Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 511 through 525 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Persiapan Awal Homeschooling Usia Dini #6747
    Aar
    Keymaster

    Terima kasih sharingnya kak.

    Penjelasan yang cukup lengkap sangat membantu saya memahami situasinya.

    Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan sebagai bahan masukan kak Indriana.

     

    1. Bonding Ayah & Bunda

    Betul sekali.

    Hal yang sangat mendasar dalam proses HS Usia Dini adalah membangun bonding dan kedekatan antara anak dan orangtua.

    Apa goalnya?

    Goalnya bukan menciptakan ketergantungan anak pada orangtua. Goalnya adalah membangun rasa aman dan nyaman pada anak.

    Jika anak merasa aman dan nyaman karena terpenuhi kebutuhan psikologisnya, itu menjadi pondasi penting untuk membangun kepercayaan diri anak. Jika anak percaya diri, dia akan berani mengeksplorasi dunia sekitarnya dan berinteraksi dengan orang lain secara bertahap.

    Apakah mungkin anak lengket pada orangtua, tetapi merasa tidak aman dan nyaman? Bisa. Ketika orangtua sering menakut-nakuti anak terhadap dunia luar, misalnya: “Jangan main di luar karena nanti kamu diculik.” “Jangan dekat-dekat dengan orang lain”. “Jangan ngobrol dengan orang asing karena berbahaya.” Dst.

    Kedekatan yang perlu dibangun bukan ketergantungan pada orangtua, tetapi rasa aman dan nyaman anak.

     

    2. Bonding dengan Keluarga & Sekitar

    Bagaimana jika anak takut atau tidak berani berinteraksi dengan saudara dan sekitar?

    Setiap anak memang memiliki fase yang berbeda-beda dalam hal kesiapan untuk berinteraksi dengan dunia luar (yang tidak terlalu dikenalnya).

    Kuncinya adalah:

    a. Stimulasi orangtua

    Orangtua perlu sering mengobrol dan mengenalkan sekitar pada anak untuk mengenalkan dan memastikan anak tahu bahwa dunia sekitarnya aman.
    “Nggak apa-apa kok main sama xxx (teman, tetangga, saudara).”

    Anak sebaiknya tidak dilepas, tapi secara bertahap orangtua mulai menjauh jika dirasa anak sudah merasa nyaman dengan teman mainnya.

    b. Mengajukan pertanyaan

    Saat anak tidak mau ditinggal atau tidak mau main bersama temannya sendirian, tanyakan kepada: “Apa yang kakak rasakan? Kakak takut? Bunda ada kok di sana sambil bekerja.”

    c. Berikan waktu untuk berproses

    Jika anak belum mau, jangan dipaksa dan diolok-olok atau dilabeli. Cegah juga pelabelan oleh oleh saudara/orang dewasa dengan sebutan “penakut, cengeng, dsb”. Jangan menambahi pelabelan dan penghakiman pada anak.

    “Bukan, kakak bukan penakut, cuma lagi pengin main sendiri saja. Nanti kalau sudah ada waktunya akan main bareng kok!”

    Berikan ruang bagi anak untuk berproses, tanyakan, dan berikan penjelasan pada anak agar merasa nyaman dan berani.

     

    3. Bepergian bersama orang lain

    Bepergian bersama orang lain adalah sebuah isu yang berbeda lagi. Agar anak mau bepergian dengan orang lain, harus dibangun tahapannya dulu, misalnya:

    a. Anak sudah kenal dan akrab sekali dengan kakek/nenek

    b. Anak bepergian sebentar bersama orangtua + kakek/nenek

    c. Anak bepergian sebentar (misalnya naik motor, jalan ke warung dekat) bersama kakek/nenek tanpa orang tua

    d. Anak sudah pernah menginap bersama orangtua di rumah kakek/nenek berkali-kali dan anak mendapatkan pengalaman menyenangkan selama di rumah kakek/nenek

    e. Anak baru bisa menginap di rumah kakek/nenek

    Jadi, tahapannya itu yang perlu dibangun. Apalagi usianya belum 5 tahun. Masih sangat wajar, kak.

     

    4. Pilihan keluarga

    Sangat difahami bahwa merintis usaha pasti membuat waktu kita banyak tersita untuk membangun dan meletakkan pondasi bisnis. Walaupun secara fisik kita di rumah, tetapi konsentrasi dan kesibukan mengurus bisnis pasti membuat perhatian terpecah.

    Tidak ada benar dan salah di sini, kak. Memastikan kebutuhan keluarga dan meletakkan pondasi ekonomi ke depan adalah hal yang penting. Membersamai anak secara penuh juga penting.

    Tergantung nilai-nilai keluarga kak Indriana.

    Jika mau HS, memang konsekuensinya adalah kebutuhan alokasi waktu. Yang dibutuhkan bukan hanya kualitas, tetapi juga kuantitas waktu bersama anak.

    Dalam pengalaman personal di keluarga, kami dulu memilih menyesuaikan pekerjaan dengan pendampingan anak. Proses bisnis memang tak berjalan terlalu kencang karena kami sangat mengutamakan pendampingan bersama anak-anak. Proses bisnis keluarga kami baru mulai lebih ditekuni saat anak-anak sudah lewat usia dini dan lebih mandiri.

    Tapi sekali lagi semua itu pilihan ya kak. Setiap pilihan ada konsekuensinya.

    Semogo jawaban2 ini membantu.

    in reply to: Persiapan Awal Homeschooling Usia Dini #6749
    Aar
    Keymaster

    OK kak Mia, kita akan bahas setehap demi setahap selama Kelas Online yaa..

    Cara mulai paling sederhana adalah melakukan kegiatan sehari-hari dengan mindful bersama bayi. Bayangkan bahwa kita tak akan mengirimkan dia ke PAUD dan TKm bahkan mungkin tidak bersekolah. Jadi, hati kita benar-benar hadir dan tercurah saat bersamanya.

    in reply to: Podcast Payung Hukum Homeschooling di Indonesia #6752
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Linda,

    1. Secara konsep NISN perlu dimiliki anak sejak dia sekolah (kelas 1). Itulah sebabnya pemerintah juga mendorong agar PKBM menerima siswa sejak kelas 1 SD. Tapi memang banyak PKBM yang masih dalam transisi dan baru menerima siswa mulai kelas 4.

    Jika anak HS dan terdaftar di PKBM mulai kelas 4, NISN akan dimulai di kelas 4 tersebut.

    Sepanjang tidak pindah ke sekolah saat kelas 1-3, semestinya tidak ada masalah.

    2. Lokai PKBM bisa di mana saja seluruh Indonesia, tidak harus sesuai domisili. Bisa lintas kota, lintas provinsi.

    Kami tinggal di Jakarta. PKBM anak-anak kami sejak dulu ada di Salatiga (Jawa Tengah). Konsekuensinya dulu waktu Ujian Kesetaraan anak-anak perlu pergi ke Salatiga. Sepanjang masa pandemi, semuanya online, termasuk ujian2 terkait Kesetaraan.

    Saat ini anak kami terdaftar di PKBM Piwulang Becik Salatiga. Peserta PKBM ini dari berbagai kota, bahkan dari luar negeri.

    Jadi, tidak ada masalah lokasi PKBM bisa di mana saja. Tinggal dipilih yang dirasa paling cocok dengan keluarga.

    3. Perpindahan PKBM statusnya seperti mutasi sekolah. Bisa dalam kota, antar-kota, bisa antar-provinsi. Untuk perpindahan/mutasi antar provinsi mengikuti syarat-syarat administratif yang berlaku pada saat itu.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Video Inspiratif: Ayah Berperan Penting dalam Parenting #6754
    Aar
    Keymaster

    Betul kak Mulya Sari, meneguhkan peran Ayah adalah salah satu PR di setiap keluarga.

    in reply to: Video Inspiratif: Anak Meneladani Orangtua #6755
    Aar
    Keymaster

    Terima kasih kak Mulya Sari,

    Anak-anak banyak belajar dengan menyerap dari sekitarnya. Orangtua dan lingkungan sekitar anak adalah referensi pertamanya tentang sikap dan perilaku.

    in reply to: eBook Menyiapkan Pembelajar Mandiri #6758
    Aar
    Keymaster

    Kak Suci,

    Tidak apa-apa kak. Itu bagian dari perkembangan emosi anak. Anak sudah ingin terlibat dan melakukan banyak hal seperti yang dilakukan orangtua & sekitarnya, tapi kapasitasnya masih terbatas. Dia kesal karena belum bisa melakukan seperti orang lain.

    Diterima saja proses ini sebagai bagian perkembangan emosi. Dibikin santai dan asyik.

    Selanjutnya fokus melakukan stimulasi untuk meningkatkan keterampilannya.

    Jika anak belum siap melakukan kegiatan bersama temannya, jangan didorong dan dipaksa. Mungkin dia takut gagal dan belum percaya diri.

    Yang bisa kita lakukan adalah terus melakukan kegiatan dengan hati bahagia dan berbinar. Jika anak ingin terlibat, berikan satu aspek yang mudah dan bisa dilakukan.

    Goal besar dalam tahap pertama ini adalah membangun kepercayaan diri anak dengan sering mendapatkan keberhasilan saat berkegiatan. Dari sudut pandang orangtua, berarti kita perlu menakar jenis kegiatan dan beban anak agar probalitas keberhasilannya tinggi.

    Demikian, semoga membantu.

    in reply to: Pengembangan Keterampilan Sosial #6760
    Aar
    Keymaster

    Kak Anissa,

    Sangat dipahami kondisinya, kak. Apalagi selama pandemi anak tidak banyak berinteraksi dengan orang lain secara intens.

    Ada 2 isu yang bisa dibahas di sini:

    ~ anak-anak yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap sebuah hal
    Ketika melihat sebuah hal di video/film/Youtube dan terlihat keren, anak membayankan hal tersebut mudah dilakukan. Ini terjadi pada craft, masakan, sulap, dan aneka hal lainnya. Anak belum tahu bahwa keahlian itu butuh waktu belajar dan berlatih yang sangat panjang. Dia merasa bisa, ingin mencoba, dan kemudian kecewa karena gagal.

    Nah, tugas orangtua adalah menemani dan membantu mengelola ekspektasi anak.

    “Keahlian karate itu memang tidak mudah dan perlu belajar, kak. Prosesnya belajarnya panjang, sedikit demi sedikit. Coba kita lihat jenjang belajar karate mulai sabuk putih, kuning, hijau, biru, sampai hitam. Itu prosesnya panjang dan bertahun-tahun. Kakak bagus pengin belajar karate/taekwondo. Bunda akan temani kalau kakak mau belajar setahap demi setahap. OK?”

    ~ anak introvert yang sedang belajar keterampilan sosial.
    Prosesnya memang lebih lambat karena anak introvert cenderung mengamati dulu sebelum masuk lebih jauh dalam satu lingkaran sosial. Oleh karena itu, sebaiknya anak tidak langsung dicemplungkan ke sebuah kegiatan yang berkomitmen. Biarkan dia melihat-lihat dulu, tenang-tenang. Jika anak memilih untuk mundur, berikan kesempatan.

    Supaya anak tidak merasa gagal, berikan ruang yang lebih santai dan peluang berhasilnya besar. Jangan langsung didorong berkomitmen dalam kegiatan bersama anak-anak lain.

    ~ membangun kepercayaan diri
    Jika kondisinya memungkinkan, akan sangat baik jika anak ditanya apakah ingin mencoba lagi.

    “Kakak masih mau mencoba lagi? Kalau mau, nanti Bunda temani. Semua hal memang dimulai dari sederhana dan kayaknya sulit. Seperti dulu kakak waktu kecil belajar jalan. Kakak harus merangkak dulu, tidak bisa langsung jalan. Kakak berdiri dan jalan pelan2. Kakak jalan dan jatuh. Tapi kakak tidak berhenti mencoba sehingga akhirnya kakak bisa berdiri dan berjalan dengan lancar.”

    Jika anak tidak mau, cari kegiatan lain yang lebih sesuai dengan anak. Goalnya adalah membangun kepercayaan diri anak dan agar dia merasa berhasil.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Pengembangan Keterampilan Profesional #6765
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Rudi,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Jenis kegiatan pengembangan anak sangat tergantung pada budaya di keluarga. Dalam contoh2 yang kami berikan pasti juga dipengaruhi oleh budaya di keluarga kami yang memang banyak menggunakan gawai dan Internet (karena kami pekerja digital).

    Ada 3 poin yang ingin saya sampaikan sebagai jawaban pertanyaan Anda:

    1. Mengasah profesionalitas tidak harus digital
    Banyak sekali kegiatan2 non digital yang bisa dilakukan untuk pengembangan anak. Sekali lagi, kebiasaan keluarga akan sangat mempengaruhi jenis kegiatan yang dilakukan anak. Hal-hal yang biasa dilakukan orangtua dengan sukacita, dikenalkan pada anak dan dilakukan bersama bisa ditingkatkan menjadi pintu masuk pengembangan profesional.

    Contohnya, memasak. Melibatkan anak memasak dan saat anak menikmati kegiatan memasak sangat bisa diasah skillsnya agar naik setahap demi setahap. Anak terampil bekerja dengan aman, staminanya meningkat, skills terkait jenis masakan terus meningkat seiring anak biasa melakukan kegiatan memasak bersama. Sesekali anak bisa ikut kegiatan kursus memasak bersama orangtua.

    Banyak orangtua yang juga melibatkan anak pada kegiatannya, misalnya:
    ~ orangtua yang biasa jadi trainer dan fasilitator. Anak sering diajak melakukan kegiatan sambil jalan2 dan menginap di hotel, orangtua menjelaskan kegiatannya, dan anak secara bertahap menjadi asisten sesuai kapasitas yang mungkin dilakukan oleh anak.
    ~ orangtua menekuni kegiatan bercocok tanam hidronik. Anak dilibatkan dan dijelaskan proses2 terkait bercocok tanam secara hidroponik, mulai membenih, mengatur kandungan air, perawatan, dll.

    Kuncinya ada pada pengintegrasian kegiatan orangtua dan anak. Ini adalah jalan yang paling efektif sekaligus murah. Anak tidak perlu kursus, materi dan proses belajar terjadi secara alamiah selama 24 jam, orangtua bisa membimbing anak bukan hanya dalam urusan teknis, tetapi juga dalam aspek2 lain terkait etos kerja.

    Tugas penting orangtua ada di sini, kak. Mencari area keahlian orangtua, yang ditekuni, dan bisa dilakukan bersama anak. Area itu tak harus pekerjaan profesional, tetapi bisa juga hobi yang sangat dikuasai ilmunya oleh orangtua.

    Jika tidak, proses yang dilakukan biasanya melibatkan pihak lain dalam bentuk2 kursus dll. Proses seperti ini tentu saja bisa dilakukan, terutama jika kegiatan yang diminati anak tidak dikuasai orangtua. Walaupun anak kursus, akan lebih baik jika orangtua tetap mencari kegiatan2 yang bisa dilakukan bersama anak untuk pengembangan kemampuan berkarya, terutama membangun etos kerjanya.

    2. Mengasah keterampilan profesional di bidang digital
    Karena setiap keluarga punya budaya penggunaan gawai dan kebijakan terkait gawai yang berbeda, hal pertama yang sebenarnya ingin saya ketahui adalah:
    ~ bagaimana pola pemakaian gawai/digital oleh orangtua? Proses produktif apa yang digunakan orangtua memakai gawai/digital? Apakah orangtua membuat video, membuat slide, melakukan foto, membuat podcast, dll?

    ~ bagaimana pola pemakaian gawai oleh anak selama ini? Gawai dipakai apa saja? Kapan gawai dipakai anak? Aturan main apa terkait yang Anda terapkan untuk anak-anak?

    Pertanyaan tentang kondisi saat ini penting saya sampaikan karena mempengaruhi kebijakan alamiah tentang gawai yang perlu dibuat oleh keluarga.

    Jika orangtua selama ini tidak melakukan proses produksi/profesional terkait digital/gawai, proses pembimbingan anak akan menjadi lebih sulit. Orangtua biasanya bisa “menyuruh” anak melakukan dan anak belum tentu melakukannya. Jika anak mengalami kesulitan, orangtua tidak bisa mendampingi.

    Dalam kondisi seperti ini, pilihannya ada 2:
    ~ orangtua belajar bersama anak sehingga bisa mendampingi dan memberikan petunjuk pada anak. Ini kondisi ideal yang butuh effort orangtua, tapi akan sangat membantu dalam proses pendampingan anak.

    “Yuk kak, kita sama2 belajar bikin foto yang cakep. Kita sama2 belajar food photography. Jadi, setelah kakak memasak, kita foto supaya hasilnya cakep.”

    “Yuk kita sama2 belajar bikin video. Ayah juga belum bisa, tapi ayah mau belajar. Kalau kita bisa bikin video cakep, kegiatan2 yang kita lakukan bisa divideokan dengan bagus.”

    ~ orangtua memilih kegiatan non-digital yang dikuasai sebagai pintu masuk pembimbingan profesionalitas. Jadi, kegiatan non-digital dijadikan sebagai pintu masuk mengasah kapasitas profesional anak.

    3. Kebijakan gawai di keluarga
    Secara umum, kebijakan penggunakan gawai terdiri 3 aspek:
    ~ apa yang boleh dimainkan (kurasi)
    ~ kapan boleh main (frekuensi)
    ~ berapa lama mainnya (durasi)

    Kebijakan ini harus dibuat dan dikomunikasikan bersama anak. Tak ada benar dan salah. Ukuran benar-salahnya adalah dampak pada anak dan keluarga:
    ~ apakah bikin happy?
    ~ apakah bikin produktif?

    Jadi, bisa diatur:
    ~ pemakaian bebas untuk hiburan
    ~ pemakaian produktif sesuai petunjuk dan kesepakatan bersama

    Jangan semuanya produktif karena pasti tidak asyik. Tapi juga jangan semuanya hiburan karena bisa membuat anak tidak terlatih memanfaatkan gawai secara produktif.

    Begitu kurang lebihnya, kak.

    Semoga membantu.

    Jika ada pertanyaan lanjutan, silakan disampaikan.

    in reply to: Podcast Pengalaman Mengelola Jadwal Homeschooling #6766
    Aar
    Keymaster

    Kak Ana,

    Dua-duanya bisa, kak. Dipilih yang paling nyaman dan cocok untuk kondisi anak.

    Jika ditulis ulang semuanya, itu jadi latihan menulis dan membangun kesadaran tentang apa yang akan dilakukan hari ini. Menulis ulang jadwal itu sendiri sudah masuk dalam proses belajar anak.

    Alternatif kedua, jadwal yang sudah rutin ditulis/diprint di awal. Yang dituliskan lagi adalah jadwal tambahan. Proses ini membuat kegiatan menulis jadwal menjadi lebih ringan.

    Pengalaman kami tentang jadwal ini tidak tunggal, berubah-ubah sesuai kondisi dan kebutuhan lapangan.

    Ada kalanya kami print dan anak tinggal cek saja. Ada kalanya ditulis ulang setiap hari semuanya. Ada kalanya yang ditulis hanya tambahannya saja. Ada kalanya pakai digital (bukan ditulis) memakai aplikasi Google Keep.

    Jadi variatif, tidak satu jenis pengalaman.

    Jangan lupa, jadwal itu adalah alat. Yang menjadi pegangan kita adalah tujuannya:
    ~ anak tahu arah kegiatannya
    ~ anak melakukan kegiatan belajarnya
    ~ anak terus bertumbuh sekaligus menikmati prosesnya

    Demikian, semoga membantu.

    in reply to: Evaluasi & Manajemen Keseharian Homeschooling #6769
    Aar
    Keymaster

    Kak Evry,

    Di usia berapapun, proses pengenalan metode dan alat belajar baru perlu disertai dengan pendampingan. Apalagi kalau anak baru menjalani homeschooling dan selama ini terbiasa disuapi dalam proses belajarnya.

    Tugas orangtua mendampingi dan memastikan anak tahu yang dilakukan. Jika anak sudah tahu yang dilakukan, orangtua memastikan selalu ada dan membantu jika anak mengalami kesulitan.

    Untuk menata pola keseharian, orangtua memastikan anak terbiasa menggunakan alat belajar seperti Reading Eggs dan Khan Academy secara teratur (dengan pendampingan penuh orangtua). Itu berarti, kegiatannya dijadwalkan dan didampingi.

    Demikian, semoga membantu.

    in reply to: Evaluasi & Manajemen Keseharian Homeschooling #6770
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Evry,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Problem yang Anda alami tidak asing dan sering dialami oleh para orangtua yang baru memulai homeschooling.

    Mengapa?

    Karena ada asumsi dan ekspektasi yang kurang tepat terkait homeschooling dibandingkan pengalaman anak bersekolah sebelumnya.

    Banyak yang membayangkan bahwa memindahkan anak dari sekolah ke homeschooling adalah serupa dengan memindahkan dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Padahal, homeschooling dan sekolah adalah 2 sistem yang sangat berbeda.

    Orangtua berharap anak bisa membuat jadwal dan kesepakatan, menaati jadwal yang sudah dibuat, orangtua membelikan buku atau materi belajar, belajar secara mandiri tanpa pendampingan orangtua, anak berinisiatif dan menikmati proses kesehariannya.

    Itu harapannya.

    Kenyataannya:
    ~ anak merasa sedang liburan
    ~ anak hanya tertarik bermain, nonton, dan main game
    ~ anak tidak tertarik belajar
    ~ anak tidak punya inisiatif
    ~ anak tidak bisa menjawab apa yang ingin dipelajari (karena dia tidak suka semua materi belajarnya)
    ~ anak tidak mengikuti jadwal dan kesepakatan yang dibuat
    ~ anak harus terus diingatkan untuk belajar

    Ini kondisi yang sering dialami oleh para orangtua HS dan memang beginilah yang biasa terjadi. Jika kak Evry mengalaminya, kakak tidak sendirian.

    Isunya bukan hanya tentang pembuatan jadwal, tetapi lebih mendasar. Ini tentang perbedaan tujuan2 dan cara kerja HS dibandingkan sekolah. Selama kakak tidak mengubah mindset tentang homeschooling, problem ini akan terus terjadi.

    Lalu apa yang harus dilakukan?

    Jangan memindahkan sekolah ke rumah
    Ini pesan paling mendasar yang ingin saya sampaikan di awal. Sekolah dirancang untuk fokus mendorong anak menguasai materi (konten) belajar dan mensyaratkan harus ada guru. Anak dipaksa mengikuti jadwal dan materi belajar yang dianggap penting, tidak peduli apakah anak suka atau tidak suka. Hubungan sekolah/guru dan anak bersifat formal, anak mau tidak mau harus menurut.

    Jika Anda memindahkan model sekolah ke rumah, kemungkinan kegagalannya sangat besar karena suasana di rumah informal. Anak selalu melakukan negosiasi bersama orangtua. Materi pelajaran yang ada di buku tidak menarik dan korelasinya dengan hidup anak sangat sedikit. Anak tidak pernah diminta inisiatif sehingga dia tidak terampil berinisiatif, membuat jadwal, dan berkomitmen. Anak juga tidak bisa belajar sendiri karena selama ini selalu “disuapi”. Dia hanya perlu datang dan buku mulut; semua materi belajar sudah disiapkan oleh guru dan disuapkan kepadanya.

    Modifikasi minimal ala sekolah
    Jika kakak tetap ingin menggunakan model sekolah (karena ini satu-satunya model yang terbayang dan pernah dialami), maka tugas kakak adalah mencarikan guru untuk anak. Guru itu bisa Anda sendiri, tempat les, atau guru privat. Fungsinya adalah mengajari.

    Modifikasi cara belajar
    Jika Anda siap untuk berproses lebih lanjut dalam homeschooling, maka Anda mulai mencari cara belajar yang lebih cocok dengan konteks rumah/keluarga dan lebih cocok dengan anak. Tujuannya tetap menguasai konten, tapi metode belajarnya diubah. Ini berarti Anda mulai memakai pola belajar tematik, project-based learning, game-based learning (materinya ada di kelas Strategi Belajar Homeschooling).

    Termasuk modifikasi cara belajar adalah mulai memakai aplikasi belajar, misalnya Reading Eggs, Khan Academy, dll. Untuk proses ini, peran aktif orangtua masih sangat krusial. Yang memimpin proses belajar adalah orangtua. Anak masih butuh pendampingan besar dari orangtua, tidak bisa dilepas begitu saja, terutama di masa awal sampai anak mendapatkan pola belajarnya.

    Modifikasi tujuan
    Jika Anda siap menyelami homeschooling lebih dalam, Anda bisa mengubah tujuan2 pendidikan. Sekolah itu sangat akademis. Kegiatan non-akademis hanya sebagai tambahan. Padahal, hidup bukan hanya urusan akademis. Keberhasilan tak hanya ditentukan dengan urusan akademis. Pemain bola, penari, penyanyi, fotografer, dll adalah contoh profesi2 yang tidak terkait secara intens dengan keberhasilan akademis.

    Nah, homeschooling memungkinkan kita memodifikasi tujuan. Anda bisa mengatur porsi akademis dan pengembangan diri, dari 100% akademis (sekolah); menjadi proporsi2 lain sesuai visi pendidikan Anda, misalnya:
    ~ 70% akademis, 30% pengembangan diri
    ~ 50% akademis, 50% pengembangan diri
    ~ 20% akademis, 80% pengembangan diri

    Di keluarga kami, polanya adalah 10% akademis dan 90% pengembangan diri.

    Apa itu kegiatan pengembangan diri?

    Pengembangan diri berarti pengembangan minat dan bakat, pengembangan keahlian, pengembangan keterampilan dasar, pengembangan soft skills, dan lain-lain (yang tidak terkait langsung dengan pelajaran/akademis). Contohnya, Duta menekuni catur dan Tata menekuni dunia grafis.

    Jika akademis 10%, itu berarti alokasi waktu belajar akademis tidak banyak. Yang penting anak lulus ujian Paket, tidak punya target nilai. Seandainya tidak punya ijazah Paket bagi kami juga tidak apa-apa.

    Modifikasi pola-pola belajar
    Jika Anda mau lebih mendalam lagi memanfaatkan homeschooling, Anda bisa mengintegrasikan homeschooling dengan kehidupan. Kegiatan belajar diintegrasikan dengan kehidupan keluarga. Misalnya: anak terlibat aktif dalam urusan rumah tangga, belajar keterampilan yang sesuai dengan bisnis keluarga dan pola2 keseharian keluarga. Orangtua yang berprofesi peternak memanfaatkan kegiatan beternak sebagai kegiatan belajar anak, pebisnis online menggunakan bisnis online sebagai materi belajar anak.

    Ada juga keluarga yang memilih travelschooling, belajar dengan travelling.

    Nah, variasi homeschoolingnya bisa sangat lebar dan bentuk2nya sangat berbeda dibandingkan model sekolah.

    Demikian kak, semoga jawaban ini membantu kakak memetakan kondisi homeschooling yang sedang kakak hadapi.

    in reply to: Podcast Pengalaman Mengelola Jadwal Homeschooling #6773
    Aar
    Keymaster

    Kak Ana,

    Fungsi jadwal adalah alat komunikasi dan membantu anak agar bisa menjalani harinya dengan terarah.

    Ketika semua rencana dituliskan, itu akan membuat semuanya menjadi kelihatan: kegiatan terlalu banyak (sehingga perlu dikurangi), terlalu sedikit (sehingga perlu ditambah), atas dirasa cukup.

    Dinamika jadwal di keluarga kami sangat beragam. Ada kalanya jadwal dibuat mingguan, ditulis, dan tidak berubah. Ada kalanya jadwal dibuat mingguan, ditulis, dan ada banyak revisi harian (menyesuaikan dengan kondisi). Ada kalanya tidak ada jadwal khusus mingguan sehingga jadwal/checklist dibuat setiap hari.

    Mengapa ditulis lagi setiap hari? Itu biasanya terjadi jika ada perubahan/revisi/penambahan/pengurangan pola umum mingguan. Menulis target di pagi hari juga bisa membuat anak lebih mindful dengan rencana hari itu.

    Jika anak tidak mau menulis, terus bagaimana?

    Dikembalikan lagi pada tujuannya. Apa tujuan kakak menyuruh anak menulis? Apa akibatnya jika dipaksa? Apa akibatnya bagi anak jika dia tetap tidak mau?

    Semua itu hanya alat dan aksi kita tergantung kondisi di lapangan.

    Di keluarga kami, ada kalanya anak2 tidak bikin rencana mingguan. Ada kalanya anak2 kegiatannya berjalan otomatis tanpa ditulis. Kami juga terkadang tidak sempat mengecek karena ada kesibukan pekerjaan.

    Itu adalah dinamika lapangan.

    Yang penting maju dan terus berproses untuk bertumbuh kak. Kembali lagi, yang dipegang adalah tujuannya. Jadwal adalah alat untuk meraih tujuannya. Kalau dirasa efektif, dia dipakai. Kalau tidak efektif, kita perlu mencari alat lain yang memudahkan kita meraih tujuan.

    in reply to: Podcast Rutinitas Pagi #6775
    Aar
    Keymaster

    Kak Ana,

    Morning routine itu tujuannya adalah membangun energi di pagi hari. Seperti men-charge diri sendiri sebelum melakukan kegiatan keseharian kita.

    Biasanya beberes rumah termasuk dalam kegiatan keseharian yang dilakukan setelah morning routine.

    Pertanyaannya: apakah melakukan beberes rumah membuat kakak jadi bahagia dan berenergi? Jika iya, mungkin saja beberes rumah dimasukkan sebagai salah satu morning routine.

    Biasanya yang menjadi kegiatan morning routine adalah:
    ~ sholat, ibadah, doa pagi, membaca kitab suci, meditasi
    ~ membuat checklist kegiatan harian
    ~ melakukan journaling, misalnya merefleksikan kegiatan, membuat jurnal syukur, membuat dokumentasi singkat anak
    ~ olahraga ringan: stretching, yoga, jalan pagi, aerobik, dll
    ~ belajar: mendengarkan podcast/menonton video inspiratif

    Durasi waktunya sekitar 30 menit – 1 jam sejak bangun tidur.

    Kegiatan2 tersebut biasanya membuat kesadaran penuh, segar dan berenergi sehingga siap menjalani hari dengan sukacita.

    Demikian, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Keterampilan Melayani #6778
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Fadilah,

    Terima kasih sharingnya.

    Ada 2 proses yang perlu diperhatikan berkaitan dengan membangun keterampilan melayani:

    1. Membangun kebiasaan baru
    Pola yang Anda lakukan itu bisa dilakukan. Anak terbiasa baru membuka HP setelah menyelesaikan kewajibannya membantu pekerjaan rumah tangga

    2. Membangun alasan
    Supaya anak tidak merasa pekerjaan rumah tangga menjadi beban yang ingin ditinggalkan, tahapan selanjutnya adalah memberikan makna. Anda perlu sering mengobrol bersama anak mengapa mereka perlu melakukan pekerjaan rumah tangga.
    ~ Apa manfaatnya bagi mereka?
    ~ Apa kontribusi yang diberikannya pada keluarga?
    ~ Apa manfaatnya saat nanti mereka dewasa?

    3. Teguhkan dengan apresiasi & pengingat
    Selalu apresiasi proses mereka. Lihatlah sebagai proses belajar. Anak mungkin lupa, melakukan kesalahan, pekerjaan tidak rapi, dan sebagainya. Jadi, lihatlah proses ini sebagai proses bertumbuh anak.

    Ingatkan jika mereka lupa (jangan diomeli). Berikan masukan teknis dan contoh jika mereka pekerjaannya kurang rapi.

    Demikian kak, semoga menjawab.

    in reply to: Membangun Budaya Belajar #6781
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Yulianti,

    1. Cinta yang berani
    Saat melakukan hal yang menurut kita baik untuk membuat anak mandiri, kuatkan hati. Jangan mundur karena anak merengek. Jika ada masalah, fokus mencari solusi teknis. Misalnya: sediakan alat kegiatan siap pakai (balok, kertas, gunting, dll yang bisa membantu anak mengisi waktunya berkegiatan sendiri).

    2. Mendidik anak tunggal
    Kondisi yang perlu diperhatikan pada pengasuhan anak tunggal adalah menyiapkan mereka untuk hidup secara baik di masyarakat.

    Itu berarti,

    a. Perlakuan adil dan memandirikan
    Anak mendapat perlakuan adil di rumah, tidak diistimewakan. Anak memiliki kewajiban2 terkait dirinya sendiri agar mandiri dan berkontribusi pada keluarga

    b. Mengasah keterampilan sosial
    Karena secara alamiah kondisi di rumah hanya dengan orangtua, anak butuh dipaparkan dengan kegiatan yang mengasah kemampuannya berinteraksi dengan orang lain. Kegiatan seperti ini harus dirancang dan diniatkan, bukan hanya dibiarkan mengalir saja.

    c. Tanggung jawab
    Ajari anak untuk bertanggung jawab pada hal-hal yang terkait dirinya sendiri. Latih anak-anak manajemen diri, misalnya: merencanakan kegiatan, membuat jadwal, melakukan pekerjaan rumah, dan lain-lain.

    Di luar itu, secara umum anak perlu dididik dengan tujuan-tujuan sama seperti anak lain.

    Demikian kak, semoga membantu.

Viewing 15 posts - 511 through 525 (of 766 total)
Scroll to Top