Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterKaka Emilia,
Bgmn kl anak masih blm mau homeschooling(anak kls 8)?tp sy ingin skl anak sy homeschooling?
Untuk anak usia sekolah, apalagi remaja, keputusan HS sebaiknya merupakan keputusan bersama antara orangtua dan anak. Prosesnya perlu dilakukan melalui diskusi bersama.
Jika orangtua yang berkeinginan melakukan HS, orangtua perlu meyakinkan bahwa HS lebih asyik daripada sekolah. Orangtua perlu memiliki jawaban/solusi untuk keberatan anak, biasanya pertemanan.
Nah, pertanyaannya: apa keberatan anak Anda atas usulan HS? Apa tawaran solusi Anda untuk keberatan anak tersebut?
(Salah satu ide yang bisa digunakan untuk memberikan gambaran tentang HS pada anak adalah dengan meminta anak membaca buku “Pembelajar Mandiri” karangan Yudhistira)
Aar
KeymasterKak Tania,
Mbak, di awal podcast pak aar blg bhw kalau ke luar negri, dibutuhkan ijazah cambridge. Tp di akhir jg disampaikan bhw ijazah paket c jg bs diterima di luar negri, kecuali jerman.
Ini mksdnya gmn ya? Klo gt, ga perlu2 amat ambil ijazah cambridge?Penjelasannya begini kak Tania,
Jika tak mau mencari ijazah Paket C, Anda bisa fokus pada ijazah Cambridge (IGCSE dan A Level). Tapi, ijazah ini tidak bisa digunakan kuliah di dalam negeri. Jadi kuliahnya harus di luar negeri.
Jika punya ijazah Paket C, bisa kuliah di dalam negeri dan luar negeri (pengecualiannya adalah Jerman).
Jadi, ijazah Cambridge bukan sebuah keharusan. Kalau punya ijazah Paket C, sudah dianggap setara SMA secara hukum. Anak bisa kuliah di dalam dan luar negeri.
Aar
KeymasterBetul kak Mutiara.
Kegiatan satu jenis, tapi dikelola kompleksitasnya sesuai usia/kapasitas anak.
Dengan cara seperti ini, kita lebih bisa mengelola proses keseharian homeschooling dan tidak harus pusing akibat kegiatan anak yang terlalu bervariasi.
Aar
KeymasterBetul kak Nurul.
Salah satu proses penting yang perlu diciptakan dan dibangun di keluarga adalah “keberhasilan”. Anak merasa berhasil dan ingin melakukan proses belajar lagi di waktu yang lain.
Pada anak kecil, biasanya masalah muncul karena mereka belum bisa mengukur antara harapan dan kemampuan. Harapannya besar, tapi sebenarnya kemampuannya masih sangat terbatas, termasuk stamina kerja.
Nah, tugas kita ketika menemani proses anak dimulai dari menentukan resep/jenis masakan yang “masuk akal” dan bisa diselesaikan. Dalam kondisi terburuk, orangtua yang turun tangan menyelesaikan hingga akhir.
Ketika sudah selesai, anak tetap mendapatkan kredit/apresiasi bahwa dia yang memasak. Itu akan membuat anak happy dan ingin bikin2 lagi.
Ketika kegiatan memasak sering dilakukan dan anak semakin bertambah usia, staminanya akan semakin meningkat dan skills-nya akan bertambah. Ini yang menjadi tujuan penting dari proses ini.
Aar
KeymasterAnak sy ikutkan kls fotografi hy 1x membuat foto dari 7 foto selama sepekan sementara utk kelas menulis, masih dikerjakan tugasnya, dengan diskusi dan pendampingan.
Tahap pertama ini, inisiatif dari orangtua. Anak mengikuti ide kegiatan yang disodorkan orangtua.
Penilaian orangtua tentang efektivitas berarti tentang hasil dan dampak belajar pada anak. Apakah anak mendapat ilmu fotografi/menulis baru? Apakah karya foto/tulisan anak ada peningkatan kualitas dengan sebelumnya? Apakah anak menikmati proses belajarnya? Jika menikmati, dia ingin melakukannya lagi.
dalam tahapan lebih advance, setelah anak mulai terbiasa dengan cara belajar barunya, dorong anak untuk berinisiatif dan mengajukan tema/proses belajarnya. Anak mengajukan, Anda menyetujui/menolak/melakukan negosiasi.==) maksudnya sy menanyakan anak mau belajar apa lagi ya?intinya inisiatif datang dari anak ya?
Jika sudah selesai, tanyakan perasaan anak? Apa pengalaman yang dirasakannya?
Penting bagi orangtua untuk menemani proses anak sehingga anak menikmati proses belajarnya.
Setelah beberapa kali melakukan kegiatan yang ditunjukkan orangtua, tanyakan pada anak hal yang ingin dipelajarinya. Materi belajarnya bisa memperdalam yang sudah dipelajari atau materi belajar yang baru.
Jadi, tahapan selanjutnya adalah inisiatif anak. Tapi, yang sabar ya kak. Proses ini mungkin membutuhkan waktu dan mungkin tidak langsung terjadi.
Aar
KeymasterSama-sama kak, semoga bermanfaat
Aar
KeymasterKak Moyang,
Di dalam podcast dan slide, saya membahas ide kegiatan setiap keterampilan personal dalam konteks usia: usia dini (preschool), usia dasar (SD), dan remaja. Contohnya memang tidak per usia karena dalam pengetahuan/pengalaman kami, yang perlu dijadikan acuan dalam kegiatan di keluarga bukan usia tapi kesiapan dan kondisi anak.Silakan dicek ya.. Jika ada pertanyaan per keterampilan/kasus, silakan ditanyakan dalam thread podcast yang relevan.
Aar
KeymasterKak Mutiara,
Kalau masih punya energi, tentu saja akan sangat baik jika dituliskan menjadi jurnal perkembangan anak. Tapi kalau energi sudah tidak ada alias terlalu capek, yang penting dilakukan. Jurnal dan dokumentasi anggap saja sebagai bonus. Sebab, kegiatan refleksi ini akan sangat sering dilakukan bersama anak. Jika ada hal signifikan (milestone), baru didokumentasikan.
Proses bertanya sudah benar, tidak perlu ditulis. Dijadikan obrolan saja, kak. Untuk proses pembelajaran, Anda juga bisa berbagi pengalaman dan sudut pandang Anda setelah anak mengungkapkan pendapatnya. Refleksi ini bisa menjadi bahan masukan untuk proses kegiatan di waktu yang lain supaya lebih berhasil.
Aar
KeymasterHai kak Mutiara,
1. Betul. Jika yang ditentukan sebagai kegiatan minimum adalah mengikuti kelas online, maka tugas2 terkait kelas tersebut adalah “tambahan proses/prestasi anak”. Tapi itu juga tergantung kesepakatan bersama anak tentang hal-hal yang dimasukkan dalam kategori kegiatan minimum. Kalau tugasnya banyak dan menghabiskan banyak waktu, nanti tidak bisa disebut minimum lagi.
Intinya, kegiatan minimum jangan banyak2. Tujuannya adalah menciptakan “perasaan berhasil” setiap hari yang akan membuat semangat dan membangun spiral positif berkegiatan.
2. Tema proyek tergantung kesepakatan bersama anak. Temanya boleh diusulkan oleh anak dan disetujui orangtua. Boleh juga diusulkan orangtua dan disetujui anak. Intinya adalah kesepakatan dan anak setuju. Faktor anak itu penting karena dia yang menjalani proses belajar, agar dia memiliki kepemilikan atas proses belajarnya, bukan hanya menjadi pelaksana dan orang suruhan saja.
3. Boleh, kak. Tidak masalah. Sekali lagi, fungsi kegiatan minimum adalah membuat “batas bawah”, bukan batas tengah atau bentuk ideal. Semakin sedikit, semakin baik. Kalau batas minimumnya terlalu banyak dan sering tidak terlaksana, nanti akan jadi stress dan merasa gagal.
4. Jadi, tugas orangtua adalah memeras otak dan menentukan betul-betul kegiatan minimum. Sebab, biasanya orangtua selalu memikir bahwa ini penting, itu penting dan akhirnya semuanya jadi penting. Memang butuh keberanian untuk menentukan batas minimum ini.
Dalam kenyataannya, yang dilakukan anak-anak pasti jauh lebih banyak dan di atas batas minimum. Penentuan batas minimum adalah antisipasi ketidakpastian dan untuk kesehatan mental orangtua.
Aar
KeymasterSemakin besar usia anak, memang prosesnya akan semakin sulit. Itu disebabkan pola-pola dasar pengasuhan yang mungkin kurang tepat kita lakukan pada saat mereka masih kecil.
Tapi kita tak bisa hanya menyesali proses yang sudah terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah maju ke depan agar bisa menjadi lebih baik
Caranya tidak mudah, tapi perlu dan bisa diakukan:
- Proses ini butuh kepemimpinan Anda sebagai orangtua dan komunikasi yang baik bersama anak.
- Cari momentum untuk membicarakannya. Masa karantina dan Ramadhan adalah saat yang paling tepat untuk mendiskusikan dan memulai kesepakatan baru
- Prosesnya tidak bisa berubah semuanya dan pasti bertahap. Anak belajar untuk memahami konsekuensi dari perbuatannya
- Proses awalnya adalah melibatkan anak dalam urusan pekerjaan rumah dan hal-hal yang mereka terima. Jelaskan kepada mereka rasionalitasnya: kita adalah satu tim, kita perlu saling mendukung, tidak ada hal yang diterima gratis karena pasti ada orang lain yang perlu mengusahakannya
- Buat kesepakatan2 baru yang melibatkan anak dan ajari konsekuensi dari kesepakatan itu. Misalnya: anak bertugas menanak nasi. Jika anak tak melakukan, maka proses makan tertunda dan semua anggota keluarga kelaparan. Atau anak mencuci baju. Jika tak melakukannya, maka baju bersihnya habis.
- Anda perlu tega untuk tidak mengambil alih pekerjaan anak agar anak belajar merasakan konsekuensi atas kesalahannya
- Proses ini tidak mudah dan kemungkinan besar akan terjadi drama emosi di awal. Tapi kalau Anda konsisten untuk melibatkan dan mendidik anak, maka proses ini bisa dilalui. Tapi kalau merasa tak tega, selalu menolong dan mengambil alih, memilih tak ingin ribut, maka anak akan tahu bahwa mereka tak perlu berubah.
Aar
KeymasterTerimakasih untuk pertanyaan kak Pratiwi,
Hal yang bisa dilakukan oleh orangtua adalah mendiskusikan bersama anak tentang kesepakatan baru.
~ Cari momentum untuk untuk evaluasi dan kesepakatan, misalnya sudah berjalan xx bulan atau menjelang Ramadhan (momen Ramadhan bisa dijadikan momen membuat kesepakatan baru)
~ Dalam proses refleksi dan evaluasi, tanyakan pendapat anak:
o Bagaimana perasaannya selama ini?
o Apa yang sudah lancar dan perlu diperbaiki?
o Apa yang membuatnya happy/sedih?
~ Setelah anak mencurahkan pendapatnya, gantian Anda menyampaikan pada anak:
o Kita terus berproses mencari yang terbaik untuk kakak
o Kakak sudah bagus dan rajin, maka saatnya sekarang “naik kelas”
o Bunda ingin kakak belajar tentang ikhlas: membantu Bunda dan tidak mengharap balasan karena Allah pasti akan membalas kebaikan yang dilakukan kakak
o Nah, kita bikin kesepakatan baru yaa… (mulailah Anda bikin kesepakatan baru tentang pekerjaan rumah yang tidak dibayar)
~ Tapi itu bukan berarti kakak tidak bisa mendapatkan uang
o Selama 1 bulan ke depan, Bunda akan memberikan hadiah kakak uang xxx… Uang itu digunakan untuk xxx ditabung, xxx jajan, dan xxx sedekah. Nah, tugas kakak adalah mencatat uang masuk dan uang keluarItu contoh proses negosiasi. Anak berganti kesepakatan tentang pekerjaan, anak tidak kehilangan kesempatan mendapatkan uang, anak belajar hal baru tentang keterampilan mengelola uang. Win-win solution.
Semoga bermanfaat.
Aar
KeymasterKak Retno,
Ada beberapa isu terkait pertanyaan Anda:
1. Mengubah kebiasaan terhadap gadget
2. Pengembangan untuk anak1. Mengubah Kebiasaan
Proses mengubah kebiasaan bukanlah hal yang mudah. Bukan hanya untuk anak, orangtua saja sangat susah kalau diminta mengubah kebiasaannya.Mengapa susah?
Karena ada barrier psikologis yang harus dilewatinya. Dia sudah mendapatkan kesenangatn dari main gadget, maka dia selalu mencari sensasi kesenangan itu. Kehilangan sensasi kesenangan akan membuatnya gelisah dan mencari-cari (ini fenomena umum adiksi, termasuk yang dialami orang dewasa dengan rokok, gosip, prokras, dsb).Jadi, kita perlu berempati pada anak bahwa prosesnya tidak mudah. Empati ini akan membuat kita lebih sabar dalam mengelola proses perubahan yang diharapkan terjadi pada anak-anak.
Berbeda dengan orang dewasa yang susah mengubah kebiasaan, anak-anak relatif lebih mudah dan lebih memiliki kelenturan. Apalagi karena anak berada dalam posisi tergantung (dependen) pada orangtua dan lingkungan sekitarnya.
Apa yang bisa dilakukan?
a. Buat aturan main
Atur dan sepakati durasi menggunakan gadget. Pastikan anak tahu batasan itu. Pilih jangka waktu yang masuk akal dan bisa dijalani anak, kemudian turunkan secara gradual. Jangan langsung mendadak dipangkas.b. Petunjuk dan sarana
Anak tak bisa hanya dicabut dari gadgetnya dan kemudian dibiarkan. Berikan petunjuk tentang hal-hal yang bisa dilakukan oleh anak. Sediakan alat dan materi kegiatan yang lain.c. Pendampingan
Beri petunjuk, dorong anak, ingatkan. Itu proses yang memang perlu dilakukan. Prinsipnya sama, tapi pendekatannya saja yang diperbaiki dengan mendorong kesadaran anak melalui pertanyaan: “kakak ingat kesepakatan kita? setelah main iPad, terus apa? dst”Pengembangan Anak
Pilihan untuk menjadi game maker adalah pilihan yang sangat umum untuk anak-anak yang menyukai game. Biarkan saja dan dukung mimpinya karena itu bisa menjadi pintu masuk untuk proses anak belajar dan bekerja keras.Game maker itu bukan berarti hanya main game saja. Banyak hal yang perlu dipelajari oleh anak.
Nah, mulailah dengan menjadikan cita-cita itu menjadi proses belajar: belajar menggambar, belajar animasi, belajar coding, dll.. Setahap demi setahap tentu saja prosesnya.
Intinya, cita2 berbeda dengan mimpi. Cita-cita membutuhkan proses dan usaha untuk merealisasikannya.
Aar
KeymasterKak Inge, ada beberapa hal yang bisa saya sampaikan:
1. Semua orang berjuang
Kondisi karantina Corona ini membuat masalah bagi semua orang, baik orang dewasa maupun anak. Semua orang berjuang agar bisa sehat (secara mental) sekaligus produktif. Yang berjuang dan sedang mengalami kesulitan bukan hanya anak orangtua, tapi juga anak.Nah, kesehatan mental adalah concern penting yang perlu kita tangani pada saat ini. Kemungkinan yang terjadi, penggunaan gadget yang berlebihan terjadi sebagai bentuk pelarian anak terhadap masalahnya. Anak main game, menonton video, dan chatting bersama teman untuk mengisi waktunya. Dunianya ada di tangan dan dia merasa insecure jika dunia itu direnggut darinya. Itu yang meningkatkan sensitivitas anak pada saat ini.
2. Pendekatan keras tak akan berjalan
Pendekatan keras pada anak dalam kondisi seperti karantina Corona biasanya tidak efektif, bahkan akan menimbulkan konflik dengan anak.Anak sebenarnya tahu bahwa yang dilakukannya adalah salah. Tapi dia bingung dan kesulitan melakukan hal lain di luar gadgetnya.
Dalamm kondisi normal, mungkn dia bisa menyalurkan dengan main dan nongkrong bersama teman-temannya. Tapi kondisi itu tak memungkinkan dilakukan pada saat ini. Problem besarnya di sini.
3. Mencari pola baru
Jika dia cocok dengan ayahnya dan bisa berkomunikasi dengan baik melalui game, maka ayah bisa menjadi pintuk masuk untuk diskusi bersama anak. Ayah dan Ibu perlu mencari cara produktif untuk mengisi kegiatan dalam kondisi ini. Jika sudah berhasil, itu bisa menjadi modal besar untuk mengobrol bersama anak.4. Cari solusi bersama
Berempati dengan kondisi anak bukan berarti membenarkan kelekatannya dengan gadget. Kita tetap prihatin dan ingin mendorong anak untuk lebih produktif.Ajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif pada anak:
~ Jika kondisi ini berjalan terus hingga 3 bulan ke depan, apa yang akan kamu lakukan?
~ Bagaimana jika ini akan terus hingga akhir tahun? Bagaimana jika kondisi ini menjadi normal baru (new normal)?
~ Bagaimana caranya kita berdaya dan tidak hanya merasa sebagai korban?
~ Keterampilan baru apa yang bisa kita pelajari dengan kondisi saat ini?
~ Karya produktif apa yang bisa kita hasilkan dalam kondisi saat ini?Itu pertanyaan yang bisa memantik diskusi bersama anak-anak.
Mohon maaf jika saya tak punya saran dan solusi instan.
Semoga empati dan diskusi bersama anak bisa membuka pintu-pintu besar transformasi di keluarga Anda.
Aar
KeymasterKak Pratiwi,
Salah satu pendekatan yang sering kami lakukan saat menghadapi perilaku khusus anak adalah berdiskusi dengan pasangan. “Sikap (anak) ini lebih mirip sifat kamu (pasangan) atau aku?”
Yang memiliki sifat mirip kemudian diminta merefleksikan, “Dalam kondisi seperti ini, respon eksternal apa yang efektif? Kamu ingin diperlakukan seperti apa?”
Pendekatan itu sering membantu kami dalam menangani problem anak-anak sehari-hari.
Karena saya tidak tahu konteks yang terjadi di lapangan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan proses memberikan feedback:
1. Apresiasi dulu
Apresiasi harus dilakukan pertama dan disampaikan dengan tulus. Buang jauh-jauh kata hubung “tetapi” untuk melanjutkan kalimat karena itu bisa dipersepsi sebagai ketidaktulusan dalam apresiasi.Apresiasi, titik.
2. Dorong evaluasi dari anak
Ajukan pertanyaan kepada anak, “Menurut kakak sudah bersih belum? Sudah kering, belum?”
Fokus pada hasil, bukan mengomentari proses. Standar kualitas hasilnya harus disepakati tentang yang dimaksud “good”.Kalau kakak merasa sudah, tunjukkan pada bagian yang dirasa belum bersih atau terlalu basah. Lalu, biarkan dia menyelesaikan proses perbaikan.
3. Instant feedback
Proses evaluasi terhadap hasil dilakukan langsung setelah bekerja, tidak berjeda. Hal ini untuk menghindari proses mengelak “tadi sudah bersih, aku nggak tahu kenapa sekarang kotor lagi.” dll4. Masukan tentang proses dikaitkan dengan hasil
Berikan ruang lebih luas berkaitan dengan “cara”. Selama hasilnya seperti yang diharapkan dan sesuai standar, biarkan anak dengan caranya sendiri. Tapi jika hasilnya tak sesuai, kita bisa memberikan masukan tentang cara kerja. Kuncinya ada pada poin sebelumnya: dilakukan seketika, hasilnya terlihat di bawah standar.5. Frekuensi datar
Dalam obrolan, pastikan nada suara kita tidak meninggi. Pastikan datar, fokus pada hal teknis dan tidak menyinggung ego (tidak ada orang yang suka dianggap gagal). Setelah pesan disampaikan, lupakan. Obrolan lain harus bersifat netral sehingga anak tidak perlu merasa defensif dan merasa dipersalahkan.Ini hanya urusan teknis saja kok…
Semoga membantu
Aar
KeymasterKak Dewi,
1. Uang saku
Tentang uang saku, tidak harus diberikan. Itu adalah pilihan dari orangtua. Yang penting adalah Anda mengenali tujuan Anda. Kalau memberikan uang saku untuk mengajari anak penggunaan uang, boleh. Tidak memberikan uang saku karena semua sudah disediakan juga boleh. Untuk latihan tentang uang bisa menggunakan cara lain, selain uang saku.Misalnya: saat menerima hadiah ulang tahun, angpao lebaran, dll. Atau, memang sengaja diberi uang untuk ditabung.
2. Anak suka memukul
Perilaku anak yang sudah mengekspresikan perasaan dengan memukul cukup lumrah terjadi saat balita. Hal ini terjadi karena anak masih memiliki kapasitas terbatas untuk mengekspresikan dirinya.Ditambah kakak yang iseng, ini memang menjadi tantangan tersendiri.
Ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan:
a. Menjelaskan pada adik & kakak
Proses rasional dengan menjelaskan menjadi solusi jangka panjang yang perlu dilakukan. Mungkin tidak terlalu manjur, tapi tetap perlu dilakukan karena seiring pertambahan usia anak, dia akan semakin memahami pesan itu. Tapi, keisengan kakak memang bukan hanya bersifat rasional, tapi lebih bersifat psikologis. Keluarga kami juga pernah mengalami itu saat Tata selalu iseng pada Duta (adiknya).Ketika kami tanyakan pada Tata mengapa dia selalu iseng, jawaban Tata agak di luar dugaan. “Because… Duta’s crying is like the music to my ears” – “Tangisan Duta seperti musik buat telingaku”. Kami pun tertawa bersama, termasuk Duta. Duta tahu bahwa alasan kakaknya iseng adalah membuat dia menangis. Jadi Duta perlu belajar untuk tidak menangis. Kedua pihak diingatkan. Tapi apakah berhenti? Tidak juga, hehehe… tapi suasananya menjadi lebih cair ketika dibawa ke rasional. Kakaknya berusaha mengurangi keisengan, adiknya berusaha bertahan tidak menangis.
b. Membantu menyalurkan perilaku
Karena sumber perilaku memukul berasal dari kelakukan kakak, mungkin bisa dicoba dengan membantu anak untuk menyalurkannya. Caranya bisa macam-macam, misalnya:
~ bikin kesepakatan bersama, kalau kakak iseng, adik tidak boleh pukul tapi lapor ke Bunda dan Bunda akan gelitik kakak
~ kalau kakak iseng, adik boleh pakai mainan kakak lebih lama
~ dllSemoga membantu
-
AuthorPosts