Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterHalo kak @rara.fatima
1. Memaknai pertanyaan anak
Ini perihal memaknai pertanyaan, bukan tidak menjawab.
Jika pertanyaannya sudah jelas dan dia tahu: belalang tidak berenang, berarti pertanyaan “mengapa kok belalangnya berenang” itu memang bukan untuk mencari jawaban. Itu berarti memang anak sedang berimajinasi.
2. Teknik Bertanya
Jawaban saya adalah perihal cara mengajukan pertanyaan, bukan perihal tidak applicable, kak. Jangan diambil ekstrim applicable vs. tidak applicable.
Ini tentang teknik mengaplikasikan dan mengajukan pertanyaan untuk anak usia sekitar 3 tahun. Bertanya itu bisa dilakukan untuk anak usia 3 tahun. Yang disebut sering-sering berarti jangan terlalu sering memerintah, tapi berikan ruang mengeluarkan pendapat/imajinasi/pengetahuannya. Jumlahnya juga perlu ditakar sesuai kondisi di lapangan.
Jenis pertanyaannya jangan terlalu sering “why/mengapa”. Pertanyaan bisa diajukan dengan kata-kata yang lain, misalnya:
- “terus?”
- “lalu bagaimana?”
- “warnanya apa?”
- “perginya ke mana?”
- “namanya siapa?”
Kata2 tersebut lebih sederhana dan lebih mudah dipahami anak dibandingkan pertanyaan “mengapa”
3. Inisiatif orangtua
Tentunya orangtua boleh mengajukan inisiatif. Dua proses itu (dari anak & orangtua) sama-sama penting, kak.
Untuk anak 3 tahun, fokuslah pada pengalaman asyik anak (bukan untuk menambah pengetahuan yang rumit). Dalam percobaan orangtua bercerita dengan bahasa sederhana, anak mencoba mengucapkan ulang, anak melakukan kegiatan dengan indera-inderanya yang aktif dan banyak memakai benda fisik.
Aar
KeymasterSama-sama kak @Manda .. untuk permainan jangka panjang, memang lebih baik dimulai dari kecil.
Mungkin yang kecil itu memang lebih sederhana dibandingkan ekspektasi kita, Tapi tak apa. Anggaplah itu titik start yang nyata dalam proses HS. Dari sana dimulai semua perjalanan bertumbuh menuju lebih baik.
Aar
KeymasterKak @rara.fatima
Untuk mempertajam jawaban, jangan lupa menyertakan usia anak pada pertanyaannya ya kak. Supaya saya ingat, hehehe…
Pertanyaan “mengapa” memang tricky, terutama untuk anak-anak usia dini.
Jadi, kita perlu melihat pertanyaan itu dengan lebih santai. Kadang anak serius ingin tahu, kadang anak masih mencampurkannya dengan khayalannya.
So, itu masih dalam batas yang wajar kak.
1. Dunia nyata dan khayalan
Kalau anak sedang berkhayal, tugas kita adalah mengikuti khayalannya dan ikut menjadikannya cerita seru.
Jadi, belalang tak hanya dilihat dari sudut pandang sains, tetapi juga bisa dilihat sebagai tokoh cerita fiksi.
“Wah, belalangnya berenang… seru ya! Di air dia ketemu siapa ya? Dia berenangnya di sungai atau laut?”
Itu akan jadi cerita seru yang menstimulasi kapasitas bahasa dan kreativitasnya.
2. Pertanyaan
Obrolan dan diskusi bersama anak sebaiknya mengikuti pola dan cara berpikir anak, sesuai dengan kapasitasnya saat ini.
Pertanyaan “mengapa” cukup tricky dan memang bisa memicu sikap defensif pada anak. Ada kalanya anak menjawab dengan “benar”, ada kalanya dia tidak mau menjawab atau menjawab suka-suka.
Jadi, ikuti saja logika anak. Tidak perlu terlalu sering mengajukan pertanyaan “mengapa” saat mengobrol bersama anak.
Demikian kak, semoga menjawab.
Aar
KeymasterHalo kak @Manda
Proses Anda masih awal sekali. Take it easy and enjoy the journey, kak.
Jangan terlalu ngegas dan jangan terlalu tinggi ekspektasinya.
Berapa usia anak kak Amanda?
1. Proses awal HS
Karena kita mau marathon, kunci pertama yang perlu dipegang dalam proses HS adalah:
- anak menikmati prosesnya (concern anak biasanya cara)
- orangua menikmati prosesnya (concern orangtua biasanya kualitas hasil)
Dua hal tersebut akan menjadi dinamika yang terus terjadi sepanjang proses HS.
Jadi, jangan terlalu berkeras dengan target, tapi bangun pola keseharian yang asyik dulu. Kurangi drama.
Jika dramanya terlalu besar, refleksikan apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi drama:
- mungkin ekspektasi orangtua terlalu tinggi
- mungkin anak mengalami kesulitan
- mungkin stamina anak masih terbatas
- mungkin anak masih butuh waktu beradaptasi
- dll
Mulailah dengan hal sederhana yang bisa dilakukan rutin dan asyik daripada hal yang besar/banyak tapi dilakukan dengan perasaan terbebani. Ini akan membuat anak ingin segera menanggalkan kebiasaan/pola itu.
Jadi, carilah titik temu yang bisa dikompromikan bersama anak.
2. Problem lapangan
Problem lapangan tidak selalu terkait motivasi. Mungkin problemnya teknis sehingga solusinya pun harus teknis (bukan motivasi).
Misalnya anak mengalami kesulitan matematika, solusinya bukan hanya dicarikan alat belajar lain atau dimotivasi. Solusinya bisa jadi teknis: Anda perlu menemani anak untuk membantu menjelaskan materi matematika yang perlu dipelajarinya. Jika bukan Anda, mungkin anak perlu bantuan orang lain untuk menjelaskannya supaya dia mengerti.
Jika ada masalah lapangan, jangan ditarik terlalu jauh dengan mengubah visi pendidikan keluarga.
Yang perlu diperbaiki dan direvisi mungkin ekspektasi, strategi belajar, pendampingan, dll yang sifatnya lebih teknis.
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterSama-sama kak @rara.fatima
Selamat berkegiatan! 🤩
Aar
KeymasterHalo kak @vendryana.-
Terima kasih pertanyaannya.
1. Ada banyak sisi dari perkuliahan, mulai proses belajar hingga pergaulan. Semuanya sangat dipengaruhi oleh karakter individual anak. Dalam pengalaman Yudhis (anak pertama), dia tak memiliki masalah dengan pergaulan karena anaknya memang senang main. Dia aktif di organisasi kemahasiswaan (Badan Otonom Ekonomika) dan jadi panitia kegiatan (Jazz in Campus).
Dari sisi perkuliahan, dia butuh adaptasi karena proses belajarnya menjadi sangat terstruktur. Dia tidak bisa bertanya lebih mendalam sebuah bahasan karena belum dibahas di mata kuliah tersebut.
2. Saya tidak bisa mengeneralisir anak HS secara keseluruhan dalam konteks inisiatif, leadership, kerja kelompok. Sebab, semuanya tergantung pada paparan dan stimulasi yang diperoleh anak dan dirancang orangtuanya.
Ada anak introvert dan itu pasti mempengaruhi pola komunikasi sosialnya (baik dia bersekolah maupun HS).
Dalam coaching saya tidak bertindak sebagai peneliti, tetapi praktisi.
Sebagai praktisi, tugas kita adalah mengenali aspek penting yang perlu dikembangkan pada anak. Kemudian sebagai orangtua memikirkan stimulasi apa yang diperlukan dan perlu dirancang untuk mengembangkan kapasitas tersebut.
Jika kakak merasa social skills adalah aspek yang penting dimiliki anak, kakak perlu merencanakan stimulasi untuk anak terkait pengembangan social skills.
Kami dulu melibatkan anak dengan aneka kegiatan (tidak harus dengan anak HS). Anak ikut aneka klub kegiatan, kami bikin pramuka bersama teman2 dekat, dsb.
3. Buah HS
Tentu saja kami merasakan buah-buah manis dari HS. Banyak sekali yang kami rasakan:
- anak semangat belajar dan menikmati proses belajarnya
- anak tumbuh menjadi pembelajar mandiri
- anak bisa menekuni bidang-bidang yang diminatinya dengan leluasa
- anak bertumbuh dengan optimal dan sukacita
Intinya, hasil kualitas anak tidak tergantung pada sistem karena semuanya bisa sangat fleksibel. Kita yang membuat rancangan dan menentukan jenis kegiatan anak.
Kualitas anak sepenuhnya tergantung pada stimulasi yang kita berikan dan kapasitas/karakter personal anak.
Demikian kak, semoga menjawab.
Aar
KeymasterHalo kak @Manda ..
Proses pendampingan anak memang melibatkan tarik ulur. Sebuah proses tidak selalu berhasil dan kita perlu merefleksikan apa yang membuat ketidakberhasilan itu: kurang motivasi, materinya susah, anak tidak tertarik, dan sebagainya.
Jika kebutuhan motivasi, penyemangat dan reward itu bisa membantu. Reward sendiri memiliki keterbatasan, tapi bisa membantu dan layak dicoba. Punishment juga berdampak, tapi tidak bisa kita gunakan terus menerus. Kita perlu melihat akar masalahnya apakah betul-betul terkait motivasi atau juga terkait kapasitas anak yang memang masih terbatas dan perlu ditingkatkan.
Jika isunya adalah kesulitan yang sifatnya teknis, berarti anak butuh bantuan teknis: mentor/pembimbing teknis yang mengajarinya. Mungkin dia belum memahami penjelasan di Tynker. Jadi, butuh bantuan kita (orangtua) atau orang lain untuk membantunya lebih faham.
Jika isunya tidak tertarik, mungkin dia memang tidak suka coding atau lebih menyukai aspek lain dari game misalnya: menggambar, animasi, storytelling, dll.
Dalam pengalaman kami, Duta sudah mencoba Tynker. Di awal dia bisa, tetapi semakin lama semakin sulit materinya. Dia membutuhkan pendampingan. Karena kami ada kesibukan pekerjaan, kami tidak bisa mendampingi hingga akhirnya dia stuck dan frustasi karena mengalami kesulitan.
Akhirnya Duta berhenti belajar Tynker.
Saat ini (beberapa tahun setelah berhenti belajar Tynker), Duta ingin mencoba lagi belajar coding.
Jadi, proses yang dijalani anak memang berliku dan tidak selalu berjalan linier.
Tetap semangat mendampingi ya kak 🤩
Aar
Keymasterhehehe… no problem kak @Ita .. kita semua adalah produk sekolahan.
Seiring waktu dan bertambahnya ilmu, juga keberhasilan2 kecil menjalani keseharian, kepercayaan diri kita akan semakin bertambah.
Jadi, pastikan energinya untuk fokus menciptakan keberhasilan-keberhasilan kecil yang membahagiakan
Aar
KeymasterKak @rara.fatima
Proses menyiapkan anak menjadi pembelajar mandiri membutuhkan waktu bertahun-tahun, dengan proses yang terjadi selapis demi selapis.
Bagus sekali jika Anda sudah menyiapkan anak sejak usia dini. Dan sebaiknya prosesnya memang tidak menunggu anak besar.
1. Proses persiapannya sudah bisa dilakukan sejak anak usia dini. Bentuknya tentu saja masih sangat sederhana. Yang penting dilakukan adalah menjaga agar ekspektasi orangtua tidak tinggi.
Saat anak usia dini, prosesnya masih seputar membangun budaya belajar dan kebiasaan-kebiasaan baik terkait belajar.
Anak merasakan bahwa belajar itu seru dan asyik. Anak bahagia melakukan kegiatan bersama orangtua. Anak menikmati aneka pengalaman yang dilakukan bersama orangtua.
Ini kelihatannya sederhana, tapi menjadi pondasi penting untuk pembelajar mandiri.
Pondasi penting lain untuk anak2 usia 3-5 tahun terkait pada kemandirian di bidang lain, misalnya: BAB, BAK, mandi, makan, minum, memakai baju, celana, sepatu, dll. Kemandirian adalah proses membangun perasaan berdaya dan berkemampuan pada anak.
2. Pintu masuk belajar anak bisa macam-macam, disesuaikan saja dengan kondisi anak dan lapangan. Yang baik adalah yang bisa dilakukan. Cari yang paling cocok dengan kondisi Anda.
Jika pintu masuknya adalah ikan, lakukan aneka kegiatan terkait ikan untuk memelihara keingintahuan anak dan menambah pengalamannya. Menghitung ikan, mengenal warna melalui ikan, nama/jenis ikan, mewarnai ikan, membacakan buku cerita tentang ikan, menonton film tentang ikan, dsb.
3. Karena wawasan anak masih terbatas, proses berkegiatan tak harus dimulai dengan pertanyaan kepada anak “Kakak mau ngapain?”
Orangtua juga boleh berinisiatif dan menawarkan kepada anak untuk memberikan berbagai pengalaman baru dan berharga untuk anak.
“Kak, nanti siang kita jalan2 ke penjual ikan hias yaa…”
“Bunda punya buku cerita tentang ikan. Kita baca bareng-bareng yuk… “
“Bunda mau gambar2 dan mewarnai ikan. Kakak mau ikutan, nggak?”
Dst
Demikian, semoga membantu.
Aar
KeymasterHalo kak @Ita … proses HS membutuhkan transisi dari pola persekolahan menuju pola belajar yang mandiri dan lebih sesuai dengan kondisi informal di rumah. Proses transisi ini biasanya berlangsung beberapa bulan hingga beberapa tahun. Itu adalah hal yang biasa terjadi dalam proses HS dan jangan terlalu dikhawatirkan.
Yang penting sekarang dijalani dulu dan dinikmati saja kak…
Nanti seiring waktu dan tersedianya data kualitas belajar, Anda bisa berdiskusi lebih substansi tentang tujuan belajar:
“Buat apa sih belajar?”
“Apa tujuan yang ingin kita dapatkan dari belajar?”
“Bagaimana mengukur keberhasilan belajar?”
Agar proses diskusi bisa efektif, PR besar saat ini adalah membangun dan meningkatkan kualitas komunikasi dan hubungan bersama anak. Perbanyak mengobrol santai, bersenang-senang, dan melakukan hal-hal yang membahagiakan bersama anak.
Kualitas belajar dan cara belajar nanti bisa dibahaskan dengan lebih santai jika kualitas hubungan ini semakin membaik.
Demikian, semoga membantu.
Aar
KeymasterKak @Tri .. proses diskusi bersama anak biasanya dilakukan untuk anak-anak yang sudah besar dan bisa diajak diskusi. Untuk 2 orang anak usia dini tanggung jawabnya masih pada kakak.
Untuk anak yang usia 7 tahun, proses yang penting adalah diskusi bersama. Orangtua yang memutuskan tidak apa-apa karena kemungkinan anak belum terlalu mengerti konsekuensi sekolah dan HS.
Jika Anda menawarkan HS, yang penting disampaikan adalah alasan orangtua mengapa memilih HS, rencana kegiatan yang akan dijalani bersama. Jangan lupa mendengarkan sudut pandang anak dan mencari solusi terkait concern anak (biasanya terkait pertemanan).
Karena pendaftaran ke PKBM mengikuti tahun ajaran, berarti masih ada waktu beberapa bulan untuk berdiskusi dan mulai menjajagi keseharian HS.
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterBetul kak Panny
Aar
KeymasterMbak Panny,
Bagi umat Islam, kebutuhan anak untuk menghafal Al Quran dan doa adalah sebuah kebutuhan karena digunakan dalam ibadah sholat dan kegiatan ibadah lainnya.
Ada 2 sudut pandang terkait kegiatan menghafal untuk anak usia dini:
a. Itu adalah sebuah hal yang baik karena berkaitan dengan ajaran Allah dan oleh karena itu perlu dilakukan. Anak perlu dibiasakan untuk menghafal Al Quran sejak dini. Ini pandangan yang paling umum di masyarakat.
b. Karena cara berpikir anak usia dini masih konkrit (bukan abstrak), anak sebenarnya belum memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan pahala, akhirat, dan sebagainya. Proses yang dijalani anak hanya meniru contoh yang dilakukan orang dewasa. Oleh karena itu, proses belajar menghafal Al Quran perlu dilakukan dengan menyediakan lingkungan yang kondusif (misalnya: anak sering mendengarkan murottal atau meniru orangtuanya berdoa/mengaji).
Dari sudut pandang pengasuhan, proses penting yang perlu dijaga adalah suasana dan proses belajar anak agar berlangsung menyenangkan, bukan dengan cara formal yang menekankan pada hasil. Proses yang membahagiakan lebih berdampak baik dalam pengalaman anak jangka panjang..
Yang kedua, proses belajar harus menempatkan anak sebagai subyek. Proses belajar jangan dilakukan dengan menjadikan anak sebagai obyek untuk kebanggaan orangtua, tetapi memang demi kebaikan anak. Itu yang perlu menjadi perhatian dan kehati-hatian orangtua.
Aar
KeymasterKak Dewi,
1.
Pendapat di masyarakat sangat banyak dan beragam. Kita akan kelelahan kalau harus memperhatikan dan menjawab semua pendapat orang lain.Biasakan untuk mencari mana yang paling tepat untuk anak dan mengabaikan pendapat orang lain. Agak keras kepala? Iya mungkin. Kita fokus pada hal yang terbaik bagi anak-anak.
Salah satu kunci HS adalah keyakinan orangtua bahwa kita (orangtua) sanggup mendidik anak-anak kita. Di podcast lain, saya sudah membahaskan bahwa ada 2 aspek dalam pendidikan dan pengajaran, yaitu: pengasuhan dan pengajaran. Porses dalam HS Usia Dini terutama berkaitan dengan pengasuhan: memberikan rasa aman dan nyaman pada anak sehingga mereka bisa berkembang optimal dalam jangka panjang.
Pendidikan juga bukan untuk mengkompentensi anak menjadi jago pada hal-hal akademis karena kita baru akan memetik buah pendidikan saat anak remaja dan dewasa.
Tidak ada orang lain yang bisa menjawab kekhawatiran Anda.
Pertanyaan yang perlu Anda jawab sendiri adalah: apakah yang dipelajari anak-anak itu betul-betul penting dan bermanfaat dalam pendidikan usia dininya? Apa konsekuensi terburuk kalau anak tidak mempelajarinya?
2.
Bahasa adalah alat berpikir dan mengungkapkan perasaan. Bahasa adalah alat komunikasi. Karena itu, pelajaran bahasa adalah keterampilan praktis yang harus diselaraskan dengan kondisi tempat lingkungan anak berada. Jika lingkungan kehidupan anak tak selaras dengan yang dipelajari, anak justru akan memiliki kebingungan dalam bahasa.Oleh karena itu, bahasa pertama yang perlu dikuasai anak dengan baik adalah bahasa Ibu (bahasa yang digunakan sehari-hari dalam hidupnya). Bahasa lain bisa dipelajari jika memang bahasa tersebut sering digunakan dalam keseharian anak dan keluarga.
Dalam konteks pendidikan anak usia dini, itu prinsipnya.
Anak perlu belajar khusus bahasa Inggris jika memang keluarga dan kesehariannya berbahasa Inggris. Anak perlu belajar secara khusus Mandarin jika memang keluarga dan lingkungan kesehariannya menggunakan bahasa Mandarin.
Jika tidak, maka proses belajar bahasa cukup dengan seringnya memaparkan anak dengan bahasa tersebut, misalnya dengan menonton film, membaca buku, dan lain-lain.
Aar
KeymasterDear kak Selviana Laru,
Yudhis pernah minta sekolah saat sekitar usia 7 tahun. Setelah kami gali, ternyata penyebabnya adalah dia kehilangan teman2 yang biasanya main dengan dia karena teman2nya mulai masuk SD dan pulang siang.
Ketika kami gali lebih dalam, dia ingin merasakan membawa tas ke luar rumah dan belajar di kelas. Kami kemudian memasukkan dia ke tempat les matematika. Dia dapat tas, pergi keluar rumah tiap siang dan belajar di sana. Tapi ternyata itu hanya jalan sebentar. Dia ngantuk di kelas, merasa bosan karena tidak boleh belajar sambil makan, dll. Itu pertama kali dan satu2 permintaan untuk bersekolah yang dialami anak-anak kami.
Apakah ada anak yang pindah dari HS ke sekolah? Ada.
Yang kami saksikan sendiri ada 2. Yang pertama karena Ibunya meninggal. Ayahnya kemudian memilih untuk menyekolahkan anak. Anaknya SD usia kelas 4. Setelah dilakukan placement test, anaknya turun kelas 3. Setelah itu anaknya sekolah terus dan saat ini sudah lulus SMA.
Anak yang lain pindah sekolah karena orangtuanya bercerai. Usianya juga SD, tapi dia tetap duduk di kelas yang sama seperti perkiraan awal orangtuanya saat HS. Sejak itu sekolah dan tak masalah.
Secara hukum, perpindahan dari HS (PKBM) ke sekolah dimungkinkan. Aturannya ada di: PP 17 tahun 2010 pasal 73 dan Peraturan Mendikbud nomor 129 tahun 2014 pasal 10 & 11. Intinya yang diperlukan adalah:
~ Ijazah sebelumnya
~ Tes kelayakan dan penempatan (placement test) di sekolah yang dituju -
AuthorPosts