Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 46 through 60 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Podcast Pengalaman Keluarga dalam Pengembangan Minat-Bakat #4853
    Aar
    Keymaster

    Amin…

    Semangat kak @heni-soraya

    🤩🔥

    Aar
    Keymaster

    Kak @heni-soraya

    Enaknya HS dan dunia informal, kita bisa mulai dari mana saja. Ini berbeda dengan dunia formal (sekolah/kursus) yang prosesnya cenderung baku dan kaku.

    Untuk belajar robotik, kakak bisa mulai dari coding, bisa juga dari arduino (hardware).

    Panduannya adalah:

    • mulai dari pintu ketertarikan anak dan kemampuan kita memfasilitasinya (sendiri atau menggunakan bantuan pihak ketiga)
    • anak menikmati proses awal dan memicunya untuk terus belajar
    • naikkan kapasitas dan skills secara bertahap

    Semoga membantu.

    Semangat kak!

    🤩 🔥

    in reply to: Podcast Sosialisasi Homeschooling Anak Usia Dini #4857
    Aar
    Keymaster

    Selamat menstimulasi keterampilan bahasa dan menemani tumbuh kembang anak kak @happy-zahra-zaky

    🤩🙏

    in reply to: Podcast Perpindahan dari Sekolah ke Homeschooling #4859
    Aar
    Keymaster

    Kak Hanifa,

    Terima kasih sharingnya.

    1. Pendaftaran di PKBM (legalitas yang menaungi HS) biasanya dilakukan sejak anak kelas 1 SD. Bahkan beberapa PKBM baru menerima anak saat kelas 4 (10 tahun). Jika anak tidak bersekolah dan menjalani HS, proses yang dilakukan oleh orangtua adalah melakukan mutasi dari sekolah ke PKBM. Jika awal jenjang, misalnya kelas 1 SD, maka tinggal mendaftar ke PKBM (tidak perlu ada mutasi).

    PKBM yang selanjutnya akan menangani data anak (NISN, dll).

    2. Secara hukum, sebenarnya SD dilarang untuk menjadikan ijazah TK sebagai syarat untuk pendaftaran. tetapi kondisi di lapangan kadang berbeda. Jika kakak membutuhkan “rasa aman”, kakak bisa mendaftarkan anak di PKBM.

    Tidak semua PKBM membuka pendaftaran untuk level TK dan mengeluarkan ijazah TK. Kakak perlu mencarinya. Salah satu yang membuka level TK adalah PKBM Piwulang Becik: https://piwulangbecik.sch.id/

    Demikian kak, semoga membantu.

    Aar
    Keymaster

    Terima kasih kak @heni-soraya untuk sharingnya,

    Bagus sekali perkembangan putranya, kak.

    Kunci penting dalam pengembangan adalah:

    • mengasah dan menaikkan skills
    • meningkatkan kapasitas berkarya/bermanfaat

    Nah, tugas kita adalah membantu anak untuk memilih skills yang mau diasah, misalnya:

    • skills teknis terkait kemampuan bikin2. Jika skills teknis, area apa yang mau diasah skillsnya: elektronika, pertukangan, dll. Jika mau meningkatkan elektronika, berarti mencari tutorial2 yang sesuai atau mengikuti kegiatan terkait, misalnya Arduino, robotik, dll
    • kreativitas. Jadi, tidak dibatas areanya yang penting terus mengasah kreativitas dengan tingkat kesulitan yang semakin meningkat
    • membungkus: membuat video, tulisan, cerita dll tentang kegiatan yang dilakukannya
    • mengajar, Bikin tutorial atau kelas2 gratis untuk teman2 terkait bidang yang dikuasai anak

    Jangan semuanya dikejar pada saat bersamaan. Pilih yang paling memungkinkan dilakukan anak dan sesuai dengan konndisi.

    Supaya semangat belajarnya terus terpelihara, selain pendalaman skills, bantu anak untuk mengidentifikasi kegiatan yang memang hasilnya bermanfaat di dunia nyata. Misalnya: ngoprek hardware komputer, modifikasi sepeda, servis alat, dll.

    Demikian kak, semoga membantu..

    in reply to: Lapbook Idul Adha #4863
    Aar
    Keymaster
    in reply to: Podcast Peluang & Tantangan Homeschooling Usia Dini #4864
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @ariana-susilo

    Kami belum pernah berinteraksi dengan orangtua HS yang didiagnosa ADHD. Biasanya diagnosa itu terkait anak, bukan orangtua. Masih sangat jarang orangtua yang melakukan konsultasi profesional terkait kondisi dirinya, apalagi semisal terkait ADHD.

    Dalam konteks HS Usia DIni, pola2 yang terjadi sebenarnya lebih santai dan jauh lebih ringan dibandingkan sekolah.

    Dalam konteks perencanaan, fokusnya lebih ke aspek alokasi waktu orangtua (kapan jadwal mendampingi anak) dan bukan perencanaan detil kegiatan anak. Jadi bukan perencanaan kegiatan seperti guru TK/sekolah.

    Kegiatan anak punya 2 pola:

    • kegiatan rutin: menempel bersama kegiatan alamiah anak (tidur, mandi, makan, main)
    • kegiatan spontan: tergantung hal-hal yang sedang ada terjadi pada saat ini

    Dalam pengalaman keluarga kami, porsi terbesar kegiatannya adalah kegiatan spontan, memanfaatkan keseharian yang dijalani anak bersama keluarga.

    Terkait perencanaan yang ada hubungannya dengan tumbuh kembang anak, kami melihat checklist tumbuh kembang anak 1-3 bulan sekali.

    Di luar itu, fokus utamanya adalah menjalani keseharian yang asyik bersama anak dan mengurangi paparan gawai.

    Kegiatan yang asyik itu ditandai:

    • anak semangat menjalani kesehariannya
    • minim drama

    Demikian kak, semoga membantu. Jika ada pertanyaan lanjutan, dipersilakan.

    🙏


    in reply to: Podcast Tips Persiapan HS Usia Dini #4867
    Aar
    Keymaster

    Kak @charista-chrisanty

    Terima kasih sharing dan pertanyaannya.

    Ada beberapa masukan yang bisa kami berikan terkait kondisi yang kakak hadapi.

    1. Mengelola keseharian keluarga
    Cerita Anda tentang kekusutan dan beban terkait mengelola keseharian tanpa ART sangat dimengerti. Kondisi seperti yang kakak alami dialami oleh banyak Ibu dan orangtua HS lainnya, di mana banyak sekali pekerjaan rumah tangga, suami sibuk bekerja, dan ada anak yang juga perlu ditemani dalam proses HS.

    Kondisi ini bisa menjadi lebih berat lagi jika ternyata anak ada 3 dan semuanya belum mandiri.

    Di sinilah tantangan dalam proses HS terkait manajemen keseharian dan menata prioritas.

    Kenali beban2 yang berat dan carilah strategi pengelolaan yang memungkinkan dilakukan. Bebera roses penting yang bisa dilakukan antara lain:

    • Mengatur prioritas keseharian agar lebih terkelola dan energi masih ada
    • Menurunkan standar-standar terkait rumah. Misalnya, menurunkan standar kerapihan rumah (menyapu, mengepel, dan merapikan rumah).
    • Mencari strategi & kompromi terkait makanan. Misalnya: menyederhanan jenis makanan, melakukan meal prep (membuat makanan pre-cook untuk beberapa hari), dll.
    • Mencari strategi & kompromi terkait pakaian. Misalnya: tidak menyeterika pakaian. Hanya pakaian penting yg diseterika.

    2. Mengelola ekspektasi terkati HS
    Homeschooling, apalagi HS Usia Dini tidak berarti orangtua harus mendampingin anak terus-menerus. Strategi dasarnya adalah selalu mengobrol bersama anak sambil melakukan pekerjaan rumah, menyediakan alat2 kegiatan (misalnya balok) untuk kegiatan anak mandiri, dan sesekali melakukan kegiatan bersama.

    Goal untuk anak usia 1 tahun masih sangat sederhana:

    • membangun hubungan yang dekat bersama anak
    • memberikan rasa aman & aman pada anak
    • Stimulasi terkait tumbuh kembang anak (lihat Checklist Tumbuh Kembang Anak)

    3. Menjaga Energi

    Salah satu sumber energi adalah rasa syukur. Keberadaan Ibu yang membantu menemani anak di rumah adalah bantuan yang patut disyukuri. Letakkan syukur Anda melebihi kekhawatiran Anda.

    Tidak banyak keluarga yang masih mendapat bantuan Ibu untuk menjaga anak-anak. Sebagian besar harus menyelesaikan sendiri urusan rumah sambil terus menjalani HS.

    4. Sediakan alat bantu

    Libatkan Ibu untuk mendidik anak sesuai bayangan Anda. Berikan alat2 belajar dan petunjuk pada Ibu sehingga kegiatan yang dilakukannya selaras dengan harapan Anda. Misalnya: balok, kertas, bola, dll.

    Lihat ide kegiatan Stimulasi Sensori untuk anak usia 1 tahun sebagai ide kegiatan yang bisa didiskusikan bersama Ibu.

    Demikian catatan dari kami, kak.

    Sebagai tambahan, kita tak pernah berada dalam kondisi ideal seperti yang kita inginkan. Selalu ada hal-hal yang tak sesuai harapan kita.

    Jadi, kita perlu mencari titik-titik optimal, tidak sempurna, yang masih bisa kita dapatkan dalam keseharian kita sambil terus menjaga rasa syukur kita sehingga kita menjalani keseharian dengan bahagia.

    Kebahagiaan kita sangat penting untuk menjaga kualitas hubungan kita bersama anak-anak kita.

    Semoga membantu ya kak..

    🙏

    in reply to: Podcast Tantangan Pengembangan Minat dan Bakat #4868
    Aar
    Keymaster

    Kak @catherine-kusnadi,

    Terima kasih pertanyaannya. Saya mencoba memahami konteks dan concern Anda yang melandasi pertanyaan ini.

    Mengapa sampai muncul pertanyaan “batas waktu” waktu anak menekuni minatnya?

    • Apakah Anda khawatir anak tidak tertarik kegiatan lain? Jika tidak tertarik kegiatan lain, apa masalahnya bagi Anda?
    • Apakah masalahnya anak-anak tidak bisa bertekun dan ingin ganti-ganti kegiatan terus?
    • Apakah ada concern budget sehingga kegiatan membebani dan perlu dialihkan ke kegiatan lain?
    • Apakah Anda ingin memperkenalkan kegiatan lain pada anak yang menurut Anda keren/disukai/cocok untuk anak, sementara anak sedang tertarik menekuni kegiatannya saat ini?

    Tujuan anak menekuni minat ada bermacam-macam, antara lain:

    1. Memberikan pengalaman kegiatan pada anak. Misalnya, memperkenalkan musik, berenang, basket, menggambar, dll. Orangtua ingin anak mencoba kegiatan2 yang beragam.
    2. Menemukan kekuatan anak. Ada kegiatan yang diminati anak dan dicoba diasah untuk mengetahui apakah ini adalah kekuatan anak yang bisa diolah menjadi prestasi.
    3. Mengasah kapasitas. Anak menemukan minat yang disukai dan mengasah skills-nya. Skills-nya terus bertumbuh dan menjadi prestasi yang semakin berkualitas. Dalam kondisi ini, tidak ada batas waktu. Justru inilah yang dicari dalam proses mengenalkan minat.

    Dalam pengalaman keluarga kami, kriteria yang digunakan adalah “sikap anak”, bukan waktu.

    Pesan umum yang kami berikan kepada anak-anak terkait minat adalah: “Kalian boleh memilih sendiri kegiatan kalian. Yang penting kalian menjalaninya dengan sungguh-sungguh.”

    Demikian masukan awal dari saya, kak.

    Jika kakak bisa menjelaskan konteks pertanyaan dan kondisi kakak, mungkin saya bisa memberikan masukan lebih dalam dan lebih tajam.

    Semoga membantu.

    🙏

    in reply to: Podcast Sosialisasi Homeschooling Anak Usia Dini #4871
    Aar
    Keymaster

    Terima kasih sharingnya kak @happy-zahra-zaky

    Saya mencoba memahami cerita kakak, ada 2 isu yang kelihatannya saling berkaitan, yaitu: manajemen emosi anak dan keterampilan berkomunikasi. Menurut sudut pandang saya (berdasarkan paparan kakak, ini yang perlu diperbaiki dan diselesaikan.

    Ini bukan tentang dibiarkan main atau diatur. Ini juga bukan tentang dinasihati. Yang dibutuhkan adalah stimulasi untuk meningkatkan keterampilan berbicara dan pengelolaan emosi.

    Keterampilan berkomunikasi dan berbicara adalah perihal kemampuan anak mengutarakan hal yang ada di pikiran dan emosi yang dirasakannya. Jika kosakatanya terbatas, maka ekspresinya adalah menangis, marah, teriak, mencubit, memukul, bersikap agresif dan lain-lain. Jadi, kemampuan berbicara ini juga sangat terkait dengan manajemen emosi.

    Pada usia 2 tahun, perkembangan anak secara umum dalam aspek bahasa adalah menguasai sekitar 150-300 kata. Anak juga sudah mulai bisa membuat kalimat sederhana untuk menjelaskan pikiran atau aksinya, misalnya: “Aku lapar”. “Aku mau main”, “Itu bola”, dll.

    Jika kosakata anak sedikit sekali, ini perlu segera ditangani karena masalahnya bisa merembet ke mana-mana, termasuk gangguan emosi dan perilaku.

    Ada beberapa kemungkinan penyebab anak terlambat berbicara:
    1. Fisik (kesehatan), misalnya: anak punya masalah pendengaran, gangguan mulut, lidah, atau syaraf. Untuk memastikan apakah anak punya masalah fisik, perlu dibawa ke dokter agar bisa dicek.

    2. Pengaruh lingkungan, misalnya: terlalu banyak menonton gawai sehingga anak cenderung pasif dan malam berbicara.

    3. Kurang stimulasi, misalnya orangtua jarang mengajak anak mengobrol dan menstimulasi kemampuan bahasa anak.

    Jika anak kurang stimulasi, beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua adalah meningkatkan komunikasi dan stimulasi terkait bahasa, misalnya:

    a. Memperbanyak main dan berkegiatan bersama anak, misalnya main air, main balok, jalan pagi, dll. Setiap kali berkegiatan bersama, orangtua terus bercerita dan mengajak anak mengobrol tentang berbagai hal yang sedang dilakukan.

    “Eh kak, ini kita lagi main air. Kita main pakai gayung. Lihat gayungnya warnanya merah. Kita tuang ke sini yuk dari wadah besar ke wadah yang kecil… dst”
    Pokoknya orangtua perlu “mengoceh” terus, jangan malas untuk bercerita agar anak semakin banyak menyerap kata-kata di otaknya.

    b. Memperbanyak dialog dan tanya-jawab

    Biasakan bertanya dan melatih anak untuk berbicara.

    “Kita lagi makan nasi sama telur. Yang ini nasi, yang itu telur. Yang ini apa?”
    Tunggu anak sampai menjawab. Jika anak belum bisa, minta anak untuk mengikuti “Na… si”

    “Itu apa?” “Te… lur.”

    Lakukan obrolan tentang apapun, Ajari anak mengucapkan kata mulai dengan 2 suku kata (merah, hijau, biru, makan, minum, nasi, ayam, telur, ayah, ibu, piring, dan benda2 lain yang ada di sekitar).

    c. Dongeng dan membacakan buku sebelum tidur

    Buatlah kebiasaan untuk membacakan buku cerita atau mendongeng sebelum tidur atau kapan pun. Ini adalah proses membangun stimulasi bahasa dan kecerdasan anak. Anak menambah kosakata, belajar memahami cerita, memahami nama/tokoh/tempat, belajar memahami alur cerita, dst.

    Demikian kak. Jawaban ini tak langsung, tapi semoga bisa membantu menyelesaikan masalah lapangan yang terjadi.

    Tentang main keluar, untuk penyelesaian saat ini diatur saja waktu dan dibawa pulang jika waktunya selesai.

    Semoga dengan meningkatnya kemampuan anak berbicara, keterampilan anak mengelola emosi dan menyalurkan emosi menjadi lebih baik.

    Sekali lagi, yang kelihatannya paling dibutuhkan anak saat ini bukanlah nasihat, tetapi stimulasi keterampilan bicaranya.

    🙏🤩

    in reply to: Podcast Pengembangan Keterampilan Belajar #4873
    Aar
    Keymaster

    Kak @julia-sukma

    Untuk menyederhanakan anak tangga tahapan anak, proses yang perlu dilakukan adalah:

    1. Kenali anak tangga saat ini

    2. Kenali kesulitan anak

    3. Kenali batas kemampuan anak

    4. Sederhanakan proses mengikuti kapasitas anak


    Apa yang bisa disederhanakan?

    1. Durasi & frekuensi kegiatan. Misalnya, anak merasa sangat terbebani jika proses belajar dilakukan 1 jam, maka kita kurangi menjadi 30 menit. Jika anak merasa kesulitan berlatih setiap hari, maka diubah menjadi 3x/minggu.

    2. Target/tingkat kesulitan. Jika anak kesulitan meraih target yang ditetapkan, maka targetnya diturunkan. Misalnya, orangtua menetapkan target membaca 10 halaman/minggu. Target ini dianggap mudah untuk anak pertama, tapi ternyata anak kedua mengalami kesulitan. Jadi, targetnya diturunkan menjadi 1 halaman/hari.

    3. Kemandirian. Misalnya anak pertama saat membuat lapbook/proyek cepat belajar dan bisa melakukan sendiri. Ternyata anak kedua mengalami kesulitan. Jadi, prosesnya tidak bisa langsung dilepas, tapi butuh didampingi.

    Pengalaman kami menemani proses Duta, pada awalnya stamina bekerjanya masih lemah. Jadi, kami tetapkan durasi berkegiatan (misalnya memasak) lebih pendek dan lebih sederhana. Yang penting jalan terus, tidak berhenti dengan alasan tidak bisa melakukan. Seiring proses, staminanya semakin lama semakin kuat.

    Selain itu, target IXL Math misalnya 3 skills/hari diturunkan menjadi 1 skills/hari. Yang penting dilakukan setiap hari.

    Contoh yang lain, saat mengerjakan lapbook kakak-kakaknya bisa melakukan secara mandiri. Untuk Duta, dia perlu diajak mengobrol, diberikan contoh, dan ditemani prosesnya.

    Kuncinya dalam sudut pandang kami adalah:

    • porsi belajar disesuaikan dengan anak (tidak berdasarkan orang lain)
    • kegiatan belajar berjalan terus (tidak berhenti dengan alasan sulit/tidak bisa)

    Demikian kak, semoga membantu.

    Untuk membahas tentang proses menyederhanakan anak tangga butuh sampel. Jika kakak bersedia berbagi cerita tentang kondisi yang kakak alami, kita bisa eksplorasi lebih dalam diskusinya tentang membuatkan anak tangga lebih kecil pada anak.

    in reply to: Mengelola Jadwal Anak #4875
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb,

    Kak @miva-aziza

    Cara yang kakak lakukan sudah bagus sebagai proses awal transisi: jadwal dibimbing dan diatur oleh Ibu sedikit demi sedikit.

    Yang penting untuk menjadi catatan adalah:

    1. Kelola ekspektasi orangtua. Jangan berharap durasi dan sistem jadwal yang rigid seperti sekolah. Bahkan saat HS sudah dijalani lama, model jadwalnya bukan seperti itu.

    2. Fokuslah pada proses mengasah keterampilan belajar anak. Tugas orangtua memberikan pemahaman pada anaks sehingga anak tahu alasan belajar sebuah mata pelajaran atau melakukan kegiatan tertentu, anak memahami bahwa belajar itu miliknya (bukan milik orangtua).

    3. Untuk meningkatkan kepemilikan terhadap jadwal, berikan kesempatan anak untuk menentukan satu kegiatan yang menjadi pilihannya dan dimasukkan ke jadwal.

    4. Goal besar, orangtua punya materi dasar (tidak banyak) yang jadwalnya bisa dikelola secara mandiri oleh anak. Anak bisa menentukan kegiatan yang ingin dilakukan dan mengelolanya di dalam jadwalnya sendiri.

    Selamat berproses, kak!

    🙏🤩🔥

    in reply to: Gizi Seimbang ★ #4877
    Aar
    Keymaster

    Wah, terima kasih kak @lulum-hasanah,

    Kami bahagia mendengar cerita pemanfaatan kegiatan lapbook Gizi Seimbang sehingga memicu anak2 menjadi lebih mudah menerima penjelasan terkait makanan yang sehat untuk kepentingan mereka sendiri.

    🤩🤩🤩

    in reply to: Podcast Perpindahan dari Sekolah ke Homeschooling #4880
    Aar
    Keymaster

    Kak @nieke-wibowo

    Setahu saya data di Dapodik baru ada mulai kelas 4 SD.
    Sebelum itu, data siswa disimpan di PKBM.

    Kondisi ini yang membuat cukup banyak PKBM baru menerima siswa sejak kelas 4 SD karena syarat untuk mendapatkan ijazah Paket A adalah terdaftar dan memiliki data belajar lengkap di Dapodik.

    Semoga menjawab 🙏

    in reply to: Podcast Perpindahan dari Sekolah ke Homeschooling #4882
    Aar
    Keymaster

    Kak @nieke-wibowo

    Terima kasih pertanyaannya.

    Ada 2 pilihan yang bisa Anda pertimbangkan dalam kondisi Anda:

    1. Pindah PKBM untuk mencari PKBM yang memayungi legalitas dan proses belajarnya tidak mensyaratkan kehadiran baik fisik maupun online. Anak tetap terdaftar dan pada saat bersamaan kakak tetap bisa fokus pada terapi anak.

    2. Menunda pendaftaran di PKBM seperti yang kakak tanyakan dan berkonsentrasi pada terapi anak. Nanti jika kondisi sudah membaik, baru mendaftar di PKBM. Untuk diketahui, ada PKBM yang menerima anak mulai kelas 4 (usia 10 tahun) karena di PKBM saat ini pencatatan “resmi” yang menjadi syarat untuk mendapatkan ijazah Paket A dimulai saat anak kelas 4 hingga kelas 6.

    Demikian semoga menjawab pertanyaan kakak.. 🙏

Viewing 15 posts - 46 through 60 (of 766 total)
Scroll to Top