Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterHalo kak @zulhy-adham dan kak @toyibatus-sholikhah ,
Terima kasih pertanyaannya.
Kondisi yang kakak alami sangat dimengerti dan dialami oleh banyak orangtua: kapasitas pengetahuan/keahlian orangtua dan minat orangtua berbeda dengan anak. Bagaimana menyikapinya?
Mari kita lihat kondisi dengan beberapa sudut pandang.
1. Learning is about relationship
Komplikasi ini terjadi terkait proses menjalin hubungan. Belajar bukan hanya perihal konten materi belajar.
Komplikasi ini lebih rumit jika terjadi pada anak remaja.
Untuk remaja, isunya bukan hanya perihal konten materi yang diobrolkan, tetapi juga tentang “power dynamics”. Anak tidak suka orangtua yang terlalu dominan dan ingin membangun lingkaran minat/pengetahuan yang berbeda dari orangtuanya. Walaupun minat yang ingin dibahas dianggap selaras dengan anak, anak bisa mundur dan menjauh dari diskusi.
2. Kepentingan
Aspek lanjutan dari kondisi ini adalah tentang kepentingan.
Belajar itu tentang kepentingan siapa? Kepentingan orangtua yang ingin mencurahkan pengetahuannya pada anak? Atau kepentingan anak untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu sesuai kebutuhannya?
Kita (orangtua) merasa berkepentingan untuk menjalankan peran dengan sukses. Kita ingin berbagi ilmu dan “harta karun” yang kita miliki.
Keinginan ini walaupun baik sering menjadi penyebab masalah di lapangan.
Ketika orangtua terlalu bersemangat untuk berbagi keahliannya, anak tak tertarik. Ketika orangtua sangat ingin bercerita banyak, anak mundur teratur.
Kita kembali pada basic: belajar adalah perihal pengalaman yang dialami anak. Belajar bukan tentang kita, sorry.
3. Tantangan lapangan
Yang menjadi tantangan kita di lapangan adalah:
a. Memperluas wawasan kita sehingga semakin luas melihat peluang belajar
b. Melihat kesesuaiannya dengan anak. Sekali lagi, ini adalah untuk kepentingan anak, bukan kepentingan kita.
c. Mengelola energi kita agar tidak terlalu “bernafsu”. Caranya dengan mengajukan pertanyaan dan obrolan singkat. Jika anak tertarik, kita lanjutkan. Jika tak ada “chemistry”, kita berhenti.
4. Memanfaatkan keahlian/pengetahuan orangtua
Lalu, bagaimana caranya agar pengetahuan yang kita miliki bisa kita transfer pada anak?
Sayangnya tak ada jalan mudah. Yang menjadi ketertarikan anak mungkin berbeda dengan pengetahuan yang kita miliki.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
a. Mengenali aspek pengetahuan kita yang penting untuk kehidupan secara umum, tidak tergantung pada minat.
Misalnya, pengetahuan tentang listrik cukup sampai urusan: keselamatan, tidak terlalu teknis.
b. Mencari kaitan antara minat anak dan pengetahuan/keahlian kita. Jika bisa ditemukan, jadikan pengetahuan kita untuk memperkuat anak. Jadi, obsesinya kita geser dari keinginan berbagi yang kita miliki menjadi keinginan menguatkan anak dengan hal yang kita miliki.
Perbedaannya sedikit, tapi ini aspek yang cukup fundamental.
Jika pengetahuan/keahlian kita secara substansi berbeda dengan minat/area yang ditekuni anak, yang bisa kita lakukan adalah masuk ke area yang lebih umum: etos kerja, etika, dll.
Demikian kak, semoga membantu menjawab.
🙏
Aar
KeymasterSelamat berproses ya kak Dhona,
Dengan penerimaan dari orangtua, anak akan merasa nyaman dan bisa bertumbuh sesuai dengan keunikannya masing-masing.
🙏
Aar
KeymasterNggak apa-apa, kak Zulhy.
Di manapun kita berada, kita akan selalu ada dalam posisi:
- ada orang yang lebih baik dan lebih berhasil daripada kita
- ada orang yang kurang baik dan kurang berhasil daripada kita
Itu hal yang pasti.
Penting untuk merasa nyaman dengan diri kita dan menjaga diri kita agar terus berada dalam energi dan zona bertumbuh.
- Yang kita merasa kurang, kita dengan sadar menerima (acceptance) dan tetap semangat untuk memperbaiki serta terus berlatih.
- Yang kita merasa lebih, kita tidak sombong dan tidak merendahkan orang lain.
Apapun kondisi kita, menurut saya penting untuk terus menjaga kesehatan mental kita agar stabil dan secara kapasitas bisa terus bertumbuh.
Pertumbuhan adalah pertanda penting kehidupan yang baik.
🙏
Aar
KeymasterTerima kasih banyak untuk update informasinya kak @melissa-armanda,
Semoga informasi ini bermanfaat dan bisa membantu orangtua lain.
🙏🤩
Aar
KeymasterKak @maria-lg,
Latihan di awal kita adalah orangtua belajar mengenali peluang belajar. Orangtua sedang berlatih agar bisa mengenali peluang belajar di sekitarnya dan pada saat bersamaan mengenali yang sesuai dengan anak.
Misalnya, mengenalkan anak pada gagasan ATM bukanlah tema yang cocok untuk anak usia 3,5 tahun. ATM itu terlalu abstrak.
Di sinilah tantangan orangtua untuk mencari ide2 kegiatan yang sederhana dan sesuai anak.
Bagaimana jika anak tidak tertarik?
Tidak apa-apa. Itu menjadi data untuk orangtua.
Data itu berupa:
~ Oo anak belum mengerti. Aku perlu cari ide yang lebih sederhana.
~ Oo anak malas menjawab. Kemungkinan aku terlalu sering bertanya. Aku perlu variasikan proses mengobrol.
Begitu prosesnya kak.
Inilah pentingnya untuk berlatih karena melalui latihan kita jadi memahami dengan sepenuhnya antara ide/gagasan dan kesesuaiannya dengan kondisi di lapangan.
Semakin sering berlatih, kita akan semakin terampil dan semakin memahami anak.
🙏
Aar
KeymasterHalo kak Nurima,
Dalam program ini, kita belajarnya selapis demi selapis yaa…
Pada awal proses, kegiatannya terkait dengan orangtua. Tak perlu melibatkan anak.
Nanti ada fase melibatkan anak.
Di awal ini latihannya adalah mengasah cara berpikir orangtua: orangtua terbiasa mengenali beragam peluang belajar yang ada di sekitarnya.
Aar
KeymasterKak @dhani-perwita-sari,
Dalam kondisi seperti yang diceritakan, jika memungkinkan ditanyakan saat di rumah: “Kakak masih mau tahu tentang angin?”
Jika anaknya tertarik, dilanjutkan obrolannya.
Jika anaknya sudah tidak tertarik, tidak apa-apa. Ini kondisi yang biasa.
Banyak sekali kesempatan-kesempatan belajar lain yang terjadi dalam keseharian.
Btw, jangan lupa berbagi ide Jendela Belajar yaa..
Aar
KeymasterBetul kak Lulu, penilaian dan scoring untuk semua kuesioner sama semua.
Aar
KeymasterKak @fikha-radhiita,
Refleksi itu bisa kompleks atau sederhana.
Untuk awal, lakukan dengan cara sederhana usai kegiatan. Jangan menunggu hari lain karena anak kemungkinan sudah lupa.
Lakukan dengan cara mengobrol dan ajukan pertanyaan:
1. Bagaimana perasaanmu?
2. Bagaimana kamu melihat hasil karyamu, berapa nilainya 1-10? Mengapa kamu beri nilai itu?
3. Apakah kamu mengalami kesulitan? Bagaimana kamu menangani kesulitanmu?
Ini contoh pertanyaan yang bisa dilakukan dengan sederhana. Tidak semua pertanyaan juga perlu diajukan. Lihat situasinya di lapangan.
Bagaimana jika terlewat refleksi? Ya nggak apa-apa, kak. Maju terus saja melakukan kegiatan lain.
Selalu ada waktu lain untuk melakukan kegiatan dan refleksi.🤩
Aar
KeymasterKak
Kunci menjalani homeschooling adalah alokasi waktu dan energi untuk menemani anak. Ini substansinya.
Pertanyaannya: apakah jenis pekerjaan Anda membuat Anda bisa mengalokasikan waktu dan energi untuk menemani anak-anak berkegiatan dengan semangat/mindful?
Jika jawabannya bisa, maka berarti HS bisa dilakukan.
Jika jawabannya Anda sudah kecapekan dan sulit mengalokasikan waktu & energi, berarti HS sulit dilakukan.
Hanya Anda yang bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Mengapa?
- Karena kondisi bekerja itu berbeda-beda.
- Ada yang pekerjaannya fleksibel.
- Ada yang pekerjaannya harus lembur-lembur.
- Ada yang kantornya dekat rumah.
- Ada yang harus sering pergi ke luar kota.
Dst.
Tentang orangtua bekerja ini juga dipengaruhi usia anak dan pendamping saat anak ditinggal bekerja:
- Berapa usia anak? Jika anak sudah remaja (SMP/SMA) dan sudah mandiri, berarti peran orangtua tidak terlalu besar sehingga bisa dilakukan. Jika anak masih usia dini, peran orangtua sangat besar sehingga sulit utk HS karena anak belum bisa dibiarkan sendirian.
- Siapa yang menemani anak saat ditinggal bekerja? Apakah bisa diandalkan untuk menemani anak?
Demikian kak, semoga menjawab.
Saran saya, kakak coba mengisi kuesioner yang disediakan: https://tumbuh.rumahinspirasi.com/courses/menimbang-homeschooling/lessons/materi-utama/topic/checklist-kesiapan-homeschooling/
🙏
Aar
KeymasterKak @setia-rivani dan kak @neni-nuraini,
Jika tak ada printer, silakan ditulis tangan di buku atau HP sesuai kondisi yang paling memungkinkan.
Apa yang ditulis?
Terserah kakak.
- Kalau kakak merasa perlu menulis semuanya, silakan.
- Kalau kakak hanya merasa perlu menulis nilainya, silakan juga.
Yang penting pengalaman mengisi kuesioner ini dilakukan.
Selamat mengisi Kuesioner, kak.
Jangan lupa menyempatkan diri menonton rekaman Webinar Pembukaan semalam.
🙏
Aar
KeymasterAmin.. terima kasih kak @winda-djohar 🙏
Aar
KeymasterAmin… terima kasih doanya kak @rosa-dahlia 🙏
Aar
KeymasterKak @winda-djohar,
Salah satu cara memicu inisiatif anak bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada anak.
1. Pertanyaan ganda
Pertanyaannya dimulai dari pilihan:
“Kakak mau melakukan A atau B?”
“Kakak mau melakukan A dulu atau B dulu?”
“Kakak mau makan A atau B?”
“Kakak mau pakai baju A atau B?”
Jika anak membutuhkan waktu, berikan waktu. Bersabarlah. Jangan langsung menyodorkan pilihan Anda.
Jika anak terserah Bunda, pada awalnya Anda bisa mengatakan: “OK, yang sekarang yang pilih Bunda. Besok yang pilih kakak yaa… Bunda sekarang pilih A.”
Jika anak sudah memilih, ikuti dan jangan dikoreksi. Jika Anda mengkoreksi, itu tandanya Anda mengajukan pilihan yang salah. Pastikan pilihan yang Anda ajukan sama-sama benar dan sama2 bisa dikerjakan.
Ini adalah proses membangun kepercayaan diri anak bahwa:
- dia boleh memilih
- dia bisa memilih
- pilihannya tidak salah dan tidak dikoreksi
- pilihannya diterima
2. Pertanyaan majemuk
Jika anak sudah terbiasa pertanyaan ganda, ajukan pertanyaan dengan pilihan majemuk.
“Mau A, B, atau C?”
Berikan kesempatan pada anak untuk memilih.
2. Pertanyaan terbuka
Jika anak sudah terampil menjawab pertanyaan terpandu baik pilihan ganda dan majemuk, baru ajukan pertanyaan terbuka.
“Hari ini kakak mau kegiatan apa?”
“Hari ini mau pakai baju apa?”
“Hari ini kita mau ke mana?”
Ini proses-proses stimulasi yang bisa dilakukan, kak,
Semoga membantu. 🙏
Aar
KeymasterHalo kak @winda-djohar,
Selamat datang di dunia pengasuhan anak. Setiap anak unik dan berbeda. Ini yang selalu menantang dalam proses pengasuhan bersama anak-anak.
Kami juga mengalami kondisi seperti ini kak. Ada anak yang suka membaca, ada anak yang lambat membaca. Ada anak yang senang kegiatan di luar, ada anak yang maunya di rumah terus. Ada anak yang butuh main sama teman, ada anak yang senangnya sendirian. Ada anak yang setiap hari menggambar, ada anak yang sama sekali tidak suka menggambar.
And it’s okay.
Kami sama sekali tidak masalah ketika Duta (anak ke-3) kami lambat membaca, tak tertarik aneka percobaan, dan tidak suka menggambar. Ternyata, setelah dia besar dia menyukai sport (basket & catur) dan sekarang di usia 15 tahun telah menjadi atlet catur junior nasional.
Jadi, ada beberapa hal yang bisa dan perlu dilakukan:
1. Terimalah keunikan anak
Penting untuk mengimani bahwa setiap anak unik. Anak kita tak harus sama dengan anak lain. Jika ada kelemahan/kekurangan anak, kita jangan fokus energi pada kekurangannya itu. Jangan lupa mencari sisi-sisi lain yang menjadi kekuatan anak.
2. Kenali tujuan yang sesuai anak
Jangan menjadi kebiasaan anak2 lain menjadi acuan. Seperti yang saya tuliskan di atas, anak ke-3 kami sama sekali tak suka menggambar dan mewarnai. Kami tak mempermasalahkannya.
Yang penting untuk orangtua adalah: kenali parameter tumbuh kembang anak sesuai usia. Jadikan itu sebagai acuan untuk stimulasi pertumbuhan anak.
Kenali, apa yang pelu distimulasi? Apa yang sudah bagus sehingga bisa ditingkatkan kualitasnya? Apa yang masih tertinggal dan membutuhkan stimulasi?
3. Fokus pada stimulasi
Fokus pada hal2 yang bisa kita lakukan. Fokuslah pada proses stimulasi pada anak, lepaskan hasilnya karena itu di luar kendali kita. Jika kita merasa anak perlu stimulasi kreativitas, ajari melalui berbagai cara: menggambar, mewarnai, ikuti tutorial, bikin2, dll. Jika kita merasa anak perlu stimulasi kegiatan motorik kasar/fisik, ajak anak jalan pagi, main di taman, dan seterusnya.
Begitu, kak. Kita tak bisa memastikan dan tak bisa memaksa anak menyukai sesuatu. Yang bisa kita lakukan adalah mencoba melakukan sebuah kegiatan dengan asyik sehingga anak menjadi tertarik untuk melakukannya.
Semoga membantu.
🙏
-
AuthorPosts