Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterHalo kak @dian-sofianty-pratiwi
Terima kasih pertanyaannya.
Untuk proses HS, pengelompokannya tidak seketat sekolah.
Proses pendaftaran di PKBM sebenarnya dimulai saat anak usia kelas 1 SD (7 tahun).
Pendaftaran di PKBM saat anak di bawah SD sebenarnya tidak bermakna apapun secara legal. Itu hanya berfungsi menenangkan orangtua supaya anak punya ijazah TK (jika mau daftar ke SD).
Yang penting adalah kualitas kegiatan bersama anak. Anak menikmati kesehariannya dan bertumbuh optimal sesuai usianya.
Jika kakak mau HS, proses yang utama ada di rumah. Pendaftaran di PKBM hanya sebagai tambahan legalitas.
Tak perlu dibahaskan tentang naik kelas atau tetap di kelas yang sama. Kegiatan di PKBM juga perlu dijadikan sebagai pelengkap saja.
Proses yang penting untuk dilakukan orangtua saat anak usia dini adalah:
1. Melakukan kegiatan bersama anak dengan mindful
2. Gunakan panduan checklist parameter perkembangan/tumbuh kembang anak
3, Jenis kegiatan bebas dengan mengacu pada tumbuh kembang tersebut, serta kegiatan lain untuk membangun kebiasaan baik dan kemandirian anak.
4. Pendaftaran di PKBM dan pendaftaran di PKBM bersifat optional.
Demikian kak, semoga membantu yaa.. π
Aar
KeymasterHalo kak @alvera-anita-dk
Masa anak-anak bayi sampai usia 3 tahun adalah masa yang cukup berat karena anak masih memiliki ketergantungan besar pada Ibu. Dalam masa ini, poin penting yang perlu dijaga oleh Ibu adalah fokus menjaga kesehatan fisik dan mental agar bisa menjalani keseharian dengan tenang (tidak kusut).
Saat menjalani proses ini, mungkin perlu kelapangan hati untuk menurunkan standar2 dan ekspektasi terkait keseharian. Lebih baik rumah berantakan sedikit tapi secara fisik/mental sehat daripada memaksakan diri rutinitas yang membuat kecapekan dan kusut.
Tapi jika menata rumah menjadi sumber kebahagiaan kakak, maka lakukanlah.
Jadi,
Rutinitas adalah sebuah hal yang dilakukan berulang.
Kebiasaan baik mengandung aspek rutinitas (dilakukan secara berulang), tapi fokusnya pada tujuan, bukan hanya sekadar menjalani rutinitas.
Jadi, PR kakak dalam masa ini adalah:
~ apa kebiasaan sehari-hari yang perlu dilakukan agar kakak secara fisik dan mental stabil?Itu yang perlu dikenali.
Semoga membantu ya kak.. π
Aar
KeymasterIya kak Dhona,
Ada kasus-kasus di mana orangtua menjalani HS saat anak usia dini. Tapi ketika usia sekolah (7 tahun) keluarga memutuskan untuk bersekolah dan masuk SD.
Secara aturan, untuk masuk SD syaratnya adalah Akta Lahir (tanpa ijazah TK). Tapi beberapa kondisi di lapangan ada SD yang mensyaratkan ijazah TK yang membuat orangtua HS mendaftarkan anak di PKBM saat TK.
π
Aar
KeymasterKak @dhona-sarawati
Untuk anak usia dini, belum ada kewajiban mendaftar ke PKBM.
Pendaftaran di PKBM baru dimulai saat anak masuk usia SD (7 tahun).
Tapi, beberapa PKBM memang membuka pendaftaran utk level TK. Tujuannya agar anak-anak bisa punya ijazah TK (karena ada beberapa daerah yang mensyaratkan ijazah TK utk mendaftar SD).
Demikian kak, semoga menjawab pertanyaan kakak.
π
Aar
KeymasterHalo kak @muhammad-fathul-wahhab-kurnia-zain
Saat ini tidak ada panduan yang jelas dan definitif terkait usia anak masuk/terdaftar di PKBM.
Yang biasanya diatur terkait ujian Paket A (minimum usia 12 tahun, tidak ada batas maksimum).
Dengan mengacu usia saat Paket A = 12 tahun, maka kita bisa menghitung mundur usia kelas 1 adalah 7 tahun.
Setahu saya belum ada pengaturan jika anak mendaftar di PKBM sejak usia sebelum 7 tahun.
Bagaimana jika baru mendaftar di PKBM sejak usia 8 tahun? Anak ada di kelas berapa?
Nah, ini pengaturannya tidak terlalu jelas. Praktek di PKBM beda-beda. Anak bisa didaftarkan kelas 1, tapi bisa juga langsung kelas 2.Mengapa? Karena integrasi data PKBM ke sistem biasanya mulai dilakukan sejak kelas 4. Kondisi ini tentu saja berkembang sesuai waktu.
Untuk diketahui, proses2 pengaturan di PKBM terkait legalitas ini jauh lebih longgar dibandingkan di sekolah.
Prosesnya banyak ditentukan oleh praktek2 yang terjadi di lapangan (di PKBM). Kebijakan di PKBM bisa berbeda-beda.
Jadi, proses yang sebaiknya dilakukan adalah mengecek dan bertanya ke PKBM yang kakak pilih sebagai naungan legalitas untuk ananda.
Demikian, semoga penjelasan ini menjawab pertanyaan kakak. π
Aar
KeymasterSelamat berproses dan terus berlatih kak @vera-marsellaπ€©
Aar
KeymasterBagus sekali kak @vera-marsella,
Selamat untuk perkembangan dan kemajuannya yang besar.
Ini adalah langkah awal yang luar biasa untuk maju dan berlatih terus meningkatkan kapasitas mindfulness.
Kakak sudah melihat dan merasakan sendiri, kemajuan kakak membuahkan hasil bagus: kestabilan diri sendiri, kualitas hubungan orangtua-anak, juga perkembangan anak-anak.
Terus berlatih ya kak..
Jangan lupa untuk mengapresiasi diri sendiri dan melihat perkembangan kita, bukan fokus pada kekurangan dan ketidaksempurnaan kita.
Ruang bertumbuh dan berkembang senantiasa tersedia bagi karena itu adalah proses kita menjadi lebih baik.
π€©π
Aar
KeymasterBagus kak @asri-maharrani,
Proses yang kakak lakukan ok dan sudah tepat.
Terus berlatih fokus pada data dan mengurangi kelekatan emosi (penilaian) ya kak..
Dengan cara seperti itu, kita akan menjadi lebih mudah merancang anak tangga proses pertumbuhan anak.
Jika terlalu fokus pada penilaian, biasanya kita akan menjadi mudah emosi dan khawatir; atau memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi pada anak.
Semoga membantu π
Aar
KeymasterHalo kak @vera-marsella,
Latihan mengamati tanpa menilai mungkin terasa membingungkan karena dalam interaksi bersama anak-anak kita biasanya memberikan respon: mengapresiasi, memberikan masukan, dan komentar lainnya.
Latihan ini bukan berarti larangan mengapresiasi anak dan memberikan feedback.
Latihan ini fungsinya adalah: memisahkan antara data/fakta dengan penilaian.
Yang terjadi biasanya adalah: orangtua terlalu fokus pada penilaian.
Dalam sebuah peristiwa, bisa terjadi 20% mengamati data dan 80% adalah penilaian yang memicu emosi senang/sedih/khawatir/dll.
Latihan ini untuk memperbesar aspek pengamatan terhadap fakta anak-anak dan mengurangi penilaian yang sering menjadi pemicu emosi kita. Jika yang terjadi adalah hal baik, itu tak masalah. Yang sering bermasalah adalah ketika yang dialami anak tidak sesuai dengan harapan kita sehingga kita terpantik emosinya (kesal, marah, khawatir). Emosi itu terus melekat dan menjadi dasar sikap kita pada anak-anak.
Dengan melakukan pengamatan yang fokus pada fakta dan memperbanyak porsi fakta, semoga emosi-emosi kita menjadi lebih tenang menyikapi dinamika keberhasilan dan kegagalan anak dalam kesehariannya.
Poin teknisnya:
1. Boleh mengapresiasi dan memberikan masukan, tapi perbanyak pengamatan terhadap fakta yang dilakukan anak.
2. Banyak hal yang dilakukan anak dalam keseharian cukup diamati, tidak selalu perlu dinilai dan diberikan komentar.
Demikian kak, semoga menjawab. π
Aar
KeymasterNah… bagus kak @vera-marsella refleksi dan follow-up-nya π€©
Variasikan kegiatan bersepeda agar menjadi hal yang asyik dan menyenangkan. Mungkin ganti rute, mungkin sesekali beli susu, mungkin sesekali balapan, dll.Tentang kegiatan anak-anak, sedapat mungkin tidak memotong kegiatan anak. Apalagi saat dia sedang asyik. Itu akan membuat dia merasa bete.
Jangan lupa, orangtua peduli dengan kualitas kegiatan (bermanfaat, produktif, kesehatan, dll), anak peduli dengan kemasan (asyik, menantang, lucu, seru, dll).
Pastikan Anda memperhatikan sudut pandang anak dan mengupayakan agar kegiatan dilakukan dengan asyik. Jika kegiatannya asyik, walaupun pasti anak akan mau melakukannya.
Demikian, semoga membantuπ
Aar
KeymasterBetul kak @vera-marsella,
Agar bisa mengelola emosi, maka kita perlu memisahkan emosi dengan kedirian kita. Emosi adalah ekspresi yang terlontar sebagai respon sebuah peristiwa. Emosi datang dan pergi.
Emosi ada di luar diri kita. Dia mungkin cukup melekat karena kita sering mengekspresikan emosi tersebut, tapi dia bukan diri kita.
Jika emosi dianggap diri kita, maka itu akan susah dikelola karena ego kita akan menolak untuk dicabut. Atau, kita sendiri menganggapnya identitas diri kita.
Tapi jika emosi dianggap fitur sementara, maka kita bisa melonggarkan dari diri kita dan bisa mengelolanya dengan lebih baik. Kita bisa menetapkan kapan kita mengizinkan emosi itu muncul, seberapa tingkat intensitasnya, dll.
Demikian, semoga membantu. π
Aar
KeymasterHalo kak @okky-pratiwi,
Memang tidak ada pembahasan tentang roda emosi Plutchik. Itu hanya contoh dari keragaman jenis emosi.
Yang penting untuk diketahui adalah kakak belajar mengenali jenis-jenis emosi/perasaan. Coba kakak tuliskan jenis emosi/perasaan sepengetahuan kakak. Abaikan benar/salah, yang penting kakak bisa mengidentifikasi beragam jenis kosakata emosi. Semakin banyak kosakata emosi semakin baik.
Itu poin yang penting dalam latihan ini.
Dengan perbendaharaan kosakata emosi yang banyak, itu berarti kakak semakin mengenali beragam emosi, bukan hanya gembira, sedih, marah, dan kecewa saja.
Nah, perbendaharaan kosakata emosi itu akan Anda gunakan untuk mengenali: emosi apa yang Anda rasakan saat pagi? Saat siang? Saat sore? Saat malam?
Latihannya sesederhana mengenali jenis emosi.
Sesederhana itu, kak.
Semoga membantu. π
Aar
KeymasterKak @okky-pratiwi,
Program ini adalah proses berlatih mandiri, tidak ada feedback satu-persatu untuk setiap peserta.
Jika ada pertanyaan terkait kondisi yang kakak alami, kakak bisa tanyakan di forum ini.
Silakan memperjelas kondisi yang kakak alami, saya pasti akan menjawab dan memberikan feedback terhadap pertanyaan yang masuk.
Semakin lengkap informasi yang diberikan, itu akan membantu saya memahami kondisi yang kakak alami sehingga bisa semakin tajam memberikan masukan.
Demikian, semoga membantu. π
Aar
KeymasterKak @sheila-sheila,
Untuk yang baru pertama kali berlatih, Nafas Sadar ini mungkin akan terasa tidak semudah yang kelihatannya. Itulah sebabnya butuh berlatih, bukan hanya sekadar merasa tahu saja.
Dari sisi pengetahuan Nafas Sadar itu sangat sederhana, tapi praktiknya ternyata tak sederhana, hehehe..
Proses Nafas Sadar ini dilakukan seingatnya. Semakin sering ingat semakin baik.
Untuk alat bantu, kakak bisa menggunakan penanda, misalnya: sebelum melakukan kegiatan tertentu (misalnya: sebelum mandi, sebelum masak, sebelum keluar rumah, dll) atau sesudah melakukan kegiatan tertentu. Atau, tempelkan dengan kegiatan yang biasa kakak lakukan, misalnya: sebelum/sesudah makan, mandi, sholat, dll.
Demikian, semoga membantu.
Semangat berlatih kak! π
Aar
KeymasterHalo kak @vera-marsella
Terima kasih pertanyaannya.
Tak apa kakak untuk menunda belajar tentang model HS dan lebih fokus menjalani keseharian bersama anak dengan mindful.
Tentang kebosanan, ada beberapa hal yang perlu dilihat lebih mendalam:
Durasi kegiatan
~ apa yang dimaksud kebosanan? Apakah berarti anak berpindah dari kegiatan yang direncanakan/disepakati? Berapa lama durasi anak berkegiatan?
Untuk diketahui, fokus anak biasanya bisa diukur selaras dengan usianya. Tahun usia selaras dengan durasi fokus.
Durasi fokus: (tahun x 2) menit
Misalnya, anak usia 2 tahun, kemampuan fokusnya baru sekitar 2-4 menit (tahun usia dikalikan dua). Anak usia 3 tahun, durasi fokusnya 3-6 menit.
Jika anak usia 3 tahun beralih kegiatan setelah 6 menit, itu hal yang wajar.
Mengenali penyebab kebosanan
~ Pada jenis kegiatan apa anak bosan? Apakah kegiatan itu dipilih oleh anak atau dipilih orangtua? Apakah anak tahu/sudah pernah melakukan kegiatan tersebut?
Proses penting yang perlu dilakukan orangtua adalah mengenal lebih mendalam tentang hal yang menyebabkan anak merasa bosan:
- ekspektasi tentang durasi kegiatan terlalu tinggi (ini poin yang dibahas di atas)
- anak hanya asal memilih kegiatan (dia tidak benar2 menginginkan kegiatan itu, tapi merasa perlu menjawab karena ditanya orangtuanya). Di tengah jalan kemudian di berubah pikiran.
Jika ini kondisi yang terjadi, perubahan yang perlu dilakukan adalah:
- anak tidak harus selalu menjawab jenis kegiatan yang akan dilakukan
- jika anak belum punya rencana, biarkan anak melakukan kegiatan bebas
- anak usia dini belum bisa berkomitmen dan cenderung spontan. Kita perlu menyesuaikan diri dengan kondiisi dan kesiapan anak.
~ orangtua sudah mengalokasikan waktu untuk anak sehingga merasa perlu melakukan kegiatan yang terstruktur. Padahal anak belum siap atau sedang tidak mau melakukan kegiatan terstruktur dengan komitmen durasi tertentu.
Jika ini kondisi yang terjadi, perubahan yang perlu dilakukan adalah:
- sebagian besar pola kegiatan anak usia dini adalah kegiatan spontan. Jika anak belum bisa mendefinisikan kegiatan yang ingin dilakukannya, tidak apa-apa. Lepaskan dulu ekspektasi. Nikmati kegiatan spontan bersama anak.
Demikian kak, semoga membantu π
-
AuthorPosts