Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 586 through 600 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Model & Metode Homeschooling #6928
    Aar
    Keymaster

    Kak Dame,

    Di Indonesia belum banyak riset tentang homeschooling karena jumlah praktisinya masih sedikit.

    Kalau riset di Amerika ada dan lebih banyak.

    Situs yang memuat riset tentang homeschooling adalah: NHERI (National Home Education Research Insititue): https://www.nheri.org/

    Salah satu riset NHERI adalah tentang kepercayaan diri dan sosialisasi: https://www.nheri.org/home-school-researcher-self-esteem-and-home-schooling-socialization-research-a-work-in-progress/

    Ini juga salah satu riset tentang Social Skills anak HS: https://files.eric.ed.gov/fulltext/ED573486.pdf?fbclid=IwAR2XFYDbbA2nulW4L71GtIKGeLYkFuL_pqff-9YkRxTXDJ9HmSEg0KvpjXY

    Semoga membantu.

    in reply to: Model & Metode Homeschooling #6929
    Aar
    Keymaster

    Kak Rahmi,

    Betul kak. Kondisi PKBM itu sangat beragam. Ada yang mirip sekolah, ada yang administrasinya sangat sederhana, dll. Ada yang mensyaratkan pertemuan, ada yang tidak.

    Saat ini anak-anak kami tergabung di PKBM Piwulang Becik (http://www.piwulangbecik.com). PKBM ini lokasinya di Salatiga. Semua proses kegiatan belajar secara online. Pesertanya keluarga HS dari berbagai kota.

    Kami memilih PKBM ini karena pendirinya praktisi homeschooling. Proses belajarnya fleksibel dan menerima portofolio sebagai salah satu bukti belajar anak.

    Konsekuensinya, jika nanti Ujian Paket bisa jadi harus ke Salatiga. Kami melihatnya itu sebagai kesempatan untuk sekaligus jalan-jalan dan bertemu keluarga HS yang lain. Tapi dalam masa pandemi ini, semua proses terkait ujian berlangsung secara online.

    Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Tips Manajemen Keseharian HS Usia Dini #6933
    Aar
    Keymaster

    Kak Agnes,

    Saya bukan profesional di bidang psikologi dan kedokteran. Jawaban saya ini adalah jawaban seorang Ayah dan praktisi pengasuhan.

    Dalam pemahaman saya, jika anak emosi sampai muntah, itu berarti emosinya dalam dan dia belum bisa mengontrol dirinya. Ada 2 hal yang akan saya lakukan dalam kondisi seperti ini:

    1. Menurunkan level emosi
    Level emosi diturunkan dengan menggunakan teknik validasi emosi. Anak diberikan kenyamanan bahwa emosinya tidak apa-apa dan dimengerti. Ini seperti katarsis untuk membocorkan tekanan tinggi agar tidak meledak.

    Sambil dipeluk dan diberikan kenyamanan, tanyakan dengan lembut:
    “Aoa yang kakak rasakan? Kakak sedih karena mainannya rusak? Nggak apa-apa kok.. Bunda juga pernah merasakan sedih [gunakan istilah yang dipakai anak] seperti itu kok waktu xxx”

    2. Menggali
    Dalam kondisi sudah tenang beberapa jam kemudian, ajak anak berbincang santai. Ajukan pertanyaan dan dengarkan.
    “Tadi kenapa kakak nangisnya sampai muntah-muntah gitu? Bunda sedih kalau kakak sampai muntah-muntah begitu…”

    3. Menawarkan solusi
    “Enak nggak nangis sampai muntah? Kakak mau belajar supaya nggak muntah kalau nangis?”

    Ajari anak untuk mengatur nafas agar panjang dan teratur saat mengalami emosi. Berikan contoh dan lakukan latihan di saat santai.

    Begitu tips dari saya, kak Agnes. Semoga membantu.

    Jika masalah ini berkelanjutan, saya akan memilih untuk konsultasi dengan profesional di bidang kesehatan: dokter atau ahli tumbuh kembang anak.

    in reply to: Podcast Tips Manajemen Keseharian HS Usia Dini #6935
    Aar
    Keymaster

    Kak Indrawati,

    Pada umumnya pola untuk HS anak usia dini memang tidak berjadwal, tetapi spontan. Orangtua memanfaatkan momen apapun yang terjadi pada anak.

    Jadwal usia dini dibuat biasanya untuk kepentingan orangtua agar bisa mengelola proses, bukan untuk anak. Misalnya: orangtua mengalokasikan waktu pagi hari setelah sarapan/mandi dan malam sebelum tidur untuk melakukan kegiatan bersama anak. Sesederhana itu alokasi jadwalnya. Jenis kegiatannya disesuaikan dengan kondisi, yang penting waktunya dialokasikan dan dijalankan sehingga anak memahami pola kesehariannya.

    Tentang belajar, sebenarnya apa sih pengertian belajar? Ini yang perlu direfleksikan oleh orangtua.

    Apakah belajar harus menggunakan lembar kerja (worksheet) dan duduk diam menulis?

    Apakah mengobrol tentang kupu-kupu, memasak, dan tebak-tebakan bukan belajar?

    Enaknya homeschooling adalah pola kegiatannya tak harus seperti sekolah. Yang penting orangtua menyadari tujuan-tujuan yang perlu diraih. Boleh menggunakan worksheet, tapi tidak harus.

    Yang penting bukan jadwal, tapi membangun budaya dan kebiasaannya. Misalnya berkaitan dengan membaca, orangtua bisa membangun kebiasan cerita/membacakan buku sebelum tidur dan kegiatan membaca nyaring (read aloud) bersama anak.

    Bagaimana mengatur jadwal anak?

    Semuanya tergantung kesiapan anak, kak. Jangan dipaksa pakai jadwal.

    Kalau mau mencoba, proses transisi yang dilakukan biasanya:
    ~ mengobrol bersama anak dan bikin kesepakatan
    ~ mendaftar jadwal rutin yang saat ini dijalani (mandi, makan, gosok gigi, main di taman, menonton, dll)
    ~ tulis jadwal itu di kertas/gambar, tempel di dinding
    ~ tandai setiap kali selesai melakukan kegiatan
    ~ nanti seiring waktu, bisa ditambahkan

    Sekali lagi, jadwal untuk anak usia dini tujuannya untuk orangtua agar bisa lebih mengelola keseharian anak.

    Untuk anak, jadwal adalah untuk pengenalan pola kegiatannya dan rasa kepemilikan anak dengan kegiatannya. Itulah sebabnya, jadwal perlu menjadi diskusi bersama anak, bukan hanya ditetapkan oleh orangtua. Jika hanya ditetapkan orangtua, anak tak merasa memiliki jadwalnya dan kemungkinan besar tidak akan berjalan.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Miskonsepsi & Realita Homeschooling #6940
    Aar
    Keymaster

    Kak Dian,

    Ada 2 proses yang biasanya dilakukan anak saat belajar membaca. Yang pertama adalah proses decode (melafalkan lambang huruf/suku kata/kata menjadi bunyi). Yang kedua adalah memahami makna dari teks.

    Jika anak belajar terlalu dini, biasanya prosesnya hanya berhenti di proses pertama: anak bisa melafalkan menjadi bunyi. Ini yang sering difahami sebagai sudah bisa membaca (walaupun anak belum mengerti makna bunyi-bunyi yang diucapkannya).

    Sayangnya orangtua sering merasa bangga dan berhenti pada jenjang ini. Padahal ada satu proses lagi yang dibutuhkan berkaitan dengan literasi yaitu memahami teks yang dibaca (ini yang disebut membaca secara logis). Kalau langkah kedua ini tidak dilakukan, anak hanya akan menjadi seperti “beo” dan bisa mengalami kesulitan saat membaca teks yang kompleks.

    Untuk bisa memahami kata-kata yang diucapkan, dibutuhkan bagian lain dari otak yaitu otak logis yang biasanya baru tersambung dengan otak visual pada saat anak berusia sekitar 7 tahun.

    Itulah sebabnya, kita perlu bersabar saat mengajari anak membaca karena ada kondisi fisiologis otak anak yang juga perlu kita perhatikan.

    Semoga menjawab dan membantu.

    in reply to: Podcast Kegiatan Berbasis Perkembangan Otak #6941
    Aar
    Keymaster

    Sama-sama kak Christy, semoga bermanfaat.

    in reply to: Podcast Kegiatan Berbasis Perkembangan Otak #6944
    Aar
    Keymaster

    Kak Christy

    Terima kasih atas pertanyaannya.

    Dengan segala harapan untuk bisa menjawab pertanyaan kak Christy, kami mohon maaf karena tidak bisa menjawab pertanyaan kakak. Kami tidak memiliki pengetahuan detil tentang “ilmu memegang pensil yang benar” dan bagaimana cara memperbaikinya jika anak tidak memegang pensil dengan benar saat anak usia 3 tahun.

    Sebagai praktisi homeschooling, keluarga kami dulu tidak pernah memperhatikan sampai sedetil itu karena pendekatan yang kami gunakan memang sangat relaks. Dalam konteks menulis, masa usia dini adalah masa kegiatan pra-menulis yang fokusnya adalah penguatan motorik halus melalui aneka stimulasi untuk menguatkan dan melenturkan jari & pergelangan tangan.

    Kegiatan yang dilakukan anak adalah memotong, menggunting, menggambar, mengikuti pola (tracing), bermain dengan biji, melipat, memegang benda-benda kecil, dan sebagainya. Jadi, kami betul-betul fokus pada proses itu, tidak mengaitkannya dengan menulis.

    Anak-anak tidak pernah kami stimulasi secara khusus untuk menulis. Anak mencoret dan menggambar menggunakan spidol yang mudah digunakan. Kami memberikan contoh cara memegang pensil yang baik tapi tidak menetapkannya dengan standar “benar” vs “salah”. Jika anak2 memegang pensil dengan cara berbeda kami tak mempermasalahkannya, yang penting dia bersenang-senang dan menikmati prosesnya. Pengalaman berkegiatan yang asyik itu yang menjadi priotas kami. Kualitasnya bisa dikejar nanti sepanjang jalan.

    Seiring waktu, kapasitas semakin membaik dan jari-jarinya semakin kuat menorehkan garis/gambar yang lebih jelas. Kapasitas anak untuk mengikuti petunjuk juga akan membesar.

    Demikian kak, mohon maaf tidak bisa menjawab. Semoga sedikit sharing kami ini bermanfaat.

    Sebagai tambahan, saya sertakan informasi tentang proses perkembangan cara anak memegang pensil ini sebagai referensi:

    Referensi ini kami ambil dari website Howewemontessori.com

    in reply to: Podcast Persiapan Homeschooling Usia Dini #6946
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Rika,

    Tidak mudah menjawab pertanyaan Anda karena proses-proses yang terjadi dalam homeschooling usia dini biasanya terbangun melalui interaksi informal yang terjadi bersama anak secara terus-menerus. Semakin banyak waktu yang dialokasikan bersama anak, semakin banyak stimulasi yang diperoleh anak dari orangtuanya. Jadi, memang tidak ada waktu khusus yang dialokasikan seperti jam sekolah di TK/Preschool.

    Jadi, biasanya untuk anak usia dini pendampingan salah satu orangtua memang krusial untuk memberikan kualitas pada anak dalam hal: memberikan rasa aman & nyaman, membangun kebiasaan baik, serta melakukan stimulasi terkait keseharian.

    Tapi kehidupan tidak berjalan secara ideal.

    Yang bisa kita lakukan adalah mencari solusi optimal untuk keluarga kita. Apalagi dalam kondisi pandemi seperti saat ini anak juga tidak memungkinkan untuk masuk ke preschool.

    Nah, apa yang bisa dilakukan untuk memberikan stimulasi optimal pada anak usia 4 tahun dengan kondisi keterbatasan waktu? Berikut ini beberapa ide yang mungkin bermanfaat bagi Anda:

    ~ memperkuat bonding & connection saat kondisi memungkinkan. Kapan kondisi yang memungkinkan itu: apakah bisa pagi sebelum bekerja + malam setelah pulang bekerja? Atau hanya malam pada waktu pulang bekerja?

    ~ berikan sentuhan-sentuhan personal saat Anda datang, misalnya: membawa “oleh-oleh” untuk anak. Oleh-oleh itu tak harus barang berharga, tetapi bisa menjadi pertanda perhatian Anda kepadanya, misalnya: kartu yang Anda buat di kantor, bunga yang Anda temukan di jalan, origami, makanan kecil, dsb.

    ~ manfaatkan waktu yang ada untuk membangun bonding dengan banyak mengobrol, bertanya dan mendengarkan ceritanya, membacakan buku cerita, kegiatan bikin2 balok, dan sebagainya.Tentu saja ini pasti melelahkan. Tapi itulah proses2 yang bisa dilakukan.

    ~ jika kondisinya memungkinkan, akan baik sekali jika pada saat pagi Anda sempat berinteraksi dengan anak: menjadi wajah yang pertama kali dilihat anak, dicium anak, dan melakukan kegiatan sederhana seperti sarapan bersama.

    ~ jadikan pengasuh sebagai partner Anda. Jelaskan nilai-nilai penting Anda terkait pengasuhan, berikan bekal pada pengasuh berkaitan keseharian yang perlu dilakukan bersama anak. Bekali dengan materi siap pakai yang bisa mempermudah keseharian. Pantau prosesnya dengan cara mendengarkan cerita anak pada saat Anda bertemu pada malam hari.

    ~ manfaatkan Checklist Parameter Perkembangan Anak sebagai panduan untuk Pengasuh dan Anda saat melakukan kegiatan dan stimulasi bersam anak.

    Demikian kak Rika, semoga jawaban ini membantu dan bermanfaat buat Anda.

    in reply to: Pola Kegiatan Homeschooling Usia Dini #6948
    Aar
    Keymaster

    Kak Shintari,

    Durasi kegiatan untuk anak usia dini dilihat dari kesiapan anaknya, kak. Kalau bisa kegiatan tematik dibuat modular. Maksudnya, satu kegiatan bisa berdiri sendiri tidak tergantung pada kegiatan lain. Jadi, sekali duduk dan melakukan kegiatan langsung selesai.

    Besok dilihat lagi apakah anak masih tertarik melakukan kegiatan dengan tema tersebut. Kalau anak masih semangat, kegiatan dengan tema yang sama bisa dilanjutkan dengan jenis kegiatan baru. Proses ini dilakukan setiap hari. Jika anak masih tertarik, biasanya tema yang sama bisa berjalan berhari-hari.

    Tapi kalau anak sudah tidak tertarik atau mau melakukan kegiatan lain, sebaiknya kegiatan tema sebelumnya tidak dilanjutkan. Kegiatannya bisa ditunda untuk dilakukan di waktu yang lain.

    Mengapa pendekatan seperti ini dilakukan?

    Karena tujuan penting yang ingin diraih dari kegiatan anak usia dini adalah pengalaman belajar yang mengasyikkan, bukan penguasaan isi materi belajarnya. Jika anak menikmati proses kegiatannya, mereka akan minta diulang lagi dan ingin terus belajar lagi.

    Proses seperti inilah yang dicari. Kalau materi penguasaan materi tidak terlalu didapat, selalu ada peluang untuk mengulanginya di waktu lain jika anak menikmati proses dan pengalamannya berkegiatan.

    Semoga membantu.

    in reply to: eBook Pola Kegiatan Homeschooling Usia Dini #6949
    Aar
    Keymaster

    Kak Shintari,

    Durasi kegiatan untuk anak usia dini dilihat dari kesiapan anaknya, kak. Kalau bisa kegiatan tematik dibuat modular. Maksudnya, satu kegiatan bisa berdiri sendiri tidak tergantung pada kegiatan lain. Jadi, sekali duduk dan melakukan kegiatan langsung selesai.

    Besok dilihat lagi apakah anak masih tertarik melakukan kegiatan dengan tema tersebut. Kalau anak masih semangat, kegiatan dengan tema yang sama bisa dilanjutkan dengan jenis kegiatan baru. Proses ini dilakukan setiap hari. Jika anak masih tertarik, biasanya tema yang sama bisa berjalan berhari-hari.

    Tapi kalau anak sudah tidak tertarik atau mau melakukan kegiatan lain, sebaiknya kegiatan tema sebelumnya tidak dilanjutkan. Kegiatannya bisa ditunda untuk dilakukan di waktu yang lain.

    Mengapa pendekatan seperti ini dilakukan?

    Karena tujuan penting yang ingin diraih dari kegiatan anak usia dini adalah pengalaman belajar yang mengasyikkan, bukan penguasaan isi materi belajarnya. Jika anak menikmati proses kegiatannya, mereka akan minta diulang lagi dan ingin terus belajar lagi.

    Proses seperti inilah yang dicari. Kalau materi penguasaan materi tidak terlalu didapat, selalu ada peluang untuk mengulanginya di waktu lain jika anak menikmati proses dan pengalamannya berkegiatan.

    Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Tips Menghadapi Lingkungan Sekitar #6952
    Aar
    Keymaster

    Iya kak Nurhikmah,

    Kakek-nenek pasti akan menjaga anak-cucunya jika ada orang lain yang mengusik, hehehe..

    Jadi, penting sekali untuk tetap memberikan penjelasan dengan lengkap kepada kakek-nenek kendatipun beliau tidak menyetujui ide homeschooling.

    Selamat berproses bersama keluarga, kak.

    in reply to: Podcast Persiapan Homeschooling Usia Dini #6956
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Indriana

    Terima kasih sharingnya kak. Penjelasan yang cukup lengkap sangat membantu saya memahami situasinya.

    Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan sebagai bahan masukan kak Indriana.

    1. Bonding Ayah & Bunda
    Betul sekali. Hal yang sangat mendasar dalam proses HS Usia Dini adalah membangun bonding dan kedekatan antara anak dan orangtua.

    Apa goalnya?

    Goalnya bukan menciptakan ketergantungan anak pada orangtua. Goalnya adalah membangun rasa aman dan nyaman pada anak.

    Jika anak merasa aman dan nyaman karena terpenuhi kebutuhan psikologisnya, itu menjadi pondasi penting untuk membangun kepercayaan diri anak. Jika anak percaya diri, dia akan berani mengeksplorasi dunia sekitarnya dan berinteraksi dengan orang lain secara bertahap.

    Apakah mungkin anak lengket pada orangtua, tetapi merasa tidak aman dan nyaman? Bisa. Ketika orangtua sering menakut-nakuti anak terhadap dunia luar, misalnya: “Jangan main di luar karena nanti kamu diculik.” “Jangan dekat-dekat dengan orang lain”. “Jangan ngobrol dengan orang asing karena berbahaya.” Dst.

    Kedekatan yang perlu dibangun bukan ketergantungan pada orangtua, tetapi rasa aman dan nyaman anak.

    2. Bonding dengan Keluarga & Sekitar
    Bagaimana jika anak takut atau tidak berani berinteraksi dengan saudara dan sekitar?

    Setiap anak memang memiliki fase yang berbeda-beda dalam hal kesiapan untuk berinteraksi dengan dunia luar (yang tidak terlalu dikenalnya).

    Kuncinya adalah:
    a. Stimulasi orangtua
    Orangtua perlu sering mengobrol dan mengenalkan sekitar pada anak untuk mengenalkan dan memastikan anak tahu bahwa dunia sekitarnya aman.
    “Nggak apa-apa kok main sama xxx (teman, tetangga, saudara).”

    Anak sebaiknya tidak dilepas, tapi secara bertahap orangtua mulai menjauh jika dirasa anak sudah merasa nyaman dengan teman mainnya.

    b. Mengajukan pertanyaan
    Saat anak tidak mau ditinggal atau tidak mau main bersama temannya sendirian, tanyakan kepada: “Apa yang kakak rasakan? Kakak takut? Bunda ada kok di sana sambil bekerja.”

    c. Berikan waktu untuk berproses
    Jika anak belum mau, jangan dipaksa dan diolok-olok atau dilabeli. Cegah juga pelabelan oleh oleh saudara/orang dewasa dengan sebutan “penakut, cengeng, dsb”. Jangan menambahi pelabelan dan penghakiman pada anak.

    “Bukan, kakak bukan penakut, cuma lagi pengin main sendiri saja. Nanti kalau sudah ada waktunya akan main bareng kok!”

    Berikan ruang bagi anak untuk berproses, tanyakan, dan berikan penjelasan pada anak agar merasa nyaman dan berani.

    3. Bepergian bersama orang lain
    Bepergian bersama orang lain adalah sebuah isu yang berbeda lagi. Agar anak mau bepergian dengan orang lain, harus dibangun tahapannya dulu, misalnya:
    a. Anak sudah kenal dan akrab sekali dengan kakek/nenek
    b. Anak bepergian sebentar bersama orangtua + kakek/nenek
    c. Anak bepergian sebentar (misalnya naik motor, jalan ke warung dekat) bersama kakek/nenek tanpa orang tua
    d. Anak sudah pernah menginap bersama orangtua di rumah kakek/nenek berkali-kali dan anak mendapatkan pengalaman menyenangkan selama di rumah kakek/nenek
    e. Anak baru bisa menginap di rumah kakek/nenek

    Jadi, tahapannya itu yang perlu dibangun. Apalagi usianya belum 5 tahun. Masih sangat wajar, kak.

    4. Pilihan keluarga
    Sangat difahami bahwa merintis usaha pasti membuat waktu kita banyak tersita untuk membangun dan meletakkan pondasi bisnis. Walaupun secara fisik kita di rumah, tetapi konsentrasi dan kesibukan mengurus bisnis pasti membuat perhatian terpecah.

    Tidak ada benar dan salah di sini, kak. Memastikan kebutuhan keluarga dan meletakkan pondasi ekonomi ke depan adalah hal yang penting. Membersamai anak secara penuh juga penting.

    Tergantung nilai-nilai keluarga kak Indriana.

    Jika mau HS, memang konsekuensinya adalah kebutuhan alokasi waktu. Yang dibutuhkan bukan hanya kualitas, tetapi juga kuantitas waktu bersama anak.

    Dalam pengalaman personal di keluarga, kami dulu memilih menyesuaikan pekerjaan dengan pendampingan anak. Proses bisnis memang tak berjalan terlalu kencang karena kami sangat mengutamakan pendampingan bersama anak-anak. Proses bisnis keluarga kami baru mulai lebih ditekuni saat anak-anak sudah lewat usia dini dan lebih mandiri.

    Tapi sekali lagi semua itu pilihan ya kak. Setiap pilihan ada konsekuensinya.

    Semogo jawaban2 ini membantu.

    in reply to: Mengelola Jadwal Anak #6957
    Aar
    Keymaster

    Kak Kartika,

    Tidak apa-apa kak. Proses yang Anda jalani sangat wajar dan biasa terjadi di keluarga praktisi homeschooling.

    Yang penting Anda merasa nyaman dengan pola kegiatan yang ada. Suami juga bisa terlibat kapan pun kondisi memungkinkan. Akan sangat baik jika Anda dan suami bisa bersepakat waktu tertentu yang dialokasikan bersama suami, tapi jenis kegiatannya bebas.

    Biasanya tak masalah dengan anak.

    Jika pola itu diterapkan, anak biasanya akan beradaptasi dan menyesuaikan dengan pola yang dimiliki oleh Ayah & Ibunya. Untuk pola rutin, anak akan mengacu pada Ibu. Anak juga bisa menikmati kegiatan spontan bersama Ayah.

    Supaya Anda lebih tenang, pola ini bisa dicoba selama 1 bulan dan kemudian direfleksikan hasil dan dampaknya. Dari refleksi ini bisa dilakukan penyesuaian sesuai dengan hasil refleksi.

    in reply to: Podcast Fisiologi Pertumbuhan Anak #6959
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Helsa Rosalianty,

    Diantara referensi yang kami gunakan adalah:
    ~ Brain Rules for Baby – John Medina
    ~ Building Your Baby’s Brain – Diane Trister Dodge & Cate Heroman

    Anda juga menonton video di Youtube atau artikel dengan tema “brain-based parenting” atau “Neuroparenting”.

    Semoga membantu.

    in reply to: Manajemen Orangtua Homeschooling #6961
    Aar
    Keymaster

    Kak Lis,

    Kalau dalam pengamatan Anda, kira2 apa penyebab trauma anak?

    Apakah karena konten matematikanya? Cara guru mengajarkan? Pengalaman buruk terkait belajar/hasil matematika?

    Ini yang perlu dikenali.

    Biasanya penyebab trauma bukan pada konten matematikanya, tetapi pada pengalaman belajar yang buruk mulai: hafalan, penghakiman, tekanan, dipermalukan, dll.

    Jika problemnya adalah di cara, maka Anda perlu mencari pintu-pintu masuk untuk proses belajar matematika yang sesuai dengan anak dan tidak menakutkannya.

    Yang pertama, turunkan ekspektasi
    Jangan memaksa anak melakukan proses belajar yang traumatis. Tentukan tujuan praktis belajar matematika, misalnya: agar tidak ditipu saat bertransaksi. Tidak semua materi perlu dipelajari. Diskusikan bersama anak agar anak & Anda merasa tenang.

    Yang kedua, masuk secara ringan
    Kenali minat anak dan kebutuhan anak, cari hubungannya dengan matematika. Misalnya, proses belajar matematika dimulai dengan matematika uang. Stimulasi proses belajar matematika dengan matematika uang sehingga anak mengetahui hubungan antara matematika dengan dunia nyata.

    Lakukan proses belajar dengan mengobrol dan tebak-tebakan.

    Yang ketiga, temukan media yang cocok
    Cari cara belajar yang cocok dengan anak apakah dengan benda fisik, video, dan sebagainya. Lakukan proses belajar secara bertahap hingga secara perlahan anak berkurang ketakutannya pada matematika.

    Ada anak yang senang belajar matematika sambil jalan di lapangan, anak harus dapat contoh riil penggunaannya. Ada yang senang menggunakan game.

    Anda bisa coba game matematika di sini: https://www.hoodamath.com/

    Semoga membantu.

Viewing 15 posts - 586 through 600 (of 766 total)
Scroll to Top