Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterKak Dian
IXL Math-nya sudah pernah dicoba?
Kerangka materi belajar Matematika di IXL Math bisa dilihat per Grade. Dalam satu grade, banyak sekali jenis pembelajaran yang dilakukan (paling jelas dilihat di laptop). Tinggal dicek di sebelah kiri mau lihat Grade (kelas) berapa.
Seperti yang saya jelaskan di dalam Coaching, konsep HS yang kami jalani tidak berupa proses mengajar. Tapi mendorong anak belajar mandiri. Jika memang ada kesulitan dan orangtua tidak bisa menjawab, bisa cari tutorial di Youtube, mengikutkan anak pada les, atau mencari tutor. Itu keputusan teknis yang dilakukan sesuai kondis keluarga.
Dalam HS, yang penting visi pendidikan keluarga, apa tujuan HS-nya. Visi pendidikan itu akan menentukan kegiatan apa yang dijalani anak dan materi apa yang akan dipelajarinya karena bentuk HS tak seperti sekolah yang wajib belajar A, B, C. HS betul-betul kustom disesuaikan dengan anak dan orangtua.
Jika ada materi yang tidak dikuasai orangtua (dan itu hal yang pasti), yang bisa dilakukan orangtua adalah:
- menyiapkan anak menjadi pembelajar mandiri (bisa belajar dan mencari tahu sendiri dengan beragam resource yang ada di Internet)
- mencari bantuan eksternal: kelas online (misalnya: Zenius, Ruang Guru), ikut les, bimbel, atau mencari tutor
Aar
KeymasterHalo kak Dian,
Terima kasih kak Sofie untuk sharingnya.
Dalam praktek HS, orangtua biasanya memang menggunakan pendekatan yang lebih praktis menggunakan materi yang tersedia di lapangan, bukan melihat kurikulum yang bahasanya lebih rumit.
Panduan Matematika
Untuk belajar matematika, setiap kurikulum matematika menggunakan pendekatan yang berbeda-beda. Tapi secara umum matematika berfungsi untuk melatih cara berpikir anak.
Di keluarga kami lebih menyukai pengunaan matematika sebagai alat untuk latihan menyelesaikan masalah (problem solving). Jadi, kami sedapat mungkin menghindari hafalan. Untuk kerangka materi belajar (sekaligus alatnya), kami menggunakan IXL Math: https://www.ixl.com/
Panduan Bahasa Inggris
Untuk bahasa Inggris, kami juga tidak menggunakan acuan kurikulum sekolah di Indonesia. Kami menggunakan pendekatan praktis. Tujan belajar bahasa adalah agar bisa berkomunikasi. Jadi, anak belajar mendengarkan, membaca, dan berbicara. Itu yang utama. Ditambah dengan menulis untuk level advance.
Untuk proses belajar bahasa Inggris, kami menggunakan pendekatan praktis:
- memberikan lingkungan yang kondusif sehingga anak terbiasa dengan bahasa Inggris (film yang ditonton, buku cerita yang dibacakan, lagu yang dinyanyikan, dll). Tujuannya agar anak merasa terbiasa dan nyaman dengan bahasa tersebut. Proses ini sejak anak usia dini hingga remaja. Ini materi utama dalam proses belajar bahasa Inggris.
- untuk proses yang lebih terstruktur, kami menggunakan alat belajar online, seperti Reading Eggs. Anak merasa main game, tetapi sebenarnya sedang belajar
- untuk mengasah keterampilan berbicara bahasa Inggris, anak-anak ikut klub public Speaking Agora
- ketika anak sudah besar SD kelas 4 dan sudah memiliki pondasi, kami menggunakan materi yang berkaitan dengan grammar seperti IXL Language Art
- Goal besar kami dalam bahasa Inggris adalah anak terampil berbahasa Inggris. Ukurannya adalah IELTS dan/atau TOEFL. Jika diperlukan kursus, anak akan kursus. Tapi sampai saat ini anak-anak tidak ikut kursus.
- Pendekatan belajar semacam ini mencukupi di keluarga kami. Tata pernah ikut ujian Cambridge PET for School 5 tahun yang lalu dan lulus. Ceritanya bisa dibaca di sini: https://rumahinspirasi.com/tata-lulus-ujian-cambridge-pet-for-school/
Demikin kak Sofie. Semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Amanda,
Kalau memungkinkan, cari yang full online dan tidak harus hadir, kak. Itu berkaitan dengan fleksibilitas sih.
Di Jakarta salah satu yang saya tahu adalah PKBM Faradika di Jaktim. Ini bukan rekomendasi, tapi informasi dari teman HS yang terdaftar di sana.
Proses pendaftaran PKBM juga tak harus dilakukan di kota yang sama, bisa di kota yang beda. Konsekuensinya nanti pas Ujian Paket perlu ke kota tersebut. Misalnya, anak kami terdaftar di PKBM Piwulang Becik (https://piwulangbecik.com/)
Itu hanya contoh saja, kak. Anda bisa mencari dan memilih PKBM lain sesuai preferensi Anda.
Aar
KeymasterKak Tini,
Kalau evaluasi itu dilakukan orang lain. Berarti:
~ Evaluasi anak dilakukan oleh orangtua. Bentuk evaluasi bisa bermacam-macam, misalnya anak mengerjakan soal dan dinilai. Atau orangtua memberikan masukan tentang proses dan hasil belajar anak.
“Menurut Bunda, karyamu sudah bagus xxx-nya. Bunda merasa kamu masih bisa memperbaiki xxx-nya.”
“Rasa masakan kamu sudah lezat. Nanti lain waktu kalau mau masak lagi, ditambahi xxx supaya rasanya lebih kuat yaa…”
“Bunda suka melihat semangat dan idemu. Sangat kreatif. Bisa nggak detilnya diperbaiki supaya lebih bagus hasilnya?”~ Evaluasi orangtua bisa dilakukan oleh pasangan. Prosesnya dilakukan sesuai kesepakatan dan harus santai, tidak boleh jadi baper atau merasa dikritik. Tujuannya adalah agar proses berjalan lebih baik. Evaluasi Ayah dilakukan oleh Ibu. Evaluasi Ibu dilakukan oleh Ayah. Bisa juga orangtua meminta masukan dari anak. Prosesnya sebaiknya dimulai dengan mengajukan pertanyaan atau meminta masukan.
“Menurut Ayah, kegiatan yang tadi bagaimana? Yang Bunda lakukan sudah bagus belum?”
“Menurut kakak, bagaimana cara Bunda melakukan pendampingan dalam kegiata tadi?”Evaluasi yang diberikan bisa mengambil bentuk macam-macam, misalnya:
“Tadi ayah sudah bagus menemani. Nanti kapan-kapan waktunya ditambah yaa, jangan cuma sebentar.”
“Kayaknya cara yang Bunda lakukan tadi bisa lebih efektif kalau xxx.”Begitu kurang lebih proses evaluasi.
Dalam proses HS, yang banyak terjadi biasanya adalah refleksi, bukan evaluasi. Jadi, pelaku HS (anak dan orangtua) belajar untuk memberikan penilaian pada diri sendiri
Aar
KeymasterKak Fadhillah,
Sumber belajar teknologi di Internet itu ada jutaan, kak. Jadi harus dicari dan dipilih sesuai kebutuhan spesifik anak.
Anda bisa memulainya dari sini: https://rumahinspirasi.com/sumber-belajar-online/
Jika materi yang dicari tidak ada, Anda bisa melakukan Googling dengan kata kunci:
“Tutorial belajar xxxx ”
“Kelas online terbaik untuk xxxx”
xxx bisa diganti: desain, photoshop, coding, dan sebagainya sesuai kebutuhan anakJika menggunakan bahasa Inggris, pilihan materi lebih banyak lagi.
“Best tutorial for xxx”
“Online class for xxx”xxx bisa diganti: design, photoshop, coding, dan sebagainya sesuai kebutuhan anak
Aar
KeymasterKak Lusi,
Ada beberapa hal yang menurut saya kurang tepat dalam aturan tersebut.
1. Kewajiban pelaporan HS tunggal dan Majemuk ke Dinas Pendidikan tidak memiliki basis di lapangan. Dalam praktek sebelum aturan ini ada, tidak ada model pelaporan semacam ini. Sesudah ada aturan juga Dinas Pendidikan tidak bersedia menerima pelaporan dari keluarga HS. Pemerintah mengelola HS melalui PKBM, tidak secara langsung. Jadi, para praktisi HS diminta mendaftar di PKBM jika mau mengikuti Ujian Kesetaraan.
2. HS komunitas seharusnya adalah kumpulan keluarga praktisi HS, tapi ini menjadi lembaga-lembaga seperti sekolah yang berlabel HS. Dengan kata lain, pemerintah membayangkan HS itu dalam bentuk seperti sekolah sehingga turunan kebijakan, misalnya dalam pengaturan Ujian Kesetaraan, tidak melihat HS sebagai keluarga tetap sebagai siswa yang terdaftar di sebuah lembaga berlabel homeschooling.
Kurang lebih seperti itu, kak Lusi.
Menurut pendapat pribadi saya, pengelompokan tunggal, majemuk, komunitas itu perlu ditiadakan. HS tidak membutuhkan izin (karena bagian dari pendidikan informal). Untuk mendapatkan pengakuan negara (ujian kesetaraan), anak HS perlu didaftarkan pada satuan lembaga non formal yang ada, yaitu PKBM.
Aar
KeymasterKak Ummu Zuhri,
1.
Aturan yang ada sekarang, pendaftaran sejak kelas 1 SD. Tapi praktiknya belum berjalan luas di lapangan. Masih banyak PKBM yang baru membuka pendaftaran saat anak kelas 4.Yang perlu dilakukan orangtua adalah survey PKBM yang dituju supaya Anda lebih terbayang medan di lapangan. Syarat pendaftaran PKBM adalah identitas diri anak + orangtua: akta lahir, KTP, KK.
2.
Saat ini tidak ada program akselerasi di PKBM. Ujian Paket A dilakukan minimal saat anak berusia 12 tahun.Tapi saat ini ada inisiatif dari Kemdikbud bahwa proses belajar di PKBM menggunakan modul belajar. Jika anak sudah selesai modul belajar, dia bisa ikut Ujian Paket. Inisiatif ini baru dan belum ketahuan dampaknya apakah anak bisa akselerasi atau tidak.
Jika mau lebih nyaman menjalani HS, jangan fokus pada ujian dan akselerasi. Dunia ini sangat luas dan materi belajar yang bisa dieksplorasi untuk meningkatkan kapasitas anak sangat banyak.
Lakukan proses belajar sebaik-baiknya dan nanti lihat perkembangan berkaitan dengan aturan ujian karena aturan bisa berubah kapan pun.
Aar
KeymasterKak Nissa,
Untuk anak usia di atas 7 tahun tidak ada sebuah standar perkembangan anak. Sebab, keunikan anak, stimulasi dan keunikannya membuat setiap anak mengalami pertumbuhan yang berbeda-beda sehingga tidak bisa distandarkan.
Untuk anak usia 7 tahun tergantung pada visi pendidika apa yang ingin dikembangkan. Itu yang menjadi basis untuk proses stimulasi untuk anak.
Aar
KeymasterKak Rianita,
Jika kualitas hubungan antara orangtua-anak bagus dan suasana rumah nyaman, pengaruh lingkungan ekternal biasanya sangat mudah dinetralkan. Kuncinya adalah mengobrol dan bertanya santai, jangan dimarahi dan dihakimi:
“Kak, tadi kakak ngomong apa?”
“Mengapa cara ngomongnya begitu?”
“Menurut kakak, itu bagus atau buruk?”Terkadang yang terjadi, anak sebenarnya tahu bahwa itu hal yang buruk. Tapi anak ingin diterima oleh teman-temannya sehingga bahasa itu adalah sarana yang digunakannya supaya bisa diterima.
Lalu, jika kondisi seperti itu bagaimana?
Sisi positifnya adalah anak sudah tahu cara untuk survival.
Sisi negatifnya, bisa dilihat bahwa kondisi lingkungan kurang sehat dan tekanannya sangat besar untuk anak. Jika kondisi ini yang terjadi, maka Anda perlu mencari lingkaran2 pertemanan tambahan yang lebih berkualitas untuk anak (misalnya: klub renang, komunitas kegiatan, dsb).
Kemungkinan lain adalah anak belum terlalu tahu baik/buruk dan dia hanya meniru saja. Jika kondisi ini yang terjadi, maka Anda perlu memperbanyak diskusi dengan Anak untuk memperteguh nilai-nilai yang dikendaki.
Aar
KeymasterKak Lisa,
Betul kak. Banyak PKBM yang belum terakreditasi, tidak punya NPSN, dan secara kualitas memprihatinkan. Itulah sebabnya PR orangtua memang melakukan survey untuk mencari PKBM yang sesuai.
PKBM itu tak harus ada di dekat kita, bisa juga PKBM di luar kota yang melayani proses belajar secara online. Hanya saja, konsekuensinya nanti pas Ujian Paket anak perlu datang secara fisik ke PKBM tersebut.
Berikut ini beberapa kriteria untuk memandu pemilihan PKBM:
1. Fleksibilitas proses belajar
Tidak mensyaratkan kehadiran tatap-muka.2. Dukungan belajar online
PKBM menyediakan dukungan dalam bentuk materi belajar/kegiatan secara online, minimal dalam bentuk modul belajar dan mekanisme penilaian.3. Memiliki NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional)
~ Cek NPSN PKBM: https://referensi.data.kemdikbud.go.id/index31.php4. Bisa mengadakan ujian Kesetaraan sendiri (tidak menumpang)
5. Dukungan tutorial dan kegiatan siswa secara online (optional)
Pertanyaan ke PKBM
Berikut ini beberapa pertanyaan yang bisa diajukan ke PKBM:
1. Apakah PKBM punya NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional)?
2. Apa akreditasi PKBM?
3. Apakah PKBM berhak mengadakan Ujian Paket sendiri (tidak menumpang ke PKBM lain)?
4. Apakah ada syarat kehadiran fisik di PKBM? Kapan siswa harus hadir?
5. Layanan apa saja yang diberikan oleh PKBM? Modul, tutorial, dll?
6. Apakah ada pembelajaran online? Apakah anak bisa belajar mandiri?
7.Apakah ada student club atau klub kegiatan anak?
8. Berapa biaya? Apa komponen biaya yang harus dibayar?
9. DllSemoga membantu.
Aar
KeymasterKak Ummu Zuhri
Kalau gagal biasanya tidak akan berani memunculkan diri, kak. Tidak ada orang yang mau menjadi contoh buruk dan dibahaskan di mana-mana, hehehe
Kegagalan HS itu ada 2 hal:
1.
Praktek yang terjadi di lapangan tidak sesuai dengan visi pendidikan keluarga yang dicanangkan. Itu berarti, orangtua tidak berhasil menurunkan visi pendidikan menjadi operasional dan menjalankannya bersama anak-anak.Dalam kondisi ini, anak mungkin saja tetap berhasil secara sosial (bisa berkarya baik di masyarakat).
2.
Anak gagal dalam ukuran umum, misalnya anak tidak mandiri, anak sikap sosial yang buruk, atau kualitas2 lain yang dianggap kegagalan secara sosial dan profesional.Itu terjadi karena orangtua tidak mampu mendidik anak dengan baik.
Dalam kondisi ini, posisi HS sebenarnya seperti sekolah. HS adalah alat dan jalan. Ada anak sekolah yang berhasil, ada anak sekolah yang gagal. Demikian ada anak HS yang berhasil, ada anak HS yang biasa-biasa saja, dan kemungkinan ada anak HS yang gagal.
Dalam kondisi di lapanga, tak ada orangtua dan anak yang mau gagal. Jika proses HS tidak berjalan lancar karena orangtua merasa tidak mampu menjalaninya dengan baik, biasanya orangtua memilih untuk berpindah ke sekolah.
Semoga menjawab pertanyaan Anda.
Aar
KeymasterKak Teni,
Menurut aturan yang ada sekarang, anak2 diharapkan terdaftar di PKBM sejak awal (kelas 1). Praktek di lapangan masih dalam masa transisi dan secara teknis agak susah dilakukan.
Banyak PKBM yang baru menerima anak usia kelas 4, bahkan ada PKBM yang menerima anak setahun sebelum ujian Paket A. Ada juga yang menerima siswa sejak kelas 1 SD. Itu kondisi nyata di lapangan. Jadi, kondisi dan kebijakan PKBM bisa berbeda-beda.
Lalu bagaimana?
Tergantung keyakinan dan pilihan orangtua. Proses awal Anda adalah mencari PKBM yang Anda percaya, kemudian bertanya bagaimana sistemnya di sana. Tetap jalin komunikasi dengan PKBM supaya Anda bisa dapat update infonya.
Jika mau konservatif, cari PKBM yang mendaftar sejak kelas 1 SD. Jika mau moderat, daftar PKBM waktu kelas 4 (usia 10 tahun).
Aar
KeymasterKak Andrini,
1. Proses yang diperlukan pada saat awal perpindahan dari sekolah menuju HS pada saat ini adalah mendaftar di PKBM. Prosesnya adalah mutasi (perpindahan) dari sekolah ke PKBM yang dituju.
Secara aturan tertulis memang diminta lapor ke Dinas Pendidikan. Praktek di lapangan yang terjadi selama ini adalah mendaftar di PKBM (tidak perlu lapor ke Dinas. Nanti PKBM yang melaporkan ke Dinas Pendidikan).
Pendaftaran ke PKBM bisa dilakukan di kota tempat tinggal kita atau di kota yang berbeda.
2. Inti deschooling sebenarnya adalah mencari pola baru yang cocok untuk keluarga, yang berbeda dengan sekolah.
Prosesnya dimulai dari hal-hal yang disukai anak. Karena kegiatan eksternal terbatas di era pandemi ini, proses bisa dimulai dengan melakukan proyek yang dipilih dan disukai anak. Ada yang memulai dengan proyek masak, proyek bikin bisnis bareng, belajar animasi, dll.Tanyakan pada anak dan diskusikan bersama anak tentang konsekuensi dari HS dan kegiatan apa yang ingin dilakukannya bersama untuk mengawali HS.
Aar
KeymasterKak Andrini,
Menurut aturan tertulis perlu lapor ke Dinas Pendidikan. Tapi dalam praktek di lapangan tidak pernah terjadi yang seperti itu. Yang terjadi adalah mutasi/pendaftaran anak di PKBM tempat anak nanti akan mengikuti Ujian Kesetaraan.
Aar
KeymasterKak Tania,
Anak-anak sudah mencoba IXL Math dan Khan Academy, tapi mereka lebih suka IXL Math. Alasannya, latihan banyak sehingga membentuk cara berpikir.
Tapi kalau penjelasan, lebih enak Khan Academy karena ada videonya. Yudhis dulu pakai Khan Academy kalau ingin mencari penjelasan tentang sebuah tema tertentu. Tapi latihan belajarnya menggunakan IXL Math.
Sebenarnya sih mirip, kak. Lebih ke preferensi dan cocok-cocokan saja.
-
AuthorPosts