Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Waktu Belajar dalam Homeschooling #4738
    Aar
    Keymaster

    Iya kak,

    Yang dibutuhkan adalah aturan main yang jelas. Kemudian aturan main ditegakkan. Tidak ada jajan atau alternatif solusi untuk pelanggaran aturan main.

    Di awal mungkin anak akan marah dan meronta. Kuncinya adalah ketenangan dan konsistensi orangtua bahwa hal ini untuk kebaikan bersama.

    Tidak perlu marah dan bersuara tinggi, yang penting dijelaskan dan ditegakkan.

    Semangat berproses, kak!
    🙏

    in reply to: Waktu Belajar dalam Homeschooling #4740
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @herliani-lia

    Terima kasih pertanyaannya.

    Ada beberapa hal yang saya tangkap.

    Pertama, anak kedua tidak ada masalah makan, tetapi durasi makannya lama.
    Kedua, durasi lama ini terjadi juga pada anak pertama. Juga, terjadi pada Ibu waktu kecil dulu, hehehe… Betul begini kan, kak?

    Jika ingin mengajarkan durasi makan yang “wajar”, ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan:

    1. Kurangi distraksi
    TV, mainan, buku, atau aktivitas lain membuat fokus anak terpecah. Bukan karena ia sengaja mengulur waktu, tetapi karena perhatiannya berpindah-pindah.

    2. Buat batas waktu yang jelas dan konsisten.

    Misalnya, waktu makan sekitar 30–45 menit. Setelah itu makanan dibereskan. Tidak perlu marah atau mengomel, cukup menjadi aturan keluarga yang berlaku untuk semua.

    3. Libatkan anak dalam refleksi.

    Di luar jam makan, saat suasana santai, bisa bertanya: “Menurutmu, kenapa ya makanmu sering lama?” Kadang jawaban anak memberi petunjuk yang tidak kita duga.

    4. Pisahkan antara kebutuhan dan kenyamanan.

    Mencari penyebab durasi makan yang lama juga penting. Kalau memang belum lapar, mungkin porsi bisa dikurangi. Tapi kalau sebenarnya lapar namun terlalu banyak terdistraksi, yang perlu dibantu adalah fokusnya.

    5. proses belajar regulasi diri.

    Tujuan latihan makan dalam durasi “normal: bukan membuat anak cepat makan hari ini, melainkan membantu anak belajar mengenali kapan waktunya makan, fokus pada aktivitas yang sedang dilakukan, dan menyelesaikannya dengan baik. Ini termasuk kemampuan penting untuk hidup saat dewasa.

    Terkait kalimat kakak: “Aku ga mau cerewetin anakku karena dicerewetin itu ga enak.”. Ini spirit yang bagus, tapi perlu didalami.

    Kadang kita berpikir pilihannya hanya dua: cerewet atau membiarkan. Padahal masih ada pilihan ketiga: tegas tanpa cerewet.

    Misalnya, daripada mengingatkan 20 kali selama 1,5 jam, cukup satu atau dua kali dengan tenang: “Waktu makan tinggal 15 menit yaa.. itu itu meja makan kita bereskan.”

    Sering kali yang membantu anak berubah bukan banyaknya pengingat, melainkan kejelasan batas dan konsistensi orangtuanya.

    Demikian kak, semoga membantu 🙏

    in reply to: Podcast Manajemen Materi Belajar #4745
    Aar
    Keymaster

    Kak @astri-mayasari,

    Jika anak mengalami kegagalan (misalnya membuat rencana), maka yang perlu dilakukan adalah:

    1. Berempati dan menerima kekecewaan anak.

    “Kamu sedih ya karena rencana yang kamu buat gagal?”

    “Bunda juga pernah gagal bikin rencana.. waktu itu ..[ceritakan pengalaman kesedihan dan kegagalan Anda beserta penyebabnya].”

    2. Melakukan refleksi bersama

    “Kalau menurut kakak, kenapa rencana itu tidak terlaksana? Apakah karena sulit? Butuh waktu lebih banyak? Ada halangan dari luar?”

    Bantu anak mengidentifikasi. Jika anak belum bisa menyebutkan penyebabnya, orangtua boleh mengajukan pertanyaan berisi dugaan.

    “Mungkin nggak masalahnya karena A? Atau karena B? Atau karena C?”

    3. Mengambil pelajaran

    “Gimana supaya lain waktu tidak gagal lagi?”
    “Mungkin perlu disederhanakan targetnya ya?”

    “Atau mungkin perlu disiapkan alatnya?”

    [bantu anak melakukan troubleshooting]

    4. Tawarkan bantuan

    “Bagaimana kalau bikin rencana lagi, tapi kali ini Bunda temani. Kita perbaiki yg kemarin jadi penyebab masalahnya.”

    Demikian kurang lebih prosesnya, kak. Peran orangtua mendukung, sekaligus membimbing anak agar bisa melakukan refleksi dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.

    Pastikan perbincangan dilakukan dalam kondisi santai dan anak sudah reda emosinya. Percakapan ini bisa terjadi di beberapa waktu yang berbeda, tidak dalam satu waktu sekaligus.

    Semoga membantu 🙏

    in reply to: Podcast Mengasah Keterampilan Bertanya #4749
    Aar
    Keymaster

    Betul kak,
    Who bisa digunakan sebagai kerangka berpikir untuk menggali informasi/cerita terkait orang.

    in reply to: B1 Latihan Penjumlahan #4751
    Aar
    Keymaster

    Semangattt 🔥🔥🔥

    in reply to: B1 Latihan Penjumlahan #4752
    Aar
    Keymaster

    Semangatttt!

    🔥🔥🔥

    in reply to: Manajemen Orangtua Homeschooling #4753
    Aar
    Keymaster

    Selamat melanjutkan proses mendampingi anak-anak, kak @astri-mayasari… salah satu proses menantang dalam homeschooling adalah mencari pendekatan/cara yang sesuai dengan kondisi lapangan sehingga tujuan tercapai (kebutuhan orangtua) dan anak menikmati (kebutuhan anak).

    🙏🔥

    in reply to: Matematika di Dapur #4760
    Aar
    Keymaster

    Sama=sama, kak 🙏

    in reply to: Matematika di Dapur #4762
    Aar
    Keymaster

    Kak @eka-yuliana,

    Salah satu kemungkinannya adalah: di gawai kakak tidak ada PDF Reader sehingga file secara otomatis dibuka dengan aplikasi image editor (yang membuat gagal dibuka).

    Silakan coba unduh PDF Reader, misalnya Adobe PDF Reader dan buka file PDF-nya menggunakan PDF Reader yang ada.

    Semoga membantu 🙏

    in reply to: Podcast Mengembangkan Motivasi Internal #4768
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb,

    Kak @astri-mayasari.

    Terima kasih sharingnya, kak.

    Kalau menurut kakak, materi tugas-tugas di PKBM itu maknanya apa selain sekadar lulus dan punya ijazah? Apa gunanya untuk hidup? Seberapa banyak tugas PKBM dibandingkan dengan kegiatan2 lain yang bermakna untuk anak?

    Kondisi lapangan ini memang agak tricky. Anak-anak yang terpapar dengan aneka informasi ini semakin menuntut materi belajar yang relevan dengan kepentingannya.

    Ada beberapa skenario yang bisa dilakukan:

    1. Melihat kewajiban sebagai keterampilan hidup

    Tidak semua hal yang dilakukan terkait dengan hal yang disukai. Ada hal-hal yang penting dan harus dilakukan walaupun tidak disukai. Di dunia pekerjaan, ketika kita mencari uang, ketika di masyarakat & keluarga, sebuah hal dilakukan seringkali bukan karena senang, tetapi karena dianggap penting untuk dilakukan.

    Jadi, keterampilan melakukan hal yang penting itu perlu diasah. Ini seperti otot yang perlu dikuatkan.

    Misalnya:

    • ibu bisa jadi tidak suka memasak, tetapi perlu memasak untuk anggota keluarganya. Kenapa tidak beli saja? Karena itu mahal dan uang yang ada bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih penting, misalnya membeli buku buat kakak, biar kita bisa jalan ke luar, dll.
    • main acara keluarga mungkin tidak asyik, tetapi harus dilakukan karena itu adalah cara kita menjalin hubungan dengan keluarga dan orang2 yang kita sayangi. Mengapa keluarga penting? Karena keluarga adalah tempat kita saling bergantung dan mendukung.
    • ayah pekerjaannnya xxxx. Di tempat kerja, ayah harus melakukan yyyy, padahal ayah tidak suka tapi harus dikerjakan. Kalau ayah tidak mau, ayah bisa dikeluarkan dari pekerjaan dan kita tidak punya uang untuk makan. Nah, ayah bisa melakukan seperti ini karena sejak kecil terbiasa melakukan hal-hal yang penting walaupun tidak suka atau kadang ayah nggak ngerti gunanya apa.

    2. Melampaui ijazah

    Ketika anak dijelaskan terkait ijazah dan kuliah, mungkin mereka belum terbayang. Jadi, prosesnya perlu diulik lebih dalam pada kepentingan anak yang riil dan membahagiakan, misalnya terkait dengan mimpi mereka.

    Misalnya:

    • katanya kamu saat besar pengin jalan-jalan keliling dunia, ke tempat-tempat yang asyik. Bagaimana kamu bisa mendapatkan uang untuk modal jalan-jalan keliling duniamu? Kamu tahu syarat dan caranya mendapatkan uang?
    • Kalau kamu tidak bisa memahami matematika, bagaimana kamu tidak ditipu orang saat melakukan transaksi?

    3. Proporsi kegiatan

    Bandingkan proporsi kegiatan PKBM dengan kegiatan mandiri yang disukainya.

    • Kamu berapa banyak mengerjakan kegiatan/tugas PKBM? Coba bandingkan dengan kegiatan yang bisa kamu pilih sendiri. Banyak mana?
    • Kamu tahu nggak anak sekolah sama sekali tidak bisa memilih kegiatan/belajarnya apa? Jadi, kamu beruntung masih bisa memilih dan cuma sedikit saja yang dari PKBM. Atau kamu mau pilih sekolah saja?

    Nah, saya tidak tahu beban tugas di PKBM yang kakak pilih seperti apa dan seberapa menarik/cocok prosesnya dengan anak & keluarga kakak. Sebab, memang ada PKBM yang “sangat sekolah” dan tidak asyik. Ada PKBM yang fleksibel. Ada PKBM yang menyediakan kelas/klub kegiatan yang bisa dipilih anak.

    Di sini kejelian orangtua saat memilih PKBM. Jika proses PKBM tidak cocok dengan karakter/kebutuhan keluarga, saatnya kakak melakukan survey PKBM dan menimbang kemungkinan2 untuk pindah PKBM.

    Demikian kak, semoga membantu.

    Jika ada hal2 lain yang ingin ditambahkan dalam diskusi ini, dipersilakan..

    🙏

    in reply to: eBook Pengantar HS Usia Dini #4770
    Aar
    Keymaster

    Kak @putri-bilqisa,

    Sekolah payung berbeda dengan PKBM.

    Sekolah payung badan hukumnya adalah sekolah, ijazah sama seperti anak sekolah karena menginduk pada sebuah sekolah negeri.

    PKBM adalah badan hukum untuk jalur pendidikan non-formal. Ijazahnya Paket A, B, C.

    Apa bedanya?

    Selain berbeda ijazah, proses belajar dan materi belajarnya biasanya berbeda.

    Sekolah payung, sesuai namanya, materi belajar dan cara belajarnya sama persis seperti sekolah. Belajar berbasis mata pelajaran, ada tugas, ujian semester, dll. Perbedaan sekolah payung dengan sekolah umum mungkin terletak pada fleksibilitasnya: anak-anak mungkin tidak harus masuk setiap hari (ini perlu dicek di Sekolah Payungnya karena bisa punya kebijakan berbeda-beda).

    PKBM sebagai lembaga non-formal yang biasanya mengurusi anak tidak sekolah fleksibilitasnya lebih besar; mulai materi belajar, cara belajar, cara mendapatkan nilai rapor, kehadiran, dll. Misalnya: ada PKBM yang tidak ada ujian di PKBM, proses penilaian rapor diuji sendiri oleh orangtua. Nah, PKBM ini perlu dicek lagi kak karena modelnya lebih variatif lagi… ada yang mirip sekolah, ada yang sama sekali tidak mirip sekolah. Ada yang menekankan pada materi agama, ada yg enterpreneurship, ada yang bisa full online, dsb.

    Jika kakak sangat concern dengan kualitas ijazah dan rencana kegiatan belajar mirip sekolah, sekolah payung bisa diambil sebagai naungan legalitas anak.

    Jika kakak membutuhkan fleksibilitas lebih tinggi, model belajar dekat dengan unschooling, kakak tidak masalah dengan ijazah Paket; maka PKBM akan memberikan pilihan yang lebih fleksibel.

    Catatan khusus saya tentang PKBM, pastikan survey PKBM untuk memastikan PKBM terakreditasi, dan cara belajarnya sesuai harapan kakan (fleksibel).

    Semoga membantu 🙏

    in reply to: eBook Pengantar HS Usia Dini #4775
    Aar
    Keymaster

    Kak @putri-bilqisa,

    Proses penting di HS Usia Sekolah adalah mendaftarkan anak di PKBM. Itu akan membuat anak punya NISN dan punya rapor. Pastikan memilih PKBM yang terakreditasi dan mengeluarkan rapor setiap semester.

    Jika anak punya rapor lengkap, maka itu yang akan menjadi basis jika anak pindah ke sekolah di tengah jalan (misalnya: saat kelas 4 SD).

    Lebih jelas, materi ini dibahas lengkap di Kelas Memulai HS Usia Sekolah.
    Atau, kakak bisa mengikuti Bootcamp HS Usia Sekolah yang akan diadakan bulan November yang akan datang.

    Informasi tentang bootcamp homeshcooling bisa dibaca di sini: https://tumbuh.rumahinspirasi.com/bootcamp-homeschooling/

    Semoga membantu.

    in reply to: Lapbook Cokelat #4776
    Aar
    Keymaster

    Kak Yunita,

    Kami biasanya memakai kertas sampul yang dibeli di tempat fotocopy, sering disebut kertas buffalo. Biasanya ukuran yang dijual adalah folio. Kami memakai yang tersedia itu, kak. Antar kertas sampul disambung dengan selotip.

    Semoga menjawab ya kak.. 🙏

    in reply to: Jurnal untuk Manajemen Keseharian #4779
    Aar
    Keymaster

    Kak @adhe-yulida

    Pilih jurnal sesuai kebiasaan dan yang paling cocok untuk kakak.

    Anda boleh menulis di buku supaya tetap satu.

    Anda boleh menulis di lembaran yang disatukan di binder.

    Anda boleh menulis di aplikasi di laptop/HP seperti Diarium.


    Tidak ada aturan tentang cara menyimpan. Semuanya silakan dipilih sesuai preferensi dan kondisi terbaik di lapangan.

    🙏

    in reply to: Podcast Peluang Homeschooling #4780
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @andella-nur-handayani

    Terima kasih pertanyaannya.

    Menjalani homeschooling berarti mengintegrasikan kegiatan belajar anak dengan kehidupan dan keseharian.

    Apakah hidup keseharian kita sempurna? Tentu saja tidak. Tapi kita berusaha menjadikan keseharian kita menjadi asyik dan bisa dinikmati. Masalah tetap ada dan dicari solusinya.

    Demikian pula homeschooling.

    1. Kebosanan

    Apakah anak-anak pernah bosan? Jawabannya pernah.
    Terus bagaimana? Dicari solusinya, dimulai dengan mengenali apa yang membuat anak-anak bosan.

    Biasanya anak bosan karena:

    • kesehariannya kurang asyik => solusinya adalah kita (orangtua) perlu berpikir melakukan kegiatan2 yang asyik di rumah bersama anak
    • kegiatan monoton => berarti kita perlu menambah variasi kegiatan; kegiatan terstruktur vs. tidak terstruktur, kegiatan di dalam vs. di luar; kegiatan akademis vs. non-akademis; dll. Solusi sederhananya biasanya menambah porsi kegiatan di luar
    • kurang interaksi sosial => berarti solusinya mencari teman main, bikin janjian bersama teman, camping, traveling, dll
    • kegiatan tidak menatang => berarti anak perlu dicarikan kegiatan yang menantang sekaligus bermakna

    2. Malas

    Apakah anak jadi malas? Ini hampir tidak pernah terjadi.

    Kenapa anak malas? Biasanya anak malas karena tidak tahu apa yang mau dikerjakan dan orangtua membiarkan anak suka-suka menjalani kesehariannya.

    Dalam proses HS di keluarga kami, kami biasa berdiskusi dengan anak-anak tentang kegiatan yang mau dilakukan, proyek yang dibikin, dan lain-lain.

    3. Kebiasaan Buruk

    Apakah HS membuat anak membentuk kebiasaan buruk? Di keluarga kami tidak. Di keluarga lain kami tidak tahu.

    Kebiasaan adalah sebuah hal yang berulang dilakukan. Jika ada sebuah kebiasaan buruk yang dilakukan anak, itu berarti ada pembiaran yang dilakukan orangtua sehingga aksi anak dilakukan terus-menerus dan menjadi kebiasaan.

    Misalnya terkait penggunaan gawai. Anak punya kebiasaan memakai gawai tanpa batas dan marah jika diatur. Ini adalah contoh kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk ini tidak muncul tiba-tiba, tetapi akumulasi proses berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun.

    Tugas kita sebagai orangtua homeschooling adalah memimpin.

    Bagian dari proses kepemimpinan adalah menentukan aturan main untuk kebaikan bersama dan menjalankan aturan main itu di keluarga. Dalam konteks gawai, tugas orangtua adalah membuat aturan main terkait gawai, mendiskusikan dan membuat kesepakatan bersama anak, dan menjalankannya.

    Demikian, kak.

    Jika kakak ingin menjalani homeschooling, salah satu latihan yang bisa dilakukan adalah meningkatkan bonding dan intensitas kegiatan bersama anak. Latihlah berkegiatan yang asyik bersama anak hingga anak bisa mengatakan dengan jujur: “Berkegiatan bersama Bunda itu asyik.”

    Inilah modal besar menjalani homeschooling.

    Semoga membantu. 🙏

Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 766 total)
Scroll to Top