Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 571 through 585 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Mengelola Jadwal Anak #6895
    Aar
    Keymaster

    Kak Dwi,
    Dulu, pendaftaran untuk Ujian Paket bisa dilakukan setahun sebelum ujian. Tapi dalam aturan yang ada pada saat ini, proses pendaftaran perlu dilakukan sejak awal Kelas 1.

    Tantangan di lapangan, tidak semua PKBM membuka pendaftaran sejak kelas 1. Banyak PKBM yang baru membuka pendaftaran sejak kelas 4 karena data anak baru masuk ke sistem Dapodik (Data Pokok Pendidikan) mulai kelas 4.

    Jadi, banyak PKBM yang menerima pendaftaran sejak kelas 4. Bahkan, masih ada yang menerima pendaftaran setahun sebelum ujian Paket. Itu realitas di lapangan.

    Jadi.
    1. Kalau mau aman, daftar sejak kelas 1 di PKBM
    2. Lakukan survey dan cek PKBM yang Anda tuju dan tanyakan proses pendaftarannya. Ikuti aturan di PKBM yang menjadi preferensi Anda

    in reply to: Strategi Mengelola Jadwal Homeschooling #6896
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb

    Kak Prasasti,

    Pelajaran agama itu banyak aspeknya, kak. Juga banyak pendekatan dan aliran yang berbeda-beda, baik dari sisi substansi ajaran maupun cara belajarnya.

    Untuk anak usia 5 tahun biasanya proses belajarnya lebih menekankan pada akhlak dan kebiasaan baik. Jadi anak belajar dari meniru dan menghidupi nilai-nilai keagmaan seperti yang dijalani orangtua, misalnya: mendengarkan murottal, ikut sholat di sebelah, belajar wudhu, mengaji bersama, ikut ke masjid, menghafal doa-doa sederhana. Yang lebih utama adalah praktek, misalnya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, dll. Dalam hal akhlak juga sangat penting untuk bersikap baik, berterima kasih, meminta maaf, tidak boros, dan lain-lain. Kegiatan lain adalah membacakan buku2 cerita yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan.

    Saat anak usia dini, proses belajar yang utama biasanya dari orangtua, kak. Jadi orangtuanya yang perlu membekali diri dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Orangtuanya yang perlu banyak belajar, bukan anaknya, kak.

    Untuk pelajaran yang sifatnya pengetahuan bisa dilakukan sambil jalan atau nanti setelah lewat usia 7 tahun. Proses belajarnya juga sebaiknya tatap muka, mengundang guru mengaji yang dipercaya dan sesuai aliran yang diyakini keluarga kak Prasasti.

    Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Manajemen Materi Belajar #6898
    Aar
    Keymaster

    Kak Tri,

    Bagaimana tips manajemen gawai untuk anak usia 10 tahun?

    Tidak ada pengaturan durasi waktu gadget yang pasti untuk anak. Kita bisa menggunakan pendekatan praktis dengan melihat dampaknya pada anak.

    Secara praktis, ada 3 dampak penggunaan gadget:
    1. Negatif: anak kecanduan, fokus perhatian pada gadget/game/video; anak tidak tertarik melakukan kegiatan lain di luar gadget
    2. Netral: gadget sebagai hiburan, bukan fokus kehidupan. Gadget digunakan sesekali untuk bersenang-senang dan anak bisa melakukan kegiatan lain dengan happy.
    3. Positif: gadget dimanfaatkan untuk belajar dan proses produktif (berkarya)

    Yang menjadi tujuan kita adalah 2 dan 3.

    Yang dikejar pertama adalah 2: gadget berdampak netral pada anak. Artinya, kalau tak ada gadget, anak tidak rewel dan tak masalah. Anak menggunakan gadget dalam durasi yang wajar.

    Jika ingin digunakan sebagai alat belajar dan berkarya, itu berarti durasinya perlu ditambah. Tak apa-apa. Selain gadget digunakan untuk belajar/produktif, yang penting dipastikan bahwa anak tidak tergantung dengan gadget, memiliki kegiatan yang disukai di luar gadget, dan memiliki kegiatan fisik yang cukup banyak.

    Begitu kak.

    Jadi, durasinya boleh ditambah sambil didiskusikan dengan anak tujuan menambah durasi. Kemudian dilihat dampaknya. Jika dampaknya baik (bagi kesehatan mental maupun skills-nya), dilanjutkan dan bisa ditambah. Jika berdampak buruk secara mental, didiskusikan lagi. Bisa tetap atau dikurangi durasinya sesuai kondisi kesehatan mental dan produktivitasnya.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Rutinitas Pagi #6901
    Aar
    Keymaster

    Kak Juli,

    Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kapasitas diri yang kita rasa kurang, misalnya keterampilan komunikasi.

    1. Mengenali goal komunikasi
    Ada beberapa aspek komunikasi berkualitas bersama anak yang perlu dikenali untuk ditingkatkan, tergantung kondisi, misalnya:
    ~ proaktif (tidak reaktif)
    ~ frekuensi mengobrol
    ~ mengajukan pertanyaan (bukan perintah)
    ~ intonasi santai (bukan nada tinggi)
    ~ fokus pada bonding (bukan konten)
    ~ mendengarkan dan merespon dengan tepat
    ~ durasi percakapan (bisa mengobrol lebih dari 5 menit)

    2. Melakukan perencanaan dan intervensi
    Setelah dikenali aspek yang mau ditingkatkan, rencanakan proses latihan yang akan dilakukan. Orangtua bisa melakukannya sepanjang hari, saat berinteraksi dengan anak.

    3. Melakukan jurnal/tracking
    Membuat pencatatan untuk mengetahui perkembangan proses, misalnya: jumlah percakapan yang dilakukan dalam satu hari, durasi mengobrol, dll (lihat poin 1)

    4. Melakukan refleksi
    Kenali apa yang sudah bagus dan berkembang, kenali juga apa yang butuh latihan lebih banyak lagi.

    Akan lebih baik jika anak juga tahu proses yang sedang Anda jalani untuk memperbaiki diri sehingga Anda dan anak bisa berproses bersama.

    “Kak, Bunda lagi belajar supaya bisa berkomunikasi lebih baik dengan kakak. Bunda pengin kita bisa mengobrol santai. Kalau Bunda mengajak kakak mengobrol, jangan diketawain yaa… Jadi, Bunda pun terus belajar sampai tua. Ini tanda Bunda sedang belajar untuk jadi orangtua yang lebih baik buat kakak.”

    Demikian, semoga membantu ya kak.

    in reply to: Podcast Keragaman Sudut Pandang #6903
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb kak Nanda,

    Ada 3 isu terkait hal ini.

    1. Legalitas homeschooling

    Pendidikan informal (pendidikan mandiri oleh orangtua dan masyarakat) diakui secara legal oleh negara melalui UU Sistem Pendidikan Nasional. Jadi, semestinya tidak ada isu legal di sini. Anak terdaftar di PKBM atau tidak, tidak ada masalah.

    Fleksibilitas ini juga diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 47 tahun 2008 tentang Wajib Belajar. Dalam peraturan ini, ada kewajiban belajar 9 tahun melalui sekolah (formal), PKBM (non-formal), keluarga (informal).

    Berikut ini bunyi pasal 3 selengkapnya:
    (1) Wajib belajar diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal.
    (2) Penyelenggaraan wajib belajar pada jalur formal dilaksanakan minimal pada jenjang pendidikan dasar yang meliputi SD, MI, SMP, MTs, dan bentuk lain yang sederajat.
    (3) Penyelenggaraan wajib belajar pada jalur pendidikan nonformal dilaksanakan melalui program paket A, program paket B, dan bentuk lain yang sederajat.
    (4) Penyelenggaraan wajib belajar pada jalur pendidikan informal dilaksanakan melalui pendidikan keluarga dan/atau pendidikan lingkungan.
    (5) Ketentuan mengenai penyetaraan pendidikan nonformal dan pengakuan hasil pendidikan informal penyelenggara program wajib belajar terhadap pendidikan dasar jalur formal diatur dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan.

    Catatan: karena saya bukan ahli hukum, pendapat ini adalah opini dari praktisi HS, bukan dari ahli hukum.

    2. Pendaftaran di PKBM
    Pendaftaran di PKBM dilakukan dalam konteks untuk mendapatkan ijazah Paket A, Paket B, Paket C. Jika anak ingin mengikuti Ujian Kesetaraan, maka anak wajib terdaftar di PKBM sebagai syarat agar bisa mengikuti ujian kesetaraan dan kuliah. Jika anak tidak mencari ijazah kesetaraan, maka anak tidak perlu terdaftar di PKBM.

    3. Strategi Homeschooling
    Setiap keluarga memiliki hak untuk menentukan pilihan2 terbaik untuk kehidupannya, di dalam koridor hukum positif negara. Selama tidak melanggar hukum, pilihan yang dibuat oleh keluarga adalah sah dan boleh. Yang penting keluarga memahami konsekuensi-konsekuensi yang terkait pilihannya.

    Tentang pilihan model & metode homeschooling, unschooling sebenarnya tidak selalu bermakna tidak mencari ijazah. Ada juga keluarga unschooling yang anaknya memutuskan untuk mendapatkan ijazah dan itu tidak apa-apa.

    Isu umumnya biasanya terkait dengan kuliah. Jika anak suatu saat ingin kuliah, persyaratan yang dibutuhkan saat ini adalah memiliki ijazah SMA/Paket C. Jika mau Ujian Paket C, harus punya ijazah Paket B/SMP. Jika mau ujian Paket B, harus punya ijazah Paket A/SD. Peraturan yang ada pada saat ini memang membuat fleksibilitas anak-anak kita menjadi rendah.

    Semoga suatu saat peraturannya menjadi lebih mudah dan fleksibel untuk anak-anak kita sehingga pilihan yang tersedia untuk anak kita semakin beragam.

    in reply to: eBook Ide Kegiatan Dalam Ruang #6904
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Sinta,

    Parameter perkembangan anak yang hanya sampai usia 6 tahun.

    Checklist Perkembangan Anak: https://member.rumahinspirasi.com/courses/memulai-homeschooling-usia-dini/lessons/kurikulum-homeschooling-usia-dini/topic/checklist-parameter-perkembangan-anak-diknas/

    Di atas 6 tahun, tidak ada sebuah standar yang diacu karena perkembangan anak sudah sangat beragam dan berbeda-beda, tergantung banyak faktor, mulai lingkungan tempat tinggal, stimulasi, dan sumber daya yang digunakan anak dalam melakukan kegiatannya sehari-hari.

    Oleh karena itu, untuk anak di atas usia 6 tahun sudah lebih tergantung pada visi pendidikan keluarga, lingkungan pendukung dan jenis kegiatan yang dijalani oleh anak.

    Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Ijazah Anak Homeschooling #6906
    Aar
    Keymaster

    Kak Zesty,

    Di dalam aturan yang dulu, pendaftaran untuk ikut Ujian Paket bisa dilakukan setahun sebelum ujian. Dalam aturan sekarang tidak bisa lagi.

    Anak harus sudah terdaftar di PKBM sejak kelas 1 SD.

    Tapi dalam praktiknya, ada PKBM yang menerima siswa sejak kelas 1 SD dan kelas 4 SD. PKBM yang menerima pendaftaran menjelang ujian semakin jarang (karena pemerintah memang mendorong anak-anak sudah terdaftar sejak awal dan data peserta ujian diambil dari Dapodik – Data Pokok Pendidikan).

    Semoga menjawab,

    in reply to: Podcast Kepedulian pada Kualitas #6907
    Aar
    Keymaster

    Kak Jeki,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Mengapa sesesorang mau melakukan “extra mile”?
    Pertanyaan ini kurang lebih serupa dengan pertanyaan:
    ~ mengapa seseorang mau capek2 belajar?
    ~ mengapa seseorang mau bekerja?
    ~ mengapa seseorang mau menabung?

    Salah satu penjelasannya adalah karena gambar besar.
    ~ kita tahu alasan mengapa hal itu dilakukan (why)
    ~ kita tahu tujuan yang hendak diraih
    ~ kita tahu manfaatnya
    ~ yang pasti, kita bisa melihat manfaat melakukannya lebih besar dibandingkan usaha yang kita lakukan

    Nah, di sinilah pentingnya kita (dan anak-anak kita) mendapat mindset mengapa “extra mile” dilakukan. Extra mile adalah kebiasaan orang-orang yang berhasil, para achiever. Mereka melakukan lebih baik dan lebih banyak daripada rata-rata. Saat orang umum sudah merasa puas dengan kualitas standar, para achiever selalu berusaha mengupayakan kualitas yang lebih baik. Dan kualitas yang lebih baik itu biasanya terkait dengan extra effort, extra time, dan extra mile.

    Kebiasaan melakukan “extra mile” menghasilkan kualitas lebih baik dan membahagiakan diri sendiri.

    Bagaimana mempertahankan sikap “extra mile”?
    Kuncinya adalah kebahagiaan personal kita melakukan. Kita puas walaupun orang lain tidak terlalu melihat perbedaannya. Apalagi jika kita mendapatkan manfaat nyata dari usaha ekstra yang kita lakukan.

    Apa itu “mengeraskan diri”?
    Mengeraskan diri adalah meneguhkan diri untuk tidak berhenti sampai tujuan tercapai. Bayangkan lari marathon yang jauh. Kita pasti capek dan ada keinginan untuk berhenti di tengah jalan. Mengeraskan diri berarti tidak menuruti rasa lelah dan keinginan untuk berhenti, tetapi terus maju sampai garis finish.

    Dalam konteks homeschooling, mengeraskan diri ini sangat diperlukan. Pertama itu membuat kualitas HS kita menjadi lebih baik. Kedua, kita memberikan keteladanan yang nyata pada anak melalui kerja keras dan kengototan kita.

    Contohnya begini.
    Ada orangtua HS yang tinggal di sebuah kota. Karena di kotanya tidak ada komunitas HS, seminggu sekali dia mengantarkan anaknya lintas-kota lintas-provinsi. Dia berangkat habis Subuh dan berkendari 3 jam untuk bisa sekadar membawa anaknya berkegiatan. Itu adalah contoh “mengeraskan diri”.

    Contoh yang lain adalah membuat dokumentasi. Setelah selesai kegiatan, sebagian besar orang biasanya langsung mau istirahat. Proses “extra mile” dan mengeraskan diri ditunjukkan dengan memilih tidak beristirahat, tetapi membuat dokumentasi kegiatan.

    Capek? Iya. Puas? Iya. Bermanfaat? Bermanfaat sekali karena dokumentasi adalah bekal untuk membuat portofolio karya anak.

    Demikian kak, semoga menjawab pertanyaan kakak.

    in reply to: Mindset & Framework Pengembangan Keterampilan Dasar #6910
    Aar
    Keymaster

    Terima kasih banyak kak Irene,

    1. Memaknai mindfulness
    Ada 2 hal yang perlu dibedakan berkaitan dengan mindfulness:
    ~ berkomunikasi dengan sepenuh diri. Saat kita berkomunikasi dengan anak, kita menggunakan bahasa verbal dan non-verbal (intonasi, gestur, ekspresi, dan body language) yang menunjukkan bahwa kita memang menunjukkan perhatian sepenuhnya. Hal ini ditandai dengan respon yang utuh saat berkomentar dan mengajukan pertanyaan. Ini bagian terpenting.
    ~ setelah komunikasi selesai, bisa saja kita berada di tempat yang sama dan melakukan tugas masing-masing sesuai kesepakatan. Tak apa-apa. Yang penting saat terjadi interaksi/komunikasi, kembali penuh lagi.

    2. Pelibatan anggota keluarga
    Kunci dari diskusi dan kesepakatan adalah menjelaskan kriteria dan aturan main yang fair. Aturan yang fair bukan berarti alokasi waktu yang sama. Yang penting adalah rasionalitas dan penjelasannya. Ini bagian dari tugas orangtua untuk menjelaskan dengan tetap memperhatikan fairness dan concern anak.

    Jumlah alokasi waktu pemakaian gadget bisa berbeda (tergantung fungsi produktif dan usia/kesehatan). Tapi ada aturan dasar yang perlu sama, misalnya aturan tidak memakai gadget saat di meja makan berlaku untuk semua orang tanpa kecuali.

    Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Pendekatan Tanpa Kurikulum #6912
    Aar
    Keymaster

    Kak Nana,

    Terima kasih sharingnya, kak.
    Untuk anak usia dini (balita), banyak orangtua yang membayangkan kegiatan belajar dalam HS itu terkait calistung dan buku.

    Padahal, kegiatan anak sangat luas, terutama yang terkait dengan tumbuh kembang anak. Stimulasi tumbuh kembang merupakan pondasi penting yang tak boleh dilewatkan untuk perkembangan saat anak nanti besar.

    Sebagai contoh, stimulasi motorik kasar anak seperti: berjalan, berjalan lurus ke depan, berjalan mundur, merangkak, melompat, memanjat, dst merupakan pondasi penting berkaitan dengan mobilitas dan kelenturan anak saat beraktivitas.

    Contoh lain, stimulasi motorik halus seperti: memegang beragam benda, memotong, menggunting, meronce, memilin, dll merupakan pondasti penting untuk keterampilan tangan dan menulis.

    Demikian pun stimulasi2 sederhana seperti mengobrol dengan jelas menggunakan bahasa verbal maupun non-verbal (intonasi, gestur, ekspresi) adalah pondasi penting logika, komunikasi, empati, dan keterampilan sosial lain.

    Bahkan, memberikan rasa aman dan nyaman pada anak usia dini merupakan hal penting yang menjadi prasyarat perkembangan otak kecerdasan (neokorteks) pada anak.

    Sebagai alat bantu untuk kegiatan, Anda sesekali bisa menggunakan checklist parameter perkembangan anak yang sesuai dengan rentang usia.

    Selamat beraktivitas, kak..

    in reply to: eBook Alasan dan Tujuan Homeschooling #6914
    Aar
    Keymaster

    Kak Sandra,

    Terima kasih sharingnya.

    1. Homeschooling sementara
    Homeschooling idealnya diselenggarakan dalam jangka panjang, minimal hingga lulus ujian Paket A. Jika hanya sebentar, orangtua dan anak tidak akan mendapatkan hasil maksimal.

    Isunya adalah: homeschooling itu bukan memindahkan sekolah ke rumah. Materi belajar dan proses belajar tidak sama seperti sekolah, tapi disesuaikan dengan anak dan keluarga.

    Misalnya: anak belajar mengembangkan 10 keterampilan dasar, bukan hanya calistung. Anak bisa belajar calistung dengan kecepatan yang berbeda dari anak sekolah. Kondisi ini dimungkinkan dalam homeschooling. Tapi akibatnya, anak jadi sulit beradaptasi jika misalnya mau sekolah lagi karena kemampuan akademisnya mungkin lebih rendah dibandingkan anak sekolah. Kecuali, Anda tetap mengajarkan semua materi sekolah dalam proses HS anak Anda.

    2. Pindah ke sekolah
    Proses perpindahan dari homeschooling ke sekolah formal secara hukum dimungkinkan, tapi belum banyak dilakukan. Jadi, kemungkinan sekolah akan bingung prosesnya dan Anda harus mengajari sekolah aturan hukumnya.

    Proses perpindahan dilakukan dengan dasar:
    ~ anak punya rapor dari PKBM
    ~ placement tes di sekolah yang dituju

    3. Proses memulai HS
    Untuk memulai HS, semua anak harus mendaftar di PKBM. Itu aturan yang ada saat ini.

    Jadi, Anda perlu mencari PKBM yang menerima anak sejak usia 7 tahun dan membuatkan rapor. Sebab, masih banyak PKBM yang tidak menerima anak kelas 1 dan ada PKBM2 yang tidak membuat rapor anak karena fokus pada persiapan untuk Ujian Paket.

    Jika Anda tidak mendaftar anak di PKBM, anak tidak akan ketahuan ada di kelas berapa dan belajar apa saja. Jika seperti itu, anak harus mengulang dari kelas 1 SD karena data proses belajarnya tak ada.

    4. Alternatif solusi
    Kondisi yang ada saat ini memang tidak ideal.

    Sekolah dengan kegiatan PJJ dan Zoom memang bukan pembelajaran yang menarik.

    Sayangnya homeschooling juga bukan solusi yang ideal jika mau dilakukan sebentar 1-2 tahun karena proses pendaftaran di PKBM dan perpindahan PKBM ke sekolah belum terlalu mulus prosesnya.

    Jika tetap memang mau HS sementara yang perlu dilakukan:
    ~ Anda perlu mencari dan mendaftar di PKBM
    ~ Materi belajar seperti sekolah, tapi caranya Anda modifikasi sendiri agar sesuai dengan anak
    ~ Anak memiliki rapor di PKBM
    ~ Saat anak mau pindah ke sekolah, Anda perlu menjajagi sekolah yang dituju

    Jika mau HS jangka panjang, proses yang perlu dilakukan:
    ~ Anda belajar lebih mendalam tentang HS
    ~ HS itu bukan memindahkan sekolah ke rumah. Anda perlu belajar mengenali apa yang ingin Anda raih melalui HS. Anak bebas belajar apa saja sesuai kesepakatan bersama orangtua. Kalau anak mau belajar materi seperti sekolah, prosesnya bisa dilakukan dengan belajar tutorial di PKBM, belajar memakai aplikasi, diajari orangtua, atau mengundang tutor.
    ~ Anak tetap perlu didaftarkan ke PKBM sekarang.
    ~ Anda perlu merancang kegiatan anak, termasuk proses mengasah keterampilan sosial dan sosialisasi anak.
    Anda bisa membaca artikel tentang sosialiasi di sini:
    http://rumahinspirasi.com/home/sosialisasi-anak-homeschooling/
    http://rumahinspirasi.com/contoh-sosialisasi-anak-homeschooling/

    Demikian kak. Tidak ada jawaban yang mudah dan ideal. Setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing.

    Jika ada pertanyaan lanjutan, silakan disampaikan.

    in reply to: Podcast Sosialisasi Homeschooling Anak Usia Dini #6915
    Aar
    Keymaster

    Dear kak Rahmawati,

    Terima kasih sharingnya.

    Anda memiliki pondasi yang bagus untuk menangani kondisi ini karena menyadari bahwa anak memiliki introvert. Kesadaran bahwa Anda dan pasangan juga introvert memberikan empati yang besar untuk anak.

    Sayangnya, banyak anggota masyarakat yang belum memahami perbedaan anak introvert dan ekstrovert dalam cara berkomunikasi dengan orang lain. Anak introvert walaupun lebih lambat berinteraksi dengan orang baru dan memilih jadi pengamat, mereka tetap bisa memiliki keterampilan sosial yang baik. Jika dibutuhkan, anak introvert bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Tentu saja, anak introvert juga membutuhkan stimulasi untuk meningkatkan keterampilan sosialnya.

    Apa yang bisa dilakukan orangtua?

    1. Kepada anak
    ~ Terima keunikan anak dalam berinteraksi. Katakan kepada anak secara verbal bahwa Anda memahaminya.
    “Bunda mengerti kok kakak ingin mengamati dulu dan tidak mau langsung ngobrol.”
    “Bunda nggak apa-apa kalau kakak belum mau langsung nimbrung ngobrol. Tapi kakak tetap berlatih berteman dengan teman baru ya?”

    ~ Berikan ruang dan waktu bagi anak untuk beradaptasi sesuai kecepatan dan caranya. Jangan memaksa anak.
    ~ Stimulasi keterampilan sosialnya dan ajak anak mengobrol tentang yang dirasakannya.

    2. Kepada orang lain
    ~ Kondisinya belum terjadi, jadi jangan terlalu dibawa khawatir. Fokus pada kekuatan Anda dan anak Anda, jangan mudah baper dengan komentar orang lain.

    ~ Karena respon/komentar orang lain terhadap anak bisa terjadi kapan pun, yang penting bagi Anda adalah menguatkan anak. Penguatan dilakukan dengan cara meyakinkan anak bahwa Anda tidak apa-apa dan menerimanya sepenuh hati. Apapun yang dikatakan orang lain jangan dibawa sakit hati, tapi dibawa santai saja. Yang penting kakak tetap main dengan saudara-saudara yang lain.

    ~ Jika Anda ada di sekitar anak pada saat anak dilabeli/dibandingkan, jawab dan belalah.
    “Oo.. santai saja, Pakde. Anaknya baik-baik saja, kok. Nanti kan dia akan main sama saudaranya.”
    “Biarin saja, Om. Dia lagi beradaptasi. Nanti ada waktunya kok…”

    Sekali lagi, kuncinya adalah tidak mudah tersinggung supaya hubungan Anda dengan saudara lain tetap baik. Tapi tetap bersikap positif dan tegas. Fungsi orangtua dalam konteks ini adalah:
    ~ menerima dan menguatkan anak
    ~ melindungi anak
    ~ mengedukasi orang lain (jika memungkinkan)

    Semoga menjawab pertanyaan kakak.

    in reply to: Konsep Dasar tentang Pembelajar Mandiri #6920
    Aar
    Keymaster

    Kak Athia,

    Ada beberapa hal yang perlu diketahui berkaitan dengan proses bertanya bersama anak:

    1. Membangun koneksi

    Proses awal yang perlu dilakukan dan dilatih orangtua adalah mengobrol apapun bersama anak. Tak penting temanya apa, yang penting menjalin hubungan bersama anak.

    2. Bukan hanya bertanya
    Proses interaksi bersama anak jangan hanya bertanya, tetapi juga bercerita dan membahaskan apa saja, baik yang terjadi sehari-hari maupun pengalaman hidup orangtua sebagai bahan cerita dan obrolan bersama anak. Jangan sampai anak merasa diinterogasi.

    Mengapa kami mendorong orangtua banyak bertanya? Karena banyak orangtua yang hanya menyuruh anak dan tidak bertanya.

    3. Orangtua tahu tujuan pertanyaan
    Mengajukan pertanyaan bukanlah untuk sekadar mengajukan pertanyaan, tapi ada tujuannya. Apa tujuannya?

    ~ melatih anak menjelaskan.
    Jika anak menjawab “Aku mau main.”, orangtua perlu melanjutkan dengan pertanyaan lanjutan “main apa?”, “berapa lama kamu mau main?”, “apa rencanamu selain main?” ​

    ~ melatih anak berpikir
    “Mengapa kamu bermain?”
    “Apa yang perlu kamu lakukan untuk dirimu selain bermain?”
    “Bagaimana caranya kamu mengasah dirimu?”

    ~ memberikan alternatif
    Jika anak belum tahu alternatif kegiatan, tugas orangtua menjelaskan dan memberikan pengalaman aneka jenis kegiatan.
    “Yuk melakukan kegiatan xxx”
    “Kamu ada kegiatan A, B, C. Mana yang mau kamu lakukan?”

    ~ mengambil keputusan
    “Mengapa kamu melakukan ini?”
    “Mengapa kamu tidak melakukan itu?”

    Dst.

    Semoga membantu ya kak

    in reply to: Evaluasi & Manajemen Keseharian Homeschooling #6924
    Aar
    Keymaster

    Kak Nana,

    Untuk proses mengikuti Ujian Paket, proses utamanya adalah Anda harus mendaftarkan anak di PKBM sejak sekarang (tidak bisa nanti menjelang ujian).

    Untuk pembuatan rapor, setiap PKBM punya kebijakan yang berbeda-beda. Yang bisa kita lakukan adalah mengikuti aturan/panduan yang dibuat PKBM. Cari PKBM yang fleksibel sehingga proses pembuatan rapor dan kegiatannya tidak memberatkan dalam proses HS.

    Ada PKBM yang mengambil nilai dari proses mengejarkan Setara Daring, mengerjakan tes dari PKBM, kehadiran saat tutorial, portofolio kegiatan, dll.

    Pastikan Anda berkonsultasi dengan PKBM tempat bernaung anak tentang proses pembuatan rapor anak ini.

    in reply to: Kurikulum, Materi Belajar dan Pola Kegiatan #6925
    Aar
    Keymaster

    Kak Dea,

    Kalau kami tergabung dengan membershipnya dan anak2 menggunakan aplikasi itu. IXL hanya contoh ya, kak. Tidak harus digunakan.

    Anak-anak kami juga menggunakan Khan Academy untuk belajarnya.

Viewing 15 posts - 571 through 585 (of 766 total)
Scroll to Top