Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 616 through 630 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Podcast Ijazah Anak Homeschooling #6991
    Aar
    Keymaster

    Kak Santi,

    Prinsipnya PKBM membutuhkan data pembelajaran anak untuk proses pembuatan rapor. Rapor bisa didapatkan anak dengan belajar dari modul, soal ujian, dan portofolio karya.

    Nah, titik kritisnya ada di pemilihan PKBM. Ada PKBM yang bisa fleksibel, ada yang mensyaratkan proses seperti sekolah.

    Secara sistem, proses belajarnya bisa modular (belajar sesuai kecepatan anak). Tapi tergantung keberanian PKBM.

    Saya dulu biasanya melakukan negosiasi dengan PKBM bahwa anak saya pasti belajar dan tidak akan curang, tapi saya minta rapornya diakumulasikan di akhir tingkat sehingga saya punya fleksibilitas dalam pembelajaran anak. Itu pilihan yang saya sampaikan kepada pengelola PKBM. Pilihan ini pada banyak PKBM sebenarnya lebih baik daripada calon peserta ujian Paket yang tidak peduli dan minta dibuatkan rapor (tanpa dasar) karena banyak calon peserta Ujian Paket adalah anak putus sekolah atau orang dewasa yang hanya butuh formalitas saja.

    Biasanya sih proses ini bisa, kak.

    in reply to: Podcast Ijazah Anak Homeschooling #6994
    Aar
    Keymaster

    Kak Ratih,

    Ada 2 transisi yang perlu dilakukan: transisi legal dan transisi operasional.

    Transisi legal berarti pindah/mutasi ke PKBM. Proses yang perlu Anda lakukan:
    ~ Survey dan cari PKBM sesuai preferensi Anda. Cari yang fleksibel dan memudahkan proses HS Anda.
    ~ Jika sudah memilih PKBM, tanyakan proses pendaftarannya
    ~ Secara umum, proses yang dilakukan adalah mutasi dari sekolah lama ke PKBM. Jadi, Anda perlu mengundurkan diri dari sekolah dan membuat surat mutasi (pindah) ke PKBM (data nama PKBM biasanya sudah harus ada).

    Transisi operasional:
    ~ Anda belajar mindset dan sistem kerja HS
    ~ Anda belajar praktik dan mencari pola paling sesuai dengan anak & keluarga

    Demikian, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Miskonsepsi & Realita Homeschooling #6998
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Trisa,

    No problem kak untuk proses yang sudah berjalan.

    Untuk selanjutnya, proses bersama anak diperkaya dengan beragam stimulasi yang tidak fokus pada calistung, sebab fokus pendidikan anak usia dini memang bukan itu.

    Ketika anak bisa membaca cepat, kita menduga anak akan menjadi sangat cerdas dan berkembang pesat. Ternyata yang terjadi tidak demikian.

    Kegiatan belajar membaca membutuhkan kesiapan perkembangan otak kiri/logis dan otak kanan/visual anak. Otak kiri baru tersambung dengan otak kanan di usia sekitar 7 tahun. Itulah sebabnya, para ahli menyarankan anak-anak belajar membaca saat usia 7 tahun. Jika anak belajar membaca sejak usia 7 tahun bukan berarti mereka akan bodoh dan ketinggalan.

    Risiko anak yang terbiasa membaca secara visual dan tidak terlatih membaca secara logis adalah masalah untuk memahami teks dan gagasan-gagasan yang kompleks. Tentu saja kita tidak mengharapkan anak-anak kita seperti itu.

    Untuk proses selanjutnya, Anda bisa mulai berfokus pada “kebahagiaan” saat berkegiatan. Juga membangun kebiasaan-kebiasaan baik bersama anak.

    Aneka stimulasi yang sesuai dengan usia bisa dicek dari checklist perkembangan anak: https://member.rumahinspirasi.com/courses/memulai-homeschooling-usia-dini/lessons/kurikulum-homeschooling-usia-dini/topic/checklist-parameter-perkembangan-anak-diknas/

    Mudah-mudahan proses ini membuat hati kakak lebih ringan dan bahagia saat menjalani kegiatan bersama anak-anak.

    in reply to: Model & Metode Homeschooling #6999
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Kartika,

    Betul. Setiap keluarga perlu memiliki harapan dan tujuan dari proses homeschooling yang dijalaninya karena itu akan menjadi pemandu dalam proses homeschooling. Jadi, kita tidak berangkat dengan standar/kurikulum eksternal, tetapi memulai dari kebutuhan/harapan/nilai-nilai kita dahulu.

    Visi tentu saja idealnya relatif tetap. Dalam kenyataannya berubah seiring waktu tidak apa-apa seiring bertambahnya wawasan orangtua. Yang penting Anda memiliki arah dan memiliki kriteria untuk menyaring aneka jenis tawaran kegiatan yang ada.

    Kenali pendidikan yang baik itu apa menurut Anda dan pasangan. Kapasitas apa yang perlu dimiliki anak agar hidupnya baik?

    Anaknya usia berapa, kak?

    Jika anak usia dini, anak sudah pasti ikut pilihan orangtua.

    Untuk usia SD, perlu diajak diskusi tapi mereka biasanya juga ikut saja. Yang penting kita bisa membuktikan pada anak melalui kegiatan2 yang asyik bersama mereka sekaligus membuat mereka berkembang.

    Untuk usis SMP/SMA, wajib diskusi bersama anak, mendengarkan pandangan mereka dan mencari solusi bersama jika keputusan HS akan diambil.

    Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Persiapan Homeschooling Usia Dini #7000
    Aar
    Keymaster

    Kak Joni,

    Kondisi pandemi ini menjadi kesulitan bagi semua orang di seluruh bumi ini. Kita sedang menghadapi problem generasi berkaitan dengan pengembangan keterampilan sosialnya.

    Untuk anak usia dini, sebenarnya isunya tidak terlalu kuat. Kebutuhan utama komunikasi dan social skills anak usia dini masih berfokus di keluarga. Jadi, fokus dulu pada aspek ini:

    ~ Orangtua memperbanyak main dan berkegiatan bersama anak secara mindful
    ~ Baca buku cerita sebelum tidur
    ~ Banyak mengobrol dan melatih keterampilan komunikasi anak
    ~ Sering bertanya pada anak untuk mendorong anak menyampaikan pendapat dan pikirannya

    Proses-proses semacam ini sangat krusial.

    Untuk komunikasi dengan orang lain, bisa dicoba mengobrol online dengan kakek/nenek, dan para sepupu/om/tante.

    Jika kondisinya memungkinkan, nanti bisa bikin klub kegiatan ngobrol2 bersama anak sebayanya melalui online chat seperti Zoom, Whatsapp Call, dsb..

    Itu hal2 yang paling bisa kita lakukan.

    Semoga pandemi reda dan anak-anak kita bisa bermain lagi bersama teman-teman sebayanya.

    in reply to: Podcast Persiapan Homeschooling Usia Dini #7001
    Aar
    Keymaster

    Terima kasih sharingnya.

    Anda sama sekali tidak terlambat untuk anak ke-3, terutama dalam kaitan belajar membaca.

    Menurut para ahli, bahkan proses belajar membaca itu sebaiknya dimulai saat usia 7 tahun (saat jaringan otak logik/kiri dan visual/kanan terhubung) karena proses belajar membaca melibatkan proses visual dan logik. Jika anak belajar membaca secara visual sejak usia dini, bisa terjadi prosesnya tidak berkembang secara optimal dalam jangka panjang karena anak terbiasa membaca secara visual dan pada saat besar susah membaca bacaan/teks yang kompleks.

    Jadi, bisa membaca bukan tujuan utama belajar. Dia adalah awal. Dan awal itu tidak boleh merusak proses-proses yang dibutuhkan anak dalam jangka panjang. Jangan sampai anak mengalami pengalaman buruk dan trauma saat belajar membaca sehingga benci kegiatan membaca (walaupun pada akhirnya bisa membaca).

    Proses belajar membaca memiliki jenjang:
    1. Belajar membunyikan huruf/kata/kalimat
    2. Memahami kalimat dan isi bacaan
    3. Menghubungkan antara bacaan dan pengetahuan/pengalaman personal
    4. Mensistesis hal berkaitan isi bacaan

    Benang merah dari jenjang belajar membaca adalah “kecintaan membaca”. Nah, proses ini membangun kecintaan membaca ini yang bisa dibangun sejak dini melalui kegiatan membacakan buku sebelum tidur, membaca lantang (read aloud), mengobrolkan buku yang baru dibaca, dll. Anak perlu mendapatkan pengalaman yang membahagiakan dengan kegiatan membaca.

    Proses homeschooling juga bukan hanya tentang kegiatan calistung.

    Untuk anak usia 6 tahun, Anda bisa memulai dengan mengunduh Cheklist Perkembangan Anak yang kami sediakan: https://member.rumahinspirasi.com/courses/memulai-homeschooling-usia-dini/lessons/kurikulum-homeschooling-usia-dini/topic/checklist-parameter-perkembangan-anak-diknas/

    Apa yang sudah berkembang, ditandai. Apa yang belum tercapai, berarti perlu distimulasi.

    Selain itu, silakan dipelajari dulu materi yang lainnya. Jangan panik.

    Karena anak usia 6 tahun, Anda sudah perlu juga menjajagi materi Memulai HS Usia Sekolah: https://member.rumahinspirasi.com/courses/memulai-homeschooling-usia-sekolah/

    in reply to: Pondasi dan Arah Homeschooling Usia Remaja #7005
    Aar
    Keymaster

    Kak Sita,

    1. Di sini masalahnya. Sistem di Indonesia ini sekuensial dan administratif. Untuk mendapatkan Ijazah Paket C, anak harus punya ijazah SMP atau Paket B. Juga, waktu ujian Paket B jaraknya harus 3 tahun dari ijazah Paket B tersebut.

    Jadi, ini pilihan dilematis yang perlu ditimbang dengan hati-hati karena dampaknya panjang bagi anak.

    2. Jika tidak mau mendaftar Paket B, maka tidak perlu mendaftar PKBM. Konsekuensinya, anak tidak punya ijazah SMP & SMA (Indonesia).

    Karena kondisi ini cukup dilematis dan berisiko, banyak orangtua HS yang memilih jalan kompromi:
    ~ Anak tetap didaftarkan di PKBM dan mengikuti ujian kesetaraan (yang penting lulus, nilai tidak masalah). Cari PKBM yang fleksibel dan ringan.
    ~ Fokus HS tetap pada pengembangan diri anak, baik ditujukan untuk menekuni hobi, mengasah keahlian, atau persiapan kuliah ke luar negeri. Inilah yang menjadi fokus dalam proses HS anak!

    in reply to: Podcast Transisi Homeschooling #7006
    Aar
    Keymaster

    Kak Pipiet,

    Bisa kak.

    Ada 2 pilihan yang bisa diambil.

    1. Fokus pada Kekuatan Anak
    Anak menekuni dunia fotografi & videografi menuju profesional dan tidak akan kuliah. Anak dan orangtua memutuskan anak tidak apa-apa tidak kuliah, yang penting mengasah keahliannya dan bisa hidup mandiri.

    Cukup banyak anak-anak yang sekarang menempuh dunia kreatif berbasis portofolio, contohnya para anak muda yang menekuni dunia content creator:
    https://creatorsconference.id/

    Kuncinya adalah kesepakatan orangtua dan anak, serta pendampingan untuk mengasah keahlian dan mencari cara masuk ke dunia profesional.

    2. Mencari PKBM yang fleksibel
    Tantangannya memang mencari PKBM yang lebih fleksibel dan bisa memfasilitasi proses2 anak. Anak tetap bisa menekuni minatnya. Anak tetap bisa mendapatkan ijazah Paket C melalui proses yang tidak bertentangan dengan aturan pemerintah.

    PKBM yang digunakan anak kami adalah Piwulang Becik dan cukup fleksibel. Foundernya adalah praktisi homeschooling sehingga beliau memahami dinamika yang terjadi di keluarga HS.

    Silakan dipelajari informasi di website-nya dan bertanya pada pengelolanya.

    Ini hanya salah satu contoh PKBM saja sebagai referensi.

    in reply to: Prinsip Dasar Homeschooling Usia Remaja #7011
    Aar
    Keymaster

    Kak Sita,

    Karena sistem penerimaan mahasiswa di luar negeri sangat beragam, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan:

    1. Orangtua perlu menjajagi dan mempelajari sistem penerimaan mahasiswa di PT Luar Negeri yang dituju. Apa aspek pendukung legalitas belajar yang diakui?

    Secara umum Ijazah Paket C biasanya diterima. Tapi ada PT di Jerman tidak menerimanya. Jadi, jika kuliah di Jerman pintu masuknya adalah Cambridge IGCSE atau A Level sebagai basis untuk mendaftar Studienkolleg.

    2. Beberapa orangtua mempertimbangkan ijazah di luar Paket C karena rendahnya fleksibilitas dan rendahnya kualitas ujian/ijazah.

    Fleksibilitas dinilai rendah karena untuk mengikuti Ujian Paket C, syaratnya harus punya ijazah SMP/Paket B dan berjarak 3 tahun. Untuk mendapatkan ijazah Paket B, syaratnya harus punya ijazah SD/Paket A.

    3. Alternatif ijazah yang sering ditengok oleh orangtua HS (yang anaknya mau sekolah di luar negeri) adalah Cambridge IGCSE/A Level. Ujiannya per mata pelajaran dan tidak mensyaratkan level sebelumnya. Untuk melakukan ujian Cambridge, anak perlu mencari sekolah/testing center yang menerima Private Candidate.

    Kekurangannya, jika anak tidak punya ijazah Paket C, maka tidak bisa kuliah di dalam negeri karena calon mahasiswa PTN/PTS di Indonesia dipersyaratkan harus memiliki ijazah SMA/Paket C.

    Demikian kak, semoga menjawab.

    in reply to: Prinsip Dasar Homeschooling Usia Remaja #7013
    Aar
    Keymaster

    Kak Sita,

    Karena layanan PKBM sangat lebar kualitas maupun jenisnya, berikut ini beberapa panduan untuk memilih PKBM yang selaras dengan HS. Jangan lupa, PKBM ini hanya infrastruktur pendukung untuk proses Ujian Paket (fungsinya sangat berbeda dengan sekolah yang menjadi infrastruktur utama jika anak bersekolah).

    Jadi, yang penting pastikan PKBM memiliki legalitas untuk mengadakan Ujian Paket dan fleksibel dalam proses pembelajaran (sehingga tidak mengganggu ritme kegiatan mandiri anak HS).

    Beberapa kriteria penting untuk mengetahui apakah PKBM ramah dengan HS, antara lain:

    1. Fleksibilitas proses belajar
    Tidak mensyaratkan kehadiran tatap-muka.

    2. Dukungan belajar online
    PKBM menyediakan dukungan dalam bentuk materi belajar/kegiatan secara online, minimal dalam bentuk modul belajar dan mekanisme penilaian. Lebih baik jika tak ada kewajiban hadir dalam sesi tatap muka online (anak bisa mengatur sendiri proses belajarnya).

    3. Memiliki NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional) dan sudah terakreditasi
    ~ Cek NPSN PKBM: https://referensi.data.kemdikbud.go.id/index31.php

    4. Bisa mengadakan ujian Kesetaraan sendiri (tidak menumpang)
    Ini sangat dianjurkan. Pengecualian jika ada PKBM rintisan dengan pendiri berdedikasi yang masih dalam proses menyempurnakan legalitas sehingga masih menumpang Ujian Paket pada PKBM lain yang lebih tua.

    5. Dukungan tutorial dan kegiatan siswa secara online (optional)

    6. Pertanyaan ke PKBM

    Berikut ini beberapa pertanyaan yang bisa diajukan ke PKBM:
    a. Apakah PKBM punya NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional)?
    b. Apa akreditasi PKBM?
    c. Apakah PKBM berhak mengadakan Ujian Paket sendiri (tidak menumpang ke PKBM lain)?
    d. Apakah ada syarat kehadiran fisik di PKBM? Kapan siswa harus hadir?
    e. Layanan apa saja yang diberikan oleh PKBM? Modul, tutorial, dll?
    f. Apakah ada pembelajaran online? Apakah anak bisa belajar mandiri?
    g. Apakah ada student club atau klub kegiatan anak?
    h. Berapa biaya? Apa komponen biaya yang harus dibayar?
    i. Dll

    Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Transisi Homeschooling #7015
    Aar
    Keymaster

    Kak Sita,

    Transisi legal biasanya dilakukan setelah anak berhenti dari sekolah. Prosesnya adalah mutasi dari sekolah ke PKBM. Oleh karena itu Anda perlu melakukan survey dan mencari PKBM dulu. Setelah menetapkan tujuan, baru melakukan mutasi.

    PKBM itu seperti sekolah, tapi variasi kualitasnya jauh lebih lebar dibandingkan sekolah. Ada yang “sangat sekolah” dan tidak fleksibel. Ada yang sangat lentur dan fleksibel. Banyak yang sangat sederhana dengan fasilitas dukungan yang sangat terbatas.

    Kriteria umum PKBM yang ramah HS adalah:
    ~ Secara legal sudah memiliki NPSN (Nomor Pokok Siswa Nasional) dan terakreditasi
    ~ Data PKBM ada di sini: https://referensi.data.kemdikbud.go.id/index31.php
    ~ Proses terdaftar PKBM bisa di kota yang sama, bisa di kota berbeda.
    ~ Tanyakan pada PKBM beberapa aspek penting, misalnya fleksibilitas belajar, proses pembuatan rapor, apakah ada jadwal wajib hadir/berkegiatan. Semakin fleksibel, semakin memudahkan proses homeschooling.

    Sebagai informasi tambahan, anak-anak kami saat ini terdaftar di PKBM Piwulang Becik, Salatiga. Foundernya praktisi homeschooling dan proses-prosesnya sebagian besar berlangsung online. Informasi tentang PKBM Piwulang Becik bisa dilihat di website-nya: https://piwulangbecik.com

    in reply to: Membangun Budaya Belajar #7019
    Aar
    Keymaster

    Kak Rachmayati,

    Coba ditelisik lebih jauh penyebab ketergantunagn yang terjadi, kak.

    Apakah dia benar-benar tidak tahu?
    Apakah dia capek dengan proses PJJ yang terjadi saat ini?

    Jika anak merasa fatique (lelah yang mendalam) tapi tidak bisa berbuat apapun karena keharusan, saatnya orangtua melakukan intervensi dengan memperbanyak ruang atau jalan anak melakukan pelepasan. Proses pelepasan anak bisa dilakukan dengan menambahkan kegiatan fisik yang bikin capek, jalan pagi, dan kegiatan2 yang disukainya bersama keluarga.

    Jika anak benar2 tidak tahu tapi malas berpikir, orangtua bisa meliath anak dengan mengajukan pertanyaan balik:
    “Menurut kakak apa?”
    “Yang belajar kakak atau Bunda?”

    Saat mengajukan pertanyaan balik ini, orangtua perlu “tega”. Artinya, jangan mengambil alih lagi proses dan tanggung jawab anak karena rasa kasihan. Sebaliknya, latihlah anak-anak untuk bertanggung jawab sendiri atas proses-prosesnya.

    in reply to: Podcast Ijazah Anak Homeschooling #7020
    Aar
    Keymaster

    Kak Nidya,

    Akreditasi adalah sebuah sistem penilaian yang baru diperkenalkan oleh Kemdikbud untuk memberikan penilaian sarana dan prasarana yang dimiliki oleh PKBM. Proses akreditasi masih berlangsung dan belum mencakup semua PKBM di Indonesia. Dulu, acuan yang digunakan untuk menilai kualitas adalah nomor NPSN.

    Jika mau aman, tentu saja pilihlah PKBM yang memiliki NPSN dan sudah terakreditasi.

    Demikian, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Perpindahan dari Sekolah ke Homeschooling #7022
    Aar
    Keymaster

    Kak Lis,

    Iya kak. PKBM ada rapor siswa yang dibuat oleh PKBM. Sumber rapor itu bermacam-macam dan tiap PKBM mungkin memiliki kebijakan yang berbeda.

    Ada yang memakai soal ujian semester, portofolio, belajar modular, dan lain-lain.

    PR orangtua yang mau HS adalah mencari PKBM yang sesuai dan ramah HS. Salah satu hal yang perlu ditanyakan pada PKBM adalah fleksibilitas proses belajar dan proses pembuatan rapor.

    Untuk sekadar informasi, anak kami saat ini terdaftar di PKBM Piwulang Becik (http://www.PiwulangBecik.com).

    Proses pembuatan rapor di PKBM Piwulang Becik seperti ini:

    in reply to: Podcast Persiapan Homeschooling Usia Dini #7023
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb kak Trisa,

    Jangan khawatir, kak. Anak pada dasarnya pemaaf. Jangan terlalu keras menghakimi diri sendiri yang membuat proses Anda akan jatuh pada ekstrem yang lain yaitu memanjakan anak sebagai “balas dendam” atas hal yang Anda anggap salah.

    Ruang bertumbuh anak masih sangat besar. Yang penting sekarang dinikmati proses kebersamaannya, bikin kegiatan main dan bersenang-senang bersama, Ikuti tantangan kegiatan di IG Rumah Inspirasi untuk proses bermain sekaligus bealjar anak. Ada tantangan berkegiatan memakai batu, daun, air, garam, dll.

    Juga, nikmati kegiatan “read aloud” membaca nyaring buku2 cerita sesuai kesukaan anak. Baca dengan lantang dan penuh ekspresi.

    Bermain dan belajar bersama dengan sukacita, itulah “tebusan” paling tepat untuk anak yang dapat Anda berikan.

Viewing 15 posts - 616 through 630 (of 766 total)
Scroll to Top