Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterHalo kak,
Game itu macam2 bentuknya.
Ada berupa kegiatan fisik, ada boardgame, dan ada aplikasi digital.
Di tema ini kami juga berikan contoh2 game yang digunakan anak-anak dulu.
Setiap zaman berbeda jenis game yang digunakan. Ini yang perlu menjadi perhatian orangtua saat mau menggunakan game sebagai materi/proses belajar.
Aar
KeymasterKak Antik,
Biasanya pilihan paper terpulang pada aplikasi pembuka PDF nya kak. Silakan mencoba membuka file menggunakan aplikasi pembuka PDF yang berbeda, dan pilih cetak/print dan temukan pilihan kertasnya.
Kami biasanya menggunakan Adobe PDF Reader.
Semoga bisa membantu.
Aar
KeymasterKak @dina-oktaviana
Dari sisi konten, masukan yang kakak berikan itu bagus dan tidak ada masalah.
Sebelum mencari solusi, PR terbesar kita adalah mencoba mengenali apa penyebab masalahnya: mengapa resistensi anak sangat besar terhadap nasihat itu?
Karena komunikasi bukan hanya perihal isi materinya, tapi ada konteks, cara penyampaian, termasuk kondisi penerima pesan (anak) yang mempengaruhi penerimaan/penolakan pesan.
Ini yang perlu digali lebih mendalam oleh kakak.
Misalnya:
- Apakah pesan itu disampaikan sekaligus sehingga terasa berat dan jadi banyak aturan yang dirasakan mengekang oleh anak?
- Apakah pesan itu disampaikan dengan intonasi yang membuat anak tidak nyaman?
- Apakah anak sedang dalam kondisi tidak nyaman saat menerima pesan?
- Dst
Jika tidak yakin dengan penyebab penentangan anak, hal yang bisa kita lakukan adalah bertanya langsung pada anak:
- Apa yang tidak kamu setujui? Mengapa kamu tidak setuju?
- Kamu tahu mengapa ada petunjuk itu?
- Menurut kamu, bagaimana sebaiknya?
Diskusi itu yang perlu dilakukan bersama anak dalam kondisi santai.
Kunci efektivitas pesan/perintah/nasihat adalah kesiapan anak menerima dan proses penyampaian yang asyik. Dalam proses penyampaian yang asyik itu termasuk kesediaan kita berdialog bersama anak.
Misalnya, daripada menasihati jangan ini-itu dan harus ini-itu, kita bisa menggunakan kalimat tanya:
~ Kenapa sih di masjid lari-larian? Menurut kakak itu bagus, nggak? Kalau yang bagus bagaimana?
~ Kenapa sih kalau harus rebutan keluar masjid? Kalau nggak ikut rebutan efeknya apa?
~ Kenapa sih pada seneng lempar-lemparan kerikil? Emang nggak sakit kalau kena? Ada yang pernah sakit nggak? Ada yg pernah nangis nggak? Emang nggak ada mainan lain?Demikian kak, semoga membantu proses dialog dan mencari solusi yang asyik bersama anak-anak.
🙏
Aar
KeymasterKak @mira-wulandari,
Terima kasih pertanyaannya.
Kunci penting untuk melatih anak agar terampil melakukan perjalanan mandiri adalah:
- bertahap
- sesuai kondisi
- fokus utama pada keamanan dan keselamatan
Patokannya bukan usia, tetapi kesiapan anak.
Jadi, yang perlu dilakukan adalah proses melatih anak melakukan perjalanan mandiri secara bertahap sesuai kondisi.
Jika menggunakan kendaraan umum, prosesnya kurang lebih:
- Pergi bersama orangtua/orang dewasa ke tempat tujuan yang sama berkali-kali, pulang pergi
- Mendiskusikan tempat dan titik2 penting selama perjalanan sehingga memahami rute yang dilewati.
- Diskusikan prosedur keselamatan, misalnya: jika salah naik kendaraan, jika salah turun, jika dicopet, dan lain-lain. Apa yang perlu dilakukan?
- Melakukan perjalanan bersama, tapi anak yang memimpin (orangtua hanya pasif dan memastikan keputusan anak benar. Jika keputusannya salah, biarkan dan lihat bagaimana cara anak mencari solusi).
- Anak bepergian dengan orang lain ke tempat tujuan yang dikenal
- Anak bepergian sendiri
Nah, tahapan2 tersebut dilakukan secara bertahap. Tugas kita adalah menaikkan tantangan selapis demi selapis.
Jika menggunakan ojol, beberapa prosedur yang bisa dilakukan:
1. Anak belajar memesan kendaraan saat pergi bersama orangtua sehingga terampil
2. Buat panduan prosedur yg perlu dilakukan anak, misalnya: printscreen pesanan dan kirim kw grup keluarga, begitu jalan, share live location ke grup keluarga sehingga bisa dipantau; kalau sampai di tempat lapor WA
Demikian kak. Sekali intinya bukan pada usia, kita membuatkan tangga-tangga proses yang sesuai dengan kondisi lapangan dan sesuai kapasitas anak.
Semoga membantu 🙏
Aar
KeymasterHalo kak @dina-oktaviana,
Terima kasih sharingnya.
Saya berusaha memahami kondisi yang sedang dialami dan agak mengalami kesulitan.
Secara umum, pergaulan anak kecil (dalam sudut pandang saya) tidak terlalu bermasalah. Ada masalah-masalah kecil, tapi itu bagian dari dinamika yang terjadi di lapangan yang menjadi proses belajar anak secara sosial.
“Apa saja masukan yg kakak sampaikan sehingga membuat anak berpikir teman-temannya “sangat jelek” sehingga merasa tidak nyaman untuk berteman lagi? Apakah aturan benar/salah yang diberikan terlalu ketat menurutnya?”
Yang perlu dilakukan mungkin bukan melakukan aksi untuk membuat anak paham, tetapi mendengarkan perasaan dan sudut pandangnya:
“Menurut kamu bagaimana?”
“Bagusnya bagaimana?”
Proses mendengarkan dengan tulus itu perlu dilakukan karena anak bukan kertas kosong yang bisa ditulisi sekendak hati orangtua/orang dewasa. Anak punya potensi nalar/logika dan berusaha menggesekkan yang diterimanya dengan dirinya.
Jika kita terlalu kaku dan memaksakan nasihat/masukan kita, yang muncul adalah perlawanan baik terbuka maupun tersembunyi. Dan itu bisa menjadi sumber konflik dalam jangka panjang.
Dengan upaya mendengarkan anak secara tulus, kita jadi memahami concern anak dan bisa mencari solusi2 praktis di lapangan sesuai kondisi saat ini.
Demikian kak, semoga membantu.
Jika ada informasi tambahan yang lebih detil, akan sangat membantu saya memahami kondisinya.
🙏
Aar
KeymasterTerima kasih untuk lanjutan informasinya, kak.
Semoga perjalanan kakak semakin ringan dan semakin mulus. Semoga kakak senantiasa dikuatkan menjalaninya dengan sebaik-baiknya bersama pasangan.
Doa kami, semoga yang terbaik selalu mengiringi kakak, anak-anak, dan keluarga.
🙏
Aar
KeymasterKak @elsa.murdiana
Yang kakak lakukan itu sudah on track, sudah bagus. Termasuk dalam kelompok kanan kurva normal alias hanya sedikit yang melakukannya.
Jika ini dijaga kontinu, hasilnya sudah akan sangat membantu mindfulness dan menjaga kualitas homeschooling anak-anak.
Apakah masih bisa ditingkatkan?
Tentu saja selalu ada ruang perbaikan untuk semua hal. Isunya adalah kelayakan untuk dilakukan. Apakah berharga untuk dilakukan?
Dalam kondisi ini, yang perlu diperhatikan adalah: tingkat perbaikan dibandingkan upaya/energi.
Jika untuk naik 1 tingkat (yang sebetulnya hanya bersifat tambahan, bukan substansial) membutuhkan upaya 100, apakah itu layak untuk dilakukan? Upaya 100 tadi lebih efektif dialokasikan untuk apa?
Demikian kak, semoga membantu.
🙏
Aar
KeymasterTerima kasih kak @mira-wulandari untuk sharing pengalamannya.
Yang kakak lakukan sudah on track.
Proses belajar mulai dipegang anak. Orangtua mundur dan berfungsi sebagai QC (Quality Controller). Anak belajar menentukan kendali dan kepemilikan atas proses belajar yang dijalaninya.
Terkait hubungan dengan remaja, ada beberapa hal yang bisa kakak lakukan:
1. Pastikan kualitas hubungan tetap terjaga baik sehingga bisa saling berkomunikasi walaupun tak selalu mulus.
2. Bimbing anak untuk mencari dan menemukan hal yang diminati. Dimulai dengan mencoba dan belajar mengasah skills. Jika tidak cocok, ganti juga tidak apa2. Tapi tetap bersungguh-sungguh dalam hal apapun yang dicoba.
3. Cari kesempatan untuk anak berkegiatan di luar sehingga bisa menggesekkan diri dengan orang lain dan kegiatan lain. Kegiatan luar juga bermanfaat untuk mengurangi gesekan antara anak dan orangtua di rumah.
4. Pastikan anak selalu merasa bahwa orangtua mendukungnya. “Bapak/Ibu akan menerimamu apa adanya dan mendukungmu. Tugasmu adalah mencari hal yang kamu asah dan kamu bekerja keras sebaik-baiknya.”
5. Sambil mencari dan menemukan hal yang diasah, jangan lupa mengasah keterampilan basic, misalnya: bahasa Inggris. Pastikan skills bahasa Inggris naik terus hingga anak lancar berbicara dan menulis. Gunakan standar seperti TOEFL/IELTS untuk mengukur pertumbuhan kemampuan bahasa Inggris anak.
Demikian kak, semoga membantu.
Selamat bertumbuh..🙏
Aar
KeymasterTerima kasih sharingnya kak @mira-wulandari
Ikut berbahagia dengan proses yang dijalani.
Betul sekali, ilmu homeschooling banyak sekali terkait dengan praktik, bukan hanya sekadar pengetahuan dan teori yang perlu diketahui.
Dari praktik, kita akan mendapatkan skills dan wisdom.
Yang kakak sampaikan tentang pentingnya anak menulis sendiri jadwal/kegiatannya juga sangat tepat. Hal yang kelihatannya sederhana itu adalah bagian dari proses untuk membuat anak merasa memiliki kegiatannya.
Selamat berproses dan bertumbuh ya kak..
🙏
Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Kak @ini-dini
Apakah sudah sempat mempelajari materi-materi pembahasan yang ada di ebook dan podcast lain?
Semua materi-materi itu saling memperkuat gagasan yang ada.
Beberapa materinya juga diperdalam dalam kelas “10 Keterampilan Dasar Anak”.
Bolehkah kakak mempertajam pertanyaannya? Aspek apa yang ingin diketahui atau mungkin kasus yang sedang kakak hadapi?
Dimulai dari 1 pertanyaan dulu agar saya bisa menjawab lebih jelas.
Terima kasih
🙏
Aar
KeymasterHalo kak @dhiyan-fathiya,
Saya belum terlalu faham maksud pertanyaan kakak tentang hubungan kegiatan mandiri dan HP. Apakah maksudnya mengatur kegiatan anak tanpa HP dan memanfaatkan HP secara produktif?
1. Manajemen HP
Kami sekeluarga bekerja online, aktif menggunakan komputer dan HP sehari-hari.
Anak-anak pada saat kecil terbiasa belajar menggunakan laptop. Mereka mulai memakai HP sekitar usia remaja.
Di rumah kami, ada aturan main terkait komputer dan HP. Beberapa diantaranya:
1. HP milik Bapak Ibu, status anak-anak meminjam HP. Pemakaian HP harus sesuai aturan. Jika tak sesuai aturan, pemakaian HP/komputer bisa dibatasi atau dihentikan. Anak-anak kami baru memakai HP saat usia remaja (sekitar 13 tahun). Sebelum itu mereka hanya pakai HP dengan pinjam milik kami.
2. HP tak boleh digunakan saat makan bersama.
3. Kegiatan anak2 sebagian besar di laptop, bukan di HP. Anak-anak boleh pakai HP untuk menonton dan main game di waktu2 yang memang diperbolehkan, misalnya saat istirahat makan siang atau Sabtu/Minggu.
4. HP bisa dicabut pemakaiannya jika anak2 mereka main game melebihi waktunya, kegiatan2 utama tidak dikerjakan, dan emosi mereka tidak stabil. Salah satu ukuran ketidakstabilan adalah anak2 selalu ingin main game dan hanya belajar sekadarnya.
5. Semua aturan2 itu dibicarakan dengan anak dan disepakati, serta ditegakkan.
6. Saat anak semakin besar, aturan itu dilonggarkan. Anak semakin mendapat kepercayaan mengatur dirinya. Kesepakatannya: proses belajar dan tugas2 utama beres.
Kuncinya adalah ada aturan main yang disepakati antara orangtua dan anak. Isi kesepakatannya tergantung keluarga.
Ada kondisi lain, saat anak kedua kami, Tata SMA. Dia menjalankan bisnis Kreasita. Setiap hari sejak pagi hingga malam dia belajar dan bekerja di depan komputer. Kami memberikan kepercayaan penuh kepadanya untuk mengatur kesehariannya, termasuk pemakaian HP dan komputer. Kami berkomunikasi berdasarkan output dan deadline yang disepakati.
Jadi, kami tidak memusuhi HP. Yang berusaha kami lakukan adalah membimbing anak2 agar bisa menggunakan HP dan komputer sebagai alat yang produktif.
2. Pekerjaan orangtua
Dari mana kakak mendapat kesan bahwa Ibu HS tidak boleh bekerja dan Ibu HS terbatas menggunakan media sosial?
Poin penting HS adalah orangtua membimbing anak-anaknya untuk menjalani pendidikan sehari-hari. Jadi, kuncinya memang alokasi waktu dan energi. Kalau orangtua tidak punya waktu dan energi untuk mendampingi anak, tentu akan sulit menjalani HS.
Pertanyaannya: jika orangtua tidak punya waktu, siapa yang akan mendampingi dan membimbing anak?
Nah, siapa yang akan mendampingi anak? Itu sudah kesepakatan bersama antara suami dan isteri. Ada keluarga yang Ibunya di rumah dan menjalankan proses utama HS. Ada keluarga lain yang ibunya bekerja dan ayahnya bekerja fleksibel sehingga memimpin keseharian HS.
Ada Ibu dan Ayah yang bekerja, tapi mereka bisa mengalokasikan waktu bergantian memimpin proses HS dan memanfaatkan dukungan keluarga besar (kakek/nenek) untuk menjalani HS.
Ada juga orangtua bekerja dengan anak HS remaja dan pola kegiatan anak banyak menggunakan bantuan eksternal: aplikasi, komunitas, kursus, kegiatan klub, dll. Anak sudah mandiri berkegiatan di luar.
Setting keluarga HS bermacam-macam, tapi substansinya sama: untuk menjalani HS dibutuhkan waktu dan energi mendampingi anak-anak.
Demikian kak, semoga membantu 🙏
Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Halo kak @r-fardhany,
Terima kasih sharingnya yang lengkap sehingga membuat saya lebih memahami konteks kondisi yang sedang Anda alami.
1. Setiap anak unik
Setiap anak unik dan memiliki tantangan yang berbeda-beda. Yang sering menjadi masalah, banyak anggota masyarakat yang cenderung menstandarkan dan terbiasa memaksa anak-anak agar menyesuaikan dengan standar yang berlaku di masyarakat.
Sementara itu, kita malas atau merasa tidak perlu menjelaskan kondisi anak/kita kepada orang lain.
Jadi, secara umum kakak perlu fokus menerima dan mendampingi proses anak serta agak mengabaikan masukan orang yang menurut kakak tak sesuai dengan kondisi anak dan keluarga kakak.
Apalagi anak pernah punya pengalaman buruk dan traumatik terkait penculikan. Dia butuh waktu lebih lama untuk merasa nyaman dengan lingkungan baru yang tak sepenuhnya dia percaya atau dia kenal.
Untuk menjadi mandiri, yang dibutuhkan adalah anak merasa aman dan nyaman. Ini basic-nya. Jika dia merasa aman dan nyaman dengan dirinya sendiri, secara alamiah anak akan mulai keluar menjangkau sekitarnya.
Nah, tugas kakak adalah membantu anak memberikan rasa aman dan nyaman ini.
Jika anak masih merasa butuh pendampingan, dampingi agar dia merasa tenang dan nyaman.
Jika ada orang dewasa tertentu (misalnya guru ngaji) yang menurut Anda bisa membantu memberikan rasa aman dan nyaman pada anak, Anda bisa ceritakan kondisi anak yg pernah trauma penculikan sehingga dia tidak terlalu menekan anak terkait aspek kemandirian terhadap orang lain.
2. Bonding dengan Ayah
Manfaatkan kehadiran ayah sambung sebagai figur baru yang bisa menjadi sosok laki-laki pelindung untuk anak. Bangun bonding antara ayah sambung dengan anak dengan cara sering melakukan kegiatan yang santai dan disukai apapun, misalnya: main bola, memancing, naik motor, masak-masak, mengaji bersama, atau hal-hal yang membuat anak merasa tenang dan ada yang melindunginya.
Proses ini mungkin tak mudah dan membutuhkan waktu. Tapi proses semacam ini perlu dilakukan sedikit demi sedikit sehingga anak menemukan kehidupan baru yang nyaman bersama keluarga (ayah) baru.
Demikian kak, semoga masukan ini membantu.
Silakan ditanyakan lebih jauh jika ada hal yang perlu dieksplorasi lebih mendalam.
🙏
Aar
KeymasterKak @annisa–sidqia-nahdah,
Selamat ya kak untuk kesadarannya untuk berproses menjadi orangtua yang semakin baik dan terus bertumbuh.
Sebagaimana proses yang dijalani sudah berlangsung bertahun-tahun, perubahan juga membutuhkan waktu tidak cepat untuk berdampak.
Kesadaran Proses Berubah
Sebagai orangtua, penting untuk menerima bahwa saat remaja kita sedang menerima buah2 dari proses yang sudah kita jalani selama ini. Kita memang tidak sempurna dan tidak ada orangtua yang sempurna. Tapi jika kita mau dan bisa berubah, banyak hal baik yang bisa terjadi pada anak-anak.
Jika kita ingin mengubah, penting untuk tidak melakukan proses/kesalahan yang sama dengan sebelumnya. Ini yang menantang karena kita punya kecenderungan untuk mengulang hal-hal yang sudah kita lakukan bertahun-tahun.
Mindset paling penting adalah: fokus pada yg hal yang bisa kontrol. Kita tidak ingin mengubah anak, tetapi perlu mengubah pola2 kita sendiri saat bersama anak. Sikap anak (buah) adalah respon dari aksi-aksi yang kita lakukan.
Perubahan membutuhkan waktu
Untuk mendapatkan perubahan, akan ada interaksi dua arah yang dimulai dari inisiatif perubahan yang dilakukan orangtua:
- orangtua berubah dan lebih membuka diri untuk pola hubungan yang lebih horizontal serta mengurangi penggunaan otoritas/kepatuhan
- anak akan belajar mempercayai bahwa orangtua tulus mendengarkan pendapat/sikapnya
Bentuk perubahan
Bola utamanya ada di orangtua, melalui beberapa pola yang dilakukan secara bertahap. Intinya adalah:
1. Mengurangi perintah, memperbanyak minta tolong. Jika anak tidak mau, tidak marah.
2. Memperbanyak mengobrol tentang keseharian
3. Mengurangi penilaian terhadap anak. Apapun yang dilakukan anak diterima sebagai kenyataan. Jika tak terima, kita bertanya, bukan menaikkan nada suara dan menilai.
4. Memperbanyak bertanya dengan nada datar dan santai jika anak melakukan kesalahan atau ada hal yang menurut kita tidak tepat.
“Mas, mengapa kegiatan xxxx tidak dilakukan?” – menggali alasan secara objektif
“Mas, kamu lagi sibuk sekali ya sehingga tugas xxx terlewat?” – berprasangka baik pada anak
“Mas, tahu nggak dulu waktu Bunda seumuran kamu pernah melakukan hal konyol xxxx” -bercerita hal2 lucu & konyol tentang kehidupan masa muda kita utk menunjukkan bahwa kita menerima kenakalan2 wajar anak
Perubahan radikal
Perubahan juga bisa dilakukan dengan lebih radikal dimulai dengan minta maaf kepada anak atas kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan.
“Bunda baru menyadari bahwa banyak kesalahan2 parenting yang selama ini Bunda lakukan dan Bunda ingin berubah agar hubungan kita menjadi lebih baik.” (niatnya bukan mengubah anak)
“Bunda minta maaf sering marah, memaksa, mengomel, dll (berikan contoh2 peristiwa) yang teringat.”
“Bunda ingin memperbaiki semuanya. Menurutmu, perubahan apa yang penting untuk Bunda lakukan terkait hubungan kita?”
Ini poin besarnya dan siapkan mendengarkan dengan seluruh hati/telinga tanpa membantah apapun yang dikatakan anak. Kita sangat mungkin tidak terima atas kata-kata anak, tapi usahakan untuk tutup mulut rapat-rapat. Terima dan tenangkan hati, kemudian olah menjadi pupuk yang akan menjadi modal pertumbuhan berikutnya.
Catatan: jalan perubahan radikal itu sulit dan tidak semua orangtua sanggup melakukannya. Jika tidak bisa tidak apa2. Pilih jalan lebih memungkinkan untuk anak lakukan dan sesuai kondisi Anda.
Demikian kak, semoga membantu.
🙏
Aar
KeymasterKak @wiji-diah
Perbedaan hari libur dan tidak libur:
Saat hari aktif belajar, ada jadwal/target/rencana kegiatan anak yang dimonitor orangtua. Orangtua mendampingi anak berkegiatan atau memastikan bahwa kegiatannya berjalan dengan baik.
Saat hari libur, berarti tak ada target tertentu yang dilakukan anak. Anak bebas memilih dan menentukan kegiatannya mau apa. Orangtua tidak minta/cek output atau hasil kegiatan anak.
Demikian kak, semoga membantu.
🙏
Aar
KeymasterKak @luana-yunaneva
Selamat ya kak untuk ketertarikan anaknya pada lapbook dan mulai ngulik-ngulik lapbook.
Ketertarikan anak adalah pintu belajar yang besar.
Untuk anak usia dini, beberapa prinsip belajarnya:
1. Berangkat dari kesukaan
Mulai dari yang diminati/disukai anak; pikirkan cara mengolah hal yang disukai anak menjadi stimulasi. Misalnya anak tertarik lapbook, Anda bisa memanfaatkannya untuk menstimulasi motorik halus seperti memotong, mewarnai, menempel, melipat. Jangan terlalu fokus pada konten. Diskusikan konten tapi santai dan turunkan ekspektasi.
Jika ada hal yang tidak disukai atau belum berminat, lewati saja saja dulu. Masih banyak hal yang bisa dilakukan dari hal yang diperkenalkan orangtua dan disukai anak.
2. Sesuai kapasitas anak
Sesuaikan kegiatan dengan kapasitas anak. Jika anak belum bisa menulis, jangan paksa menulis. Jika dia baru bisa coret-coret, biarkan dia coret2 sebagai stimulasi halus. Berikan panduan dan koridor sesuai kemampuannya. Jika dia baru bisa bertahan 5 menit, mulailah kegiatan dari 5 menit. Nanti kegiatan bisa dilanjutkan lagi di waktu lain.
Secara umum, kapasitas fokus anak usia 4.5 tahun sekitar 4.5 menit (satu kali usia) hingga 9 menit (dua kali usia).
3. Bersenang-senang
Tujuan besar dari kegiatan anak adalah anak bisa merasakan pengalaman yang asyik saat berkegiatan sehingga mau mengulanginya di waktu lain.
Jangan sampai anak merasa tertekan dan tak mau melakukan kegiatan lagi, apalagi merasa takut/trauma berkegiatan. Bikin aturan main dan koridor untuk membantu anak mengenali batas, tapi jangan sampai anak mengalami pengalaman buruk.
Kita melakukan marathon dan kunci marathon adalah anak mau terus melakukan kegiatannya bersama kita.
Demikian kak, Selamat berkegiatan dan bersenang-senang!
🙏
-
AuthorPosts