Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterAmin… semoga segera mendapat PKBM sesuai kebutuhan ya kak Melissa.
🙏
Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Halo kak @melissa-armanda,
Terima kasih atas sharingnya.
Salah satu tantangan dalam proses homeschooling adalah perubahan kebijakan pemerintah terkait teknis-teknis yang berkaitan dengan proses mendapatkan legalitas.
Kebijakan Ujian Paket
Perubahan kebijakan yang utama adalah terkait implementasi di lapangan terkait proses mendapatkan ijazah kesetaraan (ijazah Paket) yang semakin “dirapikan” oleh pemerintah.
Yudhis ujian Paket A 10 tahun lalu (2013). Setelah era itu, banyak perubahan aturan yang dilakukan oleh pemerintah terkait proses Ujian Paket.
Untuk memastikan keamanan dari sisi legalitas, saya biasanya menyarankan para orangtua HS untuk mendaftarkan anaknya di PKBM, apapun metode yang dipilihnya, sehingga bisa mendapatkan update kebijakan terbaru terkait proses mendapatkan ijazah Paket. Anak-anak kami semuanya terdaftar di PKBM sejak usia 7 tahun walaupun pembelajaran kami menggunakan model eklektik berbasis unschooling.
Aturan Saat Ini
Sebelum era Yudhis paket A, proses pendaftaran ujian bisa dilakukan 1 tahun sebelum ujian. Setelah itu, terjadi pengetatan-pengetatan terkait proses ujian Paket.
Aturan yang berlaku saat ini, siswa yang mau mengikuti Ujian Paket A memang tidak bisa lagi hanya mendaftar menjelang ujian.
Syarat yang dibutuhkan antara lain:
- sudah menyelesaikan materi belajar (yang ditunjukkan dengan rapor kelas 4, 5, dan 6)
- data peserta Ujian diambil dari sistem Dapodik.
Pengetatan aturan ini sudah berlangsung cukup lama (lebih dari 5 tahun) lalu. Tapi, implementasi di lapangan berbeda-beda, tergantung di setiap kota dan PKBM.
Untuk PKBM yang ada di kota dan terhubung dengan Internet, Dinas Pendidikan setempat biasanya lebih ketat mengatur PKBM dan syarat2 Ujian Paket karena data PKBM terkoneksi dengan data Dapodik.
Saya tidak punya data individual PKBM yang masih bisa menerima anak yang langsung bisa Ujian Paket A. PKBM tempat Yudhis ujian Paket di Salatiga setahu saya juga tidak bisa lagi karena mereka mengikuti aturan terbaru terkait rapor dan pencatatan data anak di sistem Dapodik.
Saran saya adalah mencari PKBM di kota kecil terdekat yang masih mentolerir pendaftaran Ujian Paket A walaupun tidak memiliki rapor kelas 4, 5, dan 6.
Setelah memiliki ijazah Paket A, jangan lupa langsung mendaftarkan anak di PKBM sehingga nanti bisa ikut Ujian Paket B. Sebab, syarat mengikuti Ujian Paket B adalah memiliki rapor kelas 7, 8, dan 9 serta usia ijazah Paket A sudah 3 tahun.
Demikian kak, saya mohon maaf tidak bisa memberikan solusi untuk masalah yang sedang Anda hadapi.
🙏
Aar
KeymasterKak @toyibatus-sholikhah,
Usia anak berapa kak?
Jadwal anak usia dini
Kalau anak masih kecil, prosesnya lebih dominan dibimbing dan dicontohkan.
Gunakan jadwal dalam bentuk visual. Mulai dari jadwal2 yang sudah dilakukan sehari-hari.
“Kak, yuk bikin jadwal kegiatan kamu. Ini Bunda bikinin yaa.. Nah, gambar yang ini adalah mandi, sikat gigi, ini gambar sarapan, makan siang, makan malam, masak2, mengaji, dll.. Kalau kakak sudah selesai, kakak bisa tandai.”
Kakak bisa menggunakan model jadwal seperti ini: https://tumbuh.rumahinspirasi.com/materi/papan-kegiatan-keseharian/
Transisi menuju usia sekolah
Jelaskan dulu alasan mengapa perlu bikin jadwal.
“Kak, kita bikin jadwal yuk.. supaya kamu tahu kegiatan apa saja yang perlu kamu lakukan satu hari. Bunda juga bisa melihat jadwal kamu. Kalau ada yang lupa, kita bisa saling mengingatkan.”
Buat jadwal sederhana seperti jadwal usia dini, plus minta masukan dari anak:
“Kakak punya usul kegiatan yang mau dimasukkan minggu ini?”
“Minggu ini Bunda pengin ajak kakak bikin xxx/pergi ke aaa.. Bagaimana menurut kakak? Enaknya hari apa ya? Kita masukkan ke dalam jadwal yaa..”
Anak usia sekolah
Prinsipnya sama dimulai dengan dialog tentang mengapa perlu bikin jadwal.
“Kita bikin jadwal mingguan yuk.. supaya kakak dan Bunda ingat. Terus kita bisa saling mengingatkan. Isi jadwalnya kegiatan rutin kamu seperti les, main ke luar, juga jadwal belajar rutin. Di jadwal kita bisa masukkan kegiatan spontan yang mau kita lakukan minggu ini.”
“Jadwal les kamu apa saja ya… hari apa lesnya? jam berapa lesnya? Kamu ada kelas online kapan? Dst” – Catat yang sudah biasa dilakukan.
“Bunda pengin kamu masukkan kebiasaan baik di jadwal, misalnya: minum air putih, sholat, sikat gigi, dll.. “
“Kita masukkan jadwal belajar matematika yaa… seminggu enaknya berapa kali?”
“Kamu punya usul kegiatan apa minggu ini?”
Demikian prosesnya kak. Mulai dengan yang sederhana dan asyik. Yang penting kebiasaannya dibangun dulu. Nanti kualitasnya ditingkatkan seiring berjalannya waktu.
Semoga membantu. 🙏
Aar
KeymasterHalo kak Dhona,
Ada 3 indikator penting terkait kapasitas sosial anak:
1. Anak memiliki keterampilan berkomunikasi: mengekspresikan keinginan/gagasan/perasaan, memahami perintah dan melakukan, bertanya-jawab, mengobrol dua arah.
2. Anak bisa melakukan dengan baik dalam situasi sosial kecil (keluarga) dan jika dibutuhkan.
3. Anak merasa nyaman dengan dirinya dan saat menjalani kesehariannya.
Jika 3 aspek tersebut terjadi, maka kondisi aman.
Terkait kebutuhan untuk berinteraksi dengan banyak teman, itu kaitannya dg personalitas: ekstrovert vs. introvert.
Orang ekstrovert merasa nyaman dalam situasi pertemanan dengan banyak orang, mendapatkan energi saat berinteraksi dg orang lain.
Orang introvert merasa nyaman dalam situasi pertemanan kecil atau sendiri, merasa terkuras energinya saat berinteraksi dg orang banyak.
Jadi, kondisi yang sedang kakak alami itu masih dalam batas cukup wajar.
Apalagi jika ada keluarga dekat yang memiliki personalitas serupa (introvert).
Fokuskan pada 3 aspek yang di atas (mengasah social skills). Berikan ruang dan waktu buat anak saat berinteraksi dg orang lain.
Anak introvert biasanya jadi pengamat saat interaksi sosial awal. Jika sudah merasa nyaman dia baru mau berinteraksi.
Stimulasi yang dibutuhkan adalah:
1. Terus asah keterampilan sosial
2. Sesekali paparkan dengan lingkungan sosial berbeda (akan lebih baik jika ada irisannya, misalnya sama2 suka menggambar)
3. Turunkan ekspektasi orangtua, berikan ruang dan waktu lebih besar pada anak saat melakukan interaksi sosial.
Demikian, kak. Semoga membantu. 🙏
Aar
KeymasterKak @ratnasari-dewi,
Saya tidak punya pengalaman langsung bersentuhan dengan sekolah internasional.
Berdasarkan yang saya baca tentang IB School (salah satu bentuk sekolah internasional), proses pelibatan dan partisipasi anak dalam proses belajar sangat tinggi. Tapi tentu saja ini tak bisa menggambarkan proses secara keseluruhan yang pasti sangat beragam.
Otonomi anak adalah pondasi penting untuk menyiapkan anak menjadi self-regulated learner.
Komponen otonomi anak (siswa) itu sering disebut dengan istilah student agency.
Beberapa pokok gagasannya adalah:
- Voice: anak memiliki hak/kesempatan untuk mengajukan pendapat/pandangan tentang belajarnya dan pandangan tersebut dihargai.
- Choice: anak memiliki pilihan2 dalam proses belajar, tidak hanya menjadi pelaksana kaku atas kegiatan belajarnya. Misalnya, pilihan jenis kegiatan, urutan, proses kerja, bentuk output, dll.
- Ownership: anak merasa memiliki kegiatan belajarnya karena proses belajar itu bermakna dan berkaitan dengan kepentingannya hidupnya.
Demikian kak, semoga membantu. 🙏
Aar
Keymaster- Halo kak @ratnasari-dewi
Unschooling menggunakan alat yang sangat sederhana (yang menjadi keunggulan sekaligus kerumitannya) yaitu lingkungan.
Ada asumsi2 yang sangat dipengaruhi oleh keyakinan dan tata nilai, misalnya:
- keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi kebaikan dan keinginan alamiah untuk belajar (bertumbuh)
- hal itu berkelindan dengan keyakinan bahwa intervensi orangtua untuk mengarahkan anak biasanya justru kontra-produktif pada tumbuhnya motivasi dan pertimbangan-pertimbangan internal anak
Dengan keyakinan itu, orangtua unschooling mempengaruhi proses anak secara tidak langsung melalui lingkungan. Jadi, yang dikelola dan diarahkan bukan anak, tetapi lingkungan. PR terbesar dalam unschooling adalah menyediakan lingkungan (fisik & psikologis) yang berkualitas yang memungkinan anak belajar melalui interaksi dengan lingkungannya.
Dalam pandangan personal saya, kecocokan dengan sebuah metode HS (misalnya unschooling) sangat dipengaruhi oleh karakter, tata nilai, dan cara hidup orangtua.
Orangtua yang merasa punya ideal-ideal tertentu tentang apa yang harus dilakukan anak (yang jumlahnya banyak dan cenderung kaku) akan sulit menjalani HS. Orangtua semacam ini mungkin lebih cocok menggunakan model yang lebih metodis.
Jadi, pertanyaan basic-nya adalah: apa nilai2 dan pola berpikir/pengambilan keputusan personal kita (dan pasangan kita)? Apakah nilai2 tersebut selaras dengan unschooling?
Demikian kak, semoga membantu 🙏
Aar
KeymasterKak @diah-anggraeni-4195,
Untuk keamanan dari sisi legalitas, ada beberapa aspek yang perlu dicek:
1. Apakah PKBM sudah punya NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional)?
2. Apa akreditasi PKBM?Itu 2 aspek paling penting dari sisi legalitas.
Aspek ke-3 adalah:
3. Apakah PKBM bisa mengadakan Ujian Paket?
Untuk PKBM baru biasanya belum bisa menyelenggarakan Ujian Paket. Syarat menyelenggarakan Ujian biasanya terkait akreditasi dan jumlah siswa.
Jika belum bisa mengadakan ujian, walaupun sudah legal, PKBM perlu menumpang ujian di PKBM lain yang berhak. Kegiatan belajar tidak masalah. Legalitas juga tak masalah. Tapi ijazah nanti dikeluarkan oleh PKBM penyelenggara Ujian.
Jika beberapa tahun yang akan datang PKBM berhak mengadakan ujian, maka ijazah dikeluarkan oleh PKBM yang bersangkutan.
Demikian kak, semoga informasi ini bisa membantu menimbang PKBM. 🙏
Aar
KeymasterHalo kak @rini-fahriani,
Kami tidak tahu alasan pemerintah membuat kebijakan kak.
Tapi secara umum, memang sulit untuk membuat pengelompokan berbasis minat karena jumlah minat itu banyak sekali. Minat juga terus berkembang pada area yang baru.
Yang bisa kita lakukan adalah memperkuat peran kita sebagai orangtua.
Mari kita, sebagai orangtua, memberikan ruang yang luas pada anak untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya sehingga bisa menjadi sarana bertumbuh dan berkontribusi saat besar nanti.
🙏
Aar
KeymasterKak @toyibatus-sholikhah,
Terima kasih pertanyaannya.
Ada beberapa pondasi penting ketika kita ingin mengajak anak melakukan kegiatan tertentu bersama kita:
a. Membangun suasana
Kita tak bisa langsung menyuruh anak melakukan kegiatan tanpa prolog pendahuluan dan cerita. Apalagi jika kegiatan tersebut dianggap beban dan kurang keren. Pasti anak menolak.
Ini hal yang sangat wajar. Kita pun pasti menolak jika diajak melakukan kegiatan yang membebani dan nggak asyik, kan?
Nah, ini PR utama yang perlu dilakukan orangtua dalam keseharian.
Bangun hubungan yang asyik bersama anak. Jangan hanya memberi perintah, nasihat, dan memberi larangan. Perbanyak ngobrol receh dan yang asyik-asyik bersama mereka.
Jika hubungan sudah asyik, kita bisa ngobrol apa saja bersama mereka. Sebab, anak-anak secara alamiah memiliki ketergantungan pada orangtua. Pusat perhatian mereka adalah orangtua dan keluarga.
Jika anak lebih suka main di luar bersama teman daripada di rumah bersama keluarga, ini perlu direfleksikan. Kita perlu membangun ulang suasana di rumah kita agar nyaman dan asyik buat anak.
b. Bermain, bukan memberi tugas
Saat mengajak anak melakukan kegiatan, sudut pandang penting yang perlu dibuat adalah bermain dan bersenang-senang, bukan memberi beban dan tugas.
Termasuk diantaranya sesekali minta tolong anak untuk membantu memasukkan belanjaan ke kulkas, mengambilkan sapu, dan lain-lain. Lakukan sesekali, jangan langsung berulang kali.
Jangan berharap menjadi tugas dan kewajiban. Itu adalah resep kegagalan dan pasti akan dihindari anak.
c. Membantu, bukan membebani
Ketika anak melakukan sesuatu, tempatkan prosesnya sebagai kontribusi dan kebaikan anak membantu kita. Jangan lupa selalu berterima kasih atas hal yang dilakukannya walaupun sederhana.
“Kakak baik sekali membantu. Kakak sudah meringankan beban Bunda.”
Hal-hal semacam ini yang perlu terus diulang untuk menunjukkan pada anak bahwa yang dilakukannya bermanfaat dan membantu orangtuanya.
d. Sediakan alat bantu
Jika kita ingin anak terlibat, upayakan alat kerja yang digunakan sesuai dengan anak sehingga membuat prosesnya menjadi lebih asyik dan menyenangkan buat anak. Jika anak masih kesulitan memakai sapu standar, cari sapu yang kecil. Dst.
Sekali lagi, tantangan kita sebagai orangtua adalah menggeser sudut pandang tentang pekerjaan rumah menjadi kegiatan yang ringan, asyik, dan berharga.
Pendekatan semacam ini biasanya jauh lebih efektif daripada memandangnya sebagai hal yang penting, sebagai kewajiba, dan tugas yang harus diselesaikan anak.
Demikian kak, semoga membantu.. 🙏
Aar
KeymasterHalo kak @toyibatus-sholikhah,
Terima kasih pertanyaannya.
Ada beberapa catatan yang ingin saya berikan terkait pertanyaan Anda.
1. Geser tujuan/harapan Anda
Salah satu proses yang penting dalam homeschooling adalah membangun sistem yang bisa berkelanjutan dalam jangka panjang. Agar bisa meraih tujuan itu, berarti kita perlu membangun sistem dan membantu anak agar memiliki kapasitas mengelola dirinya.
Nah, proses seperti ini membutuhkan proses yang panjang.
2, Membangun harapan yang wajar
Dalam proses HS dan kegiatan belajar di rumah, bentuknya berbeda dengan sekolah.
Di sekolah, semua jadwal sama dan berlangsung satu semester.
Dalam proses HS, kecil sekali kemungkinan kita bisa mengatur jadwal seperti itu.
Bahkan dalam pengalaman keluarga kami menjalani HS selama lebih dari 20 tahun, sebuah jadwal dan kesepakatan selalu ditata ulang sesuai dengan kesepakatan bersama.
Jadi, yang perlu dicari bukan cara mengubah anak supaya taat jadwal dalam jangka panjang, Tetapi bagaimana mencari pola kesepakatan yang bisa berjalan terus-menerus.
3. Kenali sumber masalah
Berdasarkan penuturan kakak, ada cerita tentang anak mogok tidak mau melakukan kesepakatannya. Ini anak usia berapa ya, kak?
Mogok adalah tanda komunikasi yang sudah macet. Mogok terjadi saat harapan anak dan orangtua tidak bertemu. Dialog dan negosiasi sudah buntu sehingga jalan satu-satunya yang dilakukan anak adalah mogok.
Yang perlu digali sebenarnya adalah penyebabnya.
- Mengapa anak tak mau menjalankan kesepakatan yang dibuat bersama?
- Apakah anak sudah lupa?
- Apakah ada perubahan kondisi lapangan yang membuat kegiatan sulit dilakukan?
- Apakah ada kegiatan lain yang lebih menarik?
<b style=”background-color: var(–bb-content-background-color); font-family: inherit; font-size: inherit; color: var(–bb-body-text-color);”>4, Dekatkan jarak orangtua dan anak
Lakukan dialog bersama anak. Jangan memaksakan anak untuk taat, tapi lakukan negosiasi dan buat kesepakatan. Kunci awal negosiasi adalah mengenali: kamu maunya apa/bagaimana?
Beberapa contoh negosiasi:
- OK, Bunda ngerti kamu kesusahan melakukan ini. Apa yang bisa dibantu?
- OK, kamu sedang belajar berkomitmen. Karena sudah disepakati, kegiatan ini kita lakukan hari ini, minggu depan kita ganti. OK?
- Kita tetap perlu melakukan kegiatan ini, durasi waktunya kita kurangi ya. Biasanya 1 jam, sekarang 30 menit.
- OK, kayaknya kegiatan ini terlalu berat. Kita ubah dari setiap hari menjadi 3x seminggu?
<b style=”background-color: var(–bb-content-background-color); font-family: inherit; font-size: inherit; color: var(–bb-body-text-color);”>5. Atur ulang jadwal dan kesepakatan
Buat kesepakatan dan jadwal baru. Review secara periodik.
Ada anak yang membutuhkan review per 3 hari, ada yang per minggu.
Dalam proses review, diskusikan bersama:
- Bagaimana jadwal minggu kemarin?
- Ada yang kurang sehingga perlu ditambah?
- Ada yang kebanyakan sehingga perlu dikurangi?
- Ada yang perlu diubah?
Demikian kak, semoga membantu. 🙏
Aar
KeymasterKak @dina-oktaviana,
Semua lembaga berbadan hukum PK BM mengeluarkan jenis ijazah yang sama yaitu: Ijazah Paket A, Paket B, dan Paket C. Mereka tidak mengeluarkan ijazah sekolah formal (SD, SMP, dan SMA). Mereka mungkin mengeluarkan ijazah/sertifikat lain sesuai kerjasama yang dilakukannya dengan lembaga lain.
Tetapi, tidak semua PKBM berhak mengeluarkan ijazah dan menyelenggarakan Ujian Paket. Ada kriteria1 yang dibuat pemerintah utk mengatur PKBM. Misalnya, ada syarat akreditasi dan jumlah siswa. Jika ada PKBM baru dan jumlah siswanya masih sedikit, mereka belum bisa menyelenggarakan ujian Paket.
Mereka bisa menyelenggarakan kegiatan operasional belajar. Tetapi ujian dan ijazahnya “menumpang” pada PKBM yang lebih lama dan memiliki hak mengadakan ujian.
Demikian kak, semoga menjawab.
Pertanyaan apakah sebuah PKBM tertentu berhak mengeluarkan ijazah atas nama PKBM tersebut bisa ditanyakan langsung pada penyelenggaranya.
Semoga membantu 🙏
Aar
KeymasterKak @vera-masella,
Yang kakak sampaikan sudah tepat.
Semua yang terkait dengan proses belajar adalah dokumentasi. Termasuk produk/hasil yang dibuat selama kegiatan belajar.
Diantara hasil-hasil belajar tersebut, kita bisa bisa mengambil beberapa hasil yang dianggap paling bagus yang menunjukkan kualitas skills/keunikan anak. Misalnya saat akhir SD, akhir SMP, dll. Inilah yang disebut portofolio.
Portofolio itu sendiri terus berkembang. Hal-hal yang dianggap keren pada jenjang sebelumnya bisa digantikan dengan hasil baru yang dianggap lebih relevan dan lebih mutakhir.
Secara substansi, saya tidak terlalu mempermasalahkan ketika di lapangan dua istilah ini mungkin digunakan bergantian, kadang dokumentasi, kadang portofolio.
Demikian kak, semoga menjawab pertanyaan kakak. 🙏
Aar
KeymasterHalo kak @levi-a
Terima kasih pertanyannya.
Sebelum menjawab secara langsung, saya ingin memberikan gambaran mindset HS terkait cara memandang PKBM.
Jangan membayangkan PKBM itu seperti sekolah, dengan tingkat kepadatan materi dan kualitas output/prosesnya. Bayangkan PKBM ini diakses oleh para ART, anak jalanan, buruh pabrik, dll untuk mendapatkan ijazah.
Dengan kondisi lapangan yang demikian, standar kualitas PKBM secara umum lebih rendah dari sekolah. Proses dan prosedur yang ada di PKBM jauh lebih longgar dibandingkan sekolah.
Oleh karena itu, sebagai praktisi HS kita perlu menempatkan PKBM pada tempanya:
1. PKBM sebagai naungan legal
Dengan terdaftar di PKBM, anak-anak ternaungi secara legal. Mereka punya NISN, mereka bisa mendapatkan ijazah yang bisa digunakan untuk melanjutkan ke PT atau urusan administrasi negara lainnya.
2. Tempatkan PKBM sebagai layanan minimum
Jangan menggantungkan kualitas pendidikan anak-anak pada PKBM. Pastikan Anda memiliki program pengembangan untuk anak-anak sehingga mereka memiliki bekal hidup (personal, sosial, profesional) yang nyata, bukan hanya sekadar memiliki ijazah.
Terkait rapor utk nilai matematika, setiap PKBM punya kebijakan berbeda-beda terkait cara mendapatkan nilai untuk rapor. Ada PKBM yang meminta anak ikut ujian di PKBM, ada yang meminta orangtua mendampingi anak utk ujian dan hanya minta hasilnya, ada juga PKBM yang minta orangtua untuk mencatat kegiatan belajar anak selama satu periode waktu tertentu.
Jadi, pastikan Anda sudah berkonsultasi dengan PKBM termpat bernaung terkait cara mendapatkan nilai rapor untuk anak.
Di PKBM Becik yang diikuti anak-anak kami, proses yang diminta oleh PKBM adalah meminta dokumentasi belajar anak. Misalnya, dalam konteks matematika apa saja yang sudah dipelajari selama 1 semester; tidak masalah apakah selesai atau tidak selesai sesuai levelnya.
Dengan model penilaian yang tidak ketat semacam itu, akurasi nilai (jika dikaitkan dengan penguasaan materi belajar) memang menjadi tidak terlalu akurat. Nilai menjadi semacam catatan administratif saja.
Bayangkan jika ART atau anak jalanan dipaksa mengikuti standar sekolah, mungkin tak ada diantara mereka yang bisa lulus dan mendapat ijazah Paket.
-()-
Jadi, yang penting dicatat dan dilaporkan saja ke PKBM.
Lebih pasti, konsultasikan hal ini dengan PKBM tempat anak bernaung.
Demikian kak, semoga membantu.. 🙏
Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Kak @annisa-sidqia-nahdah
Selamat menjalani petualangan belajar baru bersama anak-anak, kak.
Sebuah hal baru pasti bikin deg-degan dan menggentarkan.
Bagaimana untuk membuat kita lebih tenang?
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:
1. Fokus pada aksi ke depan
Fokus untuk melakukan aksi dan menatap ke depan. Simpan kenangan perjalanan yang sudah lewat. Kita akan menatap dan menjalani pengalaman belajar yang seru sekaligus berbeda.
Yang pasti, jangan lupa mendaftar PKBM untuk memastikan urusan legalitas lancar dan tak masalah.
2. Cari keberhasilan kecil
Proses HS adalah marathon. Hasilnya jangka panjang. Jadi, jangan lihat hari per hari, minggu per minggu, atau per bulan. Hasilnya baru terlihat dalam orde tahun.
Cari keberhasilan-keberhasilan kecil dalam proses transisi mencari pola yang nyaman untuk anak dan keluarga.
3. Manfaatkan kegiatan luar
Supaya tak sibuk menunggu, letakkan fokus pada pendampingan dan stimulasi anak.
Sertakan anak pada kegiatan2 luar, misalnya les bahasa asing, kursus, dan kegiatan komunitas.
Dengan proses ini, perkembangan anak pada area2 tertentu sudah bisa dipastikan bertumbuh.
4. Cari teman
Supaya kakak tidak merasa sendirian, jangan lupa mencari teman seperjalanan untuk teman mengobrol dan curhat. Sesekali ikuti kegiatan offline dan bertemu dengan praktisi HS lain.
Demikian kak, semoga membantu..
Selamat menikmati perjalanan. Jangan lupa menikmati dinamika sepanjang jalan, bukan hanya sibuk menanti kapan sampai di tujuan.
🙏
Aar
KeymasterKak @liza-darmawan,
Variasi minat dan bakat memang sangat beragam.
- Minat + nggak berbakat => hobi
- Nggak minat + berbakat => profesi
- Nggak minat + nggak berbakat => abaikan
- Minat + berbakat => prestasi
Fenomena paling umum adalah minat tapi nggak berbakat. Kegiatan itu menjadi kebahagiaan, tapi ketika dicoba ditekuni utk menjadi keahlian dan prestasi tidak berkembang.
Jika mengalami hal seperti ini tidak apa-apa kak. Kegiatannya dijadikan sebagai sumber kebahagiaan. Seperti kegiatan badminton, selain menjadi sumber kebahagiaan dia bisa menjadi stimulasi motorik kasar dan untuk kepentingan kesehatan.
Tidak semua hal memang bisa diarahkan menjadi prestasi.
Bagaimana jika masih mau dilanjutkan 2 tahun lagi?
Tidak masalah, kak. Untuk orangtua, kuncinya adalah mengelola ekspektasi.
Jika dari pengamatan awal terlihat anak tidak berbakat, ekspektasi minimum adalah untuk kesehatan dan kesenangan. Jangan sampai badminton menjadi sumber stress dan beban untuk anak.
Jangan berekspektasi prestasi, nanti orangtua dan anak sama-sama stress.
Demikian kak, semoga membantu 🙏
-
AuthorPosts