Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 61 through 75 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Podcast Fisiologi Pertumbuhan Anak #4884
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @salsabila-nisa-ramdani

    Indikator kualitas kelekatan bersama anak adalah:

    • anak menjalani keseharian dengan nyaman, tidak rewel
    • anak nyaman berkegiatan bersama orangtua
    • orangtua bisa mengobrol dengan nyaman bersama anak
    • anak juga bisa mengobrol dan bercerita apa saja dengan orangtua

    Secara umum, yang kakak lakukan sudah on track.

    Kakak perlu menerima dengan ikhlas kondisi yang sedang kakak alami saat ini. Jika tidak, hubungan kakak dengan bayi akan tidak baik karena kakak merasa bayi ini sebagai “gangguan”.

    Jadi, setiap anak istimewa. Tantangan kita adalah selalu “penuh” saat bersama setiap anak. Saat bersama bayi, dinikmati prosesnya. Demikian pun saat bersama kakaknya dinikmati.

    Supaya ekspektasi terkelola, jangan bayangkan bahwa kakak harus menemani anak yang besar untuk terus berkegiatan karena kondisinya memang tidak memungkinkan.

    Atur pola kegiatan:

    • alokasikan waktu untuk melakukan kegiatan bersama secara
    • berikan ruang bagi anak melakukan kegiatan bebas (ceritakan kepada anak bahwa dia juga perlu berlatih kegiatan bebas untuk melatih kemandirian dan kreativitasnya. Jadi, tidak semua kegiatannya perlu ditemani ibunya.)

    Demikian kak, semangat berkegiatan bersama anak-anak!

    🙏🔥

    in reply to: Membangun Keterampilan Belajar #4886
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb,

    Halo kak @mei-diana-wati,

    Untuk menumbuhkan motivasi intrinsik, kunci penting adalahnya: anak perlu merasa kegiatan belajar itu adalah kepentingannya.

    Jika kegiatan itu kepentingan orangtua, berarti orangtua perlu membangun narasi/penjelasan kepada anak mengapa kegiatan tersebut penting buatnya dan apa manfaatnya.

    Ketika anak sudah merasakan kepentingannya dan manfaatnya untuk dirinya, maka benih motivasi intrinsik mulai ada.

    Proses selanjutnya adalah menguatkan anak dengan mendampinginya agar dia semakin terampil melakukan kegiatan belajar.

    Demikian, semoga membantu.

    Jika kakak punya konteks dan kondisi lapangan yang spesifik terkait pertanyaan, kakak bisa menambahkan informasinya.

    🙏

    in reply to: Pengantar Homeschooling Usia Sekolah #4889
    Aar
    Keymaster

    Bagus kak @vera-marsella

    Selamat melanjutkan proses…!

    Jalani selama beberapa bulan, nanti dilihat lagi perkembangannya apakah strategi ini masih cocok atau butuh penyesuaian.

    🙏

    in reply to: Pengantar Homeschooling Usia Sekolah #4891
    Aar
    Keymaster

    Kak @vera-marsella

    Proses yang kakak lakukan sudah on track.

    Kakak membuat jadwal untuk anak, kemudian mengkomunikasikannya bersama anak.

    Untuk menambah kepemilikan anak terkait kegiatannya, diantara jadwal yang dibuat perlu dimasukkan kegiatan yang menjadi usulan anak.

    Masa transisi yang kakak lakukan berarti mulai memperkenalkan kegiatan2 yang terjadwal dan terstruktur, tidak hanya bersifat spontan.

    Salah satu alat yang bisa digunakan adalah aplikasi belajar online.

    Dulu, anak2 kami pada awalnya menggunakan IXL Math dan Reading Eggs. Kami masukkan jadwal kegiatan itu 3x/seminggu untuk perkenalan. Kami jelaskan apa ini dan kami dampingi proses awalnya sehingga anak merasa nyaman dan tidak mengalami kesulitan.

    Poin penting saat menggunakan aplikasi online adalah anak familiar, anak menikmati, dan anak tahu cara mencari solusi jika ada masalah.

    Demikian kak, semoga menjawab dan membantu.

    🙏

    in reply to: Jurnal Pengembangan Prestasi #4892
    Aar
    Keymaster

    Kak @almira-haris,

    Terima kasih sharingnya.

    Jurnal prestasi bisa digunakan sebagai pintu masuk berdiskusi bersama anak untuk membawa ke dalam kesadaran anak tentang arah yang akan dijalaninya terkait kegiatan tersebut.

    Dengan diskusi bersama orangtua, terjadi “kalibrasi” menyelaraskan ekspektasi.

    • Apakah akan terus lanjut?
    • Apakah perlu perubahan alokasi sumber daya (dana dan waktu)?
    • Apakah perlu modifikasi kegiatan?
    • Apakah ada kesepakatan baru ukuran pencapaian/prestasi?

    Saat diskusi adalah kesempatan untuk menyamakan persepsi dan harapan antara orangtua dan anak. Penting untuk bisa berdiskusi dengan nyaman tapi juga jelas.

    Terkadang, yang terjadi adalah perbedaan ekspektasi antara orangtua dan anak. Orangtua mengharapkan kegiatan menjadi pintu prestasi, anak merasa kegiatan itu untuk bersenang-senang dan kebahagiaan tanpa tuntutan prestasi/pencapaian tertentu.

    Ini yang didiskusikan bersama.

    Secara umum, perlu disepakati 2 aspek:

    • anak memiliki kegiatan yang diasah skills-nya dan terus berkembang menjadi modal utk bertumbuh/berkarya masa depan
    • anak memilik kegiatan untuk berbahagia dan bersenang-senang

    Demikian kak, semoga membantu.

    Mohon maaf agak lama menjawab karena pesan terlewat.

    🙏

    in reply to: Pengembangan Minat dan Bakat #4897
    Aar
    Keymaster

    Kak @heni-soraya

    Mendampingi anak remaja menemukan area-area yang bisa menjadi kekuatannya dalam jangka panjang adalah sebuah proses yang menantang. Banyak sekali variabel baik teknis maupun non-teknis yang mempengaruhi prosesnya.

    Variabel teknis terkait: pilihan jenis kegiatan, strategi mengasah skills, menemukan mentor & tempat belajar, menentukan karya yg terus bertumbuh, mendapatkan feedback/pencapaian positif, dll.

    Variabel non-teknis: kepercayaan diri, distraksi. kemampuan meregulasi diri, kebutuhan otonomi (yang sering membuat konflik dg orangtua)

    Apa yang bisa dilakukan:

    1. Menggunakan pendekatan lebih horizontal

    Libatkan anak secara aktif untuk mencari solusi-solusi terkait dengan kegiatannya. Diskusikan renca anak untuk mengasah diri dan menaikkan skillsnya.

    “Menurutmu, bagaimana caranya agar skill music composition-mu naik terus?”

    “Skills apa yang menurutmu perlu ditingkatkan agar kualitas karyamu terus meningkat?”

    “Bagaimana caranya kamu bisa terus belajar? Perlu ikut kelas apa?”

    “Apa goal kamu tahun ini?”

    2. Gunakan bantuan eksternal untuk menilai anak
    Untuk mengurangi konflik bersama anak, gunakan bantuan eksternal untuk memberikan penilaian dan memberikan feedback kualitas karya/skills anak. Jika memungkinkan, cari guru/mentor yang bisa membimbing dan memberikan feedback pada anak.

    “Bagaimana caranya kamu bisa mendapat feedback karyamu?”

    “Apakah ada senior yang bikin kelas dan bisa kasih feedback?”

    “Apakah kamu bisa cari komunitas digital music composition yang aktif dan saling memberikan feedback?”

    “Apakah kamu mau mencoba menjual karyamu di marketplace digital music?”

    3. Proaktif, tidak menunggu

    Jangan menunggu anak bosan. Tapi, ajak anak menjajagi kegiatan lain yang potensial untuk diasah. Dalam satu waktu, tak ada salahnya anak punya beberapa kegiatan yang sama-sama dicoba untuk diasah, misalnya: music production, foreign language, design, dll.

    Jelaskan goalnya: “Dunia profesional itu terkait kualitas karya & skills, bukan tentang suka saja. Supaya berkualitas, kamu perlu terus meningkatkan skills-mu di bidang yang kamu pilih. Dan itu berarti kamu perlu belajar bekerja keras, mengatasi rasa bosan dan malas pada bidang yang ingin kamu tekuni.”

    4. Membantu membuat strategi

    Bantulah anak membuat strategi pengembangan dirinya. Ada kegiatan yang dilakukan untuk bersenang-senang dan menjadi hobi. Ada kegiatan yang diasah untuk pengembangan diri.

    Buat peta kegiatan yang akan dilakukan tahun ini:

    • kegiatan apa saja untuk bersenang-senang
    • kegiatan apa saja yang diasah skillsnya

    Pada kegiatan yang ingin diasah skillsnya, diskusikan dan sepakati tujuan/target tahun ini:

    • apa yang akan dipelajari/dilakukan
    • belajar di mana atau dengan cara apa
    • output apa yang akan dihasilkan
    • target2 yang ingin diraih

    Tentukan target yang bisa diukur untuk minggu/bulan ini.

    Jadikan proses ini sebagai pendampingan Anda sebagai life coach untuk anak.

    Demikian kak. Untuk proses pengembangan ini memang butuh banyak diskusi dan pendampingan untuk membantu remaja kita berproses dengan pertumbuhannya.

    Semoga membantu.

    🙏

    in reply to: Konsep Dasar tentang Pembelajar Mandiri #4899
    Aar
    Keymaster

    Amin kak @heni-soraya,

    Yang sering membuat proses mengelola gawai ini sulit karena anak biasanya selalu menguji kita dan menggunakan semua yang dimilikinya untuk mendapatkannya, mulai kalimat manis, mata berkejab-kejab, merengek, menangis, mengancam, dan lainnya.

    Juga, anak semakin tahu “hot button” yang menjadi kelemahan orangtua yang membuat susah menolak permintaan mereka terkait gawai.

    Memang menantang ini, kak..

    Semoga dilancarkan prosesnya yaa.. 🙏

    in reply to: Ide Kegiatan di Rumah untuk Usia Dini #4901
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @dinda-hidayati

    Di keluarga kami semua anak belajar memasak untuk keterampilan praktis dan bersenang-senang, tapi tidak ada yang main masak-masakan. Kami tidak membelikan mainan masak-masakan untuk anak laki-laki maupun perempuan.

    Untuk memaparkan anak dengan kegiatan memasak & menghasilkan makanan, prosesnya kami sesuaikan dengan kapasitas dan kondisi anak.

    Saat anak usia dini (di bawah 7 tahun), kegiatannya sebagian besar adalah membantu memasak dan terlibat pada proses menghasilkan masakan tanpa pisau & api.

    Kegiatannya bisa bermacam-macam, misalnya:

    1. Membantu Ibu mengatur belanjaan ke kulkas/lemari

    2. Mengambilkan bahan makanan untuk dimasak, misalnya: “tolong ambilkan telur 2”, “tolong ambilkan tomat.”, dll

    3. Terlibat membantu memasak, misalnya: memotong bayam/kangkung dengan tangan, mengupas telur, mengaduk adonan, menuang adonan, menghias kue, dll.

    4. Membantu memasak secara bertahap sesuai kemampuan, misalnya: membuat es batu, membuat susu, membuat jelly, menyiapkan roti lapis mentega/selai, dll.

    Demikian kak. Proses yang biasanya kami lakukan adalah menggunakan hal real, bukan mainan. Anak terlibat langsung dan merasakan dampak dari kegiatan yang dilakukannya.

    Kuncinya adalah mengenali kegiatan2 yang aman dan bisa dilakukan untuk anak (tidak menggunakan pisau dan api).

    Semoga menjawab pertanyaan kak Dinda 🙏

    in reply to: Konsep Dasar tentang Pembelajar Mandiri #4902
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb,

    Kak @heni-soraya

    Terima kasih sharingnya.

    Internet memang pisau bermata dua. Satu sisi bermanfat dan bisa menjadi alat belajar yang sangat luar biasa pada anak-anak. Di sisi lain dia memiliki banyak distraksi yang mempengaruhi kesehatan mental dan kemampuan anak untuk fokus.

    Kunci dari penggunaan mental adalah disiplin.

    Dan disiplin adalah proses yang sangat menantang untuk dibangun. Apalagi terkait Internet karena banyak sekali distraksi yang muncul saat memakai Internet.

    Untuk membangun disiplin, ada 2 kunci penting yang perlu diperhatikan:

    1. Orangtua memimpin

    2. Aturan main yang ditegakkan secara konsisten

    Tanggung jawab penggunaan gawai ini ada di orangtua. Anak belum bisa diandalkan. Jadi, jangan menggantungkan pada anak.

    Kedua, jangan menggunakan belas kasihan sebagai basis penegakan aturan. Jika disepakati satu jam, maka gunakan timer waktu satu jam. Tegakkan aturan main secara kaku. Memang tidak enak, tapi ini adalah kunci awal untuk membangun disiplin. Jika aturan selalu bisa dinegosiasikan, maka aturan itu tak bermakna.

    Buat konsekuensi jika aturan dilanggar yang dimengerti dan disepakati bersama anak. Misalnya: jika saat bekerja terdistraksi menonton yang lain, maka “kesenangan anak dikurangi”. Jika berulang, makan dicabut.

    Di keluarga kami, rule is rule. Jika pagi adalah kegiatan berkarya memakai komputer Internet/komputer, maka waktu digunakan untuk berkarya. Menonton hiburan dialokasikan hari Sabtu & Minggu.

    Jika dilanggar, maka besok tidak boleh memakai komputer. Rugi karena nggak bisa belajar/berrkarya? Tidak apa-apa. Itu ongkos yang harus ditanggung untuk menegakkan disiplin.

    Jika berulang, maka jatah nonton/main di hari Sabtu/Minggu dikurangi, bahkan bisa dicabut.

    Di lapangan, anak akan “mengetes” apakah orangtua bersunggung-sungguh dan tega?

    Dan kami tega.

    Ada peristwa Duta tidak bisa main/nonton di hari Sabtu/Minggu. Ada momen lain bahkan di hari2 biasa (weekdays) kami cabut hak memakai komputer karena terdistraksi berulang dan emosinya tidak stabil.

    Momen itu hanya terjadi sekali-kali, tapi membekas. Anak-anak jadi tahu bahwa orangtua bersungguh-sungguh menegakkan aturan main dan kesepakatan, bukan hanya mengancam saja.

    Demikian kak. semoga membantu.. 🙏

    in reply to: Membangun Budaya Belajar #4905
    Aar
    Keymaster

    Kak @julia-sukma,

    Kita semua memiliki kekuatan dan sekaligus kekurangan yang senantiasa masih perlu terus kita perbaiki.

    Pada saat kita dikaruniai dan dititipi anak, bisa dipastikan kita juga masih jauh dari sempurna. Kekurangan dan ketidaksempurnaan bukan menjadi penghalang kita untuk memimpin anak dan pada saat bersamaan terus memperbaiki diri.

    Jadi, keduanya perlu berjalan parallel, kak.

    Satu sisi kita membimbing anak agar senang belajar dan terampil belajar.

    Pada sisi lain, kita juga terus belajar sehingga semakin terampil dan menunjukkan pada anak bahwa sebagai orangtua kita pun masih terus belajar.

    Selamat bertumbuh sebagai individu dan bersama keluarga, kak!
    🙏🤩

    in reply to: Video Reflektif: 6 Masalah Sistem Persekolahan #4906
    Aar
    Keymaster

    Kak @evy-azhar,

    Selamat berproses, kak. Tidak ada sistem yang sempurna.

    Yang penting kita selalu membuka diri untuk terus belajar dan berproses.

    Mulai dari apa yang bisa dilakukan.

    Apapun kondisinya, pastikan selalu memperkuat hubungan dan komunikasi bersama anak.

    Selamat bertumbuh sebagai individu dan bersama keluarga!

    🙏🤩

    in reply to: Video Inspiratif: Anak Meneladani Orangtua #4907
    Aar
    Keymaster

    Mohon maaf kak, videonya dihapus oleh Youtube 🙏

    in reply to: Podcast Sosialisasi Homeschooling Anak Usia Dini #4911
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @yane-riana

    Terima kasih sharingnya kak. Kebayang hati kakak jadi tidak nyaman karena komentar guru yang sangat tidak empatik pada siswanya. Dia hanya tahu sepintas tentang homeschooling tetapi sudah berani menghakimi pilihan homeschooling yang diambil oleh kakak.

    Jika kakak memutuskan untuk menjalani HS Usia Dini, ada beberapa catatan yang ingin saya berikan untuk memperkuat perjalanan kakak:

    1. Kuatkan bonding & connection bersama anak

    Nikmati kegiatan bersama anak. Jadikan keseharian bersama anak membahagiakan untuk anak maupun orangtua. Jika kualitas keseharian asyik, itu sudah seperti memastikan lahan subur sehingga benih-benih potensi anak bisa berkembang baik.

    2. Menjalani hari dengan bahagia

    Jadikan kehidupan anak sebagai proses belajar dan materi belajar anak. Yang disebut belajar bukan hanya calistung dan menambah pengetahuan. Belajar juga terkait proses membangun kemandirian dan kebiasaan-kebiasaan baik. Bangun tidur tidak menangis, minum air putih supaya sehat, mengasah kemandirian terkait mandi, makan, minum, dll.

    Belajar bukan hanya terjadi di waktu-waktu tertentu. Belajar terjadi sejak anak bangun tidur hingga tidur lagi.

    3. Perbanyak kegiatan fisik

    Perbanyak kegiatan fisik karena kegiatan fisik itu bukan hanya membuat anak sehat dan bugar, tetapi juga menjadi stimulasi untuk perkembangan syaraf-syaraf terkait kecerdasan. Main lembar bola di rumah, aneka jalan dan lompat, main ke taman bermain dekat rumah, dll.

    4. Mengobrol dan mengobrol

    Anda memang perlu mengalokasikan waktu minimal 30 menit untuk berkegiatan khusus bersama anak. Di luar itu, proses belajar sangat bisa dilakukan dengan aneka kegiatan kecil keseharian dan mengobrol. Libatkan anak dalam urusan2 rumah, misalnya: membantu memasukkan baju kotor ke mesin cuci, belajar mengoperasikan mesin cuci, mengambil jemuran, membantu mengupas telur, membantu mengambilkan bahan di kulkas, dll.

    5. Nikmati keseharian

    Yang pasti, upayakan untuk hadir secara mindful bersama anak. Nikmati keseharian bersama anak.

    Kunci keberhasilan HS Usia Dini adalah keseharian berlangsung membahagiakan dan minim drama.

    Demikian kak, selamat menikmati petualangan belajar bersama anak-anak..

    🙏


    in reply to: Pengembangan Minat dan Bakat #4913
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Astrid,

    Terkait proses membangun konsistensi pada anak, ada beberapa catatan yang bisa kami berikan:

    1. Mulai dari anak

    Mulailah proses membangun konsistensi dari hal-hal yang disukai atau dibutuhkan anak. Ini jauh lebih mudah dibandingkan memaksa anak mengikuti kemauan kita dan bersikap konsisten pada hal yang tak disukainya.

    Banyak contoh peristiwa penentangan anak terjadi di lapangan. Anak yang dipaksa mengikuti perintah orangtua sangat mungkin bisa berprestasi, tapi tak akan bertahan lama jika tak disertai motivasi dari dalam dirinya.

    Motivasi dari dalam diri adalah sumber penting untuk membangun konsistensi.

    2. Anak memiliki tujuan

    Ketika anak melakukan kegiatan, penting bagi orangtua untuk membantu anak memiliki tujuan. Apa yang ingin dikejar? Apa target jangka panjang? Apa target jangka pendek?

    Target dan tujuan ini sebaiknya dimiliki anak, bukan cuma ditetapkan orangtua.

    Berdasarkan target dan tujuan itulah akan muncul porsi latihan/beban yang dibutuhkan.

    Jadi, prosesnya bukan hanya menyuruh anak berlatih atau memaksa anak berlatih. Ini juga bukan perihal tega dan kasihan.

    Jika anak merasa memiliki kegiatannya dan punya tujuan, proses pembimbingan menjadi lebih mudah. Inipun tak ada jaminan akan berhasil.

    Studi kasus konsistensi

    Kami punya contoh tentang konsistensi ini pada anak kami ketiga, Satria Duta.

    Dia menyukai catur. Karena suka, dia rajin berlatih. Karena rajin berlatih, dia sering menang sehingga membuatnya semakin semangat berlatih. Ini menjadi spiral positif yang membuat dia semangat berlatih.

    Bukan hanya suka, Duta memiliki tujuan yang jelas, ingin menjadi grandmaster.

    Kami bertanya kepadanya: “Apa yang dibutuhkan untuk menjadi grandmaster?”
    Jawabnya: “Berlatih keras dan sering menang tanding.”

    Dengan rasa memiliki terhadap kegiatannya dan tujuannya (bukan tujuan orangtuanya), Duta sangat termotivasi untuk bekerja keras dan berlatih.

    Kami tak perlu menyuruhnya berlatih karena dia tahu berlatih itu adalah kepentingannya.

    Dalam kondisi normal, Duta berlatih catur sejak pagi sampai malam, bahkan beberapa seminggu ada kelas yang harus diikutinya hingga pk. 22.30.

    Mengapa Duta bisa seperti itu? Karena dia merasa semua itu kepentingannya.

    Demikian kak, semoga membantu.

    Semoga kakak bisa membantu anak menemukan kegiatan yang disukai dan ingin dikejarnya sehingga mau berlatih dengan konsisten seperti yang diharapkan.

    🙏

    in reply to: Podcast Tips Persiapan HS Usia Dini #4921
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @wiji-diah,

    Terima kasih sharing dan pertanyaannya.

    Terkait kemampuan anak untuk makan sendiri, ada beberapa kondisi yang saling terkait dan perlu menjadi perhatian. Saya tidak tahu kondisi yang ada di keluarga Anda. Beberapa catatan ini semoga bisa membantu mencari solusi.

    1. Usia Mulai Makan Mandiri

    Anak-anak biasanya mulai belajar makan sendiri antara usia 18 bulan hingga 3 tahun. Keterampilan ini berkembang secara bertahap, dimulai dari menggunakan tangan, lalu beralih ke sendok dan garpu saat mereka bertambah tua.

    Anak-anak perlu diajari makan sendiri dan tidak disuapi supaya skills motorik halus (tangan & jari) mereka terasah dan mereka tidak merasa malas (keenakan) hanya buka mulut untuk makan.

    Pada usia anak-anak kakak (6 & 4.5 tahun), mereka sudah berada dalam rentang usia normal untuk bisa makan sendiri.

    Tapi skills makan mandiri ini tidak hanya dipengaruhi oleh usia, tetapi juga oleh stimulasi yang diperoleh anak sebelumnya.

    2. Durasi Makan

    Anak-anak makan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Jika mereka membutuhkan waktu hingga 3 jam, ini bisa dianggap terlalu lama.

    Yg menjadi pertanyaan untuk diamati dan direfleksikan, mengapa proses makan mereka sangat lama?

    a. Apakah mereka kenyang dan tidak suka makanannya? Jika iya, apa penyebabnya? Biasanya masalah semacam ini terjadi karena anak minum susu atau snack sebelum waktu makan sehingga tidak merasa lapar. Solusinya adalah tidak ada snack dan susu sehingga anak lapar (dan membutuhkan makan secara alamiah).

    b. Bagaimana cara anak makan? Apakah anak duduk di meja atau sambil main? Jika sambil main atau menonton, itu menjadi distraksi. Solusinya adalah makan dengan duduk di kursi meja makan, tanpa distraksi apapun. Jika tidak selesai, tidak ada kegiatan lain.

    c. Apakah kakak punya aturan berapa durasi makan anak yang diharapkan? Jika durasi terlewati, apa yang kakak lakukan?

    Jika kakak marah2 dan kemudian menyuapi anak, itu akan memberikan sinyal yang buruk pada anak bahwa pada akhirnya Bundanya menyerah. Yang berkepentingan untuk makan adalah Bunda, bukan anak. Jadi, anak akan suka2.

    Untuk menegakkan aturan, memang dibutuhkan ketegaan. Berikan durasi waktu: “Kakak duduk di sini untuk makan. Waktu makan sampai jarum panjang di angka 3. Kalau belum selesai, makanan akan diambil. Tidak ada snack, tidak ada susu. Makanan baru akan ada lagi nanti malam.”


    Jadi, yang dibutuhkan adalah:

    1. Buat anak lapar waktu jam makan. Berikan makanan kesukaan mereka dan porsi kecil yang sesuai sebagai proses awal.

    2. Buat aturan main yang dimengerti dan ditegakkan, bukan diingatkan. Buatlah jadwal makan yang konsisten.

    3. Jangan suapi anak, tapi latih anak untuk belajar menggunakan tangannya untuk makan. Jika tangan anak lemah, latih dengan memperbanyak stimulasi motorik halus: memegang benda, melempar benda, menggunting, meremas, meronce, mencoret2, dll.


    Sekali lagi, yang dibutuhkan adalah sistem untuk berlatih dan pembimbingan (tanpa marah dan tanpa disuapi).


    Demikian kak, semoga membantu. 🙏

Viewing 15 posts - 61 through 75 (of 766 total)
Scroll to Top