Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterKak @annisa-sidqia-nahdaha.
1. Kuliah kedokteran di LN
Kami tidak punya referensi anak-anak HS yang sekolah kedokteran di LN. Jika anak mau kuliah kedokteran di LN, berarti Anda perlu melakukan riset tentang syarat yang dibutuhkan untuk kuliah tersebut di LN karena sistem di berbagai negara berbeda-beda.
2. Kualitas belajar
Kualitas belajar dalam HS yang utama ditentukan oleh proses belajar yang dilakukan secara mandiri oleh anak maupun bersama keluarga. Jangan menggantungkan kualitas akademis dan kemampuan anak dari PKBM karena secara umum PKBM memiliki kualitas di bawah sekolah (karena biasanya dipakai oleh anak putus sekolah).
Yang penting dijaga terkait PKBM adalah memastikan legalitasnya: punya nomor NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional) dan terakreditasi. Dalam konteks HS, penting untuk dipastikan proses belajarnya fleksibel dan bukan seperti sekolah yang ketat dan sangat kaku.
Semoga membantu 🙏
Aar
KeymasterHalo kak @annisa-sidqia-nahdah
Buku Berjenjang kami buat berdasarkan level, dimulai dari Jenjang 1 yang paling mudah, hanya belajar membaca 1-2 kata sederhana.
Buku ini tidak disusun berdasarkan usia karena tergantung kesiapan anak. Ada anak yang sudah terstimulasi dalam keterampilan membaca dan sudah siap belajar membaca saat usia 5 tahun. Ada anak yang masih struggling dan belajar mengeja saat usia 8 tahun.
Jadi, ukurannya kesiapan anak.
Prasyaratnya: anak sudah mengenal huruf dan mulai mengenal suku kata.
Jika anak dirasa siap, kakak bisa mulai mencobanya dengan memaparkan buku di jenjang 1 pada anak untuk melihat apakah dia sudah bisa atau masih sangat kesulitan. Jika sudah mulai bisa, berarti bisa digunakan. Jika masih kesulitan sekali, berarti perlu belajar mengenal huruf dan suku kata menggunakan flashcard suku kata (yang juga kami sediakan).
Aar
KeymasterSemoga dilancarkan semua prosesnya kak @Vera-marsella 🙏
Aar
KeymasterHalo kak @vera-marsella,
Bagus prosesnya kak.. silakan dilanjutkan terus. Jangan lupa menambahkan kegiatan membacakan buku (read aloud) sebelum tidur sebagai pondasi kecintaan anak terhadap buku.
Proses seperti yang kakak jalani merupakan homeschooling anak usia dini.
Tentang unschooling, tak usah terlalu banyak memikirkan tentang label ini. Tak perlu disebut unschooling atau menyebutkan diri unschooling. Yang penting kualitas keseharian kakak bersama anak-anak berkualitas.
Jika tertarik dengan unschooling, kakak bisa membaca buku2 karangan John Holt, misalnya: Belajar Sepanjang Waktu, Mengapa Siswa Gagal, Bagaimana Siswa Belajar.
Demikian kak, semoga membantu. 🙏
Aar
KeymasterKak Krishna-sasmita,
Jika anak ingin kuliah di Indonesia, maka anak tetap perlu memiliki ijazah Paket C. Ini aturan yang berlaku di Indonesia. Hal ini terjadi pada berbagai sekolah internasional, mereka juga tetap menyediakan ijazah Paket C jika anak ingin kuliah di Indonesia.
Jika anak hanya menggunakan kurikulum Cambridge dan mengikuti ujian IGCSE atau A Level, itu bisa digunakan dalam 2 aspek:
- membuat standar akademis menjadi tinggi
- kalau mau kuliah di LN
Demikian kak, semoga menjawab.
🙏
Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Sebenarnya tidak ada keharusan sebuah keluarga membuat jadwal untuk proses HS-nya. Ada tipikal keluarga yang senang kegiatan spontan karena terasa lebih segar dan seru. Hal ini terutama terjadi saat anak usia dini.
Kondisi paling umum terjadi dalam keluarga HS adalah antara: spontan semuanya dan terjadwal semuanya. Kecenderungannya bisa lebih dekat ke spontan atau lebih dekat ke terjadwal, ini yang perlu dicoba-coba.
Mengapa jadwal itu diperlukan? Untuk melatih anak melakukan kegiatan2 besar yang membutuhkan project management atau kegiatan yang terkait komitmen dengan orang lain yang tidak boleh berdasarkan mood.
Latihan yang bisa dilakukan:
- coba minta anak bikin checklist rencana harian dengan sistem menu. Dia tulis target, tapi urutan pengerjaannya bebas. Jadi masih ada fleksibilitas cukup besar utk pelaksanaannya.
- bikin proyek yang membutuhkan pengerjaan beberapa hari dan breakdown aktivitas/target harian yang perlu dilakukan
Demikian kak, semoga membantu
Aar
KeymasterUntuk anak usia 9 tahun mestinya sudah bisa mengobrol, kak @nongki-sakinah,
Jangan lupa selalu membangun penjelasan logis untuk anak sehingga mereka memahami sebuah perintah dan larangan, tidak hanya karena kata-kata orangtua atau kata orang.
🙏
Aar
KeymasterKak @nongki-sakinah,
Ada banyak strategi bertanya yang perlu dikenali orangtua:
1. Pertanyaan 2 opsi: A atau B?
2. Pertanyaan 3 opsi: A, B, atau C?
3. Pertanyaan terbuka: kamu mau yang mana?
Jika anak belum bisa pilihan terbuka, berarti perlu dibantu dengan membuatkan anak tangga yang lebih kecil dulu: pilihan 2 opsi A atau B.
Jika sudah terampil menjawab 2 opsi, naikkan jadi 3 opsi: A, B, atau C.
Jika sudah terampila menjawab dengan opsi yang disediakan, bisa naik lagi menjadi pertanyaan terbuka.
Semoga membantu.
🙏
Aar
KeymasterSama-sama kak @vera-marsela,
Selamat berlatih.. 🙏
Aar
KeymasterTerima kasih kak @vera-marsela untuk kejujurannya berbagi,
Ada 2 aspek penting yang perlu dikenali saat merespon dan menyikapi anak:
1. Respon emosi
2. Respon logis
Kedua respon itu tak bisa disatukan dan dilakukan pada saat bersamaan. Kita perlu melakukannya satu-persatu.
Jika ada hal yang tidak berkenan di hati orangtua atau anak melakukan hal yang emosional (marah, sedih, kecewa); respon pertama yang perlu dilakukan adalah menenangkan anak dan menerima emosinya. Lakukan pelukan, usapan kepala, atau sentuhan untuk memberikan ketenangan pada anak. Kurangi kata-kata.
Setelah emosi anak reda dan tenang, baru diskusikan peristiwanya dengan tenang. Di sinilah baru terjadi proses pembelajaran anak.
Orangtua yang marah2 dan sekaligus menasihati anak tak akan efektif nasihatnya. Sebab, yang ditangkap oleh anak hanya kemarahan orangtua saja. Otaknya tertutup oleh emosi dan dia tidak bisa mendengarkan nasihat/penjelasan apapun yang diberikan.
Jadi, pastikan prosesnya bertahap:
1. Selesaikan urusan emosi dulu. Orangtua tidak marah dan bisa tenang. Anak tidak emosional dan lebih tenang.
2. Setelah selesai urusan emosi, baru diskusikan secara logis hal-hal yang sudah terjadi.
Semoga membantu.🙏
Aar
KeymasterBetul kak @nongki-sakinah,
Proses utama belajar untuk anak-anak usia dini adalah mengamati dan meniru yang ada ada di sekitar.
Memang penting sekali bagi kita untuk menyadari hal ini karena pendidikan itu bukan menceramahi anak-anak, tapi memberikan contoh tentang cara bersikap dan cara hidup baik yang dijalani dalam keseharian.
🙏
Aar
KeymasterKak @nongki-sakinah,
Anaknya kak Nongki baru berusia 3 tahun, kan?
Santai saja dulu kak..
Proses yang utama dalam penanaman nilai adalah melalui contoh yang dilihat dan dilakukan sehari-hari. Dia melihat cara ibunya berpakaian dan orang2 di sekitarnya berpakaian. Juga, dia melihat dari pilihan2 baju yang disediakan oleh Ibunya untuknya. Itu adalah modal pertama anak mengenali baik/buruk, benar/salah.
Tentang diskusi dan penjelasan, tidak ada patokan usia, kak. Nanti jika suatu saat muncul pertanyaan mengapa pakai baju ini dan itu, kakak bisa menjelaskan sesuai pemahaman anak.
Gunakan istilah2 yang mudah dimengerti anak, misalnya: baik/buruk, yang disukai Allah, dst.
Aar
KeymasterKak @nongki-sakinah,
Mengomentari anak dan memberikan petunjuk tentu saja boleh-boleh saja.
Kalau anak memilih piyama diantara 2 pilihan, berarti kakak memberikan piyaman sebagai salah satu pilihan?”
Memilih 2 pilihan itu bukan memilih bebas ya kak..
Memilih bebas: “Kamu boleh pilih baju di kamar” Anak memilih dari semua hal, bisa benar dan bisa salah.
Memilih 2 pilihan: “Kamu pilih baju A atau B?” Pilihannya sudah disediakan, jadi pasti benar.
Semoga membantu.
Aar
KeymasterKak @nongki-sakinah,
Untuk belajar meringkas buku/materi belajar, salah satu latihan yang bisa dilakukan anak adalah menggunakan mindmap. Alat ini bersifat visual dan tidak membutuhkan banyak penulisan, tapi bermanfaat untuk memetakan pemahaman.
Agar anak bisa mencoba mindmap, orangtua bisa belajar dulu tentang mindmapping atau belajar bersama2 anak. Banyak tutorial membuat mindmap yang bisa diikuti di Youtube.
Semoga membantu 🙏
Aar
KeymasterHalo kak @vera-marsela,
Terima kasih sharingnya. Reaksi spontan orangtua yang marah karena kaget dan takut kebakaran/anak terluka adalah hal yang wajar. Jangan terlalu dibawa ke dalam perasaan yang berlarut-larut.
Yang penting direfleksikan adalah:
Apakah pola respon kakak yang seperti ini berulang? Jika iya, berarti perlu dicari penyebabnya apakah ada kekhawatiran atau pengalaman personal yang membuat kakak merespon cukup keras atas peristiwa ini? Apa yang menjadi concern pemicu besar emosi: api (kebakaran), luka anak, atau kebohongannya?
Membawa hal-hal yang ada di lapisan bawah sadar ke dalam kesadaran adalah salah satu upaya awal untuk membuatnya menjadi lebih terkelola.
Meningkatkan Kualitas Respon
Bagaimana cara meningkatkan kualitas respon terhadap kondisi seperti ini?
1. Anak mencari aman
Secara umum, pemandu aksi yang dilakukan oleh anak-anak bukanlah moral (bohong/jujur), tetapi respon yang mereka terima. Anak akan memilih aksi yang aman buat mereka.
Jika anak jujur dan mendapatkan respon baik, maka dia akan memilih jujur. Jika respon jujur membuat dia dimarahi, maka dia tidak memiliki insentif untuk berkata jujur.
Untuk membuat anak terbiasa berkata apa-adanya, penting bagi kita untuk membangun insentif yang menguntungkan anak. Jika dia berani berbicara apa-adanya, maka dia tidak akan mendapat kemarahan, bahkan diapresiasi. Maka, anak melihat bahwa jujur itu menguntungkan.
2. Fokus pada petunjuk aksi
Yang selalu menantang dalam proses menemani anak-anak adalah tidak mudah panik dan mengelola emosi kita. Jika kita marah dan kemudian memberikan komentar/petunjuk, hampir dipastikan yang diingat anak adalah kemarahannya. Petunjuk kita akan dilupakan. Dan itu akan membuat peristiwa yang sama kemungkinan besar berulang.
Jika kita bisa tenang (dan ini susah), maka kita bisa fokus untuk memberikan petunjuk pada aksi:
a. “Kakak tahu cara menyalakan kompor dengan aman? Begini caranya….!
b. “Kakak coba sini belajar menyalakan kompor bersama mama.”
c. “Kakak boleh menyalakan kompor bersama Mama, tapi tidak boleh sendirian. Tahu nggak kenapa? Apa bahayanya? (tunggu anak sendiri yang memberikan jawaban sebagai tanda dia mengerti aturan main dan bahaya menyalakan kompor tanpa ditemani Bunda)
Demikian kak, semoga membantu.
🙏
-
AuthorPosts