Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 526 through 540 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Membangun Budaya Belajar #6782
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Ina,

    1. Membangun Grit
    Acuan standar ekspektasi tentang grit sebenarnya tidak ada. Kapasitas seseorang untuk meneguhkan diri mencapai tujuan juga berbeda-beda.

    Yang bisa kita lakukan adalah mencari cara agar potensi yang dimilikinya keluar secara maksimal. Caranya dengan:
    ~ membimbing anak agar memiliki tujuan yang sesuai dengannya (menantang, melebih kondisi sekarang, terjangkau)
    ~ menemani anak meraih tujuan tersebut
    ~ jika tidak tercapai, bisa terjadi karena targetnya terlalu berat (berarti target perlu diturunkan atau skill anak ditingkatkan)
    ~ jika tercapai terlalu mudah, biasanya terjadi karena tantangannya kurang susah (tantangan yang terlalu ringan tak akan melatih kekuatan anak untuk bertumbuh)
    ~ yang ideal adalah anak merasa bekerja keras untuk meraih target dan targetnya tercapai

    Itu yang secara langsung.

    Yang tidak langsung, paparkan anak aneka kegiatan yang menantang, misalnya: pramuka, OSIS, kepanitaan, mendaki gunung, perjalanan, dan aneka kegiatan lain yang mendorong anak berlatih beradaptasi dengan kondisi sekitar dan belajar menyelesaikan masalah.


    2. Memberi Feedback

    Agar feedback dirasakan efektif, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

    a. Cinta harus terasa oleh anak
    Pesan orangtua disampaikan dengan cinta, bukan untuk mengomeli dan memarahi anak. Pesan ditujukan untuk menguatkan anak, bukan untuk membuat anak patuh.

    b. Tulus
    Sampai dengan tulus apresiasi dan pendapat Anda apapun, bukan hanya untuk menyenangkan anak.

    c. Mulai dengan apresiasi
    Jangan langsung mengkritik. Mulai dengan apresiasi pada anak. Apresiasi bisa terkait usahanya, inisiatifnya, kebaikan hatinya, kerja kerasnya, perhatiannya, dll. Saat memberi apresiasi, jangan menggunakan kata “tapi” — kamu bagus inisiotifnya, tapi….

    Lakukan apresiasi dengan kalimat lengkap. “Kamu bagus inisiatifnya. Bunda tidak mengira kamu melakukan hal itu.”

    d. Dorong anak untuk refleksi
    Sebelum memberikan feedback, biasanya meminta anak untuk bercerita tentang hal yang dilakukannya dan mengapa dia melakukan hal itu. Juga, dorong dia untuk memberikan penilaian sendiri:

    ~ “Menurut kamu, apa yang sudah bagus dari karyamu?”
    ~ “Apa yang menurutmu perlu diperbaiki?”

    e. Masukan yang spesifik
    Jika ingin memberikan masukan, pastikan diberikan pada hal-hal yang spesifik untuk proses perbaikan di waktu lain.
    ~ “Menurut Bunda, masakannya agak terlalu asin. Nanti lain waktu dikurangi sedikit garamnya.”
    ~ “Kalau bagian ini dirapikan, kelihatannya tambah bagus, kak. Bagaimana menurutmu?”

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: eBook Membuat Rancangan Homeschooling #6785
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Anne,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Bagus jika kakak sudah bisa mengidentifikasi harapan dan mimpi tentang pendidikan anak yang ingin dikejar. Dari mimpi seperti inilah proses-proses yang lebih detil bisa diturunkan.

    1. Legalitas
    Dari sisi sistem, tak ada masalah untuk mengejarnya melalui HS maupun sekolah konvensional.

    Mengapa?

    Kalau mau kuliah di luar negeri berarti anak perlu memiliki ijazah setingkat SMA. Ijazah itu bisa diraih melalui sekolah atau Paket C. Atau, bisa juga mengikuti ujian Cambridge IGCSE/A Level sesuai kriteria yang diminta perguruan tinggi di luar negeri yang diminatinya.

    Itu dari sisi legalitas.

    2. Sistem Pendukung
    Isu selanjutnya adalah proses menuju ke sana. Bagaimana menurunkan harapan itu ke dalam langkah-langkah yang lebih operasional.

    Hal yang perlu dikenali dan diturunkan misalnya:
    ~ kalau mau jadi inventor atau scientist, kapasitas apa saja yang dibutuhkan? Proses apa yang perlu dilakukan untuk mengejar kapasitas itu? Kegiatan belajar dan materi belajar apa saja yang perlu dilakukan? Siapa yang akan membimbing anak Bagaimana strategi keluarga melakukannya?

    ~ kalau mau jadi diplomat, kapasitas apa saja yang dibutuhkan? Proses apa yang perlu dilakukan? Kegiatan belajar dan materi belajar apa saja yang perlu dilakukan? Siapa yang akan membimbing anak? Bagaimana strategi keluarga melakukannya?

    3. Keunikan Anak
    Harapan orangtua perlu dipadukan dengan kenyataan di lapangan terkait kapasitas dan kecenderungan anak.
    ~ Apakah minat anak selaras dengan harapan orangtua?
    ~ Apakah anak memiliki kapasitas cukup besar di bidang itu?
    ~ Bagaimana jika minat anak berubah seiring pertumbuhan usianya?
    ~ Bagaimana jika kondisi lapangan tak seperti yang diharapkan? Apakah orangtua siap melenturkan diri mengubah skenario2 di lapangan?

    4. Kapasitas pendampingan
    Faktor penting yang krusial dalam proses HS adalah peran dan kapasitas orangtua.
    ~ Apakah orangtua memiliki kapasitas untuk mendampingi proses anak?
    ~ Apakah orangtua memiliki strategi proses yang dilakukan sendiri dan menggunakan bantuan pihak ke-3?

    Demikian kak. Secara prinsip jawabannya bisa. Setelah itu, isunya adalah titik-titik kritis yang perlu dikenali sebagai konsekuensi menjalani HS.

    Semoga membantu.

    Jika ada pertanyaan lanjutan, dipersilakan.

    in reply to: Pengembangan Keterampilan Sosial #6788
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Fadilah,

    Terima kasih atas pertanyaannya.

    Dalam konteks keterampilan bersosialisasi, ada 2 aspek penting yang perlu diperhatikan:
    ~ karakter personal anak (ekstrovert vs. introvert)
    ~ keterampilan sosial

    Anak introvert itu ada sebagaimana orangtua introvert. Introvert ini ada di berbagai profesi dan tidak ada masalah.

    Orang introvert itu merasa nyaman dalam sendirian dan kelompok kecil, lebih senang memperhatikan daripada bercakap-cakap akrab, membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial baru. Jika dibutuhkan, orang introvert bisa berkomunikasi dengan orang lain. Tapi jika ada pilihan, introvert lebih suka menghindari pesta dan memilih mengobrol bersama sahabat atau menikmati kesendirian.

    Mengapa orang introvert bisa berkomunikasi? Karena mereka memiliki keterampilan sosial (social skills). Mereka tahu bagaimana berbicara dengan baik, berkenalan, bercakap-cakap, mengajukan pertanyaan, berdiskusi, dll.

    Nah, yang perlu dilatih untuk anak introvert adalah keterampilan-keterampilan ini.

    Caranya:
    ~ bangun dalam komunikasi di keluarga bersama Ayah, Ibu, dan saudara. Bimbing anak dan berikan masukan kepada anak tentang cara berkomunikasi yang baik. Jika anak melakukan kesalahan komunikasi, berikan masukan dan lakukan koreksi, jangan dibiarkan.
    ~ libatkan anak dengan transaksi sosial, misalnya: berbelanja di tukang sayur, toko, supermarket, dan pasar.
    ~ saat sedang dalam kegiatan di luar bersama keluarga, minta anak untuk aktif terlibat. Misalnya: menjadi orang yang memesan makanan saat pergi ke restoran, bertanya ke satpam saat di mal, dsb.
    ~ libatkan anak dengan kegiatan sosial, mulai dari hal-hal yang dikenal dan nyaman, misalnya: kegiatan yang diikuti orangtua (masjid, RT, dan sebagainya)
    ~ libatkan anak dengan kegiatan2 organisasi, seperti: pramuka, olahraga beregu (basket, sepakbola, futsal, dll).

    Nah, karena anak adalah tipe introvert, kunci penting yang perlu diperhatikan orangtua adalah:
    ~ anak butuh waktu untuk beradaptasi dengan suasana baru. Beri kesempatan anak beradaptasi, jangan didorong dan dipaksa.
    ~ pandemi baru usai dan kontak sosial baru mulai dibuka. Sebagian besar orang yang adaptasi untuk berinteraksi secara sosial bersama orang lain. Berikan keluasan hati Anda untuk melihat anak berproses

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Pengantar Homeschooling Usia Sekolah #6789
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Puti,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Secara umum, anak memang tidak suka jika ditanya-tanya. Mereka berpikir itu hanya sekadar “kepo” atau keisengan saja. Itu yang menyebabkan anak resisten atau tidak mau menjawab.

    Untuk mengubahnya, dibutuhkan proses untuk membuat refleksi menjadi aktivitas “wajib” dan sadar, sebagai bagian dalam homeschooling. Caranya dilakukan melalui sesi obrolan serius bersama anak:

    1. Sediakan waktu khusus
    Cari momen yang santai tapi serius. Pilih sesuai kebiasaan keluarga. Jika Anda sudah punya momen mengobrol rutin bersama, misalnya saat sebelum tidur atau saat makan bersama, gunakan waktu tersebut.

    “Kak, kita sudah menjalani homeschooling 1.5 tahun. Mama mau mengobrol sebentar tentang proses homeschooling yang sudah kita jalani. Menurut Mama, kita sudah menjalani homeschooling ini dengan asyik. Mama suka karena …. (sebutkan hal2 baik yang terjadi dalam homeschooling Anda).”

    “Bagaimana menurutmu?” – (dengarkan pendapat anak)

    “Tapi Mama merasa ada banyak hal yang masih bisa kita perbaiki dan tingkatkan supaya proses homeschooling kita bisa berlangsung dengan baik.”

    2. Jelaskan pandangan Anda tentang refleksi

    “Setelah Mama belajar tentang homeschooling, ada satu proses yang perlu kita lakukan bersama, yaitu refleksi. Refleksi itu menceritakan ulang dan menilai sendiri yang dilakukan/dipelajari/ditonton. Apa sih yang kita dapat?”

    “Nah, kalau di sekolah kan biasanya ada quiz dan ujian. Dalam homeschooling juga ada ujian di PKBM, tapi nggak banyak. Supaya kualitas belajar kakak tetap bagus, ujiannya diganti dengan refleksi.”

    “Tujuan refleksi adalah untuk mengkristalkan pemahaman yang sudah kakak miliki. Refleksi juga proses belajar kakak untuk menilai diri sendiri. Jadi, kakak belajar menilai sendiri supaya proses belajar kakak jadi lebih baik.”

    “Contoh refleksi itu begini: bla bla bla…(Anda berikan contoh pertanyaan dan kegiatan refleksi yang Anda lakukan)”

    “Jadi, kalau Mama nanya-nanya, itu bukan iseng pengin tahu. Itu juga adalah proses belajar dalam homeschooling.”

    “OK, sampai di sini kakak ngerti?”

    3. Buat kesepakatan teknis
    “Nah, mulai sekarang Bunda akan menemani kakak belajar melakukan refleksi yaa… Nggak setiap saat kok Bunda tanya-tanya.”

    “Untuk di awal, kita akan lakukan refleksi pada … (tentukan waktu yang disepakati)”

    4. Praktekkan
    Proses formalisasi refleksi itu untuk membawanya ke dalam kesadaran bersama. Setelah dijalani berulang kali selama berbulan-bulan, nanti prosesnya bisa dibuat lebih santai dan longgar.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Anak-anak dan Dunia Game #6790
    Aar
    Keymaster

    Sangat dimengerti kak Febi,

    Tantangan yang sering dialami oleh orangtua di lapangan adalah membuat aturan main dan menegakkannya.

    Mengapa perlu dibuat aturan main yang disepakati?

    Supaya drama dengan anak berkurang. Anak juga tahu koridor dan aturan main yang harus diikutinya. Dengan adanya aturan main, ada ekspektasi yang sama yang mengikat orangtua dan anak.

    Dalam membuat aturan pastikan sederhana dan tidak berubah-ubah. Jelaskan pada anak alasan aturan itu dibuat dengan bahasa sederhana. Pastikan anak mengerti.

    Nah, setelah itu adalah proses penegakannya. Semakin konsisten dan dilakukan tanpa emosi (tidak ada teriakan atau bentakan), semakin efektif aturan itu untuk membangun pola perilaku anak.

    Semangat ya kak.. saya percaya kak Febi lebih cerdas dan bisa membuat argumentasi yang lebih kuat daripada anak.

    in reply to: Podcast Anak-anak dan Dunia Game #6795
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Febi,

    Terima kasih atas informasi tambahan yang diberikan.

    Yang menarik dari proses interaksi orangtua bersama anak, anak-anak selalu tahu berusaha mencari cara untuk mendapatkan keinginannya dan mereka tahu hal-hal yang menjadi keterbatasan orangtua. Sebagai contoh, anak tahu bahwa Ibunya akan mengalah dan memberikan gadget jika dia mengganggu adik. Pola semacam ini dikenali olehnya.

    Masalah pemakaian game dan gangguan terhadap adik perlu ditangani secara terpisah.

    Ada keluarga yang melakukan pendekatan drastis dengan mencabut gawai sama sekali dari anak. Pada awalnya anak tantrum. Tapi karena orangtua bersikeras, anak akhirnya luluh dan mengikuti kegiatan tanpa game.

    Pendekatan kedua lebih moderat, melakukan secara bertahap.

    Ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
    1. Teguhkan peran orangtua sebagai pemimpin
    Pastikan Anda lebih cerdas daripada anak, hehehe.. dan tentu saja jangan bertindak karena diancam oleh anak.

    2. Sediakan alat berkegiatan mandiri
    Sediakan alternatif kegiatan pada anak selain game. Sediakan balok, kertas, alat gambar, dll. Ajak dan biasakan anak melakukan kegiatan memakai alat2 tersebut. Minta anak bermain mandiri memakai alat tersebut jika Anda sedang ada keperluan.

    Sebagai substitusi game, Anda bisa menyediakan film anak berbahasa Inggris. Walaupun tidak terlalu ideal, minimal anak belajar bahasa Inggris dari tontonannya.

    3. Buat aturan main dan tegakkan
    Buat aturan main terkait game. Berikan pengingat dengan alarm 5 menit sebelum waktu main game habis, 3 menit, dan saat waktu benar2 habis. Ajari dia tanda-tanda alarm itu. Jika sudah habis, ambil gadget tanpa perlu marah-marah. Tegakkan aturan ini tanpa kompromi. Jika anak mengancam dengan menangis dan merengek, jelaskan padanya bahwa tindakan semacam itu justru bisa membuat jatah main game-nya dikurangi.

    Termasuk aturan yang perlu dibuat dan dijelaskan pada akak adalah jika dia mengganggu adik, jatah main game-nya dikurangi bahkan bisa dicabut. Jika kakak bersikap baik dan bisa mandiri, dia akan mendapatkan jatah tambahan game.

    4. Kurangi durasi main game secara bertahap
    Secara bertahap, perbanyak kegiatan offline dan tanpa gawai sehingga anak tahu bahwa ada alternatif kegiatan lain selain game.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Proses Pengembangan Keterampilan #6796
    Aar
    Keymaster

    Hai kak Henny,

    Terima kasih untuk informasi tambahannya, kak. Saya jadi lebih memahami kondisi yang terjadi di lapangan.

    1. Terima kasih untuk refleksinya yang berani dan jujur. Proses semacam ini sangat bagus untuk meningkatkan kapasitas kakak dalam mendampingi anak-anak. Ketika kakak merasa ada hal yang perlu diperbaiki dalam komunikasi dengana anak, itu menjadi pintu masuk kakak untuk belajar keterampilan berkomunikasi yang lebih baik.

    Salah satu tips-nya yang sederhana untuk memulai proses komunikasi lebih baik adalah mindfulness. Cobalah kakak hadir sepenuh hati saat berkomunikasi dengan anak. Jangan berteriak dan memerintah dari jauh. Setiap mengobrol bersama anak usahakan dalam jarak dekat dan berhadap2an. Atur nafas dan perhatikan intonasi suara. Itu dulu mulainya.

    Yang kedua, perbanyak kegiatan santai bersama anak, misalnya jalan pagi, bersepeda bersama, masak-masak, makan es krim bersama, pergi ke supermarket, main game bersama, dll. Bersenang2 dan mengobrol bersama. Ini akan membangun kedekatan hati anak-anak bersama kak Henny.

    2. Nah, ternyata ketemu kemungkinan penyebab anak mengalami perasaan tidak nyaman saat melakukan kegiatan di dapur. Dalam proses perbaikan, ada 2 hal yang bisa kakak lakukan:
    a. Lanjutkan proses mengurangi screen time dan ganti dengan kegiatan lain (tidak harus memasak). Sediakan alat siap pakai yang bisa digunakan anak melakukan kegiatan bebas tanpa Anda, misalnya: balok, kertas, aneka pensil warna, dll.

    b. Jika ingin berkegiatan di dapur lagi, pastikan Anda membantu untuk merapikan dapur (yang menjadi concern nenek) sehingga anak tidak menerima akibat sampingan berupa omelan. Jika kondisinya cukup santai dan memungkinkan, jelaskan ke nenek bahwa Anda sedang mengajarkan anak keterampilan hidup dan kegiatan di dapur merupakan bagian dari proses belajar.

    Demikan kak, tetap semangat yaa…!

    in reply to: Podcast Keterampilan Mengelola Emosi #6797
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Yulianti,

    Terima kasih untuk pertanyaannya.

    Semoga saya tidak salah memahami pertanyaan kakak.

    Mungkin kalau dituliskan contoh peristiwa yang terjadi di lapangan, saya bisa lebih kebayang pertanyaan kakak.

    Kunci awal dalam strategi validasi emosi adalah menerima dan mengakui yang dirasakan anak. Itu yang paling penting. Jadi, teguhkan dulu penerimaan akan rasa/emosinya dulu hingga anak tenang.

    Kalau sudah tenang dan mulai bisa mengobrol/berlogika, baru dibicarakan dengan santai tentang istilah-istilah dalam emosi dan contoh2 yang mudah difahami anak.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Mengasah Keterampilan Bertanya #6800
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Kartika,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Terima kasih koreksinya untuk slide. Yang betul adalah 4W + 1H = What, Where, When, Why + How.

    Ada banyak faktor yang mempengaruhi keterampilan anak mengungkapkan pikiran dan pendapat. Ada kaitannya dengan karakter, suasana percakapan, stimulasi, dan sebagainya.

    Kuncinya adalah keterampilan. Jika anak terampil (pada momen tertentu), berarti tidak masalah. Jika anak belum terampil, berarti proses stimulasi perlu ditingkatkan.

    Apa yang bisa dilakukan?

    1. Terkait karakter
    Ada anak-anak yang lebih pendiam dan anak-anak yang lebih ceriwis. Itu adalah hal yang biasa. Apakah ada karakter Ayah/Ibu yang memang cenderung pendiam?

    Pada anak yang pendiam, amati dan kenali kondisi saat anak berbicara lebih banyak dibandingkan kondisi umumnya. Apakah terkait tema tertentu yang dibicarakan? Terkait momen/suasana yang sesuai dengannya? Terkait teman dan partner diskusi?

    Dari pengamatan, Anda bisa mencoba menyesuaikan dengan kondisi yang membuat anak banyak berbicara/bercerita.

    2. Mengasah keterampilan
    Ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengasah keterampilan terkait komuninasi.
    ~ penjelasan tentang alasan. Sebelum melakukan kegiatan yang baru bersama anak, jelaskan tujuan dan maksud kegiatannya. Apa keuntungannya untuk anak. Misalnya, kalau kamu terampil berbicara dengan jelas, kamu bisa menyampaikan apapun yang kamu inginkan.

    ~ narasi. Minta anak untuk menceritakan ulang buku yang baru selesai dibaca. Proses ini bisa diawali dari buku yang sederhana. Jika anak mengalami kesulitan, bantu dengan mengajukan pertanyaan: apa judulnya? Siapa penulisnya? Siapa saja tokohnya? Bagaimana alur ceritanya? Apa yang terjadi dengan tokohnya? Apa yang terjadi pada saat adegan xxx?

    ~ presentasi. Sebagai bagian dari proyek kegiatan, minta anak melakukan presentasi yang menjelaskan proyeknya. Presentasi sebaiknya dipersiapkan dan memakai slide. Ajari anak membuat slide. Mulai dengan sederhana. Jadikan sebagai proyek keluarga sehingga anak merasa kegiatan presentasi itu penting. Libatkan seluruh anggota keluarga, misalnya menjelang tidur malam atau di akhir pekan.

    3. obrolan yang mendalam
    Diskusi bersama anak biasanya terjadi jika topik bahasannya penting, relevan, dan memang berharga didiskusikan; bukan hanya mencari-cari. Juga, orangtua memiliki keterampilan untuk mengajukan pertanyaan follow-up sehingga obrolan/diskusi tidak berhenti.

    Contohnya:
    ~ tanya-jawab mengenai lokasi di perjalanan. “Eh, kak kita belajar tebak-tebakan supaya kamu tahu nama daerah yang kita lewati. Ini nama daerahnya apa?” Jika anak tidak bisa menjawab, sebutkan nama daerah itu. Ulangi tanya-jawab itu dalam kesempatan perjalanan yang lain.

    ~ minta diajari (yang kira2 anak tahu jawabannya). “Kak, film dokumenter apa yang bagus di Netflix ya?”

    ~ kesukaan/pilihan. “Kak, kalau nanti kita jalan makan, kamu mau makan apa? Bagaimaan kalau kita coba makan yang berbeda? Restorang mana yang paling kamu sukai, mengapa?” .. lanjutkan jawaban anak dengan jawaban kesukaan/pilihan versi Anda dan tanyakan juga pada saudaranya (jika ada).

    Demikian kak, semoga membantu dan bisa memberikan ide.

    in reply to: Model & Metode Homeschooling #6802
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Dewi,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Kita bisa memilih keputusan apapun, tetapi kita tidak bisa melepaskan diri dari konsekuensi dari keputusan yang diambil.

    Melakukan homeschooling tanpa kurikulum dan mendaftar PKBM (menjalani belajar dengan kurikulum) adalah 2 hal yang saling bertolak-belakang. Jika ingin menjalani HS tanpa kurikulum dan belajarnya “suka-suka”, maka tidak akan bisa mendapat ijazah. Kalau mau ijazah, anaknya dinilai dari kemampuan apa?

    Jika ingin mendapatkan ijazah, berarti pasti ada materi belajar seperti “sekolah” yang perlu dilakukan.

    Jadi, proses yang perlu dilakukan adalah mencari titik temu yang memungkinkan.

    1. Cari PKBM yang fleksibel
    Jika mau mencari ijazah Paket, anak perlu didaftarkan ke PKBM. Cari PKBM yang fleksibel dan tidak ketat dalam hal proses belajar dan penilaian. Jangan pilih PKBM yang ketat dan prosesnya seperti sekolah. Syukur2 jika PKBM bisa menerima portofolio/dokumentasi kegiatan belajar, bukan hanya kelas online dan mengerjakan soal. Salah satu yang bisa dijajagi adalah PKBM Piwulang Becik. PKBM lain mungkin banyak.

    Jadi, tugas pertama Anda adalah mencari PKBM yang fleksibel.

    2. Jelaskan kondisi Anda
    Mendapatkan pendidikan 9 tahun adalah hak setiap anak. Jadi, proses terdaftar di PKBM mestinya tidak masalah. Demikian pun proses mendapatkan ijazah.

    Agar PKBM bisa memfasilitasi anak Anda, jelaskan kondisi anak Anda yang mengalami gangguan belajar. Jelaskan bagaimana caranya supaya anak tetap bisa terdaftar dan berproses hingga nanti mendapatkan ijazah Paket.

    3. Fokus pada stimulasi anak
    Lakukan proses stimulasi anak. Bimbing anak untuk terampil dan mandiri mengurusi dirinya. Belajar itu bukan hanya tentang mata pelajaran. Berikan anak bekal hidup yang membantunya untuk nanti hidup di masyarakat.

    Paparkan anak dengan hobi dan aneka kegiatan. Bekali anak dengan keterampilan hidup (life skills). Kenali kekuatan anak dan terus fokus menstimulasi kekuatan anak (bukan kelemahannya).

    4. Dokumentasikan
    Dokumentasikan proses dan hasil belajar dan kegiatan anak. Catat kegiatannya, apa yang dilakukan anak, output dan pertumbuhannya. Laporkan dokumentasi kegiatan belajar anak ini ke PKBM.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Proses Pengembangan Keterampilan #6807
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Henny,

    Terima kasih atas pertanyaannya.

    Saya agak susah menjawab pertanyaan Anda karena informasinya yang terbatas. Hanya ada informasi tentang masalah dan tidak ada konteks menurut analisis Anda mengapa masalah itu terjadi.

    Sebelum masuk ke ide penyelesaian dan solusi, penting sekali untuk memahami konteks keseharian yang mungkin menjadi penyebab masalah.

    Ada kasus begini, kak.

    Ada seorang Ibu yang merasa dia sudah berbicara dengan anak, sudah mengajak anak, sudah bertanya pada anak; tetapi anaknya selalu resisten dan menjawab apapun yang dikatakan Ibunya.

    Secara teori tertulis, Ibunya sudah melakukan proses yang seakan-akan sudah betul. Tapi yang tidak terlihat dan terkatakan adalah suasana yang diciptakan Ibu tersebut saat berinteraksi dengan anak. Ternyata, anaknya merasa Ibu terlalu dominan, kalau berkata selalu menasihati, terlalu menuntut anak, tidak apresiatif, gemar mengkritik, serta tidak memberikan rasa yang nyaman.

    Ketika bertanya kepada anak pun sang Ibu bukan untuk mendengarkan anak, tetapi bertanya dengan mengeluh. Ketika anaknya menjawab jujur, Ibu bukan menerima penjelasan anak sebagai modal untuk perbaikan, tetapi bersikap defensif.

    Akibatnya, yang terjadi adalah resistensi anak terhadap apapun yang disampaikan oleh Ibunya.

    Yang tidak disadari oleh Ibunya ketika bercerita tentang masalah yang dialami bersama anaknya adalah: sang Ibu tidak menyadari bahwa pola komunikasi dan interaksinya mengakibatkan rasa tidak nyaman bagi anak. Ada energi tidak nyaman yang dilontarkan oleh Ibu.

    Itu tadi hanya ilustrasi untuk menunjukkan bahwa konteks di lapangan berpengaruh penting untuk menyelesaikan masalah. Selama Ibu tidak mengubah energi, pola komunikasi dan tidak menerima sudut pandang anak dengan tulus, konflik itu akan terus terjadi.

    Nah, sekarang kita bahas pertanyaan kak Henny.

    1. Kegiatan Dapur
    Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali penyebab anak tidak tertarik lagi melakukan kegiatan di dapur. Apa refleksi Anda?

    ~ Apakah ada kegiatan lain yang lebih menarik bagi anak dibandingkan kegiatan memasak? => berarti perlu dihadirkan pengalaman memasak yang lebih asyik

    ~ Apakah anak pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan saat berkegiatan di dapur? Pengalaman buruk itu bisa macam2: kena panas minyak goreng, terpercik air panas, luka kena pisau, dimarahi karena melakukan kesalaham, dll => berarti perlu disembuhkan dulu pengalaman buruknya

    ~ Apakah kegiatan memasak terlalu menjadi beban bagi anak? => berarti ekspektasinya diturunkan, kegiatannya disesuaikan dengan kesenangan anak

    2. Pekerjaan rumah
    Latihan melakukan pekerjaan rumah perlu dilihat sebagai proses belajar dan menjadi sukacita, bukan beban. Itu artinya, kalau anak belum mampu ya jangan dipaksa. Minta anak melakukan hal yang memang sesuai kemampuannya, terutama yang berhubungan dengan kepentingan dirinya sendiri.

    Berterima kasihlah dan apresiasilah kakak setiap kali kakak melakukan pekerjaannya yang meringankan beban orangtua. Jadilah orangtua yang murah hati untuk memberikan apresiasi, bukan sibuk menuntutkan.

    Tentang pekerjaan rumah ini, salah satu kuncinya memang keadilan (fairness). Jika anak merasa diperlakukan tidak adil, proses ini akan sulit dilakukan. Pastikan bahwa seluruh anggota keluarga berbagi peran (bukan berbagi beban). Ibu, ayah, dan seluruh anggota keluarga lain berbagi peran. Adik pun diberikan peran dan jika dia belum bisa, maka orangtua terlibat untuk membantunya.

    Juga, jangan terlalu rigid dalam pembagian peran. Sesekali orangtua membantu anak melakukan tugas kakak, sesekali ayah membantu Ibu, sesekali Ibu membantu ayah, dst. Itu adalah gesture untuk menunjukkan bahwa urusan rumah ini diselesaikan bersama-sama, bukan saling menuntut orang lain melakukan kewajibannya.

    Supaya tidak hanya dilihat sebagai kewajiban dan beban, orangtua perlu menjadi teladan untuk melakukan kegiatan rumah ini dengan sukacita. Orangtua mengekrespresikan kebahagiaan saat selesai memasak, saat selesai menyapu, dan lain-lain.

    “Alhamdulillah, puji syukur, rumah sudah bersih.”
    “Alhamdulillah, puji syukur masakan sudah selesai dan siap dinikmati.”

    Energi sukacita dan kebahagiaan ini akan menular pada anak-anak.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Apa Itu Pembelajar Mandiri #6808
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb.

    Halo kak Ina,

    Kami biasanya tidak menggunakan durasi sebagai acuan, karena setiap anak unik. Kebetulan datanya juga tidak ada, ini justru menjadi karunia karena kita tidak perlu mengikuti standar eksternal. Kita bisa fokus pada keunikan anak kita.

    Ada anak usia 12 tahun sudah mandiri. Ada anak usia 17 tahun belum mandiri. Semuanya sangat tergantung stimulasi dan keunikan anak.

    Jadi, lebih baik fokus kita adalah kapasitas dan stimulasinya anak.

    Awali prosesnya dengan:
    1. Kenali anak sedang ada di posisi/level mana
    2. Lakukan peran sesuai dengan level kemandirian anak
    3. Secara bertahap, berikan stimulasi untuk menaikkan level kemandiriannya
    4. Lakukan ini secara terus-menerus
    5. Refleksikan kondisi di lapangan. Jika anak belum mampu, bertahanlah dulu di level yang sesuai (jangan buru-buru).

    Ingat, kita tidak sedang berlomba dengan siapapun. Kita sedang menemani anak-anak untuk bertumbuh optimal sesuai kecepatan dirinya.

    Goalnya adalah anak terus bertumbuh dan merasa nyaman (tidak stress).

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Pengalaman Mengelola Jadwal Homeschooling #6810
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Athia,

    Kegiatan lintas-pelajaran berarti berbasis tema/objek tertentu, kemudian kita mengaitkannya dengan mata pelajaran sesuai kemampuan anak atau tujuan yang hendak diraih. Prosesnya tidak harus dengan Googling, tapi kita (orangtua) yang mengaturnya sendiri.

    Contoh, tema: ikan. Anak usia 6 tahun.

    Dari ikan, proses belajar yang bisa dilakukan:
    ~ mengamati ikan, tanya-jawab tentang ikan. Orangtua meminta anak bercerita tentang ikan. Ini adalah proses belajar: mengamati (sains), bercerita (bahasa Indonesia), berimajinasi (kreativitas), menghitung ikan (math), dll
    ~ menggambar ikan. Anak belajar kreativitas dan seni.
    ~ mengerjakan worksheet bergambar ikan: tracing, menggambar, mewarnai, dll

    Proses belajarnya bisa spontan (biasanya dilakukan melalui mengobrol) atau direncanakan (orangtua merancang jenis2 kegiatan yang dilakukan dengan tema ikan).

    Dalam praktik HS, proses belajar seperti ini biasanya sering dilakukan dalam bentuk2 sederhana. Prosesnya dilakukan dengan mengobrol dan tanya-jawab bersama orangtua.

    Misalnya:
    ~ sedang jalan pagi, terus mendiskusikan tentang awan dan hujan, pelangi, burung, dsb.
    ~ naik motor: mendiskusikan tentang rambu lalu lintas, etika berkendara, nama2 lokasi yang dilewati, dll.

    Strategi belajar ini disebut belajar tematik (Thematic-learning). Kakak bisa mempelajari lebih mendalam di kelas Strategi Belajar Homeschooling:

    https://member.rumahinspirasi.com/courses/strategi-belajar-homeschooling/lessons/thematic-learning/topic/belajar-tematik/

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Tips Pengembangan Pembelajar Mandiri #6811
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Martha,

    Terima kasih pertanyaannya. Kondisi yang Anda alami itu cukup sering terjadi, terutama pada anak-anak yang sebelumnya bersekolah dan kemudian mulai menjalani homeschooling. Ini adalah bagian dari proses transisi yang biasa terjadi dalam homeschooling.

    Proses ini tidak mudah bagi anak dan membutuhkan adaptasi. Sebab, selama bertahun-tahun dia tidak pernah ditanya mau melakukan kegiatan apa. Anak hanya disuruh menjalani apapun yang diperintahkan.

    Nah, dalam proses transisi anak-anak agar menyadari bahwa dia memiliki hak untuk menentukan kegiatan belajarnya sendiri, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:

    1. Buat daftar dan jenis kegiatan
    Buatlah jenis-jenis kegiatan yang bisa dilakukan anak. Tuliskan sebanyak-banyaknya, misalnya 20-30 jenis kegiatan yang bisa dipilih anak.

    2. Buat kesepakatan kegiatan
    Jika anak belum bisa, orangtua memberikan contoh jadwal kegiatan yang bisa dilakukan anak. Tentukan 3-5 kegiatan dalam 1 hari. Ambil dari daftar kegiatan yang sudah dibuat sebelumnya. Diantara jadwal itu, masukkan 1 kegiatan yang berbeda dengan sekolah dan disukai anak (tujuannya agar anak tahu bahwa jadwal kegiatan bisa berbeda dengan jadwal sekolah dan dia bisa memilih kegitan yang disukainya).

    3. Tulis dan tempel jadwal di dinding yang mudah dilihat
    Setiap pagi, tanyakan pada anak apa jadwal kegiatannya hari ini. Saat siang hari, tanyakan pada anak apa yang sudah dikerjakan dan bagaimana rencana sisanya. Saat sore, cek lagi agar semua jadwal terpenuhi.

    4. Lakukan ini sepanjang minggu
    Ulangi langkah ke-3 setiap hari selama seminggu. Ini proses yang berat karena banyak orangtua berharap anak sudah bisa jalan sendiri. Pada kenyataannya, di lapangan anak belum bisa dan belum terbiasa sehingga tetap perlu diingatkan setiap hari.

    5. Diskusikan bersama di akhir minggu
    Setelah berjalan seminggu, diskusikan bersama anak jadwal yang sudah dibuat. Buka lagi daftar ide kegiatan. Diskusikan bersama apa yang mau ditambahkan, diperbaiki, dikurangi. Ulangi lagi prosesnya dengan menulis jadwal dan mengawal pelaksanaannya setiap hari.

    Demikian proses awalnya, kak. Proses semacam ini membutuhkan waktu beberapa bulan (beda-beda setiap anak). Dari proses memberikan contoh dan diskusi, anak akan belajar secara bertahap cara membuat jadwal.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Manajemen Proses Belajar #6814
    Aar
    Keymaster

    Kak Athia,

    Pembahasan lebih detil tentang 4 jenis belajar ini memang tidak kami bahaskan lebih detil di bagian manajamen proses belajar dengan asumsi materinya sudah dibahaskan dalam mindset homeschooling.

    Podcast pembahasannya ada di sini kak https://member.rumahinspirasi.com/courses/menyiapkan-pembelajar-mandiri/lessons/membangun-keterampilan-belajar/topic/podcast-mengembalikan-makna-belajar/

     

    Dalam konteks manajemen proses belajar homeschooling, intinya begini:

    ~ jangan membayangkan proses belajar hanya tentang transfer ilmu pengetahuan kepada anak seperti yang biasa dijalani di sekolah konvensional. Jika hanya fokus memahami belajar hanya sebagai transfer ilmu, itu akan membuat proses homeschooling menjadi kurang fleksibel dan lebih sulit dijalani.

    ~ oleh karena itu, orangtua perlu bisa memandang belajar sebagai proses yang lebih luas. Banyak proses dan kegiatan lain yang dilakukan anak yang merupakan proses belajar anak, tapi tak dianggap sebagai proses belajar oleh orangtua. Anak menekuni hobi, anak berpetualang melakukan perjalanan, anak main bersama teman-temannya, menyapu, dll. Semua itu juga proses belajar bagi anak. Jika kita bisa melihat proses2 seperti itu sebagai proses belajar, hati kita akan menjadi lapang. Kita tak hanya menuntut anak mengerjakan worksheet saja. Dengan sudut pandang itu, proses homeschooling menjadi lebih mudah dijalani.

    ~ 4 jenis belajar menurut UNESCO adalah:
    (-) learn to be (belajar mengenal diri): anak menekuni hobi, mengenal suka/tidak, kekuatan/kelemahan, mengenali cara memotivasi diri, dll
    (-) learn to know (belajar memahami): ini yang biasanya dilakukan di sekolah. Dalam konteks HS, kita perlu menambahkan kualitas dengan menghubungkan antara yang dipelajari dengan kehidupan sehingga proses belajarnya lebih bermakna
    (-) learn to do (belajar keterampilan): anak belajar keterampilan keras (menggunakan alat: mesin, alat masak, motor/mobil, software, dll) dan keterampilan lunak (komunikasi, manajemen, kreativitas, kolaborasi, dll)
    (-) learn to live together (belajar hidup bersama): anak bisa menerima teman/orang yang berbeda dengan dirinya dan bisa berkolaborasi untuk meraih tujuan bersama; proses belajarnya dilakukan melalui pramuka, menjadi pengurus organisasi, aktif di komunitas, dll.

    Demikian kak, semoga membantu.

Viewing 15 posts - 526 through 540 (of 766 total)
Scroll to Top