Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterSama-sama kak Rianita
Aar
KeymasterDear kak Ratri Indriani:
Ada 2 isu dalam hal ini:
1. Menangani anak introvert
2. Mengembangkan keterampilan sosialMari kita bahas satu persatu.
1. Menjadi introvert itu tak apa-apa
Sebagaimana ada orangtua yang ekstrovert dan introvert, demikian pun anak. Seorang introvert lebih suka menjadi pengamat dalam pergaulan sosial, menikmati kesendirian atau merasa nyaman dalam kelompok kecil, kehabisan energi saat bersama orang banyak, butuh waktu lebih lama untuk berkenalan, dst. Mereka ada dalam kehidupan orang dewasa dan itu bukan sebuah aib/kesalahan. Hanya sosok/karakter yang berbeda saja.Jadi, menjadi seorang anak introvert itu tak apa-apa. Apalagi jika ternyata ada orangtua yang juga memiliki karakter introvert.
2. Mengembangkan keterampilan sosial
Baik anak ekstrovert dan introvert perlu mengembangkan keterampilan sosial agar bisa memahami/mengungkapkan pikiran dan perasaan, serta berkomunikasi dengan orang lain.Jadi, ini fokus yang perlu dikembangkan pada anak introvert.
Dalam konteks sosial (interaksi dengan orang lain), penting untuk membangun kepercayaan diri pada anak introvert:
– anak tahu bahwa dia diterima apa-adanya dan tidak dianggap aneh oleh orangtuanya
– anak tidak dipaksa untuk berkenalan dan berinteraksi dengan orang lain
– anak diberikan waktu dan ruang untuk berproses
– anak diberikan contoh saat berinteraksi dengan orang lain
– bangun lingkaran yang aman/nyaman pada anak di luar keluarga (persahabatan keluarga/anak) melalui interaksi yang sering dan berulang. Dengan interaksi yang berulang, jika anak merasa nyaman dan tidak merasa ditekan, biasanya anak bisa membangun relasi dengan teman/orang lain
– Jadi, kuncinya adalah tetap mengembangkan keterampilan sosial anak sambil memberikan waktu/ruang lebih besar baginya untuk beradaptasi dalam lingkungan sosial baruSemoga membantu
Aar
KeymasterKak Yovina,
Ini adalah tantangan umum anak-anak saat ini karena sejak kecil mereka jarang terpapar dengan kegiatan fisik dan lebih banyak terpapar dengan kegiatan digital (gadget). Akibat, anak-anak memang memiliki kelembaman, malas bergerak dan melakukan kegiatan fisik.
Ada 2 hal yang perlu dicari solusinya berkaitan dengan hal ini:
1. Mengelola penggunaan gadget
Ini sangat terkait dengan kebijakan keluarga. Jika diperlukan proses mengurangi penggunaan gadget, perlu dilakukan diskusi bersama anak tentang alasan mengapa dilakukan, tujuannya apa, dan aturan main yang baru seperti apa.2. Alternatif kegiatan
Saat anak tidak melakukan kegiatan, tantangan orangtua adalah “membuatkan” kegiatan yang menarik untuk anak. Nah, proses ini yang seringkali dirasakan berat oleh orangtua karena harus berpikir/menawarkan/mendampingi anak. Karena proses ini berat, makanya orangtua cenderung memberikan kelonggaran anak memakai gadget karena membuat orangtua menjadi ringan (tidak mengurusi anak).3. Teladan
Salah satu yang manjur untuk menggerakkan anak melakukan kegiatan fisik/non gadget adalah keteladanan anggota keluarga lain (ibu/bapak). Jika ibu/bapak senang melakukan kegiatan lain (misalnya memasak) dan terlihat melakukannya dengan happy, itu bisa menjadi modal besar untuk membimbing anak melakukan kegiatan fisik. Tapi jika ayah/ibu sangat fokus kegiatan gadget dan jarang melakukan kegiatan fisik non-gadget, proses ini pasti lebih susah. Anak tidak cukup hanya diberikan motivasi dan perintah, sementar orang2 di sekitar tidak melakukannya.4. Menemukan inspirasi/alasan
Salah satu cara untuk membuat anak tertarik melakukan sebuah hal adalah menemukan pemicu (trigger). Pemicu itu bisa dari idola anak, buku, lagu, film, tontonan, dan sebagainya. Atau dari peristiwa nyata yang menyentuh hati anak, misalnya cerita pengalaman ayah/ibu tentang manfaat dari kegiatan/keterampilan memasak.5. Memaksa
Sebagai orangtua, Anda punya otoritas untuk mendorong anak melakukan sebuah hal yang penting menurut Anda bagi mereka. Kuncinya adalah terus berkomunikasi, menjelaskan gambar besar/alasannya, dan sambil terus berproses mencari cara yang asyik/menyenangkan bagi anak.Nah, diantara semua itu, mana yang kira2 cocok dan bisa Anda lakukan?
Aar
KeymasterDear kak Patrisia,
Sebenarnya banyak kak dan kami tidak punya preferensi PKBM tertentu.Sebagai langkah awal survey, bisa menimbang PKBM Piwulang Becik. Tapi ini di Salatiga, bukan Yogyakarta (posisi antara Yogya-Semarang). Kebetulan anak-anak kami terdaftar di sana dan banyak orangtua HS dari berbagai kota yang terdaftar di sana.
Informasinya bisa dipelajari dan dijajagi di: http://www.piwulangbecik.com
Aar
KeymasterDear kak Rianita,
Ukuran yang bisa dilakukan adalah saat anak bisa berdialog dan melakukan negosiasi dengan kita. Anak usia 5 tahun mungkin sudah bisa, tapi masih sangat terbatas.
Jika ada belum terampil, maka orangtuanya yang memimpin proses.
Supaya kita tak jatuh pada ekstrem membiarkan-sesukanya dan larangan-sepenuhnya, maka orangtua perlu membuat aturan main, misalnya: setiap hari jam berapa dan/atau kapan boleh nonton TV.
Nah, aturan itu disampaikan ke anak dan dijelaskan “why” atau alasannya untuk kepentingan anak. Pada awalnya anak kemungkinan akan menolak dan memberontak atau menawar. Di sini pentingnya orangtua untuk lembut sekaligus tegas.
Jika anak memaksa, tetap bersikukuh lah dengan kesepakatan dan aturan waktu. Sebagai solusi, berikan ide dan dampingi anak melakukan kegiatan lain.
Semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Patrisia,
Layanan PKBM itu berbeda-beda dan tidak standar. Ada yang mewajibkan kehadiran, ada yang tidak. Ada yang mengharuskan ikut kegiatan belajar/tutorial di sana, ada yang tidak. Jadi memang bermacam-macam.Itu realitas di lapangan.
Dalam konteks HS, penting untuk mencari PKBM yang tidak mewajibkan kehadiran dan bisa fleksibel membantu urusan legalitas & Ujian Paket. Lebih fleksibel lagi jika PKBM-nya aktif secara online sehingga modul belajar dan interaksi bisa dilakukan secara online.
Nah, di titik inilah tantangan dalam proses HS.
Untungnya proses pendaftaran PKBM itu tak harus di kota sama, kak. Kita bisa mendaftarkan anak di PKBM kota lain yang fleksibel dan memiliki layanan online. Keuntungannya fleksibilitas. Kerugiannya pada saat Ujian Paket anak harus hadir di kota PKBM tersebut.
Bisa dijadikan momen jalan2 sih, hehehe
Demikan semoga membantu. Kalau ada pertanyaan lain, feel free untuk ditanyakan.
Aar
KeymasterHai kak Ummu Zuhri,
Pengkategorian 3 jalur HS ini kami buat untuk membuat differensiasi dan memudahkan orangtua di Indonesia memahami keragaman HS bahwa HS itu tak hanya mengikuti jalur sekolah: SD-SMP-SMA-Kuliah-Kerja.
Mengapa?
Karena kita (orangtua) merupakan produk sekolah dan profesi-profesi yang kita kenal biasanya menempel dengan sistem persekolahan (SD-SMP-SMA-Kuliah) baru masuk ke dunia profesi, seperti: ahli farmasi, akuntan, pengacara, dsb. Jadi, yang maksud jalur akademis adalah jalur profesi yang mensyaratkan ijazah SD-SMP-SMA (+ kuliah).
Nah, di era saat ini, semakin berkembang profesi-profesi yang tidak berbasis ijazah, tetapi berbasis portofolio karya/output. Profesi ini biasanya ada di area teknologi/kreatif, misalnya: fotografer, videografer, penulis, internet marketer, desainer, dsb. Nah, syarat untuk masuk dunia profesi ini berbeda dengan dunia profesi sebelumnya sebelumnya. Yang diandalkan bukan ijazah, tapi portofolio karya & sebagian lagi sertifikasi. Di wilayah profesi ini, tak penting apakah seseorang memiliki ijazah S1 karena ijazah S1 bukan syarat untuk memasuki “profesi baru” ini.
Sebagai contoh, seorang fotografer & videografer tidak akan ditanya lulusan mana, tetapi akan ditanya portofolionya karyanya & kolaborasi yang pernah dilakukannya. Internet marketer tak ditanya lulusan mana, tapi pengalaman dan kinerjanya. Penulis akan ditanya buku apa saja yang pernah ditulisnya. Vloggger akan ditanya channel-nya. Dst.
Jadi, profesi2 baru itu tak menuntut ijazah dan pembelajaran akademis yang ketat mengikuti jenjang konvensional (SD-SMP-SMA-Kuliah), tetapi menuntut keahlian berkaya dan berkontribusi secara nyata. Dengan tujuan yang berbeda dari sebelumnya, proses-proses belajar yang dijalani oleh anak-anak yang berorientasi pada profesi baru ini pun akan berbeda. Ijazah menjadi hal yang opsional bagi mereka, tetapi mereka fokus pada keahlian praktis pada bidang-bidang yang ditekuninya.
Demikian juga pebisnis. mereka tak tak harus memiliki standar ijazah/sertifikasi tertentu. Yang akan ditanya dari pebisnis adalah dia punya bisnis apa saja, berapa omzetnya, karyawannya, strateginya, dsb. Apakah jika anak diorientasikan menjadi pebisnis harus menempuh proses belajar seperti jenjang yang konvensional: SD-SMP-SMA-Kuliah? Tidak harus. Anak-anak bisa sejak awal belajar berbagai aspek bisnis, mulai: selling, marketing, produksi, manajemen manusia, strategi, dsb. Proses-proses belajar yang dijalani anak bukan dengan duduk diam mendengarkan penjelasan, antara lain melalui keterlibatan langsung, memgobrol, diskusi, magang dan mentoring.
Semoga jawaban ini bisa memberikan informasi tambahan.
Jika masih ada yang ditanyakan, dipersilakan kak..
Aar
KeymasterHai kak Renold,
Sepanjang pengetahuan saya hingga saat ini, tak ada tools khusus untuk mengenali minat-bakat anak usia 8 tahun. Yang adalah pengamatan. Minat dikenali dari: hal yang disukai (enjoy), sering dilakukan (frequent), dan inisiatif tanpa disuruh (initiative).
Sementara itu, bakat terkait dengan kemampuan menghasilkan output atau kemampuan yang: luar biasa (excellent), kapasitas mempelajari dengan cepat (easy), dan pengakuan nyata dari orang lain (earn).
Proses utama yang bisa dilakukan orangtua:
– menggunakan minat sebagai pintu masuk aneka pembelajaran
– memaparkan anak dengan berbagai pengalaman
– mencoba melakukan pendalaman pada minat untuk mengetahui apakah yang diminati anak merupakan bakatnyaAar
KeymasterKak Puri,
Untuk anak usia 2.5 tahun secara umum belum bisa kak. Anak fokusnya masih terbatas, motorik skillsnya juga masih di awal. Jadi memang belum bisa dilibatkan secara intensif. Anak akan merecoki dan main-main dengan bahan makanan. Pasti seru sekaligus kacau (messy), hehehe. Itu juga proses belajar, kak. Bukan belajar memasak, tapi stimulasi sensorinya.
Dinikmati dulu proses perkembangan motorik dan fokusnya kak, nanti dia akan berproses seiring waktu.
Proses yang bisa dilakukan saat ini adalah melibatkan anak sesekali, misalnya diminta bantuan mengambilkan sesuatu atau melakukan hal kecil yang sederhana, misalnya bagian akhir dari proses memasak (menghias dan menyajikan).
Semoga membantu.
Aar
KeymasterTerima kasih kak Andrio untuk pertanyannya.
Jika keluarga memiliki tradisi literasi yang baik, biasanya anak-anak sudah mengenal huruf/kata dari proses orangtua membacakan buku cerita pada anak (read aloud). Proses yang dibutuhkan adalah kebiasaan dongeng/cerita dan membacakan buku cerita pada anak. Pengenalan huruf dan kata berjalan alamiah melalui tanya-jawab dan keingintahuan anak.
Proses belajar anak usia dini biasanya menggunakan metode visual. Huruf/kata dilihat sebagai lambang yang berasosiasi dengan bunyi tertentu. Tapi bagian otak logika anak belum bertumbuh sempurna.
Bagian otak logika anak biasanya menjadi matang sekitar usia 7 tahun. Otak belahan kanan dan kiri bersambung. Anak di usia ini dinilai sudah siap menjalani proses belajar membaca yang lebih terstruktur. Tanda keterambungan otak kiri dan kanan adalah anak bisa melakukan proses berbaris (kaki kanan maju bersamaan tangan kiri, kaki kiri maju bersamaan tangan kanan).
Mengapa? Karena membaca sebenarnya membutuhkan otak visual & logika sekaligus. Jika anak terbiasa membaca secara visual, dikhawatirkan otak logikanya tidak terstimulasi secara seimbang sehingga pada saat besar anak kesulitan membaca teks yang panjang dan kompleks.
Tentang perbandingan belajar membaca dengan huruf & fonetik, mohon maaf saya belum menemukan penelitian mengenai perbandingan efektivitasnya.
Jika mau dilihat gambar besarnya, ada beberapa jenjang proses belajar membaca:
1. Melafalkan huruf/suku kata/kata/kalimat
2. Memahami teks yang dibaca
3. Menghubungkan makna teks yang dibaca dengan pengetahuan yang dimiliki
4. Membangun kecintaan membacaProses belajar membaca sendiri sebenarnya relatif tidak susah. Yang perlu kita bangun pada anak-anak dan membutuhkan waktu yang lebih panjang adalah jenjang2 di atasnya: membaca-memahami, mengaitkan teks dengan pengetahuan/pengalaman lain, dan membangun kecintaan membaca. Dalam konteks ini, penting untuk menghadirkan pengalaman membaca yang membahagiakan pada anak, bukan pengalaman yang traumatik yang membuat anak menjadi takut/segan/malas membaca dan bersentuhan dengan buku.
Semoga menjawab pertanyaan Anda.
Aar
KeymasterKak Ita,
Kuncinya adalah:
~ bermain dan bersenang-senang
~ tidak ada targetKegiatan literasi utama pada anak usia dini adalah membaca nyaring (read aloud). Perbanyak membaca buku cerita dan mengobrol bersama anak tentang buku yang dibaca, misalnya tentang tokohnya, alur cerita, setting cerita, dll.
Setelah belajar huruf/alfabet, tangga berikutnya adalah suku kata. Anda bisa menggunakan lagu “AIUEO” yang dibuat Lala untuk memperkaya proses belajar membaca. Link lagu “AIUEO”:
Aar
KeymasterKak Maria,
Kalau menurut petunjuk website-nya, bisa digunakan mulai usia 3-5 tahun. Tapi itu konteks-nya anak-anak yang sehari-hari berbahasa Inggris yaa..Kalau saran kami, dikuatkan dulu bahasa Ibu agar anak memahami pembicaraan dengan lingkungannya, terampil mengekspresikan pikiran/perasaan dan bercakap-cakap dengan orang lain.
Bahasa Inggrisnya diperkenalkan sebagai permainan/mendengarkan/menonton. Medianya antara lain lagu/film
Penggunaan Reading Eggs sebagai alat bantu bahasa kedua bisa dimulai sekitar usia 5-7 tahun.
Aar
KeymasterBetul kak Windhi,
Salah satu ciri dari pelatihan yang diadakan Rumah Inspirasi adalah mendorong orangtua untuk belajar mengenali dan menetapkan standar berkaitan hal-hal yang dianggap baik untuk hidupnya dan hidup keluarganya. Ini adalah sebuah keterampilan penting karena dalam kehidupan di sekolah dan masyarakat selama ini kita selalu didorong untuk mengikuti standar yang dibuat oleh orang lain.
Kami ingin mendorong orangtua memiliki otonomi dengan hidupnya, menerima kondisi saat ini sambil terus membuka diri untuk bertumbuh menjadi lebih baik. Itulah kunci kebahagiaan.
Demikian juga berkaitan dengan anak. Penentuan hal yang dianggap penting ditentukan berdasarkan keyakinan orangtua tentang kondisi masa depan dan bekal yang dibutuhkan buat anak untuk survive di masa depan.
Dalam konteks pengembangan keterampilan dasar, kami ingin mendorong orangtua untuk:
– tidak hanya memasrahkan anak pada sistem sekolah/eksternal
– terlibat aktif dalam kegiatan bersama anak
– menumbuhkan keterampilan (bukan hanya pengetahuan) buat hidup anak saat ini dan masa depanDalam materi tentang keterampilan personal, keterampilan sosial, dan keterampilan profesional, saya ingin menunjukkan kepada orangtua bahwa banyak hal-hal sederhana dalam keseharian yang penting diajarkan pada anak dan bisa bermanfaat untuk hidupnya, misalnya menghasilkan makanan.
Dalam sistem pendidikan di luar, kita tak diajarkan secara khusus sehingga banyak anak dan orang dewasa tidak terampil memasak, padahal dia membutuhkan dan menginginkan keterampilan memasak karena menambahkan fleksibilitasnya.
Ketika orangtua terampil memasak, maka dia memiliki pilihan apakah membeli makanan (praktis & lebih mahal) atau memasak (higienis, sesuai pilihan, lebih hemat). Jika orangtua tak memiliki keterampilan memasak, maka dia hanya memiliki opsi untuk membeli makanan. Kondisi itu akan menjadi beban jika sedang dalam kondisi kesulitan keuangan atau harus menyajikan masakan khusus saat anak sakit, atau berada dalam kondisi terpaksa yang mengharuskan memasak.
Jadi, itu goal belajar menghasilkan makanan dan memasak adalah meningkatkan keterampilan anak dan menambah fleksibilitas hidupnya. Semakin terampil anak, semakin fleksibel hidupnya.
Dalam konteks keluarga kami, standar minimalnya adalah anak bisa membuat makanan sendiri: membuat roti isi, toast, menanak nasi, menggoreng telur, membuat mie instan. Itu paling basic yang akan membuat dia tak akan kelaparan saat di rumah.
Semoga menjawab ya kak..
Aar
KeymasterInformasi contoh kurikulum ada di ruang kelas, kak.
~ Yang di Indonesia kurikulum dasarnya ini: https://member.rumahinspirasi.com/topic/peraturan-mendikbud-129-2014-tentang-sekolahrumah/
~ Kurikulum dalam bentuk sederhana: https://member.rumahinspirasi.com/courses/memulai-homeschooling-usia-dini/lessons/kurikulum-homeschooling-usia-dini/topic/checklist-parameter-perkembangan-anak-diknas/
~ Contoh kurikulum luar negeri: https://member.rumahinspirasi.com/topic/contoh-referensi-kurikulum/
Aar
KeymasterTerima kasih kak untuk sharingnya kak Windhi,
Dalam konteks menghasilkan makanan, apa yang ingin Anda ajarkan?
Pengetahuan tentang makanan atau keterampilan memproduksi makanan?Jika yang ingin Anda ajarkan adalah pengetahuan, maka bisa diberikan dalam bentuk buku atau video.
Tapi kalau Anda ingn membekali anak dengan keterampilan, maka tak cukup hanya dengan video, tapi perlu dipraktekkan.
Kapan praktek memasak dilakukan?
Saat Anda memiliki waktu. Jika hari biasa bekerja, maka praktek dilakukan saat akhir pekan (Sabtu-Minggu).
Bagaimana kalau orangtua khawatir anak ceroboh?
Di sinilah pentingnya pengamatan orangtua untuk melihat apa yang sudah bisa dilakukan anak dan apa yang perlu distimulasi/dilatih.
Jika anak belum bisa menggunakan kompor dan belum bisa menggoreng telur, berarti jangan dulu. Mulai dengan hal-hal yang sederhana tanpa menggunakan kompor; misalnya: menghangatkan makanan (seperti yang Anda contohkan). Atau, membuat roti isi. Anak belajar mengoles mentega, mengisi dengan meisis atau selai, dll.
Kegiatan lain yang lebih kompleks dilakukan pada saat ada pendampingan orangtua, dimulai dari masakan sederhana, misalnya: membuat jelly, donat, dll. Anda bisa menggunakan bahan yang siap pakai (ready mix) yang tersedia di supermarket.
Apakah keterampilan menghasilkan makanan ini cukup hanya diajarkan dengan kemampuan anak menghangatkan/memanaskan makanan?
Tergantung target Anda sendiri. Jika Anda merasa keterampilan itu sudah cukup menjadi bekal hidup anak saat dewasa, silakan. Jika Anda merasa anak perlu diajari keterampilan lanjutan, maka perlu dicari akal bagaimana cara mengajarkannya.
Semakin terampil anak menghasilkan makanan, semakin dia merasa berdaya dan memiliki alternatif.
-
AuthorPosts