Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterKak Lis,
Secara legal, perpindahan anak dari jalur informal (HS) dan non-formal (PKBM) ke jalur formal (sekolah bisa dilakukan kapan pun. Syaratnya adalah rapor dari PKBM dan placement test di tempat baru.
Tetapi kondisi di lapangan masih relatif jarang.
Yang relatif lebih mulus biasanya perpindahan setelah Ujian Paket. Setelah anak mengikuti Ujian Paket A (setara SD) saat usia 12 tahun, anak meneruskan ke jenjang SMP di sekolah.
Hanya saja, karena jadwal Ujian/keluar Ijazah di PKBM dan sekolah sering tidak sinkron, orangtua perlu mengantisipasi bahwa anak tidak bisa masuk ke sekolah favorit. Anak mungkin meneruskan di SMP swasta yang memiliki kursi kosong. Jika diinginkan, dari sini, orangtua baru pindah ke sekolah lain yang dirasa lebih baik melalui proses mutasi/perpindahan antar-sekolah.
Begitu kondisi teoritis dan praktik di lapangannya, kak
Aar
KeymasterSemangat kak Indriana,
Ada hal-hal yang kelihatannya sederhana, tapi berdampak sangat besar dalam proses pendampingan anak, yaitu: mindfulness dan kebahagiaan Ibu.
Mengapa? Karena banyak sekali problem perilaku anak sebenarnya disebabkan oleh hal-hal yang sederhana: lapar, haus, lelah, insecure. Jika kebutuhan fisik seperti makan/minum/istirahat terpenuhi, problem sering muncul karena kebutuhan psikologis yang belum terpenuhi secara utuh. Anak kemudian mencari perhatian orangtua dengan rewel, nakal, dan mengganggu karena dengan cara itu dia bisa mendapatkan perhatian orangtuanya.
Jadi, tantangan kita sebagai orangtua adalah mengisi tanki kebahagiaan anak sebelum tanki itu kosong.
Saat orangtua sehat dan santai bersama anak, banyak masalah perilaku anak biasanya menjadi terurai.
Aar
KeymasterKak Zulvi,
Yang Anda maksudkan PDCA = Plan, Do, Check, Act untuk proses homeschooling?
Untuk keluarga Anda yang meneruskan proses dari HS Usia Dini menuju Usia Sekolah, prosesnya kurang lebih begini:
- Berlatihlah membuat jadwal kegiatan bersama anak. Lakukan diskusi bersama anak, jangan dibuat sendiri oleh orangtua.
- Jelaskan kepada anak mengapa jadwal ini perlu dibuat. “Kita akan belajar bersama membuat jadwal karena kakak sudah besar dan kita bisa melakukan belajar bersama.”
- Masukkan jadwal-jadwal yang sudah biasa dilakukan anak, misalnya: mandi, sikat gigi, sarapan, dll
- Masukkan jadwal rutin eksternal yang sudah biasa dilakukan, misalnya: mengaji, les xx, kegiatan yy, dll
- Masukkan usulan Anda (orangtua) tentang kegiatan anak, misalnya hari Senin pagi membaca buku, hari Selasa masak2, dll
- Tanya anak tentang usulan kegiatan darinya. Masukkan di jadwal.
- Tuliskan kesepakatan ini (jika anak belum bisa membaca, gunakan gambar/ikon). Tempel di dinding
- Setiap selesai melakukan sebuah kegiatan, minta anak untuk menandai jadwalnya (sehingga dia tahu gunanya jadwal)
- Buat jadwal ini untuk 3 hari, maksimal 1 minggu.
- Rayakan pencapaian dalam satu siklus (apapun hasilnya). Jadikan itu sukacita dan kebahagiaan. Lalu refleksikan perjalanannya bersama anak dan buat jadwal baru lagi.
Demikian proses awalnya, kak. Semoga cukup jelas.
Selamat mencoba. Semoga membantu.
Aar
KeymasterHalo kak Zulvi,
Kalau anak berusia 5 tahun, berarti secara kapasitas fisiologis (otak & emosi) masih masuk usia dini. Proses-proses yang perlu dilakukan adalah melanjutkan proses HS Usia Dini yang sudah dilakukan.
Fase Usia Sekolah dimulai saat anak berusia 7 tahun, ditandai dengan anak mulai didaftarkan di PKBM.
Fokus Proses Anak
Lalu, apa yang perlu dilakukan saat transisi dari usia dini ke sekolah?
- Jaga spirit “keingintahuan” (curiosity) dan kecintaan belajar anak
- Kenali hal-hal yang ada di keseharian yang bisa dijadikan proses belajar
- Bangun kebiasaan baik dan keterampilan dasar (lihat materi 10 Keterampilan Dasar Anak)
- Perkenalkan jadwal pada anak dengan membuat kesepakatan bersama: diskusikan, tulis, pasang
- Perkenalkan proses belajar literasi (membaca) dan numerasi melalui cara2 yang sesuai dengan anak
- Belajar konten itu berarti belajar pengetahuan/wawasan, misalnya: membaca, math, sains, dll
Semoga jawaban ini membantu. Silakan ditanyakan lagi jika ada yang perlu diperjelas.
Aar
KeymasterKak Ati,
Terima kasih sharingnya. Saya suka sekali dengan semangat kak Ati untuk mendidik sendiri putranya.
Ada beberapa hal yang bisa saya sampaikan terkait pertanyaan Anda.
Membangun Kepercayaan Diri
HS Usia Dini sangat krusial dan sebenarnya relatif tidak berat. Sebagian besar orangtua yang memiliki komitmen untuk belajar dan waktu untuk mendampingi anak bisa melakukannya.Ada 2 hal yang bisa Anda lakukan untuk mengikis keraguan dan meningkatkan kepercayaan diri:
1. Pengetahuan mengikis keraguan
Anda menuliskan daftar pertanyaan-pertanyaan dan keraguan yang Anda miliki. Kemudian pelajari materi di kelas Memulai HS Usia Dini. Baca ebook, dengarkan podcast, tonton video, dan ikuti Webinar live bulan Februari yang akan datang. Jika ada pertanyaan yang belum terjawab, silakan disampaikan di forum ini. Saya akan berusaha menjawab seluruh pertanyaan Anda.2. Praktekkan
HS bukan ilmu teori. Tak ada ujian tertulis tentang teori HS dan parenting. Yang ada adalah praktik.Jadi, praktekkan hal-hal yang diajarkan dalam kelas ini. Cari keberhasilan kecil yang membuat Anda bahagia. Lihat pertumbuhan anak dan gunakan Checklist/Parameter perkembangan anak sebagai alat bantu memantau perkembangan anak-anak Anda.
Semakin sering kita mendapatkan keberhasilan, semakin pupus keraguan kita dan semakin meningkat kepercayaan diri kita.
Pengasuhan Jarak Jauh
Saya terbayang kekhawatiran Anda karena minimnya figur ayah dalam proses keseharian. Kalau berbicara tentang ideal, tentu saja akan sangat baik jika Ayah & Ibu semuanya hadir dalam proses pengasuhan.Tapi kita tidak hidup dalam dunia ideal. Kita hanya bisa mengoptimalkan pilihan-pilihan yang ada di hadapan kita. Ketiadaan Ayah tidak berhubungan dengan pilihan HS atau Sekolah.
Anda tetap memiliki peluang keberhasilan yang tinggi, saya percaya itu. Yang penting Anda mengoptimalkan kondisi Anda dengan memaparkan anak dengan pergaulan yang beragam bersama teman dan orang dewasa lainnya.
Sebagai sharing pribadi, saya adalah orang yang dibesarkan oleh orangtua tunggal (Ibu). Ayah saya meninggal saat saya berusia 3 tahun dan adik berusia 1 tahun. Sepanjang hidup, saya merasa kasih sayang yang besar karena Ibu selalu membesarkan kami berdua dengan kerja keras dan bersungguh-sungguh. Saya tidak merasa kosong walaupun dibesarkan tanpa figur Ayah.
Demikian, kak. Semoga jawaban ini bisa membantu dan memberikan penguatan.
Terus dipelajari materinya yaa.. Terus semangat belajar sambil berpraktek.
Jika ada pertanyaan jangan segan untuk menyampaikannya.
Aar
KeymasterKak Tsarwatul Jannah,
Terima kasih atas sharingnya.
Bagaimana mendampingi anak usia 6 tahun agar mencintai membaca, sementara dia merasa “terteror” saat belajar membaca di TK?
Saat kita melakukan sebuah kegiatan, bayangkan tujuannya membentang dalam sebuah garis, mulai negatif, netral (nol), hingga positif.
Kecintaan membaca ada di posisi sebelah kanan (positif). Sementara rasa terteror ada di sebelah kiri (negatif). Angka negatifnya menunjukkan seberapa jauh dia merasa terteror. Semakin tegang dan stress, semakin jauh dia di sisi negatif.
Nah, sebelum sampai ke titik positif (kecintaan membaca), proses pertama yang perlu diupayakan adalah netral. Anak tidak merasa tertekan dan terteror. Itu dulu yang perlu dikejar.
Mengapa efek negatif ini perlu dinetralkan dulu?
Sebab, belajar adalah proses marathon yang berlangsung dalam jangka panjang. Salah satu modal besarnya adalah kecintaan pada ilmu dan membaca. Jika anak mengalami trauma atau mendapatkan pengalaman buruk dengan belajar membaca, itu akan menciptakan resistensi dan problem belajar dalam jangka panjang.
Menetralkan Masalah
Untuk menetralkan dampak negatif tekanan membaca, ada beberapa hal yang bisa diupayakan:
1. Memberikan rasa aman dan nyaman pada anak
Lapangkan hati Anda dan jadilah orangtua yang berpihak pada anak (bukan target dan tekanan eksternal) karena setiap anak memiliki kecepatan belajarnya masing-masing.Katakan dengan lembut kepada anak tentang keberpihakan Anda kepadanya,”Kakak berusaha sebaiknya saja. Bunda tidak akan memarahi kakak kalau kakak belum bisa membaca. Bunda nanti akan menemani kakak belajar.”
2. Tanyakan kepada anak
Tanyakan pada anak tentang kesulitannya. Jangan berasumsi.“Kakak susahnya di mana?”
“Apa yang kakak bingung?”3. Cari solusi pendampingan
Cari metode belajar membaca yang menyenangkan sesuai dengan kebutuhan dan kesukaan anak. Misalnya: menggunakan lagu “AIUEO”, bisa diunduh di Pelangi Nada.Anda bisa menggunakan tebak-tebakan memakai flashcard suku kata. Atau, bisa menempelkan kata pada benda-benda di rumah, misalnya: meja, kursi, lemarin, dll
Nah, itu dulu yang perlu diutamakan.
Membangun Kecintaan Membaca
Tahap berikutnya adalah membangun kecintaan membaca. Proses ini bisa dilakukan parallel dengan langkah sebelumnya.
Bagaimana membangun kecintaan membaca?
Intinya adalah menghadirkan pengalaman membahagiakan berkaitan dengan membaca. Beberapa proses yang bisa dilakukan antara lain:
1. Baca buku sebelum tidur
Membacakan buku kepada anak sebelum tidur akan memberikan pengalaman kedekatan anak dengan orangtua sekaligus dengan buku. Pilih tema-tema buku yang ringan dan disukai anak. Baca buku dengan suara lantang (read aloud) dan penuh ekspresi.
2. Tebak-tebakan cerita
Masih terkait dengan yang pertama, lakukan tebak-tebakan tentang jalan cerita dari buku yang sering dibacakan. Anda bacakan buku, kemudian minta anak melanjutkan. Atau, Anda dengan sengaja salah membaca dan minta anak mengoreksi/mengingat tentang kesalahan Anda.3. Mengaitkan buku dengan pengalaman anak
Saat anak bertanya sebuah hal, cari jawabannya di buku sehingga anak tahu hubungan antara buku dengan ilmu. Buku adalah sumber ilmu dan kemampuan membaca membuat kita bisa mencari ilmu apapun yang kita butuhkan.4. Tebak-tebakan di jalan
Saat jalan-jalan di luar, bermainlah tebak-tebakan setiap melihat huruf atau kata yang ditemui di sepanjang jalan.Sekali lagi, jangan lupa untuk menjaga ketenangan orangtua. Juga, selalu hadirkan sukacita dan kebahagiaan saat berkegiatan bersama anak.
Demikian kak. Semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Ayuk,
Terima kasih atas sharingnya. Proses yang kak Ayuk lakukan sudah baik, tinggalkan ditingkatkan lagi.
Secara umum, proses belajar anak usia dini adalah melalui kegiatan yang sifatnya spontan dan menjalani keseharian dengan baik. Ketika Anda menambahkan jurnal pengamatan terhadap anak, itu menjadi nilai tambah yang bagus sebagai alat bantu orangtua untuk melakukan refleksi dan merancang kegiatan anak.
Dari jurnal yang dibuat, orangtua jadi memahami kondisi tumbuh kembang anak; apa yang sudah berkembang baik dan apa yang membutuhkan stimulasi lanjutan. Dari jurnal yang dibuat, orangtua jadi tahu apa yang sedang disukai anak dan menjadi perhatiannya sehingga bisa merancang kegiatan lanjutan berbasis minat itu.
Betul yang Anda sampaikan, kegiatan semacam ini menggunakan pendekatan bottom-up (dari bawah ke atas): dari praktik di lapangan, kemudian diperkaya dengan konsep yang dipelajari orangtua.
Bagaimana cara memperkaya dan meningkatkan kualitas pendampingan?
1. Anda bisa menggunakan parameter perkembangan anak dan checklist tumbuh kembang anak (yang disediakan) sebagai alat bantu untuk merefeleksikan dan merancang kegiatan anak.
2. Anda belajar tentang konsep pendidikan anak usia dini, misalnya tentang Charlotte Mason, Montessori, Fitrah-based Education, dll. Proses belajar ini untuk memperkaya wawasan Anda.
Apakah belum terlambat?
Tidak ada kata terlambat, kak. Sebuah wawasan pengetahuan yang kita pelajari pasti bermanfaat dalam pendampingan tumbuh kembang anak-anak. Setidaknya, kita jadi memahami apa yang perlu dilengkapi dan dikembangkan lebih lanjut untuk kepentingan anak-anak ke depan.Sekali lagi, HS adalah perihal praktik. Jadi, terus lakukan kegiatan yang membahagiakan dan penuh sukacita setiap hari bersama anak. Sambil menemani anak berkegiatan, Anda belajar. Jangan menunggu kesempurnaan untuk berpraktik. Terus berpraktiklah dan bertumbuh meningkatkan kualitas sembari berjalan.
Semoga membantu.
Aar
KeymasterBetul kak Indriana,
Hal-hal yang kelihatannya sederhana seperti membangun kepercayaan diri adalah pondasi-pondasi penting untuk perkembangan anak dalam jangka panjang.
Aar
KeymasterKak Sita,
Idealnya proses membuat dokumentasi homeschooling untuk anak remaja dilakukan oleh remaja itu sendiri. Tapi, proses ini sangat tergantung pada kondisi lapangan. Apalagi untuk proses awal di mana anak masih membutuhkan adaptasi untuk menjalani model belajar yang baru.
Untuk proses transisi awal, yang bisa dilakukan adalah:
1. Orangtua mendiskusikan pentingnya dokumentasi homeschooling bersama remaja
2. Orangtua dan anak berdiskusi format dan cara pendokumentasian yang akan dibuat. Jika anak tak punya ide, orangtua bisa mengusulkan bentuknya.
3. Bentuk sederhana proses dokumentasi adalah melakukan pencatatan (logging). Anak mencatat hari ini melakukan kegiatan belajar dan apa yang dipelajarinya/hasilnya.
4. Hasil dari logging ini sesekali dicek oleh orangtua dan menjadi bahan refleksi/diskusi bersama. Diskusi bersama bisa dilakukan seminggu sekali.Semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Nely,
Pertanyaan yang berat ini, kak Nely, hehehe..
Bagaimana kita benar-benar tahu misi kehidupan kita?
Setahu saya memang tak ada hal yang benar-benar kita yakini dengan pasti. Biasaya ini paduan antara kelapangan hati dan kebahagiaan saat menjalani peran kita.
Apakah kita menunggu, mencari, atau menciptakannya?
Saya pribadi tidak pernah menunggu. Saya berusaha menjalani keseharian yang dihadirkan Tuhan sebaik-baiknya sambil berusaha mengambil keputusan terbaik. Satu keputusan biasanya membawa kita pada keputusan lain, begitulah akhirnya peran2 kita semakin terihat benang merahnya dan semakin mengkristal. Terkadang keputusan kita berbasis pada keputusan sebelumnya, terkadang merupakan lompatan. Apapun, ketika dijalani dengan sungguh-sungguh pasti akan membawa kita kembali “ke tengah” yang menjadi titik kenyamanan kita.
Lalu, bagaimana kita membimbing anak?
Anak-anak butuh yang nyata, sederhana, dan dekat dengan hidupnya. Mulailah dengan terus berpraktik dan bertumbuh, menjalani hidup bersama secara baik.
Kita tak pernah tahu apa yang menjadi misi hidup anak. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan ruang dan melatih anak untuk bertumbuh dengan nilai-nilai “menjadi manusia bermanfaat” sebagai koridornya.
Semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Annis,
Orangtua adalah pemimpin di keluarga yang memiliki otoritas alamiah yang diberikan Tuhan kepadanya karena kehidupan anak tergantung pada orangtuanya. PR orangtua adalah belajar menjadi pemimpin yang baik untuk anak-anak dan keluarganya.
Bayangkan Anda menjadi pemimpin perusahaan dan ada anak buah yang tidak menuruti perintah. Atau menjadi kepala desa yang ada warganya tidak mau mengikuti aturan. Apa yang perlu dan bisa dilakukan?
Tentu saja kita tidak bisa memecat anak kita karena tidak menurut, hehehe…
Pertama:
Hal yang perlu digali pada anak dan direfleksikan adalah: mengapa anak tidak sepakat?
~ Apakah anak merasa beban yang terlalu berat?
~ Apakah anak merasa diperlakukan tidak adil?
~ Anak merasa berat/jijik/tidak bisa?
~ Apakah tugas yang diberikan sesuai dengan kapasitas dan usia anak?Penemuan akar masalah akan membantu mencari alternatif solusinya. Proses penemuan ini sebaiknya tak hanya berdasarkan perkiraan kak Annis, tetapi juga berdasarkan jawaban anak dan pendapat orang lain (misalnya pasangan).
Kedua,
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memberikan tugas atau menetapkan jadwal:1. Niat/Intensi
2. Komunikasi
3. Konsekuensi1. Niat/intensi
Pastikan memberikan jadwal kegiatan melakukan pekerjaan rumah ini tidak dilakukan dengan spirit menghukum/bikin susah anak dan mengurangi kebahagiaan anak:
~ supaya anak tidak main saja
~ supaya anak belajar menderitaTidak ada seorang pun yang mau dibikin susah.
Oleh karena itu, perlu ada obrolan dan penjelasan mengapa hal positif itu penting bagi anak. Jelaskan tujuannya kemudian dengarkan respon anak apakah anak mengerti poin yang ingin dituju?
2. Komunikasi
Ini faktor penting juga. Terkadang, masalah yang terjadi bukan karena substansinya, tetapi cara kita berkomunikasi dengan anak kurang tepat.Pastikan obrolan ini dilakukan dengan santai bersama anak, didiskusikan why-nya, dan bukan hanya top-down menyuruh anak. Kalau itu dilakukan, hampir dipastikan ada penolakan.
Dalam komunikasi inilah penting untuk menggali alasan penolakan anak.
~ Jika anak menolak karena tidak suka cara kita menyampaikan, berarti kita perlu mencari cara komunikasi yang lebih baik.
~ Jika anak menolak karena terlalu berat, maka kita bisa modifikasi dan memulai dari hal sederhana yang bisa dilakukan
~ Jika anak merasa tidak bisa, maka kita mulai dengan memberi contoh/mengajarinya dengan cara yang santai (tidak dengan mengomel dan meninggikan suara)
~ Jika anak merasa tidak adil karena hanya dia yang mendapat tugas, kita perlu memastikan semua anggota lain diperlakukan adil.
~ Jika anak menolak karena merasa ada pembantu, Anda perlu menjelaskan “why” dia perlu belajar mandiri dan melakukan pekerjaan rumah3. Konsekuensi
Apa yang membuat sebuah kegiatan menarik? Ada manfaat langsung yang dilakukan anak, terutama yang bersifat psikologis (misalnya apresiasi dari orangtua). Apresiasilah secara terbuka hal2 baik yang dilakukan anak, bicarakan hal baik itu saat makan bersama di meja makan, saat mengobrol santai, dll.Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterSama-sama kak Novia,
Worksheet memang membantu sebagai latihan dan memantapkan pemahaman anak melalui latihan. Jika anak masih enggan untuk mengerjakan worksheet, salah satu strategi yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan keseharian dan obrolan untuk proses belajar logika & matematika. Ini yang perlu terus diperbanyak.
Aar
KeymasterKak Novia,
Untuk anak usia 7 tahun, sebagian besar proses terbagi menjadi 2 aspek:
1. belajar hal penting untuk dirinya (jika tidak suka, maka tugas kita mencari cara agar anak bisa mempelajarinya dengan baik)
2. mengenali minatnya dan menjadi pintu untuk belajar & pengembangan diriPertama,
Hal yang penting dipelajari anak adalah literasi dan numerasi karena itu pondasi penting dalam proses belajar. Prosesnya tidak bisa dilakukan dengan hanya menyediakan buku dan menyuruh anak membaca. Diperlukan usaha yang lebih banyak dan lebih kreatif jika anak terlihat tidak suka membaca.Hal yang perlu dilakukan adalah ketertarikan dan kecintaan anak pada buku. Pertanyaannya, apakah anak pernah memiliki pengalaman buruk/tidak menyenangkan saat belajar membaca atau terkait buku, misalnya: dipaksa, dimarahi, dll.
Cari pintu masuk untuk anak:
~ mengenali tema2 kesukaan anak dan mencari buku dengan tema tersebut. Cari buku dengan tema mobil, alat transportasi, dsb.
~ mengenali film2 yang disukai anak dan mencari buku sesuai tema tersebut untuk menggambar/membaca
~ bangun kebiasaan membacakan buku atau cerita sebelum tidur
~ untuk buku yang menurut Anda penting, lakukan kegiatan membaca lantang bersama (read aloud)Kedua,
Untuk belajar matematika logika, cara yang Anda gunakan saat ini bagaimana? Apakah Anda menggunakan worksheet dan menyuruh anak mengerjakannya? Apakah Anda mengajari dan menemaninya?Anak tidak suka belajar matematika/logika biasanya karena:
~ dia belum tahu konsepnya dan dipaksa mengerjakan
~ dia tidak memiliki tempat bertanya saat kesulitan. Mungkin ada tempat bertanya, tapi dia tidak nyaman karena diomeli, dimarahi, dsb saat bertanya
~ materi yang dipelajari tidak menarik buatnya
~ dia tidak tahu untuk apa belajar logika dan matematikaProses belajar matematika dan logika bisa dilakukan dengan banyak cara, misalnya:
~ kegiatan memasak. Anak bisa belajar: menghitung (counting), menambah, mengurangi, mengalikan, membagi, menimbang, mengelompokkan, dsb.
~ gunakan obrolan dan tebak-tebakan sebagai pemicu belajar matematika dan logika. Misalnya: tebak2 menyebutkan nomor plat kendaraan yang lewat (B 3657 = tiga ribu enam ratus lima puluh tujuh), menghitung jumlah tiang listrik saat jalan pagi, menghitung langkah dari rumah ke taman, dan sebagainya.Ketiga,
Biasakan untuk bertanya pada anak jika ada masalah sehingga Anda lebih memahami kondisinya.“Mengapa kamu tidak mau membaca buku xxx?”
“Mengapa kamu tidak suka latihan taekwondo?”
“Mengapa kamu tidak suka belajar tahfiz?”Dengan bertanya langsung pada anak (dengan nada santai, bukan dengan marah2), kita akan lebih memahami anak. Kita akan lebih memahami pola ketidaksukaan anak sehingga bisa mencari solusi untuk anak.
Semoga membantu.
Aar
KeymasterNoted kak,
Ceklist adalah alat bantu, kak. Dia bukan kitab suci. Variasi di lapangan bisa sangat beragam, baik disebabkan karena keunikan anak (yang memang tidak bisa distandarkan). Juga dipengaruhi oleh nilai-nilai ada di keluarga dan masyarakat tempat tinggal anak.
Kami ikut berbahagia dengan proses kak Citra. Semoga kepercayaan diri kakak menjadikan kakak semakin rileks menjalani keseharian bersama anak-anak. Semakin nyaman interaksi bersama anak, biasanya semakin berkualitas pula proses-proses yang dialami oleh anak.
Aar
KeymasterKak Citra,
Selamat tahun baru 2021, kak.
Kak Citra putranya usia berapa?
Apa yang membuat Anda sangat peduli dengan penggunaan “aku” dan “nama”? Apakah ada nilai-nilai yang penting terkait penggunaan kata tersebut yang membuat Anda perlu mengarahkan ke jenis penggunaan kata tertentu? Apakah ada contoh di sekitar Anda (kakek, nenek, tontonan, saudara) yang menggunakan bahasa seperti yang digunakan anak?
Jika saya asumsikan usia anak masih di bawah 5 tahun, proses ini sebenarnya biasa saja. Anak sedang mengeksplorasi bahasa dan belajar dari lingkungan sekitarnya. Dia belajar melihat respon sekitarnya ketika menggunakan kata/istilah tertentu. Penggunaan istilah tertentu ini akan semakin jelas polanya saat anak semakin besar. Jika ada hal menurut Anda penting, contohkan dengan jelas kepada anak karena anak adalah peniru ulung.
2.
Pengenalan jenis kelamin biasanya berjalan alamiah ketika anak usia 3-6 tahun. Anak melihat bahwa dirinya berbeda dengan teman-temannya dan orangtuanya.Untuk mengenalkan jenis kelamin bisa dilakukan saat anak mandi bersama orangtua, menjelaskan perbedaan dia dengan ibu/bapaknya. Menunjukkan dan mengetahui nama alat kelamin yang membedakan laki-laki dan perempuan: susu, penis/vagina beserta fungsinya: “Susu untuk mimik adik bayi. Penis/vagina untuk pipis.”
Jelaskan juga tentang panggilan. Mas/pak untuk laki-laki, mbak/ibu untuk perempuan.
Proses ini juga bisa dilakukan dengan tebak-tebakan pada orang di sekitar: xxx laki-laki atau perempuan?
Begitu, kak. Semoga membantu.
-
AuthorPosts