Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterMohon maaf atas kendala di server yang terjadi.
Berikut ini link alternatif untuk mengunduh Panduan Gizi Seimbang:
Aar
KeymasterKak @anasril-agusri
Contoh2 kegiatan memasak, DIY, dll adalah bentuk keterampilan melakukan olah tubuh yang biasanya berdampak pada kemampuan menghasilkan karya. Ini adalah keterampilan penting, tapi di sekolah dulu sama sekali tidak diajarkan karena yang lebih dipentingkan adalah kecerdasan (pengetahuan dan wawasan) sehingga tubuh kita tidak terlatih melakukan pekerjaan2 menggunakan tangan tersebut.
Selain pekerjaan tangan, banyak sekali karya non-fisik yang bisa dibuat dan bisa menjadi pintu masuk menciptakan manfaat, misalnya:
- menulis
- membuat foto
- videografi
- bernyanyi
- bermain musik
- bercerita
Di luar itu, kemampuan berorganisasi dan melayani orang lain adalah pintu masuk untuk menciptakan manfaat.
Jadi, pintu masuk untuk mengajarkan kemampuan berkarya dan mencipta manfaat itu sangat lebar, Kakak bisa memulainya dengan kekuatan yang kakak miliki dan kakak gunakan untuk hidup saat ini.
Jika kakak ingin bertumbuh, kakak bisa mengasah diri untuk belajar keterampilan-keterampilan lain. Pertumbuhan keterampilan personal ini akan menjadi proses yang bagus sekali untuk Anda dan anak-anak. Anak merasa ibunya masih terus belajar. Ibu juga bisa lebih berempati kepada anak ketika menemani mereka saat mengalami kesulitan dalam belajar.
Semangat bertumbuh, kak!
ππ₯Aar
KeymasterTerima kasih kak @anasril-agusri untuk sharing pengalamannya.
Betul sekali. Jika kita ingin anak-anak kita memiliki hati yang baik sebagai pemandu hidup dan pengambilan keputusan-keputusannya, proses di rumah terkait empati dan nilai-nilai kepedulian pada kehidupan itu perlu kita bangun; bukan hanya kecerdasan mereka saja.
ππ€©
Aar
KeymasterKak @Ita
Secara umum, dokumentasi adalah alat bantu untuk meningkatkan kualitas homeschooling.
Tujuannya adalah membantu orangtua agar memiliki data tentang anak yang bisa menjadi pemandu mengambil keputusan-keputusan dalam homeschooling.
Apakah harus dibuat secara formal? Tidak ada keharusan.
Jika proses membuat dokumentasi yang terstruktur dan tertulis dirasakan terlalu memberatkan sehingga bebannya dirasakan lebih besar daripada manfaatnya, maka tidak perlu dilakukan.
Dalam kondisi seperti itu, kita kembali pada prinsip2 yang lebih basic.
Jika proses-proses yang kakak lakukan saat ini dirasakan sudah cukup, maka silakan dilanjutkan.
Inilah kesempatan dan fleksibilitas yang kita miliki dalam homeschooling.
Semoga jawaban ini membantu ya, kak. π
Aar
KeymasterKak @astri-mayasari
Kegiatan latihan disesuaikan dengan anak. Kita perlu belajar untuk fleksibel dan menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Jika butuh penyesuaian, lakukan penyesuaian sesuai kebutuhan lapangan dan tidak perlu merasa bersalah.
Jika anak butuh bantuan, berikan petunjuk, pelatihan, dan pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing. Karena setiap anak bisa memiliki kebutuhan yang berbeda-beda.
Di keluarga kami tak ada jangka waktu 1 bulan. Semua dilatih bersama-sama dan sering dilakukan.
Misalnya: mencuci piring dilakukan bergantian. Standarnya anak membantu membawa piring kotornya ke tempat cuci. Yang mencuci bergantian, kadang juga kami.
Setiap kegiatan dilihat sebagai latihan, bukan tugas. Artinya, fungsi anak adalah membantu, bukan bertanggung jawab. Anak sedang belajar dan berlatih.
Dengan sudut pandang ini, anak tidak merasa terbebani. Jika mereka sedang capek, dimaklumi. “Ok, hari ini Bunda bantuin.. besok kamu coba latihan lagi yaa..”
Jangan lupa membangun narasi dan cerita yaa..
“Kalian tahu nggak mengapa perlu latihan ini? Karena kita sekeluarga satu tim, butuh saling bekerja sama. Kalau semuanya Bunda yang ngerjain dan terus Bunda kecapekan sampai pingsan gimana? Kalau kita bisa bekerjasama menyelesaikan pekerjaan rumah, Bunda jadi punya waktu banyak untuk berkegiatan bersama kalian.
Semoga membantu..
Aar
KeymasterHalo kak @antik.ernawati
Tentu saja boleh, kak.
Proses mengasah keterampilan melakukan perjalanan mandiri dan kegiatan travelling itu dilakukan bukan hanya 1 kali, tetapi berkali-kali, selama bertahun-tahun.
Prosesnya juga bertahap sesuai kondisi anak dan keluarga.
Jangan takut melakukan inisiatif kegiatan anak.
Kenali tujuan Anda dan kondisi Anda. Lakukan hal yang terbaik untuk anak dan keluarga.
Sebuah hal dinilai baik jika:
- hasilnya selaras dengan tujuan yang ditetapkan
- prosesnya dinikmati
- kegiatannya terkelola dengan baik (tidak memberatkan)
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
Keymasterkak @heni-soraya,
Melihat keadaan anak yang bercanda setiap saat, mungkin salah satu teknik pengelolaannya adalah pemisahan ruang saat sedang melakukan kegiatan yang membutuhkan fokus.
Misalnya: kakaknya di kamar, adik di ruang tamu.
Di luar itu, mereka tetap bisa melakukan kegiatan bersama dan saling mendukung.
Semoga membantu ya kak..
π
Aar
KeymasterWaβalaikum salam wr wb,
Kak @heni-soraya
Betul sekali. Tantangan yang kita hadapi bersama anak-anak terus berubah-ubah setiap waktu. Satu masalah berhasil diselesaikan, muncul masalah baru yang lain.
Ini seperti naik kelas dan kehidupan kita. Setelah naik kelas bukan berarti tidak ada masalah. Masalah baru akan muncul lagi di kelas baru yang menjadi tantangan untuk diselesaikan.
Demikianlah pertumbuhan yang terjadi dalam hidup kita.
Terkait distraksi yang dialami anak karena banyak bercanda, menghabiskan banyak waktu, membuat yang wajib tidak terlaksana ada beberapa catatan saya:
1. Persaudaraan yang kuat
Saya belum terbayang kondisinya. Secara umum, bercanda bersama saudara adalah hal yang baik. Itu menunjukkan anak punya hubungan yang dekat bersama saudaranya.
Pertanyaannya:
- kapan dan seberapa lama proses bercandanya sehingga menghabiskan banyak waktu?
- a[a bentuk kegiatan yang wajib yang dianggap tidak selesai karena bercanda? Apakah semua kegiatan wajib? Atau kegiatan wajib tertentu?
2. Strategi kegiatan wajib
Strategi utama untuk memastikan bahwa anak-anak menyelesaikan kegiatan wajib adalah meletakkannya di pagi hari. Anak tidak boleh melakukan kegiatan lain sebelum kegiatan2 wajib selesai.
Selain itu, kegiatan wajib berarti ada kepentingan besar orangtua di sana. Oleh karena itu, biasanya kita perlu mengalokasikan waktu untuk menjaga dan memastikan kegiatan wajib itu dijalankan.
Termasuk di dalam bentuk pengawasan adalah mencari taktik di lapangan agar anak bisa fokus. Cara yang paling utama adalah menghilangkan hal-hal yang menjadi sumber distraksi.
Jika sumber distraksi adalah saudaranya, saat sedang melakukan kegiatan waktu perlu dipisah di ruang berbeda sementara. Nanti kalau sudah selesai, mereka bisa melakukan kegiatan di ruang yang sama lagi.
Demikian kak, semoga membantu
π
Aar
KeymasterKak Anasril,
Untuk buku berbahasa Indonesia, rekomendasi kami adalah “Cinta yang Berpikir” karya Ellen Kristi. Buku ini membahas tentang metode Charlotte Mason, tapi secara umum sangat bagus untuk menambah wawasan tentang homeschooling dan parenting.
Buku berbahasa Inggris yang kami rekomendasikan karena lengkap dan mudah dipahami adalah: “The First Year of Homeschooling Your Child” karya Linda Dobson.
Untuk buku2 dari penulis lain kakak bisa mencari review-nya dari publik.
Semoga membantu
π
Aar
KeymasterHalo kak @anasril-agusri
Dari sisi menu belajar, yang kakak lakukan itu tidak apa-apa. Kakak bisa memilih menu yang dipelajari anak.
Yang perlu diperkuat adalah “strategi belajar” atau cara belajarnya.
Misalnya, dari kegiatan memasak banyak “pelajaran” yang bisa diperoleh sekaligus, misalnya: matematika (menimbang, satuan, penjumlahan, perkalian, dll); anak belajar menulis resep dan belajar bercerita tentang proses memasak (bahasa Indonesia), mengobrol dan mendiskusikan tentang bahan baku dan proses memasak.
Jadi, jangan hanya fokus pada aksi memasaknya, tetapi olah kegiatan memasak menjadi pembelajaran berbagai hal, termasuk stamina bekerja dan kepedulian pada kualitas.Proses penting yang perlu dilatih dan diperkuat orangtua adalah: menghadirkan pengalaman belajar yang asyik dan seru. Jangan hanya menggunakan worksheet dan ceramah. Lakukan kegiatan jalan2, membuat lapbook, diskusi, dan proyek.
Tentang belajar bahasa Inggris, kunci pentingnya adalah paparan dan bersifat praktis. Misalnya: menonton film berbahasa Inggris, menyanyikan lagu, dibacakan buku berbahasa Inggris. Itu adalah cara2 belajar bahasa Inggris yang paling efektif.
Dalam pengalaman keluarga kami, cara2 tersebut (paparan dengan materi berbahasa Inggris) membuat anak2 bisa berbahasa Inggris dan tidak kursus.
Demikian, semoga membantu.
π
Aar
KeymasterAda 2 pendekatan yang bisa kita lakukan, kak.
Pendekatan t0p-down, kita mulai dengan mengidentifikasi goals yang ingin dikejar dan kemudian mengamati/mengukur kondisi yang ada saat ini. Berdasarkan kondisi saat ini, kemudian kita merancang stimulasi/proses untuk mendekatkan pada goals yang ingin diraih.
Pendekatan bottom-up juga bisa dilakukan. Dalam pendekatan ini, kita mulai dari pengamatan kondisi anak. Berdasarkan kondisi anak, kemudian kita merancang anak tangga berikutnya yang perlu dilakukan anak. Proses ini dilakukan terus-menerus untuk meningkatkan kualitas/kapasitas anak.
Semoga membantu..
Semangat berproses bersama anak-anak kak!
ππ€©Aar
KeymasterKak Luna,
Aspek kapasitas anak apa yang spesifik ingin diukur?
Secara umum, pengukuran dilakukan dengan membandingkan antara kualitas yang diinginkan dengan kondisi anak.
Sebagai contoh, jika ingin mengukur kapasitas personal, kita perlu mengenali aspek apa saja yang menurut kita penting untuk dimiliki anak. Contohnya, aspek manajemen emosi.
Kemudian kita menurunkan lagi aspek manajamen emosi apa yang menurut kita perlu dimiliki anak, misalnya:
- anak tidak tantrum
- anak bisa mengutarakan keinginan dengan jelas tanpa memaksa/marah/menangis
- anak bisa mengenali dan menceritakan emosi yang dirasakannya
- saat mengalami emosi yang intens (misalnya marah/sedih/kecewa) anak tidak menyakiti diri sendiri atau merusak barang
- anak menjalani keseharian dengan emosi yang stabil..
Kapasitas2 anak itu bersifat kualitatif dan tidak ada standarnya. Orangtua bisa mengidentifikasi sendiri aspek yang dianggap penting.
Setelah itu, untuk mengukur kondisi anak dilakukan melalui pengamatan.
Subyektif?
Iya kak, tidak apa-apa. Perilaku biasanya memang tidak bisa diukur murni objektif, tetapi mengandung subjektivitas pengamat.
Yang penting kita tetap berusaha menjaga objektivitas kita karena proses pengamatan dan pengukuran ini untuk kepentingan anak, bukan untuk kepentingan orang lain.
Aar
KeymasterKak Yunani,
Tidak ada panduan siap pakai untuk anak homeschooling dalam bahasa Indonesia.
Jangan membayangkan kurikulum itu sebagai dokumen yang mudah dibaca dan sekumpulan kegiatan yang tinggal dijalanikan oleh orangtua.
Untuk sekolah pun, kurikulum itu tak mudah dipahami oleh guru karena para guru tetap harus merancang lesson plan untuk kegiatan belajar anak-anak setiap hari.
Mengapa?
Karena kondisi lapangan itu unik. Kurikulum bersifat global dan menjadi panduan. Setiap pemimpin belajar perlu merancang kegiatan yang sesuai dengan anak dan kondisi lapangan.
Jika kakak mengacu pada sekolah, kurikulum bisa dilihat di sini: https://kurikulum.kemdikbud.go.id/
Cara paling mudah adalah menggunakan melihat daftar isi modul belajar atau buku pelajaran sekolah setiap jenjang. Itu pendekatan yang paling praktis.
-()-
Dalam HS, panduan itu tergantung kemampuan orangtua membuat visi pendidikan keluarga. Apa yang menurut orangtua penting untuk dipelajari anak? Itu yang menjadi panduan belajar dalam HS anak-anak.
Di keluarga kami, kami tidak menggunakan kurikulum seperti sekolah.
Anak-anak belajar matematika menggunakan kurikulum Amerika dan memakai aplikasi IXL Math. Ini adalah materi belajar numerasi..
Anak-anak belajar bahasa Inggris memakai IXL Language Art. Ini adalah materi belajar literasi.
Selebihnya, anak-anak fokus mengasah keterampilan belajar dan mengembangkan minat mereka menjadi keterampilan dan keahlian berkarya.
Demikian kak,
Kakak bisa memilih beberapa mata pelajaran seperti sekolah dan menggunakan buku sekolah atau cara belajar apapun. Selebihnya, kakak bisa melakukan kegiatan belajar lain yang dianggap penting dan bisa menjadi bekal hidup anak, misalnya: belajar agama, belajar bisnis, olahraga supaya sehat, dll.
Aar
KeymasterKak Yuliana,
Jika ingin memastikan proses kelulusan 3 tahun yang datang, kakak perlu mendaftarkan anak di PKBM. Tapi kalau kakak ingin istirahat dan fokus dulu pada kesehatan mental anak, pendaftaran di PKBM bisa ditunda tahun depan tidak apa-apa.
Yang pasti, syarat untuk mendapatkan ijazah Paket C adalah punya rapor lengkap kelas 10, 11, dan 12.
PKBM yang cocok untuk keluarga HS adalah yang legalitasnya baik (terakreditasi) dan fleksibel. Jika tidak fleksibel, maka kita perlu mencari lagi PKBM lain. Letak PKBM tidak harus satu kota dengan kita.
Sebagai contoh, PKBM yang saat ini menjadi naungan anak-anak kami adalah PKBM Piwulang Becik di Salatiga.
Panduan mencari PKBM bisa dilihat di sini:
Aar
KeymasterKak Yunani,
Kurikulum homeschooling itu banyak sekali jenisnya karena homeschooling itu bukan sekadar memindahkan “template” sekolah di rumah.
Setiap keluarga HS bisa menggunakan kurikulum yang ada, baik kurikulum sekolah versi Kemdikbud maupun kurikulum2 lain. Bahkan, ada keluarga homeschooling yang menjalankan homeschooling tanpa kurikulum.
Sebelum sampai kurikulum, PR orangtua adalah menjawab pertanyaan: apa yang (menurut orangtua) perlu dipelajari anak untuk bekal menjalani hidup yang baik?
Jika menurut orangtua materinya sama seperti sekolah, maka orangtua bisa menggunakan kurikulum merdeka seperti yang digunakan di sekolah. Kurikulum merdeka bisa dilihat di sini: https://kurikulum.kemdikbud.go.id/
Jika orangtua ingin mengembangkan model pendidikan yang berbeda dengan sekolah, orangtua perlu memikirkan lagi lebih dalam.
Pembahasan tentang kurikulum HS bisa disimak di sini: https://tumbuh.rumahinspirasi.com/courses/memulai-homeschooling-usia-sekolah/lessons/kurikulum-materi-belajar-pola-kegiatan/topic/kurikulum-materi-belajar-dan-pola-kegiatan/
-
AuthorPosts