Forum Replies Created

Viewing 9 posts - 1 through 9 (of 9 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Podcast Peluang Homeschooling #6511
    Rara Fatima
    Member

    Kak Aar, bisa kah ditarik kesimpulan bahwa kita sbg orangtua memberikan kebebasan dia si introvert utk memilih siapa yg mau dia dekati, dia ajak bicara, dia ajak main? Jadi misalkan dia bisa dekat dgn salah 1 sepupunya, maka momen itu dimanfaatkan sbg latihan sosialisasinya. Dan dgn sepupu lain yg sudah beberapa kali dicoba namun hanya membuat dia menutup diri, maka kita tdk perlu memaksakan kedekatan di antara mereka, meskipun tentu kita ttp perlu meyakinkan dia terus menerus bahwa si sepupu baik dan hanys ingin berusaha akrab dgn dia?

    Jadi, mempertemukan dia dgn teman / saudara seusianya itu perlu, namun tidak perlu mengharap hasil akhir. Begitu ya? Semua tergantung perasaan si anak saja mana yg cocok dan tidak?

    Saya lega jika ini bukan masalah kepercayaan dirinya. Karena saya yakin anak saya sgt PD dgn dirinya ketika di lingkungan yg nyaman versi dia. Spt ketika dgn kakeknya, tante yg dia senangi, dsb.

    Jika saya merefleksikan diri bagaimana saya menghandle kemampuan bersosialisasi, jujur juga kesulitan menjawab kak. Karena itu PR terbesar saya hingga kini usia 32 tahun. Bukan hal yg mudah bagi saya.

    Jadi saya bs memahami jika putra saya mengalami hal serupa. Tapi kadangkala saya lupa bahwa yg terpenting adalah putra saya, saya suka terbawa prasangka takut dicap tdk mengajarkan anak sosialisasi / sopan santun / ramah-tamah dgn sepupu2 atau paman/bibinya. Jd harus beberapa kali meminta pengertian agar saudara tdk salah paham mengapa putra saya sulit berbaur. Huhu. Sedangkan ketika lupa, benar kata mas Aar td, saya cenderung membebankan ekspektasi ke anak saya utk bs berbaur.

    Padahal ibunya sendiri pun sampai sedewasa ini kesulitan ya.

    in reply to: Podcast Peluang Homeschooling #6521
    Rara Fatima
    Member

    Kak Aar,

    Menyambubg dengan pertanyaan bulan lalu tentang anak introvert. Saya sedikit cerita dulu ya kak. Jadi, anak saya 3 tahun kan pernah playgroup dan membutuhkan adaptasi yg lama. Lalu, sebelum saya memutuskan untuk mencoba HS usia dini ini saya pun sudah terlanjur memperpanjang playgroup, namun memang blm dipakai jatah masuknya karena: 1. Omicron, 2. Anak saya benar-benar tidak mau dibujuk utk ‘sekolah’ lg.

    Karena refund tdk bisa, solusinya akhirnya kami ikut kelas online. Inipun kami lakukan atas persetujuan buah hati. Di 2 hari pertama, dia mau join dengan segala rasa malu dan ‘diam’nya, tapi dia jg senyum2 melihat tingkah laku teman2nya di zoom. Di akhir kelas, guru belum selesai bicara, dia tiba2 langsung tutup laptop dan bersikeras utk menyudahi. Saya hanya beri penjelasan bahwa lain kali tunggu hingga selesai dulu baru laptopnya ditutup. Atau bilang dulu sama Ibu kalau memang sudah bosan, jadi kita bisa pamit.

    Pertemuan ke 3 dan 4, dia tidak mau lagi. Sayapun membujuk dulu beberapa kali sampai akhirnya menyerah, ya sudah asal dia nyaman dan senang.

    Saat kumpul bersama sepupunya baru-baru inipun, dia cenderung diam atau hanya menjadi penonton kehebohan sepupunya. Dia baru mau ikut main kalau ditemani ayah/ibunya.

    Saya belum paham mas Aar, apakah ini bersangkutan dengan rasa kepercayaan dirinya, atau karena masalah adaptasi, atau dua-duanya berhubungan ya?

    Pertanyaan saya, bagaimana cara menumbuhkan kepercayaan diri pada anak 3 tahun dgn tipe introvert? Kalau keberanian, dia sangat berani mencoba sesuatu jika dia sendirian atau dgn kami ortunya. Tapi begitu ada org lain, dia akan ciut meski kami coba utk meyakinkan bahwa orang2 itu baik.

    Apakah perlu sering2 diajak bertemu sepupunya atau teman sebayanya agar terbiasa? Atau ada cara lain? Saya pun sampai dewasa masih sering merasa tidak nyaman jika hrs bertemu orang lain sih hehe (saya 80% introvert menurut tes).

    Terima kasih sebelumnya kak.

    in reply to: Podcast Legalitas Homeschooling #6651
    Rara Fatima
    Member

    Hai kak Aar, mbak Lala,

    Saya Rara usia anak 3 tahun. Berkat podcast ini saya jadi tau kalo Jerman ga melegalkan HS. Kak, izin tanya ya:

    1. Mengingat Jerman tdk melegalkan HS, kami perlu memantapkan diri nih.. Kebetulan memang cita2 ortunya menyekolahkan perkuliahan anak ke Jerman. Ya meskipun cita2 ini bisa saja berubah saat berjalan. Nah, apakah nanti saat persiapan ujian kesetaraan ini ada jalan kak utk bisa tembus kurikulum jerman? Mungkin kak Aar ada pengetahuan di area ini. Karena setau saya kan dr SMA ke S1 Jerman harus melalui Studienkolleg, jika dengan HS bagaimana ya?

    2. Mendaftarkan anak ke PKBM ini selalu menjelang peralihan jenjang ya kak? Lalu apakah ada ketentuan usia saat mendaftar? Karena spt yg kak Aar sampaikan, HS ini sangat flexible dari segi waktu, anak bs cepat, bs juga lambat. Apa mungkin seseorang mendaftar PKBM utk ujian paket C ketika masih usai setara SMP? (pertanyaan hanya karena penasaran hehe)

    Maaf ya kak kalau pertanyaannya selalu jauh di atas usia anak :”)

    in reply to: Podcast Peluang Homeschooling #6652
    Rara Fatima
    Member

    Halo mbak Lala dan kak Aar,

    mau sharing pengalaman sekaligus konsultas ya kak, saya Rara usia anak 3 tahun.
    Kami melihat bahwa anak kami cenderung pemalu dan tidak suka keramaian. Dia hanya mau berkumpul dengan sepupu tertentu dan cenderung menghindar dengan yang lain, dan tidak ‘lepas’ ketika bermain di playground. Jika dengan orangtuanya, dia sangat terbuka dan ekspresif ketika bermain.

    Atas dasar inilah, akhir tahun lalu ketika anak menginjak usia 3 tahun kami memasukkannya ke playgroup. Harapannya agar anak kami terbiasa dengan anak lain dan suasanya yang berbeda dari rumah. Di sana pun proses adaptasinya tidak mudah, nangis hingga 8x pertemuan (1 bulan). Lepas dari itu, kami melihat perkembangan yang sangat pesat dari dirinya, yaitu lebih berani, lebih leluasa bermain di tempat umum. Jadi, meski sesekali dia tidak mau ‘sekolah’, tapi banyak waktu dia menikmati kebersamaan dengan oranglain.

    Lalu karena Omicron, akhirnya kami memutuskan utk meliburkan diri dan mulai mencari kesibukkan lain di rumah (kondisi suami ngantor senin – sabtu, dan saya cari uang dari rumah), dan akhirnya mempertimbangkan untuk Homeschooling setelah melihat beberapa kenalan yang enjoy dengan kegiatan HS.

    Pertanyaan saya kak, bagaimana ya caranya agar menjaga keberanian dan keleluasaan bermain dia dengan banyak orang dengan kondisi HS untuk anak usia dini? Terlebih di kondisi pandemi seperti sekarang.

    Terima kasih kak

    in reply to: eBook Homeschooling atau Sekolah #6665
    Rara Fatima
    Member

    Hai mbak Lala. Saya Rara, usia anak 3 tahun dan pernah ikut playgroup selama 3 bulan.

    Sebelumnya maaf ya mbak misal pertanyaan ini pernah dibahas di WA atau mungkin ada di course lainnya.

    Mau tanya mbak, untuk beragam model dan metode HS, garis besar pilihan kurikulum, strategi belajar, serta evaluasi spt journaling dan dokumentasi ini nantinya akan ada bahasan lebih lanjutnya satu persatu atau kami self-learning mbak?

    Lalu mau tanya juga, ‘kelas’ dan ‘course’ ini urutan pembelajarannya gmn ya mbak? Saya loncat sana loncat sini nih :”) . Minggu lalu baca course yang ‘Menyiapkan Pembelajar Mandiri’, ‘Membangun Budaya Belajar’, lalu ‘Membangun Keterampilan Belajar’. Terus hari ini pas buka di PC baru ngeh ada kelas2 ini. hihi..

    mohon pencerahannya ya mbak Lala. Terima kasih.

    in reply to: Membangun Budaya Belajar #6674
    Rara Fatima
    Member

    Ohya maaf, usia anak 3 tahun kak..

    Jadi bisa saya simpulkan:

    1. Ada kalanya pertanyaan khayalan tidak perlu dijawab dengan jawaban, tapi bisa kita alihkan ke respon pengembangan cerita ya? Itu tidak membuat dia merasa diabaikan pertanyaannya ya kak?

    2. Kalau dari materi kan, justru anjurannya sering-sering bertanya. Berarti ini tidak applicable ke anak usia 3 tahun ya? Lalu apa ada saran agar kami bisa menumbuhkan inisiatif anak usia 3 tahun agar terbiasa berpikir kreatif? Apakah melalui pemberian pilihan? Seperti misalnya: mau main A atau B,?

    Lalu kak, kadang kalau dia pilih suatu permainan kan, kami ingin eksplorasi keingintahuannya ya. Cuma ada kalanya dia has no idea apa yang dia mau tau. Itu ga apa2 ya kak kalo kita stimulate dulu dengan ide dari kita? Contoh, anak sedang tertarik dengan volcano, saya inisiatif kembangkan seperti lokasinyadi Pulau Jawa, misalnya.

    Makasih banyak ya kak.

    in reply to: Membangun Budaya Belajar #6681
    Rara Fatima
    Member

    Hai kak Aar, jumpa lagi dengan pertanyaan saya.

    Dari materi, semua jelas dan sangat mudah diikuti dan bikin saya ngangguk-ngangguk sepanjang video 😅. Tapi saya punya pertanyaan yang sangat practical nih dalam penerapannya sehari-hari.

    Jadi saat ini saya sedang berhadapan dengan anak dengan curiosity yang sangat tinggi. Pertanyaan yang berbuntuk panjaaaaang sekali, bahkan kadang pertanyaannya itu seperti ini, misal dia sedang main figurine belalang, dan dia tau belalang itu tidak berenang, tapi justru dia memainkannya di air. Lalu dia akan tanya, “Ibu liat deh belalangnya berenang. Kenapa kok belalangnya berenang?” Jadi dia suka tanya hal yang sebetulnya jawabannya hanya dia yang tau. Ini kadang juga bikin saya overwhelmed kalau pertanyaannya gak berhenti-henti.

    Pertanyaannya, jika ada pertanyaan dari dia yang ‘sulit terjawab’, atau di luar pengetahuan saya, bagaimana saya harus merespon? Adakalanya saya berkata, “Wah, ibu juga gak tau. Coba nanti kita cari tau bareng ya..”. Ini kalau jawabannya masih mungkin dicari. Tapi kalau pertanyaan seperti paragraf sebelumnya, saya sering bilang, “Ya gak kenapa-kenapa. Karena Rashaan lagi bermain aja..”

    Tapi sepertinya justru yang “Gak kenapa-kenapa” ini yang menjadi boomerang. Setiap saya tanya ke dia, “Shaan, kenapa kok pilih warna biru?” dia akan jawab, “Gak apa-apa aja..”. Gimana ya kak, supaya bisa shifting kebiasaan jawaban itu supaya interaksinya tidak terputus?

    Lalu kedua, yang extra mile itu masih PR banget buat kami. Contoh masalah beres-berberes. Seringkali dia jadinya bete dan ekspresinya berubah ketika diajak bersih2. Atau justru dia akan bilang, “Ibu aja yang beresin..”. Ada masukkan ga ya kak, bagaimana membangun kebiasaan dia supaya mau menyelesaikan sesuatu sampai tuntas?

    Terima kasih banyak kak Aar.

    in reply to: Konsep Dasar tentang Pembelajar Mandiri #6682
    Rara Fatima
    Member

    Waah, terima kasih banyak kak atas jawabannya. Langsung saya praktikkan di rumah besok sambil menyiapkan bahan ajarnya bersama2 si kicik.

    🖤🖤🖤

    in reply to: Konsep Dasar tentang Pembelajar Mandiri #6711
    Rara Fatima
    Member

    Halo kak Aar, terima kasih atas introduction tentang pembelajar mandiri. Sangat membuka wawasan saya dan benar2 mudah dipahami penjelasannya, baik konsep dan praktiknya. Jika saya tidak salah pemahaman, berarti memulai sistem homeschooling dari anak usia dini ini adalah melatih inisiatif mereka akan kegiatan reguler yang biasa ortu lakukan ya? Seperti contoh yang Kak Aar berikan tadi: memasak.

    Usia anak saya 3 tahun, Dulu ketika usia anak saya 2 tahun, pernah saya ajak beberapa kali untuk membantu masak dan mengenalkan rempah2 yang biasa dipakai di dapur. Namun ini tidak bertahan lama, entah dia bosan, entah dia memang tidak tertarik.

    Pertanyaan saya:
    1. Apakah garis besar konsep mempersiapkan pembelajar mandiri ini dapat diterapkan untuk usia 3 tahun atau kurang, atau memang bisa namun sulit, atau justru untuk usia lebih dari 3 tahun?
    2. Sejauh ini, hal yang membuat ia tertarik itu adalah hewan ikan. Saya sbg ortu sejauh ini hanya mampu memfasilitasi apa yang menjadi ketertarikannya. Saya coba berbagai macam kegiatan yang biasa kami (ortu) lakukan di rumah ke dirinya, namun sepertinya belum ada cukup antusiasme. Seperti masak, berkebun, dsb. DIa hanya nampak antusias dan senang terlibat jika yang dikerjakan adalah hal favoritnya (ikan, serangga). Saya jg sering bertanya ‘mau main apa hari ini?’ dan jawabannya relatif tidak variatif :)). Apa ada saran bagaimana untuk mengundang daya tarik anak untuk berkegiatan lain?

    Terima kasih banyak kak.

Viewing 9 posts - 1 through 9 (of 9 total)
Scroll to Top