Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterHalo kak Marchella,
Terima kasih sharingnya kak,
Bahagia membaca sharing dari kakak. Begitulah dinamika utama dalam proses homeschooling anak usia dini.
Apa yang utama? Membangun rasa aman dan nyaman pada anak. Pada 12 bulan pertama, anak sangat membutuhkan rasa aman dan nyaman itu sehingga mereka bisa mempercayai bahwa dunia sekitarnya adalah baik. Dia belajar mempercayai Ibu dan orang2 yang ada di dekatnya. Kalau anak merasa aman dan nyaman, dia bisa melanjutkan proses bertumbuhnya dengan optimal. Jika tidak, anak akan sibuk dengan kondisi rasa tidak aman (insecure) dan mengaktifkan otak survival yang bisa membuat proses bertumbuhnya tidak berkembang baik.
Dalam proses membangun rasa aman dan nyaman ini, yang utama adalah kualitas interaksi. Kunci besarnya adalah menjalani kegiatan (apapun) dengan mindful. Jenis kegiatannya bisa apapun.
Itu yang paling utama.
Seiring waktu, kakak nanti bisa melihat Checklist perkembangan anak untuk melihat hal-hal apa yang biasanya tumbuh dan berkembang serta perlu distimulasi sesuai rentang usia anak.
Selamat menikmat ya kak..
Aar
KeymasterKak Sofie,
Yang kak Sofie bayangkan itu juga benar. Dokumentasi bisa menjadi alat bukti kegiatan dan perkembangan belajar yang dijalani anak untuk diserahkan ke PKBM. Ini betul untuk anak usia SD-SMP-SMA.
Tapi ada “syarat dan ketentuannya”.
Setiap PKBM memiliki kebijakan yang berbeda-beda terkait pembuatan rapor. Ada yang menerima dokumentasi/portofolio, ada yang hanya berwujud tes/ujian saja.
Nah, ini yang perlu dicek ke PKBM tempat anak kak Sofie terdaftar. Jika PKBM menerima dokumentasi/portofolio belajar anak, maka setiap semester tinggal menyerahkan dokumentasi itu ke PKBM.
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterHalo kak Sheryl,
Terima kasih sharing dan pertanyaannya.
Secara umum, tahap awal perkembangan psikososial anak adalah: membangun kepercayaan (trust) pada sekitar dan otonomi. Pada tahap ini, anak membutuhkan rasa aman dan nyaman dari lingkungannya. Saat dia membutuhkan sesuatu, ada orang lain (Ibu & pengasuh) yang datang dan memenuhi kebutuhannya. Jika kebutuhan ini dipenuhi, anak akan melihat dunia sekitarnya aman, orang-orang bisa dipercayai, dan dia bisa menjelajah sekitar dengan nyaman.
Selanjutnya, anak juga ingin mengeksplorasi sekitar dan mencoba-coba. Di dalam fase pertumbuhan ini, penting bagi orangtua dan lingkungan untuk memberikan kepercayaan diri pada anak bahwa dunia sekitar aman dan dia bisa menjelajahinya sendiri.
Itu dua fase penting di 3 tahun pertama anak.
Ketika anak sudah bisa mengungkapkan rasa takut, itu adalah sebuah pertanda bagus bahwa anak terstimulasi dengan baik aspek komunikasinya sehingga terampil mengungkapkan perasaan/pikiran. Yang perlu digali adalah penyebab rasa takutnya. Faktor PPKM (merasa asing dengan lingkungan luar) dan ditakut2i mungkin memberikan pengaruh.
Dalam kondisi seperti ini, pintu perbaikannya masih terbuka sangat lebar.
Beberapa fokus penting yang bisa dan perlu Anda lakukan:
1. Perkuat bonding
Cari waktu untuk menguatkan hubungan Anda dengan anak. Jenis kegiatannya tidak terlalu penting. Yang penting adalah hubungan hati antara anak dan Anda. Anak merasa aman dan nyaman karena ada Anda. Cari waktu untuk menunjukkan bahwa dia juga spesial dan di hati Anda.2. Stimulasi fisik
Perbanyak stimulasi fisik dalam bentuk senyum, usapan kepala, pelukan dan kata-kata yang lembut kepadanya.3. Dengarkan
Saat anak bercerita tentang ketakutannya, dengarkan dengan sepenuh hati dan turuti, jangan paksa untuk berani. Jika suasana hatinya sudah tenang, gali dan tanyakan apa yang menjadi kekhawatirannya. Jika memungkinkan, perbanyak momen di mana anak bisa bercerita kepada Anda. Proses ini tidak harus dalam waktu khusus, bisa dilakukan sambil Anda mengurusi adiknya.4. Libatkan
Libatkan anak untuk membantu mengurus adik sehingga dia tahu bahwa dia bisa berkontribusi yang bermakna. Jangan lupa mengapresiasi kontribusi yang dilakukannya.5. Ingatkan
Ingatkan kepada anggota keluarga lain untuk tidak menakut-nakuti anak. Sebagai gantinya, minta mereka menjelaskan secara rasional kepada anak tentang larangan/perintah kepada anak, misalnya: jika mainan tidak dirapikan akan berantakan dan bikin orang tersandung, mainan hilang, dsb.Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterHalo kak Sherly,
Terima kasih sharing dan pertanyaannya.
Secara umum, tahap awal perkembangan psikososial anak adalah: membangun kepercayaan (trust) pada sekitar dan otonomi. Pada tahap ini, anak membutuhkan rasa aman dan nyaman dari lingkungannya. Saat dia membutuhkan sesuatu, ada orang lain (Ibu & pengasuh) yang datang dan memenuhi kebutuhannya. Jika kebutuhan ini dipenuhi, anak akan melihat dunia sekitarnya aman, orang-orang bisa dipercayai, dan dia bisa menjelajah sekitar dengan nyaman.
Selanjutnya, anak juga ingin mengeksplorasi sekitar dan mencoba-coba. Di dalam fase pertumbuhan ini, penting bagi orangtua dan lingkungan untuk memberikan kepercayaan diri pada anak bahwa dunia sekitar aman dan dia bisa menjelajahinya sendiri.
Itu dua fase penting di 3 tahun pertama anak.
Ketika anak sudah bisa mengungkapkan rasa takut, itu adalah sebuah pertanda bagus bahwa anak terstimulasi dengan baik aspek komunikasinya sehingga terampil mengungkapkan perasaan/pikiran. Yang perlu digali adalah penyebab rasa takutnya. Faktor PPKM (merasa asing dengan lingkungan luar) dan ditakut2i mungkin memberikan pengaruh.
Dalam kondisi seperti ini, pintu perbaikannya masih terbuka sangat lebar.
Beberapa fokus penting yang bisa dan perlu Anda lakukan:
1. Perkuat bonding
Cari waktu untuk menguatkan hubungan Anda dengan anak. Jenis kegiatannya tidak terlalu penting. Yang penting adalah hubungan hati antara anak dan Anda. Anak merasa aman dan nyaman karena ada Anda. Cari waktu untuk menunjukkan bahwa dia juga spesial dan di hati Anda.2. Stimulasi fisik
Perbanyak stimulasi fisik dalam bentuk senyum, usapan kepala, pelukan dan kata-kata yang lembut kepadanya.3. Dengarkan
Saat anak bercerita tentang ketakutannya, dengarkan dengan sepenuh hati dan turuti, jangan paksa untuk berani. Jika suasana hatinya sudah tenang, gali dan tanyakan apa yang menjadi kekhawatirannya. Jika memungkinkan, perbanyak momen di mana anak bisa bercerita kepada Anda. Proses ini tidak harus dalam waktu khusus, bisa dilakukan sambil Anda mengurusi adiknya.4. Libatkan
Libatkan anak untuk membantu mengurus adik sehingga dia tahu bahwa dia bisa berkontribusi yang bermakna. Jangan lupa mengapresiasi kontribusi yang dilakukannya.5. Ingatkan
Ingatkan kepada anggota keluarga lain untuk tidak menakut-nakuti anak. Sebagai gantinya, minta mereka menjelaskan secara rasional kepada anak tentang larangan/perintah kepada anak, misalnya: jika mainan tidak dirapikan akan berantakan dan bikin orang tersandung, mainan hilang, dsb.Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Sofie,
Alhamdulillah kami sehat, kak. Terima kasih.
Untuk Mika yang berusia 4 tahun, fokus dulu pada proses dokumentasi. Abaikan dulu portofolio (itu nanti kalau anak sudah remaja). Kalau sudah terbiasa membuat dokumentasi, membuat portofolio itu hanya kelanjutannya saja.
Untuk anak usia 4 tahun (dan pra-sekolah), fungsi dokumentasi adalah untuk alat refleksi orangtua. Orangtua bisa melihat perkembangan anak, bisa merefleksikan hal-hal yang sudah berkembang baik dan yang masih membutuhkan stimulasi lanjutan.
Itu yang utama, kak. Dokumentasi belum dibutuhkan untuk orang lain. Paling jauh, hasil dokumentasi bisa ditunjukkan pada pasangan dan kakek/nenek untuk memperlihatkan bahwa anak menjalani banyak kegiatan belajar yang berkualitas walaupun tidak bersekolah.
Jadi, itu yang penting saat ini kak. Disederhanakan saja supaya mudah dijalankan dan tidak bikin stress. Dokumentasi ini tambahan. Fokus yang utama tetap adalah kualitas stimulasi dan kegiatan nyata anak sehari-hari.
Demikian, semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Tri,
Betul sekali. Kegiatan yang tidak mengada-ada termasuk kegiatan spontan, kegiatan sesuai keinginan anak, kegiatan melalui keseharian, dan lain-lain. Yang penting dijalani dengan mindful. Kita (orangtua) hadir secara penuh, merasa nyaman, aktif mengobrol dua arah dan anak menikmati kegiatannya.
Jika dijalani, itu bisa menjadi stimulasi yang kualitasnya tinggi sekaligus membahagiakan (orangtua dan anak).
Aar
KeymasterHalo kak Linda,
Kita semua berproses sesuai kapasitas dan proses bertumbuh kita, kak. Ketika ada pengetahuan dan wawasan kesadaran baru, kita mencoba merevisi wawasan lama dan berupaya menjadi lebih baik.
Nah, prosesnya sesederhana itu. Yang penting fokus masa kini dan masa depan. Maju terus saja, kak.
Untuk ke depan, yang penting mulai dipikirkan strategi dan prosesnya bersama anak.
Pertama, ceritakan pada anak.
“Eh, kak. Ternyata Bunda baru tahu kalau kita terlalu banyak makan makanan manis, itu tidak bagus buat tubuh kita. Jadi, kita akan sama-sama belajar mengelola gula yang kita makan. Kakak mau sehat terus, kan?”Kedua, kurangi secara bertahap. Jangan terlalu mendadak perubahannya. Awali dengan mengurangi frekuensi jenis asupan manis. Kalau biasanya setiap hari, menjadi dua hari sekali.
Ketiga, sediakan alternatif pengganti makanan manis dari gula. Ganti dengan buah-buahan.
Keempat, lakukan proses ini sebagai perjuangan bersama, bukan hanya untuk anak. Bangun kesadaran dan proses ini bersama pasangan sehingga menjadi nilai-nilai baru keluarga.
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Rudi,
Homeschooling berawal dari kekuatan orangtua/keluarga, bukan kelemahannya. Kenali kekuatan Ayah dan Ibu, jadikan sebagai pijakan untuk proses menjalani homeschooling anak-anak.
Dalam kaitan dengan harapan terhadap proses homeschooling, jangan bertumpu pada yang tidak bisa dilakukan dan menjadi kelemahan orangtua. Pasti tak akan berjalan.
Jadi, kenali kekuatan Anda dan pasangan. Itulah pintu masuk terbesarnya.
Fokuskan pada hal-hal yang bisa dilakukan bersama keluarga berkaitan kebiasaan baik yang dibutuhkan anak untuk menjadi manusia yang berfungsi dalam kesehariannya.
Kenali apa yang harus dikuasai (must have) dan keren jika dikuasai (nice have). Contoh yang harus dikuasai adalah inisiatif, tanggung jawab, keingintahuan, kemandirian, dll. Yang nice to have misalnya belajar piano yang kalau tak dikuasai juga nggak apa-apa.
Sekali lagi, kenali hal-hal yang menurut Anda penting menjadi bekal hidup anak dan fokuskan yang utama di sana. Jadikan pengalaman hidup Anda dan pasangan sebagai sarana merefleksikan kapasitas penting untuk hidup yang baik (secara pribadi, sosial, dan profesional).
Lalu, bagaimana menyikapi kelemahan orangtua?
Pertama, sekali lagi jangan menjadikannya sebagai tumpuan pengembangan anak. Mulailah dengan membangun karakter anak, juga melakukan kegiatan berdasarkan kekuatan Anda dan pasangan.
Kedua, jika Anda merasa kemampuan itu penting, misalnya keterampilan komunikasi yang baik; maka proses pertama yang perlu dilakukan adalah kita sebagai orangtua meneguhkan diri untuk belajar memperbaiki kelemahan kita. Mengapa? Karena anak belajar paling cepat dengan meneladani sosok-sosok yang ada di sekitarnya.
Ketiga, dalam kaitan dengan keterampilan yang tak dikuasai orangtua, gunakan bantuan eksternal. Menjalani homeschooling bukan berarti kita mengajari semua hal. Kita adalah fasilitator, bukan guru. Dalam pengalaman keluarga kami, Tata belajar menggambar memakai aneka tutorial dan kelas online. Duta belajar catur dengan pelatihnya karena kami tidak menguasai ilmunya.
Keempat, jika Anda tidak suka alam, pilihannya 2: Anda belajar mencintai alam sehingga bisa mengajak anak-anak berkegiatan di alam bebas (karena Anda menganggap belajar di alam penting). Pilihan lain adalah mencari kegiatan lain yang bisa Anda lakukan.
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Rudi,
Proses homeschooling kelihatannya bisa dijalankan dengan membuat jadwal aktivitas. Tapi sebenarnya prosesnya lebih kompleks daripada itu.
Sebab, kondisi rumah berbeda dengan sekolah dan komunikasi orangtua-anak berbeda dengan guru-murid.
Itulah sebabnya perlu ada proses pergeseran mindset, baik orangtua dan anak. Ini yang sulit dalam pelaksanaan homeschooling.
Jika hanya dibuatkan jadwal oleh orangtua dan anak disuruh menjalani, kemungkinan akan gagal. Orangtua akan mengeluh anak tidak taat jadwal dan tidak memiliki kesadaran belajar.
Yang berart adalah membangun kesadaran belajar anak. Ini yang butuh proses berbulan-bulan, bahkan tahunan. Di sekolah mereka dipaksa oleh sistem, sementara di rumah baru akan efektif jika kesadaran anak telah bertumbuh.
Tentang pola kegiatan awal,
Pertama, anak adalah subjek belajar dan pemilik proses belajar. Jadi, anak perlu dilibatkan dalam proses belajar: menentukan materi, jadwal, dan prosesnya.
Kedua, buat kesepakatan jadwal bersama anak. Tuliskan kesepakatan jadwal itu dan jalankan. Awali dengan 3-5 target harian, setelah itu anak bebas berkegiatan yang lain (bukan main game).
Ketiga, praktekkan dan review proses-proses yang terjadi berkaitan dengan jadwal tersebut. Diskusikan bersama anak apa yang berhasil dan gagal, mengapa gagal, di mana tantangannya, apa solusi selanjutnya. Proses inilah yang krusial dan menjadi substansi dalam mengelola kegiatan homesschooling anak-anak.
Aar
KeymasterKak Lydia,
Proses homeschooling secara legal dimulai dengan perpindahan dari sekolah ke rumah. Caranya dengan melakukan mutasi dari sekolah lama ke PKBM.
Pertanyaannya, kapan mau mulai HS?
Kalau mulai HS-nya sekarang, berarti proses perpindahan dilakukan saat ini.
Kalau mulai HS-nya tahun depan (setelah lulus SD), maka proses pendaftaran di PKBM dilakukan tahun depan. Jika perpindahan dilakukan setelah lulus SD, tidak perlu mutasi. Daftar ke PKBM menggunakan ijazah SD.PKBM itu seperti sekolah, cuma jumlahnya lebih sedikit dan kualitasnya banyak yang masih jelek (karena biasanya digunakan untuk anak-anak putus sekolah). Cari PKBM yang ramah HS (nggak harus datang, bisa online dan fleksibel). PKBM tidak harus di dekat rumah, bisa berbeda kota.
Pendaftaran PKBM bisa di mana saja tidak masalah. Anak-anak kami terdaftar di PKBM Piwulang Becik Salatiga (walaupun kami tinggal di Jakarta Timur dan saat ini sedang berdomisili di Semarang).
Link mencari PKBM: https://referensi.data.kemdikbud.go.id/index31.php
Penjelasan lebih lengkap bisa disimak di sini: Perpindahan dari Sekolah ke Homeschooling
Semoga menjawab pertanyaan kak Lydia.
Aar
KeymasterHalo kak Enggar,
Terima kasih pertanyaannya.
Tujuan dari anak berkegiatan adalah pada pengalaman belajar/berkegiatan dan skills anak, serta bertambahnya pengetahuan/wawasan anak. Itu yang utama.
Untuk mendukung proses pertumbuhan itu, dalam HS biasanya dibuat dokumentasi. Tujuan membuat dokumentasi adalah merekam jejak pengalaman belajar dan perkembangan anak. Fungsinya sebagai alat untuk refleksi (saat anak kecil) dan bahan menyusun portofolio (saat anak besar).
Dokumentasi itu bisa bersifat fisik atau digital.
Sampai tingkat SMP, dokumentasi yang utama berbentuk digital, itu yang paling mudah. Jika dirasa ada karya yang sangat menonjol, bisa disimpan dokumentasi fisiknya. Tapi tidak perlu banyak, betul-betul selektif saja.
Saat jenjang SMA, anak sudah mulai kelihatan keahliannya dan kualitas karyanya. Untuk proses memudahkan, tetap yang utama adalah dokumentasi digital. Jika ada karya yang menjadi “milestone” atau “masterpiece” bisa disimpan dalam bentuk fisik.
Demikian, kak.
Semoga membantu.
Aar
KeymasterHalo kak Maria,
Dalam proses menemani anak berkarya, yang menantang adalah menemani prosesnya setahap demi setahap. Awalnya belum rapi bekerja hingga bisa bekerja rapi. Awalnya asal-asalan hingga bisa bekerja serius dan berkualitas. Awalnya spontan hinga dia bisa bekerja dengan metodis.
Itu semua butuh proses stimulasi dan waktu, seiring meningkatnya usia dan kapasitas anak.
Di lapangan, seringkali kita tidak bisa langsung mendapatkan beberapa aspek perbaikan sekaligus. Kita perlu memfokuskan aspek stimulasi dan mengabaikan aspek lain sebagai bagian dari proses yang dijalani anak. Ini tangga proses pertama. Setelah tangga pertama ini berhasil dilalui, kita baru masuk ke stimulasi di tangga berikutnya.
Sebagai contoh, ada 2 concern dari kak Maria yaitu bekerja lebih terencana dan bekerja rapi.
Prosesnya akan lebih mudah jika tujuan itu diraih satu-persatu.
Yang pertama adalah membenahi prosedur kerja anak, membiasakan anak bekerja dengan urutan yang baik.
Apa yang perlu dilakukan?
~ memberikan gambaran mengapa bekerja terencana itu perlu dilakukan
“Kak, kamu tahu nggak berapa lama bikin jembatan/rumah/mobil/lego/video (sesuatu yang dekat dengan anak)?”
“Bisa nggak bikin jembatan/rumah/mobil itu tanpa direncanakan?”
“Apa yang terjadi kalau langsung bikin aja?”
“Nah, kalau kakak mau terampil dan nanti bisa bikin2 yang serius, kakak perlu belajar bikin rencana. Nanti Bunda temani dan ajari caranya. Mau?”~ ambil sebuah proyek dan rencanakan bersama
“Kita hari ini mau bikin apa? Mau bikin topeng? Topeng apa yang mau dibuat?”
“Ada nggak contoh topeng yang mau dibuat?”
“Apa bahan yang dibutuhkan untuk membuat topeng?”
“Kita punya bahannya, nggak? Kalau nggak punya, apa yang harus dilakukan?”
“Bagaimana urutan cara membuatnya?”Lakukan bersama proses diskusi itu dan tuliskan tahapannya menjadi rencana sederhana. Dalam proses pertama ini, Anda (orangtua) yang melakukan dan memberikan contoh. Setelah itu dijalani bersama. Tunjukkan pada anak bahwa dengan membuat rencana, hasilnya menjadi lebih berkualitas dan prosesnya lebih lancar.
Lakukan kegiatan ini beberapa kali dan secara bertahap latih anak untuk melakukannya sendiri.
Aspek kedua adalah mengajari anak bekerja dengan rapi. Bekerja rapi biasanya berhubungan dengan keterampilan bekerja dan stamina. Keterampilan bekerja terasah dengan contoh dan frekuensi berlatih.
Proses stimulasi bekerja dengan rapi dilakukan dengan beberapa proses:
~ Bekerja bersama
Anda melakukan proyek/pekerjaan yang sama dengan anak. Masing-masing bekerja dan Anda bisa mencontohkan cara bekerja dan hasilnya yang rapi/baik.~ Membangun jembatan proses
“Kak, mau nggak hasil pekerjaanmu bisa jadi lebih rapi?”
“Kak, kalau mau lebih bagus, bagian ini cara bikinnya begini!” – berikan contoh dan ajari anak cara melakukannya~ Temani dan berikan feedback
Seiring proses anak bekerja, selalu berikan apresiasi untuk membangun kepercayaan diri anak. Berikan apresiasi yang spesifik. Pada saat bersamaan berikan feedback tentang apa yang bisa ditingkatkan. Ajak anak melakukan bersama. Jika anak belum siap, lakukan dan berikan contoh meningkatkan kualitas. Proses ini terkadang tidak instan, butuh kesabaran orangtua untuk berproses. Jika anak sudah tahu standar kualitas pekerjaan yang baik, nanti dia akan mulai berusaha meningkatkan kualitasnya seiring dia semakin terampil dan stamina bekerjanya meningkat.Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterKak SIlvi,
Proses bertanya pada anak bisa dimulai sejak anak masih kecil. Pertanyaannya tidak harus menggunakan kata “belajar”. Kata belajar itu bisa diganti apa saja: baju, pakaian, kegiatan, main, dll.
“Kamu mau ngapain hari ini?”
“Kamu mau masak apa?”
“Mau main di rumah atau di taman?”Begitu prosesnya, kak.
Semoga membantu.
Aar
KeymasterTerima kasih kak Yulianti atas tambahan informasi dan masukannya,
Kalau dirasa “pemberontakannya” itu tidak mengganggu dan diyakini sebagai bagian dari pertumbuhan fitrah individualitas, tentu saja tak apa-apa.
Pemberontakan yang saya maksud sebenarnya tidak selalu bermakna buruk. Pemberontakan di sini maksudnya adalah: anak mulai mempertanyakan nilai-nilai di luar dirinya, dia mulai bersikap kritis dan membangun nilai-nilanya sendiri. Ini kondisi alamiah dan membuat dunia ini terus bertumbuh.
Setiap generasi membangun nilai-nilai yang terkait respon terhadap zamannya. Itulah sebabnya selalu ada gesekan dan dinamika antar-generasi.
Pertanyaannya, apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua?
Hal yang paling bisa dilakukan orangtua adalah membangun trust dan kedekatan bersama anak. Itu akan membantu anak melewati proses transisi saat remaja dengan lebih mulus.
Aar
KeymasterHalo kak Ina,
Terima kasih pertanyannya,
Proses pengembangan minat dan bakat itu panjang prosesnya, kak. Proses-proses awalnya lebih banyak eksplorasi dan pengenalan, serta penjajagan. Seiring penjajagan, anak belajar mengasah dan meningkatkan kualitas skills-nya.
Proses stimulasi yang bisa dilakukan ada yang terkait budaya belajar/bekerja, misalnya:
~ bekerja dengan rapi
~ bekerja sampai tuntas
~ membereskan alat kerja setelah dipakaiProses stimulasi yang terkait dengan keterampilan belajar/berkarya:
~ anak belajar mengikuti tutorial
~ anak ikut kelas online
~ anak mencoba dan mengasah skills baru yang diajarkanDalam pengalaman kami, proses yang penting di usia 7 tahun adalah banyak praktek. Sediakan kertas dan alat gambar, lalu berikan ruang yang luas dan apresiasi untuk proses anak menggambar.
Jika dia sudah siap ikut kelas, baru tawarkan dan ikutkan anak ke kelas menggambar untuk menaikkan skillsnya.
Itu proses yang biasanya terjadi, kak. Proses ini bisa berlangsung bertahun-tahun.
Dalam pengalaman Tata, proses kesenangannya menggambar ditekuni selama 9 tahun (jika dihitung sejak usia 7 tahun) sehingga akhirnya berbuah kelas online Kreasita.com
Dinikmati dulu prosesnya ya kak..
-
AuthorPosts