Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 736 through 750 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Mindset & Framework Pengembangan Keterampilan Dasar #7283
    Aar
    Keymaster

    Betul sekali kak Nurul. Proses dari dalam itu lebih lambat dan berat di awal, tapi dampaknya banyak dari sisi psikologis anak. Ini seperti meletakkan pondasi yang benar untuk sikap hidup yang kuat berdasarkan nilai-nilai pribadi, tidak mudah tergoda oleh iming-iming dan ancaman dari luar diri.

    Langkahnya:
    1. Jelaskan dengan bahasa sederhana
    2. Minta anak mengulangi dengan bahasanya sendiri (untuk memastikan dia memang betul-betul paham)
    3. Praktikkan
    4. Nah, yang menantang memang di praktik. Jika ada masalah, ajukan pertanyaan seperti yang Anda tuliskan:

    ~ Mengapa tidak melakukan?
    ~ Apakah kakak mengerti?
    ~ Apakah mengalami kesulitan untuk melakukan? Kalau iya, kesulitannya apa? Apa yang bisa dilakukan untuk memudahkan?

    in reply to: Mindset & Framework Pengembangan Keterampilan Dasar #7285
    Aar
    Keymaster

    Kak Theresia,

    Keterampilan membaca mengandung banyak aspek, kak. Isinya bukan hanya keterampilan bisa membaca.

    Pada anak usia dini, fokus utama dalam literasi adalah kesukaan membaca (bukan keterampilan membaca). Itu adalah pondasi penting yang akan terbawa terus sampai remaja dan dewasa.

    Caranya bagaimana untuk membangun kecintaan membaca?

    Dengan menghadirkan budaya membaca di rumah.

    Biasakan membaca buku cerita dan dongeng sebelum tidur. Jika dilakukan setiap hari, itu akan menjadi budaya dan pondasi luar biasa untuk membangun kecintaan anak pada dunia literasi. Anak nanti tiba-tiba akan bertanya ini bacanya bagaimana, ini apa, itu apa, dst.

    Selain membacakan buku (read aloud), minta anak untuk bercerita atau menceritakan ulang buku yang sering dibacakan dengan keras oleh Bunda. Atau kakak meneruskan kalimat yang ada di buku… “Sang Kodok melompat ke ….” Melompat ke mana?

    Itu juga bagian dari proses belajar literasi.

    Jadi santai saja dulu untuk belajar membacanya. Tapi yang diperkuat kecintaan pada buku dan keingintahuan anak.

    Semoga membantu ya, kak.

    in reply to: Mindset & Framework Pengembangan Keterampilan Dasar #7286
    Aar
    Keymaster

    Agak susah menilai apakah yang kita lakukan benar atau salah. Salah satu tips untuk mengetahui dan tidak menduga-duga adalah dengan mengajukan pertanyaan langsung pada anak.

    “Apa yang kakak pikirkan?”
    “Apa yang kakak rasakan?”

    Kemudian, jawab dan jelaskan kondisi yang akan dihadapi anak dengan santai dan bercanda. Dibikin santai dan bercanda saja kak.

    “Coba bayangkan nanti kakak kuliah di luar negeri. Atau kakak jalan-jalan bersama teman-teman saat besar. Pasti seru, kan? Kalau begitu, apakah Bunda harus ikut kakak terus? hehehe…”

    in reply to: Mindset & Framework Pengembangan Keterampilan Dasar #7287
    Aar
    Keymaster

    Bagus kak Anggie. Berarti anak sudah mendapatkan proses belajar dari pengalamannya.

    Bagaimana feedback-nya?

    Tergantung pada nilai-nilai apa yang ingin Anda bagikan/ajarkan pada anak.

    Misalnya:
    a. Empati
    “Nah, berarti kalian harus lebih sayang sama Ibu, ya? Ibu setiap hari capek, tapi Ibu tidak apa-apa dan bahagia. Apalagi kalau kalian makannya banyak dan habis, hehehe…”

    b. Kerja Keras
    “Iya kak, banyak hal memang butuh kerja keras. Tapi Ibu nggak apa-apa dan bahagia. Oleh karena itu, kita perlu belajar berlatih sedikit demi sedikit. Kalau sering berlatih, otot kita akan jadi semakin kuat. Beban yang berat jadi biasa saja karena kita sudah sering berlatih. Seperti perenang/pelari yang latihan setiap hari, lama-lama mereka terbiasa dan tidak kelelahan walaupun berenang/berlari jauh.”

    c. Motivasi
    “Nggak secapek yang kelihatannya kok, kak. Ini karena kakak belum terbiasa saja. Nanti kalau kakak makin besar dan makin terampil, semua itu jadi terasa lebih ringan. Apalagi kalau nanti ada teknologi baru yang tinggal tekan tombol ya kak.. mau masak nasi, tekan tombol. Mau bikin sayur, tekan tombol. Mau cuci piring, tekan tombol. hehehe (anak diajak bercanda dan berkhayal)

    dll

    in reply to: Podcast Strategi dan Prinsip Belajar Keterampilan #7288
    Aar
    Keymaster

    Bagus kak Yunita, kalau ada kebijakan untuk membatasi dan mengelola penggunaan gadget saat anak usia dini. Gadget bisa menjadi alat belajar. Tapi untuk anak usia dini gadget seringkali menjadi sumber distraksi dan gangguan anak untuk berfokus. Bagi orangtua yang memiliki masalah fokus pada anak usia dini, salah satu tipsnya adalah mengurangi penggunaan gadget. Jadi, aktivitasnya sebagian besar diganti aktivitas yang sifatnya fisik.

    Bagaimana mengajarkan keterampilan dasar pada anak usia 2.5 tahun tanpa menggunakan video?

    Banyak aspek keterampilan dasar dan kita akan mempelajari 10 jenis keterampilan. Setiap keterampilan berbeda jenisnya, ada yang sangat bagus kalau dimulai sejak untuk usia dini, ada yang bisa dimulai ketika usia sekolah dan remaja.

    Salah satu yang bisa ditunda adalah keterampilan penggunaan teknologi (gadget). Jadi, tak ada masalah jika anak 2.5 tahun tak belajar menggunakan gadget. Bahkan itu hal yang bagus.

    Untuk anak 2.5 tahun, banyak keterampilan dasar yang bisa dipelajari. Misalnya: keterampilan berkomunikasi. Sering-seringlah mengobrol bersama anak, perbanyak bertanya dan mendengarkan cerita mereka. Goalnya adalah anak bisa mengartikulasikan (mengucapkan) kata-kata dengan jelas, bisa mengekspresikan perasaan dan pendapatnya, memperbanyak kosa kata.

    Keterampilan dasar literasi juga bisa dibangun dengan sering membacakan cerita atau mendongeng saat menjelang tidur. Itu adalah pintu pertama dan pondasi penting untuk membangun kecintaan membaca.

    Atau keterampilan melayani. Ketika anak mau bantu-bantu, berikan kesempatan dan bahkan dorong. Minta tolong anak mengambilkan barang. Minta tolong anak membawakan sesuatu. Jangan lupa untuk mengapresiasi jika anak berinisiatif menawarkan bantuan atau telah melakukan hal baik.

    Semua itu tidak ada yang memakai video dan gadget, kan?

    in reply to: Podcast Gambar Besar Keterampilan Dasar #7289
    Aar
    Keymaster

    Hai kak Retno,

    Journal itu bentuknya bisa bermacam-macam. Bisa sederhana punya ceklis harian. Ada yang lebih banyak tulisan. Atau lebih banyak gambar.

    Kunci pertama adalah memahami apa itu jurnal dan fungsinya.

    Jurnal adalah media untuk pengamatan, ekspresi, manajemen diri anak. Dalam kegiatan tertentu, anak-anak belajar membuat jurnal pengamatan tentang obyek atau kegiatan yang dijalani.

    Kami tidak mewajibkan anak-anak menjurnal. Tapi Yudhis (18 tahun) dan Tata (15 tahun) terlatih dan terampil membuat jurnal. Mereka beberapa kali melakukan kegiatan eksplorasi alam dan sosial yang melibatkan penggunaan jurnal sebagai alat dokumentasi pengamatan.

    Tata senang membuat jurnal tapi dia melakukannya sebagai alat ekspresi. Dia lebih banyak melakukan jurnal secara visual.

    Yang saat ini sedang belajar membuat jurnal adalah Duta (11 tahun). Setiap hari, salah satu kegiatan Duta adalah membuat jurnal. Isinya adalah daftar kegiatan yang akan dilakukan hari itu.

    Bagaimana membuatnya konsisten?

    Jika anak merasa mendapatkan manfaat nyata, dia akan melakukan. Jika orangtua yang merasa bahwa proses journaling itu penting, berarti orangtua yang perlu sering mengingatkan.

    in reply to: Podcast Gambar Besar Keterampilan Dasar #7290
    Aar
    Keymaster

    Kak Rosa,

    Menjadi blogger berkaitan dengan keterampilan menulis. Kunci pentingnya adalah anak sudah bisa menulis dan mengekspresikan pikiran/perasaan melalui tulisan.

    Fungsi blog sendiri ada 2:
    1. Alat untuk mendokumentasikan karya anak
    2. Alat untuk berbagi

    Untuk fungsi 1 prosesnya lebih untuk individu, tidak untuk dibagikan. Komen bisa dimatikan (jika dianggap perlu). Untuk yang seperti ini bisa dimulai dari SD akhir (sekitar kelas 5). Usia lebih muda juga bisa. Tapi prosesnya harus didampingi orangtua.

    Untuk fungsi ke-2 butuh kedewasaan dan kesiapan lebih karena tujuannya memang untuk dibagikan. Anak mungkin menulis review tentang buku atau film, menceritakan sudut pandang terhadap peristiwa, dll. Anak perlu tahu bahwa ada kemungkinan karyanya dikomentari orang lain yang bisa jadi setuju atau tidak setuju. Untuk yang seperti ini biasanya mulai sekitar 13 tahun.

    Dalam setiap proses, penting bagi orangtua untuk mengetahui dan mendampingi proses anak, terutama di awal.

    in reply to: Mindset & Framework Pengembangan Keterampilan Dasar #7300
    Aar
    Keymaster

    Kak Rosa,

    1. Betul mbak. Fitrah Based Education adalah kerangka yang bisa digunakan untuk membangun pondasi spiritualitas anak. Betul sekali, spiritualitas adalah hal yang dipraktekkan dan menjadi bagian dari diri, bukan hanya menjadi pengetahuan saja.

    2. Karena kondisi anak berbeda-beda, tidak ada patokan usia untuk menetapkan perkembangannya. Ada ideal semuanya sudah selesai pada saat usia 15 tahun, tapi dalam prakteknya seringkali lebih dari itu. Bahkan sebenarnya orangtua pun masih terus belajar dan memantapkan keterampilan personal berkaitan self-management. Jadi, lebih baik fokus pada proses stimulasi, bukan target usia.

    Expect less, stimulate more. Rendahkan ekspektasi hasil, perbanyak proses stimulasi. Jangan lupa untuk menikmati prosesnya

    3. Kondisi di rumah bersifat informal. Walaupun kita berusaha menjadikannya formal, proses-proses yang terjadi akan cenderung informal. Secara pribadi, saya lebih menyukai untuk menerima sisi informalitas rumah sebagai kenyataan yang perlu kita peluk. Berkaitan dengan tugas sekolah di masa karantina, peran orangtua diusahakan tetap informal dan fokus pada proses menyediakan lingkungan yang kondusif bagi anak. Proses belajar dorong agar menjadi milik anak sendiri.

    4. Ya, kita sedang membahas 10 keterampilan dasar anak, oleh karena itu contoh yang saya berikan juga terkait itu.
    Untuk proses pengembangan minat dan bakat anak tentu saja terus dijalankan. Proses evaluasi dan refleksi dilakukan sesuai kebutuhan dengan tujuan utama untuk menjadi feedback/umpan balik meningkatkan kualitas proses yang sudah dijalani.

    Semoga membantu yaa..

    in reply to: Mindset & Framework Pengembangan Keterampilan Dasar #7301
    Aar
    Keymaster

    Kak Siti,

    Tidak ada kata terlambat. Idealnya tentu saja sejak anak usia dini. Tapi kita bisa memulainya kapan pun.

    Kunci perubahan adalah kesediaan orangtua berbagi cerita mengapa sekarang dan ke depan berbeda dengan sebelumnya. Anda ceritakan pencerahan baru Anda dan manfaat yang diperoleh anak dengan proses-proses baru yang akan dijalani.

    Pastikan anak bisa menerima logika Anda dan tak melihat proses baru itu hanya sebagai beban, tetapi sebagai proses belajar.

    Dalam kondisi anak masih perlu sering diingatkan, itu sebenarnya kondisi yang umum. Sebagian besar keluarga mengalami tantangan ini dalam proses implementasi di lapangan.

    Salah satu kunci pendekatannya adalah tidak mengomeli (dari luar ke anak), tetapi menggali anak dengan pertanyaan. Hindari asumsi, perbanyak mengajukan pertanyaan:
    ~ apakah kamu tahu bahwa hal itu perlu dilakukan?
    ~ mengapa kamu tidak melakukannya?
    ~ apa dampaknya kalau kamu tidak melakukan?
    ~ apa yang bisa Bunda lakukan untuk membantumu supaya kamu melakukan tugas itu?

    Dengan pertanyaan2, kita menggali kesadaran internal anak. Pada saat bersamaan, kita juga berusaha memahami kondisi anak dan memikirkan solusi2nya berdasarkan jawaban anak (bukan berdasarkan asumsi kita sendiri).

    in reply to: Podcast Strategi dan Prinsip Belajar Keterampilan #7302
    Aar
    Keymaster

    Kak Fitri,

    Ada beberapa tips yang bisa dilakukan orangtua untuk menumbuhkan kesadaran anak pada kualitas proses/karya mereka.

    1. Ceritakan keseharian yang Anda jalani dan usaha keras Anda untuk meningkatkan kualitas. Pengalaman keseharian yang mereka lihat dan kedekatan emosional dengan Ibu bisa menjadi pintu membuka kesadaran anak.

    2. Jika kualitas proses/hasil pekerjaan anak belum bagus, kurangi omelan, perbanyak petunjuk teknis tentang cara melakukan yang lebih. Berikan instant feedback dan dengan intonasi suara data/netral. Misalnya, anak tidak bersih saat mencuci piring, langsung berikan petunjuk dan praktek tentang apa yang perlu diperhatikan saat mencuci agar piring bisa bersih dan tidak berminyak.

    3. Apresiasi inisiatif anak, apalagi ketika mereka melakukan kerja keras dan “extra work”

    4. Bacakan buku cerita inspiratif tentang para tokoh yang bekerja keras dan berjuang untuk memberikan yang terbaik

    5. Tonton film/video tentang proses latihan/kerja para tokoh: atlet, seniman, dll. Kalau ada yang dekat dengan dunia yang disukai anak atau idola anak. Berikan pesan kepada anak bahwa semua prestasi pasti membutuhkan kerja keras dan perjuangan untuk menghasilkan yang terbaik.

    Semoga membantu.

    in reply to: Mindset & Framework Pengembangan Keterampilan Dasar #7305
    Aar
    Keymaster

    Kak Adianti,

    Kelas ini memang membahas aspek lebih luar dan lebih teknis, yaitu tentang Keterampilan Anak.

    Aspek spiritualitas diserahkan kembali pada keluarga karena menyangkut dogma/doktrin yang berkaitan pandangan tentang dunia (worldview) yang sangat beragam.

    Tentang attitude kita akan bahas sebagian, terutama yang terkait proses membangun kebiasaan baik sebagai pondasi untuk mengembangkan keterampilan anak.

    Jika Anda punya pertanyaan spesifik tentang attitude yang terkait pengembangan keterampilan anak, silakan disampaikan sebagai bahan diskusi yang bisa memperkaya tema materi ini

    in reply to: Mindset & Framework Pengembangan Keterampilan Dasar #7306
    Aar
    Keymaster

    Betul sekali mbak Inge. Adaptabilitas adalah kemampuan penting yang perlu dimiliki anak-anak kita di tengah zaman yang sedang berubah ini.

    Kunci adaptabilitas adalah mindset yang terbuka (growth mindset) serta kapasitas untuk melenturkan diri. Alvin Toller menyebutnya dengan 3 keterampilan: learn, unlearn, dan relearn.

    Dalam materi Keterampilan Dasar Anak ini saya juga akan berbagi perspektif tentang profesi-profesi baru yang tidak konvensional untuk melenturkan sudut pandang orangtua tentang masa depan.

    in reply to: Podcast Kurikulum Untuk Homeschooling #7310
    Aar
    Keymaster

    Kak Mutiara,

    1. Betul kak, HS Usia Sekolah berarti HS untuk SD, SMP dan SMA
    2. Setiap kita beradapatasi dengan kondisi dan tantangan masing-masing. Jadi, memang tak ada sebuah standar atas proses yang ideal yang dicontoh.

    Dalam kasus Anda, itu jadwal untuk usia berapa tahun?

    Tentang bangun pagi:
    ~ Itu tergantung tolerensi dan nilai-nilai keluarga. Ada yang tidak mempermasalahkan. Ada juga yang mengharapkan jadwal yang lebih teratur dan lebih pagi. Selain isu waktu bangun, hal yang perlu dilihat juga adalah produktivitas. Anak-anak yang bangun siang kemudian produktif (membantu orangtua maupun belajar/mengembangkan diri) tentu saja akan berbeda dengan anak yang bangun siang dan tidak jelas kegiatannya.

    Tentang kegiatan belajar:
    ~ Usia anak berpengaruh. Jika Anda tidak bisa mendampingi cukup banyak, salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah menyediakan materi belajar yang siap pakai tanpa pengawasan. Dalam pengalaman keluarga kami, kami menyediakan materi belajar online seperti IXL Math dan Reading Eggs sehingga anak2 bisa melakukan proses pembelajaran mandiri tanpa keterlibatan yang banyak kami dalam proses pendampingan.

    Strategi umum:
    ~ Dengan keterbatasan waktu pendampingan karena ada kesibukan mengurus anak paling kecil (dan kesibukan rumah lain), salah satu strategi penting adalah fokus pada anak yang paling besar dan berikan usaha ekstra untuk membimbing dia agar bisa semakin mandiri. Kegiatan belajar anak nomor 1 digunakan juga untuk adik-adiknya dengan kompleksitas diturunkan. Proses ini biasanya bermanfaat untuk membantu mengelola keseharian sehingga lebih terkelola.

    Demikian kak. Jika ada pertanyaan lain atau informasi tambahan, silakan disampaikan.

    in reply to: Kurikulum, Materi Belajar dan Pola Kegiatan #7311
    Aar
    Keymaster

    Kak Mutiara,

    1. Betul kak, HS Usia Sekolah berarti HS untuk SD, SMP dan SMA
    2. Setiap kita beradapatasi dengan kondisi dan tantangan masing-masing. Jadi, memang tak ada sebuah standar atas proses yang ideal yang dicontoh.

    Dalam kasus Anda, itu jadwal untuk usia berapa tahun?

    Tentang bangun pagi:
    ~ Itu tergantung tolerensi dan nilai-nilai keluarga. Ada yang tidak mempermasalahkan. Ada juga yang mengharapkan jadwal yang lebih teratur dan lebih pagi. Selain isu waktu bangun, hal yang perlu dilihat juga adalah produktivitas. Anak-anak yang bangun siang kemudian produktif (membantu orangtua maupun belajar/mengembangkan diri) tentu saja akan berbeda dengan anak yang bangun siang dan tidak jelas kegiatannya.

    Tentang kegiatan belajar:
    ~ Usia anak berpengaruh. Jika Anda tidak bisa mendampingi cukup banyak, salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah menyediakan materi belajar yang siap pakai tanpa pengawasan. Dalam pengalaman keluarga kami, kami menyediakan materi belajar online seperti IXL Math dan Reading Eggs sehingga anak2 bisa melakukan proses pembelajaran mandiri tanpa keterlibatan yang banyak kami dalam proses pendampingan.

    Strategi umum:
    ~ Dengan keterbatasan waktu pendampingan karena ada kesibukan mengurus anak paling kecil (dan kesibukan rumah lain), salah satu strategi penting adalah fokus pada anak yang paling besar dan berikan usaha ekstra untuk membimbing dia agar bisa semakin mandiri. Kegiatan belajar anak nomor 1 digunakan juga untuk adik-adiknya dengan kompleksitas diturunkan. Proses ini biasanya bermanfaat untuk membantu mengelola keseharian sehingga lebih terkelola.

    Demikian kak. Jika ada pertanyaan lain atau informasi tambahan, silakan disampaikan.

    in reply to: Podcast Titik Awal Memulai Homeschooling #7314
    Aar
    Keymaster

    Dear mbak Mutiara,

    1. Betul. Proses berkegiatan mulai dari yang kecil dan sederhana, tapi berhasil diselesaikan. Keberhasilan itu membuat bahagia dan membuat kita ingin mengulanginya. Ini yang saya maksud dengan spiral positif.

    2. Bisa. Variasanya sangat beragam. Yang Anda contohkan adalah salah satu variasi.

    a. Mau belajar math tentang apa hari ini?
    Aku (anak) mau belajar tema ya xxxx

    b. Kamu mau proyek apa minggu ini?
    Aku mau masak lagi.
    Mau masak apa?
    Aku pengin bikin Chocolate Cookies.
    OK, kamu cari resepnya. Nanti kasih tahu Bunda ya.. kita lihat apakah kita punya bahan-bahannya.

    c. Mengapa kegiatan ini belum dikerjakan?
    Aku lagi sibuk ngerjain xxx
    Bagaimana rencanamu selanjutnya?
    Besok aku akan teruskan lagi kegiatannya.

    d. Kenapa kegiatan itu belum dikerjakan?
    Susah. Aku nggak bisa ngerjain.
    Apa yang kamu butuhkan? Kamu mau ditemani Bunda?
    Iya. Aku pengin lihat dulu caranya. Nanti aku kerjain sendiri

    3. Memperluas pengalaman dan jaringan pertemanan berarti ikut kegiatan macam-macam. Komunitas HS adalah salah satunya. Kegiatan lain bisa dilakukan di komunitas atau kelompok sesuai minat/hobi (tidak harus homeschooling)

    Semoga menjawab ya mbak..

Viewing 15 posts - 736 through 750 (of 766 total)
Scroll to Top