmen anak hingga dia betul2 bisa mandiri.
Semoga membantu.
Mira Julia
KeymasterTergantung kebutuhan kak. Tapi kalau dalam pengalamn saya, tidak hanya di akhir bulan. Saya melakukannya kapanpun saya membutuhkannya. Minimal akhir bulan. Terkadang saya buat setiap hari tapi disatukan dalam satu halaman (silakan lihat contoh):
Mira Julia
KeymasterTidak kak Helen – karena jarang sekali ada komunitas berbasis metode. Setahu saya, saat ini yang secara terbuka mengorganisir diri adalah komunitas Charlotte Mason. Jika Anda merasa cocok dengan komunitas CM dekat rumah, maka tidak masalah untuk bergabung. Tentu saja Anda harus mengikuti aturan main yang ada dalam komunitas tersebut.
Mira Julia
KeymasterUntuk menuliskan rencana/janjian kak. Misal kalau dalam keluarga kami waktu les, waktu pertandingan, atau apapun yang berhubungan dengan anak yang berhubungan dengan orang luar. Tapi kita juga bisa menggunakan hal tersebut untuk diri kita sendiri kalau ada rencana yang memang ada tenggat waktunya.
Jadi rencana itu ada dua kak. Ada yang berupa daftar rencana (tidak bertenggat waktu) ada yang bertenggat waktu. Kalau di kalender biasanya yang ditulis adalah rencana2 yang bertenggat waktu, yang tidak bertenggat waktu masuknya di daftar ceklist mingguan/target bulanan.
Mira Julia
KeymasterAda Widya, kami menyertakan beberapa contoh aplikasi proyek di keluarga kami. Beberapa di antaranya kakak bisa baca di sini:
dan masih banyak lagi kak di dalam kelas ini (pastikan kakak klik halaman2 selanjutnya dari materi ini)
Mira Julia
KeymasterHai kak Lisa, dalam pengalaman kami sejak kecil anak-anak sudah bisa dilibatkan dalam tugas rumah tangga, hanya bebannya yang disesuaikan. Misal anak umur 4/5 tahun itu sesederhana mengembalikan mainan ke tempatnya, atau merapikan bantal setelah tidur. Tambah besar usia anak, tanggung jawabnya ditambah dan diperbanyak.
Tips dari saya, dialog kak, diajak ngobrol “why” anak perlu melakukan ini. Bukan hanya diperintah. Anak perlu tahu bahwa mengerjakan pekerjaan rumah itu akan menguntungkan bagi kita semua, dengan mengerjakan pekerjaan rumah kita menjadi satu tim dll.
Dalam kondisi keluarga kami, ketiadaan asiste rumah tangga menjadi external pressure yang menguntungkan, karena anak jadi terpapar kondisi ‘apa boleh buat’. Anak melihat efeknya secara langsung, bahwa rumah tidak otomatis menjadi bersih, nasi tidak otomatis matang, baju tidak otomatis kembali bersih dll.
Mira Julia
KeymasterKak Desi,
Alat belajar online yang digunakan anak-anak antara lain: http://www.ixl.com dan Reading Eggs
Mira Julia
KeymasterBetul sekali, kak Aditya,
Oleh karena itu, memang dibutuhkan pergeseran mindset pada orangtua. Bayangan jenis perusahaan/kantornya jangan pabrik dengan jadwal tetap, pengawasan ketat, otonomi yang rendah pada pegawai, sistem ban berjalan.
Bayangkan Anda bekerja sebagai manajer atau menjadi pemilik perusahaan kreatif (advertising, artis, media). Anda perlu mengenali tujuan serta membangun suasana kerja yang nyaman bagi tim sehingga kreativitas mereka terjaga dan bisa mengeluarkan yang terbaik dari dirinya. Jadi, fokusnya bukan para prosedur yang ketat, tapi pada tujuan yang ingin dicapai dengan proses-proses yang lebih fleksibel.
Semoga mindset ini bisa membantu.
Mira Julia
KeymasterHai kak Nisa,
Tergantung jenis pekerjaannya kak, apakah kita kerja di rumah atau luar rumah. Apakah kita dimungkinkan kerja dengan membawa anak atau tidak (seberapa fleksibel pekerjaan kita, seberapa lama waktu yang kita butuhkan untuk bekerja (termasuk transportasi). Semua itu akan mempengaruhi pola belajar di rumah bersama anak.
Untuk anak yang belum bisa mandiri kita bisa tukar waktu “belajar” saat kita di rumah (malam hari/pulang kantor) sedangkan waktu kita bekerja anak dapat checklist hal-hal yang mungkin dikerjakan secara mandiri, misal menggunakan belajar online atau printable yang sudah kita sediakan.
Memang homeschooling itu intinya adalah manajemen waktu. Tapi sebelum masuk ke lebih teknis (praktis), kita harus bisa memahami hal-hal yang ada pada lapisan lainnya yaitu mindset & heartset. Silakan simak materi tentang 3 Lapis Pembelajaran
Mira Julia
KeymasterHalo kak Lenny, mulai dari hal yang sederhana. Misal belajar menuliskan pengalamannya melakukan sesuatu, membaca sesuatu, menonton sesuatu dibantu dengan struktur 5W+1H: What (apa), Who (siapa), When (kapan), Where (di mana), Why (kenapa), dan How (bagaimana).
Dalam bahasa Indonesia, untuk memudahkan dikenal singkatan ADIKSIMBA (Apa DImana Kapan SIapa Mengapa BAgaimana).
Kita bisa membantunya dengan memancing melalui pertanyaan berikut:
- What: Apa yang ditonton, apa yang dibaca, apa yang dilakukan, apa yang menarik, apa yang unik
- Who: Siapa yang dilihat, siapa yang dibaca, melakukan sesuatu dengan siapa
- When: Kapan kejadiannya, kapan hal tersebut dilakukan
- Where: Di mana kejadiannya
- Why: Mengapa hal tersebut terjadi
- How: Bagaimana proses kejadiannya
Tentu saja, cara terbaik adalah jika orangtua juga melakukan jurnaling, jadi tidak hanya menyuruh anak. Dengan melakukan, kita akan menemukan juga tips & trick agar bisa konsisten menulis, apa yang ditulis dll.
Mira Julia
KeymasterIya kak Lenny, karena banyak hal dalam parenting ternyata masalahnya ada di akar, bukan di level teknis. Selamat berproses ^_^
-
AuthorPosts