Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Amanda
MemberSelamat siang mas Aar..
Yang menjadi keresahan saya sebagai orang tua yg dulunya dididik dengan pola pendidikan konvensional itu budaya harus patuh. Walaupun berbagai artikel,workshop dan seminar sudah saya kunyah tetap saja dalam prakteknya saya keseleo lagi secara tidak sengaja menerapkan apa yang saya dapat dahulu. Entah itu respon saya terhadap pertanyaan atau inisiatif anak atau pola pikir dan sikap saya. Muncul rasa sesal ketika sadar “duh salah nih responnya saya tadi anak jadi males kan nih nanya lagi” dll
Bagaimana cara mengerem hal-hal seperti ini ya mas Aar?
Amanda
MemberSelamat siang mas Aar..
Bagaimana mengajak anak(laki2 12 tahun dan perempuan 8 tahun) ikut mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan perasaan sukarela? Karena walaupun ibunya sudah dengan senyum lebar,sabar dan lembut hati mengajaknha anak juga masih saja mengomel 😅
Amanda
MemberSelamat siang mas Aar.. ijin bertanya (anak saya laki2 usia 12 tahun baru menjalani HS selama 6 bulan,setelah sebelumnya sekolah formal sampe kelas 4 SD)
1. Bagaimana membangun kembali motivasi internal pada anak yang mungkin terlanjur rasa inisiatifnya mati entah karena sekolah atau pola didik orang tua?
2. Apakah inisiatif anak ketika ingin belajar sesuatu boleh diberi target tertentu? Karena seringkali anak hanya ingin tahu kemudian bosan lalu berpindah lagi. Orang tua merasa belum cukup nih menggali yang ini ko sudah pindah lagi.
Amanda
MemberAnak saya umur 12 mas.. Berarti memang harus dikaji ulang ni mas ekspektasj,strategi belajar dll yang bersifat teknis ya, Noted mas Terimakasih pencerahannya lega jadinya ☺️😊
Amanda
MemberHalo Mas Aar dan Mba Lala.. setelah selama 6 bulan menjalani HS mulai terbentuk kebiasaan2 baik pada anak saya yang memang sengaja saya biasakan seperti morning routine.Tetapi dalam prosesnya anak sering mengeluh dan menanyakan hal yang sama berulang kali kenapa dia harus melakukan kebiasaan2 tersebut. Berulang kali juga saya jawab dan jelaskan dari yang sabar sampai kadang juga saya emosi 😅 beberapa kali saya kelepasan membandingkan bahwa kebiasaan2 yang dia lakukan ini masih jauh lebih mudah dibanding dia bersekolah (kebetulan memang anak saya yg memilih ingin HS). Drama2 seperti ini yang membuat saya merasa tidak nyaman dan pastinya anaknya pun tidak nyaman. Tapi di lain hari saya menemukan dia melakukan kebiasaan tanpa complain dan benar mengerjakannya. Disitu saya merefleksikannya sebagai oh ini memang prosesnya kali ya,anak tidak selalu bahagia mengerjakan berbagai kewajiban,sebagaimana juga orang tua yg kadang jenuh atau cape melakukan kewajiban. Morning routine ini sudah dibuat dari hasil diskusi bersama anak. Saya menyelipkan tugas rumah tangga di dalamnya yang saya pikir mampu dia kerjakan dan saya ajarkan dulu sebelumnya kemudian membiarkan anak memilih mana yg dia bersedia melakukannya. Sehabis morning routine lanjut ke sesi akademis. Disini juga dia seringkali mempertanyakan kenapa sih harus belajar math bu? Pertanyaan itu terus berulang 😅 sampai2 kami berganti terus sumber belajar. Awalnya dia setuju untuk belajar di IXL di tengah jalan dia mengeluh dan ingin cari sumber yg lain. Saya ikuti semua keluhannya dan memcarikan solusi yang lain. Tapi rasanya dia tidak termotivasi juga. Padahal sesuai visi keluarga yang sudah dirumuskan dengan pasangan bahwa anak tetap harus belajar matematika setiap harinya. Saya merefleksikan kembali apa morning routine dia terlalu banyak,ahirnya sesi akademisnya saya buat tidak terjadwal sesuai dia saja mau melakukan kapan saja,tidak harus setelah morning routine. Setelah diubahpun anak tidak termotivasi untuk belajar matematika dan selalu kembali menanyakan kenapa harus belajar itu. Yang ingin saya tanyakan bagaimana jika kondisinya seperti ini apakah harus merubah visi pendidikan keluarga disesuaikan kondisi anak dalam perkembangannya? Terimakasih
Amanda
MemberSelamat pagi mba Lala,bagaimana caranya memotivasi Duta agar tidak menyerah dalam belajar di tynker ini? Karena anak saya sering juga menyerah ketika explore. Ibaratnya ketika sudah menyerah benar-benar tidak mau kembali belajar. Apakah dengan memberi reward dan punishment itu boleh/baik? Misal,jika kamu berhasil menyelesaikan kelas akan ibu beri tambahan waktu screen time atau sebaliknya Jika kamu tidak menyelesaikan kelas maka akan ibu kurangi waktu screen timenya. Terimakasih mba Lala
-
AuthorPosts