Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 121 through 135 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Podcast Mengembangkan Motivasi Internal #5030
    Aar
    Keymaster

    Kak @dhiyan-fathiya,

    Proses interaksi bersama remaja adalah hal yang cukup rumit, terutama jika kualitas hubungan antara orangtua/pendamping bersama anak buruk. Orangtua/pendamping sering mengeluarkan komentar yang bernada penghakiman, anak merasa tidak dipercaya dan yang dilakukannya selalu dianggap salah. Itu akan membuat anak akan lari ke luar menjauh dari keluarga.

    Jadi, kunci pertama adalah menjalin hubungan dan kepercayaan bersama remaja yang menjadi pondasi untuk perubahan lebih baik apapun yang diharapkan. Tanpa komunikasi yang baik dan dipercaya, akan sulit membangun perubahan untuk remaja.

    Memahami alasan dan tujuan

    Membangun motivasi internal berarti mengaitkan kegiatan dengan alasan dan tujuan. Alasan dan tujuan ini yang harus didapatkan dari anak sendiri: mengapa perlu melakukan sebuah hal dan apa tujuan yang ingin diraih dari kegiatan tersebut.

    Ini PR-PR besar orangtua/pendamping bersama remaja.

    Diskusinya bisa lebar (globa) atau teknis, tergantung kecenderungan anak dan kondisi lapangan.

    “Apa sih cita-citamu? Kalau kamu punya cita2 itu, apa yang perlu diasah dari sekarang? Apa yang mau kamu lakukan?”

    “Kamu tahu nggak syarat utk bisa bekerja/mendapatkan penghasilan/kaya? Memiliki keterampilan untuk berkarya. Apa keterampilan yang ingin kamu asah?”

    Dari diskusi global ttg dunia orang dewasa dan cita2 anak, perlu dibantu agar menjadi langkah aksi yang nyata:

    “Apa yang perlu dan bisa dilakukan saat ini?”

    “Apa tanda proses ke sana bagus?’

    “Bagaimana cara mengasah kapasitas/keterampilan itu?”

    “Apa target paling dekat? Kapan target itu diraih?”

    “Apa dukungan yang kamu butuhkan dari Bapak/Ibu/kakak?”

    Diskusi ini menjadi basis dalam proses pembimbingan dan pendampingan untuk menumbuhkan motivasi intrinsik anak.


    Memanjakan vs. menguatkan

    Memberikan kesempatan anak melakukan yang diminati berbeda dengan membiarkan anak melakukan hal dengan suka-suka.

    Orangtua sering merasa bahwa membiarkan anak melakukan hal yang diminati sudah cukup. Padahal belum. Itu baru awal dari perjalanan.

    Karena kesalahan sudut pandang, orangtua kemudian membiarkan anak melakukan hal yang disukai itu dengan sesukanya dan kemudian kecewa karena minat itu tidak membawa anak ke mana-anak.

    Proses yang seharusnya dilakukan:

    1. Minat menjadi pintu kesukaan

    Anak boleh menentukan hal yang ingin dilakukan berdasarkan preferensi dan kesukaannya.

    2. Dialog dan kesepakatan

    Orangtua melakukan dialog tentang proses mengasah skills terkait area yang diminati tersebut. Mengubah dari konsumsi menjadi produksi.

    “OK, kamu suka menonton/main xxxx. Bagaiman caranya supaya kegiatan itu bisa menambah skills mu? Apa yang mau kamu asah? Apakah kamu mau bikin tulisan ttg xxx? Apakah kamu mau mengasah public speaking? Apakah kamu belajar bahasa xxx? Dst”

    3. Pendampingan

    “Bapak memberikan kebebasan kamu untuk memilih bidang yang ingin kamu tekuni. Tapi Bapak ingin skills kamu terus bertumbuh untuk kepentingan masa depanmu. Jadi, kita bikin rencana belajar dan mengasah skills=mu ya… Kamu yang bikin rencana, Bapak akan mendampingi.”

    Seperti ini proses yang biasanya kami lakukan bersama anak-anak, kak.

    Semoga membantu. πŸ™

    in reply to: eBook Game Based Learning #5031
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @maria-ulfah-2781,

    Game adalah hiburan dan perlu dijaga agar bersifat netral. Anak boleh dipaparkan pada game sesuai kebutuhan yang sehat.

    Apa tandanya sehat:

    1. Anak menjalani kesehariannya dengan bahagia, saat ada game maupun tak ada game. Anak stabil emosinya dan tak hanya menunggu saat bermain game.

    2. Anak tertarik melakukan banyak kegiatan lain di luar game.

    3. Anak melakukan kegiatan non-game dengan semangat dan bahagia

    4. Anak punya target/tujuan pada kegiatan2 non game yang inginn dikejarnya

    5. Pembicaraan anak bervariasi, tidak hanya tentang game-nya saja

    Jika game membuat dampak negatif, itu pertanda paparan game terlalu banyak untuk anak sehingga perlu dikurangi dan anak dipaparkan/ditemani melalukan kegiatan lain yang asyik.

    Apa yang bisa dilakukan untuk menurunkan intensitas anak dengan game:

    1. Diskusikan dengan anak hasil pengamatan Anda

    “Kakak, Bunda tak melarang kakak main game. Tapi semua perlu aturan dan batas. Game itu hiburan dan tidak boleh jadi pusat kehidupan. Kalau game dampaknya buruk, game perlu dikurangi agar hidup kakak tetap sehat.”

    2. Buat kesepakatan bersama anak

    “Menurut Bunda, jumlah pemakaian game saat ini ternyata terlalu banyak. Buktinya obrolan kakak sepanjang hari cuma tentang game saja. Tidak ada obrolan tentang x, y, z (kegiatan lain yang dilakukan anak). Jadi kita perlu atur ulang jatah main game.”

    “Kita coba kurangi, main game-nya bukan setiap hari, tapi seminggua 3-4 kali @30 menit. Kalau dampaknya bagus, kita lanjutkan aturan main ini. Tapi kalau dampaknya masih buruk, kita akan coba kurangi lagi waktu main menjadi hari Sabtu/Minggu.”

    3. Buat kegiatan alternatif

    Pastikan Anda menawarkan, memberikan ide, dan mendampingi anak melakukan kegiatan lain non-gawai yang asyik buat anak.

    Demikian kak, semoga membantu.

    πŸ™

    in reply to: Podcast Prinsip Penyelenggaraan Homeschooling Usia Dini #5032
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @winda-djohar,

    Karakter atau sikap anak dipengaruhi oleh banyak faktor, baik terkait dirinya sendiri (bawaan, nature) atau pengaruh lingkungan (pengasuhan, nurture).

    Sudut pandang penting yang perlu kita miliki sebagai orangtua, adalah:

    1. Menerima (accept)

    Apapun yang sedang terjadi, ini adalah kondisi yang perlu kita terima sepenuh hati sebagai realitas yang terjadi sekarang. Jangan sampai terlalu rasa bersalah dan terbebani masa lalu. Jangan pula terlalu khawatir dengan masa depan. Masih banyak hal yang bisa dilakukan.

    Penerimaan ini dilakukan dengan mengamati emosi-emosi yang dominan pada diri kita (bukan emosi anak). Kenali dan olah sehingga semakin lama kita semakin santai (tidak panik, kesal, emosi, takut).

    Energi tenang (peaceful) akan memancakan energi yang membantu anak mengelola emosi (ketakutan) dalam dirinya, apapun penyebabnya.

    2. Kenali kemungkinan2 penyebabnya

    Alternatif solusi baru bisa dimunculkan jika kita bisa mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan penyebabnya:

    Nature (bawaan):

    • apakah ketakutan itu terjadi sejak dia bayi dan terus konsisten hingga kini?
    • apakah saat kehamilan ada emosi2 kuat yang dirasakan oleh Ibu yang membuatnya berdampak pada janin?

    Nurture (pengasuhan):

    • apakah anak punya pengalaman buruk saat kecil yang membuatnya ketakutan (misalnya, dimarahi dengan keras, sakit/luka parah karena mencoba2?
    • apakah orangtua dan lingkungan membawa suasana tegang/khawatir yang diserap anak?
    • apakah ada konflik besar di keluarga yang membuat anak ketakutan?
    • apakah anak sering diomeli saat melakukan kesalahan?
    • apakah anak terpapar dengan pengalaman yang menakutkan (misalnya cerita perang, horor) yang sebenarnya membuatnya ketakutan?
    • Dll

    3. Seberapa tinggi intensitas ketakutannya?

    Ada anak yang memang pada dasarnya takut mencoba hal-hal baru.

    Ketakutan itu bisa terurai seiring pertumbuhan usia (masih tetap penakut saat besar, tapi tidak mengkhawatirkan lagi) karena orangtua menerimanya dan mendampingi anak mengelola ketakutannya.

    Ketakutan itu bisa semakin memburuk karena orangtua menyikapi dengan kurang tepat, misalnya mengomeli dan memaksa anak melawan ketakutannya secara paksa. menetapan harapan dan standar tinggi yang tidak bisa dipenuhi anak sehingga anak merasa gagal, dll.

    Jika kakak merasa intensitasnya masih dalam batas wajar, kakak bisa melakukan aksi personal secara mandiri.

    Jika kakak merasa ketakutannya sangat berlebihan dan mengganggu fungsi normal kesehariannya, kakak mungkin perlu berkonsultasi dengan profesional (psikolog) untuk mendapatkan bantuan identifikasi yang lebih tajam dan bantuan petunjuk aksi sesuai diagnosis profesional.

    Aksi orangtua

    Secara sederhana, hal-hal yang bisa dilakukan orangtua adalah meningkatkan perasaan aman anak dan membantu anak mengelola ketakutannya melalui aksi:

    1. Terima kondisi, jangan diomeli & dipaksa-paksa

    Jika anak diomeli, dia akan semakin khawatir dan ketakutan karena merasa diinya bersalah. Anak bisa semakin kehilangan kepercayaan dirinya.

    Setiap anak unik dan bebeda-beda. Ada anak yang mandiri, ada yang butuh dukungan sedikit, ada yang butuh dukungan banyak dari orangtua. Itu semua adalah dinamika alamiah terkait anak, bukan berarti anak tidak sempurna.

    2. Validasi emosi anak

    Terima dan amati saja emosi anak. Pancarkan energi ketenangan dari diri orangtua. Sampaikan dengan nada datar tanpa amarah dan kejengkelan.

    “Kakak takut? Kakak tidak mau? Kakak mau melihat dulu?”

    “Nggak apa-apa kok? Sini Bunda peluk dulu…”

    3. Gali akar masalah

    Dalam kondisi santai (misalnya sambil makan es krim bersama), obrolkan tentang emosi yang dialami anak:

    “Apa sih yang kakak lihat?”

    “Apa yang kakak takutkan?”

    “Apa yang ada dalam bayangan kakak?”

    4. Simulasikan penanganan masalah

    Dampingi anak untuk mengurai ketakutannya.

    “Lihat nih Bunda masuk dan tidak apa-apa. Kakak mau mencoba?”

    “Mau melakukan barengan sama Bunda?”

    Demikian kak, semoga membantu.

    Masukan ini bersifat umum. Dalam dunia psikologi ada yang disebut phobia (ketakutan tentang sebuah hal tertentu yang sangat intens). Ada yang ketakutan di ruang sempit, ketakutan melihat cacing, dll. Jika kakak melihat kondisi ini dekat dengan phobia dan tidak bisa hanya ditangani oleh orangtua, kakak perlu berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan bantuan penanganan yang lebih tepat.

    πŸ™

    in reply to: Podcast Model Konseptual Homeschooling #5033
    Aar
    Keymaster

    Sama-sama kak @ratnasari-dewi,

    Dengan memperluas sudut pandang kita melampaui pengalaman personal kita di sekolah, semoga bisa menambah alternatif dan memperkaya pilihan arah, strategi, dan aksi yang bisa kita lakukan untuk anak-anak.

    πŸ™

    in reply to: Memaknai Kegiatan #5039
    Aar
    Keymaster

    Betul kak @donna.muliadi

    Pemaknaan kegiatan terjadi setelah kegiatan berlangsung.

    Pemaknaan bisa dalam bentuk sederhana, hanya menjadi kesadaran orangtua. Bisa juga ditulis secara sederhana dalam jurnal orangtua.

    Dokumentasi adalah bentuk pemaknaan yang lebih terstruktur dan lebih lengkap.

    Demikian kak, semoga membantu.. πŸ™

    in reply to: Kuesioner rencana berlatih mandiri dan refleksi #5041
    Aar
    Keymaster

    Kak @mufidah-mufidah,

    Bingungnya di mana, kak?

    Maksud pertanyaannya adalah: latihan apa yang akan Anda lakukan setelah program Learning Skills ini selesai hari ini?

    Semoga membantu πŸ™

    in reply to: Membangun Budaya Belajar #5042
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @dhiyan-fathiya

    Terima kasih pertanyaannya.

    Petunjuk yang ada biasanya bersifat generik, tapi perlu diadaptasi sesuai kondisi. Di sinilah pentingnya wisdom dari orangtua/pendamping anak-anak.

    Dalam konteks HS anak SMA, ada beberapa kondisi yang perlu diketahui:

    1. Anak berada dalam fase remaja dengan segala dinamikanya dalam proses membangun identitas diri.

    2. Pengaruh orangtua/orang lain semakin terbatas karena remaja mulai membangun otonomi dalam pengambilan keputusannya. Lingkungan pergaulan semakin berpengaruh pada anak dibandingkan orangtua dan keluarga (kecuali hubungan orangtua/keluarga dengan anak sangat kuat).

    3. Alasan memulai HS apakah berasal dari anak atau orangtua? Apakah anak tahu mau melakukan apa? JIka HS karena ada masalah di sekolah, apakah anak sudah bisa move on belajar mandiri atau masih terkendala dengan dirinya?

    4. Orangtua/keluarga biasanya khawatir karena karena waktu untuk anak dirasa semakin sedikit.

    Dengan kondisi yang cukup rumit tersebut, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

    1. Jangan berharap ideal

    Cari pendekatan-pendekatan praktis untuk mencari solusi yang paling memungkinkan untuk dilakukan. Jangan mengungkit masa lalu yang sudah lewat. Fokus pada hal yang bisa dilakukan saat ini dan ke depan.

    Mengharapkan anak bisa langsung menjadi pembelajar mandiri saat baru mulai HS di tingkat SMA terlalu berat. Mulai dari yang bisa dilakukan dulu untuk membangun keberhasilan. Keberhasilan akan memicu kepercayaan diri anak dan pendamping.

    2. Cari sumber kepercayaan diri anak

    :Lakukan hal-hal yang bisa membangun kepercayaan diri anak. Jangan fokus pada kelemahan anak. Cari kekuatannya yang bisa menjadi pintu keberhasilan dan kepercayaan dirinya.

    3. Manfaatkan bantuan eksternal

    Dari pintu kekuatan/minat anak, cari bantuan eksternal berupa kursus/les untuk mengasah kemampuannya. Cari proses yang terukur (misalnya ada output, ujian/sertifikat) sehingga anak & keluarga bisa melihat proses pertumbuhannya.

    Termasuk dalam upaya ini Anda dapat memanfaatkan jasa psikolog untuk melihat potensi anak. Tidak ada masalah.

    Sekali lagi, mulai dengan mencari keberhasilan-keberhasilan kecil yang membuat bahagia dan meningkatkan kepercayaan diri anak dan keluarga.

    Demikian kak, semoga membantu πŸ™

    in reply to: Belajar Melalui Tutorial #5072
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @siti-mardiyah,

    Kita berhadapan dengan kondisi nyata dan perlu mencari solusi2 yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

    Kondisi kakak tidak apa-apa. Maju terus saja kak.. πŸ‘

    Jika kakak belum memungkinkan berlatih memakai tutorial, tidak apa2. Semoga di lain waktu kakak bisa berlatih melakukannya.

    Walaupun anak-anak sudah bisa menggunakan tutorial, kualitas proses yang mereka jalani akan mendapatkan tambahan kualitas ketika mendapatkan feedback dari orangtua yang terampil dan berpengalaman menggunakan tutorial.

    πŸ™

    in reply to: eBook Menyiapkan Pembelajar Mandiri #5084
    Aar
    Keymaster

    Kak @dhiyan-fathiya ,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Ada beberapa pertanyaan yang kakak sampaikan.

    Kami jawab satu-persatu yaa..

    1. Jaminan homeschool adalah yang terbaik

    Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin bahwa homeschool adalah pilihan yang terbaik sebagaimana tidak ada seorang pun yang bisa menjamin sekolah adalah pilihan yang baik.

    Homeschool dan sekolah adalah alat dan merupakan bagian dari sistem sosial. Semua sistem sosial pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya.

    Kelebihan HS adalah fleksibilitas. Kekurangan HS adalah kompleksitas sistem dan keterbatasan sarana (dibandingkan sekolah).

    Anak sekolah bisa berhasil, bisa gagal. Anak homeschoo bisa berhasil, bisa gagal. Banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya adalah: operator yang menjalankan alat itu.

    Operator yang baik bisa memaksimalkan kelebihan alat dan meminimalisir kekurangannya.

    Operator di sekolah adalah guru dan kepala sekolah. Operator dalam HS adalah orangtua.

    Jadi, tak ada alat yang lebih baik. Yang ada adalah alat yang paling sesuai untuk anak dan keluarga.

    2. Kemandirian anak

    Keterlibatan orangtua bisa membuat anak kurang mandiri? Betul, jika orangtua terlalu banyak intervensi dan tidak memandirikan anak.

    Apakah semua orangtua begitu? Tidak. Banyak orangtua yang sangat sadar bahwa perannya adalah membantu anak mandiri, bukan menciptakan ketergantungan anak pada dirinya.

    Inilah mindset penting yang perlu dimiliki oleh orangtua yang mau HS. Fokuslah pada mindset dan sikap apa yang perlu Anda miliki agar anak bisa mandiri dan tidak tergantung pada Anda.

    3. Pengaturan waktu

    Pengaturan waktu dalam HS sangat tergantung pada pola keseharian keluarga. Tak ada patokan jumlah jam.

    Tugas orangtua adalah menentukan waktu berkegiatan bersama yang rutin (misalnya: sarapan, mandi, dan kegiatan bersama).

    Setelah itu waktu bebas anak. Agar anak bisa melakukan kegiatan bebas, berarti orangtua perlu memberikan sarana pendukung, misalnya balok, aneka jenis kertas, buku, dll untuk anak berkegiatan.

    4. Tolok ukur kesiapan HS

    Tolok ukur kesiapan orangtua menjalani HS bukan hanya alokasi waktu dan energi.

    Beberapa tolok ukur lain selain waktu & energi:

    a. Orangtua bisa berkomunikasi dan nyaman bersama anak

    b. Anak merasa nyaman berkegiatan bersama orangtuanya

    c. Orangtua bisa mengelola keseharian bersama anak

    d. Orangtua terampil mengamati perkembangan anak, bisa memiliki ide2 stimulasi untuk anak, dan melihat pertumbuhan anak

    e. Orangtua siap untuk terus belajar dan berproses bersama anak.

    Demikian kak, semoga menjawab pertanyaan kakak.

    Selamat melanjutkan proses belajar dan berpraktik bersama anak-anak.

    πŸ™

    in reply to: Membangun Makna #5132
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @gitalaras.wahyani

    Dari sharing kakak, pengenalan manfaat sudah bagus. Yang masih perlu diperbaiki adalah terkait risiko.

    Risiko yang perlu dilatih adalah yang terkait langsung dengan kegiatan yang dilakukan (bukan di luar kegiatan).

    Misalnya: belajar tentang musisi

    Apa risikonya jika anak tidak belajar latar belakang musisi klasik yang disukai?

    Ini perlu kakak gali.

    Manfatnya: kamu (anak) jadi lebih memahami kehidupan dan perjuangannya, kamu jadi mengenal pencapaiannya

    Risikonya: kamu cuma tahu di permukaan saja ttg pemusik yang kamu sukai

    Nah, risiko2 seperti ini yang penting untuk dikenali. Jika dikenali, itu akan menambah sumber untuk menambah motivasi intrinsik anak.

    Semoga membantu πŸ™

    in reply to: Membangun Makna #5169
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @verani-febriyanti

    Latihan kali ini dalam konteks menjelaskan kepada anak.

    Manfaat dan risikonya ini dari sudut pandang anak yaa.. bukan sudut pandang orangtua.

    • Apa manfaat bagi anak jika sholat tepat waktu?
    • Apa risiko bagi anak jika sholat tidak tepat waktu?

    Dst.

    Mengapa kita perlu berlatih mengenali manfaat dan risiko dari sebuah kegiatan yang dilakukan anak?

    Karena itu yang bisa menjadi bahan bagi kita untuk menjelaskan kepada anak alasan dia perlu melakukan sebuah kegiatan tertentu.

    Proses ini untuk membantu anak agar memahami alasan dan tujuan sebuah kegiatan sehingga tak hanya melakukan seperti robot, tapi dia mengetahui kaitan kegiatan tersebut dengan dirinya.

    Demikian kak, semoga membantu menajamkan proses berlatihπŸ™

    in reply to: Belajar Melalui Mengobrol #5194
    Aar
    Keymaster

    Kak @karina-rahmadia-ekawidyani,

    Mengobrol adalah kegiatan sederhana yang berlangsung dua arah dan bisa menjadi pintu masuk untuk aneka proses belajar anak.

    Bentuk ideal dari mengobrol adalah tatap muka dan ada interaksi dua arah (bukan satu arah perintah), serta melibatkan aspek komunikasi verbal dan non-verbal (intonasi, gestur, mimik muka, dll). Pertukaran energi dan informasi dalam berbagai bentuknya ini menjadi stimulasi yang kaya untuk tumbuh kembang anak. Anak juga mendapatkan pemenuhan kebutuhan perhatian dalam proses mengobrol yang membuatnya merasa aman dan nyaman bersama orangtua dan dirinya sendiri.

    Jika kondisi tak memungkinkan untuk mengobrol, bentuk lain seperti chat tertulis atau video call tentu saja juga merupakan bentuk pembelajaran. Semua bentuk komunikasi bersama anak adalah pembelajaran. Ketika komunikasi dilakukan dalam bentuk chat, aspek stimulasi dan pembelajarannya berbeda lagi. Anak belajar mengekspresikan pesan dan memahami pesan dalam bentuk tertulis. Itu juga pembelajaran, kak.

    Jika memungkinkan, upayakan tetap melakukan 2 aspek komunikasi dan bentuk mengobrol, baik melalui chat maupun tatap muka.

    Dengan proses semacam ini, anak akan mendapatkan pembelajaran yang semakin kaya dan beragam.

    Demikian kak, semoga membantu πŸ™

    in reply to: Apa yang diamati ortu vs minat anak #5224
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @toyibatus-sholikhah

    Supaya bisa mempertajam jawaban saya ke kakak, boleh diberikan informasi tambahan:

    1. Usia anak Anda:

    2. Apa yang Anda amati?

    3. Apa ide belajar yang Anda miliki dari pengamatan Anda?

    4. Apa yang Anda lakukan pada anak?

    5. Apa yang bikin anak tidak tertarik?

    in reply to: Jendela belajar #5244
    Aar
    Keymaster

    Tidak apa-apa kak Vera,

    Silakan konteksnya disesuaikan dengan kondisi dan aksi yang dipilih yang paling memungkinkan untuk dilakukan.

    πŸ™

    in reply to: Mencari Jendela Belajar #5249
    Aar
    Keymaster

    Kak @toyibatus-sholikhah

    Terima kasih sharingnya.

    Jangan lupa mengikuti aksi sesuai petunjuk yang ada di WA yaa..

    Pastikan aksinya disesuaikan karena petunjuk setiap hari berbeda-beda.

    Untuk hari ini, latihannya adalah menetapkan tujuan kegiatan. Ini keterampilan yang perlu dilatih agar tidak hanya menjalani kegiatan saja bersama anak.

    Jangan lupa berbagi tentang tujuan belajar dari kegiatan2 yang Anda tetapkan dengan menggunakan KKO.

    πŸ™


Viewing 15 posts - 121 through 135 (of 766 total)
Scroll to Top