Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 211 through 225 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Jurnal syukur #5598
    Aar
    Keymaster

    Kak @gita-suraya,

    Tidak aturan harus pagi atau harus malam, kak. Tidak ada yang ideal.

    Yang penting dilakukan.

    Kakak boleh pilih pagi atau malam, yang paling nyaman untuk kakak dan paling memungkinkan untuk dilakukan secara kontinu.

    🙏

    in reply to: Kebiasaan Baik #5599
    Aar
    Keymaster

    Kak @karina-rahmadia-ekawidyani

    Salah satu penyebab kegagalan dalam proses membangun kebiasaan baik adalah kita tidak mengantisipasi kondisi tidak normal (deadline, tamu, kesibukan, dll).

    Itulah sebabnya, penting bagi kita untuk menetapkan kondisi minimal agar setiap hari kita selalu merasa berhasil melakukan kebiasaan baik kita (walaupun tidak sempurna).

    Misalnya:

    • minum air putih; idealnya 3 botol. Dalam kondisi terburuk, kita menetapkan minimal minum air putih 1 gelas
    • ideal: membaca buku 10 halaman/hari. Minimal: membaca 1 paragrap
    • ideal: olahraga 30 menit/hari. Minimal: stretching 1 menit

    Begitu cara berpikir dan latihannya, kak.

    Semoga membantu. 🙏

    in reply to: Kebiasaan Baik #5604
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb,

    Kak @zulhy-adham

    Salah satu tips membangun kebiasaan baru adalah menempelkannya dengan pola/kebiasaan lama yang sudah mapan dijalani. Dengan menempelkannya, kita menjadi lebih mudah ingat dan melakukannya.

    Pola/kebiasaan lama yang sudah mapan misalnya: bangun tidur, mandi, ibadah, makan, dll.

    Contoh yang paling kita kenal adalah minum obat yang ditempelkan dengan jadwal makan: diminum sebelum/setelah makan.

    Nah, proses membangun kebiasaan baru ini juga serupa. Tempelkan pada kebiasaan/pola lama Anda yang sudah mapan.

    Misalnya:

    • melakukan xx setelah sholat Subuh,
    • melakukan yy sebelum sarapan
    • melakukan abc sebelum berangkat kantor
    • melakukan xxx setelah mandi
    • dll

    Demikian kak, semoga membantu 🙏

    in reply to: Hari ideal dan kenyataan #5605
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb,

    Sumber kekecewaan yang sering terjadi adalah karena sikap dan aksi kita berdasarkan yang ideal. Kita tidak mempertimbangkan variabel yang menjadi masalah kita sehingga seringkali merasa gagal dan kecewa dengan keseharian kita.

    Itulah sebabnya, kami berikan panduan jurnal ideal & kenyataan. Dari dua “peta” tersebut, kita perlu mengenali apa yang menjadi penyebab masalah. Jika penyebab masalahnya adalah bersifat eksternal dan di luar kontrol kita, maka kita harus berdamai. Kita fokus membuat hari Optimal yang peluang keberhasilannya tinggi.

    Jika kita sakit dan itu di luar kontrol kita, maka hari optimalnya adalah:
    ~ berapa waktu yang tersedia?
    ~ kapan waktu yang tersedia?
    ~ apa hal paling penting yang bisa kita lakukan di waktu2 tersebut?

    Sederhanakan hal yang bisa dilakukan sambil kita berproses memulihkan kesehatan kita.

    Lebih baik melakukan sedikit hal yang berhasil dan berkualitas tinggi daripada menginginkan banyak hal yang sebagian besar tidak terjadi.

    Demikian kak, semoga membantu.

    🙏

    in reply to: Habbit Formation #5606
    Aar
    Keymaster

    Kak @asri-maharrani,

    Betul kak, kita prosesnya setahap demi setahap yaa..

    Biar latihan kita lebih ringan dan bisa dijalani.

    🙏

    in reply to: Hari Optimal #5607
    Aar
    Keymaster

    Kak r

    @febiyanti-veronica

    @febiyanti-veronicaK


    Hari yang optimal berarti titik temu antara yang ideal dan kenyataan dengan mempertimbangkan analisis terhadap penyebab masalah.

    Jika masalahnya adalah anak tidurnya tidak teratur, pertanyaannya: apakah itu bisa dikontrol? Jika tidak bisa dikontrol, jangan berharap hari yang teratur untuk anak. Hari teratur bukan harapan yang masuk akal untuk kondisi saat ini.

    Jika kita tidak bisa mengubah kondisi luar, maka kita perlu berdamai dengan kondisi itu. Kita perlu menerimanya sebagai kenyataan yang perlu kita kelola. Kita tak berupaya mengubah anak, tetapi menjadikan diri kita lebih adaptif.

    Hari optimalnya adalah: orangtua bisa lentur dan tidak kehabisan energi.

    Dari sini, dibangun kebiasaan pribadi: apa yang bisa kakak lakukan setiap hari supaya bisa lentur dan tidak kehabisan energi?

    Demikian kak, semoga membantu. 🙏

    in reply to: Kondisi ideal dan kenyataan #5608
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @ria-arianty,

    Setiap orang punya tantangan masing-masing.
    Problem yang sering terjadi adalah ketidakselarasan antara harapan dan kondisi. Kita ingin dapat semua hal sementara kondisi kita tidak memungkinkan.

    Kuncinya adalah:

    ~ menata prioritas: tidak semua hal sama penting. Coba diurutkan kepentingan kegiatan dan target kakak

    ~ ketersediaan waktu dan energi kita. Berdasarkan ketersediaan itu, coba dialokasikan mulai prioritas yang terpenting hingga kurang penting

    ~ setelah itu prosesnya adalah berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat kira raih (saat ini)

    Cara membuat prioritas adalah memetakan kegiatan dengan berbagai matriks lain:
    ~ beratnya beban
    ~ importance (buat kita) – jika tidak dilakukan, hidup kita bermasalah
    ~ standar kualitas: ada hal2 yang perlu dikejar kualitasnya, ada yang penting hadir (sehingga waktu & energi yang dibutuhkan sedikit)
    ~ urgency – seberapa harus diselesaikan saat ini

    Identifikasi alat bantu dan bantuan yang mungkin diperoleh.

    ~ Alat bantu supaya bisa lebih mudah/cepat dilakukan
    ~ Bantuan utk melakukan delegasi kegiatan pada (anak, asisten, teman, tim, dll)

    Kuncinya adalah memangkas kegiatan dan menurunkan ekspektasi agar sesuai dengan kapasitas kita. Ini nggak enak, tapi inilah kenyataan yang harus kita lakukan kalau kita tidak ingin burnout.

    Pada saat bersamaan, PR kakak adalah memperbesar energi agar semakin besar kapasitas melakukan kegiatan yang diinginkan.

    Semoga membantu.

    🙏

    in reply to: Proses Audit #5611
    Aar
    Keymaster

    Kak @enggaringtyas-m

    Curhatnya sangat dimengerti kak. Memang begitulah tantangan keseharian yang kita miliki.

    Kita merasa nyaman dengan pola yang ada saat ini, tapi pada saat bersamaan ada dampak yang tidak kita sukai. Dan kita ingin bisa mendapatkan semuanya.

    Dalam konteks seperti ini, pertanyaannya adalah: Apa prioritas kita saat ini? Apa yang mungkin dilakukan?

    • Yang penting malam produktif? Ya sudah pagi agak berantakan tidak apa-apa. Berarti yang perlu dikelola adalah: bagaimana membuat pagi tidak terlalu berantakan, bagaimana membuat pagi lebih mulus. Mungkin ada hal2 terkait pagi yang digeser/disiapkan sejak malam. Ini contohnya
    • Pagi berkualitas juga penting? Apakah pola keseharian bisa digeser dengan tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi? Para ahli pengembangan diri banyak membahas tentang morning routine, 5 am club, dll. Tentu saja ini bukan keharusan, tapi bisa jadi opsi untuk eksperimen terkait kesehatan dan produktivitas pribadi.

    Demikian catatan saya, kak.

    Sekali lagi, tidak ada yang ideal. Mencari pola2 yang optimal untuk diri kita adalah proses bertumbuh yang berlangsung terus-menerus.

    Proses ini juga berlangsung dinamis menyesuaikan kondisi keluarga, pekerjaan, usia, dll.

    Semoga bermanfaat.

    🙏

    in reply to: Podcast Panduan Sederhana HSUD #5612
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @karina-rahmadia-ekawidyani

    Terima kasih pertanyaannya. Terbayang dinamika yang terjadi pada anak terkait pola kegiatan malam dan tidur anak-anak.

    Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait pengaturan pola kegiatan anak:

    1. Anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan

    Sebagaimana anak beradaptasi dengan kondisi berjaga malam (bangun) saat Ibu aktif berkegiatan malam pada waktu yang dulu, anak juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kondisi baru yang diharapkan. Perubahan tidak akan bisa berlangsung dramatis. Perubahan membutuhkan pengaturan lingkungan.

    2. Prioritas anak = prioritas keluarga

    Prioritas anak tergantung pada prioritas keluarga. Kita sulit mengharapkan pengaturan yang hanya fokus pada anak saja tanpa mengatur pola malam yang dimiliki oleh keluarga. Jadi, orangtua memang perlu melakukan penyesuaian jika tidur cepat memang menjadi prioritas penting untuk anak.

    3. Slowing down

    Hal yang khusus terkait anak adalah melakukan manajemen energi anak. Pola pengaturan bisa dimulai dengan melakukan kegiatan aktif pada siang/sore hari yang sifatnya kegiatan fisik. Kemudian irama tubuh keluarga mulai diturunkan saat usai makan malam.

    Kegiatan dilakukan di kamar, kegiatan santai (tidak banyak aktivitas fisik), tidak berisik, dan lampu diturunkan intensitasnya.

    4. Tidur bersama

    Jika dirasa sangat mendesak, ada pola ekstrem yang perlu dibangun juga sebagai pemicu awal yaitu semua keluarga tidur lebih cepat. Lampu kamar dimatikan, pintu dikunci dan semuanya tidur.

    Pola orangtua juga digeser menjadi bangun lebih pagi. Kegiatan yang biasanya dilakukan malam hari digeser ke pagi.

    Hal ini dilakukan konsisten untuk membangun pola baru keluarga (sebagaimana pola tidur malam terbentuk pada saat pandemi).

    Pola semacam ini biasanya mempercepat adaptasi anak untuk beralih pada pola baru. Tantangan besarnya ada di orangtua yang perlu mengubah pola kesehariannya.

    5. Berdamai

    Bangun pagi memang menjadi tantangan besar untuk anak-anak. Salah satu tips-nya adalah dengan menjadi kegiatan pagi sebagai pola keluarga. Bangun pagi bukan hanya untuk kepentingan sholat Subuh, tapi memang pola keluarga dilakukan sejak pagi.

    Ada keluarga2 yang menjalani pola sejak Subuh (bahkan ada yang sejak sebelum Subuh), anak dibangunkan dengan dicium2, kemudian ikut sholat jamaah ke masjid, setelahnya jalan pagi, beli2 hal yang disukai anak, dst.

    Awalnya berat, tapi karena seluruh keluarga melakukannya dan ada hal membahagiakan yang didapatkan anak, maka lama2 mereka menikmatinya.

    Demikian kak, semoga membantu.

    🙏

    in reply to: Hari ideal dan kenyataan #5614
    Aar
    Keymaster

    Kak @noury-hasan

    Tidak masalah kak.

    Itu tanda bagus.

    Berarti kakak sudah berhasil menetapkan pondasi keseharian dengan baik.

    Selanjutnya terserah kakak.

    Kakak bisa
    1. Fokus memastikan yang saat ini ada berjalan baik

    2. Pola lama dipastikan berjalan, tapi kualitasnya ditingkatkan

    3. Menambahkan harapan/aksi baru

    Itu yang menjadi modifikasi untuk Hari Optimal yang menjadi referensi baru kakak untuk menjalani keseharian.

    Semoga membantu.

    🙏

    in reply to: Webinar Manajemen Keseharian Homeschooling #5622
    Aar
    Keymaster

    Kak @annisa-sidqia-nahdah

    Terima kasih pertanyaannya:

    1. Kehabisan ide

    Kita kehabisan ide karena merasa pendidikan anak-anak adalah tanggung jawab kita sepenuhnya. Kita harus memikirkan aneka ide kegiatan untuk anak.

    Kami tak memandangnya seperti itu.

    Kami adalah pemimpin proses, bukan mengambil alih semua tugas. Tugas pemimpin adalah memberdayakan anak yang memiliki pendidikan.

    Jadi, tugas kami adalah memfasilitasi anak untuk bertumbuh. Jika ada masalah, kami melibatkan anak untuk mencari solusi bersama.

    Ide kegiatan tak harus dari kami. Justru, kami mendorong ide kegiatan berasal dari anak karena pendidikan itu milik mereka.

    2. Anak-anak jenuh

    Apakah anak-anak pernah jenuh? Iya, pernah.

    Kalau jenuh bagaimana? Istirahat. Libur. Berhenti sejenak.

    Ibarat melakukan perjalanan panjang, kita mampir dan istirahat sejenak di sepanjang perjalanan. Kalau sudah sehat dan segar, kemudian jalan lagi melanjutkan perjalanan.

    Begitu prinsipnya.

    Jangan takut dan jangan merasa bersalah untuk istirahat. Istirahat itu dibutuhkan.

    Yang penting tidak lupa untuk jalan lagi, hehehe

    3, Anak tak butuh teman

    Ada 2 aspek terkait kapasitas sosial anak: keterampilan sosial dan kecenderungan cara berinteraksi sosial.

    Keterampilan sosial perlu dipelajari dan tugas orangtua mengasah keterampilan sosial anak-anak: berbicara, bertanya, bercakap2 dua arah, berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Momen untuk berlatih perlu dicari dan disediakan. Ini PR orangtua HS.

    Kecenderungan cara berinteraksi ada 2 jenis: ekstrovert (anak menikmati main dg orang banyak) dan introvert (anak menikmati main dengan kelompok kecil).

    Dua-duanya ok dan tidak ada masalah. Kuncinya adalah mengasah keterampilan sosial agar bsia berkomunikasi dengan siapapun saat dibutuhkan.

    Semoga membantu. 🙏

    in reply to: Webinar Dokumentasi dan Portofolio #5625
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @annisa-sidqia-nahdah

    Proses membuat dokumentasi tak harus menggunakan blog.

    Kakak bisa memanfaatkan media sosial seperti IG/FB untuk membuat dokumentasi kegiatan anak. Kakak bisa memilih untuk dibuat publik/private.

    Yang penting terus belajar ya kak, supaya bisa menjadi partner belajar anak-anak.

    Kakak bisa belajar apapun yang menjadi kesukaan/kekuatan kakak agar semakin meningkat kualitasnya melalui aneka tutorial, kelas online, maupun kursus2 yang sesuai bidang yang kakak pilih.

    Selamat belajar dan bertumbuh, kak!

    🙏

    in reply to: Webinar Dokumentasi dan Portofolio #5626
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @annisa-sidqia-nahdah

    Dunia nyata menyediakan materi belajar dan proses belajar yang sangat luas. Belajar tak hanya tentang mata pelajaran, belajar tak hanya menggunakan buku pelajaran, cara belajar bukan hanya dengan ceramah/diajarkan.

    Inilah kesempatan besar dalam proses HS.

    Kuncinya ada di kapasitas orangtua sebagai pendamping dan semangat keingintahuan anak untuk terus bertumbuh.

    Sebelum betul-betul memutuskan HS dan anak berhenti sekolah, pastikan orangtua belajar, berlatih, dan mencoba melakukan kegiatan belajar bersama anak dengan asyik & nyaman.

    Selamat belajar dan bertumbuh kak.. 🙏🤩

    in reply to: eBook Pola Kegiatan Homeschooling Usia Dini #5630
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @veramarsella,

    1. Penyelesaian konflik

    Jika kakak-adik terlibat konflik, idealnya mereka belajar menyelesaikan sendiri. Pastikan orangtua memastikan bahwa tidak ada kekerasan fisik yang terjadi. Juga, pastikan penyelesaiannya adil (fair) sehingga tak ada dendam yang tersisa. Jika ada cara penyelesaian yang menurut kakak kurang tepat, kakak boleh melakukan intervensi dan memberikan petunjuk bagaimana sebaiknya konflik itu diselesaikan.

    Bantu anak2 untuk membuat aturan main untuk mencegah kejadian konflik serupa berulang.

    2. Menangani konflik fisik

    Panduan yang kakak berikan pada anak sudah bagus.

    Anak belajar untuk bisa mempertahankan diri dan pada saat bersamaan dilatih untuk minta maaf jika bersalah.

    Lanjut kak!

    👍 🔥

    in reply to: mempertimbangngkan HS #5634
    Aar
    Keymaster

    Kak @annisa-sidqia-nahdah

    Proses penting yang perlu dilakukan oleh orangtua anak remaja jika mau HS adalah:

    • mengenali alasan dan tujuan HS, mengapa HS dianggap lebih baik buat anak daripada bersekolah
    • mengkomunikasikan kepada anak apa yang ada dalam pikiran orangtua kepada anak
    • mendengarkan dengan tulus pertanyaan anak dan concern yang dimiliki anak (biasanya tentang pertemanan)
    • menjelaskan rencana proses HS dan tawaran solusi2 Anda untuk concern yang dimiliki oleh anak

    Untuk anak tingkat SMP dan SMA, pastikan anak betul-betul terlibat dalam proses pengambilan keputusan HS atau sekolah karena ini adalah keputusan besar yang menyangkut masa depan mereka.

    Orangtua sebaiknya tidak mengambil keputusan sepihak karena pelaksanaan proses HS akan menjadi berat dan beban ditanggung sepenuhnya oleh orangtua. Jika anak terlibat dan merasa pengambilan keputusan HS adalah miliknya, maka anak sangat bisa dilibatkan dalam proses merancang kegiatan keseharian dan mencari solusi-solusi bersama atas masalah lapangan yang terjadi.

    Jika orangtua sangat concern dengan pencapaian akademis, proses yang lebih baik (secara umum) adalah belajar melalui sekolah. Kecuali, jika orangtua merasa bisa mengajar/membimbing terkait proses belajar akademis. Sebab, kualitas PKBM secara umum jauh lebih rendah dibandingkan sekolah. Jadi, kualitas belajar akademis anak akan sangat ditentukan oleh proses yang dilakukan oleh orangtua dan anak di rumah.

    Jika anak belum kelihatan minatnya, jangan dilepas dulu dari sekolah. Ini bisa terlalu berisiko. Ibaratnya, berharap burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan. Berharap pada hal yang belum pasti, tapi yang pasti (kemampuan akademis anak yang bagus sebagaimana yang Anda ceritakan) ditinggalkan.

    Jika ingin mengeksplorasi minat dan bakat, saran saya mencari cara yang lebih moderat.

    Carilah cara agar anak aktif melakukan kegiatan ekskul dan mengikuti aneka kursus sehingga lebih tergali potensi-potensinya di luar kemampuan akademis. Jika ternyata sudah ketemu, disukai, berprestasi dan ingin diasah lebih intensif; HS layak untuk dijajagi.

    Demikian perspektif saya, kak. Semoga berkenan.

    Jika ada sudut pandang berbeda atau informasi tambahan yang ingin disampaikan, dipersilakan.

    Semoga membantu.

    🙏

Viewing 15 posts - 211 through 225 (of 766 total)
Scroll to Top