Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterKak Renold,
Prinsip pendaftaran PKBM bisa dilakukan di manapun di Indonesia. Pilihannya adalah:
1. Mendaftar di PKBM dekat rumah. Nanti kalau pindah tugas, mutasi ke PKBM dekat rumah seperti mutasi sekolah.
2. Mendaftar di PKBM yang melayani online. Selama proses belajar, anak tidak perlu pindah-pindah PKBM. Proses belajar dilakukan mandiri di keluarga dengan panduan materi akademis melalui PKBM. Untuk materi pengembangan diri sepenuhnya ada di tangan keluarga.PKBM yang melayani online ini belum banyak. Konsekuensinya, nanti pas mau ujian Paket A (kelas 6) harus hadir di kota tempat PKBM itu berada.
Sebagai contoh, kami mendaftar PKBM Piwulang Becik yang lokasinya di Salatiga, Jawa Tengah. Anak-anak proses belajarnya mandiri di rumah bersama kami. Pas Ujian Paket, kami pergi untuk Ujian paket sekalian jalan2 ke Salatiga.
Nama PKBM Piwulang Becik ini hanya contoh saja, bukan referensi. Pilihan PKBM bisa dipilih sendiri sesuai kecocokan dan preferensi keluarga masing-masing.
Tentang proses pendaftaran, intinya adalah mutasi dari sekolah ke PKBM. Detil teknisnya bisa dikonsultasikan dengan pengurus PKBM yang dituju.
Aar
KeymasterPilihannya banyak kak Fina,
Kalau keluarga kami menggunakan materi IXL Math (www.ixl.com) dan IXL Language Art (www.ixl.com/ela). Ini materi berbayar. Originalnya sekitar $79/tahun, Rumah Inspirasi terkadang ada kursi kosong dengan biaya 285K/tahun.Selain itu, kami juga menggunakan materi belajar di Khan Academy (http://www.khanacademy.org)
Aar
KeymasterHai kak Catherine,
Ada beberapa isu yang bisa kita bahas dan renungkan tentang proses penanaman nilai baik pada anak:
1. Tidak ada keluarga yang sempurna. Tapi, keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi anak untuk bertumbuh. Orangtua adalah penanggung jawab yang dititipi Tuhan untuk mengasuh anak. Baik anak kita bersekolah maupun HS, keluarga akan tetap menjadi referensi utama dalam kaitan dengan nilai-nilai kehidupan, terutama pada saat anak usia dini.
2. Pendidikan mengandung 2 aspek, yaitu: pengasuhan dan pengajaran. Fungsi utama sekolah adalah memberikan pengajaran, transfer ilmu. Pengasuhan adalah proses membimbing tumbuh kembang anak dan itu tak bisa didelegasikan pada siapapun (guru, ustadz, dan pihak luar). Pengasuhan menjadi tanggung jawab orangtua, terutama pada saat anak usia dini.
3. Homeschooling bisa menjadi sarana bagi orangtua untuk terus bertumbuh dan berkembang karena ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak dan keluarga. Jika kita merasa ada hal yang kurang baik dalam diri kita, HS membuat kita berkomitmen untuk memperbaiki diri. Yang utama dalam proses parenting adalah kekuatan cinta dan itikad kita. Ketika kita masih belum bisa menahan emosi, yang penting prosesnya adalah terus belajar mengelola emosi dan minta maaf pada anak jika tanpa sengaja kita terbawa emosi.
4. Sekali lagi, orangtua yang ingin menjalani homeschooling perlu melihat keteladanan sebagai sebuah tantangan untuk perbaikan diri.
Tapi sekali lagi, semua kembali pada penilaian terhadap diri kita sendiri. Jika mau homeschooling, orangtua perlu membangun kepercayaan diri bahwa mereka sanggup memperbaiki diri dan berproses bersama anak-anak dengan sukacita.
Aar
KeymasterHai kak Enna,
Menurut aturan tertulis, anak-anak perlu didaftarkan di PKBM sejak usia sekolah (kelas 1). Tapi, di lapangan kondisi PKBM di lapangan bisa 3 macam:
1. Ada yang menerima pendaftaran sejak kelas 1/7 tahun (sangat sedikit)
2. Ada yang menerima pendaftaran sejak kelas 4 (karena data anak masuk ke sistem Dapodik mulai kelas 4)
3. Ada yang menerima pendaftaran 1 tahun menjelang ujianKondisi nomor 3 itu semakin jarang. PKBM biasanya meminta anak masuk dan terdaftar sejak kelas 4 (usia 10 tahun)
Ini adalah realitas di lapangan, kak Enna. Jadi, manajemen di PKBM itu tidak standar dan kita mengikuti sesuai persyaratan di PKBM yang kita tuju.
Aar
KeymasterHai kak Cicilia,
Yang kak Cicilia lakukan sudah ok. Menurut saya anak-anak tidak perlu diperkenalkan secara khusus dengan dunia profesi. Sampai remaja, yang perlu dilakukan adalah mengenalkan dengan berbagai pengalaman kegiatan: indoor-outdoor, seni-sport-akademis, menulis-menggambar-bercerita, analog-digital, fisik-maya, logika-visual-fisik-alam, dan lain-lain. Keragaman pengalaman anak akan menambah referensi anak.
Tentu saja, proses memaparkan pengalaman itu sangat tergantung pada kondisi yang paling memungkinkan untuk kita lakukan. Tidak semua jenis kegiatan bisa dilakukan dan itu tak apa-apa.
Saat mulai terpapar, nanti anak perlu berproses menekuni bidang-bidang tertentu untuk melatih dia belajar bertekun.
Tentang pengenalan dunia digital, prosesnya tergantung pada kebiasaan gadget di keluarga. Tidak ada benar-salah. Prosesnya juga tak harus menunggu bisa membaca.
Yang penting proses awal saat berkenalan bukan main game, tapi kegiatan produktif misalnya: menggambar digital, merekam lagu, mengolah foto, dll.
Aar
KeymasterKak Sisca,
Proses penyelesaian masalah dilakukan berdasarkan analisis terhadap kondisi di lapangan. Dengan informasi yang Anda berikan, saya sulit memberikan saran.Kunci penyelesaian masalah adalah asesmen atau penilaian orangtua (yang paling tahu kondisi di lapangan) terhadap penyebab masalah yang dialami anak.
Sebelum penyebab masalah ditemukan, akui dan terima emosinya, jangan justru adu keras memarahi anak supaya tidak emosi.
“Kakak kesal? Kakak kecewa? Kakak marah?”
“Nggak apa-apa kok kalau kakak xxxx (sebutkan sesuai yang dikatakan anak). Semua orang pernah merasakan xxxx.”Setelah anak tenang karena emosinya diakusi dan diterima, baru pertanyaan penyebabnya diajukan. Jangan langsung mengajukan pertanyaan sebelum emosi anak mereda, apalagi adu keras emosi. Itu tak akan membantu.
“Jadi, mengapa kakak xxxx? Apa yang bisa Bunda lakukan untuk membantu supaya xxxx-nya berkurang?”
Jika anak belum bisa atau tidak mau menjawab pertanyaan terbuka, tugas kita sebagai orangtua adalah mengajukan pertanyaan dugaan.
“Jadi kakak marah karena mainannya diambil adik?”
“Kakak kesal karena waktu mainnya kurang banyak?”
“Kakak kesal karena xxxxx?”(xxxxx itu adalah dugaan Anda yang menjadi penyebab masalah)
Jika anak terus menjawab bukan dan makin marah, maka ajukan pertanyaan lanjutan: “Jadi apa donk penyebabnya? Bunda tidak bisa membantu kalau kakak tidak cerita penyebabnya.”
Kurang lebih prosesnya seperti itu, kak. Kalau tetap tidak bisa ketemu penyebabnya, solusi yang bisa dilakukan adalah memberikan istirahat.
“Oo.. berarti kakak sedang lelah, ya. Kalau gitu kakak istirahat dulu. Mainnya berhenti dan sekarang istirahat di kamar. Bunda tidak suka anak yang marah-marah. Kalau sudah selesai marahnya, nanti kita ngobrol lagi.”
Aar
KeymasterKak Meutia,
Penggunaan teknologi secara produktif, berarti teknologi tak hanya digunakan untuk hiburan.
Dalam konteks produktivitas, teknologi digunakan untuk belajar, berjejaring, dan berkarya.Untuk anak SD usia 8-10 tahun, contoh penggunaan teknologi secara produktif adalah:
~ menggunakan kelas online seperti KhanAcademy, Zenius, IXL Math untuk belajar matematia
~ menggunakan Youtube untuk belajar tutorial memasak/craft (dan mempraktekkannya)
~ membuat slide presentasi menggunakan software Power Point/Keynote/Google Slide
~ menggambar di tablet menggunakan aplikasi Ibis Paint, dllAar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb, kak Rohmawati,
1. Pendidikan dipengaruhi oleh 2 aspek, yaitu nature (karakter bawaan) dan nurture (pengaruh lingkungan). Mana yang lebih dominan, tergantung situasi di lapangan dan seberapa kuat karakter bawaan seseorang. Ekstovert dan introvert adalah karakter dasar, bukan cita-cita. Dia merupakan kecenderungan apakah senang berada di lingkungan yang ramai atau sepi, apakah lebih suka main dengan banyak orang atau bersahabat intens dengan sedikit orang, apakah mendapatkan energi saat bersama orang atau terkuras energinya.
2. Anak introvert memang memiliki kecenderungan lebih lambat untuk masuk ke lingkungan pertemanan baru, tapi mereka akan sangat intens dengan teman2 dekatnya. Pintu masuk pertemanan anak2 introvert adalah pada hal-hal yang mereka sukai. Jadi, tidak hanya asal berteman.
Jadi, cari lingkaran main yang memiliki kedekatan/kesamaan dengan hal2 yang diminati anak (main game sejenis, suka baca buku, suka nonton yang sama, dll). Itu akan lebih mudah untuk membantu anak2 introvert menjalin pertemanan.
Aar
KeymasterUmmu Zuhri,
Ada anak-anak yang memiliki ketertarikan luas, ada anak yang fokus. Itu hal yang biasa terjadi pada anak-anak, kak. Tidak perlu dikhawatirkan. Pada awalnya, anak-anak cenderung menerima apapun stimulasi yang diberikan oleh orangtuanya. Itu hal yang baik dan sangat memudahkan orangtua.
Jika anaknya memiliki minat yang luas dan adaptif terhadap apapun yang diberikan oleh Ibu, maka tugas Ibu adalah memaparkan anak dengan beragam pengalaman berkegiatan, misalnya: main sendiri, main di rumah dan main sama teman2. Kegiatan baca buku dan bersepeda. Kegiatan art dan fisik.
Dari beragam jenis kegiatan yang dilakukan anak, nanti lama2 akan kelihatan hal yang lebih disukai anak dan hal yang kurang disukai.
Dalam konteks keterampilan sosial, kecenderungan ekstrovert dan introvert akan mulai terlihat ketika anak mulai berhubungan dengan anak lain. Apakah dia langsung akrab dan bisa langsung terlibat, atau dia hanya mengamati dari jauh dan terlihat malu-malu.
Jadi, PR-nya ada 2:
~ memaparkan anak dengan beragam kegiatan dan pengalaman
~ mengamati anak dalam konteks hubungan dengan teman2 di luar (nanti setelah masa pandemik berakhir)Aar
KeymasterTerima kasih atas kepercayaannya berbagi ya kak Weni,
Kelihatannya Rayhan terbebani dengan kegiatan belajar membaca. Beban yang terjadi terus menerus dan tak bisa dielakkan membuat dia terpaksa belajar membaca. Ketika terjadi berkali-kali, anak mencoba “mencari selamat”. Daripada dimarahi, dia akan lakukan walaupun tidak suka. Membaca bergeser dari sukacita menjadi beban. Dia anak baik yang ingin mematuhi orangtua, tapi dia sebenarnya merasa tertekan.
Yang menjadi tantangan adalah penyikapan orangtua. Apakah orangtua mau menerima bahwa anaknya mengalami masalah, mungkin trauma, dengan kegiatan membaca?
Jika masalah ini berkaitan pengalaman buruk/traumatik, apakah orangtua siap dan mau mengambil langkah yang diperlukan?
~ berdasarkan informasi yang Anda sampaikan, kemungkinan masalahnya sudah berlangsung cukup lama. Masalah diketahui, tapi tetap dijalani karena kondisi (anak harus bisa membaca) sehingga responnya bukan menerima keluhan anak, tapi mendorong anak tetap menjalaninya dengan beragam cara. Yang penting tetap belajar membaca dan mau membaca.
Jika masalah ini dianggap sebagai pengalaman buruk/traumatik, maka pendekatannya harus diubah. Jika kondisi dilihat dalam spektrum yang lebar mulai negatif-netral-positif, harapan Anda adalah anak cinta membaca (positif). Padahal anak sedang berada dalam kondisi negatif. Jadi, proses penting yang harus dilakukan adalah menggeser dari negatif ke netral dulu, sebelum menggeser ke positif.
Dan itu membutuhkan waktu.
Yang pertama, turunkan ekspektasi Anda. Anak tidak bisa langsung diminta anak cinta membaca lagi. Tapi, dia perlu menggeser dari trauma/benci menjadi netral dulu.
Yang kedua, cobalah mengobrol santai dari hati ke hati. Sampaikan permintaan maaf yang tulus pada anak yang telah membuatnya menjadi “benci” kegiatan membaca. Dengarkan dengan tulus apa yang dia rasakan, jangan dimarahi dan dinasihati. Dengarkan saja. Jika dilakukan dengan baik, proses ini bisa menjadi katup pembuka hati anak dan pintu pembuka bagi Anda untuk memahami kondisi yang sebenarnya terjadi.
Proses penggalian ini perlu berlangsung berkali-kali.
Yang ketiga, liburkan dulu aktivitas membaca yang dipaksa/diharuskan. Sediakan buku2 cerita kesukaannya, tapi jangan paksa anak membaca. Sesekali tanyakan, tapi betul-betul bertanya, bukan menyarankan.
Yang keempat, jika Anda ingin melakukan kegiatan read aloud, prosesnya boleh dilakukan atas izin/persetujuan anak. Pastikan dia benar2 mau. Jika dia tidak mau, biarkan dan jangan dinasihati/diberikan pengertian. Sekali lagi, fokusnya adalah penyembuhan pengalaman negatif anak.
Apa yang ditunggu?
Yang ditunggu adalah insiatif alamiah anak untuk membaca. Jika anak pernah menikmati dan suka membaca, kesukaan itu pasti akan muncul lagi.
Proses menunggu ini mungkin membutuhkan waktu, sebagaimana keterpaksaan yang dialami anak telah berjalan cukup lama. Jika anak sudah relax, mereka akan mengajukan diri atau tidak resisten lagi terhadap ajakan Anda.
Kurang lebih seperti itu prosesnya.
Untuk konsultasi lebih mendalam tentang penanganan trauma, kami sarankan Anda mencari teman/profesional yang ahli dalam bidang psikologi anak.
Aar
KeymasterHai kak Weni,
1. Saya tidak terlalu suka menggunakan pengelompokan berdasarkan umur karena perkembangan anak berbeda-beda. Jadi, yang perlu kita lihat adalah kesiapan anak.
Proses bercerita terstruktur bisa dimulai kurang lebih sejak TK. Anak belajar menceritakan kembali buku cerita yang dibacakan atau film yang ditonton. Untuk memandu struktur, orangtua bisa mengajukan pertanyaan dengan kerangka umum 4W + 1H (what, where, when, why) + how
Proses ini bisa dilakukan hingga kurang lebih kelas 2 atau 3.
Jika anak sudah lancar menulis, anak mulai bisa membuat materi presentasi/slide. Mulainya sederhana, dibantu orangtua. Kemudian anak bercerita (presentasi) dengan urutan seperti yang ada di slide.
2. Proses presentasi tidak dinilai, tapi ditingkatkan kualitasnya seiring waktu.
Tahap pertama: yang penting anak mau dan bisa presentasi/cerita. Isinya hanya apresiasi tanpa feedback untuk membangun kepercayaan diri.Tahap kedua: mulai ada feedback sedikit tentang cara presentasi, misalnya: suara lebih keras, melihat ke depan, ada intonasi suara, dll. Apresiasi diperbanyak, feedback sedikit saja (jangan semua aspek). Proses ini diulang-ulang terus dengan feedback sedikit setiap presentasi.
Tahap ketiga: mulai diperbaiki cara membuat slide-nya dan substansi materi presentasinya.
Tahap kedua dan ketiga saling terkait dan diulang terus sepanjang proses anak belajar presentasi.
Intinya:
~ bangun kenyamanan anak
~ buatkan tangga proses sedikit demi sedikit
~ tidak ada nilai untuk rapor, proses ini untuk pengembangan diri
~ semakin lama semakin ditingkatkan kualitasnya: baik kualitas cara melakukan presentasi maupun penyajian slide presentasiAar
KeymasterKak Dewi,
1. Bagi org dewasa yg pelupa kira2 ketrampilan personal apa yg terlewat ditanamkan ketika kecil?
Pelupa bisa jadi merupakan sifat bawaan seseorang yang disebabkan oleh banyak hal.
Untuk membuat kehidupan menjadi lebih terkelola, salah satu keterampilan penting yang perlu dikuatkan adalah self management (manajemen diri). Salah satunya adalah kebiasaan mencatat dan meletakkan benda di tempat yang sama. Dengan keterampilan mencatat (rencana, checklist, jurnal), itu bisa menjadi alat bantu dalam mengelola keseharian.2.Anak pertama usia 7,5 th,sering sy ajak utk mbantu di dapur,tetapi tingkat kecerobohannya msh sangat tinggi walaupun di awal sdh sy beri pengertian,di sekolah jg sering terjatuh,terpeleset,tingkat kehati2annya msh perlu ditingkatkan,kemudian ketika ada benda terjatuh misal sapu tergeletak di lantai,dilangkahin aja tdk lgsung dibenarkan posisinya, cuek aja,hehehe….Bgmn menanamkan ketrampilan utk selalu bhati2 dan peduli dgn keadaan di sekitarnya.Bisakah kondisi trsbt (cuek/tdk perduli)menurun dr ortu ke anaknya?
Ada anak-anak yang memang “clumsy”, jalan tidak lurus, minum tumpah, gampang tersandung, dll. Anak seperti ini tidak memiliki masalah IQ, tetapi memiliki masalah berkaitan dengan motorik. Kondisi ini terjadi bukan atas kemauan anak, tapi dia sendiri susah mengontrol gerakan tubuhnya. Jika masalahnya berat, mungkin perlu konsultasi ke dokter untuk melihat apakah ada gangguan perkembangan koordinasi (GPK) dan penanganannya secara medis.
Untuk stimulasi personal, orangtua perlu memberikan panduan teknis (step-by-step, hal yang perlu diperhatikan anak) saat berkegiatan untuk mengurangi kecerobohannya.
Tentang sapu tergelak dan dicuekin, itu adalah isu yang berbeda. Itu berarti tentang kepedulian. Teladankan, ajarkan, beri petujuk teknis, ingatkan. Proses itu yang perlu terus dilakukan sepanjang tumbuh
3. Anak ke 2,usia 4,5 th sdh bs mandi sendiri,tp semenjak ayahnya wfh selalu minta dimandikan,alasannya krn kl sblmnya mama repot cuma sendiri,ayah kerja,kl skrg ayah di rmh,hehehe…Bgmn kami menyikapi tingkah yg mgemaskan itu?
Kemudian belum mau utk mbersihkan sendiri ketika bab,dgn alasan nanti tanganku kotor, walaupun sdh diberi solusi nanti bisa pakai sabun,msh blm bhasil hingga saat ini.Mungkin Mas Aar dan Mba Lala py pengalaman sewaktu anak2 msh balita bgmn menyikapi nyaKalau menurut saya tidak apa-apa. Anggap saja sebagai liburan/selingan dan menjadi alat untuk bonding Ayah bersama anak. Jika ingin didorong untuk mandiri sendiri, sebaiknya yang meminta pada anak adalah ayah.
Tentang jijik, itu wajar kok. Nanti seiring waktu anak akan semakin tahu dan bisa melakukannya. Jika memungkinkan, gunakan alat bantu berupa semprotan air untuk membersihkan pantat adik.
Aar
KeymasterIya kak, ini fenomena umum di keluarga HS. Kita selalu merasa anak2 kurang kegiatan dan ingin memaksimalkan waktu mereka.
Padahal kalau mereka sekolah kan sebenarnya banyak mainnya juga. Di kelas, bahkan yang efektif menurut guru adalah 20 menit pertama.
Jadi, kunci pentingnya adalah menyelesaikan kesepakatan. Di luar waktu itu adalah jatah/hak anak untuk melakukan apapun yang ingin dilakukannya untuk bersenang-senang dan pengembangan diri.
Aar
KeymasterHai kak Lia,
Begitu sudah menjadi kebiasaan dan kebutuhan, pasti tidak mudah untuk mengubahnya. Betul sekali itu kak.
Yang bisa dilakukan adalah:
~ mengurangi porsi penyedap sedikit demi sedikit
~ mengobrol bersama anak tentang perubahan yang terjadi untuk kepentingan kesehatan mereka
~ prosesnya mungkin panjang berbulan-bulan. Tapi jika dilakukan secara konsisten, ini proses yang bisa dilakukan. Apalagi jika disertai kesadaran untuk alasan kesehatan.Saya punya pengalaman pribadi dengan gula. Sejak kecil selalu minum manis, tidak terbiasa minum air putih. Baru mulai mengubah kebiasaan saat kuliah. Ternyata bisa walaupun memang tidak mudah. Sekarang sudah terbiasa minum air putih. Minum teh manis hanya pagi hari atau dijatah satu poci kecil sehari. Gula-pun diganti dari gula pasir menjadi stevia. (sekadar berbagi pengalaman)
Aar
KeymasterBetul kak. Sebuah jenis keterampilan bisa dikembangkan luas, tidak hanya untuk kepentingan personal tapi bisa jauh hingga menjadi pintu masuk profesi.
Nah, dalam proses mengajarkan keterampilan dasar, ada kapasitas minimum yang kita ajarkan pada anak. Tapi untuk pengembangan tingkat intermediate atau advance sangat tergantung pada kecenderungan/kapasitas anak.
-
AuthorPosts