Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterKak Yulianti,
Untuk anak usia 5 tahun yang dibutuhkan adalah petunjuk dan aturan main yang jelas serta dijalankan dengan konsisten. Karena Anda memiliki toko kelontongan, ini akan menjadi tantangan bagi anak.
Pelajaran paling dasar adalah:
~ menahan diri
~ mengikuti aturanJika anak terbiasa menahan diri dari godaan mengambil barang di toko dan memperlakukan diri sebagai pembeli (tetap harus bayar jika mengambil barang di toko), dia bisa memiliki kekuatan mental.
Contohnya:
~ Barang-barang jualan tidak boleh diambil. Ini perlu jadi aturan konsisten bukan hanya buat anak, tapi juga buat orangtua. Kalau ambil, harus bayar.
~ Tentukan area/jenis barang yang boleh diambil. “Yang ini boleh ambil, tapi [buat aturan main]…”
~ Membeli berarti melakukan transaksi, harus ada pertukaran. Tidak boleh hanya mengambil saja.~ Anak juga mulai diperkenalkan matematika uang supaya mengetahui nilai mata uang, tambah kurang uang/transaksi sesuai kapasitas anak.
Begitu, kak. Semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Nirmala,
Pakaian memang bisa menjadi pintu masuk anak untuk belajar mengambil keputusan. Tapi, mungkin ada juga anak2 yang tidak terlalu peduli dengan baju yang mau dipakainya. Jika itu kondisinya, santai saja kak. Jangan dibawa terlalu serius.
Mungkin tidak setiap momen perlu digunakan untuk diskusi alasan pemilihan baju, apalagi untuk keseharian. Bisa jadi hanya pada momen2 tertentu, misalnya mau ada acara kondangan/pergi ke luar. Diskusi baju yang dipakai mungkin lebih bisa dilakukan karena ada alasan “kepantasan” dan “kesesuaian” yang perlu dipertimbangkan anak.
Untuk proses belajar mengambil keputusan bisa digunakan momen2 lain, misalnya:
~ mau pergi ke x, y, dan z?
~ makan A, B, C?
~ kegiatan F, G, atau H?Intinya, banyak momen yang bisa dimanfaatkan. Jika momen 1 tidak bisa, masih banyak momen lain yang bisa menjadi pintu masuk. Fokus pada peluang mencari pintu yang terbuka, jangan fokus pada pintu yang tertutup.
Semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Sita,
Sistem di PKBM ini bermacam-macam dan aturan yang berjalan bisa berbeda-beda setiap tahun. Sistem di PKBM ini masih sangat terbelakang dibandingkan sekolah (bahkan sekolah yang dianggap kurang berkualitas).
Bayangkan PKBM ini isinya adalah anak-anak jalanan, anak putus sekolah, buruh pabrik, dan orang dewasa yang butuh ijazah supaya bisa mendapat kenaikan pangkat (misalnya: penjaga kuburan yang jika memiliki ijazah bisa mendapat tambahan tunjangan).
Sebagian besar PKBM masih manual dan under-resource, baik terkait fasilitas, SDM, administrasi, dan lainnya.
Jadi, bayangkan sistem yang harus memfasilitasi para peserta ujian yang seperti itu, kak.
Sistem rapor itu baru dijalani beberapa tahun terakhir dan di lapangan banyak bermasalah. Bayangkan anak2 putus sekolah dan anak jalanan itu dipaksa harus punya rapor semester. Disuruh belajar lagi saja sebenarnya nggak mau, apalagi disuruh belajar seperti anak sekolah. Kapasitas intelektual mereka sudah tidak sanggup. Yang mereka inginkan adalah punya ijazah supaya bisa kerja di pabrik.
Mudah2an dengan cerita tentang konteks keberadaan PKBM itu bisa memberikan gambaran tentang posisinya dan ekspektasi apa yang perlu kita kelola terhadap layanan PKBM.
Di lapangan, praktik PKBM ini bermacam-macam. Ada PKBM yang rapornya “dikarang” oleh pengelolanya, jadi anak hanya ujian paket saja. Ada yang anak yang penting hadir saat tutorial, nilainya juga suka-suka.
Ada juga PKBM yang kemudian membuat dirinya seperti sekolah. Ada jadwal tutorial yang wajib diikuti dan ujian seperti sekolah.
PKBM yang lebih fleksibel biasanya membuka pintu masuk pembuatan rapor dari:
~ Setara Daring: membaca & mengerjakan soal di Setara Daring
~ Tutorial dan mengerjakan soal
~ Portofolio yang dikonversi menjadi bahan pembuatan nilai raporNah, bagaimana pengalaman implementasinya di keluarga kami?
1. Dulu zaman Yudhis tinggal ujian Paket saja, tidak ada rapor dan lain-lain. Pada saat mulai ada aturan rapor, saya minta anak2 mengerjakan buku soal dari toko buku, hasilnya dikirim ke PKBM
2. Saat ada setara daring, anak2 sesekali (biasanya akhir semester) melihat2 materi di Setara Daring dan mengerjakan soalnya (sedapatnya).
3. Jika PKBM mengirimkan soal, kami minta anak2 mengerjakan sekaligus belajar. Kami kirimkan hasilnya ke PKBM
Proses belajarnya bagaimana?
Kami menjaga 2 materi utama yaitu Math & Bahasa Inggris sebagai pondasi logika. Anak2 belajar 2 materi utama itu memakai aplikasi online, misalnya: IXL Math, IXL Language Art, atau Khan Academy. Saat anak SMP & SMA, kami serahkan kepada mereka untuk memilih tools yang digunakan. Proses belajarnya biasanya masuk ke jadwal 2-3 kali seminggu.
Di luar itu, anak-anak belajar melalui proyek (Project-based learning) untuk mengasah wawasannya.
Sebagian besar waktu anak2 digunakan untuk mengasah minat dan proyek.
Sebagai contoh, kegiatan utama Tata (16 tahun) setiap hari adalah mengerjakan proyek Kreasita.com. Dia bikin tutorial dan belajar mengelola bisnis.
Sementara itu, Duta (12 tahun) sebagian besar waktunya berisi kegiatan belajar catur. Setiap hari belajar catur kurang lebih 5 jam. (Hampir) setiap hari ada kegiatan belajar IXL Math minimal 1 skills.
Demikian, kak.
Semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Pricillia,
Tahun ini rencananya adalah AKM (Asesmen Kompetensi Minimum), tapi ditunda. Jadi, tahun ini sebenarnya tidak ada Ujian Kesetaraan juga.
Pola kelulusan mirip tahun lalu.
Kelulusan ditentukan oleh PKBM. Penentuan rapor mengikuti kebijakan PKBM, bisa diambil dari ujian, modul, tugas, portofolio atau cara lain sesuai kebijakan PKBM masing-masing.
Aar
KeymasterKak Ima,
Kegiatan yang kami masukkan di jadwal semuanya, keseharian + akademis.
Keseharian termasuk: menanak nasi, mengisi air minum, menyiapkan meja makan, mencuci piring, dll
Materi belajar akademis biasanya: Matematika & Bahasa Inggris menggunakan materi online (IXL Math & IXL Language Art).
Di luar itu anak2 belajar melalui proyek kegiatan. Proyek kegiatan ini biasanya dilakukan dengan pendampingan orangtua.
Model HS di keluarga kami tidak terlalu akademis.
Banyak masa kegiatan anak-anak bersifat non-akademis, menekuni hal-hal yang diminati anak. Sebagai contoh, jadwal Tata (16 tahun) saat ini berkaitan dengan proyek tutorial menggambar (Kreasita.com). Sementara itu, jadwal Duta (12 tahun) sebagian besar terkait catur.
Materi akademis bersifat tambahan dan menjadi penambah wawasan.
Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Kak Dini,
Terima kasih sharingnya. Kesadaran Anda untuk berpihak pada anak sangat bagus sekali. Anda tidak memaksakan ideal di benak orangtua dan tidak takut penilaian orang lain terhadap anak dan Anda. Ini sikap mental yang perlu dipelihara.
Setiap anak unik dan tidak bisa distandarkan. Setiap anak memiliki minat dan kecepatan belajar yang berbeda-beda, kekuatan dan tantangan yang berbeda-beda pula.
1. HS memberikan ruang yang besar untuk fleksibilitas itu. Anak tidak distandarkan dan dipaksa mengikuti standar. Yang penting adalah kesadaran orangtua untuk terus menemani proses anak, bertumbuh terus setiap saat sesuai keunikan setiap anak.
2. Mundur sejenak berarti orangtua tidak langsung mendorong anak-anaknya belajar akademis seperti sekolah. Rencana Anda untuk fokus memperkuatan bonding itu sangat bagus. Perbaiki bonding, komunikasi, dan kenyamanan anak dengan dirinya sendiri, juga kemampuan anak meregulasi diri. Itu adalah bekal hidup yang akan terus terpakai dalam jangka panjang.
Hal-hal yang bersifat akademis bisa dipelajari menyusul saat anak siap. Anak bisa menyelipkannya sedikit jika dibutuhkan. Tapi fokus awal sebaiknya adalah menemani anak agar bisa menjalani kesehariannya dengan baik.
Semoga dengan proses itu anak merasa nyaman dan secara bertahap tertarik/bisa belajar hal-hal lain sesuai kesiapannya. Jika anak merasa nyaman dengan kesehariannya dan bisa belajar (apapun), itu pertanda proses Anda bertumbuh ke arah yang tepat.
Demikian, kak. Semoga membantu.
Aar
KeymasterNoted. Semoga ada yang bikin ya kak..
Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Kak Nofi,
Terima kasih banyak atas kejujurannya, kak. Ini sikap yang sangat bagus sekali. Dengan sikap seperti ini, kakak bisa bertumbuh dengan baik sebagai pribadi maupun sebagai orangtua.
Dalam proses menjalani kehidupan dan menjadi orangtua, yang bisa kita lakukan adalah mengoptimalkan yang ada. Jangan mencari yang tidak ada, jangan menyesali masa lalu, jangan berfokus pada kekurangan/kelemahan, jangan berandai-andai dan berpikir “aku baru akan melakukan xxx jika yyy.”. Jangan.
Selalu mulai dengan mensyukuri yang ada dan berusaha memulai dari yang ada. Jika kita bersungguh-sungguh dan terus berkembang, itu akan membukakan berbagai jalan-jalan baru untuk kita maupun keluarga kita.
Tentang pendampingan untuk mengenali kekuatan anak, lakukan secara bersamaan dengan proses pribadi Anda.
Untuk diri pribadi, kenali:
~ apa yang Anda lakukan dengan cepat dan hasilnya bagus
~ apa yang mudah Anda pelajari dan Anda bisa naik terusItulah pintu2 masuk kekuatan Anda. Kekuatan itu bisa dalam wujud beragam, misalnya:
~ bidang tertentu: olahraga, seni, kuliner, pertanian, peternakan, dll
~ sifat: pantang menyerah, rajin, berhati lembut, dll
~ keterampilan: berbicara, craft, berjualan, berbicara, dllSambil Anda berproses, temani anak-anak untuk mendapatkan beragam pengalaman:
~ pengalaman dengan seluruh indera: mendengar, memegang, menonton, mencicipi, dll
~ pengalaman berkarya: lisan, tulisan, foto, video, musik, vokal, dll
~ pengalaman dengan orang: kerja sendiri, kerja kelompok kecil, berkegiatan dengan banyak orang
~ area kegiatan: berkebun, beternak, fotografi, menggambar, menulis, presentasi, dllSemoga membantu
Aar
KeymasterKak Novie,
Secara aturan legal bisa, tapi praktek di lapangan tidak semudah itu.
1. Banyak orang di lapangan (guru/sekolah) tidak memahami mekanismenya karena masih jarang dan tidak ada petunjuk teknis terkait proses ini. Aturan yang ada berupa Peraturan Menteri. Intinya adalah ada rapor di jenjang sebelumnya dan placement test di tempat/sekolah baru.
2. Harus memastkan ketersediaan kursi kosong di sekolah yang dituju. Biasanya harus mencari sekolah swasta yang butuh murid, bukan sekolah favorit.
3. Dalam praktik HS, 2 tahun adalah masa sangat awal. Tahun pertama biasanya adalah tahun kekacauan, tahun kedua mulai dapat pola HS.
Kami tidak menyarankan melakukan HS dalam jangka pendek. Minimal menjalani HS dilakukan dalam durasi hingga selesai Ujian Paket (A/SD, B/SMP, C/SMA). Jadi, harus ditimbang baik-baik dulu sebelum memutuskan untuk HS.Risiko yang terjadi jika HS hanya sebentar adalah:
~ orangtua dan anak tidak mendapatkan apa-apa, hanya mendapatkan kekacauan saja.
~ jika pindah dari HS ke sekolah akan masuk ke sekolah yang tidak bagusProses perpindahan dari HS ke sekolah serupa dengan perpindahan dari sekolah ke HS, hanya dibalik saja:
1. Mencari sekolah yang punya kursi kosong dan mau menerima
2. Membuat surat mutasi dari PKBM ke sekolah (dilengkapi rapor dari PKBM)
3. Placement test di sekolah (ini optional tergantung kebijakan sekolah)Demikian, semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Santi,
Yang penting di benak orangtua tahu goalnya:
~ anak tahu apa yang ingin dilakukan
~ anak bisa berinisiatif
~ anak & orangtua menemukan pola kegiatan yang cocok1. Mengambil keputusan
Anak perlu belajar mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Proses ini melibatkan 2 sisi:
~ orangtua memberikan ruang pada anak untuk belajar mengambil keputusan. Caranya adalah memperbanyak proses bertanya, bukan mengambil/membuatkan keputusan untuk anak.~ orangtua membimbing anak dan mengajari anak mengambil keputusan
“Apa rencanamu hari ini?”
“Sudah sampai di mana proses belajarmu?
“Apa yang kamu dapatkan dari kegiatan xx tadi?”
“Apa kesulitan yang kamu alami?”
“Bagaimana caramu menyelesaikan masalah itu?”
“Apakah kalau berhenti/berganti itu baik buatmu? Mengapa?”
“Mengapa masalah itu terjadi? Apa menurutmu jalan keluarnya? Bagaimana supaya tidak terjadi lagi?”2. Bikin rencana bersama
Buatlah rencana kegiatan anak yang disepakati bersama. Awalnya paduan antara yang dimaui anak dan orangtua. Seiring waktu, jumlah ide dari orangtua semakin dikurangi.3. Contohkan/kenalkan beragam pengalaman belajar
Belajar bukan hanya untuk menambah pengetahuan/wawasan, tapi juga berkaitan meningkatkan skills: bikin rangkuman, menulis, bikin gambar, foto, video, dll(Silakan pelajari materi Strategi Belajar Homeschooling)
4. Manfaatkan alat bantu eksternal
Gunakan kursus, student club, workshop eksternal sebagai alat bantu untuk mengisi kegiatan anak.5. Kesabaran & komunikasi
Kunci besarnya ada di kesabaran orangtua dan proses komunikasi yang terus menerus. Komunikasi saat merencanakan, komunikasi saat eksekusi, komunikasi saat menemani perkembangan, komunikasi saat refleksi.Anak kemungkinan akan bingung karena selama ini tidak pernah ditanya maunya apa. Dia juga tidak pernah memilih materi belajar dan mengenali keinginannya. Dia tidak tahu alternatif apa yang tersedia baginya. Dia mungkin takut salah.
Jadi, banyak masalah terjadi bukan karena malas, nakal, atau suka-suka; sebagian besar terjadi karena ketidaktahuan dan tidak terlatih. Jadi, kesabaran orangtua untuk membimbing sangat dibutuhkan.
Bayangkan ini seperti proses Anda membimbing anak untuk toilet training atau belajar berjalan pada saat kecil dulu.
Semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Ratih,
Sayangnya saya belum menemukannya. Di Indonesia ini model belajar yang populer adalah mengajar melalui video seperti yang ada di Ruang Guru & Zenius.
Nanti kalau menemukan, saya akan update ya kak…
Aar
KeymasterKak Tri,
Banyak kekacauan yang terjadi dalam proses HS kami, terutama jika dikaitkan dengan ketidaksesuaian antara rencana dan kenyataan.
Misalnya:
- Jadwal sudah dibuat, kemudian ada tamu datang dan prioritas kemudian bergeser. Anak main dan menemani tamu.
- Jadwal sudah dibuat, tiba-tiba ada kegiatan komunitas yang menarik. Anak suka dan ikut, kemudian jadwal dirombak lagi.
- Jadwal sudah dibuat, tapi ada deadline eksternal anak-anak yang harus dikejar (misalnya Tata ada jadwal mengerjakan proyek video). Prioritas berubah dan fokus pada penyelesaian deadline
Banyak hal yang kurang lebih seperti itu, kak.
Jadi, pegangan kami bukan jadwal, tapi produktivitas. Selama anak menjalani hari secara produktif, itu tak apa-apa walaupun tak sesuai dengan jadwal.
Tapi kadang-kadang ekspektasi juga perlu diturunkan. Terutama jika kami yang bermasalah (orangtua sakit, deadline pekerjaan, dll yang membuat tidak bisa menemani anak).
Ada kondisi2 tertentu di mana ekspektasinya adalah anak sehat dan hari lewat. Hari itu dianggap libur.
Yang penting adalah terus maju, melakukan refleksi, perbaikan, dan bergerak terus.
Aar
KeymasterKak Sita,
Penjenjangan kelas di PKBM mirip di sekolah, kelas 1 sampai kelas 12. Tapi tidak ada istilah tidak naik kelas. Karena harus menyesuaikan dengan sistem persekolahan, ada rapor sesuai jenjang.
Rapor dibuat oleh PKBM dan sistemnya berbeda-beda diantara PKBM. Ada PKBM yang mengambil nilai rapor dari soal ujian semester, ada yang dari portofolio, ada yang dari keaktifan mengerjakan modul belajar online, dsb.
Rapor ini adalah pertanda anak sudah menyelesaikan proses belajarnya dan menjadi pelengkap untuk Ijazah Paket A/B/C.
Aar
KeymasterBetul sekali kak Santi,
Titik kritis besar (secara eksternal) adalah memilih PKBM yang fleksibel dan sesuai dengan keluarga.
PKBM ini setara dengan sekolah, tapi kualitasnya jauh sekali di bawah sekolah. Sebab, mereka biasanya menangani anak-anak putus sekolah, orang dewasa yang butuh ijazah, dll.
Jadi, jangan terlalu bergantung pada PKBM. Yang penting legal dan fleksibel (tidak menyusahkan proses HS).
Fokus proses tetap harus dilakukan di keluarga masing-masing.
Aar
KeymasterKak Novie,
Prosesnya bisa dicoba di klik link di sini: https://www.cambridgeinternational.org/why-choose-us/find-a-cambridge-school
Pilih negara (Indonesia) dan kota (Jakarta). Perhatikan kolom Private Candidate. Jika Yes, berarti dia menerima anak HS yang “menumpang ujian”. Jika No, berarti hanya menerima siswa internal.

-
AuthorPosts