Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterHai kak Anisa,
Spirit utama dalam proses pengasuhan anak-anak kita adalah memilih yang terbaik (optimal) sesuai dengan kondisi kita masing-masing.
Nah, dalam upaya memilih itu, kita pasti memiliki banyak pilihan. Setiap pilihan memiliki konsekuensi masing-masing. Jika kita tak menyukai sebuah pilihan, kita harus membuat pilihan yang lain (tentu saja melekat dengan konsekuensi pilihan yang baru).
Kondisi ini juga berlaku dalam proses pendidikan.
1.
Yang disebut homeschooling adalah sebuah model di mana orangtua tidak mengirimkan anak ke lembaga sekolah, tetapi memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anaknya. Homeschooling hanyalah sebuah pilihan (opsi) diantara banyak pilihan lain.Jika Anda menemukan sekolah yang sesuai dengan visi keluarga Anda, tentunya itu hal yang sangat baik. Menyekolahkan anak adalah hal yang baik dan dilakukan oleh sebagian besar orangtua.
Kalau anak bersekolah dan orangtua melakukan kegiatan bersama anak, maka sebutannya adalah afterschooling atau parenting. Dan itu adalah hal yang sangat bagus sekali.
2.
Ketika menjalani homeschooling, intinya adalah orangtua yang bertanggung jawab. Teknis pelaksanaannya bisa sangat bervariasi. Mungkin dibantu saudara, mengundang guru, dll. Tapi intinya tetap, orangtua yang menjadi penanggung jawab dan perancang program anak, tidak menyerahkan begitu saja pada orang lain. Pada saat orangtua tak berkantor, orangtua aktif melakukan kegiatan bersama anak-anak karena kegiatan bersama orangtua itulah yang utama.3.
Lalu, apa pentingnya kita disebut homeschooling?Homeschooling hanyalah sebuah istilah saja. Tapi istilah itu harus digunakan sesuai tempatnya. Kalau tidak akan menyesatkan dan membingungkan.
Jika ingin homeschooling, memang ada konsekuensinya yaitu harus mau/bisa menginvestasikan waktu untuk berproses mendampingi anak-anak secara aktif karena itulah yang membedakan praktisi homeschooling dengan orangtua yang mengirimkan anak ke sekolah.
Tapi jika tak memilih homescholing, bukan berarti buruk, kan? Itu hanya pilihan saja, sebagaimana kita memilih jenis pekerjaan dan profesi yang berbeda-beda.
Aar
KeymasterHalo kak Rika,
Tidak mudah menjawab pertanyaan Anda karena proses-proses yang terjadi dalam homeschooling usia dini biasanya terbangun melalui interaksi informal yang terjadi bersama anak secara terus-menerus. Semakin banyak waktu yang dialokasikan bersama anak, semakin banyak stimulasi yang diperoleh anak dari orangtuanya. Jadi, memang tidak ada waktu khusus yang dialokasikan seperti jam sekolah di TK/Preschool.
Jadi, biasanya untuk anak usia dini pendampingan salah satu orangtua memang krusial untuk memberikan kualitas pada anak dalam hal: memberikan rasa aman & nyaman, membangun kebiasaan baik, serta melakukan stimulasi terkait keseharian.
Tapi kehidupan tidak berjalan secara ideal.
Yang bisa kita lakukan adalah mencari solusi optimal untuk keluarga kita. Apalagi dalam kondisi pandemi seperti saat ini anak juga tidak memungkinkan untuk masuk ke preschool.
Nah, apa yang bisa dilakukan untuk memberikan stimulasi optimal pada anak usia 4 tahun dengan kondisi keterbatasan waktu? Berikut ini beberapa ide yang mungkin bermanfaat bagi Anda:
~ memperkuat bonding & connection saat kondisi memungkinkan. Kapan kondisi yang memungkinkan itu: apakah bisa pagi sebelum bekerja + malam setelah pulang bekerja? Atau hanya malam pada waktu pulang bekerja?
~ berikan sentuhan-sentuhan personal saat Anda datang, misalnya: membawa “oleh-oleh” untuk anak. Oleh-oleh itu tak harus barang berharga, tetapi bisa menjadi pertanda perhatian Anda kepadanya, misalnya: kartu yang Anda buat di kantor, bunga yang Anda temukan di jalan, origami, makanan kecil, dsb.
~ manfaatkan waktu yang ada untuk membangun bonding dengan banyak mengobrol, bertanya dan mendengarkan ceritanya, membacakan buku cerita, kegiatan bikin2 balok, dan sebagainya.Tentu saja ini pasti melelahkan. Tapi itulah proses2 yang bisa dilakukan.
~ jika kondisinya memungkinkan, akan baik sekali jika pada saat pagi Anda sempat berinteraksi dengan anak: menjadi wajah yang pertama kali dilihat anak, dicium anak, dan melakukan kegiatan sederhana seperti sarapan bersama.
~ jadikan pengasuh sebagai partner Anda. Jelaskan nilai-nilai penting Anda terkait pengasuhan, berikan bekal pada pengasuh berkaitan keseharian yang perlu dilakukan bersama anak. Bekali dengan materi siap pakai yang bisa mempermudah keseharian. Pantau prosesnya dengan cara mendengarkan cerita anak pada saat Anda bertemu pada malam hari.
~ manfaatkan Checklist Parameter Perkembangan Anak sebagai panduan untuk Pengasuh dan Anda saat melakukan kegiatan dan stimulasi bersam anak.
Demikian kak Rika, semoga jawaban ini membantu dan bermanfaat buat Anda.
Aar
KeymasterKak Joni,
Kondisi pandemi ini menjadi kesulitan bagi semua orang di seluruh bumi ini. Kita sedang menghadapi problem generasi berkaitan dengan pengembangan keterampilan sosialnya.
Untuk anak usia dini, sebenarnya isunya tidak terlalu kuat. Kebutuhan utama komunikasi dan social skills anak usia dini masih berfokus di keluarga. Jadi, fokus dulu pada aspek ini:
~ Orangtua memperbanyak main dan berkegiatan bersama anak secara mindful
~ Baca buku cerita sebelum tidur
~ Banyak mengobrol dan melatih keterampilan komunikasi anak
~ Sering bertanya pada anak untuk mendorong anak menyampaikan pendapat dan pikirannyaProses-proses semacam ini sangat krusial.
Untuk komunikasi dengan orang lain, bisa dicoba mengobrol online dengan kakek/nenek, dan para sepupu/om/tante.
Jika kondisinya memungkinkan, nanti bisa bikin klub kegiatan ngobrol2 bersama anak sebayanya melalui online chat seperti Zoom, Whatsapp Call, dsb..
Itu hal2 yang paling bisa kita lakukan.
Semoga pandemi reda dan anak-anak kita bisa bermain lagi bersama teman-teman sebayanya.
Aar
KeymasterTerima kasih sharingnya.
Anda sama sekali tidak terlambat untuk anak ke-3, terutama dalam kaitan belajar membaca.
Menurut para ahli, bahkan proses belajar membaca itu sebaiknya dimulai saat usia 7 tahun (saat jaringan otak logik/kiri dan visual/kanan terhubung) karena proses belajar membaca melibatkan proses visual dan logik. Jika anak belajar membaca secara visual sejak usia dini, bisa terjadi prosesnya tidak berkembang secara optimal dalam jangka panjang karena anak terbiasa membaca secara visual dan pada saat besar susah membaca bacaan/teks yang kompleks.
Jadi, bisa membaca bukan tujuan utama belajar. Dia adalah awal. Dan awal itu tidak boleh merusak proses-proses yang dibutuhkan anak dalam jangka panjang. Jangan sampai anak mengalami pengalaman buruk dan trauma saat belajar membaca sehingga benci kegiatan membaca (walaupun pada akhirnya bisa membaca).
Proses belajar membaca memiliki jenjang:
1. Belajar membunyikan huruf/kata/kalimat
2. Memahami kalimat dan isi bacaan
3. Menghubungkan antara bacaan dan pengetahuan/pengalaman personal
4. Mensistesis hal berkaitan isi bacaanBenang merah dari jenjang belajar membaca adalah “kecintaan membaca”. Nah, proses ini membangun kecintaan membaca ini yang bisa dibangun sejak dini melalui kegiatan membacakan buku sebelum tidur, membaca lantang (read aloud), mengobrolkan buku yang baru dibaca, dll. Anak perlu mendapatkan pengalaman yang membahagiakan dengan kegiatan membaca.
Proses homeschooling juga bukan hanya tentang kegiatan calistung.
Untuk anak usia 6 tahun, Anda bisa memulai dengan mengunduh Cheklist Perkembangan Anak yang kami sediakan: https://member.rumahinspirasi.com/checklist-perkembangan-anak-usia-dini-dari-diknas/
Apa yang sudah berkembang, ditandai. Apa yang belum tercapai, berarti perlu distimulasi.
Selain itu, silakan dipelajari dulu materi yang lainnya. Jangan panik.
Karena anak usia 6 tahun, Anda sudah perlu juga menjajagi materi Memulai HS Usia Sekolah: https://member.rumahinspirasi.com/courses/memulai-homeschooling-usia-sekolah/
Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb kak Trisa,
Jangan khawatir, kak. Anak pada dasarnya pemaaf. Jangan terlalu keras menghakimi diri sendiri yang membuat proses Anda akan jatuh pada ekstrem yang lain yaitu memanjakan anak sebagai “balas dendam” atas hal yang Anda anggap salah.
Ruang bertumbuh anak masih sangat besar. Yang penting sekarang dinikmati proses kebersamaannya, bikin kegiatan main dan bersenang-senang bersama, Ikuti tantangan kegiatan di IG Rumah Inspirasi untuk proses bermain sekaligus bealjar anak. Ada tantangan berkegiatan memakai batu, daun, air, garam, dll.
Juga, nikmati kegiatan “read aloud” membaca nyaring buku2 cerita sesuai kesukaan anak. Baca dengan lantang dan penuh ekspresi.
Bermain dan belajar bersama dengan sukacita, itulah “tebusan” paling tepat untuk anak yang dapat Anda berikan.
Aar
KeymasterKak Indriana,
Terima kasih sharingnya.
Betul sekali yang Anda sampaikan. Homeschooling itu bukan hanya tentang mengasuh dan mendidik anak, tetapi juga perihal orangtua mendidik diri sendiri agar menjadi orangtua/diri yang lebih baik.
Banyak yang mengira bahwa kitalah yang mengajari anak-anak tentang kehidupan. Tapi dalam banyak hal, sebenarnya anak-anak adalah seperti malaikat yang dikirimkan Tuhan kepada kita untuk mendidik kita.
Melalui kehadiran anak-anak, kita belajar bersabar. Melalui mereka, kita belajar untuk menahan diri. Melalui mereka, kita belajar tertawa dan menertawakan segala kekacauan yang terjadi. Melalui mereka, kita belajar meningkatkan efektivitas manajemen keseharian. Melalui mereka, kita belajar terus meningkatkan kualitas diri kita.
Sebab, kita tahu bahwa anak-anak bukan mendengarkan nasihat kita, tetapi menyerap energi dan contoh2 keseharian yang kita lakukan.
Lalu bagaimana?
Susah ya? hehehe… betul 😉
Ada beberap hal yang perlu dan bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas pendampingan bersama anak, yang juga terkait dengan upaya meningkatkan kapasitas kesabaran kita.
1. Fokus pada Hal yang Bisa Diubah
Lebih banyak fokus pada hal-hal yang bisa dikelola (circle of control), bukan hal yang bisa kita pengaruhi (circle of influence). Anak-anak termasuk circle of influence yang bisa kita pengaruhi dengan usaha. Tapi jauh lebih mudah mengubah diri kita (cara pandang, sikap, respon, kegiatan) yang ada dalam kendali kita sepenuhnya.2. Perbesar kapasitas kebahagiaan Ibu
Proses meningkatkan kapasitas pendampingan dan kesabaran dimulai dengan “Ibu yang bahagia”. Semakin semakin besar dan penuh “tanki kebahagiaan” kita, semakin santai kita saat kebahagiaan kita disedot oleh anak-anak kita. Semakin damai dan bahagia Ibu, semakin mudah merespon masalah dengan banyak tertawaCari cara untuk membahagiakan diri sendiri dengan cara-cara yang mudah dan memungkinkan untuk dilakukan sehingga mudah mengisi tanki kebahagiaan. Sesederhana minum teh di pagi hari, mengaji 15 menit, dll yang bisa menjadi sumber kebahagiaan kakak.
3. Kondisi ini sementara, bukan permanen
Lihatlah kondisi ini sebagai bagian dari proses pertumbuhan anak-anak, bukan hal yang akan terjadi seterusnya. Ini hanya sementara kok, nanti akan berubah seiring pertumbuhan anak.Tapi yang sementara ini memang menggemaskan sih, hehehe.. apalagi kala tanki kebahagiaan kita menipis karena lelah atau ada masalah lain.
4. Fasilitasi dan Bikin Aturan Main
Ada kalanya kondisi susah terutama jika anak masih sangat kecil. Jadi, solusi sederhananya adalah difasilitasi dengan 2 hal yang serupa; misalnya gelas yang sama, piring yang sama, dll (jika memungkinkan).Buat aturan main untuk membantu kakak (yang besar) belajar self control. Misalnya:
~ main di tempat berbeda dengan adik (misalnya di kamar)
~ berikan waktu jeda saat meminta sebuah (misalnya hitungan 10)
~ meminta dnegan baik, tidak berteriak atau merebut (jika meminta atau merebut justru tidak diberi)Aturan2 semacam ini dibuat, jelaskan pada anak dengan bahasa yang sederhana, praktekkan dengan konsisten.
5. Tertawakan
Saat anak ribut dan menangis, tertawalah keras-keras dan diamlah. Itu akan membuat anak kaget. Atau Anda bisa menangis kencang-kencang menirukan tingkah anak (role playing). Lalu bahaskan secara santai bersama anak tentang cara bersikap baik (sesuai petunjuk Anda).6. Isi tanki kebahagiaan anak
Cari momen2 di mana Anda main berdua secara khusus dengan anak. Biasanya ini untuk kakak supaya dia tahu bahwa dia tetap disayangi dan tidak diduakan. Saat berdua, berkegiatanlah dengan sepenuh hati (mindful) dan sampaikan bahwa Anda tetap mencintai kakak sepenuh hati.Demikian, semoga membantu ya kak.
Aar
KeymasterBagus kak Sarah,
Terima kasih sharingnya. Silakan dilanjutkan terus prosesnya.
Sedikit tambahan dari saya:
1. Gunakan checklist Parameter Perkembangan Anak sebagai pelengkap untuk melihat perkembangan tumbuh kembang anak
2. Pertajam aspek membangun kebiasaan baik (ini sebenarnya sudah dilakukan). Kenali kebiasaan-kebiasaan baik yang ditumbuhkan dan lakukan stimulasi untuk membangunnya.Semoga bermanfaat.
January 19, 2022 at 4:04 pm in reply to: Podcast Kurikulum dan Panduan Homeschooling Usia Dini #6727Aar
KeymasterHalo kak Sarah,
Terima kasih sharingnya.
Bagus sekali Anda membuat prioritas untuk 6 bulan ke depan. Itu bisa jadi panduan dan arah kegiatan, walaupun tetap saja kita perlu melenturkan diri agar bisa memanfaatkan peluang-peluang belajar yang ada melalui keseharian.
Sedikit catatan saya, dari 4 prioritas yang Anda buat, 2 diantaranya terkait dengan kemampuan kognitif. Ini bagus, tapi mungkin perlu ditambah aspek lain dan dihubungkan dengan kesesuaian usia anak.
a. Dalam konteks pengajaran agama, berikan fokus pada proses membangun kebiasaan baik terkait keseharian; misalnya: berdoa sebelum makan, sebelum tidur, ikut melakukan sholat bersama, dll. Aspek kebiasaan baik ini sangat krusial untuk perkembangan jangka panjang.
b. Dalam konteks Math, perjelas target Anda dan gunakan keseharian sebagai materi/proses belajar; misalnya counting (membilang) atau simple addition (penjumlahan sederhana), gunakan benda yang terlihat di sekitar untuk belajar menghitung seperti batu, daun, mainan, kue, motor yang lewat, dsb.
Demikian catatan dan sedikit tambahan dari saya, semoga bermanfaat.
Aar
KeymasterHalo kak Nisa,
Terima kasih sharingnya. Respon anak Anda menunjukkan kecerdasannya. Dia memahami konteks dan senang bermain logika.
Itu sama sekali tidak masalah.
Kuncinya adalah respon orangtua. Saat anak bercanda, nikmati dan timpali dengan komentar-komentar canda yang menjadi stimulasi imajinasinya.
“Wah, bisa seru ya kalau kita memelihara kuman. Kita beternak kuman di gigi. Lalu dia berank dan jadi banyak memenuhi mulut. Lalu dia makan gigi kita sampai habis dan ompong. Hahahaha…. ”
Dalam berkomunikasi dengan anak yang cerdas, maka Ibu tidak boleh kalah cerdas.
Demikian sedikit catatan dari saya, kak. Semoga bermanfaat.
Aar
KeymasterTerima kasih pertanyaannya kak Sarah,
Wah, anaknya luar biasa sudah punya pendapat dan pemikiran tersendiri, kak. Anak juga berani mengutarakannya ke orangtua.
Secara umum, HS bisa diterapkan untuk anak apapun, apalagi saat usia dini. Kuncinya adalah kemampuan orangtua untuk menjelaskan pada anak dan membangun pola keseharian yang asyik bersama anak.
Jika anak Anda ingin belajar di rumah dan menikmati kegiatan bersama Anda, itu adalah modal yang sangat besar dan baik.
Sekarang bolanya ada di orangtua untuk merancang pola kegiatan keseharian yang asyik dan membantu anak untuk terus bertumbuh.
Selamat menikmati kegiatan bersama ya kak..
Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb, kak Intan
Ada beberapa poin penting yang perlu kita perhatikan saat membangun keterampilan dasar anak.
1. Turunkan ekspektasi
Ekspektasi yang terlalu tinggi sering menjadi penyebab emosi orangtua. Jadi, turunkan harapan Anda pada anak, tetapi kuatkan diri Anda untuk terus mendampingi mereka.2. Fokus pada proses, bukan hasil
Jika fokus pada hasil, kita biasanya akan merasa gagal dan mudah emosi. Kita merasa anak-anak tidak terampil, kita merasa gagal sebagai orangtua. Ini akan menciptakan spiral negatif dalam diri kita.Jadi, akan lebih baik fokus memikirkan cara menjalani proses yang baik dan berkualitas setiap hari.
3. Ekspektasi jangka panjang
Jangan berharap instan. Proses stimulasi keterampilan ini terjadi selapis demi selapis. Pertumbuhan pasti terjadi, tapi mungkin tidak terlalu kelihatan. Jadi, penting sekali untuk bersabar dan tidak berhenti berproses bersama anak. Kunci supaya tahan lama adalah kita dan anak2 menikmati proses-proses yang terjadi.4. Jalani keseharian dengan baik
Proses paling ringan sekaligus efektif adalah dengan berusaha menjalani keseharian dengan baik, mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Anak belajar menyadari kegiatannya dan belajar mengendalikan diri (terutama mengurangi waktu main game/menonton Youtube).Usahakan sering mendiskusikan bersama anak tentang keseharian, misalnya setiap malam menjelang tidur. Dengarkan pendapat mereka dan dorong mereka sendiri memikirkan solusi untuk dirinya sendiri.
“Bagaimana kegiatanmu hari ini?”
“Apakah kamu puas dengan hari ini? Berapa kamu memberi nilai hari ini antara 1-100? Mengapa kamu memberikan nilai itu?”
“Apa yang sudah berhasil kamu lakukan hari ini?”
“Apa yang belum berhasil dilakukan hari ini? Mengapa belum berhasil? Bagaimana cara dan rencana perbaikannya?”
“Apa rencana kamu besok? Apa yang kamu butuhkan dari Bunda untuk membantumu?”Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterHalo kak Tarita,
Secara konsep, aturan saat ini memang berbasis offline, kak. Jadi ujian diselenggarakan oleh PKBM di lokasi tempat PKBM berada. Teman2 yang ada di Singapore dan memilih homeschooling yang mengacu pada ijazah nasional tetap harus pergi ke PKBM yang menjadi rujukannya saat Ujian berlangsung. Ini yang terjadi pada saat sebelum pandemi.
Selama pandemi (2 tahun terakhir ini), semua proses dilakukan online sehingga peserta PKBM dari manapun (termasuk yang tinggal di luar negeri) bisa mengerjakan soal secara online dari tempat masing-masing.
Kita belum tahu kebijakan yang tahun 2022 dan seterusya bagaimana.
Keluarga HS yang tinggal di LN biasanya mengacu pada kebijakan di negara yang menjadi tempat tinggalnya atau menggunakan kurikulum internasional seperti Cambridge IGCSE/A Level yang diterima di berbagai negara.
Jika ingin mengacu pada Ijazah Paket yang diselenggarakan PKBM, kakak bisa berkonsultasi dengan PKBM yang menjadi rujukan kakak. Jika belum ada, kakak mungkin bisa mencoba bertanya ke PKBM Piwulang Becik mengenai kebijakan ujian untuk anak yang tinggal di luar negeri.
Semoga membantu.
Aar
KeymasterHalo kak @Ita
Terima kasih pertanyaannya.
1. Info PKBM
Kami mohon maaf, tidak punya daftar rekomendasi PKBM yang memiliki layanan khusus seperti disabilitas.Mungkin kak Tarita bisa mencoba menjajagi PKBM Piwulang Becik. PKBM ini ada di kota kecil Salatiga, Jawa Tengah. Foundernya praktisi homeschooling dan membuat PKBM dengan spirit gotong royong, no one left behind.
Dari diskusi yang pernah saya alami dengan mas Aris Prasetya, beliau menerima beragam siswa dengan latar belakang yang macam-macam. Kontak bisa dimulai dari websitenya ya kak..
2. Sampel HS berhasil
Tentang sampel keberhasilan HS di Indonesia masih sangat terbatas. Sebab, jumlah praktisi HS masih sedikit dan tidak banyak yang menuliskan tentang praktek-praktek HS yang dijalaninya.Secara prinsip, kekuatan HS adalah pada fleksibilitas dan kustomisasi terhadap proses-proses yang dijalani anak. Kuncinya adalah tidak mendasarkan pada pola belajar seperti sekolah, tetapi dikustom sesuai dengan kekuatan anak. Nah, kekuatan anak inilah yang menjadi bekalnya untuk mandiri dan berkarya di masyarakat.
Sebagai contoh, jika anak menyukai gambar, melukis, craft, fotografi, dsb. Dengan mengasah kekuatan anak di bidang-bidang tersebut, anak memiliki potensi berkembang yang luar biasa dan tidak ada bedanya sama sekali dengan anak yang lain.
Adapun ijazah Paket sebenarnya tidak terlalu penting. Ijazah baru penting jika anak menekuni area akademis dan ingin melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi.
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterKak Ati,
Terima kasih sharingnya. Saya suka sekali dengan semangat kak Ati untuk mendidik sendiri putranya.
Ada beberapa hal yang bisa saya sampaikan terkait pertanyaan Anda.
Membangun Kepercayaan Diri
HS Usia Dini sangat krusial dan sebenarnya relatif tidak berat. Sebagian besar orangtua yang memiliki komitmen untuk belajar dan waktu untuk mendampingi anak bisa melakukannya.Ada 2 hal yang bisa Anda lakukan untuk mengikis keraguan dan meningkatkan kepercayaan diri:
1. Pengetahuan mengikis keraguan
Anda menuliskan daftar pertanyaan-pertanyaan dan keraguan yang Anda miliki. Kemudian pelajari materi di kelas Memulai HS Usia Dini. Baca ebook, dengarkan podcast, tonton video, dan ikuti Webinar live bulan Februari yang akan datang. Jika ada pertanyaan yang belum terjawab, silakan disampaikan di forum ini. Saya akan berusaha menjawab seluruh pertanyaan Anda.2. Praktekkan
HS bukan ilmu teori. Tak ada ujian tertulis tentang teori HS dan parenting. Yang ada adalah praktik.Jadi, praktekkan hal-hal yang diajarkan dalam kelas ini. Cari keberhasilan kecil yang membuat Anda bahagia.
Lihat pertumbuhan anak dan gunakan Checklist/Parameter perkembangan anak sebagai alat bantu memantau perkembangan anak-anak Anda.
Semakin sering kita mendapatkan keberhasilan, semakin pupus keraguan kita dan semakin meningkat kepercayaan diri kita.
Pengasuhan Jarak Jauh
Saya terbayang kekhawatiran Anda karena minimnya figur ayah dalam proses keseharian. Kalau berbicara tentang ideal, tentu saja akan sangat baik jika Ayah & Ibu semuanya hadir dalam proses pengasuhan.
Tapi kita tidak hidup dalam dunia ideal. Kita hanya bisa mengoptimalkan pilihan-pilihan yang ada di hadapan kita. Ketiadaan Ayah tidak berhubungan dengan pilihan HS atau Sekolah.
Anda tetap memiliki peluang keberhasilan yang tinggi, saya percaya itu. Yang penting Anda mengoptimalkan kondisi Anda dengan memaparkan anak dengan pergaulan yang beragam bersama teman dan orang dewasa lainnya.
Sebagai sharing pribadi, saya adalah orang yang dibesarkan oleh orangtua tunggal (Ibu). Ayah saya meninggal saat saya berusia 3 tahun dan adik berusia 1 tahun. Sepanjang hidup, saya merasa kasih sayang yang besar karena Ibu selalu membesarkan kami berdua dengan kerja keras dan bersungguh-sungguh. Saya tidak merasa kosong walaupun dibesarkan tanpa figur Ayah.
Demikian, kak. Semoga jawaban ini bisa membantu dan memberikan penguatan.
Terus dipelajari materinya yaa..
Terus semangat belajar sambil berpraktek.
Jika ada pertanyaan jangan segan untuk menyampaikannya.
Aar
KeymasterTerima kasih kak Indriana,
Saya juga lebih terbayang konteks interaksi Ibu-anak dan lingkungan tempat tinggal Anda. Kebayang jika Ibu memiliki kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan, kemungkinan petunjuk dan respon pada anak juga akan dipengaruhi dengan kekhawatiran itu.
Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk membuat kondisi lebih baik?
1. Kelekatan dan kemandirian
Tujuan pengasuhan usia dini bukan hanya bonding (kelekatan) tapi juga memmbangun kepercayaan diri anak sehingga anak menjadi berani dan mandiri. Nah, aspek kedua ini perlu dibawa ke dalam sadar agar pilihan kata-kata dan petunjuk kita pada anak adalah untuk memperkuat kepercayaan diri dan kemandiriannya. Jangan sampai petunjuk kita justru menciptakan ketergantungan pada orangtua dan kekhawatiran anak pada sekitar.
Ini menjadi tantangan personal Ibu untuk ditangani.
2. Kenali kekhawatiran Anda
Kenali hal-hal yang membuat Anda khawatir. Jika Anda khawatir dengan pengaruh buruk teman, sebenarnya itu sangat bisa dinetralisir jika suasana di rumah nyaman dan jelas nilai-nilainya (misalnya: tidak teriak, tidak ngomong kasar, dll). Ibaratnya, setelah main di luar, sesampai di rumah anak akan “mandi atau dibasuh” dengan nilai-nilai keluarga.
Fokus pada keamanan dan keselamatan anak sangat penting, tapi secara bertahap anak juga perlu belajar survive di lingkungan tempat hidupnya. Ini yang perlu dicari keseimbangannya sesuai kondisi Anda.
3. Fokus pada solusi teknis
Terhadap kekhawatiran Anda, fokuslah untuk mencari solusi praktis. Buatlah aturan main dan ajari anak melakukannya. Misalnya: kalau di jalanan harus jalan, tidak boleh lari. Menyeberang jalan harus bersama orangtua atau orang dewasa. Jelaskan mengapa aturan ini dibuat. Praktekkan berkali-kali sehingga anak benar-benar memahami aturan itu.
Tentang bepergian, jika anak sudah merasa nyaman nanti pasti ada waktunya. Sekali lagi, bangun bonding dan kepercayaan diri anak pada saat bersamaan.
Semoga tambahan ini membantu.
-
AuthorPosts