Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 16 through 30 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Konsep Dasar tentang Pembelajar Mandiri #4781
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @ade-yulida,

    Memfasilitasi keingintahuan bukan berarti memperturutkan apapun yang ingin diketahui anak.

    Tugas orangtua adalah mencari keseimbangan antara mengikuti rasa ingin tahu anak dan menjaga arah tujuan belajar yang sudah kita tetapkan.

    Ada beberapa masukan yang bisa saya berikan untuk mengelola 2 hal ini:

    • Bedakan “menghargai” dan “mengikuti sepenuhnya” rasa ingin tahu anak.

      • Menghargai artinya mengakui pertanyaannya penting dan layak dicatat.

      • Mengikuti sepenuhnya artinya langsung berhenti dari agenda dan membahas panjang lebar—ini tidak selalu perlu dilakukan saat itu juga.

    • Gunakan teknik “parking lot” atau “bank pertanyaan.”

      • Catat pertanyaan yang tidak bisa dijawab sekarang di papan, buku catatan, atau sticky note.

      • Tentukan waktu khusus untuk membahasnya, misalnya di sesi “waktu eksplorasi” mingguan.

    • Prioritaskan pertanyaan yang relevan
    • Tidak semua rasa ingin tahu harus dipenuhi saat ini juga. Jika kakak merasa pertanyaan itu penting dan relevan, kakak bisa langsung jawab. Gunakan jawaban pendek-pendek untuk melihat pemahaman anak dan ketertarikannya.

    • Latih anak untuk ikut mengelola rasa ingin tahunya.

      • Ajak dia memilih, “Mau bahas sekarang atau simpan untuk waktu khusus?”

      • Ini melatih keterampilan manajemen waktu dan fokus.

    Demikian, kak. Menunda respon, mencatat pertanyaan, dan tidak mengikuti langsung semua pertanyaan anak bukan berarti mengabaikan keingintahuan anak.

    Saat keingintahuan dikelola, itu juga merupakan proses belajar bagi anak.

    🙏

    in reply to: Podcast Mengembangkan Motivasi Internal #4782
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Antik,

    Terima kasih sharingnya kak.
    Menemani proses bertumbuh anak remaja memang sangat menantang. Pada satu sisi, kemampuannya mengambil keputusan masih terbatas. Pada sisi lain, anak merasakan kebutuhan otonomi yang semakin besar untuk menjadi dirinya sendiri. Anak semakin sensitif terhadap masukan dan kritik orangtua.

    Otak anak berpikir: “Ini maunya Ibu ya? Ibu mau memaksakan cara berpikirnya kepadaku?”

    Jika anak merasa orangtua ingin memaksakan sebuah gagasan/kehendak, walaupun itu baik untuk dirinya, anak akan cenderung menolak dan melawan karena kebutuhan akan otonominya lebih besar. Anak tidak ingin berada di bawah bayang-bayang orangtuanya.

    Dalam kondisi seperti ini, apa yang bisa dilakukan orangtua?

    • membawa kondisi ini ke dalam kesadaran bahwa “ruang yg dimiliki orangtua untuk mengarahkan anak semakin terbatas”
    • dengan waktu yang terbatas itu, apa yang bisa dilakukan?

    Dalam sudut pandang saya, yang paling bisa dilakukan adalah memastikan bahwa hubungan orangtua dan anak tetap kuat & asyik.

    Itu berarti, orangtua perlu mengubah strategi:

    • dari menyodorkan gagasan pada anak menjadi lebih banyak mendengarkan. Tidak memaksakan gagasan, membuka diri untuk menerima sudut pandang anak
    • dari memberikan nasihat dan masukan, menjadi lebih banyak mengajukan pertanyaan untuk membuat anak berpikir
    • fokus utama untuk menemani anak berlatih mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri

    Orangtua tentu saja boleh memberikan masukan, tetapi prasyarat utama harus terpenuhi: anak merasa orangtua mendengarkan pendapatnya dan menghargainya.

    Jika anak merasa orangtua tetap memperlakukannya sebagai anak kecil, kemungkinan besar anak akan menunjukkan resistensi terhadap apapun yang disampaikan orangtua.

    Jadi, anak tetap dibiarkan saja walaupun melakukan hal yang tidak benar dan tidak efektif?

    Yang bisa kita lakukan adalah berdialog dan bertanya, bukan menghakimi:

    • mengapa kamu melakukan itu?
    • apa rencanamu?
    • apa targetmu terkait kegiatan itu?

    (Saat komunikasi, ketenangan dan intonasi suara sangat berpengaruh pada respon yang akan kita terima).

    Bantu anak untuk membuat komitmen2 dan kesepakatan sesuai yang dimaui anak. Buat secara tertulis. Jadikan tulisan itu sebagai bahan untuk diskusi dan refleksi.

    • sudah sampai mana perkembangannya?
    • timeline kamu bagaimana?
    • apa yang bisa Ibu bantu?

    Demikian kak, proses menemani remaja memang tidak mudah. Demikian pula, proses kita untuk mengubah pola komunikasi kita sendiri dengan anak juga bukan hal yang mudah.

    Untuk kepentingan bersama, kita perlu berlatih mengubah diri kita sendiri untuk menunjukkan bahwa fokus kita adalah untuk kepentingan anak dan membantu mereka, bukan untuk kepentingan kita sendiri.

    Semoga membantu

    in reply to: Podcast Mengembangkan Motivasi Internal #4789
    Aar
    Keymaster

    Kak @astri-mayasari,

    Terima kasih sharingnya.

    Proses utama yang perlu dilakukan adalah mengobrol bersama pasangan untuk menyelaraskan strategi mengajarkan ibadah dan hal2 lain terkait agama. Penting sekali bagi orangtua untuk punya pendekatan yang kompak dan saling meneguhkan dalam mendidik anak-anak. Jika tidak, nanti akan menimbulkan kebingungan pada anak.

    Proses yang penting Anda lakukan adalah bercerita tentang dampak buruk dari ancaman itu kepada anak.

    Ancaman memang sering dilakukan oleh orang-orang dulu untuk mengajarkan sebuah hal dengan cara memaksa. Di era dulu, ancaman mungkin efektif karena anak takut kepada orangtua dan tidak punya pilihan selain menurut.

    Di era kini, ancaman semakin sulit digunakan untuk anak. Efektivitas ancaman semakin turun karena anak dibesarkan di zaman yang membuka diri untuk dialog dan pengertian. Ancaman bahkan justru bisa menjauhkan anak dari nilai-nilai yang ingin ditanamkan karena anak melakukan perlawanan.

    Jadi, PR besarnya adalah mengubah komunikasi dan pendekatan kepada anak.

    Pendekatan yang penting dilakukan menggunakan 2 prinsip:

    • Gembirakan, jangan ditakut-takuti
    • Permudah urusan, jangan dipersulit

    Pola yang bisa dan perlu lebih ditekankan adalah:

    • sering mengobrol bersama anak tentang sifat Allah sebagai Yang Maha Pengasih dan sholat sebagai cara berkomunikasi dengan yang dikasihi
    • orangtua menunjukkan teladan hubungan yang mesra dan penuh kecintaan dengan Allah saat beribadah ibadah
    • ibadah dilihat sebagai kebutuhan dan kebahagiaan, bukan kewajiban dan yang ditakuti

    Demikian masukan yang bisa saya sampaikan, kak.

    Selama ancaman masih jalan terus, kemungkinan pemberontakan dan ketakutan anak akan terus berlanjut.

    Jadi, fokus utamanya bukan membuat anak tidak takut, tetapi menghilangkan sumber ancaman dan menggantikannya dengan pola yang lebih sehat.

    Semoga berkenan ..

    🙏

    in reply to: PDKT-in suami tentang homeschool & Support komunitas. #4791
    Aar
    Keymaster

    Kak @sriwulan-wp

    Terima kasih pertanyaannya.

    Selamat untuk proses HS yang dijalani untuk anak kedua. Selamat atas izin pasangan dan sekarang saatnya berproses bersama anak untuk mewujudkan hal2 yang ada di dalam kepala menjadi aksi keseharian yang asyik bersama anak-anak.

    1. Meyakinkan Pasangan

    Dalam konteks HS untuk anak yang sudah pernah bersekolah, salah satu isu besarnya memang pertemanan. Ini bukan hanya isu untuk pasangan, yang terutama justru pada anak.

    Anak sudah mengenal teman dan menganggap pertemanan adalah hal yang sangat penting. Sekolah dilihat sebagai kesempatan untuk main bersama teman yang banyak. Pertemanan sering dianggap lebih penting daripada urusan pelajaran.

    Nah, kondisi ini yang membuat proses pengambilan keputusan HS terkait anak yang sudah bersekolah menjadi lebih rumit. Yang dibutuhkan bukan hanya meyakinkan pasangan, tetapi juga anak.

    Itu berarti, Ibu (siapapun yg berinisiatif mau HS), perlu memikirkan rencana aksi terkait:

    • kegiatan belajar yang asyik dalam keseharian
    • cara anak mendapatkan teman dan mengasah keterampilan sosialnya

    Hal-hal seperti ini didiskusikan bersama anak dan dipraktekkan.

    Misalnya, orangtua sering mengadakan kegiatan belajar melalui memasak, percobaan, traveling, dll (di hari libur) sehingga bisa mengatakan kepada anak: “Nanti kalau HS kita akan sering melakukan kegiatan seperti ini.”

    Terkait sosialisasi, buatlah pilihan yang ada yang bisa dilakukan dan diskusikan bersama pasangan & anak.

    Demikian, kak.

    Proses pengambilan keputusan dalam HS sangat krusial, terutama untuk anak usia sekolah dan pasangan. Jika kakak bisa membuat prosesnya berjalan mulus, itu akan mempermudah proses HS di dalam tahapan-tahapan selanjutnya.

    Terkait pasangan, setiap orang memiliki concern yang berbeda-beda.

    Proses meyakinkan yang paling efektif adalah bertemu dengan praktisi HS dan melihat anak2 HS. Ini bisa dilakukan dengan cara ikut kegiatan2 yang ada keluarga HS-nya sehingga ada kesempatan mengobrol dan sekaligus melihat interaksi sosial anak2 HS.

    Contohnya, mencari informasi ttg kegiatan pramuka HS di Bandung atau kegiatan lain; kemudian menyempatkan diri untuk hadir dan bersilaturahmi dg praktisi yg dikenal.

    Proses semacam ini, walaupun tidak bisa dilakukan setiap saat, biasanya sangat efektif untuk menjadi input dalam proses pengambilan keputusan terkait HS.

    2. Komunitas HS

    Proses menjalani homeschooling tidak harus berkomunitas dengan sesama praktisi HS. Keluarga kami pada awal menjalani HS menjalaninya dengan siapapun, tidak dengan komunitas HS. Bahkan, pada waktu itu komunitas online juga belum ada.

    Tapi kami terus berupaya mencari teman secara bertahap, salah satunya dengan membuat Yahoogroups sekolahrumah (saat ini sudah tidak ada). Dari sana kami bertemu teman2 online, yang selanjutnya menjadi teman offline ketika bertemu.

    Kami baru mulai berjejaring dan mencari teman2 HS secaran offline setelah sekitar 10 tahun menjalani HS. Caranya adalah dengan membuka rumah dan membuat kegiatan bersama. Kami juga sering jalan main mengikuti kegiatan2 bersama praktisi HS satu kota atau main ke kota lain.

    Jadi, komunitas HS ini fungsinya adalah menguatkan kita. Silakan ditimbang sesuai kondisi. Jika komunitas online dirasa masih mencukupi, tentu saja tak apa-apa. Apalagi jika dari interaksi online kemudian Anda bisa menjalin persahabatan dg praktisi lain.

    Nah, dari persahabatan online itu, biasanya akan menjadi semakin dekat saat ada kesempatan bertemu dan bertatap muka.

    Demikian kak, semoga membantu.

    🙏

    in reply to: Podcast Perbedaan Kondisi Homeschooling dan Sekolah #4794
    Aar
    Keymaster

    Kak @astri-mayasari,

    Salah satu sumber FOMO adalah kita belum merasa nyaman dengan diri kita dan yang kita miliki.

    Pertama, agar tidak FOMO, PR kita adalah mendapatkan keberhasilan-keberhasilan kecil yang penting dan bermakna untuk kita, apapun bentuknya. Semakin sering mendapatkan keberhasilan kecil, semakin kita akan merasa tenang dan baik2 saja hidup kita.

    Jika kita puas dan bahagia dengan hidup kita dan pertumbuhan anak-anak, pencapaian orang lain tidak akan terlalu mempengaruhi kita.

    Kedua, kita menerima keunikan anak kita dan bisa mengolahnya menjadi pencapaian-pencapaian kecil yang sesuai dengan dia. Walaupun ada anak lain yang berprestasi atau terlihat keren, kita lebih tenang karena anak kita pun keren dengan keunikannya.

    Dalam pengalaman keluarga kami, kami tidak FOMO dengan anak2 yang juara aneka Olimpiade atau punya bacaan yang keren, serta dapat aneka penghargaan. Sebab, anak2 tetap bertumbuh baik dan memiliki pencapaian yang sesuai dirinya.

    Walaupun Duta menerimanya catur (sport yg tidak terlalu populer dan bukan hiburan massal seperti renang, basket, dll), kami belajar menerimanya. Yang penting dia sudah melakukan upaya terbaik di area itu.

    Ketiga, penting untuk punya sahabat dan teman main yang satu “energi” dengan kita, yang bisa ketemuan, mengobrol dan curhat bersama. Keberadaan teman seperjalanan akan membantu kita lebih tenang dan membantu meregulasi emosi-emosi yang kita miliki.

    Demikian kak, semoga membantu

    🙏

    in reply to: Mengelola Jadwal Anak #4795
    Aar
    Keymaster

    Kak @astri-mayasari,

    Terima kasih pertanyaannya.

    1. Jadwal Kegiatan Anak

    Jika anak tidak mau membuat jadwal karena alasan mau spontan, itu berarti anak belum memahami alasan membuat jadwal.

    Yang perlu dilakukan adalah berdiskusi dengan anak:

    • “Mengapa perlu berlatih membuat jadwal?”
    • “Karena saat kita dewasa, banyak kegiatan yang tidak bisa dilakukan dengan spontan. Banyak hal yang harus disiapkan dulu atau berhubungan dengan orang lain. Memasak tidak bisa spontan karena harus membeli bahan untuk dimasak. Bikin film tidak bisa spontan karena ada orang lain yang terlibat. Bikin rumah dan jembatan juga tidak bisa spontan karena berlangsung berhari-hari. Itulah sebabnya kamu perlu belajar bikin rencana, bukan hanya melakukan kegiatan spontan dan yang disukai.”
    • “Kamu beruntung karena tidak sekolah. Anak sekolah tidak bisa memilih kegiatannya dan harus mengikuti apapun yang dijadwalkan. Walaupun kamu bisa memilih jadwalmu, bukan berarti kamu boleh suka-suka, tetapi kamu perlu mengasah ototmu.”
    • “Belajar dan bekerja itu tidak boleh berdasarkan mood. Ada hal2 yang harus dikerjakan karena penting, ada hal yang memang dikerjakan karena suka. Misalnya Bunda. Apa yang terjadi kalau Bunda males masak dan males beli makanan? Apakah Ayah boleh tidak berangkat kantor/bekerja karena lagi nggak mood?”
    • “Kalau kamu tidak mau bikin rencana kegiatan setiap malam, bagaimana kalau kita bikin rencana kegiatan dalam satu minggu? Kegiatannya nanti langsung kita atur setiap hari: Senin apa, Selasa apa, Rabu apa, dst”

    Nah, tugas orangtua adalah menuliskan jadwal yang sudah rutin (mengaji, matematika, dll) + kegiatan hasil kesepakatan dengan anak mingguan tadi.

    2. Kegiatan IXL & Reading Eggs

    IXL dan Reading Eggs adalah alat belajar. Bisa tetap digunakan, bisa tidak digunakan.

    Pertanyaannya, apa goal kakak? Kalau anak tidak mau, apakah boleh? Lalu, apa penggantinya?

    Ini semua ada di wilayah keputusan keluarga.

    • Ada keluarga yang tetap memaksa anaknya belajar memakai IXL & Reading Eggs, suka atau tidak suka harus dilatih dan dipelajari.
    • Ada keluarga yang tidak memakai IXL dan Reading Eggs, tetapi mencari alat lain untuk belajar matematika dan Bahasa Inggris. Belajar matematika dan bahasa Inggris tetap harus, tapi memakai alat lain, bisa berbentuk aplikasi atau kursus (misalnya Sempoa, dll)
    • Ada keluarga yang tidak memakai IXL dan Reading Eggs, serta tidak mencari gantinya. Keluarga ini tidak menganggap Math & English sebagai hal yang “wajib” dipelajari anak.

    Keluarga kami masuk yang pertama: anak tetap harus melakukan dan kami temani prosesnya. Kami tidak menerima kata tidak mau dan bosan. Untuk hal terkait yang wajib, tidak ada kata tidak mau. Jika bosan boleh istirahat atau libur (disepakati beberapa hari) tapi nanti jalan lagi.

    Demikian kak, semoga membantu

    🙏

    in reply to: Podcast Evaluasi dalam Homeschooling #4800
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @luana-yunaneva
    Karena anak belum terdaftar di PKBM, proses dokumentasi fungsinya adalah sebagai alat evaluasi personal untuk orangtua, serta alat komunikasi dengan keluarga.

    Dengan memiliki dokumentasi, Anda punya data tentang kegiatan2 yang dilakukan oleh anak dan pertumbuhan.
    Karena usia 6 tahun berada di antara usia dini dan usia sekolah, kakak bisa mencoba membuat dokumentasi dengan template untuk anak usia sekolah.

    Di usia sekolah, tidak ada sebuah standar acuan seperti saat anak usia dini ada parameter tumbuh kembang anak. Orangtua bisa menggunakan acuan kurikulum yang dipilih atau sesuai preferensi keluarga, misalnya: catatan terkait kemampuan literasi (membaca, bahasa Inggris), terkait perkembangan logika (matematika & sains), agama, pengetahuan umum, keterampilan2 lain yang diasah selama durasi pengamatan.

    Apakah kebayang, kak?

    🙏

    in reply to: Perkenalan Huruf A #4803
    Aar
    Keymaster

    Apakah kak @kartika-kartika sudah bisa mengunduh?

    Kalau belum, kakak bisa mendaftar keanggotaan Premium Printables. Kakak bisa menghubungi tim admin di: https://wa.me/628111301710

    Jika sudah, kakak tinggal print file PDF yang sudah diunduh di gawai kakak.

    Semoga membantu

    in reply to: Perkenalan Huruf A #4805
    Aar
    Keymaster

    Kak @sumarni-miftahul-wajihah

    Terima kasih pesannya. Pagi ini saya mencoba mengunduh materinya dan tidak ada masalah.

    Apakah boleh diperjelas masalah yang kakak alami?

    • Apakah kakak bisa mengunduh file-nya?
    • Apakah file yang diunduh tidak bisa di-print?
    • Boleh disertakan screenshot pesan kesalahan (kalau ada) yang terjadi?

    Terima kasih 🙏

    in reply to: eBook Pedoman Gizi Seimbang #4808
    Aar
    Keymaster

    Kak Astri,
    Boleh dicoba download menggunakan VPN. Kakak bisa menggunakan browser Opera, Tutorial bisa dilihat di sini: https://www.youtube.com/watch?v=fUVmXzkGdqA

    Kami mohon maaf tidak bisa mengirimkan file2 kelas ini melalui WA atau email karena banyak sekali file-nya. Kecuali ada kasus khusus, hanya 1 file.

    Semoga membantu 🙏

    in reply to: Mengelola Jadwal Anak #4809
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @mei-diana-wati

    Terima kasih sharingnya.

    Untuk mengelola jadwal anak, sebaiknya tidak diatur harian. Buatlah jadwal mingguan yang komposisinya:

    1. Kegiatan eksternal: PKBM, les, klub, komunitas, keagamaan (misalnya: mengaji), dll

    2. Kegiatan wajib yang dianggap penting oleh orangtua (di keluarga kami, yg wajib adalah Math & English, kami sediakan alat bantu belajarnya berupa aplikasi)

    3, Kegiatan proyek & spontan

    Nah, dari kegiatan tersebut yang bisa dinegosiasikan adalah nomor 3. Nomor 1 & 2 sudah pasti dan terjadwal sehingga pasti dilakukan.

    Dengan membuatnya secara mingguan, kita tidak setiap saat melakukan diskusi bersama anak.

    Pastikan juga mendiskusikan bersama anak dan membangun mindset anak bahwa:

    • anak tahu fungsi jadwal untuk membuat kegiatan teratur dan bertumbuh dalam jangka panjang. Kalau bikin nasi goreng bisa spontan, tapi kalau bikin jembatan/rumah harus direncanakan. Orang belajar agar bisa melakukan hal2 yang baik dan besar
    • belajar adalah untuk kepentingan anak dan menyiapkan bekal masa depan. Belajar tidak bisa hanya spontan dan suka-suka. Belajar harus ditekuni supaya bisa menjadi “ahli”
    • anak homeschooling jadwalnya bisa longgar, tetapi bukan berarti suka-suka. Kalau tidak mau belajar dan suka-suka, itu akan merugikan masa depan; jadi lebih baik bersekolah saja. Jelaskan hal ini pada anak agar mereka memahami konsekuensi menjalani homeschooling.’

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: eBook Membangun Logika Anak Prasekolah #4811
    Aar
    Keymaster

    Seperti yang tertulis, bagian ini materinya berbentuk ebook, kak 🙏

    in reply to: eBook Pedoman Gizi Seimbang #4814
    Aar
    Keymaster

    Muncul pesannya apa, kak Astri..

    Soalnya saya bisa membuka file-nya 🙏

    in reply to: Video Inspiratif: Anak Meneladani Orangtua #4817
    Aar
    Keymaster

    Kak @luana-yunaneva

    Kakak bisa klik tombol Unduh, videonya akan muncul dan bisa ditonton/diunduh kak.. 🙏

    in reply to: Webinar Strategi Belajar Homeschooling #4818
    Aar
    Keymaster

    Kak @anasril-agusri

    Selamat untuk ketertarikan ananda pada lego dan ketekunannya belajar serta berproses.

    Dalam proses pendidikan anak, khususnya homeschooling, ada 2 area yang perlu diasah oleh anak:

    1. Hal penting (non-negotiables).

    Ini adalah hal-hal yang dianggap penting oleh orangtua untuk kepentingan anak jangka panjang. Anak perlu belajar setahap demi setahap secara terus-menerus sepanjang tahun. Tugas orangtua menetapkan apa yang dianggap penting dan perlu dipelajari anak, serta mencari cara belajar yang sesuai.

    Misalnya, di keluarga kami, yang basic adalah Math & English. Itu harus dipelajari anak, bukan karena dia suka, tetapi karena penting. Tidak ada pilihan tidak mau di sini. Walaupun anak ogah2an, prosesnya tetap dilakukan.

    Tugas orangtua adalah menjelaskan mengapa hal2 tersebut penting untuk anak dalam jangka panjang.

    Di keluarga kami, alat belajar yg kami gunakan adalah materi online: IXL (Math & Language Art) dan Reading Eggs. Ada keluarga lain yang pakai les, kelas Zoom, dll.

    2. Pengembangan minat

    Proses lain adalah mencari minat dan kekuatan anak. Dalam contoh kakak, kegiatan menekuni Lego adalah minat. Proses yang perlu dilakukan orangtua adalah membuat minat terhadap lego menjadi pintu mengasah karakter dan skills.
    Contohnya:

    • bertekun
    • bekerja keras
    • peduli pada kualitas
    • bisa menerima feedback
    • kreativitas

    Skills:

    • terkait langsung dengan lego, misalnya: lego construction yang tingkat kesulitannya semakin meningkat
    • yang tidak terkait langsung: skills bercerita, bekerja dengan rapi & terstruktur, skills menggambar, membuat video, berlogika, dll

    Tugas orangtua adalah mengenali karakter & skilsl yang bisa diasah (tidak harus melalui les) dan mengasahnya setiap waktu.

    3. Fokus Awal

    Untuk anak usia 8 tahun, fokus yang paling penting adalah mengolah minat (terhadap Lego) menjadi pendidikan karakter dan skills. Asah kemampuan terkait Lego. Kenali dan cari tahapan pertumbuhan skills yang ingin diasah. Cari “pelatih” dan diskusikan dengan pelatih (jika ada).
    Jika prosesnya masih awal dan tidak mau memakai pelatih (eksternal), tidak apa-apa juga. Itu berarti orangtua perlu belajar tentang dunia Lego dan tahapan proses-proses mengasah skills terkait Lego.

    Dunia Lego itu sangat luas, kak. Saya tidak mendalaminya, tapi secara umum adalah memanfaatkan Lego untuk:

    • Engineering & Problem Solving. Itu berarti anak belajar terkait mekanik lego, membangun sesuatu yang bisa bergerak, robotika, belajar coding, dll. Ujungnya bisa menjadi pintu anak tertarik dunia teknik (itu berarti perlu diperkuat kemampuan matematikanya).
    • Desain & Arsitektur. Itu berarti anak memanfaatkan lego untuk desain, membangun bentuk tertentu, belajar tentang bangunan, desain memakai aplikasi, dll. Ujungnya anak bisa menjadi arsitek, desainer, atau lego constructor.
    • Storytelling & Creative Thinking. Kegiatan membuat lego digabungkan dengan pemicu agar anak menceritakan. Orangtua terus mengasah kemampuan anak bercerita dan presentasi secara berkualitas.

    Demikian, kak. Cara paling mudah adalah melihat Lego sebagai jalan untuk pertumbuhan, belum tentu nanti menekuni Lego terus. Jika pun nanti terus menekuni Lego, skills dan kemampuannya terus meningkat.

    4. Kompetisi

    Cara mengetahui “bakat” atau kekuatan anak adalah:

    • melihat apakah dia bisa terus bertumbuh dan belajar ketika materi belajarnya semakin sulit
    • kualitas karyanya keren

    Kompetisi adalah salah satu cara menilai kemampuan, tapi bukan satu-satunya.
    Seperti belajar bela diri, anak tidak harus ikut kompetisi. Kualitas kemampuannya bisa diukur dengan naik level (sabuk) terus hingga menjadi pendekar.

    Belajar piano juga tidak harus berkompetisi. Yang penting levelnya naik terus hingga memiliki sertifikat kemampuan di dunia piano.

    Menggambar juga tidak harus berkompetisi. Yang penting dia menemukan style-nya, tekniknya semakin berkembang dan dia mendapatkan “positioning”, serta hasilnya bermanfaat bagi orang lain.

    Jadi, kompetisi bukan satu-satunya alat uji. Yang penting skills dan standarnya naik terus.

    Lego memang tidak punya sertifikasi resmi, tapi ada alternatif utk mengasah skills, misalnya:

    Beberapa lembaga menawarkan kursus berbasis Lego + coding/robotik dengan sertifikat penyelesaian program. Levelnya berjenjang, seperti:

    • Basic Engineering with Lego
    • Intermediate Robotics
    • Advanced Design Challenge

    Meskipun bukan dari Lego langsung, sertifikat ini tetap bernilai untuk menunjukkan kemampuan.

    Atau, Anda bisa mencari kursus/kelas online yang mengeluarkan sertifikat, seperti Udemy, Coursera, dl..

    Demikian kak, semoga membantu

Viewing 15 posts - 16 through 30 (of 766 total)
Scroll to Top