Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 181 through 195 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: QnA Mindful Parenting #5500
    Aar
    Keymaster

    Kak @meri-azmi,

    Nafas sadar adalah bentuk sederhana meditasi. Jika meditas ada semacam “protokol” tentang proses yang perlu dilakukan, nafas sadar ini bentuk yang paling sederhana.

    Dalam proses nafas sadar, kita tak perlu menghentikan kegiatan kita, kemudian mencari tempat duduk, menutup mata, dan mengolah nafas kita.

    Dalam proses nafas sadar, yang kita latih dan lakukan sesederhana:

    • kapan pun ingat tentang nafas sadar, praktekkan sambil terus melakukan kegiatan kita (mengetik, memasak, dll)
    • berikan perhatian pada proses kita mengambil nafas
    • ambil nafas lembut dan keluarkan secara lembut 3x
    • itu sudah 1 cycle nafas sadar
    • nanti kalau pas ingat lagi, ulangi proses seperti di atas

    Semoga membantu 🙏

    in reply to: QnA Mindful Parenting #5501
    Aar
    Keymaster

    Kak @julia-sukma,

    Bisa, kak

    Setelah melihat gambar besar keseluruhan dari proses kita, kemungkinan hasilnya memang beragam. Inilah gambaran dari kompleksitas kita sebagai manusia.

    Dari gambar besar itu, kita bisa bercermin tentang apa yang sudah on track serta apa yang bisa menjadi ruang bertumbuh dan perbaikan.

    Dalam aspek fokus yang menjadi contoh kakak, kakak bisa bersyukur atas salah satu aspek fokus yang sudah bagus (nilai 5). Ruang perbaikannya berarti aspek fokus yang nilainya masih kurang (1).

    Semoga membantu.🙏

    in reply to: QnA Mindful Parenting #5502
    Aar
    Keymaster

    Kak @vera-marsella,

    Kegiatan otomatis adalah kegiatan yang hati dan pikirannya tidak hadir saat melakukan kegiatan. Saat melakukan kegiatan, pikiran kita terus bergerak memikirkan kegiatan selanjutnya, masalah yang sedang dialami, dst.

    Jadi, ini bukan tentang aksinya sendiri, tetapi kehadiran hati dan pikiran.

    Dalam konteks kegiatan seharian, dilihat saja gambar besarnya, apakah sebagian besar kegiatan kakak menghadirkan hati dan pikiran atau berjalan sesuai kebiasaan.

    Kuesioner ini adalah alat bantu dan bersifat asesment. Ini hanya pendekatan untuk memahami diri kita, jangan dilihat sebagai sebuah penilaian yang mutlak dan bukan tentang benar/salah, tetapi peluang perbaikan.

    Semoga dapat dipahami. 🙏

    in reply to: QnA Mindful Parenting #5508
    Aar
    Keymaster

    Noted, terima kasih masukannya kak Sita.

    🙏

    in reply to: QnA Mindful Parenting #5510
    Aar
    Keymaster

    Kak @siti-qanithah,

    Hasil kuesioner silakan dikirim sesuai link yang diberikan pada pagi hari tadi.

    Untuk cara membaca hasil kuesioner, petunjuknya akan dikirimkan sore ini.

    in reply to: QnA Mindful Parenting #5511
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @asri-maharani,

    Kalimat yang dibuat memang diacak antara kalimat positif dan negatif.

    Yang perlu diperhatikan adalah pemilihan jawabannya: A (hampir tidak pernah) hingga E (hampir selalu).

    Jika Anda perhatikan, nilai angka untuk no. 3 & 4 berkebalikan.

    • Pada kuesioner nomor 3 (kalimat negatif): A (hampir tidak pernah) skornya 5
    • Pada kuesionor nomor 4 (kalimat positif): A (hampir tidak pernah) skornya 1

    Semoga kebayang ya kak..

    in reply to: Podcast Perpindahan dari Sekolah ke Homeschooling #5526
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @levi-a,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Dari Sekolah ke HS

    Perpindahan dari sekolah ke HS tidak ada masalah dilakukan kapan pun, termasuk saat anak awal kelas 6. Kuncinya adalah segera mendaftar ke PKBM sehingga data anak sampai kelas 5 bisa ditransfer pengelolaannya ke PKBM dan tahun berikutnya anak bisa ikut Ujian Paket A.


    Dari HS ke Sekolah

    Hal yang terkadang masih menjadi tantangan adalah perpindahan dari HS ke sekolah. Walaupun sudah ada aturan dari Kemdikbud, prosesnya masih belum umum bagi sekolah penerima sehingga mereka sering bingung jika perpindahan terjadi saat anak di “tengah sekolah”, misalnya kelas 5 atau 6.

    Perpindahan dari HS ke sekolah lebih mudah jika selesai Ujian Paket A, selesai Ujian Paket B. Anak betul2 masuk ke jenjang baru di sekolah yang baru.

    Demikian kak, semoga menjawab pertanyaan yang disampaikan.

    🙏

    in reply to: Webinar Memulai HS Sekolah #5531
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @lisa-flarida-marissa,

    Terkait frasa “tidak memindahkan sekolah ke rumah”, ada beberapa poin penting yang perlu saya perjelas:

    1. Materi belajar

    Materi belajar dalam HS bisa disesuaikan dengan anak dan tidak sepenuhnya sama dengan sekolah. Orangtua bisa memperbanyak materi non-akademis jika dianggap lebih sesuai untuk anak.

    Proses semacam ini tidak bisa dilakukan di sekolah.

    Bagaimana materi akademisnya?

    Jika menginginkan ijazah kesetaraan, tentu saja anak HS perlu mempelajari materi-materi akademis seperti sekolah. Tetapi, beban akademis yang dipelajari dan diujikan di PKBM jauh lebih rendah dibandingkan di sekolah.

    2. Cara belajar

    Cara belajar di sekolah konvensional adalah melalui proses penjelasan oleh guru (ceramah). Proses ini seringkali diadaptasi dalam bentuk kelas/tutorial online yang prinsipnya serupa.

    Dalam HS, cara belajar yang dilakukan bisa lebih beragam, misalnya belajar berbasis tema atau belajar berbasis proyek, atau memakai aplikasi, dll.

    Pembahasan tentang cara belajar ini ada di kelas Strategi belajar HS: https://tumbuh.rumahinspirasi.com/courses/strategi-belajar-homeschooling/

    Jadi, anak memang tetap perlu belajar, tetapi bebannya jauh lebih ringan, kak.

    Demikian, semoga menjawab. 🙏

    in reply to: Podcast Keterampilan Kesehatan #5535
    Aar
    Keymaster

    Terima kasih banyak kak @vera-marsella,

    Secara teknis yang kakak lakukan sudah baik.

    Yang penting terus dihidupi.

    Jangan lupa untuk menjaga energi agar fokusnya pada hal yang positif, bukan yang negatif (ketakutan).

    Karena yang menjadi fokus energi kita akan menjadi magnet untuk menarik energi yang sejenis. Jika yang menjadi fokus kita adalah ketakutan, maka bisa2 ketakutan itu bisa menarik peristiwa yang ditakutkan.

    Ini yang perlu dihindarkan dengan cara fokus pada aspek yang positif.

    Selamat berproses bersama anak-anak, kak.

    🙏🤩

    in reply to: Webinar Manajemen Keseharian Homeschooling #5540
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @astri-mayasari

    Terima kasih pertanyaannya.

    Saat ini, untuk anak bisa mengikuti Ujian Paket, proses yang dilakukan harus diawali dengan mendaftar di PKBM. Agar bisa ikut ujian, nanti ada syarat lagi yang lain seperti sudah menyelesaikan materi belajar. Jika ujian paket C, syaratnya harus punya ijazah2 di jenjang di bawahnya (Paket A/SD dan Paket B/SMP).

    Anak kak Astri saat ini usia berapa?

    Jika sudah SMA dan memastikan tidak mau kuliah, tidak apa-apa tidak mendaftar di PKBM. Berarti dia sudah punya ijazah SMP dan memang mau bisnis, ya?

    Jika anak masih kecil, apakah kakak yakin anak betul2 nanti tidak mau kuliah? Bagaimana jika saat usia 16 tahun anak mau kuliah padahal syarat kuliah adalah harus punya ijazah Paket C? Sementara jika mau ujian Paket C harus punya ijazah Paket B? Sementara jika mau ujian Paket B harus punya ijazah Paket A?


    Saran kami, untuk memastikan aspek legalitas dan berjaga2, sebaiknya anak didaftarkan di PKBM. Carilah PKBM yang persyaratannya ringan dan fleksibel sehingga kakak bisa tetap melakukan kegiatan HS bersama anak sesuai dengan rencana keluarga.

    Demikian, semoga membantu. 🙏

    in reply to: Podcast Keterampilan Kesehatan #5542
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @vera-marsela,

    Terima kasih sharingnya. Sangat dipahami kekhawatiran kakak membaca berita2 yang muncul.

    Bias penyajian berita

    Problemnya, penyajian berita di hadapan kita tak netral. Yang sering muncul di beranda gawai/medsos kita bukan berarti peristiwanya semakin banyak.

    Ketika kita mengakses berita di Internet, algoritma penyajian berita mengikuti pola klik dan berita yang kita baca. Sehingga, seolah2 berita yang sejenis semakin banyak di beranda yang kita.

    Jika kita mengakses berita kriminal, pola lanjutannya adalah semakin banyak berita kriminal yang muncul.

    Jika kita suka membaca berita politik, informasi yang tersajikan ke hadapan kita juga banyak tentang politik.

    Dst.

    Jadi, salah satu tips yang bisa dilakukan adalah mengurangi membaca berita kriminal apapun, baik di WA, FB, IG, Tiktok, Twitter. Jika berita itu muncul, abaikan. Jangan diklik, jangan dibaca, jangan putar/tonton videonya.


    Fokus pada lingkar kendali

    Berita di luar sana ada di luar kendali kita. Yang bisa kita lakukan adalah fokus pada hal-hal yang bisa kita lakukan dan berada dalam kendali kita. Salah satunya adalah menyediakan rumah/lingkungan yang aman dan mengajari anak-anak kita untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual.

    Kakak bisa membaca referensi dari Kemdikbud ttg “Melindungi Anak dari Kekerasan Seksual” untuk membantu.

    Semoga bermanfaat ya kak..🙏

    in reply to: Podcast Pengembangan Minat dan Bakat #5547
    Aar
    Keymaster

    Sama-sama kak Febi,

    Selamat berproses bersama anak-anak.

    Ditunggu sharing dan cerita-ceritanya yang lain. Jika ada pertanyaan selama proses, feel free untuk menyampaikan pertanyaan lagi di forum.

    🙏

    in reply to: Podcast Contoh Pengembangan Keterampilan #5548
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @vera-marsella,

    Pengenalan kepribadian ekstrovert dan introvert juga dipengaruhi oleh stimulasi dan lingkungan. Pengenalan tanta-tanda awal itu bagus untuk membantu kita supaya lebih rileks dan tidak panik, terutama jika anak kita introvert yang lambat panas dan tidak menyukai kegiatan bersama teman-temannya yang heboh. Anak mungkin senang mengamati, tidak langsung bergabung dengan teman/suasana baru.

    Jika anak seperti itu, orangtua tak lagi panik.

    Yang penting dilakukan oleh orangtua adalah fokus pada proses stimulasi untuk mengasah keterampilan sosial, dengan menjaga ekspektasi bahwa anak mungkin berkembang lebih lama atau membutuhkan “anak tangga” proses yang lebih kecil untuk membantunya berkembang dalam aspek sosial.

    Demikian kak, semoga membantu. 🙏

    in reply to: Podcast Contoh Pengembangan Keterampilan #5551
    Aar
    Keymaster

    Kak

    @vera-marsella

    Menurut banyak ahli, kepribadian introvert dan ekstrovert dipengaruhi oleh paduan yang kompleks antara faktor genetik dan pengaruh lingkungan selama kehidupan.

    Yang pasti, faktornya bukan hanya lingkungan yang penyelesaiannya melalui proses stimulasi.

    Ada kecenderungan personal yang juga tak bisa dilepaskan dari orientasi kepribadian introvert dan ekstrovert.

    Secara sederhana, introvert dan ekstrovert menunjukkan karakter personal: dari mana memperoleh tambahan energi? Apakah saat sendiri dan kelompok kecil (introvert)? Atau saat bersama orang banyak dan kelompok besar (ekstrovert)?

    Walaupun begitu, kecenderungan ini pasti berada dalam sebuah spektrum, bukan dua kelompok yang dapat dipisahkan dengan jelas.

    Misalnya, orang introvert merasa nyaman jika berada dalam lingkungan kecil dan merasa terkuras energinya saat dalam lingkungan pergaulan yang besar dan ramai. Tapi dia senang berorganisasi dan tak merasa masalah untuk berinteraksi dengan orang lain saat berorganisasi.

    Dalam kategori ini, ada yang disebut social introvert.

    Social introvert adalah seseorang yang memiliki kecenderungan untuk lebih suka menyendiri atau melakukan kegiatan sendiri, namun tetap bisa berinteraksi secara sosial dengan orang lain dan dapat menikmati hubungan sosial yang terjalin dengan baik. Dalam konteks ini, seseorang yang memiliki sifat social introvert cenderung merasa lelah atau kelelahan setelah berinteraksi secara sosial dalam jangka waktu yang lama, dan lebih memilih untuk memiliki waktu sendiri untuk mengisi energi kembali.

    Seseorang yang memiliki sifat social introvert juga cenderung memiliki kemampuan untuk memahami dirinya sendiri dengan lebih baik, serta memiliki kemampuan untuk merenung dan memikirkan ide-ide yang kompleks dengan lebih baik ketika mereka berada dalam lingkungan yang tenang dan hening.

    Demikian kak, semoga membantu. 🙏

    in reply to: Podcast Pengembangan Minat dan Bakat #5557
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @febi-hidriyanti

    Sebagai orangtua, tentu kita ingin memberikan yang terbaik. Sebagai orangtua, kita ingin membantu mereka agar bisa bertumbuh optimal sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki. Diantaranya adalah membantu anak untuk naik kelas setahap demi setahap pada bidang yang menurut kita menjadi kekuatannya.

    Di sini terjadi tarik-menarik dan dialektika antara anak dan orangtua.

    • Jika kita tidak mendorong, maka peluang pertumbuhan anak bisa terlewat. Anak tidak akan berkembang dengan optimal. Itu menurut kita.
    • Tapi jika kita terlalu mendorong, hal tersebut akan menciptakan resistensi pada anak. Anak merasa kita terlalu memaksakan hal-hal tertentu terkait hidupnya.

    Di sini memang titik kerumitannya. Kita perlu mencari titik temu antara harapan kita meningkatkan kapasitas anak dan kenyamanan anak mengelola kegiatannya.

    Ada beberapa hal yang perlu menjadi pondasi dalam proses ini:

    1. Kepemilikan

    Kegiatan adalah milik anak. Pilihan jenis kegiatan adalah milik anak. Peran kita sebagai orangtua adalah membantu anak untuk berkembang secara optimal.

    Jika ada keberhasilan, siapa yang diuntungkan? Anak.

    Jika ada hal yang tidak optimal, siapa yang paling merugi? Anak itu sendiri.

    Kita sebagai orangtua ikut berbahagia.

    Jadi, posisi kita sebagai orangtua adalah menjadi pendamping dan membantu anak, bukan penentu. Anaklah yang paling berhak menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya.

    Walaupun kita sangat ingin membantu anak dan merasa ada hal-hal yang sebaiknya dilakukan anak, pada akhirnya kita perlu kembali pada prinsip ini: ini adalah hidup anak.

    2. Membangun dialog

    Yang bisa kita lakukan sebagai orangtua adalah membangun ruang dialog yang nyaman bersama anak.

    Dialog itu dua-arah, bukan satu arah dari kita ke anak. Dialog itu berarti ada percakapan dan kedua pihak saling mendengarkan.

    Agar anak mau mendengarkan, maka kita perlu memastikan bahwa yang kita lakukan adalah untuk kepentingan anak (bukan kepentingan kita sendiri). Energi yang terpancar dari diri kita cukup santai sehingga anak tidak merasa terintimidasi.

    Pada saat bersamaan, kita perlu bertanya kepada anak dan mau mendengarkan dengan tulus untuk menggali alasan penolakan anak.

    3. Memberikan penawaran

    Paling jauh yang bisa kita lakukan adalah menawarkan dan menjelaskan mengapa tawaran itu baik untuknya.

    Ini proses yang menantang. Apalagi jika anak sudah semakin besar dan semakin membutuhkan otonomi. Seringkali, penolakannya bukan karena dia tidak tahu bahwa itu hal yang penting, tetapi dia tidak suka dipaksa atau dia merasa punya cara berbeda. Semakin besar anak, semakin besar kebutuhannya untuk tidak hidup di bawah bayang-bayang orangtuanya.

    Itulah kondisinya.

    Jika sebuah kegiatan memang disukai dan menjadi kekuatannya, dia pasti tak akan jauh dari kegiatan tersebut. Bahkan ketika dia beralih kegiatan, suatu saat nanti pasti akan kembali lagi ke bidang yang disukai dan menjadi kekuatannya. Jika dia tidak kembali, itu berarti anak tak merasa bahwa kegiatan tersebut adalah kekuatannya atau dia merasa biasa-biasa saja dengan kegiatan tersebut.

    4. Ruang bertumbuh

    Proses pertumbuhan anak berjalan baik terkadang jalannya tidak lurus. Ada anak yang jalannya muter-muter dan melingkar dulu dan itu bukan hal yang asing dalam pertumbuhan anak. Jika anak dipaksa, yang terjadi justru akan berhenti dan tidak berkembang.

    Kami mengalami kondisi itu bersama anak kami ke-2, Tata. Proses Tata terkait kesenangannya menggambar tidak linier. Tata tidak suka dan tidak mau dipaksa.

    • Yang bisa kami lakukan adalah memberikan ruang baginya untuk mengambil keputusan. Keputusan pilihan kegiatan dilakukan sepenuhnya oleh Tata dan kami menghormati apapun pilihannya (walaupun tak seperti yang kami inginkan)
    • Yang bisa kami lakukan adalah berbagi informasi dan menawarkan kegiatan yang menurut kami bagus untuknya. Kami menjelaskan mengapa kegiatan itu menurut kami bagus untuk kepentingannya. Tapi kami tidak memaksakan dia harus mengikuti saran kami.
    • Dengan pendekatan seperti ini, Tata terus berkembang di dunia yang menjadi pilihannya (walaupun tak selalu sesuai dengan bayangan kami). Walaupun Tata menolak tawaran kami untuk les gambar atau mengikuti kegiatan tertentu, tapi Tata tetap menggambar dan bertumbuh dengan caranya sendiri. Kuncinya adalah kami tidak intervensi dan memberikan ruang yang luas dan nyaman untuknya.

    Demikian kak, dinamika prosesnya memang tidak sederhana.

    Sekali lagi, pondasinya adalah membangun dialog dan interaksi bersama anak. Kita tidak bisa memaksa karena paksaan tak akan berbuah baik dalam jangka panjang.

    Dari proses dialog dan interaksi dari hati ke hati, kita bisa mencari jalan buat mereka untuk bertumbuh dengan cara lebih baik.

    🙏

Viewing 15 posts - 181 through 195 (of 766 total)
Scroll to Top