Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterKak Novia,
Ada beberapa sumber keyakinan dan kemantapan yang bisa menjadi menguatkan kak Novia.
~ memahami konsep homeschooling dan cara kerjanya
~ memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pribadi
~ memiliki bayangan rencana masa depan yang diyakini
~ memahami risiko dan merasa bisa menerima/mengantisipasi risiko
~ membangun spiral keberhasilan kecil dalam praktek keseharian
~ melihat pertumbuhan anak berjalan optimalJadi, sumber keyakinan itu ada di titik pengetahuan dan keyakinan. Pengetahuan bisa dipelajari. Keyakinan perlu dialami.
Kak Novia perlu mendapatkan pengalaman pribadi yang meneguhkan sepanjang perjalanan menemani proses anak-anak.
Aar
KeymasterBetul sekali mbak Ratnasari,
Biasanya dalam checklist keseharian ada kegiatan rutin + kegiatan baru. Kalau saya, yang penting dituliskan semua biar tidak lupa. Termasuk yang mungkin dianggap sepele dan kecil-kecil.
Setiap kali mencentang kegiatan yang direncanakan selalu bikin bahagia. Apalagi saat malam melihat semua atau sebagian besar tercentang. Itu bikin tidur jadi lebih nyenyak, hehehe
Aar
KeymasterKak Ratnasari,
Checklist harian = daftar kegiatan yang akan dikerjakan hari itu.
Misalnya:
Hari ini saya ada kegiatan:
~ Jalan pagi
~ Yoga
~ Menemani Duta belajar math
~ Jawab forum
~ Posting di Instagram
~ Bikin modul
~ dllNah, jadwal itu biasanya dibuat malam hari atau usai bangun tidur. Proses ini membuat hari lebih terang dan sehari-hari jadi lebih fokus. Setiap pencapaian yang diselesaikan dan ditandai membuat bahagia dan menciptakan spiral positif dalam keseharian.
Aar
KeymasterHalo kak Nia,
Jika anak “memperpermainkan” angka dengan memberikan penilaian sesukanya, maka Anda tidak perlu menggunakan angka. Langsung masuk pada susbtansi yang dituju:
~ anak bisa mengapresiasi dirinya: “Apa yang sudah bagus dari karya yang kamu buat?”
~ anak bisa mengenali kekurangannya dan siap memperbaikinya di waktu lain: “Apa yang perlu dan bisa ditingkatkan kualitasnya?”Jika anak tidak mengerti, maka Anda bisa memberikan contoh dengan memberikan penilaian 8 atau 9 dan menjelaskan mengapa Anda memberikan nilai tersebut (apa yang sudah bagus dan apa yang perlu/bisa ditingkatkan). Lakukan itu beberapa kali sehingga anak memahami ekspektasi yang diharapkan darinya.
Karakter anak memang beragam dan penting bagi kita untuk mengembangkan kekuatan anak dan pada saat bersamaan mencoba menggunakan cara yang paling sesuai dengan anak agar tujuan yang diharapkan tercapai.
Berkaitan dengan cara, biasa kami berdiskusi dengan pasangan. “Anak kita yang ini lebih mirip siapa sifatnya?”
Jika lebih dekat ke saya, saya yang akan lebih berperan untuk menangani. Jika lebih mirip pasangan, dia yang lebih berperan untuk mencari penanganan yang sesuai dengan karakternya.Tentang pemberian feedback, ada beberapa prinsip yang mungkin bisa digunakan:
~ selalu mulai dengan apresiasi dan lakukan apresiasi dengan tajam, terutama pada effort dan aspek khusus yang sudah berkembang (dibandingkan sebelumnya). “Bagian xxx sudah jauh lebih bagus dibandingkan sebelumnya. Sebelumnya xxx, sekarang menjadi xxxx.”
~ jika kita sendiri tidak menguasai kegiatan yang dilakukan anak (misalnya menggambar), kita perlu lebih hati-hati saat memberikan masukan.
~ gunakan pertanyaan dan canda untuk memberikan masukan jika anak sensitif terhadap masukan secara langsung. “Ini kakak memang sengaja ya kupingnya dibuat jauh begini? Jadi seperti apa yaa… hehehe.. ”
~ atau, berikan contoh langsung supaya anak memahami apa yang perlu dilakukannya. “Eh kak, coba kalau kupingnya dibuat seperti ini, kayaknya seru lho.. ” Lalu Anda menggambar juga dan memberikan contoh.Semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Komang,
Terima kasih pertanyaannya. Saya coba jawab satu persatu yaa..
Tentang kesadaran terhadap tujuan, ada satu podcast khusus yang membahaskan tentang hal ini:
https://member.rumahinspirasi.com/courses/menyiapkan-pembelajar-mandiri/lessons/membangun-budaya-belajar/topic/podcast-berorientasi-tujuan/1. Stimulasi orientasi tujuan
Stimulasi paling sederhana adalah sering mengobrol dan bertanya pada anak:
“Apa rencanamu? Apa goal yang kamu raih?”Proses bertanya bisa dilakukan dengan beragam cara sesuai dengan kondisi yang sedang berlangsung, misalnya:
a. Pagi saat sarapan
“Apa rencana kegiatan hari ini? Apa yang akan kamu lakukan?”b. Saat anak membaca buku
“Bagaimana cerita bukunya? Apa isinya?”c. Saat sedang berlatih
“Apa tujuan latihan hari ini? Apa yang dilatih? Apa yang ingin dicapai?”2. Stimulasi sesuai usia
Proses stimulasi dilakukan bukan berdasarkan usia, tetapi kapasitas anak. Jika anak belum bisa menjawab, maka tugas orangtua adalah memberikan contoh jawaban.Misalnya, anak usai berlatih catur, kita bertanya: “Tadi yang latihan apa?”
Kalau anak belum bisa menjawab, kita bisa mengajukan opsi: “Tadi latihan taktik? Atau latihan opening? Atau middle game?”Pertanyaan opsi itu mensyaratkan pengetahuan orangtua tentang tujuan-tujuan yang perlu dikejar anak dalam proses kegiatannya.
3. Bagaimana kita tahu kapasitas anak?
Jika anak bisa menjawab pertanyaan dan menjelaskan dengan baik tentang kegiatan/target/tujuan, itu berarti anak sudah memiliki kapasitas dan terstimulasi dengan baik.Jika anak belum bisa menjawab, berarti anak masih membutuhkan stimulasi dan bimbingan lebih banyak.
Aar
KeymasterKak Juvanska,
Betul sekali kak. Kita tidak melihat kemandirian anak berbasis umur, tetapi berbasis pada kualitas stimulasi dan dampaknya pada anak. Apalagi ada banyak aspek kemandirian yang perlu disiapkan dan dikenali.
Untuk itu, proses pengembangan dan stimulasinya memang sebaiknya sejak dini. Apalagi proses pembentukan budaya memerlukan waktu panjang selama bertahun-tahun. Proses mengasah keterampilan juga membutuhkan proses stimulasi dan peneguhan yang berulang.
Aar
KeymasterKak Nia,
Stimulasi refleksi diawali dari pengenalan prosesnya kepada anak melalui pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan oleh orangtua kepada anak.
Setelah anak mengikuti kegiatan, orangtua terbiasa bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang kegiatan tadi, kak? Apa yang kamu sukai? Apa yang tidak kamu sukai?”
Setelah anak berkarya, orangtua terbiasa bertanya:
“Hasilnya bagus nggak menurutmu? Kamu memberikan nilai berapa untuk hasil karyamu itu? Mengapa kamu memberikan nilai itu?”
“Bagian apa yang sudah bagus dari karyamu? Bagaimana apa yang menurutmu bisa diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya?”“Proses apa yang paling berkesan dari kegiatan itu?”
“Apakah kamu mendapat kesulitan selama mengerjakan proyek? Bagaimana kamu menanganinya?”
“Apa yang bisa diperbaiki jika kamu nanti melakukan kegiatan itu lagi?”Pertanyaan2 tersebut hanya panduan, digunakan secara alamiah dalam percakapan bersama anak-anak. Dari pengalaman semacam ini, anak akan belajar melakukan refleksi.
Semoga menjawab pertanyaan kak Nia.
Aar
KeymasterKak Juvanska-ayu,
Karena masa depan semakin tidak bisa diprediksi, kita semakin tidak bisa mengajarkan konten belajar kepada anak-anak. Itulah sebabnya kita sebagai orangtua/guru semakin tidak bisa mengajarkan kontek karena konten itu sangat mungkin segera menjadi absolet (usang) atau menjadi tidak relevan.
Itulah sebabnya, yang perlu kita siapkan adalah anak-anak yang bisa menjadi pembelajar mandiri alias bisa mencari materi belajarnya sendiri yang mereka butuhkan.
Jadi, yang diajarkan bukan konten belajar, tapi: budaya belajar, keterampilan belajar, dan keterampilan manajemen diri. Jika anak menguasai ketiga aspek itu, maka dia akan survive dan bisa mencari ilmunya sendiri.
Salah satu sumber tempat saya belajar tentang masa depan adaalah website ini:
~ https://www.weforum.org/
~ TEDSilakan disimak podcast dan materi selanjutnya. Semoga nanti semakin jelas yaa..
Aar
KeymasterKak Nia,
Di aturan yang ada sekarang, proses pendaftaran di PKBM dilakukan sejak kelas 1. Ada beberapa PKBM yang menerima sejak kelas 4 (karena mengacu pada sistem lama) dan semakin jarang yang menerima pendaftaran saat kelas 6.Jika mau aman, sebaiknya anak-anak mulai didaftarkan di PKBM sejak bulan Juli depan (kelas 1).
Proses ujian kesetaraan nanti diambil dari data di sistem Dapodik yang menunjukkan anak sudah berada di kelas 6.
Demikian, semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Butet,
Harus tuntas” ini bagaimana ya kak penjelasannya? Target outcome tercapai atau ada outcome (jika tema ditentukan anak)?
Kalau saya ingat-ingat pembelajaran anak (sekarang 8,5 tahun kelas 3 SD) di sekolah ketika sebelum pandemi, yang konon tematik, atau selama pandemi di mana sekolah memberi jadwal/kisi-kisi dan bisa dikatakan eksekusi pembelajaran adalah dari saya dan anak, kok sepertinya tidak ada pembelajaran tematik yang tuntas yah? Lebih ke pembelajaran random saja saya rasa.
Kebetulan dalam satu bulan di bawah satu tema, tentang sumber daya alam (SDA). Kalau materi dari sekolah random saja tentang SDA, lebih ke teori dan tugas acak. Kemudian ada tugas membuat poster dan video tentang presentasi terjadinya hujan. Anak sudah melakukan ini, apakah sub-tema hujan dianggap tuntas?
Atau karena pada kenyataannya bisa dibilang anak belum pernah belajar dengan metode tematik ini ya kak?
Penekanan secara khusus tentang ketuntasan disebabkan belajar di rumah berbasis keluarga berbeda dengan di sekolah. Kalau di sekolah, semuanya sudah ditetapkan dan harus diselesaikan. Sebaliknya, belajar di rumah itu semuanya negotiable sehingga memiliki kecenderungan tidak tuntas sesuai dengan rencana dan anak sudah minta untuk ganti tema/kegiatan lain.
Nah, yang perlu ditekankan dalam proses belajar di rumah adalah mengajari anak berkomitmen. Itu berarti, sebuah hal yang direncanakan (sesuai kesepakatan) harus diselesaikan dulu sebelum ada negosiasi untuk melakukan kegiatan lain.
Proses belajar di rumah cenderung random dan berubah-ubah? Betul. Itulah kondisi pembelajaran di rumah yang perlu diterima sekaligus disesuaikan. Kadang-kadang anak perlu dipaksa untuk bertahan sampai selesai pada sebuah titik tertentu. Pada saat lain kita memberikan ruang untuk negosiasi dan melakukan penyesuaian dengan kondisi. Strategi dasarnya seperti spiral, terkadang membutuhkan proses melingkar tetapi tetap terus bertumbuh.
Kalau menyangkut hobi anak, kebetulan anak menyukai video-video youtube tema game Five Nights At Freddy’s, sejak usia 5 tahun anak produktif menggambar karakter-karakternya. Boleh dibilang, setiap tahun anak membuat gambar karakter-karakternya sampai tuntas. Atau beberapa tema game lainnya, meski anak saya tidak memainkan game-nya. Tetapi dia tuntas/khatam dengan video-video terkait tema tersebut, terinspirasi untuk membuat gambar atau komik strip, dan beberapa kali “memaksa” saya membuat boneka berdasarkan tema-tema ini. Tapi ini bukan “belajar” ya kak? Hahaha
Itu belajar kak.
Kembali lagi kita perlu merefleksikan makna belajar karena itu akan memengaruhi kelapangan hati kita sebagai orangtua dan pilihan-pilihan kegiatan untuk anak.
Belajar itu ada 4:
~ Learn to be (mengenal diri)
~ Learn to know (menambah pengetahuan/wawasan)
~ Learn to do (mengasah keterampilan)
~ Learn to live together (belajar hidup bersama orang yang berbeda)Secara sederhana, belajar adalah semua kegiatan yang meningkatkan kualitas diri, bukan hanya tentang mata pelajaran saja.
Semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Shinta,
Karena kami menggunakan pendekatan eklektik berbasis unschooling, kami tidak menggunakan model sekolah sebagai acuan. Konsekuensinya, kamijuga tidak menggunakan kurikulum sebagai acuan untuk proses homeschooling yang kami jalani. Jadi, kami tidak membuat rencana di depan untuk diterapkan pada anak-anak.
Lalu, bagaimana kami menjalani HS di keluarga kami?
Seperti prinsip unschooling, kami berusaha menjalani setiap waktu dan setiap hari dengan optimal dengan memanfaatkan kehidupan keseharian dan hal-hal yang sedang diminati/ditekuni anak-anak sebagai pintu masuk belajar.
Pada saat anak usia dini, acuan yang kami gunakan adalah Parameter Perkembangan Anak dari buku Slow and Steady Get Me Ready (yang kami tengok sesekali untuk memberikan komparasi tumbuh kembang anak dengan acuan umum).
Secara umum, panduan yang kami gunakan bukan kurikulum (seperti sekolah), tapi Visi Pendidikan Keluarga. Untuk memberikan gambaran, Anda bisa mendengarkan podcast tentang visi pendidikan keluarga di sini: https://anchor.fm/rumahinspirasi/episodes/Eps-13—Visi-Pendidikan-Keluarga-e8sj22
Begitu kak.
Semoga menjawab pertanyaan Anda.
Aar
KeymasterHalo kak Miasari,
Jadwal hanya satu aspek dalam homeschooling. Keberhasilan HS dipengaruhi oleh banyak hal lain misalnya sejauh mana Anda mengenali tujuan2 yang ingin Anda capai, sejauh mana strategi Anda untuk mencapai tujuan tersebut, bagaimana pola komunikasi dengan anak-anak, dan lainnya.
Kegiatan berjadwal dan spontan memiliki konsekuensinya masing-masing. Kegiatan berjadwal membangun pola keseharian anak dan menjadi alat untuk menyamakan ekspektasi antara orangtua-anak. Kegiatan spontan tanpa jadwal membuat keseharian berlangsung membahagiakan dan menjadi stimulasi kreativitas bagi anak/orangtua.
Jadi, tak masalah sebenarnya menjalani pembalajaran secara spontan dan berjadwal. Pada umumnya, proses yang terjadi berada di spektrum antara berjadwal dan spontan, bukan berada di ekstrem satu ujung.
Spontan dan berjadwal juga biasanya berhubungan dengan usia anak. Untuk anak usia dini (balita), kegiatan HS yang berlangsung spontan merupakan hal yang biasa. Kuncinya adalah menjadikan setiap hari anak dan keluarga menjadi berkualitas. Untuk mengetahui kualitas perkembangan anak, orangtua bisa menggunakan parameter perkembangan anak berdasarkan usia untuk melihat apakah perkembangan anak masih on track atau tidak.
Untuk anak-anak usia sekolah, jadwal biasanya digunakan sebagai alat komunikasi orangtua-anak. Jadwal juga menjadi alat bagi anak untuk belajar berkomitmen. Jadwal itu biasanya dibuat oleh anak melalui proses diskusi dan kesepakatan bersama orangtua.
Dalam konteks Anda, pertanyaannya adalah:
~ berapa usia anak-anak Anda?
~ jika anak sudah SD-remaja, bagaimana cara Anda membangun komitmen anak pada kegiatannya?
~ apakah Anda merasa nyaman dan optimal menjalani kehidupan sebagai orang dewasa/profesional dengan tipikal pengelolaan kegiatan yang tidak terstruktur?Dari jawaban pertanyaan Anda, kita nanti bisa mengeksplorasi lebih jauh.
Aar
KeymasterKak Puri,
Kegiatan bersama anak bisa diatur dan dinegosiasikan. Tidak semua keinginan anak harus dipenuhi. Ada keterbatasan-keterbatasan yang juga perlu diketahui anak.
Orangtua perlu mengatur dan membuat sinkronisasi antara kesibukannya dan kegiatan anak. Jika orangtua sedang penuh deadline, jangan berjanji atau membuat komitmen dengan anak yang tidak bisa dilaksanakan. Pilih proyek sederhana yang bisa diselesaikan langsung (atau sesuai jadwal waktu orangtua).
Jika orangtua lebih longgar, baru bikin proyek yang lebih panjang. Tetapkan juga kapan Anda melakukan kegiatan dan ceritakan kepada anak pengaturan waktu Anda. Pada awalnya susah, tapi lama-lama Anak akan belajar dan menyesuaikan diri dengan jadwal Anda.
Yang penting dipastikan adalah: jika Anda sudah berkomitmen dengan anak, usahakan untuk memenuhinya. Itu akan mengajari anak untuk menghormati komitmen dengan orang lain.
Aar
KeymasterKak Puri,
Substansi PBL adalah: anak memilih sendiri kegiatannya, menentukan sendiri, dan mengelola sendiri.
Untuk anak usia dini sebagian besar belum bisa PBL dan lebih cocok menggunakan pendekatan Tematik (yang idenya diusulkan/dibuat orangtua).
Anak usia dini bisa berlatih PBL dengan menggunakan percakapan:
Ibu: “Hari ini kita masak-masak yuk. Kakak pengin kita bikin apa?” (Belajar mengenali keinginan)
Anak: “Jelly”Ibu: “OK. Jelly-nya rasa apa ya enaknya. Cokelat, vanili, atau strawberry?” (Belajar membuat keputusan/batas proyek
Anak: “Straberry.”Ibu: “Enaknya kapan ya bikinnya?” (Belajar orientasi waktu
Anak: “Sekarang!”Ibu: “Wah, kalau sekarang Ibu masih harus bikin makan siang dulu. Bagaimana kalau nanti sore?” (Belajar tentang constraint)
AnakL “OK!”Setelah itu sorenya praktek.
Semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Dian,
Kalau metode dan alat belajar matematika memang cocok-cocokan, kak. Kalau anaknya senang fisik, bisa menggunakan matematika keseharian atau matematika menggunakan alat bantu fisik seperti Montessori.
Kalau menghafal rumus itu cara belajar matematika ala “Indonesia” karena sebenarnya goal belajar matematika adalah mengasah logika, bukan menghafal rumus. 🙂
Agora (bukan Agoda) adalah komunitas public speaking, bukan les conversation. Itu tempat anak2 biasanya 10 tahun ke atas belajar pidato berbahasa Inggris. Komunitasnya gratis dan karena pandemi sekarang kegiatannya online. Informasi tentang Agora Speaker bisa diakses di: https://www.meetup.com/Agora-Speakers-Jakarta/
-
AuthorPosts