Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 106 through 120 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Konsep Dasar tentang Pembelajar Mandiri #4987
    Aar
    Keymaster

    Kak @annisa-sidqia-nahdah,

    Untuk membangun motivasi internal anak, itu dipengaruhi oleh banyak variabel, bukan hanya dengan kata-kata saja. Pada orangtua, kuncinya adalah imajinasi dengan mengaitkan sebuah kegiatan dengan kepentingan anak (bukan kepentingan kita).

    Misalnya:

    Membantu orangtua

    Harapan untuk membantu orangtua itu kepentingan kita. Kita sulit untuk memotivasi anak agar peduli dengan kita karena itu kepentingan kita, bukan kepentingan anak. Secara umum, anak-anak hanya peduli dengan dirinya sendiri dan sedikit peduli dengan sekitarnya.

    Idenya perlu digeser bukan membantu orangtua, tapi menjadi tim keluarga dan belajar mengelola rumah bersama. Berarti, ini proyek untuk seluruh keluarga, bukan hanya tugas anak. Termasuk Ayah terlibat juga sebagai bagian dari tim keluarga.

    Setelah itu, baru ngobrol: “Urusan rumah ini bukan cuma urusan Bunda. Kita perlu saling bekerjasama untuk mengurus rumah. Buat kakak, ini latihan nanti kalau kakak ke luar negeri atau kuliah di luar kota jadi semakin terampil.”

    Untuk menambahkan kekuatan persuasi, ceritakan pengalaman pribadi Ayah/Ibu saat kuliah, tinggal di luar kota/di luar negeri, dst.

    Memasak:

    Hal pertama yang dijaga adalah ekspektasi orangtua. Ini untuk kepentingan anak dan membantu anak berlatih, bukan untuk meringankan beban kita. Jika suatu saat anak terampil dan bisa membantu orangtua, itu bonus.

    Proses yang utama dalam hal memasak bukan motivasi, tetapi sering bikin makanan2 kesukaan, recreate makanan enak yang ada di luar, dsb. Bundanya sendiri perlu menunjukkan kesenangan memasak dan mengobrolkan tentang manfaat bisa memasak.

    Termasuk, perlu mengantisipasi jawaban anak: “Gofood aja, ngapain masak? Capek!”

    Kesadaran itu dibangun melalui pengalaman nyata dan cerita yang dibahaskan.

    Misalnya:

    • membeli ayam di pedagang sayur, kemudian dimasak. Dihitung biaya per potong dan dijadikan obrolan. Bandingkan dengan pengalaman membeli melalui GoFood yang jauh lebih mahal.
    • Lakukan proses memasak ulang makanan yang dibeli di luar. Misalnya, makan steak. Beli di luar biayanya: Rp 150K, ternyata ketika bikin sendiri biayanya cuma: Rp 60K. Uang yang sama bisa dapat lebih banyak makanan.
    • “Menjadi orang yang terampil itu menambah fleksibilitas. Kita menjadi punya pilihan. Jika tak bisa memasak, kita terpaksa harus beli berapapun harganya. Jika kita terampil memasak, kita bisa pilih beli atau uangnya dihemat untuk beli yang lain. Juga, kita bisa bikin makanan kesukaan yang kita inginkan.”

    Demikian kak, semoga membantu. 🙏

    in reply to: Podcast Jadwal Kegiatan Homeschooling #4993
    Aar
    Keymaster

    Kak @winda-djohar

    Usia anaknya berapa kak?

    Jadwal HS itu dibuat tergantung kebutuhan dan kondisi lapangan. Yang pasti tidak diatur 24 jam. Bisa mabuk orangtua, hehehe..

    Untuk usia dini, jadwal dibuat untuk memudahkan pengelolaan oleh orangtua. Misalnya, orangtua mengalokasikan waktu 30 menit sesudah mandi. Setelah itu anak berkegiatan bebas.

    Untuk anak usia sekolah jadwalnya juga tergantung kondisi dan kesepakatan bersama anak. Misalnya ada kegiatan yang rutin ditemani belajar matematika. Ada jadwal kegiatan memasak/percobaan. Ada jadwal ikut kelas online. Ada jadwal les renang.

    Jadwal adalah alat untuk meraih tujuan.

    Yang perlu kakak kenali adalah: kakak tujuannya anak mau belajar apa? Dari sebuah kegiatan, tujuan apa yang ingin dicapai?

    Jadi, kegiatan belajar bukan cuma untuk mengisi waktu, yang penting 30 menit berkegiatan. Tapi, kenali tujuannya. Jika tujuannya bisa dicapai dalam waktu 10 menit, sisa 20 menit bisa diisi kegiatan bebas terserah anak dan/atau orangtua.

    Demikian kak, semoga membantu.

    Akan lebih membantu jika kakak bisa mendetilkan kondisi yang sedang dihadapi sehingga kami bisa menjawab dengan lebih spesifik.

    Jika kakak ingin mempelajari tentang strategi mengelola jadwal homeschooling bisa menyimak penjelasan di sini: https://tumbuh.rumahinspirasi.com/courses/manajemen-keseharian-homeschooling/lessons/manajemen-keseharian-anak-homeschooling/topic/mengelola-jadwal-anak/

    🙏

    in reply to: Memilih Jurusan untuk anak remaja yang akan masuk universitas #4997
    Aar
    Keymaster

    Selamat siang kak @novi-saseria,

    Kami tidak memiliki panduan tentang pemilihan jurusan kuliah.

    Ada beberapa kriteria yang biasanya digunakan untuk memilih kuliah dan tempat kuliah:

    1. Minat/kekuatan anak (lengkap dengan bayangan anak tentang masa depan)

    2. Kapasitas anak (apakah bisa lolos seleksi PTN atau tak masalah dengan swasta)

    3. Kapasitas finansial (kuliah di negeri/swasta, dalam kota/luar kota, S1/D3/kedinasan)

    Nah, ini yang perlu menjadi dialog antara anak dan orangtua untuk mencari solusi-solusi yang paling memungkinkan untuk dijalani. Orangtua dan anak tidak bisa memaksakan keinginan dan kriterianya saja.

    Misalnya, orangtua ingin anak masuk kedokteran. Tapi anaknya ingin masuk sastra. Ini akan jadi masalah berkepanjangan untuk hidup anak.

    Atau, anak ingin kuliah S1 yang sesuai di luar negeri. Tapi kondisi keuangan orangtua tidak memungkinkan jika kuliahnya di swasta, apalagi di luar negeri. Jadi harus mencari titik kompromi yang mungkin dilakukan.

    Dalam pengalaman keluarga kami, proses yang kami lakukan adalah dialog dan diskusi bersama anak. Karena anak2 sudah besar dan perlu belajar mengambil keputusan untuk masa depannya sendiri dan berkomitmen atas pilihannya. Jika pilihannya bisa kami dukung secara finansial, posisi kami ada di belakang anak untuk mendukungnya.

    Secara keilmuan, ada tes psikologi yang disebut “Tes Potensi Akademik” yang bisa digunakan sebagai alat bantu.

    Keluarga tidak menggunakan alat bantu tersebut. Kami hanya berdiskusi panjang tentang alternatif kuliah sesuai minat anak serta mengenali konsekuensi2 pilihannya terhadap masa depan,

    Demikian kak, semoga membantu. 🙏

    in reply to: Podcast Tantangan Mengelola Proses Homeschooling #5000
    Aar
    Keymaster

    Kak @rizqi-puspita,

    Terima kasih pertanyaannya. Saat melakukan dialog dan diskusi bersama anak tentang keputusan homeschooling, ada beberapa hal yang perlu disiapkan oleh orangtua sehingga bisa dipahami dan dimengerti oleh anak, antara lain:

    • alasan orangtua – mengapa orangtua memilih HS untuk anak
    • manfaat untuk anak – penting untuk mengenali hal2 praktis terkait manfaat yang akan diperoleh anak jika menjalani proses HS
    • rencana kegiatan – pastikan orangtua sudah merancang kegiatan2 yang asyik bersama anak, terutama saat awal proses HS, misalnya: sering jalan2, memasak, melakukan kegiatan yang disukai anak, dll

    Dialognya kurang lebih:
    “Kakak pernah dengar istilah homeschooling?”

    “Kakak mau nggak nanti belajarnya di rumah bersama Bunda?”

    “Menurut Bunda, HS itu bagus banget buat kakak karena [alasan dan manfaat].”

    “Bunda sedang menimbang tahun depan kakak akan homeschooling. Kalau kita nanti homeschooling, kita bisa melakukan [rencana2 kegiatan yang sudah disiapkan].”

    Salah satu proses penting dalam dialog pengambilan keputusan HS adalah menanyakan pendapat anak: “Bagaimana menurut kakak?”

    Termasuk hal yang perlu diantisipasi adalah concern anak. Biasanya concern anak adalah tentang pertemanan. Kakak perlu menyiapkan rencana dan jawaban untuk urusan pertemanan ini.

    “Kakak memang tidak pergi sekolah, tapi kakak tetap bisa punya teman. Kakak bisa ikut kegiatan xxx sehingga tetap bertemu yyy (nama sahabat anak). Kita nanti bikin kegiatan di rumah dan teman2 kakak bisa ikut kegiatan. Kakak nanti juga bisa ikut kegiatan xxx sehingga bisa punya teman baru. Dll”

    Demikian kak, semoga membantu.. 🙏

    in reply to: Konsep Dasar tentang Pembelajar Mandiri #5004
    Aar
    Keymaster

    Kak @mira-wulandari,

    Selamat datang di dunia homeschool.

    Konsistensi adalah salah satu faktor penting untuk keberhasilan di bidang apapun. Pada saat bersamaan, kondisi sebagian besar orang adalah sulit untuk konsisten, apalagi dalam jangka waktu panjang.

    Oleh karena itu, ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan untuk meningkatkan konsistensi kita:

    1. Memastikan meresapi kepentingan

    Konsistensi meningkat jika kita tahu bahwa sebuah hal/kegiatan perlu dilakukan dan itu penting untuk kita. Misalnya: bekerja mencari uang, menyediakan makanan untuk keluarga, beribadah, dll.

    Karena kita tahu itu penting, maka kita melakukannya baik saat suka maupun duka.

    Dalam konteks homeschooling, pastikan bahwa jika Anda tak berhasil, risikonya adalah masa depan anak-anak.

    2. Komitmen dengan pihak luar

    Jika kita bekerja dan berurusan dengan orang lain, kemungkinan besar kita akan berkomitmen lebih baik.

    Manfaatkan kondisi ini dengan melibatkan anak-anak dengan kegiatan luar, misalnya: kursus, klub, kegiatan komunitas, dll.

    3. Bangun rasa kepemilikan

    Libatkan anak-anak dalam aneka proses kegiatan homeschool, misalnya menentukan jenis kegiatan, materi yang digunakan, cara belajar, jadwal belajar, target-target yang ditetapkan.

    Buatlah kesepakatan secara periodik, misalnya mingguan. Setiap hari Minggu kesepakatan dievaluasi dan direfleksikan bersama.

    4. Buat menjadi terlihat

    Tuliskan kesepakatan di kertas besar dan tempelkan di tempat yang mudah terlihat. Setiap pagi, saat sarapan, diskusikan bersama jadwal kegiatan hari tersebut bersama anak-anak.

    Dengan mendiskusikan jadwal kegiatan setiap pagi, awareness akan terbangun untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti yang direncanakan.

    Demikian masukan dari kami, kak. Semoga membantu mengawali proses homeschooling.

    Selamat menjalani petualangan belajar bersama anak-anak.

    🙏🤩

    in reply to: Podcast Mengasah Keterampilan Bertanya #5006
    Aar
    Keymaster

    Kak @dhiyan-fathiya

    Terima kasih pertanyaannya.

    1. Jadwal anak usia dini

    Secara umum, anak usia dini tidak menggunakan jadwal seperti anak sekolah (TK). Sebagian besar kegiatan anak usia dini bersifat spontan, menggunakan keseharian.

    Dalam pengelolaan jadwal anak HS, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

    a. Jangan berharap HS seperti sekolah

    Jika orangtua berharap jadwal dan cara belajar anak dalam HS seperti sekolah yang sangat terstruktur, hampir dipastikan orangtua akan kecewa. Sebab, rumah berbeda dengan sekolah. Pola hubungan orangtua-anak berbeda dengan guru-murid.

    Jika orangtua ingin anak HS punya jadwal belajar di rumah seperti anak TK yang rutin dan ketat, itu sangat sulit dilaksanakan.

    b. Merangkul kondisi informal

    Pola hubungan orangtua-anak adalah informal, banyak mengobrol dan negosiasi. Tidak kaku. Pola kegiatan dilakukan melalui kesepakatan-kesepakatan.

    Kondisi rumah berbeda dengan sekolah sehingga pola kegiatan anak juga tak bisa disamakan. Sesekali menggunakan worksheet dan duduk tenang latihan soal. Sebagian besar proses belajar dilakukan melalui mengobrol, proyek, memakai aplikasi, dan melalui aneka kegiatan keseharian.

    c. Jadwal untuk kepentingan orangtua

    Jika anak usia dini ingin dibuatkan jadwal, maka jadwal itu sebenarnya untuk orangtua supaya mudah mengalokasikan waktu. Jadwal bukan daftar yang harus ditaati anak karena anak belum mengerti dan belum bisa dituntut komitmennya.

    Daftar anak dimulai dengan cara menempelkannya pada kegiatan alamiah: mandi, makan, tidur.

    Misalnya: habis mandi kegiatan bersama Bunda. Jenis kegiatannya diisiasi oleh orangtua dan ditawarkan pada anak.

    d. Kegiatan melalui keseharian

    Kegiatan2 anak berbasis pada tumbuh kembang (checklist parameter perkembangan anak), bukan materi akademis. Kegiatan memanfaatkan keseharian yang dijalani di rumah untuk mengasah: 10 keterampilan dasar anak.

    2. Komunitas HS Remaja

    Komunitas HS masih sangat sedikit, apalagi untuk remaja. Sejak pandemi, banyak komunitas yang berhenti berkegiatan dan belum berkegiatan bersama lagi.

    Yang penting dilakukan oleh orangtua adalah:

    a. Carilah teman, tidak harus sesama HS

    Pertemanan yang paling memungkinkan adalah berbasis minat dan hobi. Cari komunitas2 berbasis minat anak dan lakukan kegiatan bersama di sana. Teman juga tak harus seusia.

    Misalnya: komunitas pecinta reptil, komunitas astronomi, public speaking, board game, dll. Googling dan carilah informasi tentang kegiatan komunitas2 dan hadirilah.

    b. Jangan cari yang serius

    Komunitas remaja yang serius dan isinya belajar/berdiskusi sangat sedikit. Sebagian besar komunitas isinya main dan bergaul dengan benang merah sebuah minat tertentu. Tujuan utamanya memang bersenang-senang dengan bonus tambah pengetahuan/wawasan sesuai minatnya.

    Salah satu yang cukup serius adalah Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) biasa berkegiatan di TIM. Isinya para remaja, mahasiswa, peminat tentang astronomi. Kegiatannya pengamatan bintang, diskusi, pelatihan, dan lain-lain.

    c. Teens Club Rumah Inspirasi (TCRI)

    TCRI disediakan Rumah Inspirasi untuk memfasilitasi pertemuan para remaja. Ternyata, yang hadir sebagian besar adalah pre-teens, anak sekitar usia SD yang masih mau hadir karena didorong orangtuanya.

    Anak yang SMA tidak mau hadir bersama adik-adiknya yang kecil karena mereka juga sudah punya lingkaran teman sendiri yang diperolehnya melalui Twitter atau yang lainnya.

    Kondisi-kondisi semacam ini memang tak ideal dan tak seperti harapan kita. Dan memang kondisi-kondisi seperti inilah yang menjadi tantangan dalam proses HS.

    Infrastruktur untuk menjalankan HS masih sangat terbatas sehingga kita harus mencari substitusi-substitusi yang paling memungkinkan dan sesuai kebutuhan anak-anak kita.

    Demikian kak, semoga membantu.

    🙏

    in reply to: Webinar Memulai HS Sekolah #5008
    Aar
    Keymaster

    Kak @annisa-sidqia-nahdah

    Kegiatan pramuka yang diikuti oleh anak-anak kami hanya salah satu contoh proses yang kami upayakan saat anak-anak remaja agar mereka punya kegiatan luas di luar keluarga.

    Karena kami merasa anak-anak perlu banyak main, punya teman, mengasah keterampilan sosial, dan kecintaan negeri, maka pramuka menjadi opsi yang kami lirik.

    Apa yang kami lakukan?

    Kami mengobrol dengan teman praktisi HS yang berkegiatan bersama kami dan ternyata beberapa orang merasa cocok dengan ide bikin kegiatan pramuka.

    Kami kemudian datang dan konsultasi ke pengurus Kwarcab Gerakan Pramuka.

    Pilihannya adalah menumpang di gugus depan yang ada atau bikin rintisan sendiri pramuka berbasis komunitas.

    Kami memilih yang kedua: menjajagi rintisan bikin pramuka komunitas. Beberapa orangtua menjadi pembinga, kemudian kami mencari pelatih. Para pembina bersama pelatih kemudian mendiskusikan materi kepramukaan yang akan diajarkan pada anak-anak selama 1 semester.

    Begitu prosesnya, kak.

    Selamat bertahun-tahun kami berproses dan pada suatu saat ternyata ada orangtua yang memiliki “sertifikat” pelatihan dasar kepramukaan sehingga akhirnya semua pengelolaan pramuka dilakukan oleh para orangtua.

    Ketika pandemi, semua kegiatan pramuka berhenti dan sampai sekarang belum aktif lagi karena anak-anak sudah tumbuh besar dengan fokus & jadwal kegiatan yang beragam (tidak pramuka lagi).

    Dalam konteks keluarga lain, ada yang ikut kegiatan pramuka bersama (misalnya di Bandung). Ada merintis pramuka komunitas. Ada juga yang datang ke kepala sekolah/pembina pramuka yang dikenal dan minta izin ikut pramuka dan diizinkan.

    Demikian solusi-solusinya di lapangan bisa berbeda-beda tergantung kondisi.

    Semoga menjawab pertanyaannya, ya kak..

    🙏

    in reply to: eBook Mengasah Keterampilan Belajar #5010
    Aar
    Keymaster

    Terima kasih apresiasinya.

    Kegiatan anak homeschooling dikelola dengan sudut pandang:

    1. Tujuan belajar anak tercapai
    2. Anak menikmati pengalaman belajar/berkegiatan
    3. Prosesnya terkelola oleh orangtua

    Ada kalanya satu kegiatan dilakukan bersama kakak & adik. Bentuknya bisa kerjasama saling melengkapi. Bentuknya bisa kegiatan sama dengan tingkat kesulitan berbeda.

    Apakah harus selalu bersama?

    Tentu tidak harus bersama. Alasan satu kegiatan bersama itu agar mudah dikelola oleh orangtua (variabel 3).

    Ada kalanya proses dilakukan berbeda-beda. Apalagi ketika anak semakin besar dan memiliki kebutuhan/tujuan belajar berbeda.

    Agar proses belajar lebih terkelola saat masing-masing melakukan kegiatan, tugas orangtua adalah menyediakan alat belajar dan membimbing anak dengan pembimbingan minimal (semakin lama semakin mandiri).

    Demikian pak, semoga membantu.

    🙏

    in reply to: Podcast Materi Tambahan HS Usia Dini #5015
    Aar
    Keymaster

    Kak @winda-djohar,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Secara konseptual maupun praktik di lapangan, banyak keluarga yang menjalankan HS dipimpin oleh Ibu dan tanpa keterlibatan khusus Ayah.

    Isunya bukan bisa atau tidak bisa.

    Isunya adalah apakah kakak berani dan percaya diri untuk menjalankannya?

    Itu modal paling awalnya.

    Karena jika sudah berani dan percaya diri, ada langkah-langkah lain yang menyertainya seperti kesediaan belajar, bekerja keras, mencari solusi dan substitusi, dll.

    Untuk menambah kepercayaan diri, saya menyarankan kakak untuk hadir dalam Parents Club Rumah Inspirasi sehingga bisa mendapatkan teman seperjalanan dan mendengarkan cerita2 langsung pengalaman keluarga lain yang sedang memulai homeschooling.

    Demikian kak, semoga membantu.

    Jika ada pertanyaan lain, feel free untuk menyampaikannya.

    🙏🤩

    in reply to: Podcast Membangun Ketekunan dan Kerja Keras #5016
    Aar
    Keymaster

    Kak @dhiyan-fathiya

    Terima kasih feedbacknya. Senang melihat kakak menikmati proses belajar dan bertumbuh bersama Rumah Inspirasi. Semoga semangat kakak belajar bisa menular pada anak-anak di rumah.

    Jangan lupa bercerita pada anak-anak:

    “Bunda saja masih belajar terus sampai saat ini..”

    “Belajar itu asyik… Bunda bahagia sekali bisa mendapatkan ilmu2 baru karena belajar.”

    Game-based learning

    Tentang penggunaan game sebagai materi belajar, kami membuatkan satu tema khusus yang membahas tentang hal ini. Silakan dipelajari ya kak, supaya kakak bisa mendapatkan gambaran yang utuh dari sisi konsep maupun contoh praktik bersama anak-anak.

    Materinya ada di sini: https://tumbuh.rumahinspirasi.com/courses/strategi-belajar-homeschooling/lessons/game-based-learning/

    Tentang berlangganan game, jika game-nya adalah digital, saya sarankan kakak menimbang dulu dan mempelajari materi di atas.

    Jika kegiatan menggunakan game menggunakan game fisik (boardgame atau aktivitas), tak ada masalah untuk dilakukan.

    Demikian, semoga membantu ya kak.

    Semangat belajar! 🙏

    in reply to: Podcast Berorientasi Tujuan #5017
    Aar
    Keymaster

    Kak @vera-marsella

    Dalam satu waktu, terkadang kita perlu memilih sebuah hal dan tidak mendapatkan semuanya.

    Ini kondisi yang perlu disadari dan diterima.

    Jangan kecewa kalau tak bisa mendapatkan semuanya karena kita punya banyak sekali kesempatan di waktu lain bersama anak.

    in reply to: Podcast Kepedulian pada Kualitas #5018
    Aar
    Keymaster

    Betul kak @vera-marsella

    Praktik lapangannya seperti yang kakak sampaikan. 👍

    in reply to: Podcast Kepedulian pada Kualitas #5024
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @vera-marsella

    Proses yang terjadi pada anak usia dini sebagian besar adalah pengenalan. Jadi, ekspektasinya adalah mengenalkan proses dan standar, tapi tidak ada tuntutan atau harapan bahwa anak bisa mengikuti standar proses/hasil yang ditetapkan.

    Jika ada standar, prosesnya betul-betul disederhanakan dan disesuaikan dengan kapasitas anak.

    Dalam penentuan standar, prinsipnya adalah:

    1. Anak belajar melalui pengamatan terhadap proses keseharian yang dilakukan orangtua. Orangtua bisa membangun cerita dan narasi tentang proses/standar kualitas yang dilakukannya. Tapi, orangtua tidak mengharapkan anak melakukannya. Jadi, anak hanya menyerap saja secara pasif.

    2. Anak bisa melakukan sebuah bagian pekerjaan/kegiatan sehingga terbangun rasa percaya dirinya

    3. Ada tantangan/kesulitan yang masih bisa dilakukan. Di sinilah fungsi pengamatan orangtua dan wisdom untuk membuat tantangan yang selaras dengan kapasitas anak.

    Demikian koridornya, kak. Semoga membantu.

    🙏

    in reply to: Podcast Berorientasi Tujuan #5025
    Aar
    Keymaster

    Kak @vera-marsella

    Terima kasih sharingnya.

    Ada 2 aspek yang saya berikan catatan:

    1. Negosiasi

    Dalam proses interaksi terkait inisiatif, komitmen, tujuan, perubahan di tengah jalan; semua itu merupakan bagian dari dinamika lapangan.

    Dalam dinamika lapangan, kunci pentingnya adalah negosiasi. Dalam negosiasi, ada kesepakatan/aturan lama yang diubah dan disesuaikan dengan perkembangan yang lebih sesuai dengan kondisi terkini.

    Negosiasi adalah keterampilan yang bisa dikembangkan bersama anak. Negosiasi merupakan bagian dari keterampilan mengambil keputusan.

    Dalam proses negosiasi, poin penting yang perlu diajarkan orangtua adalah:

    • mengenali kriteria utama: keamanan, kesehatan, kebersihan (yang sebaiknya tidak bisa ditawar)
    • mengenali kriteria tambahan: kerapihan, kesenangan, jadwal, dll (yang bisa dinegosiasikan dan disepakati ulang)

    2. Jendela Belajar

    Ketika jendela belajar terbuka, biasanya banyak sekali peluang pembelajaran yang bermunculan. Demikian yang terjadi.

    Kondisi ini bisa menimbulkan excitement (semangat berkegiatan karena banyak kesempatan) dan kebingungan (terlalu banyak pilihan).

    Apakah harus sesuai dengan tujuan?

    Tidak juga. Yang penting orangtua dan anak tidak overwhelmed.

    Kenali tujuan belajar yang ingin Anda bangun pada satu saat.

    Jika Anda sedang ingin mengajarkan konsistensi, lakukan kegiatan sesuai tujuan dan abaikan dulu peluang belajar yang lain.

    Jika Anda sedang membuka diri untuk pembelajaran apapun, maksimalkan peluang belajar apapun yang muncul sepanjang jalan.

    Demikan kak, semoga membantu 🙏

    in reply to: Podcast Prinsip Penyelenggaraan Homeschooling Usia Dini #5026
    Aar
    Keymaster

    Betul kak Winda,

    Cara paling efektif untuk mempengaruhi anak adalah dengan mengubah diri kita sendiri, bukan langsung mengubah anak.

    Proses seperti ini biasanya dampaknya jangka panjang dan membuat pertumbuhan bisa lebih mulus.

    Selamat berpraktik kak.. 🙏

Viewing 15 posts - 106 through 120 (of 766 total)
Scroll to Top