Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 676 through 690 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Podcast Ijazah Anak Homeschooling #7149
    Aar
    Keymaster

    Kak Irene,

    Secara teori ada ujian yang perlu dilakukan oleh anak setiap tahun untuk kenaikan kelas. Tapi prosesnya jauh lebih sederhana daripada di sekolah. Apalagi untuk usia 1-3 SD. Secara sederhana, mungkin bisa dikatakan bahwa anak pasti naik kelas.

    Poin yang perlu dikejar orangtua dalam HS bukan berkaitan dengan rapor dan kenaikan kelas, tetapi kapasitas nyata apa yang dikembangkan dalam usia anak 7-9 tahun. Itu yang lebih penting dan perlu menjadi fokus orangtua.

    Jika PKBM menyediakan layanan online, ujiannya mestinya bisa dilakukan juga secara online. Untuk lebih memastikan, sebaiknya ditanyakan langsung pada PKBM yang dituju kak Irene.

    in reply to: Podcast Dokumentasi untuk Berbagi #7150
    Aar
    Keymaster

    Terima kasih kak Rianita,

    Secara substansi, poin penting dalam HS adalah waktu untuk pendampingan. Kapan & bagaimana proses yang paling memungkinkan untuk mendampingi anak? Jika waktu dan energinya tersedia, proses HS bisa dilakukan. Misalnya, komitmen pagi sebelum bekerja atau sore/malam. Waktu itu yang dijadikan sebagai kegiatan belajar anak-anak.

    HS untuk orangtua bekerja biasanya dipengaruhi oleh beberapa variabel utama:
    ~ usia anak. Anak usia dini membutuhkan waktu pendampingan yang lebih banyak. Anak remaja lebih memungkinkan karena anak sudah bisa mandiri mengelola proses-prosesnya.

    ~ fleksibilitas waktu, Kondisi bekerja itu berbeda-beda, dari alokasi waktu ataupun fleksibilitas kerja orangtua.

    ~ infrastruktur pendukung. Ketika orangtua sedang bekerja, anak bersama siapa? Jika kondisi pekerjaan memungkinkan membawa anak (dan ada daycare di kantor), maka itu lebih memungkinkan untuk dilakukan. Atau ada asisten yang menemani anak di rumah.

    Untuk orangtua bekerja, proses HS itu memang menjadi lebih berat. Pasti harus ada modifikasi2 yang perlu dilakukan.

    Beberapa bacaan ini mungkin bisa membantu untuk melihat tantangan dan kesempatan di lapangan:

    Kalau dalam kondisi kak Rianita, kondisi apa yang kira2 bisa dilakukan untuk membuat proses HS menjadi lebih memungkinkan untuk dilakukan?

    in reply to: Kurikulum, Materi Belajar dan Pola Kegiatan #7154
    Aar
    Keymaster

    Kak Wini,
    Proses belajar logika dan konseptual biasanya dibangun menggunakan 2 alat utama, yaitu: bahasa dan matematika.

    Proses paling sederhana (tapi efektif) adalah melalui kegiatan mengobrol & bercerita.

    Cerita bisa dilakukan dengan cara:
    ~ Anak dibacakan buku cerita, kemudian diminta diminta menceritakan ulang dengan bahasanya sendiri
    ~ Anak usai melakukan kegiatan, kemudian diminta menceritakan ulang kegiatannya.

    Prosesnya dilakukan secara santai dengan cara mengobrol.

    Jika anak belum terbayang cara melakukannya, maka berikan contoh sederhana yang bisa dilakukan anak. Jika anak masih belum bisa juga, bantu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada anak.

    Dari proses ini, anak belajar mengenali judul buku, nama penulis, nama tokoh, dan alur cerita. Bantu anak mengucapkan kata-kata yang sulit diucapkan. Jangan lupa menanyakan pada anak kosakata yang tidak dimengertinya. Jika ada yang tak dimengerti, jelaskan dan kenalkan dengan kosa kata baru yang digunakan di dalam buku.

    Semoga membantu.

    in reply to: Pengembangan Keterampilan Personal #7158
    Aar
    Keymaster

    Kak Adinda,

    Kebayang kondisinya pasti jadi lebih rumit karena adik paling kecil pengin ikutan belajar (yang menganggu kakaknya)

    Ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan:

    1. Tantangan pertama adalah memelihara keingintahuan dan inisiatif belajar adik kecil yang menggebu-gebu (positif) dan pada saat bersamaan menerima concern kakak-kakak yang merasa terganggu.

    Jangan sampai adik jadi rewel dan kehilangan inisiatifnya. Jangan sampai kakak-kakak menjadi tidak bisa menuntaskan proses belajarnya.

    2. Sumber penyebab kondisi ini biasanya adalah: adik ingin merasa besar dan ingin diperlakukan sama dengan kakak-kakak. Dia tidak mau dan tidak suka diperlakukan berbeda dengan kakak-kakaknya. Dia tak mau diperlakukan sebagai anak kecil (walaupun masih kecil, hehehe)

    Jika kita bisa menerima sudut pandang itu, mungkin kita bisa lebih lapang hati. Demikian pun kakak2 bisa melihat kondisi adiknya sebagai hal yang “lucu”, bukan menyebalkan. Jika perkembangan sosial anak ke-3 diintegrasikan, mungkin solusi-solusi kreatifnya bisa dicari lebih mudah.

    Kata kunci yang biasa kami lakukan adalah “mengintegrasikan”. Menjadikan kegiatan adik kecil sama dengan kakak-kakak, tapi porsinya lebih disederhanakan.

    Jadi, dalam proses kegiatan memasak, masuknya adik sebagai anggota tim memang perlu diintegrasikan dengan sadar. Itu artinya:
    ~ setiap orang mendapatkan peran dalam proses memasak. Jika kakak memakai celemek, adik juga ikut memakai celemek.
    ~ atur supaya ada 3 alat (misalnya: wadah) yang digunakan masing-masing anak.
    ~ kegiatan dipimpin oleh Ibu dengan memberikan arahan pada setiap anak. Dua kakak bekerja sendiri, adik dalam pengawasan Ibu
    ~ kalau kakak menimbang, berikan kesempatan juga pada adik untuk menimbang. Yang penting dia terlibat dan melakukan.
    ~ fokus pada menikmati proses belajar supaya kakak-kakak dan Ibu tidak jadi bete

    Proses yang sama juga dipakai untuk kegiatan yang melibatkan kertas. Kegiatan temanya sama, tapi kegiatan berbeda. Adik diberi kertas print dengan gambar yang sama dengan kakak, tapi prosesnya bebas (misalnya: diwarnai, digunting, dicoret2, dll).

    Proses seperti ini yang biasanya kami lakukan, kak.

    Tidak sempurna, sih. Tapi seiring waktu prosesnya menjadi lebih mudah. Salah satu kunci pentingnya adalah memberikan pengertian dan kelapangan hati dari kakak pertama. Jika pertama kakak mendapat pengertian bahwa dia keren karena membantu Ibu mengurusi adik-adik. Juga, ketika kakak pertama bisa ditanya dan membantu kakak ke-2 jika ada pertanyaan.

    Semoga membantu.

    in reply to: Mengelola Jadwal Anak #7160
    Aar
    Keymaster

    Kak Dwi,

    Bagaimana cara memilih PKBM untuk HS? Apa kriterianya?

    Cari yang tidak berlabel homeschooling ya…

    Beberapa kriteria penting untuk PKBM yang ramah dengan HS, antara lain:
    1. Fleksibilitas proses belajar
    Tidak mensyaratkan kehadiran tatap-muka.

    2. Dukungan belajar online
    PKBM menyediakan dukungan dalam bentuk materi belajar/kegiatan secara online, minimal dalam bentuk modul belajar dan mekanisme penilaian.

    3. Memiliki NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional)
    ~ Cek NPSN PKBM: https://referensi.data.kemdikbud.go.id/index31.php

    4. Bisa mengadakan ujian Kesetaraan sendiri (tidak menumpang)

    5. Dukungan tutorial dan kegiatan siswa secara online (optional)

    6. Pertanyaan ke PKBM
    Berikut ini beberapa pertanyaan yang bisa diajukan ke PKBM:
    1. Apakah PKBM punya NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional)?
    2. Apa akreditasi PKBM?
    3. Apakah PKBM berhak mengadakan Ujian Paket sendiri (tidak menumpang ke PKBM lain)?
    4. Apakah ada syarat kehadiran fisik di PKBM? Kapan siswa harus hadir?
    5. Layanan apa saja yang diberikan oleh PKBM? Modul, tutorial, dll?
    6. Apakah ada pembelajaran online? Apakah anak bisa belajar mandiri?
    7.Apakah ada student club atau klub kegiatan anak?
    8. Berapa biaya? Apa komponen biaya yang harus dibayar?
    9. Dll

    Untuk mendaftar, tidak harus PKBM di kota Anda. Anda bisa memilih PKBM di luar kota.

    Sebagai informasi berdasarkan pengalaman, anak2 kami terdaftar di luar kota tempat kami tinggal. Saat ini anak kami terdaftar di PKBM Piwulang Becik (http://www.PiwulangBecik.com). Ini hanya salah satu contoh saja.

    in reply to: eBook Manajemen Keseharian Homeschooling #7166
    Aar
    Keymaster

    Selamat pagi kak Fatma Andhayani,

    Proses deschooling memang berat bagi kedua belah pihak, baik bagi orangtua maupun bagi anak. Orangtua perlu belajar menentukan arah, berkomunikasi secara baik dengan anak, dan mengelola ekspektasinya. Demikian pun anak bingung karena selama ini semuanya diatur dan ditetapkan orang lain, kini dia diajak berpikir dan berinisiatif. Semua itu bukan hal yang mudah.

    Jangka waktu proses deschooling sangat tergantung pada kualitas komunikasi antara orangtua-anak dan kesiapan bereksperimen mencari pola baru yang sesuai dengan anak & keluarga. Secara umum, para veteran menyatakan bahwa waktu yang dibutuhkan kurang lebih adalah = x tahun bersekolah = x tahun masa deschooling/adaptasi.

    Jika kelas 8, berarti dia sudah bersekolah selama 8 tahun. Jika ditambah TK 1 tahun, berarti jangka waktu proses transisi itu sekitar 9 bulan. Bisa lebih cepat, bisa lebih lambat.

    Apa yang terjadi selama proses deschooling?

    Yang terjadi adalah “chaos” karena sama-sama sedang mencari pola. Jika anak bingung dan tidak punya inisiatif, itu hal yang wajar. Jika anak tidak bisa menjawab mau apa, itu juga hal yang sering terjadi. Karena selama ini dia hanya diminta patuh dan menjalankan suka-atau-tidak-suka. Dia tidak pernah ditanya mau apa dan inisiatif. Jadi, anak perlu dikasihani karena kemampuan survivalnya tanpa sadar dilemahkan oleh sistem.

    Yang perlu diperkuat dalam proses deschooling adalah dialog yang nyaman antara anak & orangtua. Sebagai pemimpin proses, orangtua perlu membantu anak dengan keterampilan survival paling dasar, yaitu inisiatif.

    Jika anak belum bisa menjawab pertanyaan terbuka: “Kamu mau kegiatan apa?”
    Maka bantulah anak dengan kegiatan: “Kamu pilih kegiatan A, B, atau C?”
    atau “Kamu mau belajar skills A, B, atau C?”

    Setelah anak memilih, bantu anak berproses melakukan kegiatan yang dimaksud dengan menyediakan alat belajarnya, misalnya: “mau belajar pakai apa? kamu sudah tahu alat belajar yang mau kamu gunakan?”

    Kalau anak tidak tahu, maka lakukan proses pencarian bersama. Googling bareng dan diskusikan pilihan yang ada. Sepakati proses belajar bersama anak, temani dan dampingi prosesnya.

    Jadi, misalnya anak tertarik belajar animasi, lakukan pencarian untuk mencari alat belajar animasi. Apakah mau yang gratis di Youtube atau ikut kelas online? Diskusikan bersama. Putuskan bersama. Bikin kesepakatan proses belajarnya.

    Intinya, ketika anak tidak tahu, memang perlu diajari dan ditemani prosesnya.

    Dalam masa normal, kondisi deschooling sering dibantu dengan proses anak ikut kursus yang disukai, misalnya: bahasa atau seni (musik). Sambil anak kursus, orangtua & anak mulai terus mencari jenis2 kegiatan yang mungkin dilakukan anak.

    in reply to: Podcast Manajemen Keluarga dalam Homeschooling #7168
    Aar
    Keymaster

    Kak Puri Putri,

    Proses belajar anak usia dini, apalagi usia 2.5 tahun memang tidak bisa dilakukan dengan melalui instruksi. Apalagi mewarnai dan menempel gambar. Sebab, fokusnya masih terbatas, demikian pula motorik halusnya. Proses mewarnai dan menempel biasanya dilakukan anak-anak usia sekitar 4-5 tahun.

    Lalu, kegiatan apa yang dilakukan anak usia 2.5?

    Kegiatannya adalah yang sesuai rentang usianya.

    Silakan mengunduh materi checklist perkembangan anak usia 2-3 tahun di sini:

    in reply to: eBook Manajemen Keseharian Homeschooling #7170
    Aar
    Keymaster

    Keren mas Anggi. Mainkan..!

    in reply to: Podcast Membangun Kebiasaan Baik Anak #7171
    Aar
    Keymaster

    Kak Fara,

    Sebenarnya tak ada benar dan salah berkaitan uang jajan atau uang saku. Semuanya tergantung konteks dan tujuan orangtua. Bagaimana kondisinya? Apa yang ingin dibangun.

    Tentang Uang Saku, selengkapnya begini:

    Salah satu kebiasan yang cukup banyak dilakukan oleh orangtua di Indonesia adalah memberikan uang saku.

    Sebelum membahas teknis tentang kapan diberikan dan seberapa besar nilainya, saya ingin membahas gagasannya dulu.

    Mengapa ada orangtua memberi uang saku pada anaknya? Mengapa ada orangtua tidak memberi uang saku pada anaknya?

    Pahami Konteks, Alasan, dan Tujuannya

    Memberi dan tidak memberi uang saku tentu saja ada alasannya. Bukan semata harus memberi karena semua tindakan kita berkaitan uang saku adalah pilihan, bukan keharusan. Tidak ada yang mewajibkan memberi uang saku, kan?

    Jadi, yang pertama orangtua perlu memahami konteks dan alasan pemberian uang saku.

    Alasan memberi uang saku
    Ada orangtua yang memberikan uang saku karena anaknya butuh uang untuk membayar kendaraan pulang-pergi rumah-sekolah.

    Ada orangtua yang tidak sempat memberikan bekal sehingga memberikan uang saku agar anaknya bisa jajan di sekolah.

    Ada orangtua yang memberi uang saku karena ingin anaknya bisa bergaul dan main dengan teman-temannya di kantin.

    Ada orangtua yang memberikan uang saku karena ingin mengajari anak untuk mengelola uangnya sendiri.

    Alasan tidak memberi uang saku
    Di sisi yang berbeda. Ada orangtua tidak memberi uang saku karena tidak ada biaya transportasi ke sekolah (bus sekolah, diantar, dll).

    Ada orangtua tidak memberi uang saku karena anak sudah membawa bekal makanan dan berpandangan makanan di sekolah tidak higienis.

    Ada orangtua yang tidak memberi uang untuk mengajari anak keuangan dan self control. Anak dibiarkan berpikir untuk mencari uang sendiri buat jajan. Jika anak butuh uang, dia diminta membuat proposal dan pasti diberi sesuai kebutuhan.

    Mana yang benar?
    Dua-duanya (memberi dan tidak memberi) benar sesuai konteks masing-masing.

    Ukuran benarnya adalah menyelesaikan masalah, cocok dengan kondisi di lapangan, tujuan yang diharapkan tercapai.

    Jadi, strategi dasarnya adalah:
    ~ Kenali kondisi Anda dan kondisi anak berkaitan dengan kebutuhan uang saku
    ~ Kenali tujuan Anda
    ~ Coba sebuah kebijakan yang paling cocok.
    ~ Secara periodik evaluasi implementasi dan dampaknya

    Jadi, jika Anda ingin mengajarkan anak untuk belajar mengelola uang sendiri, maka tak ada salahnya untuk dicoba.

    in reply to: Podcast Manajemen Materi Belajar #7174
    Aar
    Keymaster

    Dear kak Yovina,

    • Untuk anak usia dini, kepentingan membuat jadwal adalah untuk orangtuanya. Orangtua merasa sehat secara mental dan proses kegiatan anak terkelola.
    • Transisi saat usia dini – usia sekolah (sekitar 5-7 tahun), mulailah belajar membuat jadwal. Tuliskan jadwal di dinding, buat bersama anak, masukkan jadwal keseharian yang sudah dilakukan (misalnya: bangun pagi, mandi, sikat, gigi, dsb)
    • Sebenarnya tak ada kondisi yang murni anak bebas membuat jadwalnya. Kondisi kebebasan lahir dari proses-proses sebelumnya ketika anak berlatih dan bisa dipercaya membuat dan menjalankan rencananya. Selama proses itu, ada dialog dan diskusi bersama orangtua tentang jadwal kegiatan anak.

    Dalam pengalaman keluarga kami, anak2 sudah terampil mengatur jadwalnya sendiri ketika akhis SMP dan sepanjang masa SMA

    in reply to: eBook Manajemen Keseharian Homeschooling #7175
    Aar
    Keymaster

    Sama-sama, kak Angreni Gunawan.

    Selamat mencoba project-based learning bersama anak-anak

    in reply to: eBook Manajemen Keseharian Homeschooling #7178
    Aar
    Keymaster

    Dear kak Anggraeni,
    Project-based Learning (PBL) adalah sebuah strategi belajar yang banyak digunakan dalam homeschooling. Untuk proses belajar, anak-anak tidak (hanya) berbasis mata pelajaran, tapi berbasis pada dunia nyata. Nah, salah satu contoh dunia nyata yang menjadi pintu belajar anak-anak adalah makanan.

    Prosesnya kurang lebih seperti ini:
    Ibu (I): “Kita bikin proyek belajar tentang makanan yuk!”
    Anak (A): “Mauuu!”

    I: “Mau bikin proyek belajar tentang apa? Keju, cokelat, pizza?”
    A: “Aku mau bikin proyek tentang pizza?”

    I: “Apa yang ingin kamu pelajari tentang pizza?”
    A: “Aku ingin tahu sejarahnya, jenis-jenis pizza, apa yang bikin pizza enak, terus cara bikin pizza.”

    I: “OK, nanti kamu cari informasi tentang itu yaa.. terus kamu bikin slide. Kalau sudah selesai, nanti presentasi dan cerita tentang pizza.”
    A: “Boleh nggak nanti kita bikin pizza bareng?”

    I: “Boleh. Nanti kalau kamu sudah selesai cari resepnya, nanti kita bikin pizza. Jangan lupa untuk foto pizza hasil karyamu.”
    A: “Asyikkk..”

    Lalu, mulailah proses anak mencari informasi/pengetahuan tentang pizza dengan didampingi Ibu. Anak belajar meringkas informasi dengan bahasa sederhana dan belajar membuat slide presentasi tentang pizza, memasak pizza bersama, dan kemudian melakukan presentasi. Proses ini berlangsung beberapa hari.

    Dari kegiatan proyek pizza, anak jadi belajar: sejarah, mencari informasi, meringkas/menyarikan informasi yang dibaca, membuat slide, menghias slide, menonton/mencari resep, mengenal aneka bahan baku, mengikuti tutorial memasak, memotret, dan melakukan presentasi.

    Demikian gambaran sederhana tentang proses membuat proyek dengan tema pizza. Proyek ini dirancang orangtua bersama anak, dengan tema yang disepakati, dengan kompleksitas yang disesuaikan usia anak.

    Semoga menjawab.

    in reply to: Podcast Tips Manajemen Keseharian Homeschooling #7179
    Aar
    Keymaster

    Dear kak Ita,

    Yang paling berat adalah tantangan internal (diri kita sendiri), kak. Tantangan eksternal bisa lebih mudah kita kelola.

    Tantangan internal yang saya maksud adalah: kesabaran, konsistensi, dan kelenturan saat menemani anak belajar/berproses.

    Lalu, apa tips-nya.

    Tips yang utama adalah menyadari bahwa proses parenting adalah perihal pengembangan diri kita sebagai orangtua. Orangtua sering mengira bahwa proses parenting adalah tentang “mengubah anak” agar menjadi sosok ideal seperti yang kita harapkan (inisiatif, pandai bicara, percaya diri, jago ini itu, terampil, mandiri, dsb).

    Kita sering merqsa anak kita punya banyak masalah dan kemudian mencari solusi untuk mengubah anak-anak kita.

    Padahal, yang sering terjadi sebenarnya masalahnya ada di kita, orangtua. Jika kita bersedia belajar memperbaiki diri kita, masalah yang terjadi pada anak biasanya secara bertahap akan terurai.

    Dari mana mulainya?

    Dari mindfulness (melakukan kegiatan sepenuh hati). Saat melakukan interaksi bersama anak-anak, pastikan kita melakukan sepenuh hati, tidak disambi. Hadapkan wajah, tatap matanya, dengarkan sepenuh hati, respon dengan pertanyaan yang tulus (bukan hanya asal respon).

    Jika proses ini dilakukan, biasanya akan terjadi lompatan2 besar dalam proses parenting & homeschooling.

    in reply to: Podcast Fisiologi Pertumbuhan Anak #7180
    Aar
    Keymaster

    Dear kak Cindy Kasenda,
    Cara memperbaikinya adalah dengan “forgiveness”. Berikan maaf pada diri Anda sendiri dan jadikan proses yang Anda jalani sebagai alat untuk terus bertumbuh menjadi orangtua yang lebih baik. Jangan terlalu dihantui oleh rasa bersalah. Fokus pada masa kini dan masa depan.

    Lalu, apa yang perlu dilakukan?

    ANda sudah melakukan langkah yang tepat, yaitu memeluk dan meminta maaf. Jangan lupa untuk melakukan proses itu dalam kondisi sadar. Perbanyak sentuhan fisik dengan anak, mengelus, memeluk, mencium. For no reason. Hanya ingin menyatakan cinta dan syukur saja.

    Mulai dari sana kak. Semoga semakin lama prosesnya menjadi semakin baik.

    Semoga membantu.

    in reply to: Contoh Referensi Kurikulum #7181
    Aar
    Keymaster

    Sayangnya tidak ada kak Cindy Kasenda,
    Sebab, di Indonesia hanya ada 1 jenis kurikulum, yaitu kurikulum 2013. Itupun terus direvisi. Kurikulum inilah yang digunakan sebagai acuan tunggal di Indonesia untuk sekolah dan PKBM. Cara paling sederhana adalah dengan melihat buku pelajaran sekolah dan melihat daftar isinya.

    Sebagai praktisi HS, kesempatan kita adalah melihat dan menggunakan kurikulum yang menurut kita cocok (jika dibutuhkan) untuk proses belajar mata pelajaran. Pada saat ujian, baru anak-anak dibiasakan melihat soal2 dalam bahasa Indonesia untuk mengenal istilah dan pola soal.

Viewing 15 posts - 676 through 690 (of 766 total)
Scroll to Top