Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 556 through 570 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Podcast Mengenal Service Learning #6853
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Kartika,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Bagus kak inisiatifnya.

    Apa targetnya untuk melakukan SL di tempat lain di luar rumah?

    Ini sangat tergantung orangtua dan kondisi lapangan. Yang disampaikan kak Kartika itu sudah bagus.

    Tujuannya:
    ~ mengasah keterampilan melayani
    ~ membangun empati
    ~ kesabaran

    Tujuan-tujuan tersebut sangat bagus dan bisa dikomunikasikan dengan guru.

    Yang perlu juga dijaga adalah kesiapan mental anak. Dia perlu merasa nyaman dan memahami logika SL di sekolah ini. Jangan sampai dia merasa minder, terbebani, atau mendapat komentar negatif dari teman-temannya.

    Proses membangun SL ini panjang, bertahun-tahun. Jadi, akan lebih baik jika prosesnya alamiah dan terkait langsung dengan kegiatan orangtua/keluarga. Tujuannya untuk menjaga stamina anak dalam jangka panjang.

    Untuk kegiatan di luar keluarga, sebaiknya dilakukan insidental saja.

    Demikian, kak. Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Sosialisasi Homeschooling Anak Usia Dini #6855
    Aar
    Keymaster

    Kak Mia,

    Kondisi pandemi ini memang menjadi tantangan besar dalam proses perkembangan sosial anak. Masalah ini dialami oleh semua anak, baik anak sekolah maupun HS. Hubungan melalui Internet di dunia maya bukanlah penjawab kebutuhan sosialisasi karena anak-anak kecil membutuhkan interaksi yang melibatkan fisik dam non-verbal: bergerak, percakapan random, mengobrol, ekspresi, dan aneka bentuk ekspresi lainnya.

    Interaksi anak kecil secara online dengan orang asing juga mengandung bahaya karena bisa jadi ada “predator” yang menyaru jadi anak kecil. Seandainya pun ada interaksi bersama anak lain, prosesnya harus dalam pengawasan dan pendampingan penuh orangtua.

    Lalu bagaimana?

    1. Orangtua sebagai penopang utama
    Proses pengembangan utama tetap berlangsung di rumah bersama orangtua. Yang menjadi tantangan adalah Ibu dan Ayah perlu sehat dan bugar secara mental agar bisa menghadirkan suasana sukacita bersama anak di rumah. Ini bukan masalah sederhana karena kondisi pandemi ini sendiri sangat berat untuk Ayah dan Ibu. Tapi sebagai penanggung jawab anak, tak ada jalan lain selain kita perlu menjaga kejernihan mental kita agar anak juga ikut tenang.

    2. Lingkaran keluarga
    Selain keluarga inti, yang bisa diandalkan untuk menjalin interaksi yang nyaman adalah keluarga besar. Jadwalkan pertemuan rutin dengan sepupu atau saudara yang memiliki anak usia sebaya. Lakukan kegiatan bersama mengobrol dan saling bercerita.

    3. Sahabat keluarga
    Selain keluarga, Anda perlu meraih sahabat-sahabat Anda yang memiliki anak usia sebaya. Karena kondisinya tidak memungkinkan pertemuan offline, proses yang dilakukan adalah online. Anda bisa membuat janjian untuk bikin klub membaca buku, klub menggambar, dll bersama sahabat-sahabat Anda.

    4. Kelas Online
    Saya belum menemukan kelompok khusus untuk mencari teman. Yang paling memungkinkan adalah mengikutkan anak dengan kelas online yang membuatnya berinteraksi dengan guru dan anak lain; misalnya kelas menggambar, cerita, bahasa, dll.

    Demikian kak, memang tidak ada solusi yang ideal di masa pandemi ini. Kita perlu sama-sama menguatkan diri dan mencari solusi-solusi sementara.

    Semoga kita bisa melewati pandemi ini dengan selamat.

    in reply to: Podcast Sosialisasi Homeschooling Anak Usia Dini #6856
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Febiyanti,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Salah satu indikator sederhana rasa aman dan nyaman adalah anak berkegiatan dengan antusias di rumah. Anak berinisiatif, merespon stimulasi (misalnya pertanyaan atau perintah sederhana), dan menjalani kesehariannya dengan baik.

    Keterampilan sosial & komunikasi anak usia dini antara lain berkaitan dengan:
    ~ diri sendiri: bisa mengungkapkan perasaan, bisa mengungkapkan pendapat, menceritakan hal berkaitan dengan inderanya (dilihat, didengar, dirasakan)
    ~ dengan orang lain: memahami perintah sederhana, menjawab pertanyaan, bertanya, bercakap-cakap

    Jika anak bisa melakukan keterampilan tersebut dengan orang-orang di rumah, itu pertanda kapasitas komunikasi dan sosial anak sudah berkembang baik.

    Bagaimana jika anak aktif berkomunikasi di rumah tetapi pemalu di luar?

    Jangan terlalu khawatir. Itu fenomena yang wajar pada anak.

    Jika anak diam dalam lingkungan sosial baru, mengambil jarak, mengamati; itu bukan karena anak bermasalah. Banyak kemungkinan penyebabnya: anak belum merasa nyaman, anak butuh adaptasi, anak belum banyak berinteraksi dengan anak lain.

    Bisa juga terjadi anak adalah tipe introvert yang memang berbeda dengan anak ekstrovert. Pertanyaannya: apakah diantara orangtua ada yang introvert?

    Orang introvert dan ekstrovert memiliki kecenderungan yang berbeda berkaitan dengan orientasi terhadap orang lain. Orang introvert merasa nyaman dengan orang yang sedikit sementara orang ekstrovert menikmati bertemu dengan banyak orang. Orang introvert merasa terkuras energinya saat dalam keramaian, sementara orang ekstrovert justru merasa mendapat energi. Orang introvert akan mengamati dan menjaga jarak dalam situasi baru sampai dia merasa nyaman, sementara orang ekstrovert langsung menikmati komunikasi dan interaksi dengan orang baru.

    Menjadi seorang introvert itu tak apa-apa. Yang penting keterampilan sosialnya terus dikembangkan sehingga dia tetap terampil berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain saat dibutuhkan.

    Nah, tantangan dalam masa pandemi ini adalah keterbatasan interaksi sosial, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak. Kondisi ini tidak menjadi masalah bagi orang introvert tetapi menjadi masalah besar bagi orang ekstrovert.

    Yang bisa kita lakukan untuk anak-anak adalah mengoptimalkan interaksi kita bersama mereka melalui kegiatan:
    ~ banyak membangun percakapan dan kegiatan bersama
    ~ membacakan buku (read aloud) dan mendiskusikan isi buku yang dibacakan
    ~ menonton film dan mendiskusikan isi film; terutama interaksi para tokoh yang ada di dalamnya

    Nanti jika kondisi sudah lebih memungkinkan, libatkan anak secara bertahap untuk berkegiatan dengan teman-teman sebayanya.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Mindset Homeschooling Usia Dini #6858
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Yulianti,

    Semua kelas di Rumah Inspirasi adalah kelas pembimbingan untuk menjalani homeschooling. Konteks materinya semuanya adalah anak dan orangtua/keluarga, bukan anak dengan sekolah.

    Kami mohon maaf tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda terkait sekolah (pertanyaan 2 & 3).

    Jika anak selalu menyatakan/bersikap berbeda dari yang diminta, ada kemungkinan dia sedang melakukan pemberontakan. Ada hal yang tak disukainya yang mungkin terakumulasi dan membuatnya tak berdaya. Tapi dia tak bisa mengelak karena harus menjalaninya. Sebagai reaksi, anak akhirnya tetap menjalani tapi dia melakukannya dengan suka-suka.

    Dalam konteks orangtua dan anak, kondisi ini perlu digali penyebab pemberontakannya agar anak bisa mendapatkan jalan yang untuk kesehatan mentalnya. Jika perlu menggunakan profesional (psikolog) untuk menggali dan mencari solusinya.

    Dalam konteks HS, semua hal ada dalam kontrol orangtua dan anak. Proses penyelesaiannya jauh lebih mudah karena orangtua tidak harus memaksa anak melakukan sebuah hal yag ditentang anak. Yang penting orangtua fokus pada tujuan belajar yang ingin dilakukan. Caranya dilenturkan dan disesuaikan dengan kesepakatan-kesepakatan bersama anak.

    Satu lagi, hal yang perlu ditingkatkan lagi adalah kualitas komunikasi dan bonding antara orangtua dan anak dengan banyak melakukan kegiatan santai bersama yang bikin happy seperti jalan pagi, masak bersama, dan melakukan kegiatan2 ringan yang sama-sama disukai.

    Demikian, kak.

    Mohon maaf jika tidak bisa menjawab sesuai harapan.

    in reply to: Contoh Service Learning di Keluarga #6862
    Aar
    Keymaster

    Kak Nia,

    Selamat ya atas proses yang sudah dijalani bersama Hichan.

    Bagus sekali jika Hichan menikmatinya. Itu bisa menjadi modal yang besar. Itu bisa menjadi modal besar untuk proses-proses selanjutnya.

    Setiap kali dia melakukan sebuah pekerjaan rumah, jangan lupa mengapresiasinya.

    “Bagus, kak. Kakak baik hati sudah mau melakukannya. Itu tanda seorang anak yang sudah besar dan siap untuk menjadi tim keluarga.”

    Di waktu santai yang lain, bahaskan tentang pentingnya menjadi anggota tim keluarga yang saling berbagi dan tolong-menolong.

    “Kita adalah satu tim keluarga. Ayah, Ibu, dan Hichan. Kita jagoan yang saling tolong-menolong untuk menyelesaikan tantangan dan mengurusi rumah. Ayah bertugas xxxx, Bunda mengerjakan yyyy, sekarang Hichan sudah melakukan zzzz. Terima kasih sudah menjadi tim keluarga (Power Ranger, dsb) yaa…”

    Ini peneguhan yang perlu dilakukan dengan bahasa yang berbeda-beda dan dalam berbagai kondisi.

    Jika dia sudah menerima perannya dan menikmati prosesnya, kita baru bisa masuk ke kualitas.

    “Bagus, kak… supaya kakak semakin terampil menjadi anggota Tim Keluarga, sekarang kita naikkan lagi levenya ya.. Kakak tahu nggak tujuan menyapu? Untuk membersihkan kotoran… nah, supaya kotoran hilang, Bunda kasih contoh caranya yaa…”

    Begitu kurang lebih prosesnya, kak.

    Untuk proses awal, jangan berharap dengan inisiatif, tapi teguhkan dulu kebiasaan terlibat dan berkontribusi ini.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Manajemen Orangtua Homeschooling #6864
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb,

    Halo kak Prasasti,

    Selamat untuk kehamilannya yaa.. semoga kakak selalu sehat dan proses kehamilan berlangsung lancar.

    Kondisi kelelahan yang kakak alami sangat dimengerti, kak. Kondisi ini bisa menjadi pintu untuk proses belajar anak berempati dan mengembangkan kemandiriannya.

    1. Libatkan anak
    Jangan menanggung sendiri semua proses anak. Libatkan anak dan jadikan kondisi ini sebagai momentum belajar bersama. Belajar bagi anak juga tak harus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat.

    2. Mulai dengan dialog
    Obrolkan dan empatikan kondisi Anda pada anak. Tawarkan anak untuk membantu. Berempati adalah sebuah proses belajar yang penting dipelajari anak.

    “Kak, Bunda saat ini sudah semakin gampang capek karena adik sudah mau lahir. Bunda sangat berterima kasih kalau kakak bisa bantuin Bunda. Kakak mau nggak bantuin jadi asisten Bunda?”
    “Bantu apa Bunda?”
    “Macam-macam, yang pasti kakak bisa; misalnya mengambilkan sesuai, membantu memasak, dl.. [jelaskan kebutuhan Anda yang kira2 bisa dilakukan anak]…”

    3. Sediakan alat bantu untuk anak
    Kenali pola kegiatan harian anak. Lihat kegiatan yang bisa dilakukannya secara mandiri atau butuh sedikit bantuan. Sediakan alat bantu untuk anak berkegiatan, misalnya: aneka jenis kertas, gunting, lem, aneka pensil, balok, dsb (sesuai kesukaan anak). Anda juga bisa print worksheet yang sesuai dengan usia anak.

    Diskusikan pada anak tentang hal yang bisa dilakukan. Jika dibutuhkan, berikan contoh pada awal. Setelah itu dorong anak melakukannya sendiri.

    “Kak, Bunda sedang kurang enak badan. Kakak boleh berkegiatan bebas. Kakak bisa pakai kertas untuk menggambar atau mengerjakan worksheet yang sudah Bunda sediakan di situ yaa… Nanti kalau kakak sudah bikin, kakak tunjukin ke Bunda ya….”

    Saat anak menunjukkan karyanya, apresiasi dan puji kemandiriannya dan inisiatifnya. Ini yang utama untuk meneguhkan inisiatif kakak.

    4. Alat online
    Jika keluarga Anda terbiasa menggunakan alat online sebagai alat bantu, manfaatkan. Misalnya menonton video Youtube (yang disepakati). Kemudian minta anak untuk bercerita yang ditontonnya. Atau menggunakan aplikasi lain, misalnya Reading Eggs dan IXL Math (berbayar).

    5. Kegiatan bersama
    Tetap lakukan kegiatan bersama yang masih mungkin Anda lakukan bersama, misalnya: jalan pagi, membacakan buku (read aloud). Jangan lupa melibatkan pasangan untuk terlibat menemani anak berkegiatan.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Keterampilan Literasi #6868
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Fadilah,

    1. Minat anak pada buku pengetahuan

    Pertama, kesukaan anak untuk membaca itu sangat perlu disyukuri dulu. Apalagi jika anak suka menulis. Itu sebuah kemampuan yang luar biasa. Itu menunjukkan anak punya minat dan kemampuan berkarya yang besar.

    Kedua, mengapa anak perlu didorong untuk belajar pengetahuan? Apakah ada kebutuhan khusus bagi anak untuk belajar pengetahuan? Apakah anak tahu bahwa dia perlu belajar pengetahuan?

    Jika anak tahu bahwa dia butuh belajar pengetahuan, jenis pengetahuan apa yang dia butuhkan dan ingin dipelajarinya? Bagaimana cara anak mempelajari pengetahuan yang dibutuhkan?

    Pertanyaan2 reflektif itu perlu dilakukan karena pengetahuan ini luas sekali dan banyak sekali jenisnyya. Pengetahuan yang dianggap penting oleh orangtua belum tentu dianggap penting anak. Yang dianggap penting anak belum tentu dianggap penting orangtua. Ini yang membutuhkan dialog bersama anak untuk saling memahami kesukaan dan harapan masing-masing.

    Ketiga, bagaimana jika anak berminat untuk jadi penulis fiksi. Apakah Anda mengizinkan? Kemampuan dan proses apa saja yang dibutuhkan oleh anak untuk jadi penulis yang baik? Ini yang perlu digali dan difasilitasi. Kebutuhan seorang penulis sudah pasti berbeda dengan kebutuhan seorang ilmuwan.

    2. Stimulasi menulis fiksi
    Saya penulis non-fiksi dan tidak punya pengalaman sebagai penulis fiksi.

    Daro sedikit pengalaman saya sebagai penulis, ada beberapa poin yang mungkin bisa dilakukan untuk mengembangkan potensi anak:
    a. Memperbanyak memabca
    Semakin banyak membaca, semakin luas wawasan anak. Memperluas bacaan perlu dilakukan secara horizontal (beragam genre/tema) dan juga secara vertikal (mendalami satu jenis genre tertentu yang disukai).

    b. Mencari guru
    Ikutlah pelatihan menulis fiksi dan carilah mentor penulis yang biasa menulis fiksi. Guru/mentor itu cocok-cocokan. Oleh karena itu, kita mungkin mencoba beberapa kali sampai menemukan yang cocok dengan anak. Fungsi guru bukan hanya mengajarkan tentang teori menulis fiksi, tetapi sangat bermanfaat jika bisa memberikan bimbingan dan feedback untuk meningkatkan kualitas karya anak.

    c. Mencari komunitas
    Banyak sekali komunitas menulis fiksi. Cari dan bergabunglah. Diskusikan dengan anak dan bergabunglah menggunakan identitas Anda (orangtua). Jadikan sebagai proses belajar bersama.

    Itu prosesnya yang penting kak. Tentu saja akan sangat ideal jika orangtua yang membimbing sendiri proses anak mengasah keterampilan menulisnya. Jika tidak bisa, mau tidak mau orangtua perlu mencari narasumber atau mentor eksternal bagi anak.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Kurikulum, Materi Belajar dan Pola Kegiatan #6871
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Pembayun Sekar,

    Terima kasih pertanyaannya. Sampai saat ini kami belum ada kerjasama dengan Rosetta Stone untuk memfasilitasi proses berlangganan. Proses berlangganan bisa dilakukan langsung melalui website-nya. Terkadang mereka juga mengeluarkan diskon pendaftaran. Mungkin bisa coba googling “Rosetta Stone Promo Code”.

    Semoga bermanfaat.

    in reply to: Podcast Pengalaman Mengelola Jadwal Homeschooling #6875
    Aar
    Keymaster

    Kak TIti,

    Biaya PKBM menjadi mahal jika ada layanan modul belajar dan tutoring. Sebab, PKBM harus membayar guru untuk membuat modul dan mengajar. Itu yang dibebankan ke siswa. Biaya menjadi lebih mahal lagi jika PKBM harus melakukan investasi membeli komputer dan menyediakan fasilitas PKBM lainnya. Semuanya pasti dikembalikan ke siswa yang menikmati layanan seperti halnya sekolah swasta.

    Saya tidak terlalu update dengan perkembangan biaya PKBM karena selama belasan tahun menjalani HS kami membayar murah sekali, hampir gratis.

    Mengapa? Karena kami hanya menggunakan PKBM untuk mendapatkan ijazah, tidak membutuhkan layanan modul dan tutor dari PKBM. Saat Ujian Paket pun biasanya kami hanya diminta membayar tidak mahal. Itu pengalaman kami hingga saat ini.

    Anak kami pernah terdaftar di 2 PKBM. Yang pertama adalah PKBM Tunas Harapan (Salatiga). Yang kedua, saat ini, Tata & Duta terdaftar di PKBM Piwulang Becik (Salatiga). Di PKBM Piwulang Becik saat ini pembayarannya dilakukan sukarela. Orangtua didorong untuk terlibat, berkontribusi dan bergotong royong mengadakan Student’s Club untuk siswa2 yang lain.

    Pada saat terdaftar di PKBM tersebut, domisili kami di Jakarta. Dulu kami hanya datang ke Salatiga saat menjelang Ujian Paket saja. Dalam masa pandemi, 2 tahun ini semua ujian berlangsung online. Tata ujian Paket B tahun 2020 secara online, Duta ujian Paket A tahun ini (2021) juga secara online.

    Demikian kak. Semoga membantu.

    Hingga saat ini belum ada thread khusus membahas tentang PKBM. Pertanyaan tentang PKBM juga relatif tidak banyak, mungkin karena para peserta sudah menemukan PKBM yang dibutuhkannya.

    in reply to: Podcast Pengalaman Mengelola Jadwal Homeschooling #6876
    Aar
    Keymaster

    Kak Titi,

    Untuk pemilihan PKBM, kami sarankan memilih PKBM yang sudah terakreditasi. Jadi, kriteria legal yang utama adalah: punya nomor NPSN dan terakreditasi.

    Mencari PKBM ini memang tidak mudah karena PKBM bukan menjadi prioritas pemerintah (yang mendorong anak bersekolah) dan masyarakat. Oleh karena itu, secara sumber daya, kualitas PKBM tidak sebaik sekolah. Fasilitasnya juga terbatas.

    PKBM yang dengan sengaja menyediakan fasilitas online dan tutor dengan layanan yang mirip sekolah kemudian menjadi ajang bisnis untuk memfasilitasi keluarga kelas menengah yang menjalani homeschooling.

    Oleh karena itu, banyak praktisi HS yang memang tidak mengandalkan PKBM untuk proses belajar. Mereka mengelola sendiri proses belajar akademis. PKBM digunakan hanya untuk proses mendapatkan ijazah saja.

    Demikian kondisinya di lapangan, kak.

    in reply to: eBook Perbandingan Homeschooling dengan Sekolah #6879
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Liza,

    Pertanyaan Anda sangat difahami dan dimengerti, kak. No problem.

    Ini proses belajar yang akan Anda jalani selama proses Coaching bersama Rumah Inspirasi.

    Apakah kami melakukan evaluasi anak-anak?

    Iya. Kami melakukan evaluasi dan refleksi. Kami sering melakukan refleksi untuk menjadi feedback memperbaiki proses yang kami jalani. Tapi kami jarang sekali melakukan proses evaluasi seperti anak sekolah.

    Apakah kami melakukan evaluasi anak kami dengan dengan sistem sekolah seperti Calvert?

    Evaluasi adalah membandingkan antara harapan dan realitas. Nah, kuncinya adalah menentukan harapan kita. Kalau kak Liza harapan dan acuannya Calvert, maka proses HS perlu mengikuti pedoman Calvert dan hasil anaknya dibandingkan standar Calvert. Kalau kak Liza menggunakan acuan lain, jangan bandingkan anaknya dengan Calvert karena itu pembandingan yang tidak tepat.

    Nah, keluarga kami tak pernah membandingkan dengan Calvert dan sekolah.

    Mengapa? Karena model homeschooling yang kami jalani tak seperti sekolah. Jadi tidak ada keperluan bagi kami untuk membandingkan proses dan hasilnya dengan anak sekolah, apalagi Calvert.

    Homeschooling itu customized education, bukan standardized education. Homescooling dijalani berdasarkan visi pendidikan keluarga. Setiap keluarga unik dan perlu merumuskan tujuan/visi pendidikan yang ingin ditujunya dalam proses homeschooling. Ini PR besarnya.

    Karena HS yang kami jalani tidak mengacu pada sekolah, pembanding dalam evaluasi kami adalah visi pendidikan keluarga kami; bukan sistem sekolah.

    Secara sederhana, sekolah fokusnya pada penguasaan konten akademis. Sebagian besar 95% materi belajar adalah akademis, sisanya pengembangan diri. Penilaian utama diukur berdasarkan penguasaan materi akademis anak sesuai yang ada dalam kurikulum.

    Sementara itu, keluarga kami menjalani homeschooling dengan “ramuan”: 10% akademis, 90% pengembangan diri dan keterampilan hidup. Jadi, evaluasi yang valid untuk evaluasi keluarga kami adalah mengecek apakah pengembangan diri anak-anak kami sudah bertumbuh sesuai harapan kami dan apakah anak-anak berkembang keterampilan hidupnya.

    Demikian kak. Ini adalah bagian dari mindset homeschooling yang perlu dikenali oleh keluarga yang menjalaninya.

    Semoga menjawab.

    in reply to: eBook Perbandingan Homeschooling dengan Sekolah #6881
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Liza,

    Karena homeschooling modelnya tidak standar dan sangat lebar, tidak ada sebuah kualifikasi tertentu yang mengatur apakah ada kualifikasi tertentu orangtua yang boleh menjalani homeschooling.

    Di Amerika Serikat yang memiliki tradisi homeschooling lebih lama pun tidak ada sebuah kebijakan yang sama. Ada yang mensyaratkan minimal orangtua lulus SMA, lulus S1, tapi banyak juga negara bagian yang tidak mensyaratkan kualifikasi latar belakang pendidikan tertentu dan kualifikasi mengajar.

    Informasi lebih jelas bisa dibaca di sini:

    https://responsiblehomeschooling.org/research/current-policy/parent-qualifications/

    Mengapa susah distandarkan, karena fokus homeschooling bukan mengajar. Proses homeschooling lebih kompleks karena banyak melibatkan parenting dan coaching (untuk anak remaja).

    Dalam konteks parenting pun banyak sekali aliran. Oleh karena itu, kualifikasinya tidak bisa distandarkan.

    Yang diperlukan dari orangtua homeschooling adalah:
    ~ orangtua yang penuh cinta
    ~ orangtua yang terbuka untuk terus belajar dan bekerja keras
    ~ orangtua yang berusaha mempraktekkan dan menjalankan proses pengasuhan yang baik.

    Ilmu-ilmu yang terkait dengan homeschooling antara lain:
    ~ parenting
    ~ psikologi perkembangan anak
    ~ ilmu praktis tentang gizi dan kesehatan anak
    ~ komunikasi
    ~ coaching

    Jika dibawa rumit, proses homeschooling ini bisa rumit, kak. Melalui kelas Rumah Inspirasi dan proses coaching, kami ingin orangtua yang menjalani homeschooling memulainya dengan percaya diri, bukan minder dan ketakutan.

    Bisa kok orangtua menjalani homeschooling. Prosesnya dimulai dengan praktik kegiatan yang mindful bersama anak-anak, menguatkan komunikasi bersama mereka, serta membangun bonding & connection.

    Ilmu2 lain sangat bisa dipelajari seiring menjalani proses homeschooling.

    Semua materi 9 kelas yang ada di Rumah Inspirasi ini merupakan kristalisasi dari kami tentang hal-hal yang bisa menjadi bekal orangtua untuk menjalani homeschooling.

    Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Tips Game-based Learning #6887
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Yulianti,

    Permainan itu banyak sekali dan tidak harus digital.

    Permainan bisa berwujud tanpa tujuan, biasa disebut play. Misalnya: main balok, kelereng, layangan, dll. Ada juga permainan yang punya tujuan, misalnya: sepakbola, permainan kartu, dan lain-lain. Permainan dengan tujuan ini disebut game.

    Sekali lagi, game bisa berwujud digital atau game fisik.

    Kunci pertama dari menggunakan permainan sebagai pintu belajar adalah mengenali kebiasaan orangtua/keluarga. Jadi mulainya harus dari orangtua. Kalau orangtua tidak suka permainan/game, cara paling mudah adalah belajar bersenang-senang dan melakukannya.

    Game yang perlu dikenalkan adalah game fisik, bukan digital.

    Caranya bisa dimulai dari game sederhana seperti kartu. Dari permainan kartu, banyak yang dipelajari anak berkaitan dengan aturan main, strategi, merasakan menang-kalah, dan sebagainya. Juga permainan fisik misalnya beteng, kelereng, dan sebagainya. Itu penting untuk dipelajari anak sesuai dengan kondisi yang ada di rumah dan sekitar.

    Game kartu atau biasa disebut boardgame itu banyak sekali jenisnya sekarang. Dulu hanya dikenal kartu remi dan monopoli. Sekarang banyak boardgame, misalnya The Festival tentang festival2 di Indonesia, ada boardgame Aquatico tentang habibat air, dsb.

    Tentang game digital, menurut saya tidak ada urgensi untuk memperkenalkannya. Kecuali orangtua memang biasa memainkannya. Game digital ini bagusnya yang ada dalam genre simulasi.

    Walaupun game digital kelihatannya keren, secara fungsi tidak berbeda dengan game fisik. Fungsi utamanya adalah hiburan. Proses yang penting sebelum memanfaatkannya adalah mengelolanya supaya tetap bernilai positif, tidak justru jadi sumber masalah mental (misalnya anak jadi kecanduan, gampang rewel, dsb).

    Demikian kak. Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Pengalaman Mengelola Jadwal Homeschooling #6890
    Aar
    Keymaster

    Betul kak Titi,

    Aturan yang ada saat ini, anak HS perlu langsung mendaftar ke PKBM setelah berhenti sekolah.

    Jadi, PR Anda adalah mencari PKBM yang fleksibel dan cocok untuk proses HS. Kriteria minimal PKBM adalah yang memiliki NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional) dan terakreditasi. Juga, sebaiknya cari PKBM yang memberikan fleksibilitas untuk keluarga mengelola sendiri proses belajar/kegiatan anak dan tidak mewajibkan hadir di PKBM.

    Demikian kak, semoga menjawab.

    Jika ada pertanyaan lanjutan, dipersilakan.

    in reply to: Manajemen Orangtua Homeschooling #6892
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Prasasti,

    Semua alat fungsinya adalah sebagai pembantu untuk membuat tujuan tercapai dan pelaksanaan berjalan lancar. Jadi, silakan dipilih sesuai kondisi.

    Secara umum, visi pendidikan itu bermanfaat untuk menjadi pedoman arah keluarga homeschooling. Mengapa? Karena pelaksanaan homeschooling bukan hanya mengikuti kurikulum seperti sekolah. Setiap keluarga bisa mengembangkan aspek-aspek unik untuk anaknya.

    Jika di sekolah model belajarnya 95% akademis dan 5% non-akademis (sebagai perbandingan kasar), dalam homeschooling orangtua bisa mengatur sendiri proporsinya, misalnya: 70% akademis, 30% non-akademis. Atau justru dibalik, 5% akademis, 95% non-akademis.

    Untuk alasan kepraktisan, keluarga HS biasanya tak menurunkan visi pendidikan sampai detil KU/KD seperti di sekolah. Mengapa? Karena keluarga HS pada umumnya bukan guru, jadi yang penting tahu arah dan bisa menjalaninya. Tapi bukan berarti bikin KU/KD tidak boleh. Boleh-boleh saja dirasa itu membantu, bukan memberatkan.

    Keluarga kami menggunakan model HS Eclectic berbasis unschooling. Keluarga kami 5% akademis, 95% pengembangan life skills dan potensi anak. Anak2 belajar matematika dan bahasa Inggris, selain itu kegiatannya pengembangan diri sesuai minatnya. Untuk keperluan rapor dan ijazah, kami ikut saja petunjuk dari PKBM tapi anak2 tidak belajar secara khusus seperti anak sekolah.

    Demikian kak, semoga menjawab.

Viewing 15 posts - 556 through 570 (of 766 total)
Scroll to Top