Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterKak @luana-yunaneva
Untuk pendekatan belajar membaca suku kata dua-duanya bisa dipakai, yang penting:
1. Sedikit demi sedikit
2. Bermakna; kaitkan dengan kata yang bermakna (salah satunya me
a. Latihan suku kata
Dua teknik yang kakak sebutkan bisa digunakan.
Latihannya: be a = ba, be i = bi, be u = bu, dst
Bisa juga langsung menyebutkan: ba-bi-bu-be-bo
Pengalaman keluarga kami menggunakan pendekatan kedua (langsung menyebutkan suku kata, bukan mengeja per huruf).
b. Bersenang-senang dengan suku kata
Anda bisa menggunakan juga lagu AIUEO: https://pelanginada.com/aiueo/
c. Berikan makna
Jika anak sudah mulai mengenal dengan baik beberapa suku kata, hubungkan dengan makna. Anda bisa menggunakan flashcard kata atau buku berjenjang level 1.
d. Perkuat dengan pengulangan
Sambil menggunakan buku berjenjang dan flashcard, tetap lakukan permainan tebak2 dan bernyanyi suku kata.
Sekali lagi, prosesnya dibawa santai dan waktu pendek (maksimal 20 menit) ya kak..
Jangan lupa kegiatan read aloudnya tetap dilakukan dengan sukacita.
Semoga membantu.🙏
Aar
KeymasterKak @luana-yunaneva
Buku berjenjang adalah alat belajar membaca secara bertahap dan bermakna.
Alat ini digunakan setelah anak mulai mengenal huruf dan suku kata.
Jadi, proses awal belajar membaca biasanya:
1. Read aloud: orangtua membacakan buku cerita sehingga anak menikmati cerita dan melihat hubungan antara cerita dan teks. Jadikan pengalaman read aloud sebagai pengalaman yang asyik dengan cara mengobrolkan isi buku dan ceritanya.
2. Orangtua memperkenalkan huruf dan bermain tebak-tebakan tentang huruf
3. Orangtua bisa mengenalkan kata bergambar dan suku kata menggunakan flashcard
4. Setelah anak mulai mengenal suku kata, anak bisa diasah menggunakan Buku Berjenjang. Jika anak selalu menebak gambar, berarti perlu kembali lagi ke flashcard suku kata. Jika hanya sesekali menebak, tak apa2. Diingatkan lagi saja dan terus maju. Lama-lama anak akan semakin mengenal cara melafalkan kata-kata yang tertulis.
Untuk anak usia 4.5 tahun, prosesnya santai saja, kak. Ada anak yang sudah siap belajar membaca, ada yang belum. Proses yang utama dikuatkan pondasinya di tahapan 1-3, terutama tahap 1 (read aloud).
Yang penting dibikin asyik dan bisa dinikmati anak, ya kak..
Demikian, semoga membantu.
🙏
Aar
KeymasterHalo kak @winda-djohar
Untuk anak usia 4 tahun, kegiatan menggambar itu yang penting adalah prosesnya dinikmati. Apresiasi proses dan hasil gambar anak, tanyakan dan obrolkan tentang yang digambar, sesekali temani dan lakukan kegiatan menggambar bersama.
Kurang koreksi, berikan contoh saat menggambar bersama. Jadikan kegiatan menggambar sebagai stimulasi yang membahagiakan.
Menggambar sendiri ada banyak aspek dan manfaatnya:
- stimulasi motorik halus
- kreativitas
- belajar mengekspresikan yang dilihat dan dipikirkan
Tentang bentuk dan teknis, jangan terlalu dikoreksi. Kualitas teknis bisa diasah seiring waktu.
Di dunia profesional, banyak artis yang gambarnya “tidak bagus”, tapi unik dan menginspirasi. Banyak aliran gambar/lukisan, tidak semuanya realis. Ada kubisme, impresionisme, abstrak, dll.
Demikian kak, semoga membantu
🙏
Aar
KeymasterHalo kak @dhiyan-fathiya
Keluarga kami menjalani homeschooling. Semua anak kami tidak pernah preschool, TK, SD, SMP dan SMA. Semuanya menjalani pendidikan mandiri bersama kami.
Pemilihan sekolah sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dipegang keluarga. Ada keluarga yang menginginkan anak banyak dibekali pelajaran agama sejak dini.
Ada orangtua yang ingin anaknya banyak kegiatan main dan fisik di luar saat TK.
Ada orangtua yang ingin anaknya banyak eksplorasi aspek seni dan kreativitas.
Jadi, tergantung preferensi kakak.
Basicnya, kegiatan TK itu pusatnya bukan kegiatan akademis dan kognitif (pengetahuan), tapi belajar melalui kegiatan bermain.
🙏
Aar
KeymasterKak @neni-nuraini
Setahu saya NISN bisa mulai kelas 1 SD.
Data dapodik itu kaitannya dengan rapor.
Seiring waktu, ada kemungkinan data Dapodik juga akan memasukkan angka rapor mulai kelas 1.
Aar
KeymasterHalo kak @dhiyan-fathiya,
Proses belajar anak perlu dilakukan menyesuaikan dengan pertumbuhan fisiologis anak. Dalam pendidikan anak usia dini (di bawah 7 tahun), kegiatan utama dan proses utama memang bermain. Sebab, anak belum bisa duduk diam dan belum bisa melakukan pembelajaran formal.
Secara pertumbuhan fisik & mental, baru di usia 6-7 tahun anak mulai bisa duduk lebih tenang dan menerima pengajaran formal.
Bahkan, ada tokoh-tokoh yang mengadvokasi untuk menunda proses belajar formal hingga usia 9-10 tahun. Prinsip yang digunakan adalah “Better Late than Early”. Terlambat belajar formal tidak akan membuat anak bodoh. Anak tetap belajar banyak hal walaupun tidak dengan cara duduk diam mendengarkan.
Problemnya terletak di mindset orangtua.
Orangtua mengharapkan anak duduk diam dan mendengarkan ceramah. Orangtua mengharapkan anak mengerjakan worksheet berjam-jam. Orangtua menganggap itulah yang disebut belajar.
Orangtua tidak melihat melihat bahwa ketika anak bertanya dan mengobrol itu belajar. Ketika anak bermain bersama teman-temannya tak dianggap sebagai belajar keterampilan sosial. Ketika anak naik sepeda keliling kompleks tak dianggap sebagai stimulasi motorik halus.
Belajar direduksi hanya menambah hafalan dan pengetahuan yang dianggap penting oleh orangtua.
Padahal, belajar adalah pengalaman-pengalaman yang diperoleh anak: keingintahuan yang terpelihara, eksplorasi dunia sekitar, mencoba aneka pengalaman baru. Semua itu adalah bentuk2 belajar.
Sekali lagi, prinsip belajar anak usia dini adalah bermain dan bersenang-senang, kak. PR besarnya orangtua adalah memperluas makna belajar dan mengintegrasikan belajar dengan kehidupan sehari-hari. Belajar bisa terjadi kapan pun dan dimanapun, dan tentang apapun.
Untuk lebih jelas, kakak bisa lihat lagi Parameter Tumbuh Kembang Anak. Silakan cek sesuai usia anak. Itulah yang menjadi tujuan2 utama dalam stimulasi anak.
Demikian kak, semoga membantu. 🙏
Aar
KeymasterKak @neni-nuraini
Betul kak. Kondisi di lapangan berbeda-beda. Ada PKBM yang menerima pendaftaran sejak kelas 1, ada yang kelas 4.
Mengapa ini terjadi?
Karena data Dapodik (saat ini) baru mulai dimasukkan sejak kelas 4. Jadi, data kelas 1-3 ada di PKBM masing-masing. Ini yang membuat PKBM ada yang baru menerima anak sejak kelas 4.
Semoga membantu.. 🙏
Aar
KeymasterKak @winda-djohar
Aturan ini tidak jalan di lapangan. Tidak ada panduan teknis terkait proses mendaftar ke Dinas Pendidikan.
Di lapangan, akhirnya yang terjadi adalah anak-anak HS mendaftar di PKBM. Negara mengambil data anak HS berdasarkan data PKBM.
Aar
KeymasterDengan senang hati kak @winda-djohar .. selamat berakhir pekan dan berkegiatan bersama keluarga.. 🙏
Aar
KeymasterKak @winda-djohar
Untuk proses matematika, tahapannya secara umum adalah:
- Melalui benda fisik
- Secara visual (gambar)
- Abstrak (persamaan matematis)
Ini selaras bersama perkembangan fisiologi anak.
Lalu, apa goalnya pada anak usia dini?
Yang utama adalah “number sense”, konsep kuantitatif dan mengenal bentuk (geometri).
Jadi, sebenarnya goalnya sederhana kak. Tahapannya pelan2 karena ini proses jangka panjang. Ada aspek2 fisiologis dalam otak anak yang masih butuh berkembang, yaitu aspek logis. Pertumbuhan fisiologis ini tidak bisa digegas/dipercepat. Jadi, proses stimulasinya yang perlu menyesuaikan. Anak sih biasanya ikut saja dengan stimulasi yg kita berikan.
Untuk anak usia 4 tahun, prioritas tertinggi adalah menggunakan benda2 fisik dan kegiatan fisik2, seperti mainan, batu, daun, mobil, motor, dan benda2 lain di sekitar. Kegiatannya misalnya:
- menghitung (counting) benda apapun yang di sekitar
- aritmatika sederhana (tambah-kurang) menggunakan benda
- sama-beda
- perbandingan (lebih besar/kecil, tinggi/pendek, banyak/sedikit, dll
- mengenal angka (1-10)
Walaupun kelihatannya sederhana, ini proses yang esensial. Jika proses semacam ini diperkuat, ke depan proses logika dan belajar matematikanya akan lebih mudah dilakukan anak.
Tentang IXL Math, saya lebih cenderung untuk menunda hingga usia 5-6 tahun untuk menjaga kesehatan mata dan mental anak dari kelekatan pada gawai.
Demikian kak, semoga membantu.. 🙏
Aar
KeymasterHalo kak @vera-marsella,
Tidak apa2 inisiatifnya ditulis sebagai miliki kakaknya (walaupun dia dipengaruhi oleh adik). Bisa saja terjadi, anak tidak tertarik melakukan walaupun ada pengaruh orang lain. Jadi, inisiatif itu tetap perlu dihargai. Kakak bisa membuat catatan bahwa inisiatif yg ini tidak murni, masih 90%, hehehe…
Bersikap pemurah pada anak penting untuk memelihara suasana belajar yang asyik bersama mereka.
Jika inisiatif sudah terbangun dan anak-anak sudah lebih kuat, kita bisa tingkatkan standar kualitas menjadi lebih tinggi lagi.
Demikian kak, semoga membantu.
🙏
Aar
KeymasterHalo kak @nadhira-dwi-putri,
Goal besar terkait teknik menjawab pertanyaan anak adalah:
1. Memenuhi keingintahuan tanpa membuatnya bosan
2. Memelihara keingintahuannya
1, Jawaban singkat
Untuk memulai menjawab, biasanya disarankan menjawab dengan pendek sesuai kebutuhan anak.
Mengapa?
Karena orangtua seringkali keterusan dengan menjawab panjang lebar. Ini bisa membuat anak bosan, malas bertanya lagi, dan merasa tidak nyaman. Jawaban yang panjang lebar itu mungkin tidak sesuai kebutuhan anak.
Lebih repot lagi jika ditambahi aneka nasihat, hehehe..
2. Pertanyaan Lanjutan
Jika pertanyaan dasar sudah dijawab, orangtua bisa melanjutkan dengan pertanyaan atau kalimat2 follow up untuk mendorong percakapan lanjutan yang masih terkait dengan pertanyaan-penjelasan sebelumnya, misalnya:
“Kalau yang xxx kakak tahu?”
“Tahukah kakak mengapa xxx begitu?”
“Ada juga xxx, kakak tahu?”
Pertanyaan itu untuk memicu proses belajar lanjutan dan memelihara keingintahuan anak. Jika terjadi percakapan lanjutan, penting untuk tetap memelihara agar jawaban/penjelasan orangtua pendek, kemudian mengajukan pertanyaan lagi.
Tujuannya adalah agar anak tetap terlibat dan tidak bosan. Jika anak menunjukka ketidak tertarikan lagi, hentikan dan jangan menambahkan penjelasan.
Proses semacam ini diharapkan dapat membantu memelihara keingintahuan anak.
Demikian kak, semoga membant 🙏
Aar
KeymasterKak @toyibatus-sholikhah,
Proses awalnya main dan main, kak.
“Eh kak, Bunda baru dapat kartu-kartu baru yang lucu deh. Ini bisa buat latihan kakak supaya kakak bisa makin keren. Kita lihat yuk apa yang kira2 bisa kita lakukan?”
Sesederhana itu, kak. Jangan berharap anak memahami secara mendalam untuk hidupnya. Berat sekali harapannya itu, hehehe…
Kalau sudah sering dipakai, sesekali diobrolkan.
“Kak, kamu tahu kenapa kegiatan [xxxx] yang ada di kartu ini penting? Menurut kakak apa?”
“Eh kak, melalui kartu ini, kita jadi tahu apa saja yang sudah kakak bisa dan lancar. Coba kartu mana saja yang kakak lancar? Kartu apa lagi yang perlu dicoba ya?”
Demikian prosesnya, kak. Sederhana, fokus pada aksi, makna diobrolkan sekilas dalam berbagai kesempatan. Ini adalah proses membangun kesadaran yang dilakukan selapis demi selapis dengan penuh kesabaran dan dalam jangka waktu panjang.
Semoga membantu 🙏
Aar
KeymasterKak @vera-marsella,
Saya tidak menguasai detil terkait teknik belajar hal baru 20 jam menurut Josh Kaufman.
Jika ada sebuah hal yang berkaitan dengan angka, saya biasanya mengambil prinsip umumnya.
“Oo.. bisa dilakukan dalam waktu pendek? Kuncinya apa? Ekspektasi, level pengenalan, pola berlatih. Itu yang perlu dijaga.”
Detilnya tergantung kondisi di lapangan.
🙏
Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Kak @annisa-sidqia-nahdah,
1. Komunitas Literasi
Saya tidak punya preferensi khusus komunitas literasi. Banyak komunitas penggerak literasi, Judul2 buku juga terus berkembang sesuai zaman.
Beberapa komunitas literasi bisa dilihat di sini: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/09/14/komunitas-peduli-literasi-di-indonesia
Ini juga komunitas yang bikin daftar buku berdasarkan konsep Charlotte Mason: https://cmindonesia.com/rekomendasi-buku-terjemahan-ao/
2. Literasi Remaja
Proses stimulasi tidak bisa diputar balik. Untuk anak remaja, kita tak lagi bisa mengajarkan mereka seperti anak-anak. Mereka sudah punya preferensi dan maunya sendiri.
Yang bisa kita lakukan adalah memaksimalkan kondisi yang saat ini ada. Paling jauh menawarkan kegiatan2 yang menurut kita bagus buat anak.
Jika anak HS, kita bisa bikin negosiasi dan mengobrol untuk bikin proyek literasi bersama. Misalnya: baca buku pilihan dan kemudian mendiskusikannya setiap minggu. Kalau mau asyik, yang baca buku bukan cuma anak tapi orangtua juga membaca. Jadi, prosesnya saling bercerita.
Kegiatan melakukan bersama itu pasti mengurangi resistensi anak. Jika hanya anak yang mendapat tugas, itu berarti tambahan beban yang mungkin membuat anak enggan.
Jika tidak bersama orangtua, mungkin bisa dilakukan bersama anak-anak lain atau di komunitas yang diikuti. Intinya, anak tidak merasa sendiri dan ada yang melakukan kegiatan itu bersama-sama.
Demikian kak, semoga membantu. 🙏
-
AuthorPosts